Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Putri Bungsu; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Ahmad Syafiq, Nurhayati Prihartono, Helda Khusun, Dewi Dwinurwati
Abstrak: Ibu hamil adalah salah satu kelompok yang paling rawan dalam berbagai aspek, salah satunya terhadap pangan dan gizi. Diperkirakan sebesar 20% kematian ibu berkaitan dengan rendahnya kadar hemoglobin (anemia gizi) selama kehamilan. Teh memiliki potensi sebagai penyebab anemia karena disinyalir mampu mengabsorbsi mineral sebagai bentuk zat besi yang dikaitkan dengan peranan tanin dalam akndungan teh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar tanin pada teh celup terhadap anemia gizi besi pada ibu hamil. Penelitian dilakukan dengan design Cross Sectional analytic. Responden terdiri dari 94 ibu hamil dengan usia kandungan > 16 minggu. Data dianalisis dengan menggunakan analisa Cox Regression.
Read More
T-3712
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Halimah; Promotor: Ratu Ayu Dewi Sartika; Kopromotor: Ratna Djuwita, Indang Trihandini; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Helda Khusun, Agus Triwinarto, Cesilia Meti Dwiriani
Abstrak:
Tingginya penyakit tidak menular pada usia muda berhubungan dengan riwayat konsumsi SFA, MUFA dan asam lemak trans. Konsumsi lemak trans yang tinggi dapat memberikan kontribusi terhadap tingginya asupan lemak sehingga menyebabkan ketidakseimbangan asupan energi dan berakhir pada kenaikan berat badan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan konsumsi sumber asam lemak trans dengan gizi lebih dan obesitas. Jenis penelitian kasus kontrol melibatkan 408 mahasiswa baru usia 16-19 tahun. Kelompok kasus adalah mahasiswa yang memiliki status gizi lebih dan obesitas (Z-skor > 1SD) dan status gizi baik sebagai kelompok kontrol (Z-skor -≥2–≤1SD). Sebagai variabel independen utama adalah kebiasaan konsumsi sumber asam lemak trans (ruminansia, makanan gorengan dan produk HVO) yang diukur menggunakan metode Food frequency questionnaire (FFQ) dan variabel kovariat (kebiasaan konsumsi sayur buah, sarapan, makan malam diatas pukul 22.00, jenis kelamin, aktivitas fisik, kota asal SMU, pendidikan orang tua, pekerjaan ibu dan tempat tinggal saat ini). Analisis menggunakan uji kai kuadrat, Mc-nemar, regresi logistik dan stratifikasi. Hasil penelitian menunjukkan makanan yang paling sering dikonsumsi oleh kelompok kasus dan control antara lain ice cream, ayam/tahu/tempe/telur goreng dan biscuit/wafer. Kesimpulan, tidak ada hubungan kebiasaan konsumsi sumber asam lemak trans terhadap gizi lebih dan obesitas setelah dikontrol oleh jenis kelamin. Khusus bagi mahasiswa lakilaki perlu untuk meningkatkan aktivitas fisiknya dengan melakukan jenis olahraga yang fasilitasnya tersedia di lingkungan kampus. Selain itu, ketua kelas pada masing-masing Prodi mengingatkan dan mengajak teman-temannya untuk mengikuti senam secara rutin yang diselenggarakan oleh bagian kemahasiswaan (setiap hari Jumat). Kata kunci : Asam lemak trans, ruminansia, gorengan, produk HVO, gizi lebih dan obesitas

The high prevalence of non-communicable diseases at a young age is associated with a history of consumption of SFA, MUFA and trans fatty acids. High consumption of trans fats can contribute to an increase in fat intake, causing an imbalance in energy intake and ending in weight gain. This study aims to determine the relationship between consumption habits of trans fatty acid sources with overweight and obesity. This type of case-control study involved 408 new students aged 16-19 years. The case group was students who had overweight and obesity status (Z-score > 1SD) and good nutritional status as the control group (Z-score -≥2–≤1SD). The main independent variables were the consumption habits of sources of trans fatty acids (ruminants, fried foods, and HVO products) which were measured using the Food Frequency Questionnaire (FFQ) method and the covariate variables (habits of consumption of fruit vegetables, breakfast, dinner after 22.00, gender, physical activity, hometown of high school, parental education, mother's occupation and current place of residence). Analysis using kai square test, McNemar, logistics and stratification. The results showed that the foods most frequently consumed by the case and control groups were ice cream, chicken/tofu/tempe/fried eggs and biscuits/wafers. Conclusion: there is no relationship between habitual consumption of trans fatty acid sources on overweight and obesity after being controlled by gender. Especially for male students, it is necessary to increase their physical activities by doing any types of sports whose facilities are available on campus. In addition, the class leader in each study program reminded and invited his friends to take part in regular gymnastics organised by the student body (every Friday). Keywords: Trans fatty acids, ruminants, fried-foods, HVO products, overweight and obesity
Read More
D-541
Depok : FKM UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eflita Meiyetriani; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: Ratu Ayu Dewi Sartika, Dian Kusuma; Penguji: Besral, Budi Iman Santoso, Hartono Gunardi, Helda Khusun, Alimoeso Sudibyo, Dwi Nastiti Iswarawanti
Abstrak:

Periode seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK) merupakan masa yang sangat rentan terjadinya berbagai masalah gizi yang berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu bentuk gangguan pertumbuhan yang sering muncul pada periode ini adalah stunting. Kelahiran risiko tinggi, khususnya kelahiran “4 TERLALU” (terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, terlalu banyak) berperan penting dalam meningkatkan risiko morbiditas pada ibu dan anak. Sejumlah studi mengaitkan kelahiran “4 TERLALU” terhadap stunting, namun demikian temuan mengenai hal ini masih terbatas, tidak konsisten, dan umumnya hanya mencakup anak usia balita. Penelitian ini menggunakan data longitudinal Indonesia Family Life Survey (IFLS) tahun 2000, 2007, dan 2014 di 13 provinsi dengan 1.401 anak usia 0–59 bulan yang diikuti hingga usia remaja untuk menilai pengaruh kelahiran 4 TERLALU terhadap status stunting dan perubahan status stunting. Status stunting ditentukan dengan z skor PB/U atau TB/U berdasarkan standar WHO 2007, dan perubahan status dikelompokkan menjadi remained normal, height faltering, catch-up growth, dan remained stunted. Analisis dilakukan menggunakan Generalized Estimating Equation (GEE) untuk menilai dampak kelahiran “4 TERLALU” terhadap status stunting dan multinomial regresi logistik untuk menilai dampak kelahiran “4 TERLALU” terhadap perubahan status stunting di usia sekolah dan usia remaja. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting tertinggi pada usia balita (39%), menurun pada usia sekolah (35%), dan mencapai 25% pada remaja. Proporsi kelahiran terlalu muda sebesar 12,7%, terlalu tua 9,6%, terlalu dekat 6,8%, terlalu banyak 16,2%, dengan kelahiran risiko tinggi ≥1 sebesar 36,1% dan ≥2 sebesar 8,7%. Kelahiran terlalu dekat (<24 bulan) secara konsisten meningkatkan risiko stunting sejak balita hingga remaja, sedangkan kelahiran terlalu muda, terlalu tua, dan terlalu banyak tidak menunjukkan hubungan signifikan. Faktor lain yang berpengaruh antara lain usia anak pada saat baseline, berat badan lahir rendah, pendidikan ibu rendah, tinggi badan ibu ≤150 cm, tinggi badan ayah ≤161,9 cm, serta kondisi sosioekonomi dan lingkungan, di mana anak dari keluarga kuintil aset 3 memiliki risiko 21% lebih rendah dibanding kuintil 1. Analisis perubahan status stunting menunjukkan bahwa jarak kelahiran terlalu dekat meningkatkan risiko anak menjadi stunted (height faltering) dan remained stunted. Temuan ini menegaskan bahwa stunting bersifat dinamis dan kelahiran terlalu dekat berkontribusi besar pada gangguan pertumbuhan linier jangka panjang, sehingga diperlukan intervensi gizi, kesehatan reproduksi, dan pemantauan pertumbuhan yang berkesinambungan sejak masa sebelum konsepsi hingga masa remaja.


 

The first 1,000 days of life (1,000 HPK/Hari Pertama Kehidupan) represents a critical window during which children are highly vulnerable to various nutritional problems that can adversely affect their growth and development. Stunting is one of the most common forms of growth faltering that occurs during this period. Births with high-risk factors, particularly those related to the "4 Too's" (maternal age being too young or too old, a short birth interval, and numerous previous births), greatly increase the likelihood of illness among mothers and their children. Although several studies have linked the "4 Too's" birth characteristics to stunting, the evidence remains limited, inconsistent, and is generally confined to children under five years of age. This study used longitudinal data from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) conducted in 2000, 2007, and 2014 across 13 provinces. A cohort of 1,401 children aged 0-59 months was followed through adolescence to assess the influence of the "4 Too's" birth characteristics on stunting status and its longitudinal changes. Stunting status was determined using height-for-age z-scores (HAZ) based on the 2007 WHO standards. Stunting status changes were classified as normal, height faltering, catch-up growth, and stunted persistence. Generalized Estimating Equations (GEE) were used to examine the impact of the 'Four Too' birth factors on stunting, while multinomial logistic regression was employed to investigate their effect on changes in stunting during school age and adolescence. The findings showed that stunting prevalence was most common among 5- year-olds (39%), decreased to 35% during school age, and dropped to 25% in adolescence. The proportions of high-risk births were as follows: 12.7% to mothers who were too young, 9.6% to mothers who were too old, 6.8% with a short birth interval, and 16.2% with high parity. The prevalence of births with at least one risk factor was 36.1%, while 8.7% had two or more risk factors. A birth interval of less than 24 months was constantly linked to an elevated risk of stunting from early childhood through adolescence, while no noteworthy correlation was found between births to mothers of young or older age and those of high parities. The other significant risk factors were the child's age at baseline, low birth weight, low levels of maternal education, maternal height of 150 cm or less, and paternal height of 161.9 cm or less. Socioeconomic factors also played a role, with children from the third asset quintile having a 21% lower risk of stunting than those from the first quintile. Analysis of the changes in stunting status revealed that short birth intervals increased the risk of a child experiencing height faltering or remaining stunted. These findings affirm the dynamic nature of stunting and highlight that a short birth interval is a major contributor to long-term linear growth faltering. Consequently, sustained nutritional and reproductive health interventions, along with continuous growth monitoring, are imperative from the pre-conception period through adolescence to break the intergenerational cycle of stunting.

Read More
D-597
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive