Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Chandrayani Simanjorang; Promotor: Mondastri Korib Sudaryo; Kopromotor: Tri Yunis Miko, Agnes Kurniawan; Penguji: Umar Fahmi Achmadi, Helda, Tri Krianto, Lukman Hakim, Rita Kusriastuti
Abstrak: Latar Belakang: Lamanya waktu pengobatan primakuin pada pasien malaria vivax diyakini dapat menyebabkan tingkat kepatuhan minum obat yang rendah. Oleh karena itu dibutuhkan suatu metode intervensi yang dapat meningkatkan kepatuhan minum obat sehingga kekambuhan dapat dicegah. Efektivitas metode ini belum diuji secara optimal di daerah endemis malaria seperti Sentani Papua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penyuluhan individu dan supervisi pengobatan terhadap kekambuhan malaria vivax di Sentani Kabupaten Jayapura. Faktor-faktor lain yang berpotensi menyebabkan terjadinya kekambuhan malaria vivax juga disertakan dalam penelitian ini. Metode: Sebuah metode quasi eksperimen yang dilakukan pada Januari-Agustus 2019 di Sentani Papua. Subjek penelitian adalah pasien yang didiagnosa malaria vivax konfirmasi mikroskop, usia ≥1 tahun, bukan malaria berat, tidak sedang hamil, tidak sedang menyusui, tidak meminum obat anti malaria dalam 4 minggu sebelumnya dan diberikan pengobatan sesuai standar nasional dengan DHP selama 3 hari dan primakuin 14 hari. Subjek penelitian dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok standard therapy (STH) sebagai kontrol, kelompok intervensi penyuluhan individu (EDU), dan kelompok intervensi supervisi (SPV). Kemudian semua pasien difollow-up selama 90 hari dan dilihat kekambuhannya. Dinyatakan kambuh apabila ditemukan plasmodium vivax pada apusan darah subjek melalui pemeriksaan mikroskopis selama follow-up. Pemeriksaan dilakukan hari ke-3, 7, 14, 28, 60, dan 90 setelah diagnosa pertama. Hasil pemeriksaan dievaluasi dengan melakukan uji silang di BBPTKL-PP Jakarta. Intervensi pada kelompok EDU berupa penyuluhan individu oleh dokter dan perawat Puskesmas sebanyak 3 kali yaitu H0, H3, dan H7. Penyuluhan diberikan secara lisan kepada pasien dengan materi tentang kekambuhan malaria vivax yang sudah tertera di leaflet. Kemudian leaflet diberikan kepada pasien untuk dibaca dan dibawa pulang. Sementara kelompok SPV diberikan intervensi supervisi berupa kunjungan rumah untuk pengawasan minum obat sebanyak 7 kali yaitu H0, H2, H4, H6, H8, H10, H12. Serta mengirimkan pesan singkat/telepon untuk mengingatkan minum obat malaria pada H1, H3,H5, H7, H9, H11, H13. Kelompok kontrol (STH) merupakan kelompok yang didiagnosa malaria vivax di Puskesmas kemudian menerima pengobatan standar dan kembali ke rumah masing-masing. Hasil: Seluruh subjek penelitian (162 subjek) berasal dari pasien malaria vivax di wilayah Puskemas Sentani, Sentani Timur dan Sentani Barat. Terdapat 54 subjek masuk kelompok EDU (Puskesmas Sentani), 58 subjek masuk kelompok SPV (Puskesmas Sentani Timur), dan 50 subjek masuk kelompok STH (puskesmas Sentani Barat). Semua subjek sembuh tanpa komplikasi. Insiden kekambuhan malaria vivax pada kelompok EDU lebih rendah dibandingkan dengan kelompok STH (1.9% vs 20% atau 0.21/1.000 person-days vs 2.36/1.000 person-days). Insiden kekambuhan malaria vivax pada kelompok SPV juga lebih rendah dibandingkan dengan kelompok STH (1.7% vs 20% atau 0.19/1.000 person-days vs 2.36/1.000 person-days). Kekambuhan pada kelompok EDU terjadi di hari ke-48 (1 subjek), kelompok SPV terjadi di hari ke-7 dan 14 (1 subjek). Sementara kekambuhan pada kelompok STH terjadi di hari ke-38 ix Universitas Indonesia (1 subjek), 47 (1 subjek), 48 (1 subjek), 60 (2 subjek), 62 (1 subjek), 74 (2 subjek), dan 90 (2 subjek). Seluruh subjek dinyatakan kambuh melalui hasil pemeriksaan mikroskopis malaria vivax. Sebanyak 10 subjek (83%) dari seluruh subjek yang mengalami kekambuhan adalah anak-anak. Hazard Ratio (HR) intervensi EDU terhadap kekambuhan malaria vivax adalah 0.079 (CI 95%; 0.009-0.675). Hazard Ratio (HR) intervensi SPV terhadap kekambuhan malaria vivax adalah 0.087 (CI 95% = 0.010-0.734). Proporsi kasus yang dapat dicegah (PFu%) dengan intervensi EDU sebesar 92% dan intervensi SPV 91%. Artinya, sebanyak 92% kekambuhan pada kelompok STH dapat dicegah dengan pemberian penyuluhan individu dan sebesar 91% kekambuhan pada kelompok STH dapat dicegah dengan intervensi supervisi pengobatan. Kesimpulan: Intervensi berupa penyuluhan individu dan intervensi pengawasan minum obat sama-sama efektif meningkatkan kepatuhan pengobatan 14 hari primakuin sehingga dapat mencegah kekambuhan malaria vivax. Berkurangnya kekambuhan malaria vivax sejalan dengan berkurangnya transmisi dan morbiditas malaria di daerah endemis. Intervensi edukasi merupakan pilihan yang tepat diimplementasikan di daerah urban dimana mayoritas penduduknya berpendidikan tinggi, sementara di daerah rural sebaiknya memilih gabungan dari kedua intervensi dengan memberdayakan kader malaria yang sudah dilatih oleh Kementerian Kesehatan.
Read More
D-426
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Made Winarta; Promotor: Mondastri Korib Sudaryo; Kopromotor:Tri Yunis Miko Wahyono, Agnes Kurniawan; Penguji: Evi Martha, Ratna Djuwita, .I Made Djaja, Lukman Hakim, Waras Budiman, Soroy Lardo
Abstrak:
Latar Belakang: Tidak adanya Pemberian kemoprofilaksis pada pasukan pengamana daerah perbatasan menyebabkan tingkat kesakitan dan kematian akibat infeksi Malaria tinggi. Oleh karena itu sangat dibutuhkan suatu metode intervensi yang dapat mencegah insiden Malaria pada pasukan TNI di perbatasan tersebut. Efektivitas metode ini belum diuji secara optimal di daerah endemis Malaria seperti pada perbatasan Papua dan Papua New Guinea. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Pemberian intervensi pada kelompok perlakuan pasukan TNI yang bertugas di wilayah perbatasan. Metode: Sebuah metode Mix Method yang dilakukan pada Juli-Oktober 2019 di Perbatasan Papua dan PNG. Subjek penelitian adalah satgas pasukan TNI Angkatan Darat dalam keadan sehat dan tidak sedang menderita Malaria. Subjek penelitian dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok intervensi standar sebagai kontrol (P1), kelompok intervensi meflokuin (P2), dan kelompok intervensi kombinasi Meflokuin dan Indooor Residuak Spraying (P3). Kemudian semua pasien difollow-up selama 126 hari dan dilihat insiden Malaria pada pasukan tersebut. Hasil: Insiden infeksi Malaria pada kelompok intervensi P2 lebih rendah dibandingkan dengan kelompok intervensi P1 (16.349% vs 82.39%). Dan Insiden infeksi Malaria pada kelompok intervensi P3 juga lebih rendah dibandingkan dengan kelompok intervensi P1(13.25% vs 82,39%). Rate Ratio (RR) intervensi Meflokuin terhadap insiden Malaria adalah 0.078 (CI 95%; 0.039 – 0.154). Rate Ratio (RR) intervensi kombinasi meflokuin dengan IRS terhadap infeksi Malaria adalah 0.073 (CI 95% = 0.045 – 0.119). Proporsi kasus yang dapat dicegah (PFu%) dengan intervensi P2 sebesar 92% dan intervensi P3 93%. Artinya, sebanyak 92% kejadian infeksi Malaria pada kelompok intervensi P1 dicegah dengan Pemberian kemoprofilaksis meflokuin dan sebesar 93% Artinya, sebanyak 93% kejadian infeksi pada kelompok intervensi P1 dicegah dengan Pemberian kombinasi kemoprofilaksis meflokuin dengan IRS. Hasil kualitatif memnemukan adanya hak ulayat dan tidak memakai kemoprofilaksis srehingga mudah terkena malaria Kesimpulan: Intervensi dengan meflokuin dan intervensi kombinasi meflokuin dengan IRS adalah sangat efektif dapat mencegah kedarian infeksi Malaria. Berkurangnya kejadian infeksi Malaria sejalan dengan bekuranngya transmisi dan morbiditas infeksi Malaria pada Satgas pengamanan daerah perbatasan yang endemis Malaria.

Background: The absence of giving chemoprophylaxis to security forces in border areas cause high morbidity and mortality due to Malaria infection. Therefore, an intervention method is urgently needed that can prevent Malaria incidents in TNI troops on the border. The effectiveness of this method has not been optimally tested in Malaria endemic areas such as the border of Papua and Papua New Guinea. The study aims: to determine the effectiveness of giving interventions to the treatment group of TNI troops serving in the border area. Method: A mixed method was conducted in July till October 2019 on the border of Papua and PNG. The research subjects were the Indonesian Army Troops task force who were in good health and were not suffering from Malaria. The research subjects were divided into 3 groups, namely the standard intervention group as a control (P1), the Meflokuin intervention group (P2), and the Meflokuin and Indoor Residual Spraying combination intervention group (P3). Then all patients were followed-up for 126 days and the incidence of Malaria was observed in the troops. Results: The incidence of Malaria infection in the P2 intervention group was lower than in the P1 intervention group (16.349% vs 82.39%). And the incidence of Malaria infection in the P3 intervention group was also lower than in the P1 intervention group (13.25% vs 82.39%). The Hazard Ratio (HR) of the Meflokuin intervention to the incidence of Malaria was 0.078 (95% CI; 0.039 – 0.154). The Hazard Ratio (HR) of Meflokuin and IRS combination intervention for Malaria infection was 0.073 (95% CI = 0.045 – 0.119). The proportion of cases that could be prevented (PFu%) with P2 interventions was 92% and 93% with P3 interventions. This means that as much as 92% of the incidence of Malaria infection in the P1 intervention group was prevented by administering Meflokuin chemoprophylaxis and by 93%. Qualitative results found that they had “Hak Ulayat” and did not use chemoprophylaxis so they were susceptible to malaria Conclusion: Intervention with Meflokuin and Meflokuin combination intervention with IRS is very effective in preventing the occurrence of Malaria infection. The reduced incidence of Malaria infection is in line with the reduced transmission and morbidity of Malaria infection in the Task Force for securing Malaria-endemic. border areas.
Read More
D-488
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive