Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Nuraini Fauziah; Pembimbing: Pandu Riono, Endang Laksminingsih Achadi; Penguji: Sudjianto Kamso, Yosnelli
Abstrak:
Abstrak
Usaha yang diharapkan SDGs yaitu menurunkan angka kematian bayi hingga 23 dan balita 32 per 1.000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab kematian bayi adalah diare, dimana ASI dapat mencegah bayi dari infeksi. Pemberian ASI merupakan fondasi 1000 HPK agar anak tumbuh menjadi sehat, cerdas, dan produktif. Tujuan penelitian ini mengetahui besar asosiasi determinan pemberian ASI eksklusif di wilayah binaan KBA DKI Jakarta tahun 2019. Penelitian menggunakan desain case-control study. Responden adalah ibu yang mempunyai anak ≥ 6 bulan di 6 wilayah binaan KBA DKI Jakarta, meliputi: Warakas, Sunter Jaya, Kebon Pala, Kebon Jeruk, Ciganjur, dan Pulau Pramuka. Faktor predisposisi memiliki asosiasi terhadap pemberian ASI eksklusif, meliputi umur ibu ≥ 20 tahun (OR=17) pendidikan ibu tinggi (OR=1,3), ibu bekerja (OR=1,3), multipara (>1 paritas) (OR=1,2), tahu pemahaman ASI eksklusif dalam agama (OR=1,5), pengetahuan tentang ASI tinggi (OR=2,6), praktik menyusui eksklusif baik (OR=6,7). Faktor pemungkin memiliki asosiasi terhadap pemberian ASI eksklusif, meliputi: pendapatan keluarga ≥ UMR (OR=1,6), tempat melahirkan di RS (OR=1,1), rawat gabung (OR=2,2), akses terhadap tenaga kesehatan (OR=1,3), tidak tahu nilai-nilai budaya (OR=2,5), tidak terpapar sampel susu formula (OR=3,1). Faktor penguat memiliki asosiasi terhadap pemberian ASI eksklusif, meliputi: dukungan suami (OR=6,3), dukungan sarana dan tenaga kesehatan (OR=5,1), dukungan teman (OR=2,2), dukunga keluarga (ibu dan ibu mertua) (OR=4,5), dukungan kader posyandu (OR=3,4), dan terpajan informasi ASI eksklusif (OR=1,8). Faktor dominan pemberian ASI eksklusif yaitu: praktik menyusui eksklusif yang baik dukungan suami, dan tidak terpapar sampel susu formula. Saran bagi penelitian selanjutnya adalah lebih mempertajam item pertanyaan IMD dan rawat gabung. Bagi masyarakat dan ilmu pengetahuan yaitu mendukung gerakan ASI eksklusif. Bagi PT. Astra International tbk. diharapkan meningkatkan rutinitas kader posyandu melakukan kunjungan rumah. Bagi Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Kota diharapkan menekankan pada ketidak-terpaparan sampel susu formula dan dukungan suami dalam upaya meningkatkan pemberian ASI eksklusif.
The effort expected by the SDGs was decrease in infant mortality to 23 and under-fives 32/1,000 live births. One of the causes of infant mortality is diarrhea, while breast milk can prevent babies from infection. Exclusive breastfeeding (EBF) is the foundation of 1000 first day of life, so children can grow to be healthy, smart, and productive. The purpose of this study was to find out the association of determinants of exclusive breastfeeding in the Astra Village Area (KBA) of DKI Jakarta in 2019. The study used a case-control study design. Respondents were mothers who had children ≥ 6 months in 6 areas assisted by KBA of DKI Jakarta, including: Warakas, Sunter Jaya, Kebon Pala, Kebon Jeruk, Ciganjur, and Pramuka Island. Predisposing factors have an association with exclusive breastfeeding, they were maternal age ≥ 20 years old (OR=1.7), high maternal education (OR=1.3), working mothers (OR=1.3), multi-parital (>1) (OR=1.2), knew and understand of exclusive breastfeeding in religion (OR=1.5), knowledge of breastfeeding was high (OR=2.), the practice of exclusive breastfeeding was good (OR=6.7). The enabling factor has an association with exclusive breastfeeding, they were family income more than or same with minimum salary of region (OR=1.6), place of birth (hospital) (OR=1.1), rooming in (OR=2.2), access to health workers (OR=1.3), did not know the cultural values (OR=2.5), were not exposed to formula milk samples (OR=3.1). Reinforcing factors have an association with exclusive breastfeeding, they were husbands support (OR=6.3), support of facilities and health personnel (OR=5.1), friends support (OR=2.2), familys support (mother and mother in-law) (OR=4.5), support from posyandu cadres (OR=3.4), and exposure to exclusive breastfeeding information (OR=1.8). The dominant factors of exclusive breastfeeding were good exclusive breastfeeding practice, husbands support, and unexposed milk formula samples. The suggestion for further research is to further sharpen of IMD and rooming-in question items. For society and science are support the exclusive breastfeeding movement. For PT. Astra International Tbk. expected to improve the routine of posyandu cadres to make home visits. For the Ministry of Health and the Jakarta Health Agency were expected to emphasize the lack of exposure to formula milk samples and husbands support in an effort to increase exclusive breastfeeding.
Read More
Usaha yang diharapkan SDGs yaitu menurunkan angka kematian bayi hingga 23 dan balita 32 per 1.000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab kematian bayi adalah diare, dimana ASI dapat mencegah bayi dari infeksi. Pemberian ASI merupakan fondasi 1000 HPK agar anak tumbuh menjadi sehat, cerdas, dan produktif. Tujuan penelitian ini mengetahui besar asosiasi determinan pemberian ASI eksklusif di wilayah binaan KBA DKI Jakarta tahun 2019. Penelitian menggunakan desain case-control study. Responden adalah ibu yang mempunyai anak ≥ 6 bulan di 6 wilayah binaan KBA DKI Jakarta, meliputi: Warakas, Sunter Jaya, Kebon Pala, Kebon Jeruk, Ciganjur, dan Pulau Pramuka. Faktor predisposisi memiliki asosiasi terhadap pemberian ASI eksklusif, meliputi umur ibu ≥ 20 tahun (OR=17) pendidikan ibu tinggi (OR=1,3), ibu bekerja (OR=1,3), multipara (>1 paritas) (OR=1,2), tahu pemahaman ASI eksklusif dalam agama (OR=1,5), pengetahuan tentang ASI tinggi (OR=2,6), praktik menyusui eksklusif baik (OR=6,7). Faktor pemungkin memiliki asosiasi terhadap pemberian ASI eksklusif, meliputi: pendapatan keluarga ≥ UMR (OR=1,6), tempat melahirkan di RS (OR=1,1), rawat gabung (OR=2,2), akses terhadap tenaga kesehatan (OR=1,3), tidak tahu nilai-nilai budaya (OR=2,5), tidak terpapar sampel susu formula (OR=3,1). Faktor penguat memiliki asosiasi terhadap pemberian ASI eksklusif, meliputi: dukungan suami (OR=6,3), dukungan sarana dan tenaga kesehatan (OR=5,1), dukungan teman (OR=2,2), dukunga keluarga (ibu dan ibu mertua) (OR=4,5), dukungan kader posyandu (OR=3,4), dan terpajan informasi ASI eksklusif (OR=1,8). Faktor dominan pemberian ASI eksklusif yaitu: praktik menyusui eksklusif yang baik dukungan suami, dan tidak terpapar sampel susu formula. Saran bagi penelitian selanjutnya adalah lebih mempertajam item pertanyaan IMD dan rawat gabung. Bagi masyarakat dan ilmu pengetahuan yaitu mendukung gerakan ASI eksklusif. Bagi PT. Astra International tbk. diharapkan meningkatkan rutinitas kader posyandu melakukan kunjungan rumah. Bagi Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Kota diharapkan menekankan pada ketidak-terpaparan sampel susu formula dan dukungan suami dalam upaya meningkatkan pemberian ASI eksklusif.
T-5529
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ratih Rahmadhanny; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Sandra Fikawati, Yosnelli
S-6996
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hajrah; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Sandra Fikawati, Yosnelli
S-7528
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Emalia Suryani; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Endang Laksminingsih, Anies Irawati, Yosnelli
Abstrak:
Rekomendasi angka kecukupan gizi menunjukan lebih tingginya kebutuhan energi dan protein saat laktasi dibandingkan saat hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi energi dan protein pada ibu menyusui di Kecamatan Beji Depok tahun 2016. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari studi intervensi gizi (Fikawati, 2015) yang menggunakan design penelitian kohort prospective pada ibu menyusui di Kota Depok. Sampel penelitian berjumlah 201 ibu menyusui yang dipantau hingga 6 bulan postpartum sejak Juni 2015-Juli 2016. Penelitian ini dilakukan secara cross sectional menggunakan analisis uji chi-square. Variabel yang diteliti adalah usia ibu, paritas, jumlah balita, frekuensi menyusui, konsumsi energi ibu saat hamil, status gizi ibu postpartum, pendidikan, status bekerja ibu, dan pengeluaran biaya makanan keluarga. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan bermakna antara konsumsi energi ibu hamil dengan konsumsi ibu menyusui dan konsumsi protein ibu hamil dengan konsumsi ibu menyusui. Ibu yang konsumsi energi saat hamilnya rendah beresiko 6 kali lebih besar untuk mengonsumsi energi yang rendah selama menyusui setelah dikontrol dengan variabel status gizi ibu postpartum dan status ibu bekerja ibu yang konsumsi protein saat hamilnya rendah beresiko 2 kali lebih besar untuk mengonsumsi protein yang rendah selama menyusui. Direkomendasikan perlunya informasi kepada ibu tentang pentingnya konsumsi energi dan protein saat menyusui karena kebutuhannya yang tinggi penting dalam produksi ASI selama periode menyusui. Kata kunci : konsumsi energi dan protein, ibu menyusui Recommended nutritional adequacy rates show higher energy and protein requirements during lactation than during pregnancy. In fact, lactating mothers consumed lower energy and protein. This study aims to determine factors related to energy and protein consumption in lactating mothers in Beji Depok sub-district in 2016. This study used secondary data from a nutrition intervention study (Fikawati, 2015) using a prospective cohort study design in lactating mothers in Kota Depok. The sample of the study were 201 breastfeeding mothers who were monitored for up to 6 months postpartum from June 2015-July 2016. This study was conducted cross sectional using chi-square test analysis. The variables studied were maternal age, parity, number of infants, breastfeeding frequency, maternal energy consumption during pregnancy, postpartum maternal nutritional status, education, mother's working status, and family food expenses. The results showed a significant relationship between energy consumption of pregnant women with the consumption of breastfeeding mothers and protein consumption of pregnant women with breastfeeding mothers consumption. Mothers with low energy consumption during pregnancy are 6 times more likely to consume low energy during breastfeeding after controlled by maternal postpartum status variables and maternal working mother status when protein consumption at low pregnancy is twice as likely to consume low protein during breastfeeding . It is recommended that mother be informed of the importance of energy and protein consumption while breastfeeding because of the high importance of breast milk production during the breastfeeding period. Keywords : energy and protein consumption, lactating mothers
Read More
T-4991
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hidayati Agustiani; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Yosnelli
S-6556
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
E Marlinawati Gurning; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Sudijanto Kamso, Siti Arifah Pujonarti, Yosnelli; Ribka Ivana Sebayang
T-5714
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andini Retno Yunitasari; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Siti Arifah Pujonarti, Fajrinayanti, Yosnelli
Abstrak:
Read More
Indonesia menghadapi masalah gizi yang cukup serius. Sebagian besar stigma masyarakat di Indonesia akan merasa bangga bila memiliki anak balita yang bertubuh gendut dan masih berpikiran anak gemuk itu lucu dan menggemaskan. Padahal, anak yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas juga cenderung mengalami kelebihan berat badan dan obesitas di usia remaja dan dewasa. Bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat menimnulkan kerugian ekonomi dan penurunan kualitas sumber daya manusia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh gizi lebih (overweight/obesitas) pada anak balita usia 24-59 bulan terhadap gizi lebih pada dewasa usia 22-26 tahun. Desain yang digunakan adalah studi longitudinal menggunakan data Indonesian Family Life Survey (IFLS) I tahun 1993 dan IFLS 5 tahun 2014. Sampel yang diapat di follow up dari IFLS 1-IFLS5 sebanyak 608 orang. Analisis statistik yang dilakukan yaitu univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak usia 24-59 bulan di tahun 1993 yang memliki status gizi lebih sebesar 3.30%, sementara saat usia dewasa 22-26 tahun di tahun 2014 yang memiliki status gizi lebih sebesar 23.8%. Overweight/obesitas pada usia 24-59 bulan tidak memengaruhi overweight/ obesitas usia 22-26 tahun (p=0.758 dan OR=1,18). Kata Kunci : Gizi lebih, overweight/obesitas, balita, dewasa
Indonesia faces a quite serious nutritional problem. Most of the stigma of parents in Indonesia is they will be proud if they have fat toddlers and still think that fat children are cute and adorable. In fact, children who were overweight and obese also tend to be overweight and obese in their adolescence and adulthood. If it is not handled quickly, it can cause economic losses and a decrease in the quality of human resources. The aim of this study was to find out effects of overweight and obesity on toddlers aged 24-59 years against overweight and obesity in adults aged 22-26 years (Based on IFLS Data for 1993 and 2014). The design used was longitudinal study using data from Indonesian Family Life Survey (IFLS) I in 1993 and IFLS 5 in 2014. Samples eligible were as many as 608 people. Data was analyzed by using univariate, bivariate, and multivariate method. This results of this study were only 3.3% of subject was overweight/obese toddler in 1993, while in 2014, adult whose are overweight/ obese were 23.8%. (Overweight / obesity in toddlers at the age of 24-59 years did not affect overweight / obesity in adult aged 22-26 years (p = 0.758 and OR = 1.18).
T-6048
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Shelvi Novianita; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Kemal Nazaruddin Siregar, Irma Ardiana, Yosnelli
Abstrak:
Read More
Sejak tahun 2001 WHO menyarankan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. WHO menargetkan cakupan ASI eksklusif 50% untuk tahun 2025 dan 60% untuk tahun 2030. Indonesia berhasil melakukan percepatan target dengan cakupan ASI eksklusif 66,1% pada tahun 2020. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Data survey serta penelitian-penelitian dari internasional ataupun nasional menunjukkan bahwa prevalensi ASI eksklusif di perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif 6 bulan di wilayah perkotaan Indonesia. Studi cross- sectional ini menggunakan data sekunder SDKI 2017 pada 2.384 ibu dengan bayi berusia 6-24 bulan. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square, dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menemukan bahwa proporsi ibu dengan ASI eksklusif 6 bulan sebesar 1.221 (51,2%), sementara ibu yang tidak ASI eksklusif 6 bulan 1.163 (48,8%). Pekerjaan ibu, paritas dan IMD memiliki hubungan yang bermakna dengan pemberian ASI eksklusif 6 bulan di wilayah perkotaan Indonesia (p<0,05). IMD (p=0,001; OR=3,147; 95% CI=2,572–3,852) merupakan faktor dominan diantara faktor- faktor tersebut. Dapat disimpulkan bahwa faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif 6 bulan di wilayah perkotaan Indonesia adalah pekerjaan ibu, paritas dan IMD. Disarankan agar pemerintah dapat melakukan monitoring dan evaluasi terhadap program yang berkaitan dengan pemberian edukasi dan pendampingan menyusui agar proporsi ASI eksklusif 6 bulan di wilayah perkotaan meningkat. Kata Kunci: ASI eksklusif, perkotaan, SDKI
Since 2001 WHO recommends exclusive breastfeeding for 6 months. WHO targets exclusive breastfeeding coverage of 50% for 2025 and 60% for 2030. Indonesia has succeeded in accelerating the target with exclusive breastfeeding coverage of 66.1% in 2020. Many factors affect the success of exclusive breastfeeding. Survey data and researches from international or national show that the prevalence of exclusive breastfeeding in urban areas is lower than in rural areas. This study aims to analyze the factors associated with exclusive breastfeeding for 6 months in urban areas of Indonesia. This cross-sectional study used secondary data from the 2017 IDHS on 2,384 mothers with infants aged 6-24 months. Bivariate analysis using chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The research results found that the proportion of mothers with exclusive breastfeeding for 6 months was 1,221 (51.2%), while mothers who were not exclusively breastfed for 6 months were 1,163 (48.8%). Maternal occupation, parity and IMD had a significant relationship with exclusive breastfeeding for 6 months in urban areas of Indonesia (p<0.05). IMD (p=0.001; OR=3.147; 95% CI=2.572-3.852) was the dominant factor among these factors. It can be concluded that the factors associated with exclusive breastfeeding for 6 months in urban areas of Indonesia are maternal occupation, parity and IMD. It is suggested that the government can monitor and evaluate programs related to the provision of education and breastfeeding assistance so that the proportion of exclusive breastfeeding for 6 months in urban areas increases. Keywords: Exclusive breastfeeding, urban, IDHS
T-7526
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Devieka Rhama Dhanny; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Niken Manohara, Yosnelli
Abstrak:
Obesitas sentral adalah kondisi tubuh mengalami penumpukan lemak yang berlebih di bagian abdominal yang berdampak pada PJK dan sindrom metabolik. Obesitas sentral dan angka kesakitan pada polisi di Indonesia cukup tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan obesitas sentral pada polisi operasional lapangan di Polres Kabupaten Lampung Timur. Penelitian ini adalah menggunakan desain studi cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 48,6% polisi tergolong obesitas sentral. Sebagian besar polisi memiliki IMT normal, sudah menikah, berpendidikan terakhir SMA, berpangkat bintara, pengetahuan obesitas sentral masih rendah, durasi tidurnya kurang, memiliki kebiasaan merokok, stres, asupan energi cukup, asupan lemak dan protein berlebih, asupan karbohidrat dan serat kurang. Berdasarkan analisis chi square, terdapat hubungan signifikan antara usia, riwayat obesitas sentral, aktivitas fisik, durasi tidur, asupan energi, asupan protein, asupan lemak, asupan karbohidrat dengan obesitas sentral. Tetapi, tidak terdapat hubungan antara kebiasaan merokok, stres, dan asupan serat dengan obesitas sentral. Asupan energi adalah faktor dominan obesitas sentral
Read More
T-5574
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
