Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34960 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Bahnan; Pembimbing: Sri Tjahjani Budi Utami; Bambang Wispriyono; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Wan Alkadri, Ani Isnawati
Abstrak:

Tahu adalah gumpalan protein kedelai yang diperoleh dari hasil penyarian kedelai yang telah digiling dengan penambahan air. Supaya tidak rugi dan mudah rusak produsen atau penjual tahu memberi formalin sebagai bahan pengawet. Formalin dapat menyebabkan nyeri abdominal, muntah, diare, hipertensl. koma, asidosis metabolik serta gangguan ginjal akut. Juga bersifat kronik seperti karsinogenik, ganggua.n menst.ruasi dan kesuburan wanita. Pada dosis rendah rnenyebabkan sakit penlt akut disertai muntah­ muntah, timbulnya depresi susunan syaraf. serta kegaga1an peredaran darah. Pada dosis tinggi menyebabkan kejang-kejang, keneing darah, tidak bisa kencing, dan muntab darah, sehingga dapat menyebabkan kematian. Tujuan penelitian ini adalah diketahutnya dengan menetapkan konsentrasi. Karakteristik risiko (RQ) nonkarsinogenik konsumen dari Pasar 10 Ulu terendah 0,0533 dan tertinggi 4,6198 konswnen yang berisiko sebanyak 4 orang (12,9 %), Pasar Sako Kenten terendah 0,0120 dan tertinggi 1,6264 konsumen yang berisiko sebanyak 3 orang (S,n %), Pasar Lemabang terendah 0,0225 dan tertinggi 1,9278 konswnen yang berisiko sebanyak 13 orang (21,67 %). Sedangkan karakteristik risiko karsinogenik konsumen dari Pasar 10 Ulu terendah 0,0229 dan tertinggi I ,9799 konsumen yang berisiko sebanyak 2 orang (6,45 %), Pasar Sako Kenten terendah 0,0051 dan tertinggi 0,6970, Pasar Lemabang terendah 0,0169 dan tertinggi 0,8262. Dengan uji I independen (uji mann whitney), diperoleh nilai p < 0,05 (p value 0,004), maka dapet disimpulkan bahwa pada taraf nyala 5 % ada perbedaan yang bermakna konsentra.si formalin antara kelompok tabu sayur dan tahu goreng. Produksi tabu hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan k.onsumen agar seriap hari selalu habis tedual, sehingga tidak perlu menggunakan bahan pengawet Produsen dan atau pedagang hendaknya tidak rnenggunakan formalin pada makanan apapun alasanya karena fonnalin dilarang digunakall pada makanan. Konsentrasi fonnalin dalarn tahu setelah disayur selama lO menit mengalarnj penurunan 25,91 %dan setelah digoreng mengalami penurunan 60,80 %. Produsen dan atau pedagang hendaknya menggunakan bahan pengawet yang tidak berisiko terhadap kesehatan konsumen.

Read More
T-2233
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nuansa Dwika Aulia; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari, Asep Tata Gunawan, Heri Nugroho
Abstrak:
Penelitian bertujuan mengetahui risiko kesehatan pada konsumen ikan asin, dilaksanakan di lima Pasar Tradisional terbesar di Kabupaten Banyumas yaitu Pasar Banyumas, Pasar Wage, Pasar Manis, Pasar Pon dan Pasar Cermai. Sampel penelitian terbagi menjadi dua, sampel lingkungan dan sampel penduduk. Sampel lingkungan adalah ikan asin jenis teri dan peda dari lima pasar dengan total penjual ikan asin adalah 9 pedagang, ikan asin yang menjadi sampel berjumlah 18 buah. Sampel penduduk adalah pengunjung lima pasar yang membeli ikan asin peda dan/atau teri saat dilakukan penelitian dengan total sampel 67 orang dari total populasi 200 orang rata-rata pembeli ikan asin di lima pasar tersebut setiap harinya. Hasilnya hanya terdapat 1 ikan asin yang positif mengandung formalin yaitu ikan asin teri di Pasar Manis. Hasil perhitungan intake realtime tertinggi yaitu konsumen ikan asin peda dan/atau teri Pasar Cermai yaitu dengan konsentrasi maksimum 2,0335 mg/kg/hari. Sementara intake lifetime tertinggi yaitu konsumen ikan asin peda dan/atau teri di Pasar manis dengan konsentrasi maksimum 2,498 mg/kg/hari. Hasil pengukuran RQ realtime tertinggi yaitu konsumen ikan asin peda dan/atau teri di Pasar Cermai dengan nilai maksimum 10,088. Sementara RQ lifetime tertinggi berada pada konsumen ikan asin peda dan/atau teri di Pasar Manis dengan nilai maksimum 12,49.

The research aims to determine the health risks of salted fish consumers, carried out in the five largest traditional markets in Banyumas Regency, namely Banyumas Market, Wage Market, Manis Market, Pon Market and Cermai Market. The research sample was divided into two, environmental samples and population samples. The environmental samples were anchovy and peda types of salted fish from five markets with a total of 9 salted fish sellers, the total number of salted fish in the sample was 18. The population sample was visitors to five markets who bought salted fish and/or anchovies when the research was conducted with a total sample of 67 people from a total population of 200 people, on average, buyers of salted fish in the five markets every day. The result was that there was only 1 salted fish that was positive for containing formaldehyde, namely anchovy salted fish at Pasar Manis. The highest real-time intake calculation results were consumers of peda salted fish and/or anchovies at Cermai Market with a maximum concentration of 2.0335 mg/kg/day. Meanwhile, the highest lifetime intake was consumers of salted peda fish and/or anchovies at Sweet Market with a maximum concentration of 2,498 mg/kg/day. The highest real-time RQ measurement results were consumers of salted peda fish and/or anchovies at Cermai Market with a maximum value of 10,088. Meanwhile, the highest lifetime RQ was for consumers of salted fish and/or anchovies at Pasar Manis with a maximum value of 12.49.
Read More
T-6849
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pratiwi Soni Redha; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Dewi Susana, Budi Hartono, Taohid, Fitriyani Dwi Astuti
Abstrak:
Kota Bandung memiki topografi berupa cekungan dan intensitas hujan yang tinggi sehingga berisiko terhadap terjadinya banjir. Kesiapsiagaan tenaga sanitasi lingkungan dan surveilans di lokasi bencana dipengaruhi oleh karakteristik individu, jalur dan tempat evakuasi, protap penanggulangan banjir, sistem informasi dan komunikasi dan biaya operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapsigaan tenaga sanitasi lingkungan dan surveilans pusat kesehatan masyarakat terhadap risiko kesehatan dalam bencana banjir di kota Bandung. Penelitian ini menggunakan desain crosssectional , teknik pengambilan sampel adalah simple randomed sampling pada 40 Puskesmas di Kota bandung pada bulan mei tahun 2022. Hasil penelitian adalah kesiapsiagaan tenaga sanitasi lingkungan dan surveilans terhadap risiko kesehatam dalam bencana banjir sebesar sebanyak 26 orang (51%), adanya hubungan yag signifikan antara lama bekerja, pelatihan dan biaya operasional terhadap kesiapsiagaan tenaga sanitasi lingkungan dan surveilans Puskesmas terhadap risiko kesehatan dalam bencana banjir di kota Bandung .Lama bekerja dan biaya operasional merupakan faktor dominan yang paling berhubungan. Sarannya dengan memfasilitasi pelatihan terkait penanggulangan kebencanaan ,peningkatan kapasitas profesi, menyediakan tempat dan fasilitas evakuasi, membuat sistem informasi dan komunikasi yang terintegrasi, menyediakan biaya operasional.

Bandung has a topography in the form of basins and high rainfall intensity so that it is at risk of flooding. The preparedness of environmental sanitation and surveillance personnel at disaster locations is influenced by individual characteristics, evacuation routes and places, flood management procedures, information and communication systems and operational costs. This study aims to determine the preparedness of environmental sanitation workers and surveillance of public health centers against health risks in the flood disaster in the city of Bandung. This study used a cross-sectional design, the sampling technique was simple randomed sampling at 40 Public health center in Bandung in May 2022. The result of the study was preparedness environmental sanitation workers and surveillance of public health centers against health risks in the flood disaster are 26 people (51%), there is a significant relationship between length of work, training and operational costs on the preparedness of environmental sanitation workers and Public health center surveillance of health risks in flood disasters in Bandung. Length of work and operating costs are the dominant factors that are most related. Some advice are to facilitate training about disaster management and increase professional capacity , building the evacuation places and facilities, making integrated information and communication systems, also providing operational costs.
Read More
T-6586
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Regina Fatikha Yonashita; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Budi Hartono, Dharma Ningsih Dwi Putri
Abstrak:
Diare dapat didefinisikan sebagai peningkatan frekuensi buang air besar dari suatu individu yang biasanya disertai dengan konsistensi feses yang cair. Diare tergolong dalam 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di Puskesmas di Kota Depok. Pada tahun 2024, tercatat dua kasus kematian akibat diare di Kota Depok, dan satu di antaranya terjadi di Kecamatan Bojongsari. Tren penggunaan air minum isi ulang yang diproduksi oleh Depot Air Minum semakin meningkat. Dalam praktiknya, kualitas air minum isi ulang sangat bergantung pada aspek kelayakan dan higiene dan sanitasi dari penjamah/operator DAM, tempat, dan proses karena apabila tidak diterapkan dengan baik dapat menyebabkan air isi ulang tercemar sehingga menyebabkan penyakit, salah satunya adalah diare. Di sisi lain, risiko diare tidak hanya ditentukan oleh kondisi DAM sebagai sumber air minum, tetapi juga perilaku konsumen dalam menangani air yang sudah diperoleh, contohnya adalah perilaku mecuci tangan, cara penyimpanan air, pendistribusian, dan frekuensi konsumsi. Desain studi yang digunakan adalah studi potong lintang. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara dan observasi kelayakan DAM. Analisis data dari 96 responden dengan menggunakan uji Chi-Square, Fisher's Exact Test, dan Mann-Whitney. Kejadian diare yang digambarkan melalui gejala yang dialami oleh konsumen menunjukkan 10,4% responden mengalami gejala diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara waktu tempuh ke Depot Air Minum, perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS), dan jumlah konsumsi air minum isi ulang per hari dengan kejadian diare pada konsumen (p > 0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku konsumen yang diteliti belum terbukti secara statistik berhubungan dengan kejadian diare pada konsumen DAM di Kecamatan Bojongsari. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan cakupan variabel yang lebih luas, termasuk faktor kualitas air dan kondisi sanitasi lingkungan rumah tangga, untuk mengidentifikasi determinan kejadian diare pada populasi pengguna Depot Air Minum.

Diarrhea can be defined as an increase in the frequency of bowel movements in an individual, usually accompanied by loose stools. Diarrhea is among the 10 most common diseases among outpatients at community health centers in Depok City. In 2024, two deaths due to diarrhea were recorded in Depok City, one of which occurred in Bojongsari District. The trend of using refilled drinking water produced by drinking water depots is increasing. In practice, the quality of refilled drinking water is highly dependent on the suitability, hygiene, and sanitation aspects of the water depot handlers/operators, the location, and the process. If not implemented properly, it can lead to water contamination, which can cause diseases, one of which is diarrhea. On the other hand, the risk of diarrhea is not only determined by the condition of the water depot as a drinking water source, but also consumer behavior in handling the water that has been obtained, for example, handwashing behavior, water storage methods, distribution, and frequency of consumption. The study design used was a cross-sectional study. Data collection was carried out using interviews and observations of the feasibility of the water depot. Data analysis of 96 respondents using the Chi-Square, Fisher's Exact Test, and Mann-Whitney test. Diarrhea symptoms, as described by consumers, showed that 10.4% of respondents experienced diarrhea. The results showed no significant relationship between travel time to the Drinking Water Depot, handwashing with soap (CTPS) behavior, and the number of refilled drinking water consumed per day and diarrhea incidence among consumers (p > 0.05). This study concluded that the consumer behaviors studied were not statistically proven to be associated with diarrhea incidence among DAM consumers in Bojongsari District. Further research is needed with a broader range of variables, including water quality factors and household environmental sanitation conditions, to identify the determinants of diarrhea incidence among the Drinking Water Depot user population.
Read More
S-12260
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gita Ardyuani; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Laila Fitria, Imelda Wijaya
S-6154
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dyla Kinar Yuspita; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Al Asyary, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024, pemerintah menunjuk Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menjalankan tugas dalam pemenuhan gizi nasional melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang melibatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam pengelolaan makanan. Per 31 Oktober 2025, total kasus keracunan makanan akibat Program MBG tertinggi ada di Provinsi Jawa Barat dengan total 4.955 orang. Kota Depok sendiri telah memiliki SPPG sebanyak 80 yang aktif beroperasional per Desember 2025. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko rawan keracunan makanan berdasarkan faktor lingkungan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Kota Depok tahun 2025. Desain penelitian yang digunakan adalah studi ekologi dengan analisis spasial menggunakan data sekunder dan software QGIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 9 SPPG dengan kategori risiko tinggi (11,25%) dan wilayah dengan risiko tinggi ada di 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Tapos dan Beji. Dinas Kesehatan Kota Depok dapat memprioritaskan sosialisasi dan pengawasan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah dengan risiko tinggi utnuk menurunkanm risiko keracunan makanan akibat Program MBG di Kota Depok.

Based on Presidential Regulation Number 83 of 2024, the government appointed the National Nutrition Agency (BGN) to carry out the task of fulfilling national nutrition through the Free Nutritional Meal (MBG) program, which involves the Nutrition Fulfillment Service Unit (SPPG) in food management. As of October 31, 2025, the highest total number of food poisoning cases due to the MBG Program was in West Java Province with a total of 4,955 people. Depok City itself had 80 SPPGs that were actively operating as of December 2025. This study aims to determine the potential risk of food poisoning based on environmental factors of the Nutrition Fulfillment Service Unit in Depok City in 2025. The research design used was an ecological study with spatial analysis using secondary data and QGIS software. The results showed that there were 9 SPPGs with a high risk category (11.25%) and areas with high risks were in 2 sub-districts, namely Tapos and Beji Sub-districts. Dinas Kesehatan Kota Depok can prioritize outreach and supervision of Nutrition Fulfillment Service Units (SPPG) in areas with high risks to reduce thel risk of food poisoning due to the MBG Program in Depok City
Read More
S-12265
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rismala Kesuma; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Ririn Arminsih Wulandari
T-1886
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gazala Savana Putra; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Fitri Kurniasari, Fajar Nugraha
Abstrak:
Pada tahun 2023, Provinsi Daerah Khusus Jakarta mencatat prevalensi diabetes tertinggi di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Nasional, yaitu sebesar 3,9%. Di sisi lain, konsentrasi rata-rata PM2.5 di Jakarta pada tahun yang sama mencapai 43,8 µg/m³, menjadikannya salah satu wilayah dengan tingkat polusi udara tertinggi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan data sekunder, mencakup 42 kecamatan di wilayah administratif DKI Jakarta (tidak termasuk Kabupaten Kepulauan Seribu) sebagai unit analisis. Analisis dilakukan menggunakan uji korelasi dan analisis spasial untuk mengevaluasi hubungan antara konsentrasi PM2.5 pada udara ambien serta faktor sosiodemografi dengan prevalensi diabetes di tahun 2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari seluruh variabel sosiodemografi, hanya proporsi penduduk dengan usia berisiko yang memiliki hubungan signifikan dengan prevalensi diabetes (p < 0,001). Sementara itu, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara konsentrasi PM2.5 dan prevalensi diabetes. Namun demikian, rata-rata konsentrasi PM2.5 di Jakarta pada tahun 2024 tercatat sebesar 37,45 µg/m³, yang melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) yang ditetapkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, perlunya pemantauan kualitas udara secara berkelanjutan serta pendekatan preventif berbasis usia dalam pengendalian diabetes di wilayah perkotaan.

In 2023, Jakarta recorded the highest diabetes prevalence in Indonesia based on the National Health Survey, with a rate of 3.9%. Concurrently, the average concentration of PM2.5 in Jakarta reached 43.8 µg/m³, classifying the city as one of the most polluted urban areas in the country. This study employed an ecological study design utilizing secondary data, with 42 sub-districts in Jakarta, excluding Kepulauan Seribu Regency, as the units of analysis. Data analysis comprised correlation tests and spatial analysis to examine the association between ambient PM2.5 concentrations and sociodemographic factors with the prevalence of diabetes in Jakarta in 2024. The statistical analysis indicated that among the sociodemographic variables, only the proportion of the population within the at-risk age group demonstrated a statistically significant association with diabetes prevalence (p < 0.001). In contrast, ambient PM2.5 concentrations were not significantly associated with diabetes prevalence in the region during the study period. Nonetheless, the average PM2.5 concentration in Jakarta in 2024 was 37.45 µg/m³, exceeding the national ambient air quality standard set by the government.
Read More
S-11884
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zakia Davina Riadi; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Budi Haryanto, Rizal Maulana
Abstrak: PM2,5 adalah partikel halus berukuran kurang dari 2,5 mikron yang dapat terhirup hingga ke alveolus paru-paru hingga masuk ke aliran darah. Pada tahun 2023, Kota Bogor merupakan kota dengan rata-rata konsentrasi PM2,5 tertinggi di Indonesia. SMA X Kota Bogor adalah SMA yang terletak di pusat Kota Bogor. Di depan sekolah, terdapat jalan utama yang merupakan jalur lalu lintas padat yang sering dilalui kendaraan pribadi maupun umum, sehingga berpotensi menjadi sumber emisi PM2,5 dari kendaraan bermotor. Tingginya kepadatan lalu lintas di kawasan tersebut menimbulkan dugaan bahwa partikel PM2,5 dari udara ambien dapat masuk ke dalam ruang kelas saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Pajanan PM2,5 di ruang kelas dapat berdampak negatif pada fungsi kognitif dan kesehatan pernapasan siswa karena ukurannya yang kecil dan dapat terhirup hingga alveolus. Penelitian dilakukan untuk mengetahui estimasi risiko kesehatan akibat pajanan PM2,5 pada para murid di SMA X Kota Bogor tahun 2025 menggunakan studi Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan. Penelitian ini mencakup pengukuran konsentrasi PM2,5 di ruang kelas menggunakan perangkat SORA (Sensor Observasi Udara), serta pengumpulan data antropometri dan pola aktivitas 94 siswa di sekolah. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juni 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PM2,5 di SMA X Kota Bogor masih berada di bawah baku mutu sesuai Permenkes No. 2 Tahun 2023 yaitu di bawah 25 µg/m3 dengan nilai rata-rata 24,79 µg/m3. Perhitungan RQ pada seluruh titik sampel maupun tiap individu diperoleh RQ ≤ 1 sehingga dianggap tidak berisiko pada kesehatan siswa. 
PM2.5 are fine particulate matters smaller than 2.5 micrometres that can be inhaled deep into the lungs’ alveoli and enter the bloodstream. In 2023, Bogor City recorded the highest average PM2.5 concentration in Indonesia. SMA X Kota Bogor is a high school located in the center of Bogor City, adjacent to a major road with high traffic volume, making it potentially exposed to PM2.5 emissions from motor vehicles. Given the heavy traffic, there is concern that ambient PM2.5 particles may infiltrate classrooms during teaching activities. PM2.5 exposure poses risks to students' cognitive function and respiratory health due to its ability to penetrate deep into the lungs. This study aims to estimate the health risks associated with PM2.5 exposure among students at SMA X Kota Bogor in 2025 using an Environmental Health Risk Assessment approach. PM2.5 concentrations were measured in classrooms using the SORA (Sensor Observasi Udara) device, and anthropometric and activity data were collected from 94 students. Conducted in April-June 2025, the study found that the average PM2.5 concentration (24.79 µg/m3) was below the threshold set by Permenkes No. 2 Tahun 2023 (25 µg/m3). Risk Quotient (RQ) calculations showed RQ ≤ 1 for all samples and individuals, indicating no significant health risk. 
Read More
S-12007
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Martanto; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Enny Wahyu Lestari
Abstrak: Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat dominan di kecamatan Cikajang Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Komoditas utamanya yaitu cabai, kol, wortel, tomat dan kentang. Kegiatan pertanian tidak terlepas dari penggunaan pestisida. Petani biasa mengkonsumi Sayuran dari hasil pertaniannya sehingga dapat menimbulkan risiko gangguan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko kesehatan akibat konsumsi sayuran yang mengandung residu pestisida di Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut. Metode penelitian adalah observasional study dengan rancangan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan. Survei sosial-demografi dan diet dengan wawancara 99 petani dilakukan dari bulan Maret-Mei 2017. Sampel cabai diekstraksi dengan menggunakan teknik QuechERS dan dihitung dengan kromatografi gas yang dilengkapi dengan detektor fotometrik nyala (FPD). Bahwa hasil penelitian menunjukkan sayuran yang mengandung residu pestisida adalah Cabai dengan Konsentrasi profenofos tertinggi yaitu sampel III yaitu 11,193 mg/kg, dan konsentrasi rata-rata yaitu 5,235 mg/kg, sedangkan untuk kubis dan wortel tidak ditemukan residu pestisida. Intake Profenofos melalui sayuran cabai pada petani di kecamatan Cikajang sebesar 0,05867 mg/kg/hari, dengan durasi pajanan sebesar 33,4 tahun, berat badan sebesar 57,37 kg. Laju asupan sebesar 0,3571 gr/hari dan frekuensi pajanan sebesar 52 hari/tahun. Konsentrasi profenofos dalam sayur Cabai telah melewati batas normal menurut EPA (2006) yaitu 0,00005 mg/kg/h. Hasil menunjukkan untuk RQ non karsinogenik memiliki risiko untuk terkena penyakit. Sehingga manajemen pengurangan risiko kesehatan perlu dilakukan. Kata kunci: Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan, Sayuran, Kubis, Wortel Cabai, Residu pestisida, Profenofos. The agricultural sector is a very dominant sector in Cikajang subdistrict, Garut regency, West Java Province. The main commodities are chili, cabbage, carrots, tomatoes and potatoes. Agricultural activities cannot be separated from the use of pesticides. In general, farmers who consume vegetables from their agricultural product are at risk of health problems. This study aims to determine the health risks due to consumption of vegetables containing pesticide residues in District Cikajang Garut. The research method is observational study with the design of Environmental Health Risk Analysis. Socio-demographic and dietary survey were completed by face-to-face questionnaire among 99 0f horticulture Farmers from March-May 2017. The results showed that vegetables containing pesticide residue were Chili with the highest Profenofos concentration ie III sample that is 11,193 mg / kg, and the mean concentration of 5,235 mg / kg, while for cabbage and carrots not found pesticide residue. Intake Profenofos through chili vegetables at farmers in sub-district Cikajang 0.0587 mg / kg / day, with the duration of exposure of 33.4 years, weight of 57.37 kg. Intake rate of 0,3571 g / day and exposure frequency of 52 days / year. The profenofos concentration in Chili Vegetables has exceeded the normal limit according to EPA (2006) that is 0.00005 mg/kg/h. The results showed for non-carcinogenic RQ have a risk for exposure to the disease. So that health risk reduction management needs to be done. Keywords: Environmental Health Risk Analysis, Chili, Pesticide Residues, Profenofos.
Read More
S-9376
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive