Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 25299 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Lukman Hakim; Pembimbing: Sumedi Sudarsono; Penguji: Rudito Kuntoro, Dewi S. Soemarko
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan menilai hubungan profil lipid dengan perilaku gizi, pola makan, asupan nutrisi, gaya hidup, Indeks Massa Tubuh (IMT), Rasio Lpe-Lpa, penggunaan obat, dan faktor diabetes mellitus. Studi kros-seksional, ini melibatkan populasi pilot  perusahaan penerbangan PT X Jakarta, yang sedang menjalani Uji Kesehtan Periodik antara tgl. 21 Mai, 2001 sampai dengan 21 Juni, 2001. Data yang berhasil dikumpuikan meliputi, fraksi lipid serum, asupan nutrisi, perilaku gizi, pola makan, gaya hidup, IMT, Rasio Lpe-Lpa, penggunaan beta blocker, diuretika thiazide, dan faktor diabetes mellitus.Hasil : Rata-rata kadar kolesterol total 232.83 + 35.7 mg/dL, kolesterol HDL 39.7 + 2.2. kolesterol LDL 177.4 + 33.8, dan kadar trigliserida 162.8 + 68.3 mg/dL. Prevalensi hiperkolesterolemia 39.6 %, hiperkolesterolemia LDL 67.7 %, prevalensi dislipidemia 71,9 %. Rata-rata asupan energi total 1752.5 k.kal (614.5-3575.5), asupan protein 66.1 (9.90-132.8) gr, asupan lemak 632 (7.40-115.3) gr, sedangkan rata-rata asupan karbohidrat, SAFA, MUFA, PUFA, kolesterol dan serat, masing-masing: 2463 (853-545.3) gr, 30.7 (2.6-61,9) gr, 13.5 (1.40-28.6)gr, 7.2 (1-30.3) gr, 245 (0-1594.0) mg, dan 13 (3-66) gr. Subjek memiliki rata-rata IMT 25.5 + 2.7, rasio Lpe-Lpa 0.95 + 0.03. Prevalensi kegemukan 56.3 %, obesitas sentral 38.5 %. Sebagian besar subjek penelitian yaitu sebesar 59.4%, tidak teratur melakukan kegiatan olah-raga, perilaku gizi baik 5.2 % sedangkan perilaku gizi kurang sebesar 41.7%, dan pola makan baik hanya 3.1 %. Dijumpai hubungan bermakna antara rasio Lpe-Lpa dengan kolesterol total dengan p=0.0003, Berdasarkan analisis regresi logistik rasio Lpe-Lpa mempunyai hubungan paling kuat dengan kolesterol total, kolesterol LDL, dan dislipidemia.Kesimpulan : Asupan energi masih dibawah RDA, asupan SAFA tergolong kriteria lebih sebesar 55.2%, asupan serat tergolong rendah 83.3%, aktivitas kurang 63.6%. Terjadi keseimbangan energi positive, terlihat dari persentase kegemukan 56.3%, dan obesitas central 38.5%.


 

Lipid Profile Among P.T. X Civil Aviation Pilots and The Related Behavioral FactorsThe objective of study to assets the relationship between lipid profile and the nutrition behavior, nutrition intake, body mass index (BM), Waist-Hip circumference Ratio (WHR), life style, dietary pattern, flying stress, beta blacker and thiazide diuretic medication, and diabetes mellitus. This cross sectional study concerning population of PT X air line pilot's were being performed the periodically medical examination, between May 21, 2001 until June 21, 2001. The data had been collected from the level of lipid cerurn, nutrition intake, nutrition behavior, dietary pattern, BMI, WHR, beta blacker and thiazide diuretic medication, diabetes mellitus, flying stress, and life style including of physical activity, smocking and alcohol consumption habits.Results : The mean total cholesterol, LDL cholesterol, HDL cholesterol and tryglycerides were 232.8 + 35.7 mg/dL, 177.4 + 33.8 mg/dL, 39.7 + 2.2 mg/dL, and 162.8 + 68.3 mg/dL. The prevalence of hypercholesterolemia 39.6%, LDL hypercholesterolemia 67.7 %, and dislipidemia 71.9 %. The median of total energy 1752 kcal, (614.3-575.5), protein intake 66.1 gr (9.90-132.8), the mean carbohydrate intake, fat, SAFA, MUFA, PUFA, cholesterol were 246.7gr (85.7-545.3), 63.2 gr (7.4-115.3), 30.7gr (2.6-61.9), 13.5 gr (1.40-28.6), 7.2gr (1-30.3), and 245 mg (0-1594.0), the mean fiber intake 13 gr (3-66). The mean of BMI and AHR are: 25.5 + 2.7 and 0.95 + 0.03, the prevalence of overweight and obesity 56.3 %, central obesity 38.5 %. Most of the subject had low activity (59.4 %), good nutrition behavior 5.2 % while the less nutrition behavior as many 41.7 %, and good dietary pattern is just 3.1 %. There was significant relationship between WHR and the level of total cholesterol (p O.0003), and based on logistic regression analysis, WHR had strong relationship to total cholesterol, LDL cholesterol, and dislipidemia.Conclusion : Energy intake were lower compared to RDA, the high SAFA intake 55.2 %, low fiber intake 83.3 %, low activity 63.6 %, and there were positive energy balance exess, and contribute 56.3% obesity and overweight, and 38.5 % central obesity.

Read More
T-1512
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imron Khazim; Pembimbing: Resna A. Surawidjaja
T-832
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fikie Eliantho; Pembimbing: F.A. Gunawan; Penguji: Ridwan Zahdi Sjaaf, Heny Triasbudi
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mencari faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku aman awak kapal tunda PT. X yang beroperasi di anjungan lepas pantai area Balikpapan tahun 2004, dan merupakan studi yang bersifat kualitatif dengan variabel data bersifat kualitatif dan kuantitatif, yang kemudian dikuantitatifkan dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua awak kapal tunda PT. X yang beroperasi di anjungan lepas pantai area Balikpapan dengan jumlah keseluruhan responden sebanyak 86 orang. Analisis data menggunakan analisis statistik yaitu analisis univariat, dilanjutkan dengan analisis bivariat menggunakan uji signifikasi (chi-square), kemudian analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas awak kapal tunda (73 orangl 84.9%) mempunyai perilaku aman yang baik dalam menunjang keselamatan operasi harian. Berdasarkan uji signifikasi (chi-square) dan uji regresi logistik yang dilakukan terhadap dua belas variabel independen, diketahui bahwa faktor yang berkorelasi secara signifikan dengan perilaku aman awak kapal tunda PT. X adalah faktor masa kerja yang merupakan faktor internal. Masa kerja terbukti mempengaruhi perilaku aman awak kapal tunda PT. X sehingga untuk meningkatkan perilaku aman awak kapal tunda diperlukan adanya sistem pertukaran informasi/ pengalaman antara awak kapal senior atau awak kapal yang mempunyai masa kerjal pengalaman lebih lama kepada awak kapal baru (seperti pertemuan pagi harian, ramah tamah antara awak kapal yang libur dan personil darat bulanan/ perdua bulan, dan lain sebagainya sesuai kondisi operasional perusahaan), dan perlunya divisi HSE perusahaan bersama dengan personil darat lainnya untuk lebih aktif menginformasikan/ mengimplementasikan manual HSE sehingga timbul kesadaran awak kapal akan keutamaan keselamatan diatas kegiatan operasional atau kegiatan lainnya, karena hal ini juga didukung oleh pihak penyewa. Selain hal diatas perlu juga ditingkatkan dan digiatkan kegiatan pelatihan baik internal maupun eksternal dengan fasilitator perusahaan, dikarenakan keterbatasan penghasilan awak kapal, dan tanggungjawab perusahaan akan keselamatan dan peningkatan kemampuan/ pengetahuan awak kapal. Untuk peningkatan program pendidikan budaya keselamatan lainnya, bisa dilaksanakan propaganda melalui pamflet/ poster keselamatan, pencontohan penggunaan APD yang baik oleh personil darat, serta sosialisasi resikoresiko kecelakaan di kapal tunda yang mungkin terjadi. Peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan rekomendasi dan masukan kepada PT. X untuk pembuatan program guna mengurangi angka kecelakaan pada umumnya, dan khususnya untuk meningkatkan sadar keselamatan melalui program sadar keselamatan yang akan dirancang.

This research is going to find factors influence safety attitude of crew tugboats PT. X that. operated on offshore platform Balikpapan area 2004, and constitute of qualitative study with qualitative and quantitative data variable, then made it quantitative with cross-sectional approach. Population in this research are all of the crew tugboats PT. X that operated on offshore Balikpapan with quantity of responden. 86 person. Data analysis using statistic analysis i.e univariate analysis, follow up by bivariate analysis with chi square test, then multivariate analysis using logistic regression test. Result of research show that majority of crew tugboats (73 person/ 84.9%) having good safety attitude for supporting daily safety operation. Basis chi square test and logistic regression test had done to twelve independence variables, result that related factor significant influence safety attitude of crew tugboats PT. X is working period, it's one of research internal factors. Working period proven tobe influence safety attitude of crew tugboats PT. X, and to improve safety attitude of crew tugboats need proper system information exchange/ experiences between senior crews or crews having morel longer experiences to junior crews (like daily morning meeting, monthly or bi-monthly conversable between off duty crews and onshore personnel, and etc asper company's operational condition), and HSE division with others onshore personnel need more active to inform/ implement HSE manual, enable develop safety awareness crew tugboats with safety priority upon operational activity or other activities, since this is also supported by the chatterer. Besides the above mentioned, need to improve and more active in training activities (internal or external) which facilitated by company, since limitedness of crews income, and company responsibility with safety and crew skill/ knowledge development. Other improvement safety culture program could be done by propaganda using safety pamphlet/ poster, proper utilizing PPE training by onshore personnel as sample, and also socialization with accident risks onboard that might be happened. Researcher hopefully this research could give proper recommendation and input to PT. X for developing one program aim to minimize incident rate (common purpose), and to improve safety awareness through safety awareness program that will be developed by the company (specific purpose).
Read More
T-1902
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alaitanisa Nabila; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Widura Imam Mustopo
Abstrak:
Dalam praktiknya, industri penerbangan memiliki sistem yang kompleks dengan tingkat risiko yang tinggi, dimana sistem operasional yang tidak aman dapat menimbulkan dampak yang merugikan. Maka dari itu, aspek keselamatan merupakan aspek yang diutamakan dalam industri penerbangan. Walaupun penerbangan sudah dianggap moda transportasi yang paling aman, masih terdapat ruang untuk mempertahankan dan juga meningkatkan performa keselamatan. Sejumlah penelitian menunjukkan pentingnya pengukuran iklim keselamatan dan kaitanya dengan performa keselamatan di perusahaan. Maka dari itu, pengukuran Iklim leselamatan pada perusahaan yang baru saja menyediakan pelayanan penerbangan komersil berjadwal. Hasil menunjukkan bahwa perusahaan penerbangan komersil yang diteliti memiliki iklim keselamatan yang optimal, walaupun masih terdapat ruang untuk perbaikan pada dimensi yang terkait dengan equipment & maintenance dan safety rule & procedure.

The safety aspect is a priority in Aviation Industry due to its nature, which involves a complex system with a high level of risk, where unsafe operational systems can lead to detrimental impacts. The aviation industry has taken significant steps to improve its overall safety systems, resulting in travel by air is now considered to be the safest mode of transport. Nevertheless, the continuous effort to uphold and enhance safety remains crucial, and there are still areas where safety enhancements can be implemented. Several studies show the importance of measuring the safety climate and its relation to safety performance especially in High Risk Industries (HRO) such as Aviation. Therefore, measuring safety climate is crucial to be conducted for an airline that has just begun providing scheduled commercial aviation services, PT XYZ. The results show that the airline being studied has an optimal safety climate, although there is still room for improvement in the dimensions related to Equipment & Maintenance and Safety Rules & Procedures.
Read More
T-6812
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudihe Harianto; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Hendra, Dadan Erwandi, Emy Rianti, Widura Imam Mustopo
T-3261
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jumiati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Hanny Harjulianti, Arie Meutia Nada
Abstrak:
Distress psikologis merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang dapat memengaruhi kesejahteraan, produktivitas, dan kualitas kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN). Berbagai faktor risiko psikososial, baik yang berasal dari organisasi maupun individu, diduga berkontribusi terhadap munculnya distress psikologis pada ASN. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko psikososial yang meliputi faktor organisasi dan faktor individu terhadap distress psikologis pada ASN di Kantor Walikota X. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 257 responden yang dipilih menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat serta uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 75 responden (29,2%) mengalami distress psikologis, sedangkan 182 responden (70,8%) tidak mengalami distress psikologis. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara tuntutan kerja (p=0,001), konflik peran (p=0,001), kondisi kesehatan (p=0,001), resiliensi psikologis (p=0,003), tekanan finansial (p=0,001), dan penggunaan media sosial (p=0,001) dengan distress psikologis. Sebaliknya, keadilan organisasi (p=0,099), dukungan sosial (p=0,680), dan mekanisme koping (p=1,000) tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan distress psikologis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor risiko psikososial yang berhubungan dengan distress psikologis pada ASN meliputi tuntutan kerja, konflik peran, kondisi kesehatan, resiliensi psikologis, tekanan finansial, dan penggunaan media sosial. Oleh karena itu, organisasi perlu mengembangkan program promotif dan preventif kesehatan mental, seperti Employee Assistance Program (EAP), penguatan resiliensi psikologis, literasi keuangan, serta edukasi penggunaan media sosial yang sehat guna mendukung kesejahteraan psikologis ASN dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Psychological distress is a mental health issue that can impact the well-being, productivity, and quality of performance of State Civil Servants (ASN). Various psychosocial risk factors, both organizational and individual, are suspected to contribute to the emergence of psychological distress in ASN. This study aims to analyze the relationship between psychosocial risk factors, including organizational and individual factors, and psychological distress in ASN at the Mayor's Office X. The study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 257 respondents selected using proportional stratified random sampling. Data were collected through questionnaires and analyzed using univariate analysis and the Chi-Square test to determine the relationship between variables. The results showed that 75 respondents (29.2%) experienced psychological distress, while 182 respondents (70.8%) did not experience psychological distress. Bivariate analysis showed a significant relationship between job demands (p=0.001), role conflict (p=0.001), health conditions (p=0.001), psychological resilience (p=0.003), financial stress (p=0.001), and social media use (p=0.001) and psychological distress. Conversely, organizational justice (p=0.099), social support (p=0.680), and coping mechanisms (p=1.000) did not show a significant relationship with psychological distress. This study concluded that psychosocial risk factors associated with psychological distress in civil servants include job demands, role conflict, health conditions, psychological resilience, financial stress, and social media use. Therefore, organizations need to develop promotive and preventive mental health programs, such as Employee Assistance Programs (EAPs), strengthening psychological resilience, financial literacy, and education on healthy social media use to support the psychological well-being of civil servants and improve the quality of public services.
Read More
T-7646
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abyan Rafi Haidar; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Robiana Modjo, Yuni Kusminanti
Abstrak: Pengendara ojek online yang memiliki durasi dan frekuensi berkendara yang tinggi merupakan salah satu kelompok pengendara dengan risiko terbesar ketika berkendara. Oleh karena itu penting bagi pengendara ojek online untuk selalu menerapkan perilaku keselamatan berkendara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi perilaku keselamatan berkendara dan menganalisis faktor faktor yang berhubungan dengan perilaku keselamatan berkendara pada pengendara ojek online Kota Depok. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional menggunakan kuesioner Indonesian Motorcycle Rider Behavior Questionnaire (MRBQ) serta kuesioner tambahan lainnya yang disebar secara daring dan luring terhadap 100 pengendara ojek online Kota Depok. Variabel yang diteliti adalah faktor internal (usia, tingkat pendidikan, masa kerja, pengalaman kecelakaan,keterampilan berkendara, persepsi risiko, sikap) dan faktor eksternal (keikutsertaan pelatihan berkendara) serta perilaku keselamatan berkendara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 61% pengendara ojek online yang memiliki perilaku keselamatan berkendara baik. Ditemukan juga hubungan yang signifikan antara sikap,persepsi risiko, dan keikutsertaan pelatihan terhadap perilaku keselamatan berkendara. berdasarkan hasil tersebut, perlu dilakukan berbagai upaya pengendalian dengan cara mengidentifikasi perilaku berkendara pada pengendara dengan cara melakukan evaluasi berkala, mengembangkan program pelatihan yang bersifat interaktif dan berkelanjutan, serta memanfaatkan teknologi pada aplikasi untuk membantu melakukan evaluasi, edukasi, dan sosialisasi keselamatan berkendara.
Online motorcycle taxi riders are one of the groups of riders with the greatest risk when riding because of their high duration and frequency of riding. Therefore, it is important for online motorcycle taxi riders to always implement safety riding behavior. This study aims to identify the prevalence of safety riding behavior and analyze the factors associated with safety riding behavior among online motorcycle taxi drivers in Depok. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design using the Indonesian Motorcycle Rider Behavior Questionnaire (MRBQ) and other additional questionnaires distributed online and offline to 100 online motorcycle taxi riders in Depok. The variables studied were internal factors (age, education level, years of service, accident experience, riding skills, risk perception, attitudes) and external factors (participation in safety riding training) as well as safety riding behavior itself. The results showed that there were 61% of online motorcycle taxi riders who had good safety riding behavior. It was also found that there was a significant relationship between attitude, risk perception, and participation in safety riding training. Based on these results, it is necessary to carry out various control efforts to improve safety riding behavior by identifying riding behavior in motorists by conducting periodic evaluations, developing interactive and sustainable training programs, and utilizing the technology through applications to help evaluate, educate, and socialize safety riding on online motorcycle taxi riders.
Read More
S-10982
Depok : FKM UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rani Gustari; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Yuni Kusminanti
Abstrak: Juru masak dan asisten juru masak merupakan pekerjaan yang berisiko tinggi mengalami kecelakaan saat bekerja. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan melihat bagaimana gambaran faktor-faktor keselamatan para juru masak dan asisten juru masak pada proses pengelolaan makanan jasaboga penerbangan Aerofood Angkasa Citra Sarana Jakarta pada tahun 2012. Setelah mendapatkan data hasil pengamatan faktor-faktor tersebut selanjutnya dibandingkan dengan Kepmenaker no. 217 tahun 2009, Kepmenkes No. 715 tahun 2003, Permenkes RI no. 1096 thn 2011 pasal 5, UU No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, dan OSHA 2010 (Youth Worker Safety in Restaurant). Dari hasil penelitian diketahui bahwa beberapa poin faktor keselamatan juru masak dan asisten juru masak Aerofood ACS sudah terpenuhi, seperti kondisi ventilasi, pencahayaan, pengetahuan juru masak dan asisten juru masak, kondisi peralatan dan mesin, serta prosedur P3K. Kondisi kebersihan lingkungan seperti lantai, dinding, dan langit-langit masih belum memenuhi standar. Prosedur pencatatan dan pelaporan kecelakaan juga masih belum terlaksana dengan baik. Juru masak dan asisten juru masak belum memiliki sertifikat KKNI II dan III. Belum seluruh juru masak dan asisten juru masak mengikuti pelatihan K3. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor keselamatan juru masak dan asisten juru masak masih harus dibenahi, seperti pelatihan K3, sertifikasi, kondisi lingkungan, dan prosedur pelaporan dan pencatatan kecelakaan.
 

Cook and assistant cook are at high risk of work accidents. This research was conducted with the aim of seeing how the safety factors of the cooks and assistant cooks in the Aerofood Angkasa Citra Sarana Flight Catering Jakarta food management in 2012. After getting the data observed factors are then compared with the Kepmenaker no. 217 yr 2009, Kepmenkes No. 715 yr 2003, Permenkes RI no. 1096 yr 2011 pasal 5, UU No.13 tahun 2003, and OSHA 2010 (Youth Worker Safety in Restaurant). The survey results revealed that some points of safety factors of cooks and assistant cooks Aerofood ACS are met, such as the conditions of ventilation, lighting, cooks and assistant cooks’s knowledge, condition of equipment and machinery, as well as first aid procedures. Environmental hygiene conditions such as floors, walls, and ceilings still not meet the standards. Procedures for recording and reporting the accident is still not performing well. Cook and assistant cook KKNI not have a certificate II and III. Not all cooks and assistant cooks got basic safety training. From the results of this study concluded that the safety factors cooks and assistant cooks still need to be addressed, such as safety training, certification, environmental conditions, and procedures for reporting and recording accidents.
Read More
S-7703
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elga Alifqiah Ihsan; Pembimbing: Hendra; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Mila Tejamaya, Neni Herlina, Iting Shofwati
Abstrak:
Kecelakaan lalu lintas masih menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia, dengan lebih dari 1,19 juta kematian setiap tahun, dan pengendara sepeda motor merupakan kelompok yang paling rentan mengalaminya, terutama di negara berkembang seperti Indonesia (WHO, 2023). Di Indonesia, jumlah kecelakaan lalu lintas nasional pada tahun 2025 mencapai sekitar 158.508 kasus, dengan sepeda motor terlibat pada 70–76% kejadian dan faktor manusia atau perilaku berkendara yang tidak aman menjadi penyebab dominan pada 90–93% kasus, sehingga di Kota Depok saja diperkirakan terdapat 315–372 kasus kecelakaan roda dua akibat perilaku tidak aman sepanjang tahun 2025 (Korlantas Polri, 2025). Kondisi ini menempatkan pengemudi ojek online sebagai kelompok pekerja transportasi informal dengan risiko kecelakaan kerja yang tinggi, terutama di Kota Depok yang memiliki kepadatan lalu lintas tinggi serta tekanan pemenuhan target pendapatan harian, sehingga keselamatan berkendara menjadi masalah kesehatan kerja yang penting untuk diteliti. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal yang berhubungan dengan perilaku keselamatan berkendara pada pengemudi ojek online di Kota Depok tahun 2026. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang (cross-sectional) dengan melibatkan 162 pengemudi ojek online yang direkrut secara purposive sampling. Perilaku berkendara diukur menggunakan instrumen Motorcycle Rider Behaviour Questionnaire (MRBQ) versi Indonesia yang telah tervalidasi. Analisis data dilakukan dengan uji bivariat menggunakan Chi-Square serta perhitungan Odds Ratio (OR) pada tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Sebanyak 79 responden (46,9%) tergolong kategori perilaku berisiko tinggi dan 86 responden (53,1%) tergolong berisiko rendah. Pada faktor internal, variabel usia (p=0,010; OR=0,42), pengetahuan (p=0,010; OR=0,41), dan pengalaman kerja (p=0,017; OR=0,44) terbukti berhubungan secara bermakna dengan perilaku keselamatan berkendara, sedangkan variabel jenis kelamin (p=0,360) dan sikap (p=0,083) tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Seluruh variabel faktor eksternal, yaitu kelayakan APD (p=0,966), kondisi kendaraan (p=0,967), kondisi jalan (p=0,460), dan peran perusahaan/platform aplikasi (p=0,324), juga tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan perilaku keselamatan berkendara. Kesimpulan: Perilaku keselamatan berkendara pengemudi ojek online di Kota Depok lebih banyak dipengaruhi oleh faktor internal individu, khususnya usia, pengetahuan, dan pengalaman kerja, dibandingkan faktor eksternal yang bersifat lingkungan dan kelembagaan. Intervensi yang efektif sebaiknya diprioritaskan pada peningkatan pengetahuan dan pelatihan keselamatan berkelanjutan bagi pengemudi, tanpa mengesampingkan pentingnya perbaikan infrastruktur jalan dan penguatan kebijakan keselamatan dari perusahaan aplikasi secara paralel.

Traffic accidents remain one of the leading causes of death worldwide, claiming more than 1.19 million lives every year, with motorcyclists identified as the most vulnerable road user group, particularly in developing countries such as Indonesia (WHO, 2023). In Indonesia, the total number of national traffic accidents in 2025 reached approximately 158,508 cases, with motorcycles involved in 70–76% of these incidents and unsafe human behavior identified as the dominant cause in 90–93% of cases, so that Depok City alone was estimated to record 315–372 two-wheeler accident cases attributable to unsafe riding behavior throughout 2025 (Korlantas Polri, 2025). This condition places online motorcycle taxi (ojek online) drivers among the informal transport workforce most exposed to occupational accident risk, particularly in Depok City, where dense traffic conditions and pressure to meet daily income targets make riding safety behavior a critical occupational health issue to investigate. Objective: This study aimed to analyze the internal and external factors associated with riding safety behavior among online motorcycle taxi drivers in Depok City in 2026. Methods: This study used a cross-sectional design involving 162 online motorcycle taxi drivers recruited through purposive sampling. Riding behavior was measured using the validated Indonesian version of the Motorcycle Rider Behaviour Questionnaire (MRBQ). Data were analyzed using the Chi-Square test and Odds Ratio (OR) calculation at a significance level of p < 0.05. Results: A total of 79 respondents (46.9%) were classified into the high-risk behavior category and 86 respondents (53.1%) into the low-risk category. Among internal factors, age (p=0.010; OR=0.42), knowledge (p=0.010; OR=0.41), and work experience (p=0.017; OR=0.44) were significantly associated with riding safety behavior, whereas sex (p=0.360) and attitude (p=0.083) showed no significant association. None of the external factors, namely PPE completeness (p=0.966), vehicle condition (p=0.967), road condition (p=0.460), and company/application platform role (p=0.324), were significantly associated with riding safety behavior. Conclusion: Riding safety behavior among online motorcycle taxi drivers in Depok City is more strongly influenced by individual internal factors—particularly age, knowledge, and work experience—than by external environmental and institutional factors. Effective interventions should therefore prioritize continuous safety knowledge improvement and refresher training for drivers, while not neglecting parallel efforts to improve road infrastructure and strengthen safety policies from application companies.
Read More
T-7618
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kristin Indriyani; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Baiduri, Hendra, Sumaryanto, Muhammad Fertiaz
Abstrak: Penelitian ini melakukan investigasi terhadap faktor-faktor ergonomi yang berhubungan dengan Indoor Health and Comfort/IHC (dengan indikator keluhan gejala SBS dan kenyamanan kerja) dan keluhan MSS yang dialami oleh pegawai fungsional dan staf di Kantor X. Penelitian ini dilakukan di Kantor X dengan objek penelitian yaitu pegawai fungsional dan staf yang bekerja menggunakan komputer/laptop dan berada di ruangan staf bertipe cubicle (ruangan A, B, C, D, dan E). Penelitian ini dilakukan melalui pengamatan, wawancara, pengukuran kualitas lingkungan kerja di dalam ruangan serta pengisian kuesioner kenyamanan kerja, keluhan gejala SBS dan keluhan MSS. 53,85% pegawai memiliki tingkat kenyamanan kerja tinggi dan 46,15% pegawai memiliki tingkat kenyamanan kerja rendah. 53,85% pegawai merasakan keluhan gejala SBS dengan keluhan paling banyak ditemui 33,85% mata lelah dan 33,85% lelah atau mengantuk. 78,57% pegawai mengalami keluhan MSS. Faktor-faktor ergonomi yang tidak sesuai dengan standar meliputi : dimensi kursi, dimensi meja, penggunaan perangkat komputer, postur kerja, dimensi ruangan, layout ruangan, warna ruangan, serta faktor lingkungan berupa kebisingan, pencahayaan, temperatur, kelembaban, karbondioksida, formaldehyde, dan VOCs. Ditemukan adanya hubungan signifikan antara faktor level aktivitas dengan kenyamanan kerja; serta faktor konsentrasi VOCs dengan keluhan gejala SBS. Tidak terdapat hubungan signifikan antara faktor-faktor ergonomi yang diteliti dengan keluhan MSS.

This study presents our investigations of ergonomic factors that related to Indoor Health and Comfort/IHC (with indicators Sick Building Syndrome (SBS) symptoms and work comfort) and Musculaskeletal Symptoms (MSS) suffered by functional and staff workers in Office X year 2017. Conducted in X Office in Indonesia, with the object study are functional and staff workers who work using computer or laptop in staff room which cubicle type (room A, B, C, D, and E). This study perform via walktrought observation, interview, measure indoor air quality/environment factors and fill indoor comfort quesionaire, SBS symptoms quesionaire and Nordic Body Map (NBM) quesionaire . 53,85% of workers have a high level of work comfort and 46,15% of workers have a low level of work comfort. 53,85% of workers suffered complaint of SBS symptoms with at most complaint of SBS symptoms be found are 33,85% tired or strained eyes and 33,85% fatigue or drowsiness. 78,57% of workers suffered MSS complaint. Ergonomic factors that not comform to standard include seat dimensions, table dimensions, computer used, work posture, room dimensions, room layout, room colors, and noise, lighting, temperature, humidity, carbon dioxide , formaldehyde, and VOCs. There is significant relationship between activity level factors and work comfort; VOCs concentration and complaint of SBS symptoms. There is no significant relationship between ergonomic factors are studied and MSS complaint.
Read More
T-5019
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive