Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nadya Magfira; Pembimbing: Helda; Penguji: Nurhayati Adnan, Aida Lydia, J.M. Seno Adjie
Abstrak:
Penelitian mengenai Disfungsi Seksual pada Wanita (DSW) masih jauh tertinggal dibandingkan pada pria, saat ini hipertensi diketahui mempengaruhi terjadinya disfungsi seksual pada pria. Namun, bagaimana hipertensi mempengarhui kejadian DSW belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipertensi esensial dengan kejadian DSW. Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang yang dilakukan di Klinik Ikhalas Medika Kota Serang, Banten pada bulan Agustus-September 2019. Seluruh perempuan yang berusia diatas 18 tahun, berpendidikan minimal SD, menikah, melakukan hubungan seksual dalam 4 minggu terakhir, tidak memiliki riwayat diabetes, kemoterapi, radiasi maupun operasi didaerah panggul selain section caesare diikutsertakan dalam penelitian. Fungsi seksual wanita diukur menggunakan Female Sexual Function Index-Indonesia (FSFI-I), subjek dikategorikan memiliki DSW DSW merupakan masalah kesehatan yang umum dijumpai dan kejadiannya diketahui meningkat pada wanita dengan hipertensi. Pengelolaan hipertensi dengan pendekatan holistik perlu dilakukan termasuk didalamnya penilaian gangguan fungsi seksual pada wanita dengan hipertensi

Recent study showed that high blood pressure is a major cause of male sexual dysfunction. However, how hypertension affects women sexual function was not understood. This study aims to investigate the relationship between hypertension and FSD. We conducted a cross-sectional study in a private primary healthcare clinic, in Serang City, Banten Province from August-September 2019. All women aged 18 years or older, at least elementary school graduated, had sexual activities during the last 4 weeks were recruited. Patient sexual function was assessed by the Indonesian validated Female Sexual Function Index (FSFI-I). Sexual dysfunction (SD) was defined if the  total FSFI-I score was < 26.55. Modified cox-regression performed to evaluate the association between hypertension and SD. A total of 442 women were included in this study with a response rate of 86.3%. A total of 91.67% women with hypertension (121/132) in this study had FSD and a total of 72.9% women without hypertension (226/310) had FSD. Hypertension increased the proportion of FSD with an aPR 1.76 (95% CI: 1.20-2.60). FSD is a common problem and the prevalence increase in women with hypertension. Holistic approach management in hypertension needs to be done including the assessment of sexual function in women with hypertension.
Read More
T-5916
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cici Apriza Yanti; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Besral, Evi Martha; Penguji: Helda, Sudarto Ronoatmodjo, Soewarta Kosen, Erwin, Aida Lydia
Abstrak:

Latar Belakang: Hipertensi merupakan tantangan kesehatan global yang sering dikaitkan dengan rendahnya kepatuhan pasien dalam terapi, dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya. Budaya Minangkabau dengan sistem kekerabatan matrilineal berpotensi mendukung pengelolaan hipertensi melalui peran Bundo Kanduang, mamak, dan sistem Saiyo Sakato. Namun, belum ada model intervensi berbasis budaya yang terstruktur. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji efek model dukungan sosial "Saiyo Sakato" dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pengendalian hipertensi dengan melibatkan keluarga dan kader kesehatan.
Tujuan penelitian untuk mengembangkan dan menguji efek model dukungan sosial "Saiyo Sakato" dari kekerabatan matrilineal dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pengendalian hipertensi, dengan melibatkan peran aktif keluarga dan kader kesehatan di komunitas Minangkabau.
Metode penelitian ini menggunakan metode Mixed Method Exploratory Sekuensial dalam tiga tahap: kualitatif, pengembangan model, dan uji model. Penelitian kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dan FGD pasien hipertensi, keluarga, tokoh adat, dan tenaga kesehatan untuk mengeksplorasi nilai budaya Minangkabau dalam pengelolaan hipertensi. Hasilnya digunakan untuk mengembangkan model dukungan sosial "Saiyo Sakato" dalam bentuk modul intervensi. Model ini diuji dengan kuasi-eksperimen menggunakan desain pre-test dan post-test pada kelompok intervensi (n=53) dan kontrol (n=106). Analisis data dilakukan dengan General Linear Model Repeated Measures dan Difference in Difference (DiD) Analysis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model dukungan sosial "Saiyo Sakato" secara signifikan meningkatkan pengetahuan (p=0,000<0,05), sikap (p=0,005<0,05), dan perilaku pengendalian hipertensi (p=0,000<0,05) pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol. Model dukungan sosial “Saiyo Sakato” terbukti memliki efek dalam meningkatkan pengetahuan dengan peningkatan skor pengetahuan 8.15, peningkatan skor sikap 3.66 dan peningkatan skor perilaku pengendalian hipertensi 11.09 poin lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.
Kesimpulan Model "Saiyo Sakato" efektif dalam meningkatkan pengelolaan hipertensi berbasis komunitas. Implementasinya direkomendasikan untuk program kesehatan di wilayah dengan budaya serupa.


Background: Hypertension is a global health challenge often associated with poor patient adherence to therapy, influenced by social and cultural factors. The Minangkabau culture, with its matrilineal kinship system, has the potential to support hypertension management through the roles of Bundo Kanduang, mamak, and the Saiyo Sakato system. However, no structured culturally based intervention model currently exists. This study aims to develop and evaluate the effectiveness of the Saiyo Sakato social support model in improving knowledge, attitudes, and behaviors related to hypertension management by involving families and community health cadres.
Methods: This study employed a Mixed Method Exploratory approach in three stages: qualitative research, model development, and model testing. The qualitative phase involved interviews and Focus Group Discussions (FGDs) with patients, families, cultural figures, and healthcare workers to explore Minangkabau cultural values in hypertension management. The findings were used to develop the Saiyo Sakato social support model in the form of an intervention module. The model was tested using a quasi-experimental design with pre-test and post-test assessments in an intervention group (n=53) and a control group (n=106). Data analysis was conducted using the General Linear Model Repeated Measures and Difference in Difference (DiD) Analysis.
Results: The Saiyo Sakato model significantly improved knowledge (p=0.000<0.05), attitudes (p=0.005<0.05), and hypertension management behaviors (p=0.000<0.05) in the intervention group compared to the control group. The active roles of Bundo Kanduang and health cadres in supporting hypertension patients contributed significantly to the intervention's success. Additionally, family social support encouraged adherence to therapy and lifestyle modifications. The integration of Minangkabau cultural values into health education enhanced patient and family engagement in hypertension management programs.
Conclusion: The culturally based Saiyo Sakato model is effective in improving community-based hypertension management. Its implementation is recommended for integration into community health programs, particularly in regions with similar social and cultural structures.

 

Read More
D-572
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive