Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Astien Setianingrum; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Robiana Modjo, Alwahono, Lana Saria
Abstrak: Manajemen risiko merupakan proses mengelola risiko agar organisasi dapat mencapai tujuan. Dibutuhkan pondasi yang kuat tentang konsep manajemen risiko sebelum menerapkannya. Penelitian ini akan menganalisis manajemen risiko keselamatan pertambangan di PT HPU site PDU, DMI, KMO, dan MGA berdasarkan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan Mineral dan Batubara. Penelitian dilakukan dengan wawancara mendalam dan telaah dokumen. Wawancara mendalam dilakukan dengan triangulasi sumber yaitu, sumber data dari pengawas tingkat Project Manager, Superintendent, dan Foreman. Hasil wawancara dilakukan analisis konten dan dibandingkan dengan dokumen PT HPU berdasarkan SMKP Minerba dilengkapi referensi lain tentang standar manjemen risiko (ISO 31000:2009, AS/NZS 4360:2004, dan ISO 45001:2018). Berdasarkan analisis konten, didapati bahwa interpretasi pengawas di PT HPU tentang manajemen risiko belum sepenuhnya sesuai dengan standar manajemen risiko karena prosedur perusahaan belum mengakomodir seluruh proses manajemen risiko. Oleh karena itu perlu adanya penyusunan prosedur tentang manajemen risiko yang terintegrasi dengan sistem manajemen keselamatan pertambangan perusahaan dan dipahami oleh setiap lini manajemen.
Read More
T-5694
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adhi Noer Muhammad; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Fatma Lestari, Hendra, Lana Saria, Aji Prabowo
Abstrak:
Industri pertambangan memiliki tingkat tahapan akitivitas dan pekerjaan yang luas, dimulai dari penyelidikan umum, eksplorasi hingga reklamasi yang melibatkan pekerja tambang erdapat perbedaan skor kewaspadaan antara responden shift pagi dengan shift malam, dimana shift malam memiliki skor kewaspadaan lebih rendah daripada responden shift pagi. Rekomendasi penelitian ini adalah meningkatkan higiene tidur dengan memberikan penyuluhan tentang kesehatan, memastikan suhu kamar yang optimal dan paparan pencahayaan alami yang memadai, serta meminimalkan paparan terhadap kebisingan dan gadget

Mining industry has a wide range of activities and work stages which involve mining workers, starting from general investigations, explorations, to reclamation. It is considered as one of the industries with a high-level risk. Mining workers are synonymous with shift and roster work patterns, and physical work that requires strength, flexibility and endurance of sustained muscles that contribute to fatigue. Generally, fatigue is defined as a state of weariness due to prolonged wakefulness, long work periods, and is characterized by decreased alertness, impaired decision making, and reduced capacity for neurobehavioral performance (Akerstedt, 1995; Dinges, 1995). The purpose of this study is to determine the average alertness score of exploration drilling service workers in coal mines which is influenced by the level of fatigue of workers calculated based on the quality and quantity of sleep using the SAFTE Fatigue Model. This research is a quantitative descriptive cross-sectional design, from June to August 2019. The results state that the majority of respondents have an alertness score in the reduced category (66.67%). The cross variable distribution shows that the lowest proportion of alertness is in the age group of 31-40 years (50.00%), moderate sleep quality (70.00%) and quantity of sleep poor (33.33%). There are differences in alertness scores between morning shift and night shift respondents, and that is the night shift has lower average alertness scores than morning shift respondents. The recommendations of this study are to improve sleep hygiene by providing health education, ensuring optimal room temperature and adequate exposure to natural lighting, and minimizing the exposure to noise and gadgets..

Read More
T-5928
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Refianto Setyawan; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Fatma Lestari, Hendra, Lana Saria, Selamat Riyadi
Abstrak:
Sindrom metabolik memiliki dampak yang besar terhadap kondisi kesehatan pekerja, hal ini dapat meningkatkan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan serta mengakibatkan hilangnya produktifitas maka perlu dilakukan penelitian faktor risiko sindrom metabolik pada pekerja kantor di PT X yang diharapkan dapat mencegah dan mengendalikan prevalensi sindrom metabolik demi menurunkan risiko sindrom metabolik dikemudian hari. Penelitian ini dilakukan pada pekerja kantor di PT X dengan responden penelitian sejumlah 106 orang selama bulan Februari - Agustus 2020 di Jakarta. PT X merupakan perusahaan enjineering penyedia produk dan jasa dibidang industri otomatis yang memiliki klien beberapa industri proses yang keseharian aktivitasnya lebih banyak di dalam ruangan. Desain studi penelitian ini menggunakan metode cross sectional (potong lintang). Adapun bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel dependen (Faktor risiko individu dan faktor risiko pekerjaan) dengan variabel independen sindrom metabolik. Hasilnya menunjukkan bahwa sebesar proporsi sindrom metabolik sebesar 4,97% yang memiliki komponen kriteria sindrom metabolik tertinggi terdapat pada trigliserida tinggi 20,4%, yang memiliki kadar HDL rendah 14,9% dan memiliki obesitas perut sebesar 14,4%.. yang terdapat 1 gejala kriteria sindrom metabolik sebesar 25,4% dan yang terdapat 2 gejala kriteria sindrom metabolik sebesar 8,3%. Meskipun pada analisis didapat hasil yang tidak signifikan terhadap hubungan faktor individu dan pekerjaan terhadap sindrom metabolik akan tetapi pada beberapa faktor risiko individu seperti Merokok memiliki risiko 3,35 kali lebih besar dibanding tidak merokok, dan Tingkat pendidikan lebih tinggi beresiko 2,44 kali lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pendidikan lebih rendah

Metabolic syndrome has a large impact on the health condition of workers, this can increase costs incurred by the company and lead to loss of productivity it is necessary to research the risk factors for metabolic syndrome in office workers at PT X which is expected to prevent and control the prevalence of metabolic syndrome in order to reduce risk factor of metabolic syndrome in future. This research was conducted on office workers at PT X with 106 research respondents during February - August 2020 in Jakarta. PT X is an engineering service provider of the Indusrial Automation that has clients in several process industries whose daily activities are sedentary. The design of this research study uses cross sectional method. The aim is to determine the relationship between the dependent variable (individual risk factors and occupational risk factors) with the independent variable Metabolic Syndrome. The results showed that the proportion of metabolic syndrome is 4,97% which the highest metabolic syndrome component was found in high triglycerides 20,4%, low HDL levels is 14,9% and had abdominal obesity is 14,4%. Which had 1 symptom of metabolic syndrome criteria is 25,4% and which had 2 symptoms of metabolic syndrome criteria are 8,3%. Although the analysis found no significant results on the relationship of individual factors and occupation of the metabolic syndrome, but on some individual risk factors such as smoking have a risk of 3,35 times greater than not smoking, and higher education levels 2,44 times higher risk compared to lower education levels.

Read More
T-5971
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Herna Rosalin Manullang; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Lana Saria, Lydia Hardiani
Abstrak:
Latar Belakang: The World Health Organization (WHO) telah menetapkan Corona Disease 2019 (COVID-19) sebagai pandemi. Untuk mengendalikan penyebaran virus SAR-CoV-2, pemerintah telah membuat berbagai kebijakan. Tempat kerja merupakan salah satu lokasi yang berpotensi menyebabkan penularan virus SAR-COV-2, salah satunya di sektor pertambangan. Di masa pandemi COVID-19, pengelolaan keselamatan pertambangan dihadapkan pada bahaya baru yaitu virus SARS-COV-2 dengan risiko penularan yang sangat cepat, yang memerlukan peningkatan pengelolaan keselamatan pertambangan dibandingkan sebelum pandemi COVID-19 terjadi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengelolaan keselamatan pertambangan di perusahaan batubara sebelum dan saat pandemi COVID-19. Metode: Menggunakan desain cross sectional, dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilakukan pada perusahaan batubara pada periode Oktober hingga Desember 2021. Sampel sebanyak 35 perusahaan dianalisis dengan menggunakan data kuantitatif yaitu telaah dokumen laporan RKAB 2017 hingga 2021. Hasil: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh gambaran pengelolaan keselamatan pertambangan dengan capaian pengelolaan keselamatan pertambangan saat pandemi COVID-19 (2020-2021) lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi COVID-19 (2017-2019 Kesimpulan: Dalam hal ini terbukti pandemi COVID-19 mempengaruhi pengelolaan keselamatan pertambangan, bahkan perusahaan yang tidak melakukan kegiatan penambangan karena kasus terpapar COVID-19.

Background: The World Health Organization (WHO) has declared Corona Disease 2019 (COVID-19) as a pandemic. To control the spread of the SAR-CoV-2 virus, the government has made various policies. The workplace is one of the locations that has the potential to cause the transmission of the SAR-COV-2 virus, one of which is in the mining sector. During the COVID-19 pandemic, mining safety management was faced with a new danger, namely the SARS-COV-2 virus with a very rapid risk of transmission, which required improved management compared to before the COVID-19 pandemic occurred. Objective: This research is aimed to see how mining safety management in coal companies before and during the COVID-19 pandemic. Methods: Using a cross sectional design, with quantitative and qualitative approaches. The study was conducted on coal companies in the period from October to December 2021. A sample of 35 companies was analyzed using quantitative data, namely document review from the 2017 to 2021 RKAB reports. Result: Based on the research that has been done, an overview of mining safety management in the process of mining activities is obtained. Mining safety management achievement data during the COVID-19 (2020-2021) pandemic is lower than before the COVID-19 pandemic (2017-2019 Conclusion: In this case it is proven that the COVID-19 pandemic affects mining safety management, even companies that do not perform mining activities due to cases of being exposed to COVID-19.
Read More
T-6493
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hadiyan; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Robiana Modjo, Lana Saria, Dean Andreas Simorangkir
Abstrak:
Negara Indonesia dikenal karena memiliki kekayaan akan sumber daya alam dan energi, diantaranya adalah batubara. Kecelakaan kerja di pertambangan atau yang biasa dikenal dengan sebutan kecelakaan tambang yang dapat menyebabkan munculnya kerugian kepada individu dan peralatan seperti yang luka atau cidera, serta kerugian secara finansial atau ekonomi akibat dari terhambatnya atau terhentinya kegiatan produksi akibat kecelakaan pertambangan yang terjadi. PT H sebagai perusahaan jasa pertambangan memiliki risiko dalam kegiatan operasionalnya. Risiko ini menjadi lebih besar dikarenakan aktivitas bisnis PT H yang berkaitan langsung dengan produksi dan pendistribusian batubara. Hal ini menjadikan manajemen risiko menjadi isu penting dalam upaya mengantisipasi kejadian atau kerugian yang mungkin muncul. Proses manajemen risiko diawali dengan menentukan/ menetapkan konteks, kegiatan identifikasi risiko, yang dilanjutkan dengan analisis terhadap risiko, pengelolaan risiko, evaluasi risiko, melaksanakan monitoring dan review, dan juga komunikasi dan konsultasi. Dengan adanya penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan bagi PT H sebagai upaya melaksanakan manajemen risiko. Pada penelitian ini penulis melakukan telaah dokumen serta wawancara mendalam dengan beberapa informan yang berperan penting dan mengerti serta terlibat dalam penerapan proses manajemen risiko di PT H. Informan yang dipilih adalah Superintendent dan Supervisor.

Indonesia is known for having a wealth of natural and energy resources, including coal. Work accidents in mining or commonly known as mining accidents which can cause losses to individuals and equipment such as injuries or injuries, as well as financial or economic losses due to obstruction or cessation of production activities due to mining accidents that occur. PT H as a mining service company has risks in its operational activities. This risk becomes bigger because PT H's business activities are directly related to the production and distribution of coal. This makes risk management an important issue in an effort to anticipate events or losses that may arise. The risk management process begins with determining/determining the context, risk identification activities, followed by risk analysis, risk management, risk evaluation, carrying out monitoring and review, as well as communication and consultation. With this research, it is hoped that it can become input for PT H as an effort to implement risk management. In this study, the authors conducted a document review and in-depth interviews with several informants who played an important role and understood and were involved in the implementation of the risk management process at PT H. The selected informants were Superintendents and Supervisors.
Read More
T-6780
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rakhmat Soebekti; Promotor: Robiana Modjo; Kopromotor: Fatma Lestari; Penguji: Sabarinah Prasetyo, Indri Hapsari Susilowati, Adang Bachtiar, Audist Indirasari Subekti, Danang Insita Putra, Lana Saria
Abstrak:
Pekerjaan memadamkan kebakaran adalah sebuah pekerjaan yang penuh resiko bahaya dan petugas pemadam kebakaran (damkar) memiliki resiko kecelakaan kerja yang rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan pekerja lainnya. Sebagai pekerja penting di bidang keselamatan, semua petugas damkar dituntut harus selalu fit dan sehat secara fisik dan mental ketika menjalankan tugasnya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menetapkan faktor penentu fitness untuk bekerja petugas damkar dalam rangka pengembangan sebuah program evaluasi fitness bekerja, dan sekaligus untuk melakukan analisa atas hubungan nya dan prediksinya terhadap status fitness untuk bekerja. Target penelitian ini melibatkan seluruh petugas damkar tingkat operasional (n = 473) kota-kota industri perusahaan “X” di Qatar. Desain embedded mixed methods telah digunakan dalam penelitian ini, serta analisa deskriptif dan inferential (bivariat & multivariat/multiple linier regresi) juga telah digunakan untuk meng analisa faktor-faktor penentu dan gabungan nya terhadap status fitness untuk bekerja petugas damkar. Hasil penelitian ini mendukung adanya beberapa faktor penentu yang memiliki hubungan asosiasi secara statistik terhadap status fitness untuk bekerja (P Value < 0.001), dan gabungan faktor-faktor penentu juga dapat memberi lebih baik prediksi fitness bekerja petugas damkar. Disamping penelitian ini telah memberikan gambaran kuat hubungan dan prediksi yang lebih baik antara faktor penentu dan status fitness bekerja petugas damkar, studi ini juga mengusulkan sebuah program evaluasi baru yang didukung secara empiris.

Firefighting is a hazardous profession and firefighters suffer workplace injury at a higher rate than most other workers. As a safety critical job, all firefighters are required to always be fit and healthy physically and mentally while performing their task. The purpose of the research is to identify the determinant factors of firefighter’s fitness for duty, in order to develop an evaluation program of firefighter’s fitness for duty, and to analyse the association and the prediction on the status of fitness for duty. The research target encompassed the whole operational firefighters (n = 473) across Industrial Cities at Company “X” in Qatar. The embedded mixed methods design was used in this research and the descriptive as well as inferential (bivariate & multivariate/multiple linier regression) analysis were utilized to analyse the determinant factors, and its composite to the fitness for duty status. The research supported the determinant factors which have a significant association with fitness for duty status (P Value < 0.001), and the combined determinant factors can provide a better prediction of firefighter’s fitness for duty. Given a strong association and better prediction between the combined determinant factors and the status of fitness for duty, and this study has also suggested a new evaluation standard program throughout a research based.
 
Read More
D-547
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lelitasari; Promotor: L. Meily Kurniawidjaja; Kopromotor: Sabarinah, Robiana Modjo; Penguji: Fatma Lestari, Purnawan Junadi, Lana Saria, Sudi Astono, Baiduri Widanarko
Abstrak:
Kelelahan dalam operasi tambang merupakan isu yang serius dan merupakan kontributor signifikan untuk terjadinya kecelakaan. Secara hukum perusahaan yang mengoperasikan tambang batubara harus mengembangkan dan mengimplementasikan strategi untuk mengendalikan setiap risiko keselamatan dan kesehatan yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja. Penelitian dilakukan untuk mengembangkan instrumen penilaian kinerja manajemen risiko kelelahan di perusahaan tambang batubara di Indonesia. Pendekatan studi merupakan gabungan antara pendekatan kualitatif untuk menemukan indikator kinerja dan kuantitatif untuk menguji validitas, reliabilitas dan kualitas instrumen penilaian kinerja manajemen risiko kelelahan di perusahaan tambang batubara. Sampel sebanyak 90 perusahaan tambang batubara yang ada di Indonesia. Penelitian menghasilkan instrumen penilaian kinerja manajemen risiko kelelahan di perusahaan tambang batubara yamg terdiri dari 31 indikator, dengan validitas dan reliabilitas instrumen sudah memenuhi persyaratan. Hasil analisis kurva ROC diperoleh cut off point 73 dan AUC 71,3% yang artinya skor kinerja MRK memiliki kekuatan prediksi sedang untuk terjadinya kecelakaan karena kelelahan. Ditemukan kinerja manajemen risiko kelelahan di perusahaan tambang batubara dengan kategori kurang baik 45,6% dan baik 54,4% Kategori kinerja manajemen risiko kelelahan berkategori kurang baik paling banyak terdapat pada perusahaan yang jumlah karyawannya Fatigue in mining operations is a serious issue and a significant contributor to accidents. According to the law, companies operating coal mines must develop and implement strategies to control any safety and health risks associated with worker fatigue. This research was conducted to develop an instrument for assessing the performance of fatigue risk management in coal mining companies in Indonesia. The study approach combines a qualitative approach to find performance indicators and a quantitative one to test the validity, reliability, and quality of fatigue risk management performance assessment instruments in coal mining companies. The sample is 90 coal mining companies in Indonesia. The study produced a tool for assessing the performance of fatigue risk management in coal mining companies consisting of 31 indicators, with the validity and reliability of the instrument meeting the requirements. The results of the ROC curve analysis obtained a cut off point of 73 and an AUC of 71.3%, which means that the Fatigue Risk Management performance score has moderate predictive power for accidents due to fatigue. It was found that the fatigue risk management performance in coal mining companies was in the poor category (45,6% and 54,4% good). From the type of company permits, the fatigue risk management performance category was in the good category, the most in companies with IUJP permit types 80% and the poor category the most in companies with Production Operation IUP permit types 73,7%. It was found that there was a relationship between fatigue risk management performance with the number of employees and the type of company permit. In order to measure, monitor, and evaluate the performance of fatigue risk management in coal mining companies, it is hoped that the Indonesian Ministry of Energy and Mineral Resources and Indonesian coal mining companies will implement the fatigue risk management performance evaluation tool.
Read More
D-472
Depok : FKM UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mufti Wirawan; Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Widura Imam Mustopo; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, L. Meily Kurniawidjaja, Riza Yosia Sunindijo, Lana Saria, Patuan Alfon Simanjuntak
Abstrak:
Salah satu konsep dalam keselamatan dikenal dengan Safety-II. Pada Safety-II fokus pengelolaan keselamatan melihat kepada keberhasilan-keberhasilan dari keselamatan yang tercapai. Pandangan ini muncul sebagai tanggapan dari pandangan lama yang dianggap terlalu berfokus ke hal negatif seperti insiden dan kecelakaan. Hal ini kemudian membuat tantangan keselamatan semakin tinggi dan resilience menjadi tujuan baru bagi organisasi dalam pengelolaan keselamatan. Penelitian ini menggunakan metode campuran untuk menguji dan melihat penerapan Safety-II pada perusahaan pertambangan di Indonesia. Kuesioner disebarkan kepada 12 perusahaan terdiri dari 2 perusahaan owner, 4 perusahaan kontraktor, dan 6 perusahaan subkontraktor yang melibatkan 1346 responden. Kemudian melakukan wawancara kepada 38 narasumber melibatkan 2 perusahaan owner dan kontraktor di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Safety-II dapat diterapkan di perusahan pertambangan di Indonesia mengacu kepada empat dimensi: respond, monitor, learn, dan anticipate. Terdapat perbedaan skor Safety-II yang signifikan antara perusahaan owner dengan perusahaan kontraktor dan subkontraktor. Berdasarkan analisis kualitatif ditemukan 5 tematik yang dianggap berkaitan dengan potensi Safety-II, yaitu: adaptasi organisasi terhadap keselamatan, budaya k3 perusahaan, kepemimpinan keselamatan, keterlibatan pekerja, dan komitmen keselamatan perusahaan. Munculnya 5 tematik tersebut mencerminkan perlunya perubahan paradigma pengelolaan keselamatan ke arah Safety-II.

One concept in safety is known as Safety-II. In Safety-II, safety management focuses on the successes achieved in safety. This perspective emerged as a response to the old view, which was considered too focused on negative aspects such as incidents and accidents. This has led to increased safety challenges, and resilience has become a new goal for organizations in safety management. This study uses a mixed method to test and see the application of Safety-II in mining companies in Indonesia. The questionnaire was distributed to 12 companies consisting of 2 owner companies, four contractor companies, and six subcontractor companies, involving 1346 respondents and then conducted interviews with 38 resource persons involving two owner companies and contractors. The results of the study show that the concept of Safety-II can be applied in mining companies in Indonesia referring to four dimensions: respond, monitor, learn, and anticipation. There is a significant difference in Safety-II scores between the owner company, the contractor company, and the subcontractor. Based on qualitative analysis, five thematic areas related to the potential of Safety-II were identified: organizational adaptation to safety, company safety culture, safety leadership, employee involvement, and company safety commitment. The emergence of these five themes reflects the need for a paradigm shift towards Safety-II.
Read More
D-531
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rusbani Kurniawan; Promotor: Zulkifli Djunaidi; Kopromotor: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Fatma Lestari, Mila Tejamaya, Widura Imam Mustopo; Djarot Sulistio Wisnubroto; Lana Saria; Heru Prasetio
Abstrak:
Latar belakang: Barrier adalah setiap tindakan yang dilakukan untuk mencegah, mengendalikan atau memitigasi risiko, agar suatu pekerjaan dapat dilaksanakan dengan selamat. Namun pada praktiknya, penggunaan barrier berpotensi menimbulkan dampak negatif, dimana selain mengatasi risiko, barrier juga berperan sebagai sumber bahaya (emerging risk). Saat ini, variabel emerging risk akibat barrier belum terkonsepsi di dalam standar internasional tentang manajemen risiko seperti ISO 31000 dan COSO. Industri tambang batubara memiliki sistem sosioteknologi yang kompleks dan memiliki tingkat keselamatan yang cukup rentan. Menurut ILO, secara global industri tambang menyerap 1% lapangan kerja, namun menyumbang 8% angka kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji munculnya fenomena emerging risk akibat barrier, serta menganalisis faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kecelakaan pada industri tambang batubara.
Metode: Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dan kualitatif. Data utama merupakan data sekunder berupa Laporan Investigasi Insiden PT. X tahun 2020, sebanyak 822 insiden dari seluruh site di pulau Jawa dan Sumatera. Triangulasi dilakukan dengan data primer berupa hasil wawancara mendalam, FGD dan telaah dokumen. Uji statistik bivariat dengan metode Chi Square digunakan untuk melihat hubungan antara variabel penyebab dasar (bulan, lokasi, jam, status kontrak, usia, pengalaman, departemen, jabatan dan tipe unit) dengan variabel penyebab langsung (kondisi tidak aman dan tindakan tidak aman). Sedangkan uji statistik multivariat dengan metode Regresi Logistik selanjutnya digunakan untuk melihat hubungan antara variabel barrier dengan variabel emerging risk.
Hasil: Variabel bulan, lokasi, jam dan tipe unit memiliki hubungan signifikan dengan variabel penyebab langsung (nilai-P < 0,05). Variabel usia, pengalaman, jabatan, departemen dan status kontrak tidak berhubungan dengan variabel penyebab langsung (nilai-P > 0,05). Sedangkan variabel barrier memiliki hubungan signifikan dengan variabel emerging risk (nilai-P < 0,0001).
Kesimpulan: Variabel terkait dengan job factor (bulan, lokasi, jam dan tipe unit) perlu diintervensi untuk menurunkan potensi munculnya penyebab langsung kecelakaan. Standar internasional tentang manajemen risiko juga perlu diperbarui sehingga praktek penilaian risiko dimasa mendatang mampu mengantisipasi emerging risk akibat barrier.

Background: Barrier is any action taken to prevent, control or mitigate risk, so that work can be carried out safely. In reality, however, the use of barriers has the potential to cause negative impacts, where in addition to overcoming risks, barriers also act as a source of hazard. Currently, emerging risk of barrier variable have not been conceptualized in international stadards on risk management such as ISO 31000 and/or COSO. The coal mining industry has a complex socio-technological system and has a level of safety that is quite vulnerable. According to the ILO, globally the mining industry absorbs 1% of employment, but contributes 8% to work accidents. The objective of this study is to investigate the phenomena of emerging risk due to barriers, and to analyze the factors that contribute to the occurrence of accidents in the coal mining industry.

Method: Both quantitative and qualitative analysis were used for this study. The main data is secondary data in the form of Incident Investigation Reports of PT. X in 2020, there were 822 incidents from all sites on the islands of Java and Sumatra. Triangulation was carried out using primary data in the form of in-depth interviews, FGDs and document reviews. Bivariate statistical tests with the Chi Square method are used to see the relationship between the basic cause variables (month, location, hour, contract status, age, experience, department, position and type of unit) and the immediate cause variables (unsafe conditions and unsafe acts). Meanwhile, multivariate statistical tests with the Linear Regression methode are then used to see the relationship between barrier variables and emerging risk variables.
Result: The barrier variable are significantly correlated to emerging risk variables (P-value < 0.0001). Meanwhile, the basic cause variables including month, location, hour and type of unit had a significant relationship with the immediate causes variable (P-value < 0.05). The basic cause variables including age, experience, position, department, and contract status are not related to the immediate cause variables (P-value > 0.05).
Conclusion: Variables related to job factors including month, location, hour and type of unit need to be intervened to reduce the developing of accident immediate causes. International standards regarding risk management also need to be updated so that future risk assessment practices are able to anticipate emerging risks of barrier.
Read More
D-480
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putu Nadi Astuti; Promotor: Zulkifli Djunaidi; Kopromotor: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Fatma Lestari, Johny Wahyuadi Mudaryoto, Lana Saria, Herlina J. EL-Matury, Ayende, Ridha Renaldi
Abstrak:
Industri petrokimia merupakan sektor berisiko tinggi yang membutuhkan penerapan sistem manajemen keselamatan dan budaya keselamatan yang matang. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model maturitas budaya keselamatan yang sesuai untuk industri petrokimia di Indonesia. Model ini mengadaptasi teori Hudson, Fleming, Parker et al., dan Filho, serta menggambarkan lima tingkat kematangan budaya keselamatan, dari tingkat “Dasar” hingga “Berkelanjutan.”. Melalui pendekatan multidimensi, dikembangkan kerangka dan instrumen penilaian yang valid dan reliabel dengan lima dimensi utama: Komitmen, Komunikasi, Informasi, Keikutsertaan Karyawan, dan Pembelajaran Organisasi. Penelitian ini menemukan bahwa semua perusahaan dalam sampel telah mencapai tingkat “Berkelanjutan,” khususnya pada aspek Komitmen dan Pembelajaran Organisasi. Namun, Keikutsertaan Karyawan masih menjadi aspek yang perlu ditingkatkan. Hasil juga menunjukkan bahwa perusahaan multinasional dan penanggung jawab keselamatan menunjukkan pemahaman budaya keselamatan yang lebih baik. Model yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alat praktis untuk menilai dan meningkatkan strategi keselamatan berkelanjutan di sektor petrokimia, mendorong keterlibatan aktif pekerja, serta memperkuat efektivitas sistem manajemen keselamatan proses.

The petrochemical industry is a high-risk sector requiring a mature implementation of safety management and safety culture. This study aims to develop a safety culture maturity model tailored to the Indonesian petrochemical industry. The model adapts the theoretical frameworks of Hudson, Fleming, Parker et al., and Filho, and describes five levels of safety culture maturity, from "Basic" to "Sustainable." A multidimensional approach was used to develop a valid and reliable assessment framework and instrument comprising five key dimensions: Commitment, Communication, Information, Employee Participation, and Organizational Learning. Findings show that all sampled companies have reached the “Sustainable” level, particularly in Commitment and Organizational Learning. However, Employee Participation remains an area needing improvement. The study also reveals that multinational companies and safety officers demonstrate a stronger understanding of safety culture. The developed model serves as a practical tool for evaluating and improving sustainable safety strategies in the petrochemical sector, enhancing employee engagement, and strengthening the effectiveness of process safety management systems.
Read More
D-604
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive