Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Indra Joko Mulyono; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Kurnia Sari, Takdir Mostavan
B-1367
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Josiah Irma; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Pujiyanto, Dewi Basmala, Takdir Mostavan
Abstrak:

Tesis ini membahas tentang waktu tunggu pelayanan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Bhakti Yudha dan mencari faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi standar minimal pelayanan waktu tunggu di instalasi farmasi yang telah ditetapkan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif  dengan desain deskriptif. Hasil penelitian bahwa waktu tunggu pelayanan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Bhakti Yudha tidak sesuai dengan standar minimal pelayanan yang ditetapkan pihak Farmasi Rumah Sakit Bhakti Yudha. Faktor yang berpengaruh diantaranya metode pembayaran khususnya pasien jaminan karena ketidakjelasan kesepakatan obat-obatan yang di cover khususnya vitamin, jenis resep racikan yang pengerjaanya membutuhkan proses yang lebih lama, stock obat yang sering kosong, SDM terbatas, sarana & prasarana yang tidak mendukung, ketidak sesuaian formularium dan ketidakjelasan penulisan resep, evaluasi terhadap waktu tunggu yang tidak secara rutin, dan pengawasan SOP yang rendah. Kata kunci : Waktu tunggu, farmasi, pelayanan.


 

The purpose of this study was to investigate about the waiting time of services at the Hospital Pharmacy Bhakti Yudha and seek any factor that affects the minimum standards of service in the pharmacy waiting time has been determined. The study was a descriptive qualitative research design. The study shows that the waiting time of service at the Hospital Pharmacy Bhakti Yudha not complies with minimum standards of service established by the hospital pharmacy Bhakti Yudha. Factors that affect them in particular payment method guarantees patients because of uncertainty deals drugs on the cover, especially vitamins, prescription type concoction whose implementation requires a longer process, stock drugs that are often empty, limited human resources, existing facilities do not support, incompatibilities prescribing formulary and uncertainties, evaluation of waiting time that is not routine, and SOPs low supervision. Key words : Waiting time, pharmacy, services.

Read More
B-1326
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Frieda Ayu Prihadini; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Mieke Savitri, Pujianto. Takdir Mostavan, Sandra Olivia
Abstrak:

Dalam menjawab keluhan perawat mengenai besarnya beban kerja di ruang rawat inap Cattleya B RSU Bhakti Yudha, perlu dilakukan analisis kebutuhan tenaga perawat dengan menggunakan beberapa formula yaitu, Workload Indicator Staff Needs (WISN), formula Gillies, PPNI, dan formula Ilyas. Penelitian dilakukan di ruang rawat inap Cattleya B menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan melakukan observasi terhadap aktivitas perawat menurut metode work sampling serta in-depth interview pada 21-30 Mei 2012. Hasil penelitian menyatakan beban kerja perawat pada kategori produktif (80%) dengan hanya 33.98% yang merupakan aktivitas keperawatan langsung dan 47.4% merupakan aktivitas keperawatan tidak langsung. Penggunaan waktu untuk kegiatan pribadi dan non produktif perawatmasih di dalam standar ILO (14.98%) Formula Gillies dan PPNI, dan Ilyas tidak menggambarkan sejumlah kegiatan keperawatan tidak langsung dari perawat seperti administrasi dan pencatatan laporan, yang justru pada saat observasi membutuhkan proporsi yang lebih besar. Sebaliknya metode WISN yang menghasilkan jumlah perawat sebesar 35 orang ditambah dengan 1 kepala ruangan dianggap lebih tepat dan sesuai dengan RS karena menggambarkan beban kerja nyata. Diharapkan pihak manajemen dapat memberikan toleransi seperti pemberian hari kepelatihan bagi perawat, menambah jumlah tenaga baik perawat dan non perawat sesuai kebutuhan untuk meningkatkan mutu pelayanan.


 In order to answer the concern of high workload nursing care at Cattleya B Ward of Bhakti Yudha Hospital, there is a need to analyze the requirement of nursing staff with some formulas:Workload Indicator Staff Needs (WISN), Gillies?, PPNI, and Ilyas? Formula. This Research was held in Cattleya B Ward of Bhakti Yudha Hospital on May 21st-30th 2012 using Quantitative and Qualitative approach with an observation to nursing activity based on work sampling method and also in-depth interview with some informants to gain any information for analysis. The result of this research proved that nursing workload is in productive state (80%) with only 33.98% are direct nursing care activities and 47.4% are indirect nursing care activities. The usage of time for individual activity and non-productive activity are still in the ILO Standard (14.98%) Gillies?, PPNI, and Ilyas? Formula did not described some of indirect activity like administration, and making nursing report which in observation need higher proportions than others. In the contrary, WISN, which results 35 nurses as staff with 1 additional nurse as the head of Cattleya B ward, is suitable with hospital because described the real work load in the ward. In the future, hopefully manager can give any tolerance like training day for nurse; add some staff both nursing staff and non-nursing staff as needs for service quality.

Read More
B-1453
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulianti; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Puput Oktamianti, Takdir Mostavan, Sjahrul Amri
Abstrak:

ABSTRAK

Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator untuk mengukur keberhasilan pelayanan rumah sakit. Sedangkan pelayanan Unit Rawat Jalan merupakan pelayanan terdepan dan menampilkan citra rumah sakit, dimana kunjungannya dapat mempengaruhi pemakaian pelayanan rawat inap dan pelayanan penunjang. Dalam penelitian ini akan dibahas tentang analisis kepuasan pasien di Unit Rawat Jalan RSBY menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional terhadap 110 sampel. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa 23 sampel (20,9%) menyatakan puas dan 87 sampel (79,1%) menyatakan tidak puas terhadap seluruh proses pelayanan di Unit Rawat Jalan RSBY.


ABSTRACT

Patient satisfaction is one of many indicators of hospital success key service measurement. Meanwhile outpatient unit service act out as the front liner in conveying the hospital image, whereas every visitation will effect the number of inpatient unit stay and support service utilization. This research analyzed patient satisfaction level in outpatient unit at RSBY using cross sectional quantitative method from110 samples. Research found that out of the total sample, 23 samples (20,9%) are satisfied while 87 other (79,1%) are not satisfied with the whole service thet outpatient unit in RSBY offer.

Read More
B-1489
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nelis Fitriah Handayani; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Puput Oktamianti, Suprijanto Rijadi, Takdir MOstavan, Dewi Basmala
Abstrak: Appendisitis merupakan kasus terbanyak dalam SMF BedahSubspesialistik Bedah Digestif. LOS appendisitis ditemukan memanjang yaituberkisar 3 hingga 9 hari. Tujuan penelitian adalah menentukan determinan LOSpada pasien appendisitis. Penelitian dilakukan pada 75 pasien appendisitis diRSHS, yang menjalani appendektomi emergensi periode Juli sampai denganOktober 2014. Parameter yang dinilai adalah LOS, sedangkan determinan diambilberdasar karakteristik pasien dan karakteristik layanan kesehatan. Hasil ujistatistika menunjukkan tidak didapatkan hubungan pada seluruh determinanberdasar karakteristik pasien, yaitu usia, gender, diagnosa, orientasi dan posisiappendiks, ukuran panjang appendiks, riwayat kunjungan ke sarana kesehatan lainsebelumnya serta keterlambatan berobat dengan LOS yang memanjang lebih dari5 hari. Berdasar karakteristik layanan kesehatan, ditentukan bahwa determinanketerlambatantindakan, waktu pelaksanaan operasi, serta operator tidakberhubungan dengan pemanjangan LOS lebih dari 5 hari. Terdapat hubungandurasi operasi dan komplikasi paska operatif dengan LOS memanjang lebih dari5 hari.Analisa lebih detail memperlihatkan bahwa komplikasi paska operatifdipengaruhi oleh usia dan ukuran panjang appendiks, terdapat juga dugaankomplikasi paska operatif akibat memanjangnya durasi operasi.Sedangkanketerlambatan berobat berhubungan dengan kejadian appendisitis perforata.
Appendicitis were majority in digestive surgery division. We found LOSwere varies ranging from 3 to 9 day, longer than 5 days in most cases. Theobjective is to determine factors contributed to LOS. Ressearch was performed to75 samples whom underwent open emergency appendicectomy taken from july toOctober 2014 at Hasan Sadikin General Hospital Bandung . LOS was thedependent variables. LOS determination were emerged from patientcharacteristics and health care provider characteristics. Statistical test was doneto all data results. The results showed that patient age, gender, diagnose,appendiceal orientation and positioning, length of the appendix, previous visitand pre hospital delay were not contributed to LOS more than 5 days. Emergingfrom health care provider characteristic, in hospital delay, time operation wasperfomed and operator were irrelevant to LOS, otherwise operating theathrretimestamp and post operative complication were found relevant to LOS more than5 days.This study also reveals that patient age and length of the appendixcontributed to the rate of post operative complication, that in turn indirectlycontributing to LOS more than 5 days. Suspicioulys that duration operation maycontribute to post operative complications.Similar study concluded pre hospitaldelay was highly significant predisposing to appendiceal perforation.
Read More
B-1689
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulianti Savitri; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Vetty Yulianty Permanasari, Takdir Mostavan, Sumijatun
Abstrak: Abstrak
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan crosssectional yang dilakukan pada periode rawat 4-15 Maret 2013 pada 114 pasien sebagai responden. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi pasien terhadap efektivitas komunikasi terapeutik perawat di ruang rawat inap RSU Bhakti Yudha Depok.
 
Hasil penelitian menggambarkan 66,7% responden menilai komunikasi perawat efektif, analisis lebih lanjut dengan regresi logistik menujukkan tidak ada hubungan signifikan antara umur, jenis kelamin, pendidikan, tipe kepribadian dengan persepsi pasien terhadap efektivitas komunikasi terapeutik perawat. Hanya variabel motivasi yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara persepsi pasien terhadap efektivitas komunikasi terapeutik perawat.
 
Dengan hasil penelitian ini disarankan kepada rumah sakit agar diadakan rencana pelatihan komunikasi terapeutik secara berkelanjutan bagi perawat. Selain itu, mengupayakan adanya penerapan komunikasi terapeutik perawat dengan optimal serta adanya pengawasan dari supervisor maupun kepala ruangan, dan pembinaan dari komite keperawatan bagi perawat.
 

The study was a quantitative cross sectional study conducted during the periodMarch 4th to March 15th 2013 and covering 114 client. The aim of the study was to determine the factors associated with patient's perceptions about effectiveness of therapeutic communication nursing inpatient unit.
 
The result was found 66,7% respondents think nurses have effectiveness communication and with the logistic regression analysis showed there was no association between age, sex, education, personality traits with patient’s perceptions about effectiveness of therapeutic communication nursing. It also found that there was association between motivation with patient's perceptions about effectiveness of therapeutic communication nursing.
 
This study recommends to hospital for make therapeutic communication periodic training. Besides that, seek the implementation of therapeutic communication nursing and monitoring from supervisor and the head of the room, also coaching from nursing committee for nurses.
Read More
B-1537
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizka Hasanah; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Sandi Iljanto; Anwar Hassan, Takdir Mostavan, Budi Hartono
Abstrak:

Tesis ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan keinginan pindah kerja perawat RSU Bhakti Yudha. Variabel yang diteliti adalah karakteristik perawat, faktor pendorong dan faktor penarik. Karakteristik meliputi umur, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan terakhir, jarak rumah ke tempat kerja, jumlah anak yang dimiliki, lama kerja dan status kepegawaian. Faktor pendorong antara lain meliputi persepsi terhadap kompensasi RS, sistem kerja keperawatan, pengembangan karir dan lingkungan kerja. Faktor penarik meliputi persepsi terhadap kesempatan kerja dan kompensasi perawat RS lain. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif secara cross sectional pada 95 perawat. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Analisis bivariat menggunakan T Test, Annova dan Korelasi Regresi, sedangkan multivariat menggunakan Regresi Linear Ganda. Pemodelan bivariat dengan menggunakan metode enter. Hasil analisis didapatkan kompensasi RS dan kompensasi perawat RS lain yang paling dominan berhubungan dengan keinginan pindah kerja perawat.Saran untuk rumah sakit berdasarkan hasil penelitian adalah RS perlu meninjau ulang mengenai cara pemberian kompensasi terutama uang lembur kepada perawat dan RS diharapkan mempertimbangkan standar kompensasi perawat RS lain dalam memberikan kompensasi.


The aim of this thesis is to analyze of factors associated with desire to move (Turnover Intention) of Nurse In Bhakti Yudha Public Hospital In 2013. Variable which researched is charactheristics of nurse are age, sex, marrital state, the last education, the distance between house and hospital, the amount of children, the lenght of employment, and the state of employment . The Push factors which the perceptions of compensation oh hospital, nursing work system, career development, and work environment. The pull factors containe the opportunity of job and the level compensation of the other hospital. The methode of research which used is quantitatively with cross sectional design which done for ninety five nurses. The analyses which used is univariate, bivariate, multivariate. Bivariat Analysis use T Test, Anova and Regression Correlation, whereas multivariate Regreesion of Binary Logistic. Bivariate model use enter methode. The result of analysis is gained The perseption of Compensation of hospital and the other hospital have the most infuence variable which correlated with turnover intention. The suggestions for Bhakti Yudha hospital are based on the result of analysis are reviewing about its compensation especialliy overtime payment compensation to the nurses and Bhakti Yudha hospital is expected reviewing about the compensation of the other hospital in compensation giving

Read More
B-1533
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mavkren J. Kambuaya; Pembimbing : Dumilah Ayuningtyas; Penguj: Mieke Savitri, Takdir Mostavan, Amila Megraini, Puput Oktamianti
Abstrak: ABSTRAK
 Menjelang diterapkannya Sistem Jaminan Sosial Nasional tahun 2014,rumah sakit wajib menyelenggarakan administrasi rekam medis yang tertib yakni rekam medis lengkap,dan akurat sesuai dengan pelayanan yang telah diberikan. Selain itu, ketidaklengkapan dalam pengisian rekam medis akan sangat mempengaruhi mutu rekam medis dan mencerminkan mutu pelayanan di suatu rumah sakit (Depkes,2006). Dari hasil pengamatan pendahuluan, masih ada keluhan dari pasien,perawat dan dokter terhadap sistem rekam medis rawat jalan di unit RSU Bhakti Yudha Depok. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem rekam medis rawat jalan (input, process, output, feedback, dan control) di Unit Rekam Medik RSU Bhakti Yudha Depok tahun 2013. Penelitian ini merupakan penelitian Mix Methods dengan pendekatan studi kasus. Cara pengumpulan data melalui observasi partisipatif moderat, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil: sistem rekam medis rawat jalan belum berjalan secara optimal sehingga berpengaruh pada output yakni rekam medis rawat jalan tidak akurat,tidak lengkap dan tidak aman secara fisik. Ini disebabkan oleh tidak dilakukannya analisis kelengkapan rekam medis rawat jalan, serta proses pengiriman rekam medis yang tidak aman. Saran : supervisor rekam medis menunjuk seorang petugas rekam medis yang khusus menangani penaataan berkas rekam medis rawat jalan, sekaligus melakukan analisis kelengkapan rekam medis dan kepada manajemen rumah sakit agar mempertimbangkan metode alternatif untuk mengirimkan rekam medis.
 

 ABSTRACT
 Towards the implementation of the National Social Security System (SJSN) in 2014, hospital must conduct an orderly administration of the medical record namely medical records complete, accurate and in accordance with the service provided. Moreover, the incompleteness of the charging medical records will greatly affect the quality of medical records and reflect the quality of care in a hospital (Depkes, 2006). From preliminary observations, there were still complaints from patients, nurses and doctors about the outpatient medical record systems in Bhakti Yudha Hospital. This study aims to analyze the outpatient medical record system (input, process, output, feedback, and control) at the Medical Records Unit of Bhakti Yudha Hospital in 2013. The method used was Mix Methods with a case study approach. The data collected through participant observation moderate, in-depth interviews, and documentation. Result : The outpatient medical record system was not running optimally, so that the effect on the output of the outpatient medical record are inaccurate, incomplete and not secure. This is due to the completeness analysis of outpatient medical records was never had been assessed, as well as the delivery method of medical records that is not safe. Advice for the Medical Record Supervisor is appoint a medical record officer who specializes in assembling the outpatient medical record, as well as to analyze the completeness of the medical records and suggest to hospital management to consider alternative methods to delivery the medical records.
 
Key words : system analysis, medical record, outpatient.
Read More
B-1541
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riny Sari Bachtiar; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Vetty Yulianty Permanasari, Takdir Mostavan
Abstrak:

Analisis mengenai tingkat pemulihan biaya penting untuk dilakukan oleh semua rumah sakit. Instalasi dapur merupakan salah satu pusat biaya di rumah sakit yang perlu diketahui tingkat pemulihan biayanya dalam proses penyelenggaraan makanan pasien. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis tingkat pemulihan biaya di Instalasi Dapur Rumah Sakit Bhakti Yudha Depok pada tahun 2010-2011 dengan menggunakan metode perhitungan berdasarkan aktivitas yang dimodifikasi. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak terkait dan data sekunder yang diperoleh dari laporan Instalasi Dapur dan Bagian Keuangan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang didukung oleh penelitian kualitatif. Hasil analisis rata-rata biaya satuan makan aktual berdasarkan kelas perawatan menggunakan metode ABC pada Tahun 2010 adalah sebesar Rp.91143. pada VVIP, Rp.69984. Pada VIP, Rp.45843. pada Kelas 1, Rp.36768. pada Kelas 2 dan 3, dan Rp.10475. pada Perinatologi, sedangkan pada Tahun 2011 terjadi peningkatan, yaitu sebesar Rp.95175. pada VVIP, Rp.72267. Pada VIP, Rp.48127. pada Kelas 1, Rp.39473. pada Kelas 2 dan 3, dan Rp.10667. pada Perinatologi. Biaya satuan makanan standar di Rumah Sakit Bhakti Yudha pada Tahun 2010-2011 adalah Rp.68192. pada VVIP, Rp. 61423. Pada VIP, Rp.27451. pada Kelas 1, Rp.21451.pada kelas 2, Rp.18768. pada Kelas 3 dan Rp.18768. pada Perinatologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi tertinggi dari biaya satuan makan aktual terhadap tarif perawatan adalah pada penyelenggaraan makanan kelas 3 yang mencapai 46 % pada tahun 2010 dan 49% pada tahun 2011. Proporsi ini jauh lebih tinggi dari proporsi standar Rumah Sakit, yaitu 23%. Tingkat pemulihan biaya secara garis besar masih kurang dari 100%. Diperlukan evaluasi penetapan biaya satuan makan standar setiap tahunnya, sehingga dapat menjadi bahan penilaian yang dapat digunakan dalam menilai performa Instalasi Dapur, terutama dalam penggunaan biaya. Saran dari penelitian ini adalah perlu melakukan evaluasi dan revisi terhadap biaya satuan makan standar Rumah Sakit secara berkala, melakukan perhitungan biaya satuan makan aktual berdasarkan jenis diet, menjadikan pembiayaan di Instalasi Dapur menjadi lebih terukur dengan memisahkan biaya makan pasien dari tarif pelayanan rawat inap dan menjadikan dapur sebagai pusat pendapatan, dengan cara melayani melayani kebutuhan makanan pasien rawat jalan yang memerlukan diet khusus. Diharapkan Instalasi ini dapat menjadi salah satu pusat pendapatan di Rumah Sakit.


 Cost recovery rate is crucial to analyze for hospital. It show how the hospital condition to cover it cost. The purpose of this study was to analyze cost recovery rate of kitchen installation at Bhakti Yudha Hospital Depok from 2010-2011. Quantitative method of cost analysis based on modified activity was used to analyze cost recovery rate. Primary data was obtained from kitchen installation report dan financial department, while secondary data was obtained from interview with related personnel. This study used quantitative with qualitative methods. Result of actual mean meal unit cost based on class hospital care in 2010 were 91,143 IDR for VVIP; 69984 IDR for VIP; 45843 IDR for class I; 36768 IDR for class II and III; 10475 IDR for perinatology. There were increasing cost in 2011, 95175 IDR for VVIP; 72267 IDR for VIP; 48127 IDR for class I; 39473 IDR for class II and III; 10667 IDR for perinatology. Standard meal unit cost of Bhakti Yudha Hospital in 2010-2011 were 68192 IDR for VVIP; 61423 IDR for VIP; 27451 IDR for class I; 21451 IDR for class II; 18768 IDR for class III; 18768 IDR for perinatology. The highest proportion of actual meal unit cost to hospital care cost for class III were 46% in 2010 and 49% in 2011. This proportion was higher than standard hospital proportion (23%). Cost recovery rate was less than 100% in general, showed hospital kitchen installation was not capable to provide meal as listed in budget. Annual standard meal unit cost evaluation is crucial in order to assess kitchen installation performance especially in financial utilization. Based on the result of the study, it is suggested to evaluate and to revise standard meal unit cost of hospital periodically, to calculate actual meal unit cost based on dietary meal, to establish kitchen installation cost as measurable cost by separating meal cost from hospital care cost, and to make kitchen installation as revenue center by serving outpatient dietary supply. Those effort could establish kitchen installation as a revenue center of the hospital.

Read More
B-1377
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive