Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Rakhmat Soebekti; Promotor: Robiana Modjo; Kopromotor: Fatma Lestari; Penguji: Sabarinah Prasetyo, Indri Hapsari Susilowati, Adang Bachtiar, Audist Indirasari Subekti, Danang Insita Putra, Lana Saria
Abstrak:
Read More
Pekerjaan memadamkan kebakaran adalah sebuah pekerjaan yang penuh resiko bahaya dan petugas pemadam kebakaran (damkar) memiliki resiko kecelakaan kerja yang rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan pekerja lainnya. Sebagai pekerja penting di bidang keselamatan, semua petugas damkar dituntut harus selalu fit dan sehat secara fisik dan mental ketika menjalankan tugasnya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menetapkan faktor penentu fitness untuk bekerja petugas damkar dalam rangka pengembangan sebuah program evaluasi fitness bekerja, dan sekaligus untuk melakukan analisa atas hubungan nya dan prediksinya terhadap status fitness untuk bekerja. Target penelitian ini melibatkan seluruh petugas damkar tingkat operasional (n = 473) kota-kota industri perusahaan “X” di Qatar. Desain embedded mixed methods telah digunakan dalam penelitian ini, serta analisa deskriptif dan inferential (bivariat & multivariat/multiple linier regresi) juga telah digunakan untuk meng analisa faktor-faktor penentu dan gabungan nya terhadap status fitness untuk bekerja petugas damkar. Hasil penelitian ini mendukung adanya beberapa faktor penentu yang memiliki hubungan asosiasi secara statistik terhadap status fitness untuk bekerja (P Value < 0.001), dan gabungan faktor-faktor penentu juga dapat memberi lebih baik prediksi fitness bekerja petugas damkar. Disamping penelitian ini telah memberikan gambaran kuat hubungan dan prediksi yang lebih baik antara faktor penentu dan status fitness bekerja petugas damkar, studi ini juga mengusulkan sebuah program evaluasi baru yang didukung secara empiris.
Firefighting is a hazardous profession and firefighters suffer workplace injury at a higher rate than most other workers. As a safety critical job, all firefighters are required to always be fit and healthy physically and mentally while performing their task. The purpose of the research is to identify the determinant factors of firefighter’s fitness for duty, in order to develop an evaluation program of firefighter’s fitness for duty, and to analyse the association and the prediction on the status of fitness for duty. The research target encompassed the whole operational firefighters (n = 473) across Industrial Cities at Company “X” in Qatar. The embedded mixed methods design was used in this research and the descriptive as well as inferential (bivariate & multivariate/multiple linier regression) analysis were utilized to analyse the determinant factors, and its composite to the fitness for duty status. The research supported the determinant factors which have a significant association with fitness for duty status (P Value < 0.001), and the combined determinant factors can provide a better prediction of firefighter’s fitness for duty. Given a strong association and better prediction between the combined determinant factors and the status of fitness for duty, and this study has also suggested a new evaluation standard program throughout a research based.
D-547
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Amal Chalik Sjaaf, Mila Tejamaya; Penguji: Robiana Modjo, Ede Surya Darmawan, Dewi Rahayu, Waluyo, Audist Indirasari Subekti
Abstrak:
Read More
Industri migas erat kaitannya dengan bahan berbahaya, menggunakan proses yang berisiko tinggi, masih menggunakan banyak tenaga kerja, serta menggunakan konstruksi fasilitas peralatan yang besar dan kompleks menyebabkan aspek K3 sangat penting untuk diterapkan. Terlebih 87,7% kecelakaan pada Industri Migas disebabkan oleh kontraktor. Dalam studi ini, akan dikembangkan terkait indikator apa saja yang terkait dengan biaya dan manfaat implementasi K3 pada perusahaan mitra kerja KKKS hulu migas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan studi kasus pada 10 perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan Penelitian yang dilakukan pada perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha manufactur, consultant, EPC, petrochemical, construction, general contractor, sub contarctor, inspection, F&B, clinic telah melakukan kegiatan implementasi K3. Implementasi yang dilakukan di 10 perusahaan kontraktor KKKS memberikan gambaran positif terkait uapaya implementasi K3 di tempat kerja. Dari hasil studi kasus yang menjadi prioritas dalam pelaksanaan Implementasi K3 adalah terkait indikator biaya pengukuran lingkungan kerja sebesar 60% dari perusahaan yang terlibat dalam penelitian ini. Prioritas berikutnya adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk melakukan kegiatan emergency respond plan, pemenuhan APD, promosi K3, pelatihan K3, rekrutmen tenaga ahli, sertikasi, P3K, MCU. Terkait dengan pengeluaran yang akan dikeluarkan oleh perusahaan jika terjadi kecelakaan sebanyak 47 % perushaan yang menyatakan bahwa biaya terkait losstime akibat dari terhentinya pekerjaan ini menjadi biaya tertinggi yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Ketika kecelakaan/PAK ini dapat diatasi dan tidak terjadi, ini akan meberikan manfaat baik secara langsung maupun tidak tidak langsung. Dalam hal ini 38% perusahaan, menerima manfaat lansung yaitu pada penghematan biaya medis, penghematan biaya losstime serta penghematan biaya penggantian akibat kerusakan alat. Manfaat tidak langsung yang dirasakan oleh perusahaan terkait dengan implementasi K3 di tempat kerja ini adalah pada peningkatan produktivitas serta peningkatan citra perusahaan Kata kunci: Indikator Biaya manfaat, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Manajemen Risiko, kontraktor minyak dan gas
Oil and gas industry is closely related to hazardous materials, uses high-risk processes, still uses a lot of manpower, and uses large and complex construction of equipment facilities, causing the OHS aspect to be very important to implement. Moreover, 87.7% of accidents in the Oil and Gas Industry are caused by contractors. In this study, indicators will be developed related to the costs and benefits of implementing OHS in upstream oil and gas KKKS partner companies. This study uses a qualitative and quantitative approach by conducting case studies on 10 companies. The results show that research conducted on companies engaged in manufacturing, consultant, EPC, petrochemical, construction, general contractor, sub contractor, inspection, food and baverage, clinic. Overall business activities have carried out K3 implementation activities. The implementation carried out in 10 KKKS contractor companies gave a positive picture regarding efforts to implement K3 in the workplace. From the results of the case studies, the priority in the implementation of K3 implementation is related to the indicator of the cost of measuring the work environment by 60% of the companies involved in this research. The next priority is the costs incurred by the company to carry out emergency response plans, fulfillment of PPE, promotion of K3, K3 training, recruitment of experts, certification, first aid kit, MCU. Associated with expenses that will be incurred by the company in the event of an accident as many as 47% of companies stated that the costs related to losstime because of the cessation of this work were the highest costs to be incurred by the company. When this accident/PAK can be overcome and does not occur, this will provide benefits both directly and indirectly. In this case, 38% of companies receive direct benefits, namely savings in medical costs, savings in losstime costs and savings in replacement costs due to equipment damage. The indirect benefits felt by the company related to the implementation of K3 in the workplace are in increasing productivity and improving the company's image. Key words: Cost Benefit Analysis, Occupational Health and Safety, Risk management, Oil and gas contractor company.
D-455
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
