Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Neni Herlina Rafida; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Handoko
Abstrak:
Kebakaran merupakan masalah yang sangat krucial yang perlu penanganan serius mengingat sampai saat ini banyak sekali kejadian kebakaran yang terjadi di DKI Jakarta, dimana evaluasi proteksi aktif dan pasif dan penanggulangan kedaruratan menjadi penting dilakukan untuk melakukan tindakan pencegahan agar tidak terjadi kebakaran yang pada akhirnya dapat mengurangi angka kejadian kebakaran. Penelitian ini membahas tentang evaluasi proteksi aktif (sprinkler, detector, alarm, hidran, pompa dan APAR serta sarana penyelamatan diri) dan pasif (konstruksi bangunan, kompartemenisasi, segregasi bahaya, interior finish dan proteksi atrium) dan penanggulangan kedaruratan kebakaran pada gedung Puskesmas Kebon Jeruk. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini bahwa dari proteksi aktif hanya ada beberapa point yang tidak sesuai diantaranya belum adanya sprinkler, penunjuk arah keluar dan tempat berkumpul dan untuk proteksi pasif hanya pada point segregasi bahaya yang belum dipenuhi secara optimal. Dan untuk penanggulangan kedaruratan semuanya tidak sesuai dengan ketentuan karena belum terbentuk tim penanggulangan kebakaran dan belum ada tentang tata laksana bila terjadi kebakaran. Kata Kunci: Kebakaran, proteksi aktif, proteksi pasif, penanggulangan kedaruratan kebakaran
Read More
S-8694
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Evvi Oktarina Helza; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Putri Bungsu, Handoko
Abstrak:
ABSTRAK Infeksi menular seksual merupakan pintu masuk penularan HIV-AIDS, risikonya 5-9 kali lebih besar. Tingginya prevalensi IMS disebabkan karena faktor perilaku. Pengendalian faktor dominan tersebut akan memberi dampak baik dalam pemutusan rantai penularan IMS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko dan hubungan faktor tersebut dengan kejadian IMS berdasarkan analisis data sekunder Medical Record dan register harian Klinik IMS Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk Tahun 2014. Metode yang digunakan adalah kuantitatif coss sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Uji statistik chisquare dan regresi logistik digunakan untuk melihat hubungan antara dependent variabel dan independent variabel. Hasil penelitian menunjukkan 72% dari 146 pengunjung Klinik IMS Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk Tahun 2014 adalah positif mengalami IMS, 60% diantaranya perempuan. Terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan IMS (p=0,001), dan penggunaan kondom dengan IMS (p=0,002) serta perilaku berisiko dengan IMS (p=0,004) akan tetapi tidak terdapat hubungan antara usia dan IMS (p=0,332), status perkawian dan IMS (p=0,052), pendidikan dan IMS (p=0,325) begitu juga dengan jumlah pasangan seks dan IMS (p=0,503)
ABSTRAK The Sexually Transmitted Diseases was entry point for transmitted HIVAIDS, its risk will be 5-9 more higer. The highly STDs prevalence was impacted by behaviour factor. The Control of dominans factor will be result a good impact for terminating the chain of STDs. This research intend to know overview the risk factor and its correlation that factors with STD?s prevalence base on secunder data analysis of medical record and daily registered at STD?s clinic of Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk in 2014. The methode used was the cross sectional quantitative with univariat and bivariat. Analysis chi-square and regresion logistic used to know the correlation between dependent variable and independent variable. The result of this research can be show 72% of 146 visitors at IMS?s clinic of Puskemas kecamatan kebon jeruk during 2014 was positive STD prevelance and 60% was female. There was correlation between sex and STD (p=0,332), and condome use with STD (p=0,002), risk factor behaviour and STD (=0,004), but threre was not correlation between age and STD (p=0,332), marriage status and STD (p=0,052), education and STD (p=0,325) and also multi partnership and STD (p=0,503).
Read More
S-8845
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Pengembangan Sistem Informasi Monitoring Dokumen Rekam Medis Rawat Inap Di RSUP Fatmawati Tahun 2020
Grahyta Dhamayanti; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: R. Sutiawan, Priya Handoko Aris
Abstrak:
Latar Belakang: Informasi yang tidak efektif disebabkan oleh adanya keterlambatan pengembalian dan ketidaklengkapan pengisian data rekam medis. Kepmenkes Nomor 129 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit menetapkan waktu pengembalian dokumen rekam medis yaitu 1x24 jam dan kelengkapan dokumen rekam medis harus 100%. Di RSUP Fatmawati Jakarta terdapat peningkatan prosentase keterlambatan pengembalian dan ketidaklengkapan dokumen rekam medis rawat inap. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi alur, kebutuhan sistem informasi yang akan dikembangkan, serta merancang sistem informasi monitoring dokumen rekam medis rawat inap di RSUP Fatmawati. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan dilakukan secara bertahap sesuai tahapan SDLC, serta menggunakan pendekatan metode prototype. Hasil: Adanya masalah-masalah pada sistem informasi rumah sakit saat ini yang membuat petugas masih harus melaksanakan pekerjaannya secara manual. Sistem informasi monitoring dokumen rekam medis rawat inap dirancang melalui penyusunan alur sistem, perancangan basis data, tampilan antarmuka (userinterface), SPO, dan manualbook. Kesimpulan dan Saran: Sistem informasi yang baru dapat mengatasi permasalahan yang terjadi, mempercepat dan mempermudah pekerjaan petugas, serta menghasilkan laporan yang bermutu. Sehingga capaian SPM rumah sakit dan indikator mutu IRMIK meningkat. Sebaiknya ada dukungan penyediaan sarana dan prasarana dari rumah sakit untuk pengembangan sistem informasi monitoring dokumen rekam medis rawat inap, perlu adanya sosialisasi SPO dan manualbook, proses uji coba sistem kepada user, serta sebaiknya dilakukan upaya perawatan basis data secara berkala.
Background: In the hospital, ineffective information is caused by late referral and incomplete medical records. Decree of the Minister of Health No. 129/2008 of Hospital Minimum Service Standards explained this case. The standard said that medical record documents must be returned in 1x24hours and its completeness must be 100%. Nevertheless, Fatmawati Jakarta Hospital underwent an increase of late returns and incomplete inpatient medical record documents percentages. Objectives: Aims of this study are determining and identifying flow and needs of the development of an information system. Also, this study aims to design an information system for monitoring inpatient medical record documents. Methods: This study used a qualitative method, SDLC stages, and a prototype method approach. Results: There are problems in the current hospital information system. Also, it makes employees still need to do their works manually. Therefore, an inpatient medical record document monitoring information system was designed through some stages. Those are the system flow, database, user interface, OPS, and manualbook formings. Conclusions and Recommendations: The new information system provides some improvements in the hospital. Those are particularly in achievement and enhancement of quality indicators and standards. This is because it can overcome problems and produce quality reports. Also, it makes employees do their works efficiently. For recommendations, the hospital should support this development by facilities and infrastructure provision. They also need to socialize the operational procedure standard and manualbook. Then, they should do the process of testing the system to users and database maintenance efforts regularly .
Read More
Background: In the hospital, ineffective information is caused by late referral and incomplete medical records. Decree of the Minister of Health No. 129/2008 of Hospital Minimum Service Standards explained this case. The standard said that medical record documents must be returned in 1x24hours and its completeness must be 100%. Nevertheless, Fatmawati Jakarta Hospital underwent an increase of late returns and incomplete inpatient medical record documents percentages. Objectives: Aims of this study are determining and identifying flow and needs of the development of an information system. Also, this study aims to design an information system for monitoring inpatient medical record documents. Methods: This study used a qualitative method, SDLC stages, and a prototype method approach. Results: There are problems in the current hospital information system. Also, it makes employees still need to do their works manually. Therefore, an inpatient medical record document monitoring information system was designed through some stages. Those are the system flow, database, user interface, OPS, and manualbook formings. Conclusions and Recommendations: The new information system provides some improvements in the hospital. Those are particularly in achievement and enhancement of quality indicators and standards. This is because it can overcome problems and produce quality reports. Also, it makes employees do their works efficiently. For recommendations, the hospital should support this development by facilities and infrastructure provision. They also need to socialize the operational procedure standard and manualbook. Then, they should do the process of testing the system to users and database maintenance efforts regularly .
S-10318
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fera Mutiara Dewi; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Pujiyanto, Atik Nurwahyuni, Wahyu Handoko, Yuliana Firmansyah
Abstrak:
Kepemilikan double insurance telah membuka peluang praktik Coordination of Benefit (CoB) di Indonesia, terlebih dalam era JKN saat ini. Yang mana setiap orang selain memiliki asuransi yang bersifat wajib mereka pun memiliki asuransi kesehatan tambahan yang kepesertaanya bersifat tidak wajib. Pada praktiknya CoB terkadang masih belum sesuai dengan prinsip universal asuransi. Penelitian ini mencoba menganalisis praktik CoB dan besaran biaya CoB yang terjadi di Indonesia baik antara BPJS Kesehatan dengan AKT maupun antara AKT dengan AKT. Metode yang digunakan adalah rancangan studi observasional dengan desain cross sectional. Pemodelan menggunakan pendekatan ekonometrik yaitu two-part model yang memisahkan proses antara praktik CoB dengan besaran biaya CoB. Hasil penelitian menyatakan kovariat usia, LOS dan penyakit sistem sirkulasi menunjukkan efek yang signifikan dalam pengujian secara statistik. Kurangnya koordinasi antar provider dengan asuradur atau asuradur dengan asuradur menyebabkan meningkatnya potensi moral hazard yang dilakukan baik oleh peserta maupun provider sehingga peserta berpotensi mendapatkan cakupan ganda. Saran dari penelitian ini adalah perlunya dibuat Badan/Organisasi yang khusus mengelola CoB dan dibuatnya regulasi CoB. Kata kunci : Coordination of Benefit, Regulasi CoB, Two-Part Model Nowadays, some people may have double insurance. Besides having compulsory insurance that regulated by government, they also have additional health insurance which is not mandatory. This condition has opened up opportunities for Coordination of Benefit (CoB) in Indonesia, especially in JKN era. Unfortunately, in practice CoB still not executed according to the principle of general rules of insurance. This research seeks to analyze the practice of the COB and COB fee scale that occurred between BPJS with AKT and between AKT to AKT. The method used is the observational study with cross sectional design. The modeling uses an econometric approach, that is a two-part model which separates the process between the CoB practice and the CoB funds. The result of the research states that age covariate, LOS, and circulatory system diseases show significant effects in statistical testing. Lack of coordination between providers and assurer or between assurer and assurer, causes increasing potential moral hazard by both participants and providers so that participants may get double coverage. The suggestions of this research are first the need to create an independent agency or organization that manages CoB and second the need to made regulation of CoB. Keyword: Coordination of Benefit, CoB Regulation, Two-Part Model
Read More
T-4984
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Handri Setyono; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Mila Tejamaya, Handoko Arimurti, Karel Piet Missa
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode dan hasil penilaian sisa umur layan pedestal crane dalam kondisi telah melewati batas umur layan desain di PT. A dengan melakukan analisa terhadap pemenuhan peraturan perundang undangan serta standar internasional yang sesuai dengan pedestal crane. Terdapat 7 langkah tahapan dalam melakukan penilaian sisa umur layan pedestal crane dengan metode masingmasing di setiap tahapan. Tahapan diawali dengan penentuan mekanisme kerusakan dan penelaahan dokumen teknis pedestal crane yang selanjunya untuk menentukan variable availability dan variable reliability. Jika variable availability tidak terpenuhi maka pedestal crane direkomendasikan untuk tidak dioperasikan. Sampel pada penelitian ini yaitu 2 pedestal crane dengan tag number B-PR-CR dan BE-CR, diperoleh hasil bahwa pedestal crane B-PR-CR masih aman digunakan selama 18 tahun kedepan dengan kapasitas maksimal sebesar 7.12 ton pada radius 5.49 meter dan pedestal crane BE-CR masih aman digunakan selama 44 tahun kedepan dengan kapasitas maksimal sebesar 8 ton pada radius 5.8 meter.
Read More
T-5726
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Shinta Dwi Anggraeny; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Mila Tejamaya, Karel Piet Missa, Handoko Arimurti
Abstrak:
Latar belakang Salah satu kegiatan dalam industri pengolahan minyak dan gas adalah transfer minyak bumi, gas alam, dan/atau hasil bensin melalui pipa. Kegiatan ini memerlukan program manajemen (seperti perencanaan, pengawasan dan inspeksi, serta pemeliharaan peralatan) karena pipa memiliki potensi bahaya terhadap lingkungan seperti kebakaran, ledakan atau kontaminasi lingkungan. Tujuan studi ini meneliti penilaian risiko secara kuantitatif dan kualitatif untuk pipa bawah laut. Model yang digunakan adalah referensi untuk DNVGL RP F-107 Recommended Practice Risk Assesment of Pipeline Protection. Bahwa 42,6 % terkait dengan procedure/drawing/plan yang mana merupakan risk yang paling significan dan 29,6% terkait dengan program-program yang akan diimplementasikan oleh Perusahaan. Berdasarkan scenario kejatuhan dan tergaruk jangkar, level kerusakan berada pada level D3 (level damage) tepatnya masih bersifat tolerable jika ALARP, yang berarti dibutuhkan adanya pengurangan risiko untuk menurunkan residual risk. Sesuai dengan hasil studi penilaian risiko maka direkomendasikan untuk melakukan pelapisan pipa dengan lapisan beton dan dilakukan pemendaman. Kata kunci : Kuantitatif dan penilaian risiko kualitatif, keselamatan, pipa, orang, kerugian
Read More
T-5766
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rendy Manuhutu; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Prima Yosephine, Darmawali Handoko
Abstrak:
COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan dan menjadi sebuah pandemi. COVID-19 dapat menyebar antar negara melalui pelaku perjalanan. Terdapat kasus-kasus importasi varian baru yang merupakan kasus yang berasal dari negara lain dan tertangkap di pintu masuk negara, salah satunya Bandara Soekarno Hatta. Dalam menanggapi permasalahan mengenai kasus importasi pemerintah dapat melakukan upaya cegah tangkal penyakit dan melaksanakan manajemen penemuan kasus pada pelaku perjalanan di Bandara Soekarno Hatta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi pelaksanaan manajemen penemuan kasus COVID-19 pada pelaku perjalanan dari luar negeri di Bandara Soekarno-Hatta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam dan data sekunder melalui telaah dokumen. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah modifikasi dari Donabedian dan teori pendekatan sistem yaitu struktur, proses, dan output. Hasil penelitian didapatkan SDM kurang dan terbatas sehingga dibutuhkan tenaga tambahan. Sarana prasarana tercukupi atas dukungan dari berbagai pihak namun belum tersedia perangkat deteksi pemeriksaan RT-PCR di pintu masuk. Pendanaan tercukupi dari Dana Siap Pakai BNPB dan revisi anggaran Kementerian Kesehatan. Sistem informasi sudah tersedia, namun belum dapat digunakan maksimal. Koordinasi, jejaring, dan kemitraan sudah berjalan dan dilaksanakan oleh lintas program/lintas sektor. Kebijakan bersifat dinamis dan bersumber dari Kementerian Kesehatan dan Satuan Tugas. Perencanaan berjalan baik terdapat rencana operasi di tingkat nasional dan di Bandara. Pengorganisasian terdapat Satgas COVID-19 baik di tingkat pusat maupun di Bandara. Pelaksanaan berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku. Pengawasan berjalan baik karena adanya alat monitoring Intra Action Review. Pelaku perjalanan yang melakukan karantina/isolasi sebesar 95,5% melakukan karantina dan menyelesaikan masa karantina/isolasi. Penemuan kasus konfirmasi pada pelaku perjalanan sebanyak 1,1% dari total kedatangan. Penemuan Kesimpulan didapatkan bahwa implementasi penemuan kasus penting dilakukan untuk penemuan kasus di pintu masuk negara. Rekomendasi penelitian ini yaitu keberhasilan implementasi akan dicapai bila dilakukan evaluasi dan monitoring serta perbaikan dari kekurangan
COVID-19 is an infectious disease caused by a newly discovered type of coronavirus and has become a pandemic. COVID-19 spreads between countries through travelers. There are importation cases of new variants, originated from other countries and found at the entrance of the country, one of which is Soekarno Hatta Airport. In responding to problems regarding imported cases, the government can make efforts to prevent disease and carry out case finding management for travelers at Soekarno Hatta Airport. This study aims to find out how to implement the COVID-19 case finding management for travelers from abroad at Soekarno-Hatta Airport. This study used a qualitative method with primary data obtained through in-depth interview and secondary data through document review. The theory used in this research is a modification of Donabedian and the theory of systems approach, namely structure, process, and output. The results of the study found that human resources were lacking and limited so that additional personnel is needed. Sufficient infrastructure facilities with the support of various parties, but the RT-PCR examination detection device is not available at the entrance. Sufficient funding from the BNPB Ready to Use Fund and the revised budget of the Ministry of Health. The information system is already available, but cannot be used optimally. Coordination, networking, and partnerships have been running and implemented across programs/cross sectors. The policy are dynamic and sourced from the Ministry of Health and the Task Force. Planning is going well, there are operational plans at the national level and at the airport. Organizing, there is a COVID-19 Task Force both at the central level and at the airport. Implementation is carried out in accordance with applicable regulations. Supervision went well because of the Intra Action Review monitoring tool. 95.5% of travelers who carry out quarantine/isolation followed quarantine and complete the quarantine/isolation period. 1.1% confirmation cases found in travelers of the total arrivals. The conclusion is that the implementation of case finding is important to do case finding at the Point of Entry. The recommendation of this research is that successful implementation will be achieved if evaluation and monitoring are carried out as well as improvement of deficiencies
Read More
COVID-19 is an infectious disease caused by a newly discovered type of coronavirus and has become a pandemic. COVID-19 spreads between countries through travelers. There are importation cases of new variants, originated from other countries and found at the entrance of the country, one of which is Soekarno Hatta Airport. In responding to problems regarding imported cases, the government can make efforts to prevent disease and carry out case finding management for travelers at Soekarno Hatta Airport. This study aims to find out how to implement the COVID-19 case finding management for travelers from abroad at Soekarno-Hatta Airport. This study used a qualitative method with primary data obtained through in-depth interview and secondary data through document review. The theory used in this research is a modification of Donabedian and the theory of systems approach, namely structure, process, and output. The results of the study found that human resources were lacking and limited so that additional personnel is needed. Sufficient infrastructure facilities with the support of various parties, but the RT-PCR examination detection device is not available at the entrance. Sufficient funding from the BNPB Ready to Use Fund and the revised budget of the Ministry of Health. The information system is already available, but cannot be used optimally. Coordination, networking, and partnerships have been running and implemented across programs/cross sectors. The policy are dynamic and sourced from the Ministry of Health and the Task Force. Planning is going well, there are operational plans at the national level and at the airport. Organizing, there is a COVID-19 Task Force both at the central level and at the airport. Implementation is carried out in accordance with applicable regulations. Supervision went well because of the Intra Action Review monitoring tool. 95.5% of travelers who carry out quarantine/isolation followed quarantine and complete the quarantine/isolation period. 1.1% confirmation cases found in travelers of the total arrivals. The conclusion is that the implementation of case finding is important to do case finding at the Point of Entry. The recommendation of this research is that successful implementation will be achieved if evaluation and monitoring are carried out as well as improvement of deficiencies
T-6139
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
