Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tazmirah Asmarani; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Rico Kurniawan, Dieta Nurrika
Abstrak:

Obesitas pada remaja meningkat secara global dan nasional. Hal ini menjadi perhatian khusus karena obesitas pada remaja dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular lebih dini. Penelitian ini menganalisis faktor aktivitas fisik dan pola makan dengan obesitas pada remaja 10—19 tahun menggunakan data SKI 2023 dan analisis regresi logistik berganda (96.721 responden). Hasil menunjukkan di perkotaan, tidak terdapat hubungan
antara aktivitas fisik dengan obesitas. Untuk pola makan, konsumsi makanan berlemak pada status kekayaan tertinggi (AOR= 1,38) dan konsumsi minuman bersoda (AOR= 0,584; 95% CI= 0,404—0,845) menunjukkan hubungan signifikan secara statistik dan menjadi faktor risiko di perkotaan. Di samping itu, di pedesaan, aktivitas fisik pada remaja berumur 10-13 tahun (AOR= 1,89) dan konsumsi makanan berlemak pada status kekayaan tertinggi (AOR= 2,25) memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dan menjadi faktor risiko di pedesaan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan lewat penguatan layanan preventif serta kolaborasi antar pihak dalam membentuk kebiasaan dan gaya hidup yang lebih sehat dalam menurunkan angka obesitas.


Adolescent obesity is increasing globally and nationally. This is of particular concern because obesity in  adolescents can increase the risk of non-communicable diseases earlier. This study analyzed physical activity and  dietary factors with obesity in adolescents 10-19 years old using SKI 2023 data and multiple logistic regression  analysis (96,721 respondents). Results showed that in urban areas, there was no association between physical  activity and obesity. For diet, consumption of fatty foods at the highest wealth status (AOR= 1.38) and  consumption of soft drinks (AOR= 0.584; 95% CI= 0.404-0.845) showed statistically significant associations and  were risk factors in urban areas. In addition, in rural areas, physical activity among adolescents aged 10-13 years  (AOR= 1.89) and consumption of fatty foods at the highest wealth status (AOR= 2.25) had statistically significant  associations and were risk factors in rural areas. Therefore, prevention efforts through strengthening preventive  services and collaboration between parties in shaping healthier habits and lifestyles are needed to reduce obesity  rates.

Read More
S-12097
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sarah Keisya Budiargo; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Asih Setiarini, Dieta Nurrika
Abstrak:
Obesitas merupakan akumulasi lemak tubuh yang berlebihan dan meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular. Pengukuran obesitas menggunakan persen lemak tubuh dinilai lebih akurat dibandingkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Prevalensi obesitas mahasiswa FKM UI berdasarkan data pemeriksaan kesehatan tahun 2022–2024 mencapai 13,6%, melebihi ambang batas masalah kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi ultra-processed food (UPF), asupan energi, lemak, karbohidrat, protein, serat, serta perilaku sedentary dengan kejadian obesitas berdasarkan persen lemak tubuh pada 147 mahasiswa FKM UI tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi obesitas berdasarkan persen lemak tubuh sebesar 12,9%. Terdapat hubungan signifikan antara frekuensi konsumsi UPF, konsumsi energi UPF, asupan energi; lemak; protein, dan perilaku sedentary dengan obesitas (p-value<0,05). Sedangkan asupan serat dan karbohidrat tidak menunjukkan hubungan signifikan (p-value>0,05) tetapi menunjukkan kecenderungan. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan lebih bijak dalam memilih makanan sehari-hari dan mengurangi aktivitas sedentary. FKM UI diharapkan menciptakan lingkungan kampus yang mendukung gaya hidup sehat serta program pemantauan status gizi. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan alat objektif untuk mengukur perilaku sedentary, serta menggunakan analisis multivariat untuk memahami hubungan mendalam antara konsumsi UPF, asupan gizi, dan perilaku sedentary terhadap kejadian obesitas

Obesity is the excessive accumulation of body fat that elevates the risk of non-communicable diseases. Compared to Body Mass Index (BMI), body fat percentage offers a more accurate measure of obesity. Based on health screening data from 2022 to 2024, the prevalence of obesity among FKM UI students reached 13.6%, surpassing the public health concern threshold. This study investigated the association between ultra-processed food (UPF) consumption, energy, fat, carbohydrate, protein, fiber intake, and sedentary behavior with obesity—measured by body fat percentage—among 147 FKM UI students in 2025. This quantitative study used a cross-sectional design. Findings revealed an obesity prevalence of 12.9%. Significant associations were observed between obesity and the frequency of UPF consumption, UPF-derived energy intake, total energy, fat and protein intake, and sedentary behavior (p-value<0.05). Although fiber and carbohydrate intake were not statistically significant (p-value>0.05), both showed trends. These results highlight the importance of making healthier dietary choices and reducing sedentary time. FKM UI encouraged to promote a supportive campus environment for healthy lifestyles and establish nutrition monitoring initiatives. Future studies should incorporate objective tools to assess sedentary behavior and utilize multivariate analysis to better understand the interactions between those risk factors and obesity
Read More
S-11984
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Al Ilham Ksatria Gagah Perkasa; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Sandra Fikawati, Dieta Nurrika
Abstrak:
Depresi merupakan gangguan suasana hati yang apabila tidak dicegah atau ditangani dapat berpengaruh terhadap produktivitas, serta kesehatan individu secara keseluruhan, bahkan menjadi penyebab kematian lewat bunuh diri. Lewat gizi, ditemukan beberapa zat gizi serta faktor-faktor lain yang diduga berhubungan dengan pencegahan depresi. Siswa SMA Negeri 2 Kota Tangerang Selatan sebagai siswa dari sekolah unggulan lebih berisiko mengalami depresi dibandingkan sekolah lainnya. Dari situ dilakukan penelitian yang bertujuan untuk melihat hubungan antara kecukupan asupan omega-3, folat, vitamin D, vitamin C, dan zinc beserta faktor-faktor lainnya terhadap depresi pada siswa SMA Negeri 2 Kota Tangerang Selatan. Terdapat 144 responden dari siswa kelas 10 dan 11 SMA Negeri 2 Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Data penelitian diambil menggunakan Patient Health Questionnaire-8 for adolescents (PHQ-A), Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQFFQ), Depression Literacy Questionnaire  (D-Lit), dan kuesioner sosioekonomi rancangan peneliti. Dari hasil univariat, ditemukan proporsi depresi pada responden sebesar 51,4%. Berdasarkan uji bivariat menggunakan chi-square, tidak ditemukan hubungan signifikan pada 7 variabel independent (p >0,05) kecuali pada variabel jenis kelamin (p = 0,048).

Depression is a mood disorder that if not prevented or treated can affect productivity, as well as the overall health of an individual, and even cause death through suicide. Through nutrition, several nutrients and other factors have been found that are suspected of being related to preventing depression. Students of SMA Negeri 2 Kota Tangerang Selatan as students from excellent schools are at higher risk of experiencing depression than other schools. From there, a study was conducted that aimed to see the relationship between adequate intake of omega-3, folate, vitamin D, vitamin C, and zinc along with other factors to depression in students of SMA Negeri 2 Kota Tangerang Selatan. There were 144 respondents from grade 10 and 11 students of SMA Negeri 2 Kota Tangerang Selatan. This study used a cross-sectional design. The research data were taken using the Patient Health Questionnaire-8 for adolescents (PHQ-A), Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQFFQ), Depression Literacy Questionnaire (D-Lit), and a socioeconomic questionnaire designed by the researcher. From the univariate results, the proportion of depression in respondents was 51.4%. Based on the bivariate test, no significant relationship was found in the 7 independent variables (p > 0.05) except for the gender variable (p = 0.048).
Read More
S-11925
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riska Wulandari; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Sandra Fikawati, Dieta Nurrika
Abstrak:
Kejadian gizi lebih di mahasiswa menjadi isu kesehatan global akibat perubahan gaya hidup saat transisi ke perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara asupan energi, asupan karbohidrat, asupan lemak, asupan protein, asupan serat, durasi tidur, aktivitas fisik, pengetahuan gizi, dan stres akademik dengan kejadian gizi lebih berdasarkan waist to height ratio (WHtR) pada 146 mahasiswa FKM UI Tahun 2025 yang dipilih menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Data analisis penelitian ini menggunakan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 32,2% mahasiswa FKM UI Tahun 2025 mengalami gizi lebih. Namun, tidak ditemukan hubungan signifikan antara seluruh variabel independen (asupan energi, asupan karbohidrat, asupan lemak, asupan protein, asupan serat, durasi tidur, aktivitas fisik, pengetahuan gizi, dan stres akademik) dengan kejadian gizi lebih (p-value > 0,05). Meskipun demikian, terdapat beberapa variabel yang memiliki kecenderungan gizi lebih pada mahasiswa dengan asupan serat rendah, durasi tidur kurang, pengetahuan gizi rendah, dan tingkat stres akademik tinggi. Oleh karena itu, diperlukan edukasi gizi kepada mahasiswa FKM UI Tahun 2025 melalui pihak fakultas maupun organisasi mahasiswa untuk mendorong penerapan gaya hidup sehat dalam upaya pencegahan kejadian gizi lebih di kalangan mahasiswa

Overnutrition among university students has become a global health issue due to lifestyle changes during the transition to college. This study aimed to examine the relationship between energy intake, carbohydrate intake, fat intake, protein intake, fiber intake, sleep duration, physical activity, nutrition knowledge, and academic stress with overnutrition based on waist-to-height ratio (WHtR) among 146 FKM UI students in 2025 selected using proportional stratified random sampling. This research used a quantitative method with a cross-sectional design. Data were analyzed using the chi-square test. The results showed that 32.2% of students experienced overnutrition. However, no significant association was found between the independent variables (energy intake, carbohydrate intake, fat intake, protein intake, fiber intake, sleep duration, physical activity, nutrition knowledge, and academic stress) and overnutrition (p-value > 0.05). Nonetheless, students with low fiber intake, short sleep duration, low nutrition knowledge, and high academic stress showed a tendency toward overnutrition. Therefore, nutrition education is needed for FKM UI students through faculty and student organizations to promote healthy lifestyles in preventing overnutrition.
Read More
S-11910
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Janitra Crisantya Kusumawardhani; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Sandra Fikawati, Dieta Nurrika
Abstrak:
Gangguan siklus menstruasi merupakan indikator klinis awal dalam mendeteksi Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) pada remaja yang telah mengalami menstruasi sejak dua tahun yang lalu. Angka gangguan siklus menstruasi pada remaja di DKI Jakarta (17,2%) melebihi angka nasional (11,7%). Berbagai faktor gaya hidup diduga berkontribusi terhadap gangguan siklus menstruasi, di antaranya status gizi, asupan zat gizi makro, kebiasaan konsumsi makanan cepat saji modern, aktivitas fisik, dan tingkat stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan gangguan siklus menstruasi pada siswa SMAN 34 Jakarta tahun 2026. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Penelitian ini melibatkan 151 siswa perempuan kelas X dan XI yang telah memenuhi kriteria penelitian. Pengumpulan data dilakukan pada bulan April—Juni 2026 dengan instrumen penelitian berupa kuesioner menstruasi, IMT/U (Indeks Massa Tubuh/Usia), SQ-FFQ (Semi Quantitative-Food Frequency Questionnaire), FFQ (Food Frequency Questionnaire),  IPAQ-SF (International Physical Activity Questionnaire-Short Form), PSS-10 (Perceived Stress Scale). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 28,5% responden mengalami gangguan siklus menstruasi. Selain itu, ditemukan adanya hubungan signifikan antara status gizi  (p-value=0,002; OR=3,373) dan aktivitas fisik (p-value=0,019; OR=0,423) terhadap gangguan siklus menstruasi. Melalui uji regresi logistik, status gizi lebih dan obesitas merupakan faktor dominan gangguan siklus menstruasi (OR=3,8). Selain itu, ditemukan indikasi fenomena RED-S pada siswa dengan aktivitas fisik sedang-berat sebagai temuan tabulasi silang. Penelitian menyarankan untuk menjaga status gizi tetap normal melalui pembatasan konsumsi makanan cepat saji modern dan peningkatan aktivitas fisik serta memastikan kecukupan asupan energi bagi siswa yang aktif secara fisik untuk mencegah kondisi LEA.

Menstrual cycle disorders are an early clinical indicator for detecting Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) in adolescents who have been menstruating for at least two years. The prevalence of menstrual cycle disorders among adolescents in DKI Jakarta (17,2%) exceeds the national figure (11,7%). Various lifestyle factors are suspected to contribute to menstrual cycle disorders, including nutritional status, macronutrient intake, modern fast food consumption habits, physical activity, and stress levels. This study aimed to identify the dominant factors of menstrual cycle disorders among students of SMAN 34 Jakarta in 2026. The study used a quantitative approach with a cross-sectional design, involving 151 female students from grades X and XI who met the inclusion criteria. Data collection was conducted from April to June 2026 using the following instruments: menstrual questionnaire, BMI-for-age (IMT/U), SQ-FFQ (Semi Quantitative-Food Frequency Questionnaire), FFQ (Food Frequency Questionnaire), IPAQ-SF (International Physical Activity Questionnaire-Short Form), and PSS-10 (Perceived Stress Scale). The results showed that 28.5% of respondents experienced menstrual cycle disorders. Significant associations were found between nutritional status (p-value=0.002; OR=3.373) and physical activity (p-value=0.019; OR=0.423) with menstrual cycle disorders. Through logistic regression analysis, overweight and obese nutritional status was identified as the dominant factor of menstrual cycle disorders (OR=3.8). Additionally, indications of RED-S were found among students with moderate-to-vigorous physical activity as an exploratory finding. The study recommends maintaining normal nutritional status through limiting modern fast food consumption, increasing physical activity, and ensuring adequate energy intake for physically active students to prevent LEA.
Read More
S-12345
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yasmin Syifa Bakhtiar; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Dieta Nurrika
Abstrak: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit tingginya kadar glukosa pada darah seseorang yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi fisiologis. Berdasarkan data Riskesdas 2018, di Indonesia, terdapat disparitas antara prevalensi DM yang didiagnosis oleh dokter (2%) dan prevalensi berdasarkan pemeriksaan kadar glukosa darah (8,5%). Perbedaan ini mengindikasikan adanya kemungkinan besar kasus DM yang belum terdiagnosis. Memiliki pemahaman terkait faktor-faktor yang berpengaruh terhadap diagnosis diabetes melitus, khususnya pada kelompok usia tertentu dapat berguna untuk mengembangkan rencana tindakan baik dari segi pencegahan maupun penanganan. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang dapat mengulik faktor-faktor risiko kejadian diabetes melitus pada penduduk usia dewasa (25-60 tahun) yang belum pernah didiagnosis dokter di Indonesia pada tahun 2018. Desain penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Analisis data yang dilakukan antara lain adalah analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan uji chi-square, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 24434 individu di Indonesia, sebanyak 8,5% penduduk usia dewasa (25-60 tahun) memiliki DM yang tidak pernah didiagnosis oleh dokter. Faktor dominan kejadian DM pada penduduk usia dewasa (25-60 tahun) yang tidak pernah terdiagnosis di Indonesia adalah tingkat pendidikan (AOR = 1,224).
Diabetes mellitus (DM) is a condition characterized by high blood glucose levels that can lead to various physiological complications. Based on 2018 Riskesdas data, there is a disparity in Indonesia between the prevalence of DM diagnosed by doctors (2%) and prevalence identified through blood glucose testing (8.5%). This difference suggests a significant number of undiagnosed DM cases. Understanding the factors that influence diabetes diagnosis, especially in specific age groups, can help develop effective prevention and treatment plans. Therefore, this research aims to investigate the risk factors for undiagnosed diabetes mellitus in adults (ages 25-60) in Indonesia in 2018. This study uses a cross-sectional design with secondary data from the 2018 Riskesdas. Data analysis includes univariate analysis with frequency distribution, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis with multiple logistic regression. The results indicate that out of 24,434 individuals in Indonesia, 9.6% of adults (ages 25-60) have undiagnosed DM. The dominant factor for undiagnosed DM in this population is level of education (AOR =1,224).
Read More
S-11806
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farren Annabelle; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Dieta Nurrika
Abstrak:
Saat ini diabetes melitus (DM) masih menjadi tantangan global yang dapat menyebabkan komplikasi jika tidak terkontrol. Tren DM pada kelompok usia
Diabetes mellitus (DM) remains a global health challenge due to its increasing prevalence and the risk of complications when left uncontrolled. The incidence of DM among individuals aged below 40 years has continued to rise, partly due to unhealthy dietary habits, including frequent consumption of sugary snacks. University students represent one of the populations at greatest risk because academic pressure and stress may increase their tendency to consume sweet foods and beverages. Cookies are among the most popular snack foods in Indonesia. However, conventional cookies are generally high in sugar and fat but low in protein and dietary fiber, making them unsuitable for DM diet principal and highlighting the need for product modification. Meanwhile, okara, moringa leaf powder, and pumpkin seeds have demonstrated beneficial effects on glycemic control and therefore have potential as alternative ingredients for cookie production. This study aimed to develop high protein and fiber cookies enriched with okara, moringa leaf powder, and pumpkin seeds. A quantitative experimental design was employed using four cookie formulations with okara to wheat flour ratios of 1:3, 1:1, 3:1, and a control formulation. Hedonic testing was conducted at the Nutrition Laboratory, Faculty of Public Health, Universitas Indonesia, in May 2026, involving 36 untrained panelists who evaluated the cookies based on taste, color, aroma, texture, and overall acceptability. The results showed that formulation R2 was the most preferred in terms of taste, aroma, and overall acceptability, with mean scores of 6.25, 6.33, and 6.31, respectively. The nutritional composition per serving (40 g) of the R2 cookies consisted of 197 kcal of energy, 19 g of carbohydrates, 10 g of fat, 7 g of protein, and 8 g of dietary fiber. The cookies were characterized by their high protein and dietary fiber contents, which may contribute to improved blood glucose control. The production cost per serving was IDR 2,305, which was IDR 54 lower than that of the control cookie formulation.
Read More
S-12318
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hafla Hadissa; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Dieta Nurrika
Abstrak:
Stres merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang umum dialami mahasiswa dan dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis maupun performa akademik. Berbagai faktor gaya hidup, seperti konsumsi probiotik, asupan serat, konsumsi ultra-processed food (UPF), aktivitas fisik, dan kualitas tidur diduga berperan terhadap kejadian stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi probiotik dan faktor lainnya dengan tingkat stres pada mahasiswa FKM UI tahun 2026. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional pada 138 mahasiswa FKM UI. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 58% mahasiswa mengalami stres tinggi. Terdapat hubungan yang signifikan antara tahun studi (p=0,002), konsumsi UPF (p=0,003; OR=2,9; 95% CI=1,4–6,0), dan kualitas tidur (p<0,001; OR=4,3; 95% CI=1,9–9,6) dengan kejadian stres. Sementara itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi probiotik, jenis kelamin, asupan serat, dan aktivitas fisik dengan kejadian stres (p>0,05). Meskipun demikian, aktivitas fisik menunjukkan kecenderungan. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan menerapkan pola hidup sehat, terutama dengan menjaga kualitas tidur untuk membantu mengurangi risiko stres. Fakultas juga diharapkan mendukung upaya promosi kesehatan mental dan perilaku hidup sehat di lingkungan kampus. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain longitudinal serta analisis multivariat untuk memahami hubungan faktor gaya hidup dan stres secara lebih mendalam. Kata kunci: stres, konsumsi UPF, kualitas tidur, tahun studi, mahasiswa.

Stress is a common mental health problem among university students and may affect both psychological well-being and academic performance. Various lifestyle factors, including probiotic consumption, dietary fiber intake, ultra-processed food (UPF) consumption, physical activity, and sleep quality, are believed to be associated with stress. This study aimed to examine the relationship between probiotic consumption and other factors with stress among students of the FKM UI, in 2026. A quantitative study with a cross-sectional design was conducted among 138 students. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-square test. The results showed that 50.7% of students experienced high stress. Significant associations were found between year of study (p=0,002), UPF consumption (p=0,003; OR=2,9; 95% CI=1,4–6,0), and sleep quality (p<0,001; OR=4,3; 95% CI=1,9–9,6) and stress. Meanwhile, no significant associations were found between probiotic consumption, sex, dietary fiber intake, physical activity, and stress (p>0.05). Nevertheless, physical activity showed a tendency toward an association with stress. Therefore, students are encouraged to adopt healthy lifestyle behaviors, particularly by maintaining good sleep quality to reduce the risk of stress. The faculty is also expected to support mental health promotion and healthy lifestyle programs within the campus environment. Future studies are recommended to employ longitudinal designs and multivariate analyses to further explore the relationship between lifestyle factors and stress. Keywords        :        stress, UPF consumption, sleep quality, year of study, college students.
Read More
S-12380
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nursang; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Dieta Nurrika
Abstrak:
Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan hambatan interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku hiperaktif. Prevalensi ASD terus meningkat secara global, dengan sekitar 0,6-0,75% populasi dunia mengalami ASD tahun 2000-2012 dan terus meningkat hingga mencapai 1% pada tahun 2022, sedangkan di Indonesia sendiri, prevalensi ASD diperkirakan sekitar 1% atau 10 kasus per 1.000 penduduk. Jabodetabek merupakan salah satu wilayah dengan jumlah anak autisme yang cukup besar serta didukung oleh keberadaan sekolah inklusi dan pusat terapi. Salah satu pendekatan yang banyak diterapkan dalam pengelolaan anak autisme adalah diet bebas gluten dan kasein (GFCF). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan diet GFCF pada anak autisme di wilayah Jabodetabek. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Pemgambilan data dilakukan melalui google form kuesioner yang disebar secara online kepada orang tua anak autisme. Penelitian dilakukan pada 93 responden dengan metode total sampling. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menemukan bahwa 75,3% responden memiliki penerapan diet GFCF yang baik. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan informasi melalui layanan terapi (p=0,009; OR=0,273; 95% CI=0,100-0,746) dengan penerapan diet GFCF. Sementara itu, tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat pendidikan ibu, tingkat pekerjaan ibu, pengetahuan ibu, dan keikutsertaan dalam komunitas anak autisme (p>0,05) dengan penerapan diet GFCF. Namun, terdapat kecenderungan bahwa orang tua yang mengikuti komunitas anak autisme memiliki proporsi penerapan diet GFCF yang lebih baik dibandingkan yang tidak mengikuti komunitas. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi dan pendampingan terkait penerapan diet GFCF melalui tenaga kesehatan, dan komunitas orang tua agar penerapan diet GFCF dapat dilakukan secara lebih konsisten.

Autism Spectrum Disorder (ASD) is a neurodevelopmental disorder characterized by impairments in social interaction and communication, and hyperactive behavior. The prevalence of ASD continues to increase globally, with approximately 0.6–0.75% of the world's population experiencing ASD between 2000 and 2012, and this figure is expected to reach 1% by 2022. In Indonesia, the prevalence of ASD is estimated at around 1%, or 10 cases per 1,000 people. Greater Jakarta (Jabodetabek) is one of the areas with a significant number of children with autism, supported by the presence of inclusive schools and therapy centers. One approach widely applied in the management of children with autism is the gluten-free and casein-free (GFCF) diet. Therefore, this study aims to analyze factors related to the implementation of the GFCF diet in children with autism in the Greater Jakarta area. This study is a quantitative study with a cross-sectional design. Data collection was carried out through a Google form questionnaire distributed online to parents of children with autism. The study was conducted on 93 respondents using a total sampling method. The data obtained were then analyzed univariately and bivariately. The results found that 75.3% of respondents had good implementation of the GFCF diet, while 24.7% of respondents had poor implementation of the GFCF diet. The results of the chi-square test showed a significant relationship between the use of information through therapy services (p = 0.009; OR = 0.273; 95% CI = 0.100-0.746) and the implementation of the GFCF diet. Meanwhile, there was no significant relationship between maternal education level, maternal employment level, maternal knowledge, and participation in a community for children with autism (p>0.05). However, there was a trend that parents who participated in a community for children with autism had a better proportion of GFCF diet implementation than those who did not. Therefore, increased education and support regarding the implementation of the GFCF diet through healthcare professionals and parent communities is needed to ensure more consistent implementation of the GFCF diet.
Read More
S-12387
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akhmad; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Popy Yuniar, Kamaluddin Latif, Dieta Nurrika
T-3916
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive