Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Alifia Daary; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Refni Dumesty
S-10149
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arip Sriyanto; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Sri Tjahjani Budi Utami, Laila Fitria, Chita Septiawati, Refni Dumesty
Abstrak: WHO menyatakan bahwa penyebaran leptospirosis di dunia meluas terutama padadaerah dengan iklim tropis dan sub tropis yang memiliki curah hujan tinggi. Tikussebagai binatang yang dekat keberadaannya dengan manusia merupakan sumberpenularan leptospirosis yang ada di Indonesia. Kejadian leptospirosis diKabupaten Bantul dari tahun 2012 sampai tahun 2015 selalu menduduki rangkingtertinggi apabila dibandingkan dengan kabupaten lain. Disamping tingginya angkakesakitan, angka kematian penderita leptospirosis di Kabupaten Bantul juga relatiftinggi bila dibandingkan dengan wilayah lain di Provinsi Daerah IstimewaYogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan faktor lingkungandan individu yang berisiko terhadap kejadian leptospirosis di Kabupaten BantulProvinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2016 dengan menggunakan desaincase control. Sampel penelitian menggunakan data penderita leptospirosis diKabupaten Bantul dari bulan Januari-Mei 2016. Penelitian ini difokuskan padafaktor risiko lingkungan serta faktor individu. Jumlah penderita yangditemukan/dilaporkan pada periode bulan Januari sampai dengan Mei 2016sebanyak 34 kasus. Faktor yang berhubungan dengan kejadian Leptospirosis diKabupaten Bantul Pekerjaan (nilai p=0,001; OR=7,35; CI 95%=2,290-23,571), ,dan Perilaku (nilai p=0,028; OR=3,43; CI 95%=1,255-9,370), Perawatan luka(nilai p=0,014; OR=3,97; CI 95%=1,426-11,040), Pengetahuan (nilai p=0,015;OR=3,83; CI 95%=1,403-10,477) Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktoryang berhubungan dengan kejadian leptospirosis adalah faktor pekerjaan, faktorperilaku, perawatan luka dan pengetahuan.
Kata kunci: Leptospirosis, Pekerjaan, Perilaku, Pengetahuan, Tikus
WHO stated that the spread of leptospirosis in the world extends mainly inregions with tropical and sub tropical climates where rainfall is high. Mice as theanimals close to the human existence is a source of leptospirosis of transmissionin Indonesia. The incidence of leptospirosis in Bantul District from 2012 to 2015always ranks highest when compared with other districts. Besides the highmorbidity, mortality rate of patients with leptospirosis in Bantul also relativelyhigh when compared with other r districts in the province of Yogyakarta. Thepurpose of this study was to determine the relationship between environment andindividuals at risk of incidence of leptospirosis in Bantul district of YogyakartaSpecial Province in 2016 using case control design. Sample research using dataleptospirosis patients in Bantul district of the month from January to May 2016.The study focused on environmental risk factors as well as individual factors. Thenumber of cases detected / reported in the period January to May 2016 as many as34 cases. Factors associated with the incidence of leptospirosis in Bantul Districtoccupational (p = 0.001; OR = 7.35; 95% CI = 2.290 to 23.571), behavior (p =0.028; OR = 3.43; 95% CI = 1.255 to 9.370), wound care (value p = 0.014; OR =3.97; 95% CI = 1.426 to 11.040), and knowledge (p = 0.015; OR = 3.83; 95% CI= 1.403 to 10.477). This study concluded that the factors associated with theincidence of leptospirosis is a occupational, behavior, wound care and knowledge
Keywords: Leptospirosis, Occupational, Behavior, Knowledge, Rodents
Read More
T-4780
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marisa Rayhani; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Renti Mahkota, Sulistyo, Refni Dumesty
Abstrak: Kematian akibat tuberkulosis (TB) secara global sebanyak lebih dari 95% terjadi pada negara berpenghasilan rendah dan menengah. Indonesia ikut menyumbang 60% dari keseluruhan kasus TB global (WHO, 2015). Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Banten termasuk ke dalam lima provinsi dengan estimasi prevalensi TB tertinggi di Indonesia (Riskesdas, 2007 dan 2013). Perlu dibuat model yang mempertimbangkan kondisi lokal spesifik dengan memperhatikan perbedaan lokasi dari aspek geografis, kependudukan, dan kondisi sosial (Eryando, 2007 dan Rahmaniati, 2015). Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif analitik dengan desain potong lintang. Kajian faktor risiko kejadian TB sesuai konsep Model Perilaku Kesehatan oleh Green (1980) dan Kerangka Kerja Faktor Risiko TB oleh WHO (2010) dengan metode Geographically Weighted Regression (GWR) pada 13 kabupaten/kota di Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Banten. Hasil penelitian memperlihatkan tiga kelompok faktor risiko dapat menjelaskan kontribusi parameter dalam pemodelan kejadian TB di kedua provinsi sebesar 6%. Model GWR mampu menggambarkan variasi tiga kelompok faktor risiko kejadian TB di kedua provinsi sebesar 96%. Estimasi rata-rata proporsi kejadian TB akan meningkat pada risiko pendidikan rendah, bekerja, dan tersedianya fasilitas kesehatan TB. Status pendidikan menjadi parameter yang bernilai signifikan pada setiap kabupaten/kota. Setiap kabupaten/kota menghasilkan nilai estimasi berbeda yang menunjukkan besaran koefisien kejadian TB yang dipengaruhi oleh setiap perubahan parameternya. Setiap kabupaten/kota di kedua provinsi melalui Dinas Kesehatan perlu menerapkan kebijakan dan intervensi dengan pertimbangan nilai estimasi parameter pada faktor risiko sesuai pemodelan GWR, terutama peningkatan pendidikan dan promosi kesehatan TB. Kata kunci: Geographically Weighted Regression (GWR), Tuberkulosis (TB), Faktor Risiko Deaths from tuberculosis (TB) globally by more than 95% occur in low- and middle-income countries. Indonesia contributes 60% of all global TB cases (WHO, 2015). DKI Jakarta Provinces and Banten Provinces are included in the five provinces with the highest estimated prevalence of TB in Indonesia (Riskesdas, 2007 and 2013). Its need some model to consider the specific local conditions, which is geographical, demographic, and social aspects for appropriate health system improvement by region (Eryando, 2007 and Rahmaniati, 2015). This research is an analytic quantitative research with cross sectional design. Assessment of risk factors for TB incidence according to the Health Behavior Model by Green (1980) and TB Risk Factors Framework by WHO (2010) using Geographically Weighted Regression (GWR) method in 13 districts/cities in DKI Jakarta Province and Banten Province. The results showed three groups of risk factors could explain the contribution of parameters in modeling TB incidence in both provinces by 6%. The GWR model was able to describe the variation of three groups of TB risk factors in both provinces by 96%. The average estimate of the proportion of TB incidence will increase in the risk of low education, work, and the availability of TB health facilities. Educational status becomes a significant parameter in every district/city. Each district/city produces a different estimation value indicating the magnitude of TB incidence coefficients that is affected by each parameter change. Each district/city in both provinces through the Department of Health needs to implement policies and interventions with consideration of parameter estimation values on risk factors according to GWR modeling, especially improving TB education and promotion. Keywords: Geographically Weighted Regression (GWR), Tuberculosis (TB), Risk Factor
Read More
T-4952
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chusna Meimuna; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Dumilah Ayuningtyas, Refni Dumesty, Pitut Aprilia Savitri
Abstrak: Pembangunan sistem kesehatan merupakan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Perlu adanya Standar Pelayanan Minimal sebagai acuan untuk mengurangi kesenjangan pelayanan kesehatan antar daerah terutama dalam kasus penemuan tuberkulosis. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilanjutkan dengan inovasi kebijkan dengan mempertimbangkan seperti telaah terkait peraturan gubernur no.28 tahun 2018 tentang penanggulangan Tuberkulosis, perencanaan jadwal dan pelatihan untuk puskesmas dan lintas sektor, meningkatkan sosialisasi dan advokasi lintas sektor terkait peraturan gubernur no.28 tahun 2018 tentang Penanggulangan Tuberkulosis di Wilayah Jakarta Barat.
Read More
T-5739
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive