Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Lydwina Wahyuningtyas; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Rizanda Machmud, Syaifuddin Zuhri
S-4502
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudhia Fratidhina; Komisi Pembimbing; Rizanda Machmud, Artha Budhi Duarsa; Ketua Program Studi: Delmi Sulastri
D-368
Padang : Andalas, 2017
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dien Kurtanty; Promotor: Adang Bachtiar; Kopromotor: Fachmi Idris, Ummi Azizah Rachmawati; Penguji: Tris Eryando, Rizanda Machmud, Trihono, Andi Alfian Zainuddin
Abstrak: Diabetes adalah penyakit kronik yang dikenal dengan “longlife disease” yang harus dikelola secara terus-menerus. Penelitian ini bertujuan membangun intervensi meningkatkan kemandirian pengelolaan DM dengan model DIEN (Diabetic Self-Reliance, Intervention, Electronic basis, Network system). Penelitian mixed method exploratory sequential melalui empat tahap penelitian. Tahap pertama mengidentifikasi determinan perilaku kemandirian pengelolaan DM; tahap kedua mengidentifikasi intervensi yang dibutuhkan dalam membangun perilaku kemandirian DM; tahap ketiga pengembangan model DIEN; tahap keempat uji coba model. Model DIEN dibuat berdasarkan temuan tahap satu dan dua, telah diuji coba dan saat ini dalam level pengembangan teknologi level tujuh.
Diabetes is a chronic disease known as a "long life disease" which must be managed continuously. This study aims to build interventions to increase the independence of DM management with the DIEN model (Diabetic Self-Reliance, Intervention, Electronic basis, Network system). This mixed method exploratory sequential study went through four stages of research. The first stage identifies the behavioural determinants of DM management independence; the second stage identifies the interventions needed to build DM independence behaviour; the third stage of developing the DIEN model; fourth stage model trials. The DIEN model was based on the findings of stages one and two, has been tested and currently at the level seven technology development level.
Read More
D-564
Depok : FKM UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosfita Rasyid; Promotor:Sudijanto Kamso; Ko-Promotor: Kusharisupeni, Rizanda Machmud; Penguji: Soekidjo Notoatmodjo, Purwantyastuti, Soewarta Kosen, Ratna Djuwita, Adang Bachtiar
D-241
Depok : FKM-UI, 2010
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novita Dwi Istanti; Promotor: Anhari Achadi; Ko Promotor: Adang Bachtiar; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Ede Surya Darmawan, Dede Anwar Musadad, Rizanda Machmud, Achmad Farich
Abstrak: Tata kelola yang menggunakan alat praktis dalam menilai kinerja program sangat penting yang dapat membantu lebih memahami bagaimana implementasi program diarahkan serta untuk mengidentifikasi perbaikan untuk proses pengambilan keputusan. Penulis mengembangkan alat penilaian baru untuk mengukur kinerja program Model ISTA (Instrument of Sustainability Assessment) yang dirancang secara konseptual dan praktis dengan pendekatan kriteria Malcolm Baldrige. Instrumen ini memungkinkan untuk meninjau dan menilai kinerja program Ketuk Pintu Layani Dengan Hati (KPLDH) DKI Jakarta. Metode penelitian mix method dengan jumlah responden 205 petugas KPLDH. Instrumen yang dikembangkan terdiri dari 7 kriteria dan 67 pertanyaan. Analisis data penelitian dengan menggunakan Structural Equation Modelling (SEM). Hasil tahap Design dilakukan uji validitas dan reliabilitas memiliki status valid, nilai rhitung (Corrected Item-Total Correlation) > rtabel (0,3061) dan untuk uji reliabilitas memiliki Alpha Croncbach > 0,90 dinyatakan sangat reliabel. Hasil penelitian pada tahap Design yang dinyatakan memenuhi syarat, dilanjutkan pada tahap Development dan dilakukan SEM. Seluruh kriteria dan pertanyaan yang dikembangkan oleh peneliti memiliki T value >1,96 (tingkat Sig 5% atau Confident Interval 95%) dinyatakan valid dan seluruh kriteria yang dikembangkan dinyatakan memenuhi syarat model fit (Nilai X2 /df ≤3,00, NFI ≥0,90, NNFI ≥0,90, CFI ≥0,90). Menilai proses perumusan implementasi program dari perspektif tata kelola sangat penting untuk perbaikan. Model ISTA yang dikembangkan memenuhi syarat dalam perancangan suatu instrumen penilaian kinerja program dan diharapkan dapat sebagai alat praktis yang bermanfaat untuk pembuat kebijakan saat digunakan dalam penilaian kinerja program.
Read More
D-437
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ari Dwi Aryani; Promotor: Adang Bachtiar; Kopromotor: Ali Ghufron Mukti, Fachmi Idris; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Kemal Nazaruddin Siregar, Mardiati Nadjib, Sabarinah, Rizanda Machmud
Abstrak:
Inekuitas pelayanan kesehatan masih terjadi setelah pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pemantauan secara berkala Kinerja Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) merupakan kunci untuk menurunkan inekuitas pelayanan kesehatan sebagai tujuan utama JKN. Penerapan Kapitasi Berbasis Kinerja (KBK) dengan tiga indikator sejak tahun 2016, menunjukkan terjadi perbaikan kinerja FKTP dalam meningkatkan kualitas dan efisiensi di pelayanan tingkat pertama. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model indikator kinerja, kapasitas FKTP dan indikator ekuitas agar dapat mengukur ekuitas pelayanan kesehatan. Desain penelitian menggunakan exploratory sequential-mixed method. Penelitian dibagi menjadi tiga tahapan. Tahap satu adalah systematic review untuk mengidentifikasi indikator yang dapat digunakan dalam mengukur kapasitas, kinerja FKTP dan ekuitas pelayanan kesehatan. Tahap dua dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan teknik Consensus Decision Making Group (CDMG) untuk menentukan indikator yang dapat dipakai dalam pengukuran kapasitas dan kinerja FKTP serta pengukuran ekuitas pelayanan kesehatan dengan para pakar. Tahap tiga adalah membuat pengembangan model indikator kinerja FKTP berdasarkan skema kapitasi yang dapat mengukur ekuitas akses layanan kesehatan, menggunakan analisis Structural Equation Modelling (SEM). Berdasarkan hasil SR, CDMG dan analisis SEM, indikator terpilih untuk mengukur kapasitas FKTP terdiri dari tiga indikator yaitu rasio dokter umum, sumberdaya sarana dan manusia (skor rekredensialing) dan pembiayaan (persen pembayaran KBK yang diterima). Indikator kinerja terpilih delapan indikator yaitu angka kontak, proporsi penderita DM diperiksa gula darah, proporsi penderita Hipertensi diperiksa tekanan darah, proporsi pasien tidak rujuk RS, proporsi rujukan non spesialistik, proporsi pasien rujuk balik, proporsi skrining penyakit jantung, DM dan Hipertensi, rasio pasien prolanis terkendali. Ekuitas pelayanan kesehatan dilihat dari rate utilisasi peserta FKTP berdasarkan jenis kelamin, usia dan sosial ekonomi (PBI-Non PBI). Analisis SEM menunjukan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kapasitas dan kinerja FKTP dengan ekuitas pelayanan.

Healthcare inequities still occur after the implementation of the National Health Insurance (JKN). Regular monitoring of the performance of primary healthcare facilities (FKTP) is key to reducing healthcare inequities as the main goal of JKN. The implementation of Performance-Based Capitation (KBK) with three indicators since 2016 has shown improvements in the performance of primary healthcare facilities in improving the quality and efficiency of first-level services. Their capacity influences the performance of primary care facilities and impacts primary care performance outcomes (health service equity). This study objective was to develop a model of performance indicators, FKTP capacity and equity indicators to measure health service equity. The research design utilized an exploratory sequential-mixed method. The study was divided into three phases. Phase one was a systematic review to identify indicators that can be used in measuring capacity, FKTP performance and health service equity. Phase two was carried out by a qualitative approach with the Consensus Decision Making Group (CDMG) technique to determine indicators that can be used in measuring FKTP capacity and performance as well as measuring health service equity with experts. Phase three was the development of a model for FKTP performance indicators based on a capitation scheme that can measure the equity of health service access. This phase was carried out using Structural Equation Modeling (SEM) analysis. The SR, CDMG and SEM analysis show that there are three selected indicators to measure the capacity of primary health care facilities: general practitioner ratio, facility sufficiency(recredentialing score) and financing (percentage of KBK payments received). Eight performance indicators were selected, namely contact rate, proportion of DM patients checked for blood sugar, proportion of Hypertension patients checked for blood pressure, proportion of patients not referred to hospital, proportion of non-specialistic referrals, proportion of patients referred back to primary care providers, proportion of screening for heart disease, diabetes mellitus, and hypertension; and ratio of controlled Prolanis patients. Health service equity was analyzed from the utilization rate of participants based on gender, age and socioeconomic factors(PBI-Non PBI). SEM analysis showed a positive and significant relationship between the capacity and performance of primary health care facilities and equity.
Read More
D-508
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aqsha Azhary Nur: Promotor: Adang Bachtiar; Kopromotor: Dante Saksono Harbuwono, Sri Ratna Laksmiastuti; Penguji: Dwi Gayatri, Ratna Djuwita, Purnawan Junadi, Wisnu Jatmiko, Ali Ghufron Mukti, Rizanda Machmud
Abstrak:
Beban Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) semakin tinggi di Indonesia dengan prevalensi 11,7% menurut Survei Kesehatan Indonesia 2023. Lebih dari 70% penyandang DMT2 belum terdiagnosis, yang menyebabkan keterlambatan pengobatan dan peningkatan risiko komplikasi. Teknologi pembelajaran mesin (machine learning) berpotensi digunakan untuk deteksi dini risiko DMT2 secara efisien dan berbasis data. Penelitian ini bertujuan mengembangkan, memvalidasi, dan menguji kelayakan model skrining risiko DMT2 berbasis pembelajaran mesin untuk populasi Indonesia. Studi ini menggunakan desain observasional dan dilaksanakan dari Oktober 2024 hingga Januari 2025. Penelitian terdiri dari tiga fase. Fase pertama mencakup pengembangan model prediksi menggunakan algoritma pembelajaran mesin dengan data dari dua sumber Kementerian Kesehatan, yakni kohor Penyakit Tidak Menular (PTM) (n=5.010) dan Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK) (n=8.147.932). Fase kedua adalah validasi eksternal model menggunakan data ASIK tahun 2023 (n=24.735.050). Fase ketiga merupakan uji coba lapangan di dua Puskesmas di DKI Jakarta yang mencakup uji diagnostik (n=100) serta penilaian kelayakan sistem tenaga kesehatan (n=30) menggunakan instrumen System Usability Scale (SUS). Fase 1 menunjukkan bahwa model LightGBM pada data ASIK memiliki performa terbaik (AUC 0,90; sensitivitas 0,70; spesifisitas 0,88), sementara model CatBoost pada data kohor PTM menunjukkan AUC 0,76. Seleksi fitur mengidentifikasi lima variabel utama (usia, tekanan darah sistolik, aktivitas fisik, riwayat keluarga DMT2, konsumsi sayur/buah) sebagai penentu utama risiko. Fase 2 mencakup validasi eksternal dengan data ASIK 2023 menghasilkan AUC 0,90 (LightGBM) dan AUC 0,73 (CatBoost). Fase 3 uji coba lapangan menunjukkan hasil diagnostik yang sejalan dengan skor risiko model, dengan sensitivitas 0,80 dan spesifisitas 0,39 pada cut-off HbA1c 6,5% dan sensitivitas 0,79 dan spesifisitas 0,54 pada cutoff HbA1c 5,7%. Evaluasi oleh tenaga kesehatan menghasilkan skor SUS sebesar 72,5. Sebagai kesimpulan, Model skrining DMT2 berbasis pembelajaran mesin terbukti akurat dan layak diimplementasikan.

Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) burden is increasing in Indonesia, with a national prevalence of 11.7% according to the 2023 Indonesia Health Survey. More than 70% of individuals with T2DM remain undiagnosed, leading to delayed treatment and increased complications. Machine learning has the potential to enhance early detection of T2DM through an efficient, data-driven risk screening process. This study aims to develop, validate, and assess the feasibility of a machine learning-based T2DM risk screening model tailored for the Indonesian population. This study employed an observational design and was conducted from October 2024 to January 2025. The study consisted of three phases. The first phase involved the development of predictive models using machine learning algorithms with two datasets from the Ministry of Health: the PTM Cohort (n=5,010) and the ASIK registry (n=8,147,932). The second phase was an external validation using the ASIK 2023 dataset (n=24,735,050). The third phase was a field trial at two primary health centers (Puskesmas) in Jakarta, which included diagnostic testing of patients (n=100) and usability assessment by healthcare workers (n=30) using the System Usability Scale (SUS). In Phase 1, the LightGBM model trained on ASIK data achieved the best performance (AUC 0.90; sensitivity 0.70; specificity 0.88), while the CatBoost model trained on PTM Cohort data yielded an AUC of 0.76. Feature selection identified five main predictors (age, systolic blood pressure, physical activity, family history of T2DM, and fruit/vegetable consumption). In Phase 2, external validation with ASIK 2023 data confirmed high model performance with AUC 0.90 (LightGBM) and AUC 0.73 (CatBoost). In Phase 3, field testing showed diagnostic performance consistent with model-based risk scores, with sensitivity 0.80 and 0.39 at the HbA1c cut-off of 6.5% and sensitivity 0.79 and specificity 0.54 at the HbA1c cut-off of 5.7%. Usability testing by healthcare workers resulted in an average SUS score of 72.5. In conclusion, the machine-learning-based T2DM screening model has demonstrated high accuracy and is feasible for implementation.
Read More
D-574
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bob Andinata; Promotor: Adang Bachtiar; Kopromotor: Besral, Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Evi Martha, Rizanda Machmud, Eva Susanti, Denni Joko Purwanto, Emma Rachmawati, Mahlil Ruby
Abstrak:

ABSTRAK
Latar Belakang: Kanker payudara merupakan jenis kanker dengan insidensi tertinggi di Indonesia, dengan sebagian besar pasien terdiagnosis pada stadium lanjut salah satunya karena keterlambatan diagnosis di fasilitas kesehatan primer. Rendahnya kemampuan dokter umum dalam menegakkan diagnosis klinis kanker payudara serta alur rujukan yang panjang juga berkontribusi memperberat keterlambatan tersebut. Tujuan: Menghasilkan model prediksi diagnosis klinis kanker payudara di pelayanan kesehatan primer menggunakan skor malignansi “Probability of Breast Cancer (BOBAN)” Metode: Studi ini menggunakan mixed method, dengan pendekatan desain explanatory sequential, penelitian kuantitatif menggunakan desain potong lintang dilanjutkan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Penelitian ini melibatkan 1.169 wanita usia ≥30 tahun yang melakukan deteksi dini di RS Kanker Dharmais (2020–2022). Variabel prediktor dianalisis dengan uji multivariat regresi logistik untuk penyusunan model skoring. Tahap kedua berupa uji akurasi (sensitivitas-spesifisitas) dan nilai probabilitas prediksi. Tahap ketiga berupa uji kualitatif melalui diskusi kelompok terfokus (FGD) dengan dokter umum di puskesmas. Hasil: Model prediksi terdiri dari tujuh variabel terpilih, yaitu usia, riwayat keluarga tingkat I, riwayat melahirkan, riwayat menyusui, benjolan payudara, kelenjar getah bening aksila, dan gejala lanjut kanker. Model ini memiliki nilai kalibrasi yang baik (p-value 0.826) dan nilai AUC pada ROC sebesar 0,920 (CI 95% 0,892 - 0,947; p-value 0,00) menunjukkan diskriminasi yang sangat baik. Total skor antara 0–177, dengan titik potong optimal pada skor 69 (sensitivitas 86,7%, spesifisitas 82,9%, dan nilai probabilitas 10,45%). Skor rendah (0-68) didiagnosis bukan kanker payudara dan skor tinggi (69-177) didiagnosis curiga kanker payudara. Evaluasi kualitatif menunjukkan bahwa skor malignansi BOBAN dapat diaplikasikan oleh dokter umum di fasilitas kesehatan pelayanan primer. Kesimpulan: Skor malignansi ini dapat memprediksi diagnosis klinis dan menghitung nilai probabilitas kanker payudara. Skor malignansi BOBAN direkomendasikan untuk digunakan sebagai instrumen deteksi dini kanker payudara di faskes primer dan dapat menjadi solusi bagi dokter umum untuk mempemudah skrining rujukan tatalaksana kanker payudara di Indonesia.


ABSTRACT
Background: Breast cancer is the most prevalent type of cancer in Indonesia, with the majority of patients diagnosed at an advanced stage, partly due to delayed diagnosis in primary healthcare settings. Limited diagnostic capabilities among general practitioners and lengthy referral processes contribute significantly to these delays. Objective: To develop a clinical prediction model for breast cancer diagnosis in primary healthcare using the "Probability of Breast Cancer (BOBAN)" malignancy score. Methods: This study employed a mixed-method approach, consisting of a quantitative cross-sectional study followed by a qualitative explanatory sequential design. A total of 1,169 women aged ≥30 years who underwent early detection at Dharmais Cancer Hospital (2020–2022) were included. Predictor variables were analyzed using multivariate logistic regression to construct the scoring model. The second phase involved evaluating the model’s diagnostic accuracy (sensitivity-specificity) and predictive probability values. The third phase included qualitative assessment through focus group discussions (FGDs) with general practitioners at community health centers (puskesmas). Results: The prediction model comprised seven selected variables: age, first-degree family history of breast cancer, childbirth history, breastfeeding history, presence of a breast lump, axillary lymph nodes, and advanced cancer symptoms. The model demonstrated good calibration (p-value = 0.826) and excellent discrimination with an AUC of 0.920 (95% CI: 0.892–0.947; p-value < 0.001). The total score ranged from 0–177, with an optimal cutoff score of 69 (sensitivity 86.7%, specificity 82.9%, predictive probability 10.45%). A low score (0–68) indicated a non-breast cancer diagnosis, while a high score (69–177) indicated suspected breast cancer. Qualitative evaluation indicated that the BOBAN malignancy score is feasible for implementation by general practitioners in primary care settings. Conclusion: The malignancy score is capable of predicting clinical diagnosis and estimating the probability of breast cancer. The BOBAN score is recommended as a screening tool for early detection in primary healthcare facilities and offers a practical solution for general practitioners to facilitate breast cancer management referrals in Indonesia.

Read More
D-598
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive