Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dewanti Suri Lestari; Pemb. Sandra Fikawati; Penguji: Kusharisupeni, Kusuma Wijayanti
S-5294
Depok : FKM UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sherly Ardi Vantono; Pembimbing; Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Triyanti, Kusuma Wijayanti
Abstrak: GIZI LEBIH MERUPAKAN MASALAH KESEHATAN YANG DAPAT BERDAMPAK BURUK PADA ANAK SEKOLAH. SD X JAKARTA TIMUR TELAH MEMILIKI PROGRAM KESEHATAN, NAMUN PREVALENSI GIZI LEBIH TAHUN 2016 MASIH TINGGI YAITU SEBESAR 20%. TUJUAN UMUM PENELITIAN INI ADALAH DIKETAHUINYA FAKTOR DOMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI LEBIH PADA SISWA KELAS 4 DAN 5 DI SD X JAKARTA TIMUR TAHUN 2017. PENELITIAN INI MENGGUNAKAN DESAIN CROSS-SECTIONAL. RESPONDEN DALAM PENELITIAN INI SEBANYAK 201 RESPONDEN DI SD X JAKARTA TIMUR. HASIL PENELITIAN MENUNJUKKAN SEBESAR 58,2% SISWA MENGALAMI GIZI LEBIH. PADA ANALISIS BIVARIAT MENUNJUKKAN HUBUNGAN ANTARA JENIS KELAMIN DAN ASUPAN LEMAK DENGAN STATUS GIZI LEBIH. PENELITIAN INI JUGA MENDAPATKAN HASIL ANALISIS MULTIVARIAT YAITU JENIS KELAMIN SEBAGAI FAKTOR DOMINAN KEJADIAN GIZI LEBIH PADA SISWA DI SD X JAKARTA TIMUR TAHUN 2017. OLEH KARENA ITU SEKOLAH DIHARAPKAN DAPAT MEMBERIKAN EDUKASI MENGENAI MAKANAN SEIMBANG, MEMILIKI CONTROLLER DI KANTIN SEKOLAH SERTA DAPAT MEMPERBARUI PROGRAM KESEHATAN DI SEKOLAH. KATA KUNCI: GIZI LEBIH, SISWA, SEKOLAH DASAR, JENIS KELAMIN. OVERNUTRITION IS HEALTH PROBLEM THAT CAN AFFECT ADVERSELY TO SCHOOL CHILDREN. X PRIMARY SCHOOL EAST JAKARTA ALREADY HAVE HEALTH PROGRAM, BUT PREVALENCE OF OVERNUTRITION IN 2016 IS STILL HIGH AT 20%. GENERAL PURPOSE OF THIS RESEARCH IS TO KNOW THE DOMINANT FACTOR RELATED TO OVERNUTRITION AT 4TH AND 5TH GRADE STUDENT AT X PRIMARY SCHOOL EAST JAKARTA IN 2017. THIS RESEARCH USE CROSS-SECTIONAL DESIGN. THERE IS 201 RESPONDENT OF THIS RESEARCH AT X PRIMARY SCHOOL EAST JAKARTA. RESULT OF THIS RESEARCH SHOWN THAT 58,2% STUDENTS SUFFER FROM OVERNUTRITION. ON BIVARIATE ANALYSIS SHOWN RELATION BETWEEN GENDER AND FAT INTAKE WITH OVERNUTRITION. THIS RESEARCH ALSO OBTAINED MULTIVARIATE ANALYSIS RESULT THAT GENDER IS THE DOMINANT FACTOR OF OVERNUTRITION AT X PRIMARY SCHOOL STUDENT EAST JAKARTA IN 2017. KEYWORDS: OVERNUTRITION, STUDENT, PRIMARY SCHOOL, GENDER.
Read More
S-9517
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gita Novianti Setyawati; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Triyanti, Kusuma Wijayanti
Abstrak: Masa remaja merupakan masa pertumbuhan. Tuntutan profesi sebagai penari ballet membuat seorang remaja putri rentan mengalami malnutrisi. Dukungan gizi yang optimal, dapat membantu penari ballet dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, sera membantu performanya sebagai seorang penari. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran status gizi pada penari ballet remaja dan faktorfaktor yang berhubungan dengan status gizi. Penelitian ini menggunakan design studi cross-sectional dengan total sampel sebesar 97 penari ballet remaja dengan teknik accidental sampling.
 
Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4,1% penari ballet memiliki status gizi underweight dan 16,5% penari ballet memiliki status gizi overweight. Terdapat perbedaan rata-rata nilai Z-score IMT/U yang bermakna berdasarkan citra tubuh, pengaruh orangtua, dan status pubertas berdasarkan umur menarche. Sebagian besar penari ballet memiliki asupan energi, zat gizi makro, dan zat gizi mikro yang kurang dari kebutuhan. Dibutuhkan kerjasama antara pihak orangtua, sekolah ballet, tenaga ahli gizi serta psikolog untuk membantu tumbuh-kembang serta memenuhi tuntutan mereka sebagai seorang penari ballet.
Read More
S-7861
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Sri Redjeki; Pembimbing: Achmad, H. Engkus Kusdinar; Penguji: Fatmah, Asih Setiarini, Galopong Sianturi, Kusuma Wijayanti
Abstrak:

ABSTRAK

Kebugaran yang rendah berdampak pada penurunan produktivitas kerja dan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Tesis ini bertujuan untuk menilai faktor dominan yang berhubungan dengan kebugaran kardiorespiratori melalui tes bangku 3 menit YMCA. Penelitian ini dilakukan pada guru di Yayasan Asih Putera Kota Cimahi pada bulan Maret 2013. Desain penelitian ini menggunakan metode Crosssectional dengan jumlah sampel 80 orang. IMT ditentukan berdasarkan pengukuran berat badan dan tinggi badan, PLT diukur dengan BIA, aktivitas fisik diketahui melalui pengisian kuesioner Baecke, dan asupan gizi dihitung dengan menggunakan Food record 3 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan norma tes kebugaran bangku 3 menit YMCA sebanyak 66.2 persen guru tergolong tidak bugar. Uji Chi square menyatakan bahwa variabel umur, jenis kelamin, aktivitas fisik, IMT, PLT, asupan gizi berupa energi, karbohidrat, protein, lemak, vitamin B1, B2, B6, B12, Mg, Zn, dan Fe memiliki hubungan bermakna dengan kebugaran kardiorespiratori. Analisis Regresi Logistik Ganda menunjukkan variabel yang paling dominan berhubungan dengan kebugaran adalah aktivitas fisik (p<0.005, OR=48.34). Untuk meningkatkan kebugaran guru, disarankan untuk meningkatkan aktivitas fisik, pengendalian berat badan, pemberian suplemen, serta pembinaan terhadap pedagang makanan.


ABSTRACT

Phisical fitness has impact on the productivity and the body's resistance to disease. This study aims to assess the dominant factor related to fitness measured by cardiorespiratory endurance using YMCA 3-minute step test method. The subjects study was 80 teachers at Yayasan Asih Putera Cimahi in March 2013. This study using Cross-sectional design. BMI is determined by measuring weight and height, percent body fat measured by BIA, physical activity is known through the Baecke questionnaire, and nutrient intake was calculated by using 3 day Food record. The statistical test used was a Chi Square test and Multiple Logistic Regression for multivariate analysis. The results showed that 66.2 percent of the teachers classified as unfit group. Chi square test states that the variables age, sex, physical activity, BMI, PLT, a nutritional intake of energy, carbohydrate, protein, fat, vitamins B1, B2, B6, B12, Mg, Zn, and Fe had a significant association with cardiorespiratory fitness. Multivariate analysis showed that the dominant variable is associated with physical fitness is activity (p<0.005, OR= 48.34). It is suggested that sporting activities to have be done in order to increase the physical activity level, weight control, food supplements, as well as guidance to the food vendors.

Read More
T-3942
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Putu Pristi Wisuantari; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, kusuma Wijayanti
Abstrak: Rendahnya tingkat kebugaran pada anak-anak dan remaja akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebugaran pada anak-anak dan remaja masih tergolong rendah dan belum ada standar model prediksi dalam menentukan status kebugaran berdasarkan nilai VO2max di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk membentuk model prediksi kebugaran (nilai VO2max) untuk anak usia 9-11 tahun pada siswa SD terpilih di wilayah Jakarta Timur. Desain studi penelitian ini adalah cross-sectional dengan variabel dependen yaitu kebugaran dan variabel independen yaitu jenis kelamin, asupan zat gizi, status gizi, dan aktivitas fisik. Penelitian dengan menggunakan tes 20m shuttle run melibatkan 118 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai VO2max pada SD 1 (39.99 ml/kg/menit) lebih rendah dibandingkan SD 2 (41.49 ml/kg/menit). Terdapat perbedaan tingkat kebugaran yang signifikan antar jenis kelamin dan hubungan bermakna antara asupan zat gizi (energi, protein, karbohidrat, vitamin B1, zat besi), status gizi (IMT/U), dan aktivitas fisik dengan kebugaran. Hasil analisis multiregresi menunjukkan bahwa variabel jenis kelamin dan status gizi (IMT/U) merupakan prediktor dominan dengan dikontrol oleh interaksi antara kedua variabel tersebut. Untuk mencapai status kebugaran yang baik diperlukan asupan zat gizi yang cukup, status gizi yang baik dan aktivitas fisik yang teratur.
 

Low levels of fitness in children and adolescents are at increased risk of cardiovascular disease. Some studies suggest that fitness levels in children and adolescents was still relatively low and there is no standard model of prediction in determining the fitness status based on VO2max in Indonesia. The primary purpose of this study was to develop fitness (VO2max) prediction model for 9-11 years in selected elementary student in East Jakarta. This study used cross-sectional design, variable of dependent was fitness and variable of independent was sex, nutritional intake, nutritional status, and physical activity. The fitness test measured by 20m shuttle run test. The sample was 118 students. The mean value of VO2max was higher in SD 2 than SD 1 (SD 2 = 41.49 ml/kg/min; SD 1 = 39.99 ml/kg/min). In bivariat analysis, there was a differences fitness between male and female, which is male was more fit than female. Than nutritional intake (energy, protein, carbohydrate, thiamin, and iron), nutritional status (BMI/A), and physical activity was significantly related to fitness (VO2max). Result of multiple regression analysis showed that variable sex and nutritional status was the dominant predictor controlled by the interaction between the two variable. Adequate intake, good nutritional status (BMI/A), and increase physical activity are required to improve fitness level.
Read More
S-7840
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwirina Hervilia; pembimbing: Siti Arifah Pudjonarti; penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Asih Setiarini, Abbas Basuni Jahari, Kusuma Wijayanti
T-3053
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sunersih Handayani; Pembimbing: Engkus Kusdinar Achmad; Penguji: Fatmah, Diah M. Utari, Golopong Sianturi, Kusuma Wijayanti
Abstrak: ABSTRAK
 Pengukuran VO2max secara langsung memang menghasilkan data yang akurat dan dapat dipercaya tetapi umumnya memerlukan waktu lebih banyak, peralatan yang mahal serta tenaga pelaksana terlatih. Penelitian sebelumnya telah berhasil mengembangkan model prediksi khusus untuk anak-anak dari etnis Jawa berdasarkan jenis kelamin, denyut nadi dan waktu tempuh berjalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model prediksi yang cocok bagi kelompok usia remaja dengan prediktor jenis kelamin, status gizi (IMT/U dan PLT), aktivitas fisik dan asupan gizi. Penelitian dilakukan pada 78 remaja laki-laki dan 114 remaja perempuan dengan rata-rata usia 16,19±0,5 tahun. Nilai estimasi VO2max diukur berdasarkan tes lari 1 mil, jenis kelamin, IMT/U ditentukan berdasarkan pengukuran berat badan dan tinggi badan, PLT diukur dengan BIA, aktivitas fisik diketahui melalui pengisian kuesioner, dan asupan gizi dihitung dengan menggunakan metode food record 3 hari. Terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, IMT/U, persen lemak tubuh, aktivitas fisik, seluruh asupan zat gizi makro (energi, karbohidrat, protein, lemak) dan beberapa asupan zat gizi mikro (vitamin B2, vitamin B6 dan seng) dengan nilai estimasi VO2max. Model prediksi non latihan dibentuk melalui analisis multi regresi linier VO2max= 40,7 + 3,1 JK - 2,5 IMT/U - 0,08 PLT + 0,4 AF - 0,004 P + 0,001 A - 1,76 B6 - 0,2 B12 + 0,5 Zn. Untuk meningkatkan nilai VO2max pada remaja, sekolah direkomendasikan untuk mengimplementasikan program TOP yang kegiatannya berfok us pada kegiatan pengendalian berat badan, peningkatan aktivitas fisik, dan promosi asupan yang bergizi seimbang. 

 ABSTRACT
 A direct measurement on maximal oxygen uptake (VO2max) provides accurate and reliable data but requires more time, costly aquipment and trained personnel. Previous research has developed a VO2max prediction model special for Javanese children using sex, heart rate and walk time. The purpose of this study was to investigate the use of gender, nutritional status (body mass index for age and percent fat), physical activity level, and dietary intake in another VO2max prediction model for adolescent. The design study was a cross sectional one. Subjects were 78 male and 114 female wih a mean age of 16,19±0,5 years. Estimated VO2max was measured from one mile run test; sex; BMI for age was calculated from measured height and weight, percent fat was assessed by BIA, self report physical activity was assessed by PAQ-A and 3 day food records were used to calculate the average dietary intake. Male students (42,45 ml/kg/min) had significantly higher estimated VO2max than female (38,74 ml/kg/min). There were significant correlations between sex, BMI for age, percent fat, physical activity, all macronutrient intake (energi, carbohydrat, protein, and fat) and some micronutrient intake (vitamin B2, vitamin B6 and zinc) with estimated VO2max. The non-exercise prediction model was developed by a multiple regression analysis: VO2max= 40,7+3,1 JK-2,5 IMT/U-0,08 PLT + 0,4 AF-0,004 P + 0,001 A-1,76 B6-0,2 B12+0,5 Zn. In order to improve adolescent?s VO2max, school was recomended to implement TOP program focused on weight management, increased physical activity and promoted adequate dietary intake.
Read More
T-4029
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive