Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Niken Rahmawati; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Robiana Modjo, Hendra Jaya, Frik Mick Febby
Abstrak: Latar Belakang: Dalam pabrik pembuatan produk coating/ cat berbasis pelarut, terakumulasinya muatan listrik statis tidak dapat dihindari, sedangkan proses pembuatan cat melibatkan bahan bahan mudah terbakar yang sifat nya volatil dan mudah terbakar. Kasus kebakaran yang terjadi di pabrik cat berbasis solvent PT XYZ paint factory secara global yang disebabkan oleh muatan listrik statis juga tercatat kerap kali terjadi. Tercatat ada 5 incident kebakaran yang disebabkan oleh listrik statis sejak tahun 2007. Metode: Metode penelitian ini menggunakan identifikasi menggunakan Bow Tie Analysis , dan Risk Assesment dengan standar yang dipakai ASSE Z590. Lokasi penelitian di pabrik pembuatan cat berbasis solvent di PT XYZ berada di Provinsi Jawa Barat merupakan perusahaan multi national. Hasil : Dari penelitian ini kami menemukan bahwa di pabrik cat PT XYZ hanya 22% perlindungan yang memadai untuk mencegah electrostatik, 7% threat masih dikategorikan bereisiko sangat tinggi, 40% berisiko tinggi, dan 31% risiko sedang. Dari hasil penelitian disimpulkan beberapa rekomendasi yang dapat digunakan untuk meminimalisir risiko listrik statis. Kesimpulan: Dari hasil disimpulkan bahwa proteksi kebakaran di PTXYZ masih belum cukup untuk memberian perlindungan terhadap bahaya listrik statis
Introduction: Major fire accident involving static electricity still become serious latent problem (1), this similar to PT XYZ which still experience serious fire incident caused by static electric. This study intend to do the analysis of the adequacy of the protection to fire and explosion caused by electric static at hazardous process at paint production. Methode: This analysis is using bow tie analysis and risk assasment matrix, Bow Tie analysis describe and visualize the correlation between what caused rsik, top event, and control that used to anticipate the incident happened and also mitigation barrier that can prevent from further escalation, then risk assasment matrix give semiquantitative risk calculation to reflect the level of risk. From this determination than we decide recommended control base on best practice and standard which is relevant. Results: From this study we found that at paint manufacture PT XYZ only 22% of protection is adequate to prevent from electrostatic, than 7% of threat still categorized very high , 40% is high risk , and 31% is moderate risk. Base on best practice and literature study than we recommend some of action that need to be taken to improve the barrier. Conclution: The recommendation basicly is to improve the visibility of grounding performance using lam indicator, improve visibility of flammable atmosphere using LEL detection , to reduce electrostatic discharge during process by control the liquid flow, to improve charge relaxation by selecting the tools properly, and to prevent fire during cleaning by inerting and reduce the solvent mist, also to increase the conductivity of non conductive solvent by adding conductivity agent
Read More
T-5746
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Errik Yusnaldi Saleh; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Mila Tejamaya, Hendra Jaya, Ivan Stevanus Chandra
Abstrak: PT. X merupakan salah satu perusahan yang bergerak bidang Eksplorasi dan Produksi minyak dan gas yang beroperasi di Gresik, Jawa Timur mengalirkan gas kering dari fasilitas pengolahan darat ke Pembangkit Jawa Bali (PJB). Berdasarkan catatan internal PT.X dari tahun 2007 sampai tahun 2016, terdapat 1 (satu) kali kejadian kebocoran pipa penyalur gas pada bulan Agustus tahun 2015 disebabkan oleh faktor ekternal. Selain terjadinya kecelakaan tersebut, beberapa kegiatan masyarakat yang dekat dan bersinggungan dengan jalur pipa penyalur PT. X terpantau semakin meningkat seiring dengan perkembangan kegiatan industri dan pemukiman padat penduduk di daerah Gresik. Berdasarkan kondisi ini maka diperlukan kajian risiko untuk mendapatkan gambaran profil serta tingkat risiko pipa apabila terjadi kebakaran dan ledakan terutama di daerah padat penduduk. Hasil penelitian dengan menggunakan kajian risiko semi kuantitatif menunjukkan bahwa terdapat beberapa segmen jalur pipa penyalur yang mempunyai nilai Relative Risk (RR) yang rendah dengan nilai 0.7 dan 1.8 dari nilai rata rata RR sebesar 2.4 serta dengan nilai probability of survive berkisar antara 66.9 % sampai 69.4% yang menunjukan risiko terjadinya kecelakan dan adanya konsekuensi terhadap lingkungan paling besar dibanding segmen jalur pipa yang lain. Kajian risiko secara kuantitatif dilakukan terhadap beberapa segmen pipa tersebut dan hasilnya menunjukkan bahwa segmen pipa tersebut masih dalam tingkat risiko yang ACCEPTABLE dan TOLERABLE. Berbagai upaya pencegahan dan mitigasi harus dilakukan oleh PT. X untuk mempertahankan dan menurunkan tingkat risiko pipa penyalur gas sampai tingkat ACCEPTABLE. Kata kunci: Kajian Risiko; Relative Risk ; Probability of survice; Tingkat Risiko. PT. X is one of the oil and gas exploration and production companies operating in Gresik, East Java, transporting dry gas from Onshore Processing Facilities (OPF) to the Java Bali Plant (PJB) through pipeline. Based on internal records of PT.X from 2007 to 2016, there was 1 (one) time occurrence of pipeline failure in August 2015 caused by external factor. In addition to the occurrence of the accident, some activities close to and intersect with the pipeline channel PT. X is observed to increase in line with the development of industrial activities and densely populated in the Gresik area. Based on this condition, an assesment is required in order to obtain a description of the risk profile and the risk level of the pipeline in case of fire and explosion, especially in dense populated areas. From the results of research by using semi-quantitative risk analysis showed that there are several segments of the pipelines that have low Relative Risk (RR) with the value of 0.7 and 1.8 of the average RR value of 2.4 and with probability of survive value ranges from 66.9% to 69.4% . It shows that the risk of accidents and the impact of environmental consequences is greater than the other pipeline segment. Quantitative risk assessments were conducted to the pipeline segments and the results show that the pipeline segment is still at risk level ACCEPTABLE and TOLERABLE. Various mitigation and prevention efforts must be performed by PT. X to maintain and lower the risk level of gas transmission pipeline to ACCEPTABLE levels. Key words : Risk Analysis, Relative Risk, Probability of Survive; Risk Level
Read More
T-4882
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puguh Mahendrodjati; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Mila Tejamaya, Hendra Jaya, Adrianus Pangaribuan
T-5006
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Paul Mangiring Ganda Parulian Butar Butar; Pembimbing: Fatma Lestari; Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Cinthya Febrina Maharani, Hendra Jaya
Abstrak: ABSTRAK Fasilitas Offshore dari perusahaan gas dan bumi pada umumnya berusia tua, membutuhkan perawatan serta penggantian pada beberapa bagian yang sudah rapuh dan berkarat. Penggantian ini dikerjakan oleh perusahaan konstruksi dimana salah satu risiko yang tergolong besar adalah terjadinya kejadian gawat darurat seperti ledakan, kebakaran yang terjadi saat pekerjaan sedang berlangsung. Oleh karena itu kontraktor harus memiliki sistem tanggap darurat dan telah diterapkan dengan baik untuk memastikan para pengsusaha dan pekerja mengetahui kemana mereka harus pergi dan memahami bagaimana memastikan diri mereka aman ketika sebuah kondisi darurat terjadi (ISO22320). Untuk itu perusahaan minyak dan gas bumi harus memastikan pihak kontraktor memiliki sistem manajemen tanggap darurat yang baik, maka diperlukan suatu standard yang cukup baik yang digunakan untuk menilai apakah emergency management yang dimiliki oleh perusahaan kontraktor cukup baik dalam melindungi manpower, aset perusahaan. CSMS merupakan system yang digunakan saat ini untuk mendapatkan kontraktor yang sesuai dengan kebutuhan. Tetapi karena aktivitas yang semakin meningkat dengan tingkat resiko yang juga semakin tinggi CSMS dirasakan perlu dilakukan perubahan. Salah satu perubahan CSMS yang di sarankan adalah pada bagian Emergency Management karena menyangkut kesiapsiagaan perusahaan dalam menangai bahaya dari mulai penilaian resiko, mitigasi sampai upaya pemulihan keadaan sampai normal kembali baik dari sisi manpower, asset dan system. Untuk itu dilakukan penggabungan NFPA 1600 edisi 2016, FEMA, ISRS Level 8 proses 12, ISO 45001 dan vii ISO 22320 yang djadikan tolak ukur dalam menilai kemampuan dari kontraktor dalam menangani management keadaan darurat Penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menyarankan harus di lakukan monitoring yang lebih baik lagi terhadap para kontraktor di lingkungan perusahaan Oil dan Gas agar pelaksanaan managemen emergensi tidak hanya di awal project saja tetapi sepanjang project berlangsung. Beberapa hal yang diperlukan adalah pembuatan risk assessment dengan lebih detail, business impact analisa yang perlu diterapkan dandisarankan agar dapat dipertimbangkan menggantikan CSMS pada bagian Emergency Management dengan hasil penelitian ini yang merupakan penggabungan NFPA 1600 edisi 2016, FEMA, ISRS Level 8 proses 12, ISO 4500, PTK 005 dan ISO 22320 Kata kunci: Gawat Darurat, Tanggap Darurat, Manajemen tanggap darurat NFPA 1600 edisi 2016, FEMA, ISRS Level 8 proses 12, ISO 4500, PTK 005 dan ISO 22320 The Offshore facility of Oil and Gas Company is generally old, requiring maintenance and replacement in some fragile and rusty parts. This replacement is done by a construction company where one of the risks that is large is the occurrence of emergency events such as explosions, fires that occur during work is under way. Contractors therefore should have an emergency response system and be well implemented to ensure that employers and workers know where to go and understand how to make sure they are safe when an emergency occurs (ISO22320). For that purpose, the oil and gas company must ensure that the contractor has a good emergency management system, a good standard is needed to assess whether the emergency management owned by the contracting company is good enough to protect the manpower, the company's assets. CSMS is a system that is used today to get the appropriate contractor to the needs. But because of the ever-increasing activity with a higher level of risk, CSMS is deemed necessary to change. One of the proposed CSMS changes is in the Emergency Management section because it involves the company's preparedness in mitigating the danger from starting risk assessment, mitigation to recovery effort until normal returns from manpower, asset and system side. For that purpose, the merger of NFPA 1600 edition 2016, FEMA, ISRS Level 8 process 12, ISO 45001 and ISO 22320 are used as benchmarks in assessing the ability of contractors in handling emergency management. Some of the things required are the making of risk assessment in more detail, business impact analysis that needs to be applied and it is suggested to consider replacing CSMS in Emergency Management section with the result of this research which is the
Read More
T-5213
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sony Maulana; Pembimbing: Fatma Lestari, Dadan Erwandi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Hendra Jaya, Cynthia Febriana Maharani
Abstrak:

6 ABSTRAK Nama : Sony Maulana; Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat; Judul : Kesiapsiagaan Emergency Response Team Kota Cilegon Terhadap : Bencana Industri Di Kawasan Industri Zona I; Pembimbing : Prof. Dra.Fatma Lestari, M.Si, PhD. Perkembangan Industri Kota Cilegon memberikan dampak kerawanan bencana teknologi yang tinggi, kerawanan tersebut terlihat dari banyaknya jumlah industri dengan pengelolaan bahan kimia sebagai bahan dasarnya, Luas  Kota Cilegon 17.550 Ha, dengan letak geografis pada posisi  5°52’24” - 6°04’07” Lintang Selatan dan 105°54’05” - 106°05’11” Bujur Timur, jumlah usaha / perusahaan yang ada di Kota Cilegon sebanyak 43.900 perusahaan (Badan Pusat Statistik Provinsi Banten, 2016), dari sejumlah usaha /perusahaan tersebut Kota Cilegon membagi menjadi tiga Kawasan Industri,  yaitu: a. Zona Satu berada di Kecamatan Citangkil, Ciwandan,  Cilegon, Grogol; b. Zona Dua berada di Kecamatan Citangkil, Ciwandan, Grogol; c. Zona Tiga berada di Kecamatan Grogol dan Pulomerak. Sebagai salahsatu bentuk kesiapsiagaan bencana industri di Kota Cilegon maka dibentuklah Emergency Response Team dari lintas sektoral baik dari unsur TNI-Polri, Lembaga atau Non Lembaga Kementrian, OPD Pemerintah Kota Cilegon di bidang Bencana, Pihak Swasta terutama di tiga kawasan industri yang dikenal dengan Zona AMC (Anyer,  Merak,  Ciwandan ), kawasan dengan Risiko bencana industri terbesar adalah Zona I Kawasan Industri Kota Cilegon, sehingga Zona I membentuk Ciwandan Emergency Response Team sebagai upaya kesiapsiagaan terhadap bencana industri, dan perlu program , sarana prasarana, jalur komando dalam membangun kesiapsiagaan yang tangguh sebagai kesiapsiagaan terhadap bencana industri. . Kata kunci: Bencana Industri, Kesiapsiagaan , Emergency Response Team Kota Cilegon

Read More
T-5231
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive