Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36308 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dalima Ari Wahono Astrawinata; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Yefta Moenadjat, Bastaman Basuki, Tri Yunis Miko Wahyono, Siti Boedina Kresno
Abstrak:

LATAR BELAKANG: Banyak faktor mempengaruhi prognosis luka bakar, data di Indonesia belum ada yang rinci. Dengan mengetahui faktor prognostik terpenting, akan dimungkinkan menetapkan penatalaksanaan yang tepat_ Perbaikan standar penatalaksana an membawa perbaikan nyata untuk menekan mortalitas.METODE: Penelitian kohort historikal menggunakan subyek penderita luka bakar rawat inap di RSCM Januari I998-Mei 2001. Semua yang memenuhi kriteria inklusi diambil. Analisis data dengan survival analysis menggunakan Cox proportional hazard untuk mencari perhitungan ketahanan hidup.HASIL: Dari 156 penderita didapat angka mortalitas 27,6%. Penderita terbanyak berusia 19 tahun, laki-laki lebih banyak 1,6 x dari perempuan. Penyebab tersering api (55,1%) dan terjadi dirurnah (72,4%). Ditemukan luka bakar terbanyak derajat 2° (76,9%) dengan Iuas terbanyak 27%, interquartile range 19-43%. Faktor prognostik terpenting dengan nilai hazard ratio (HR) dan 95% confidence interval (CI) masing-masing adalah syok-SIRS 12,05 (2,36;60,95), trombositopeni 10,78 (2,23;52,05), trauma inhalasi 5,20 (2,77;9,77), syok 4,87 (1,25;18,98) dan luas>50% 4,35 (1,22;15,59)KESIMPULAN: Penatalaksanaan resusitasi cairan yang tepat dan resusitasi jalan napas dapat menekan angka mortalitas penderita luka bakar. Trombositopeni merupakan salah satu petanda awal kemungkinan sepsis/SIRS.Prognostic factors in moderate and severe burn patients at Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital Jakarta 1998-May 2001.


 

BACKGROUND: Several factors influence the outcome of burn injuries. Knowing the most important factors influencing the outcome of burn might be helpfull in developing new strategies for patient care. Improvement of burn patients management can reduce mortality rate.METHODS: Data from historical cohort were analyzed using Cox proportional hazard. One hundred fifty six burn patients hospitalized at Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital from January 1998-May 2001 were selected consecutively according to inclusion criteria.RESULTS: From the 156 patients studied, mortality rate was 27,6%. Median patient age was 19 years , male : female ratio 1,6:1. The most common cause of thermal injury was flame (55,1%) and the majority occured at home (72,4%). Second degree burns were dominant (76,9%) with median burn size 27% Total Body Surface Area ( interquartile 19-43). The most important prognostic factors, hazard ratios and 95% confidence interval were shock with SIRS 12,05 (2,36;60,95), thrombocytopenia 10,78 (2,23;52,05), inhalation injury 5,20 (2,77;9,77), shock 4,87 (1,25;18,98) and burn size >50% 4,35 (1,22;15,59).CONCLUSIONS: Adequate fluid rescusitation and respiratory rescusitation can overcome important factors influencing burn patients outcome in order to reduce mortality rate. Thrombocytopenia can be use as an early sign of impending sepsis/SIRS.

Read More
T-1214
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fenida; Pembimbing: Armen Muctar
T-804
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Triswanto; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono
S-2974
Depok : FKM-UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rika Natalia; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo
S-3004
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riskina Tri Januarti; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Pembinmbing: Yovsyah, Eulis Wulantari
S-5944
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farid Yudoyono; Pembimbing : Ratna Djuwita; Penguji : Bambang Sutrisna, Asri C. Adisasmita, M.Zafirullah Arifin
Abstrak: Latar Belakang: Cedera otak traumatika akibat kecelakaan lalu lintas masih merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif. Cedera otak sekunder dideskripsikan sebagai konsekuensi gangguan fisiologis, seperti iskemia, reperfusi, dan hipoksia pada area otak yang beresiko, beberapa saat setelah terjadinya cedera awal (cedera otak primer). Cedera otak sekunder sensitif terhadap terapi dan proses terjadinya dapat dicegah dan dimodifikasi. Metode: Penelitian kohort retrospektif dengan data primer rekam medis. Data yang terdiri dari beberapa variabel yang dikumpulkan secara retrospektif dari catatan medis pasien. RS. Hasan Sadikin, Bandung Jawa Barat, Indonesia. Pengambilan data dilakukan pada 2011-2014. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 647 pasien. Analisis yang dilakukan meliputi analisis univariat, bivariat, dan analisis multivariate cox proportional hazard dengan model matematis yang selanjutnya akan dibuat model skoring. Analisis roctab digunakan untuk menentukan nilai cut-off setiap variabel numerik. Hasil: Variabel perdarahan otak, tingkat kesadaran, dan edema serebri merupakan faktor resiko outcome, sedangkan variabel peningkatan tekanan intrakranial, kadar elektrolit natrium dan klorida, serta terapi diuretik merupakan faktor resiko untuk terjadinya outcome kematian pada pasien ensefalitis anak. Berdasarkan hasil analisis multivariat skoring didapatkan urutan faktor prognostik yang dominan menyebabkan kematian, yaitu Variabel usia memilik HR sebesar 1,00, natrium mempunyai HR 0,8, Perdarahan otak pada CT Scan kepala mempunyai HR sebesar 1,73, edema serebri mempunyai HR 2,53, hipoksia mempunyai HR sebesar 2,13, farktur maksillofascial mempunyai HR sebesar 0,6, hipotensi memiliki HR 0,7 dan pembedahan/trepanasi mempunyai HR 0,388 Berdasarkan analisis tersebut maka natrium, GCS, hipotensi, pembedahan dan MFS fraktur merupakan faktor proteksi outcome sedangkan usia, perdarahan otak pada CT Scan, edema serebri, hipoksia merupakan faktor resiko terjadinya outcome kematian pada pasien cedera kepala berat. Dari hasil mulitvariat yang telah dilakukan sebelumnya apabila skor -69 s/d -47 mengalami resiko rendah untuk mengalami kematian, skor -46 s/d -20 mengalami resiko sedang untuk terjadinya kematian dan skor >-19 akan mengalami resiko tinggi terjadinya kematian. Kesimpulan: Model skoring prognosis yang telah terbentuk ini mampu memprediksi sebesar 84,75 % faktor faktor yang berhubungan dengan prognosis cedera otak traumatika berat. Apabila ada 100 pasien cedera kepala berat dengan adanya semua variabel maka 76 pasien akan meninggal dan bila 100 pasien cedera kepala berat tanpa adanya semua variabel maka 25 pasien akan meninggal. Kata Kunci : Skoring, Model Prognosis, Cedera Otak Traumatika Berat
Read More
T-4523
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wulyo Rajabto; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Ratna Djuwita, Noorwati Soetandyo; Penguji: Mardiati Nadjib, Syahrizal Syarif, Agnes Stephanie Harahap, Amaylia Oehadian
Abstrak:
Latar Belakang: Limfoma Hodgkin (LH) menunjukkan angka akesembuhan yang tinggi, namun 10-30% pasien tetap mengalami kekambuhan atau refrakter. Instrumen prognostik yang ada saat ini masih memiliki keterbatasan akurasi untuk populasi di Indonesia yang memiliki karakteristik klinis berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor prognostik Progression-Free Survival (PFS) 2 tahun LH terhadap kemoterapi lini pertama dan mendeskripsikan biaya biaya kemoterapi lini pertama LH di rumah sakit umum pusat (RSUP) di Indonesia. Metode: Desain penelitian adalah observasional kohort retrospektif menggunakan data rekam medik pasien-pasien LH yang telah menjalani kemoterapi lini pertama ABVD (Adriamycin, Bleomycin, Vinblastine, Dacarbazine) di 5 RSUP Vertikal Kementrian Kesehatan, yaitu: RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, dan RSUP Dr. Kariadi Semarang periode 2019-2023. Hasil: Model akhir mengidentifikasi faktor-faktor prognostik yang secara bermakna mempengaruhi PFS 2 tahun pasien-pasien LH yang mendapatkan kemoterapi lini pertama ABVD, yaitu: keterlibatan >2 regio KGB, massa mediastinum ≥ 10 cm, stadium klinis, LDH, LED, albumin, dan ekspresi Ki67. Berdasarkan model tersebut, telah tersusun sistem skoring dengan ambang batas (cut-off) skor 135. Pasien dengan skor ≥135 memiliki risiko signifikan lebih tinggi untuk mengalami progresivitas penyakit dalam 2 tahun. Dari sisi ekonomi kesehatan, rata-rata biaya kemoterapi lini pertama meningkat pada kelompok pasien yang mengalami progresivitas penyakit. Kesimpulan: Keterlibatan >2 regio KGB, massa mediastinum ≥10 cm, stadium klinis, LDH, LED, albumin, dan ekspresi Ki67 adalah faktor-faktor prognostik independen yang mempengaruhi PFS 2 tahun. Sistem skor yang dihasilkan memiliki validitas yang baik dalam memprediksi PFS 2 tahun pasien-pasien LH yang mendapatkan kemoterapi lini pertama ABVD di 5 RSUP di Indonesia.

Background: Hodgkin Lymphoma (HL) showed high cure rates; however, 10- 30% of patients remain relapsed or refractory. Current prognostic instruments still have limitations in accuracy for the Indonesian population, which presents different clinical characteristics. This study aims to determine prognostic factors of 2-year progression-free survival (PFS) Hodgkin Lymphoma to first line chemotherapy and to describe the treatment cost burden. Methods: This observational study employed a retrospective cohort design using medical record patients with Hodgkin lymphoma who have administered first line chemotherapy ABVD (Adriamycin, Bleomycin, Vinblastine, Dacarbazine) at 5 vertically referral hospitals ministry of health: Dr. Cipto Mangunkusumo National Hospital Jakarta, Cancer Hospital Dharmais Jakarta, Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung, Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta, and Dr.Kariadi Hospital Semarang during 2019-2023 period. Prognostic factors were analyzed using Cox Proportional Hazard regression to determine beta coefficients, which served as the basis for the scoring system. Cost calculation was performed descriptively to assess direct medical costs. Results: The final model identified significant prognostic factors which influence 2-year progression free survival: involvement of >2 lymph node regions, bulky mediastinal mass (≥10 cm), clinical stage, LDH levels, ESR , albumin, and Ki67 expression, Based on this model, a scoring system was developed with a cut-off score of 135. Patients with a score of ≥135 have a significantly higher risk of progressive disease within 2 years. From a health economics perspective, it was found that the average cost of first-line chemotherapy increased in the group of patients who experienced disease progression. Conclusion: Involvement of >2 lymph node regions, bulky mediastinal mass, clinical stage, LDH levels, ESR, albumin, and Ki67 expression are independent prognostic factors which influence 2-year PFS. The resulting scoring system demonstrated good validity in predicting 2-year PFS of patients with Hodgkin Lymphoma who have administered first line chemotherapy ABVD at 5 referral hospitals in Indonesia.
Read More
D-633
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Nyoman Supartha; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Chamim, Krisnawati Bantas, Helda, M. Ilhamy
T-2367
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endah Zuraidah; Pembimbing: Bastaman Basuki
T-1065
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lasmaria Sitorus; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Budhi Setianto, Bambang Budi Siswanto, Wahyono, Tri Yunis Miko, Nurhayati Adnan
T-2489
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive