Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Intan Ully Athalia Sihombing; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Helda, Helwiah Umniyati, Irfan Maulana
Abstrak:
Kesintasan pasien HIV/AIDS sangat dipengaruhi oleh waktu inisiasi terapi antiretroviral (ART) setelah diagnosis ditegakkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara periode inisiasi ART dengan kesintasan pasien HIV/AIDS selama tiga tahun di Kabupaten Bekasi. Penelitian menggunakan desain kohort retrospektif berbasis data sekunder dari Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) Kabupaten Bekasi terhadap pasien yang didiagnosis HIV/AIDS pada periode 2017–2022. Sebanyak 1.554 pasien memenuhi kriteria inklusi. Analisis Kaplan-Meier digunakan untuk menggambarkan probabilitas kesintasan, sementara analisis regresi Cox time-dependent digunakan untuk mengetahui pengaruh waktu inisiasi ART terhadap risiko kematian, dengan mengontrol variabel sosiodemografi, klinis, pengobatan, dan perilaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesintasan tertinggi ditemukan pada kelompok pasien yang memulai ART dalam

The survival of HIV/AIDS patients is strongly influenced by the timing of antiretroviral therapy (ART) initiation following diagnosis. This study aimed to analyze the relationship between the ART initiation period and three-year survival among HIV/AIDS patients in Bekasi District. A retrospective cohort design was used, based on secondary data from the HIV/AIDS Information System (SIHA) of Bekasi District, involving patients diagnosed with HIV/AIDS during the 2017–2022 period. A total of 1,554 patients met the inclusion criteria. Kaplan-Meier analysis was employed to estimate survival probability, while time-dependent Cox regression analysis was used to assess the effect of ART initiation timing on the risk of death, controlling for sociodemographic, clinical, treatment-related, and behavioral variables. The results showed that the highest survival was observed among patients who initiated ART within
Read More
T-7397
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nayamanto Namu Natu; Pembimbing : Wachyu Sulistiadi; Penguji : Rachmadi Purwana, Dumilah Ayuningtyas, Irfan, Dafroyati, Yuliana
Abstrak: Perguruan tinggi ditantang meningkatkan kualitasnya melalui penerapan sistem penjaminan mutu. Program Studi Keperawatan Waingapu merupakan salah satu perguruan tinggi keperawatan yang telah mengikuti akreditasi LAMPTKes, namun belum optimal melaksanakan sistem penjaminan mutu. Diperlukan kepemimpinan yang kuat dan kinerja organisasi untuk meningkatkan mutu pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu pendidikan Program Studi Keperawatan Waingapu dengan menggunakan kriteria ekselen Baldrige. Metode penelitian deskriptif melalui telaah dokumen pendidikan dan non pendidikan dan meminta pendapat dari pemimpin senior sebanyak 10 orang dan 132 orang mahasiswa untuk mengetahui tingkat kepuasan mereka terhadap kinerja pendidikan berdasarkan kriteria ekselen Baldrige, yaitu kepemimpinan, strategi, pelanggan, pengukuran, analisa dan manajemen pengetahuan, tenaga kerja, operasi dan hasil kinerja organisasi. Hasil penelitian menunjukkan hasil 388,75 dari 1000 poin. berada pada kelompok early improvement dengan global image average. Hasil uji statistik terdapat hubungan yang signifikan dengan hasil- hasil kinerja organisasi dengan OR tertinggi pada operasi dengan hasil kinerja. Saran meningkatkan dan mngembangkan operasi manajemen dan pengelolaan tenaga kerja dengan membangin tim yang kuat dan perencaaan strategis. Disarankan untuk uji coba kriteria Baldrige mengembangkan dan peningkatan mutu sehingga mencapai sistem penjaminan mutu internal yang baik. kata kunci: Baldrige, kinerja, mutu, proses, hasil Universities are challenged to improve their quality through the implementation of quality assurance system. Nursing Study Program Waingapu is one of nursing universities that have followed LAMPTKes accreditation, but not yet optimal to implement quality assurance system. Strong leadership and organizational performance is needed to improve the quality of education. This study aims to determine the quality of education Waingapu Nursing Study Program using Baldrige ekselen criteria. Descriptive research method through the study of education and non-education documents and asked the opinion of senior leaders as many as 10 people and 132 students to know their level of satisfaction on education performance based on Baldrige's excellent criteria, leadership, strategy, customer, measurement, analysis and knowledge management, labor, operations and organizational performance results. The results showed 388.75 out of 1000 points. is in the early improvement group with global image average. The statistical test results have a significant relationship with the organizational performance results with the highest OR on the operation with the performance results. Suggestions to improve and develop management and management operations by building strong teams and strategic planning. It is recommended to test the criteria Baldrige develops and improves the quality so as to achieve a good internal quality assurance system. keywords: Baldrige, performance, quality, process, results
Read More
T-5107
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indri Sartika; Pembimbing: Rubiana Modjo; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Irfan Nurhidayat
S-7179
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bagus Taufiqur Rachman; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Prastuti S. Chusnun, Wachyu Sulistiadi, Irfan Wahyudi, Doni Arianto
Abstrak:

ABSTRAK Tesis ini menganalisis selisih biaya rawat inap operasi reseksi prostat trans uretra pasien Jamkesmas berdasarkan tarif Peraturan Walikota, tarif INA-CBG’s dan biaya berdasarkan clinical pathway di RSUD Kota Bekasi tahun 2012,mengetahui penyebab terjadinya selisih dan mencari upaya-upaya untuk memperkecil selisih biaya tersebut. Penelitian ini adala hpenelitian kualitatif observasional. Hasil penelitian menunjukkan terdapat selisih biaya cukup besar antara biaya berdasarkan tarif Perwal dan clinical pathway dengan tarif INA-CBG’s, penyebab utamanya adalah karena perbedaan dalam cara penghitungan dan penetapan tarif.Penelitian ini menyarankan agar rumah sakit dan Kemenkes menggunakan unit biaya (unit cost) dan clinical pathway sebagai instrumen dalam penghitungan biaya, kendali biaya dengan tetap menjaga mutu pelayanan.


ABSTRACT The study analyzed the cost discrepancy of transurethral resection of prostate on jamkesmas patient based on Perwal Tariff, INA-CBG’s Tariff and the cost based on clinical pathway in RSUD Kota Bekasi in 2012 to find the cause and the solution to minimalize it. It was an observational qualitative study. The result show that there were a quit big discrepancy between the cost based on Perwal tariff and the clinical pathway with the cost based on INA-CBG’s , with the main Analisis selisih..., Bagus Taufiqur Rachman, FKM UI, 2013 cause are the different method in calculating the cost and tariff determination. The study recommend that hospitals and The Ministry of Health use unit cost and clinical pathway as the instrument in calculating and controlling the cost while maintaining quality’

Read More
B-1554
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deden Hidayat; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Atik Nurwahyuni, Wachyu Sulistiadi, Irfan Fadilah Ramadhan, Prastuti Soewondo
Abstrak: Latar belakang : Sistem pembiayaan pelayanan kesehatan bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan menggunakan mekanisme tarif paket INA-CBGs, yang menuntut rumah sakit untuk mengelola pelayanan secara efisien tanpa mengurangi mutu pelayanan. Namun dalam praktiknya, rumah sakit sering menghadapi selisih tarif negatif, yaitu kondisi ketika biaya riil pelayanan melebihi tarif klaim yang dibayarkan oleh BPJS Kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan manajemen dalam mengatasi selisih tarif pelayanan rawat inap Pasien Jaminan Kesehatan Nasional di RS Wijaya Kusumah Kuningan dengan menggunakan kerangka Input, Proses, dan Output. Metodologi Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan mixed-method, yaitu mengkombinasikan analisis kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari dokumen klaim pelayanan rawat inap Pasien Jaminan Kesehatan Nasional periode Januari–Desember 2024, sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci yang terdiri dari manajemen rumah sakit, tenaga medis, keperawatan, unit casemix, case manager, serta tim kendali mutu dan kendali biaya. Analisis data kuantitatif dilakukan secara deskriptif, sementara data kualitatif dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total 8.514 Surat Eligibilitas Peserta (SEP) rawat inap, sebanyak 2.735 SEP (32%) mengalami selisih tarif negatif dengan total nilai mencapai Rp3.771.224.647. Selisih tarif negatif paling banyak terjadi pada kelas perawatan 3, yang juga merupakan kelas dengan volume pasien tertinggi. Lama hari rawat (Length of Stay/LOS) yang melebihi standar INA-CBGs, variasi pelayanan klinis, keterbatasan penerapan Clinical Pathway , serta keterbatasan jumlah dan peran case manager menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap terjadinya selisih tarif. Dari sisi proses, alur pengajuan klaim telah berjalan sesuai ketentuan, namun masih ditemukan kendala berupa kelengkapan berkas klaim dan perlunya perbaikan dokumen berdasarkan feedback BPJS Kesehatan. Kesimpulan : Penelitian ini menunjukkan bahwa fungsi manajemen dalam pengendalian biaya pelayanan rawat inap di RS Wijaya Kusumah belum berjalan optimal. Diperlukan penguatan kebijakan pengendalian biaya berbasis analisis risiko, optimalisasi peran case manager, penerapan dan evaluasi Clinical Pathway  secara konsisten, serta monitoring selisih tarif secara berkelanjutan agar selisih tarif negatif dapat ditekan tanpa menurunkan mutu pelayanan kesehatan.
Background: The healthcare financing system for participants of the National Health Insurance (JKN) in Indonesia, administered by BPJS Kesehatan, applies a case-based payment system using INA-CBGs tariffs. This system requires hospitals to deliver healthcare services efficiently while maintaining service quality. However, in practice, hospitals frequently experience negative tariff differences, where the actual cost of inpatient services exceeds the reimbursement paid by BPJS Kesehatan. This study aims to analyze hospital management practices in addressing cost discrepancies in inpatient services for BPJS Kesehatan patients at Wijaya Kusumah Hospital, Kuningan, using the Input–Process–Output framework. Research Methodology: This study employed an observational design with a mixed-method approach, integrating quantitative and qualitative analyses. Quantitative data were obtained from inpatient claim documents of BPJS Kesehatan patients for the period January–December 2024, while qualitative data were collected through in-depth interviews with key informants, including hospital management, medical and nursing staff, the casemix unit, case managers, and the quality and cost control team. Quantitative data were analyzed descriptively, and qualitative data were examined using thematic analysis. Research Results: The results showed that out of 8,514 inpatient Eligibility Letters (SEP), 2,735 cases (32%) experienced negative tariff differences, with a total deficit of IDR 3,771,224,647. The largest proportion of negative tariff differences occurred in Class 3 inpatient services, which also had the highest patient volume. Prolonged length of stay beyond INA-CBGs standards, variations in clinical practice, limited implementation of Clinical Pathway s, and insufficient case manager capacity were identified as major contributing factors to cost discrepancies. From the process perspective, although the claim submission workflow followed BPJS Kesehatan regulations, challenges remained related to claim document completeness and revisions required following BPJS Kesehatan feedback. Conclusion: In conclusion, hospital management functions in controlling inpatient service costs at Wijaya Kusumah Hospital have not yet been fully optimized. Strengthening cost control policies based on risk analysis, optimizing the role of case managers, consistently implementing and evaluating Clinical Pathway s, and conducting routine monitoring of cost discrepancies are essential strategies to reduce negative tariff differences while maintaining the quality of healthcare services.
Read More
B-2579
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive