Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ni Made Truly Pinanti Sastra; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Fatma Lestari, L. Meily; Milla Tejamaya
Abstrak:
Latar belakang: Fenomena korosi pada material carbon steel di fasilitas produksi hulu minyak dan gas dapat menyebabkan penipisan lapisan logam sehingga terjadi kebocoran hidrokarbon. Untuk mencegah kerugian tersebut, perusahaan perlu menerapkan corrosion management dengan injeksi corrosion inhibitor sebagai lapisan pelindung material. Salah satu jenis Corrosion inhibitor (CI) yang diinjeksikan mengandung bahan baku asam tioglikolat (TGA), seperti yang digunakan di PT. X, yaitu produk CI-A. Selain memiliki manfaat dalam melapisi logam, TGA dapat terdekomposisi menjadi H2S (hidrogen sulfida) akibat perubahan suhu, misalnya akibat paparan sinar matahari saat penyimpanan produk. Pelepasan gas iritan dari CI dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan pernafasan pekerja. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko H2S dalam produk CI yang mengandung TGA beserta usulan prioritas perbaikan existing control measures di tempat kerja. Metodologi: Penelitian menggunakan data sekunder hasil pengukuran gas H2S dari drum produk CI-A, hasil pengukuran gas H2S dari simulasi pemanasan sampel CI-A di laboratorium PT. X, dan dokumen prosedur kerja PT. X. Selain itu, penelitian menggunakan data primer dari kuesioner untuk mendapatkan data demografi pekerja PT. X, frekuensi dan durasi penanganan CI pada 2 Unit Kerja (area produksi dan warehouse) di PT. X, dan riwayat keluhan kesehatan pekerja sebagai basis melakukan Chemical Health Risk Assessment (CHRA) menurut DOSH versi 2018. Hasil: Dari 113 responden kuesioner PT. X, 96 orang (85%) merupakan pekerja yang rutin menangani produk CI, di mana 2% pekerja pernah merasakan keluhan kesehatan saat menangani produk CI pada periode 2020-2022. Identifikasi risiko kesehatan pada kegiatan ini mengacu pada hasil pengukuran gas H2S yang diperoleh lebih dari 200 ppm dari drum dan lebih dari 700 ppm saat pemanasan 40 ºC selama 180 menit. Nilai konsentrasi ini melebihi STEL-TWA H2S menurut ACGIH yaitu 5 ppm selama 15 menit waktu pajanan. Sesuai CHRA DOSH, tingkat risiko kesehatan gas H2S termasuk hazard rating (HR) = 5. Analisis exposure rating (ER) secara kualitatif menunjukkan ER area produksi (4) lebih tinggi dari ER di area warehouse (3) karena perbedaan frequency-duration rating (FDR) antar unit kerja (magnitude rating (MR) saat aktivitas membuka tutup drum CI = 4). Oleh karena itu, perhitungan tingkat risiko kesehatan gas H2S dari produk CI-A yang mengandung TGA menghasilkan high risk level, yaitu RR = 20 pada Unit Kerja 1 dan RR = 15 pada Unit Kerja 2, sehingga pengendalian risiko utama yang perlu dilakukan oleh perusahaan adalah melakukan subsitusi bahan kimia CI di perusahaan dengan produk CI alternatif yang tidak menghasilkan gas berbahaya, seperti green corrosion inhibitor yang mulai umum dikembangkan untuk industri minyak dan gas bumi. Kesimpulan: Risiko kesehatan akibat pajanan H2S dari CI termasuk pada high risk level menurut CHRA DOSH dan langkah utama yang perlu dilakukan adalah subsitusi sebagai bagian dari technical control untuk menurunkan level risiko kesehatan pekerja di PT. X. Perusahaan memastikan kembali kesesuaian langkah pengendalian teknis, administratif, dan APD saat bahan TGA ini digunakan produk corrosion inhibitor.

Background: Thioglycolic acid (TGA) is used as iron ion reduction in corrosion inhibitor which can produce H2S (hydrogen sulfide) and expose to human health. The purpose of this research is to analyze the risk level of H2S exposure from CI along with the proposed risk control in the company. Methodology: Chemical Health Risk Assessment (CHRA) according to DOSH (2018) in two exposed work units in PT. X (Work Unit 1 as production area and Work Unit 2 as warehouse area). Result: According to DOSH, the hazard rating of H2S is 5. Qualitative exposure rating (ER) analysis shows the ER of the production area (4) is higher than ER in the warehouse area (3) due to the difference in frequency-duration rating (FDR). By considering the Magnitude rating (MR) during drums opening is 4, the level of health risk is at high risk level (RR Work Units 1 = 20; RR Work Units 2 = 15). Conclusion: H2S exposure from CI is at high risk level according to CHRA DOSH and the main required control is substitution to reduce the risk level. Adequacy of technical, administrative, and PPE control measures is critical when TGA is used in corrosion inhibitor.
Read More
T-6562
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Carlos Paulus Belan Beribe; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Abdul Kadir, L. Meily, Muliadi, Petrus AD Lazar
Abstrak: Kelelahan merupakan permasalahan serius yang menjadi penyumbang kasus kecelakaan bagi perusahaan pertambangan batu bara sehingga menciptakan kerugian bagi perusahaan maupun pekerja secara langsung. Tujuan penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui gambaran dan hubungan faktor-faktor risiko kelelahan (fatigue) dengan kejadian kelelahan pada pekerja industri pertambangan batu bara. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional (potong lintang), pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner Fatigue Assessment Scale (FAS), NAS-TLX dan observasi lapangan langsung. Pada Penelitian ini ada beberapa variable independen yang diteliti untuk melihat faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya kelelahan pada pekerja. Variabel independen pada penelitian ini yaitu, usia, gender, indeks masa tubuh, kondisi kesehatan, waktu tidur, aktivitas fisik, konsumsi kafein, shift kerja, lama bekerja, kejenuhan dan kelalahan yang dialami pekerja. Hasil penelitian yang diperoleh sebanyak 181 responden mengalami risiko kelelahan sebanyak (92,35%) mengalami kelelahan (fatigue) dan sebanyak 158 (93,5%) pekerja mengalami risiko beban kerja tinggi. Untuk gambaran hubungan variabel independen usia, gender, indeks masa tubuh, kondisi kesehatan, waktu tidur, aktivitas fisik, konsumsi kafein, shift kerja, lama bekerja, kejenuhan dengan kelelahan dalam penelitian ini tidak memiliki hubungan secara signifikan, artinya nilai p value lebih > 0,05.
Fatigue is a serious problem that contributes in accidents for coal pertambangan batu bara companies, thereby creating direct losses for the company and workers. The aim of this research was to determine the description and relationship between risk factors for fatigue and the incidence of fatigue in pertambangan batu bara industry workers. This research used a cross sectional design, data collection was carried out by filling in the Fatigue Assessment Scale (FAS), NAS-TLX questionnaire and direct field observation. In this research, several independent variables were studied to look at the risk factors that influence the occurrence of fatigue in workers. The independent variables in this study are age, gender, body mass index, health condition, sleep time, physical activity, caffeine consumption, work shifts, length of work, boredom and fatigue experienced by workers. The research results obtained were that 181 respondents experienced the risk of fatigue, as many as (92.35%) experienced fatigue and as many as 158 (93.5%) workers experienced the risk of high workload. To describe the relationship between the independent variables age, gender, body mass index, health condition, sleep time, physical activity, caffeine consumption, work shifts, length of work, boredom and fatigue in this study there is no significant relationship, it means that the p value is >0,05.
Read More
T-6903
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Herlina J. El-Matury;/Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Besral, Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Meily L. Kurniawidjaja, Astrid Widayati Hardjono, Dewi Rahayu, Agus Triyono, Mila Tejamaya, Baiduri Widanarko
Abstrak: ABSTRAK Disertasi ini membahas model faktor-faktor yang mempengaruhi depresi, kecemasan
 
dan stres pada mahasiswa S1. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan disain cross
 
sectional. Hasil factor analysis pada sumber masalah, didapat sumber masalah ada 3
 
faktor yaitu komunikasi dan adaptasi, personal dan emosional. Hasil structure equation
 
modeling, bahwa faktor sumber masalah dan faktor harga diri berhubungan signifikan
 
terhadap terjadinya depresi, kecemasan dan stres pada mahasiswa S1. Sumber masalah
 
merupakan faktor yang paling mempengaruhi depresi, kecemasan, dan stress pada
 
mahasiswa S1. Hasil penelitian menyarankan perlu ditambahkan program/kegiatan
 
seperti pelatihan, seminar, talk show, dan diskusi tentang peningkatan harga diri
 
mahasiswa.
ABSTRACT This dissertation discusses the model of factors that influence depression, anxiety and
 
stress in undergraduate students. This research is quantitative with cross sectional
 
design. The results of factor analysis on the source of the problem, the source of the
 
problem is that there are three factors, namely communication and adaptation, personal
 
and emotional. The results of structure equation modelling, that the problem and selfesteem
 
factors are significantly relate to depression, anxiety and stress in undergrasuate
 
students. The problem is the most affects depression, anxiety, and stress in
 
undergrasuate students. The results of the study suggest that programs / activities need
 
to add such as training, seminars, talk shows, discussions, about increasing student selfesteem.
Read More
D-392
Depok : FKM-UI, 2017
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive