Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34992 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Edward Hartono; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Amila Megraini, M. Hafizurrachman, Judiwan D. Maswar
B-878
Depok : FKM UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulisar Khiat; Pembimbing: Hafizurrahchman; Penguji: Ede Surya Darmawan, Dumilah Ayuningtyas, Endang Adriyani
Abstrak: Latar Belakang. Pengendalian persediaan perbekalan farmasi dengan mempergunakan sistem komputer secara terintegrasi bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan, mengingat banyak aspek yang terkait yang perlu dipersiapkan dengan baik, dimana kebijakan persediaan perbekalan farmasi dan pencatatan akuntansi harus jelas, sistem informasi pengelolaan persediaan harus didesain dengan tepat, sumber daya manusia yang terlibat harus disiplin agar pelaporan dari persediaan perbekalan farmasi diperoleh dengan tepat dan akurat, tidak ada selisih antara pelaporan fisik dan pencatatan akuntansi. Tujuan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menganalisa informasi mengenai faktor penyebab selisih laporan persediaan perbekalan farmasi di Instalasi Farmasi dengan laporan persediaan di Bagian Keuangan. Penelitian dilakukan di Instalasi Farmasi dan Bagian Keuangan terhadap data bulan Januari sampai dengan Desember 2004. Metode. Jenis penelitian yang dipilih adalah deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum ada kebijakan persediaan perbekalan farmasi secara tertulis yang menyebabkan terjadi persepsi yang berbeda antar unit terkait, belum tersosialisasinya standar operasional prosedur persediaan perbekalan farmasi mengakibatkan kegiatan pengelolaan perbekalan farmasi bersama unit terkait tidak berjalan dengan baik, belum lengkapnya standar operasional prosedur tentang pencatatan akuntansi persediaan perbekalan yang mengakibatkan keragu-raguan terhadap hasil pencatatan yang ada, sumber daya manusia yang belum memahami sistem persediaan perbekalan farmasi sehingga terjadi tidak konsistennya petugas dalam menjalankan tugas yang telah ditetapkan dan belum berjalannya pengawasan terhadap dokumen penunjang yang mengakibatkan keraguan terhadap hasil keakuratan laporan persediaan perbekalan farmasi. Selain daripada itu program komputer yang mendukung terlaksananya pengendalian persediaan perbekalan farmasi mempunyai masalah dalam hal perangkat lunak (software) yaitu jaringan komputer yang mengakibatkan terjadinya hang dan fatal error, maupun perangkat keras (hardware) yaitu sistem kabeling dan konektor yang mengakibatkan terjadinya keterlambatan informasi. Kesimpulan : perlu disusun kebijakan persediaan perbekalan farmasi dan kebijakan akuntansi persediaan dengan SK Direktur, perlu dilakukannya penyempurnaan alur proses persediaan perbekalan farmasi di Instalasi Farmasi, perlu dikembangkannya alur proses persediaan perbekalan farmasi di Bagian Keuangan dengan mmenggunakan dokumen bukti pengeluaran obat dan alat kesehatan sebagai fungsi pengontrolan, agar dievaluasi SOP di Instalasi Farmasi (obat racikan dihitung sampai nilai desimal), perlu dibuatnya SOP di Bagian Keuangan dan disesuaikan dengan SOP lainnya, diperlukan pelatihan tentang manajemen logistik yang terintegrasi bagi para petugas struktural dan pelaksana, perlu adanya pengkajian ulang terhadap struktur organisasi di Instalasi Farmasi dan Bagian Keuangan, serta perlu dikembangkannya program komputer baik software maupun hardware, sehingga selisih antara laporan persediaan perbekalan farmasi di Instalasi Farmasi (nilai fisik) dengan laporan persediaan perbekalan farmasi di Bagian Keuangan (nilai General Ledger) dapat diminimalisasi seoptimal mungkin. Kata Kunci : farmasi, inventori, General Ledger.
Background. Pharmacy inventory controlling using integrated computer system is not a simple task to be done because the system depend on many aspects such as pharmacy regulation including a clear accountancy administration, a good pharmacy information system, good and discipline human resources so that report from pharmacy inventory system will be accurate and exact and there are no differences between physical report and accountancy report. Purpose. The purpose of this study is to analyzing and identifying the cause factors related to the discrepancy between inventory report in Pharmacy Unit and pharmacy inventory report in Finance Division. This is research a descriptive-analytical which is conducted by means of qualitative approach. Methodes. The qualitative data collection is conducted using in-depth interview methode and data base from January to December 2004. The research is contucted in Pharmacy Unit and Finance Division at Ibu dan Anak HERMINA. Result. The result of this research showed that the dicrepancy between pharmacy inventory and accounting reports are caused by unwritten regulation on pharmacy inventory, unsocialized procedure standart related to pharmacy inventory, incomplete procedure standart on Accuntancy Unit, and minimal controlling in checking and cross checking between physical report and accountancy report. Besides that the computer program which support pharmacy inventory control have several problems in their sofware and hardware system. Conclusion. It is recommended recommendations that the hospital should develop the procedure standart in managing pharmacy inventory related to Pharmacy Unit, Finance Division, Electronic Data Processing (EDP). Therefore discrepancy between pharmacy inventory report (physical evidence) with finance report (general ledger point) can be minimized. Keywords : Pharmacy, inventory, General Ledger.
Read More
B-857
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nuryati Djuli; Pembimbing: Hendrik M. Taurany; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Wahyu Sulistiadi, Adia Susanti, Budi Hartono
Abstrak:

RSIA Hermina Bekasi merupakan rumah sakit ibu dan anak yang didirikan tahun 1997 dengan kapasitas 38 tempat tidur dan sekarang sudah memiliki 148 tempat tidur. Adanya penurunan BOR rawat inap ibu pada tahun 2010 dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, karena penambahan jumlah tempat tidur ditambah dengan persentase pasien ibu yang di rawat inap menurun. Selain itu pemasaran RSIA Hermina Bekasi tidak pernah melakukan segmentasi pelanggan dan target pasar, selama ini target pasar ditentukan oleh manajemen rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai segmentasi pasar berdasarkan segmentasi geografis, demografis, psikografis, dan perilaku serta untuk memperoleh target pasar pada rawat inap ibu di RSIA Hermina Bekasi. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Instrumen penelitian kuantitatif menggunakan angket kepada 77 responden dengan teknik pengambilan sampel proposional stratified sampling yang dipilih secara acak. Sedangkan untuk penelitian kualitatif menggunakan pedoman wawancara mendalam. Analisis data kuantitatif dilakukan dengan cara analisis univariat dan analisis data kualitatif dengan cara data-data yang memiliki kesamaan dikelompokkan dan disimpulkan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui pasien RSIA Hermina Bekasi adalah berasal dari kecamatan didalam kota Bekasi (52%) yaitu Bekasi Selatan, Bekasi Barat, Bekasi Utara dan Bekasi Timur dengan waktu tempuh kurang dari 30 menit (70,1%), berusia 20 ? 39 tahun (93,5%) dengan latar belakang pendidikan sarjana (42,9%), pekerjaan pasien pegawai swasta (33,8%) dan pekerjaan suami pegawai swasta (70,1%) dengan penghasilan < 5 juta rupiah (35,1%) dan penanggung jawab biaya dari perusahaan (44,2%). Dan Persepsi pasien mengenai kelengkapan, kebersihan dan kenyamanan kamar, persepsi mengenai SDM seperti dokter, perawat, dan petugas pendaftaran serta persepsi mengenai tarif pada umumnya baik. Target pasar RSIA Hermina Bekasi adalah pasien perusahaan.


 RSIA Hermina Bekasi is a mother and child hospital built in 1997 equipped with 38 beds and today it has 148 beds. The declining Bed of Occupancy Rate (BOR) of its mother inpatient in 2010 compared with the preceding years caused by the excessive number of beds and the declining percentage of mothers as patients treated. Moreover the marketing department of RSIA Hermina Bekasi has never done a customer segmentation and market target. Until today its market target determined by the hospital management. The purpose of this academic work is to collect information about market target based on geographical, demographical, psycho graphical and behavioral segmentation. This study has nature of analytic descriptive with quantitative and qualitative approaches. As instrument for the quantitative study, questionnaires with 77 respondents deployed and collected by using proportional stratified sampling method, while for the qualitative study, an in-depth interview was brought about. The quantitative data analysis carried out by using univariate analysis and subsequently the qualitative data analysis undertaken by means of grouping and concluding data with similar background. Results suggested that patients of RSIA Hermina Bekasi are from district in the city of Bekasi (52%) is south Bekasi, West Bekasi, North Bekasi, and East Bekasi, having time travel of 30 minutes (70.1%), aged of 20 ? 39 years old (93,5%), with bachelor educational background (42.9%), private employee as patients (33.8%), with husbands within private sectors (70.1%), having income less than IDR 5 million (35,1%) and companies as payer (44.2%). Furthermore, the perception of patients for inclusiveness, cleanliness, comfort of rooms, human resources such as doctors, nurses, administrations staffs and also of fare is considerably good. Market target of RSIA Hermina Bekasi is company patients.

Read More
B-1401
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alya Narselia; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Dias Minovanti
Abstrak: Salah satu bagian penting dari rumah sakit dimana pasien membutuhkan waktu untuk mengantri dalam mendapatkan pelayanan yaitu Instalasi Farmasi. Presentase kecepatan pelayanan resep obat jadi dan obat racik tahun 2018 di Rumah Sakit Hermina Daan Mogot selalu menurun setiap triwulannya dan belum memenuhi standar pencapaian yang telah ditetapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis waktu tunggu pelayanan resep pasien JKN dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di Instalasi Farmasi Rawat Jalan RS Hermina Daan Mogot pada jam sibuk. Jenis penelitian ini merupakan penelitian operasional yang bersifat kuantitatif dan kualitatif dengan metode yang digunakan berupa wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Jumlah sampel yang diamati dalam penelitian ini sebanyak 134 resep yang dipilih secara acak, terdiri dari 94 resep non racikan dan 40 resep racikan. Berdasarkan hasil penelitian, waktu tunggu pelayanan resep JKN rawat jalan belum memenuhi standar yang telah ditetapkan. Rata-rata waktu tunggu pelayanan resep non racikan sebesar 49 menit 43 detik dan resep racikan 1 jam 10 menit 23 detik. Faktor yang mempengaruhi waktu tunggu pelayanan resep, antara lain jumlah SDM yang kurang, pengetahuan petugas kurang memadai, jumlah komputer yang kurang, loket penerimaan resep hanya satu loket, mesin racikan sering rusak, sistem komputerisasi yang kurang memadai, kapasitas penyimpanan obat yang terbatas, ketidaktersediaan obat, masa kerja personil, dan disiplin petugas.
Kata Kunci: JKN, waktu tunggu, pelayanan resep, farmasi rumah sakit
Read More
S-9951
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aradita Syah Kameswara; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Sandi Iljanto, Wahyu Sulistiadi, Tiningsih Hardiani
Abstrak:

Pada prinsipnya asuransi merupakan himpunan dana dari suatu populasi untuk dimanfaatkan membiayai sejumlah kecil dari populasi tersebut apabila sedang jatuh sakit. Jaminan asuransi kesehatan merupakan sumber dana potensial yang dapat digalang untuk pemeliharaan masyarakat. Pemanfaatkan jasa asuransi didalam pembayaran pasien baik rawat jalan maupun rawat inap juga dilaksanakan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Hermina Jatinegara. Di RSIA Hermina Jatinegara, yang paling berpotensi menghasilkan piutang paling banyak dari segi nominal adalah piutang rawat inap asuransi dan perusahaan. Jumlah piutang tak tertagih pasien rawat inap jaminan asuransi dan perusahaan di RSIA Hermina Jatinegara mengalami peningkatan dari tahun 2004 ke tahun 2005 (Rp.48.942.938 3 Rp.116.072.250). Presentase piutang tak tertagih terhadap total tagihan asuransi dan perusahaan pada tahun 2004 dan tahun 2005 adalah sebesar 1,30%, dan 1,07%. Berarti jugs terjadi peningkatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bersifat pengembangan yang pengumpulan datanya dilakukan melalui observasi pada bagian bagian terkait, wawancara mendalam dengan para informan serta pengumpulan dokumen-dokumen pendukung. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa efektifitas penagihan piutang rawat inap pada jaminan asuransi dan perusahaan sehingga dapat menurunkan jumlah piutang tak tertagih dan meningkatkan pendapatan rumah sakit pada tahun 2005. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan sistem I.P.O. yaitu Input, Process dan Output. Melalui hasil penelitian ini diharapkan adanya perbaikan pada manajemen piutang yang akhirnya akan berdampak pada optimalisasi penagihan piutang rumah sakit. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa jumlah pelaksana di beberapa tahap siklus piutang dirasa kurang memadai. Begitu juga mengenai sarana pendukung untuk melaksanakan proses siklus piutang antara lain komputer, telepon, line telepon, faksimili dan ruangan kerja_ Selain itu kebijakan tentang periode penagihan belum ditetapkan, juga mengenai isi kontrak perjanjian kerjasama antara pihak rumah sakit dengan pihak asuransi dan perusahaan juga belum sepenuhnya dilaksanakan (punishmentldenda 2% bila debitur tidak melunasi kewajibannya dalam 30 hari). Pada akhir penelitian ini direkomendasikan perlunya diadakan diklat atau sosialisasiyang lebih sering pada bagian informasi, koordinasi yang lebih balk antara bagian terkait, pengadaan sarana yang lebih baik serta ketegasan dalam menjalankan perjanjian isi kontrak dengan pihak ketiga.


 

Principally insurance is the fund collection from a population in order to be used in costing a few amounts from such population if getting illness. Healthy insurance guarantee is a potential fund source that can be collected in order to maintain the society. The using of insurance service in paying of patient both out-patient or in-patient also be executed in Hermina Jatinegara Hospital. In Hermina Jatinegara Hospital. the most potential in producing receivable is from in-patient of insurance and company. In-patient bad-debt of insurance and company in Herrnina Jatinegara Hospital increase from 2004 to 2005 (Rp.48.942.938 - Rp.116.072.250). Percentage of bad-debt to total collectible amount in-patient of insurance and company of 2004 and 2005 is about 1,30%, and 1,07%. It means, increasing too. This research named qualitative descriptive research that have development characteristic which its data collection using observation in related department, in-depth interview with the informan and supporting documents collections. The goal of this research is to analize the effectiveness of in-patient insurance collection, so it can decrease bad-debt and increase the income of hospital in 2006. The method used in this research is I.P.O. approach system namely Input, Process and Output. By this result of research be hoped there is repairing in receivable management and finally, it have an effect into hospital collecting optimalizalion. The result of this research is known that the staff amount in some ciclus collection be felt less suitable. it is also about supporting tools in order to execute ciclus collection process which are computer. telephone, phone line, faximile and room. Beside that the policy about collection period that have not decided yet. also about cooperation agrement contract contain between hospital side and insurance and company side is not executed (punishment about 2% if the debitor is not pay their obligation in 30 days). In the end of this research recommended the importance of training education event or socialization that more frequent into information department, more better coordination between related department, the better supply of supporting tools and also the clearness in operating the contract contain agreement with the third party.

Read More
B-997
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nienne Aridayanthi Hainun; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Anhari Achadi; Puput Oktamianti, I. Ichsan Hanafi, Bambang Wisnubroto
Abstrak: Abstrak

Kepatuhan adalah sikap mentaati peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan tanpa pamrih. Rendahnya tingkat kepatuhan dokter spesialis terhadap kebijakan dan aturan di rumah sakit penting untuk segera ditangani oleh manajemen. Tujuan penelitian obsevasional ini, dengan pendekatan rancangan penelitian cross sectional, adalah mengetahui faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kepatuhan dokter spesialis terhadap kebijakan dan aturan di RS Hermina Daan Mogot.

Populasi penelitian: seluruh dokter spesialis di RS Hermina Daan Mogot. Analisis statistik yang digunakan: analisis bivariat dengan uji Chi Squre. Uji statistik Chi Square menghasilkan variabel yang memiliki hubungan bermakna dengan kepatuhan dokter spesialis yaitu p-value ≤ 0,05 adalah motivasi (p-value = 0,043). Dari analisis diperoleh pula nilai OR=2,4, artinya dokter yang motivasinya lebih mempunyai peluang 2,4 kali lebih baik dalam kepatuhan dibanding dokter yang motivasinya kurang. Perlu upaya mempertahankan motivasi kerja para dokter agar tetap di level yang tinggi, sehingga akhirnya berdampak positif bagi perkembangan rumah sakit kedepan.


Compliance is the attitude of obeying the rules and conditions set unconditionally. Low levels of compliance specialist in the policies and rules of the hospital is important to be addressed by management. The purpose of this observational research, with cross-sectional study design approach, is to know the internal and external factors affecting the specialists adherence to policies and rules in Hermina Daan Mogot Hospital.

Study population: all specialists in Hermina Daan Mogot Hospital. Staristical analysis used: bivariate analysis with Chi squre test. Chi Square statistical test results in variables that have a significant relationship with compliance specialists where p-value ≤ 0.05 is motivation (p-value = 0.043). Obtained also from the analysis of the value of OR = 2.4, meaning that physicians with more motivation have greater odds 2.4 times better adherence than physicians with less motivation. Necessary efforts are to maintain the motivation of doctors to remain at a high level, so that ultimately have a positive impact on the future development of the hospital.

Read More
B-1565
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sanwia Sumaheny; Pembimbing: Wachyu Sulistiad; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Puput Oktamianti, Ichsan Hanafi, Kaunang
Abstrak: Budaya keselamatan pasien (BKP) adalah penerapan sistem asuhan pasien dalamorganisasi yang tercermin dalam sikap, perilaku, keterampilan, komunikasi,kepemimpinan, pengetahuan, tanggung jawab, dan nilai yang ada dalam diripetugas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku organisasiberdasarkan karakteristik individu, kelompok dan organisasi terhadap budayakeselamatan pasien oleh perawat rawat inap di RS Hermina Daan MogotRSHDM). Desain penelitian ini menggunakan metode cross sectional denganresponden seluruh (111) perawat pelaksana pada unit rawat inap RSHDM. Datakuesioner dianalisis menggunakan metode univariat, bivariat dan multivariat.Hasil penelitian menunjukkan karakteristik individu, karakteristik kelompok dankarakteristik organisasi terhadap BKP di RSHDM adalah baik. Hasil BKPperawat pelaksana rawat inap RSHDM menunjukkan nilai baik. Tanggung jawabmenjadi satu-satunya variabel yang tidak ada hubungan dengan BKP sedangkankepemimpinan paling berhubungan dengan BKP.Kata kunci: Budaya keselamatan pasien (BKP), keselamatan pasien, perilakuorganisasi, karakteristik, individu, kelompok, organisasi,perawat.
Patient safety culture (PSC) is the application of patient care systems in theorganization which are reflected in the attitudes, behaviors, skills,communication, leadership, knowledge, responsibility, and values that exist inhealth care workers. This study aims to determine the organizational behaviorbased on the characteristics of individuals, groups and organizations on patientsafety culture by nurses on inpatient units in Hermina Hospital Daan Mogot(HHDM). The design of this study using cross-sectional method with respondentsfrom all (111) nurses on inpatient units in HHDM. Questionnaire data wereanalyzed using univariate, bivariate and multivariate analyzes. The resultsshowed the characteristics of an individual, group characteristics andorganizational characteristics of the PSC in HHDM is good. Results PSCinpatient nurses HHDM shows good value. Responsibility to be the only variablethat did not match while the leadership were most associated with PSC.Keywords: patient safety culture, patient safety, organizational behavior,individual characteristics, group characteristics, organizationalcharacteristics, nurse.
Read More
B-1621
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edy Tanuwidjaja; Pembimbing: Hafizurrahman; Penguji: Delias Yudiwan Maswar, Rima Fatmasari
Abstrak: Latar belakang: Instalasi Farmasi di rumah sakit merupakan salah satu revenue center utama yang berperan penting dalam menentukan baik tidaknya pelayanan rumah sakit, pengeluaran untuk instalasi farmasi di RSIA Hermina tahun 2003 sebesar Rp. 5.333.811.214,00 atau 30,53% dari total pengeluaran rumah sakit, dari jumlah tersebut 30%-35% adalah untuk obat antibiotik, sedangkan jumlah item obat antibiotik sebanyak 127 dan ternyata sebesar 30%-35% tidak dapat dilayani. Tujuan: Mengoptimalkan rencana kebutuhan obat antibiotik yang sesuai dengan tingkat pemakaian, biaya investasi dan tingkat kekritisannya dan mengevaluasi pemesanan obat yang optimal pada tahun 2005 Metode: Pendekatan kuantitatif digunakan memperoleh informasi tentang pengelolaan obat yang merupakan prioritas, sedangkan dengan operation research didapatkan dengan menghitung perkiraan atau forecasting terhadap jenis obat prioritas sekaligus juga akan dihitung jumlah persediaan yang optimal dengan menggunakan EOQ. Hasil: Hasil perhitungan analisis ABC berdasarkan jumlah investasi didapatkan bahwa kelompok A berjumlah 16 item dengan nilai investasi 41,06 % dari total investasi dan 39,45% dari total pemakaian.sedangkan kelompok B yaitu 39 item, nilai pemakaiannya adalah 39,45 % dari total pemakaian, sedangkan nilai investasinya adalah sebesar Rp. 468.735.748 atau sebesar 46,21 % dari investasi. Peramalan weighted moving average 6 periode merupakan jenis peramalan yang mempunyai tingkat kesalahan paling kecil dan sesuai bila digunakan untuk memperkirakan jumlah kebutuhan antibiotik. Kesimpulan: Dengan diketahuinya perkiraan kebutuhan pemakaian obat antibiotik, maka akan dapat dihitung Economic Order Quantity dari hasi perhitungan tersebut, maka perhitungan EOQ yang disesuaikan merupakan yang paling cocok agar pemesanan obat jenis antibiotik menjadi optimal. Kata kunci (keywords) : Antibiotik, Analisis ABC, Forecasting, Economic Order Quantity
Background: Pharmacy Unit serves a major revenue center which plays important roles in determining a hospital’s good or poor services. Rumah Sakit Ibu dan Anak Hermina Daan Mogot (”A Hospital for Women and Children”) spended Rp5.333.811.214,00 for this unit in 2003 or 30.53% of the total hospital expenditures, and out of the amount, 30% - 35% was allocated for 127 antibiotic medicines. Of this number, 36% can not actually be served by the hospital. Objective: To Optimizing the planning of antibiotic drugs, and made subdividing it according to usage level, investment level, need level, calculate critically indexing and to evaluate drugs purchasing system at year 2005.. Methods: Using quantitative approach, it is anticipated to obtain information about medical administration and types of priority medicines, while forecasting the latter and economic optimum inventory draws operation research and to calculate numbers of optimal inventory with Economic Order Quantity Results: of the ABC Analysis calculation according to total investment identify that Group A comprises 16 items of antibiotic medicines with 41.06 % of the total investment into this medicine and 39.45 % of the total usage whereas Group B 39 items, 39.45 % of the total usage of antibiotic medicines while its investment value reaches Rp 468.735.748 or 46,21 % of the investment into antibiotic medicines. Weighted moving average 6 period is an appropriate forecasting method at the least error for projecting total antibiotic requirement. Conclusions: Recognizing projection of the total antibiotic requirement and usage, one will be able to calculate Economic Order Quantity and thus adjusted EOQ is the most appropriate method to keep the order antibiotic medicines optimum. Keywords : Antibiotics, Analisis ABC, Forecasting, Economic Order Quantity
Read More
B-846
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hana Johan Sastradijaya; Pembimbing: Suprijanto Rijadi
B-820
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Isma Sari Chumairah; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Kurnia Sari, Vetty Yulianty Permanasari, Anis Mardiyah, Iing Ichsan Hanafi
Abstrak:
Kamar operasi merupakan unit pelayanan strategis yang berperan penting terhadap mutu layanan dan indikator kinerja rumah sakit, namun pencapaian volume tindakan operasi tidak selalu mencerminkan pemanfaatan waktu kamar operasi yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan utilisasi kamar operasi di RS Hermina Depok serta merumuskan strategi optimalisasi yang dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan kualitas pelayanan bedah tanpa mengurangi mutu layanan rumah sakit maupun keselamatan pasien. Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dengan desain crossectional, yang menggunakan seluruh tindakan operasi yang dilaksanakan di tujuh kamar operasi selama bulan Oktober 2025 sebagai sampel penelitian. Utilisasi kamar operasi dihitung berdasarkan pemanfaatan waktu operasional dan dikategorikan menjadi utilisasi optimal dan rendah. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik sederhana, sedangkan analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Selama periode penelitian, tercatat 1.021 tindakan operasi, melampaui target manajemen, yaitu 900 tindakan, namun sebagian besar hari operasional berada pada kategori utilisasi rendah (<70%), dengan 64,2% tindakan berlangsung pada hari dengan utilisasi rendah dan tidak ditemukan kejadian over-utilization. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa usia pasien 45–59 tahun (Adjusted OR 1,720; 95% CI 1,032–2,866) dan ≥60 tahun (Adjusted OR 1,983; 95% CI 1,147–3,430) berhubungan dengan peningkatan peluang utilisasi kamar operasi berada pada kategori rendah dibandingkan kelompok usia anak. Faktor rumah sakit yang paling konsisten berhubungan dengan utilisasi rendah adalah status penjadwalan yang tidak tercatat (Adjusted OR 2,061; 95% CI 1,043–4,074), sementara faktor lain seperti status ASA, persiapan pasien, kehadiran dan persetujuan tindakan, jenis pembiayaan, ketersediaan dan ketepatan waktu kedatangan SDM, waktu turnover, jenis prosedur, dan spesialisasi tindakan tidak menunjukkan hubungan signifikan setelah dikontrol dalam model. Temuan ini menunjukkan bahwa utilisasi kamar operasi di RS Hermina Depok belum optimal meskipun target volume tindakan tercapai, dan rendahnya utilisasi lebih dipengaruhi oleh aspek pengelolaan waktu dan pencatatan penjadwalan operasi. Oleh karena itu, strategi optimalisasi perlu diarahkan pada penguatan sistem penjadwalan terintegrasi berbasis waktu serta pengembangan persiapan praoperatif yang lebih komprehensif bagi pasien usia lanjut (geriatrik), guna mengantisipasi kompleksitas klinis dan kebutuhan khusus kelompok usia tersebut, sehingga pemanfaatan kamar operasi dapat ditingkatkan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan mutu layanan dan keselamatan pasien. Kata kunci: Kamar Operasi, Utilisasi, Faktor Pasien, Faktor Rumah Sakit, Efisiensi

The operating room is a strategic service unit that plays a critical role in healthcare quality and hospital performance indicators; however, achieving surgical volume targets does not necessarily reflect optimal utilization of operating room time. This study aimed to analyze factors influencing operating room utilization at Hermina Depok Hospital and to formulate optimization strategies that enhance efficiency, effectiveness, and surgical service quality without compromising patient safety or care standards. A quantitative study with a cross-sectional design was conducted, including all surgical procedures performed in seven operating rooms during October 2025. Operating room utilization was calculated based on actual operating time and categorized into optimal and low utilization. Bivariate analysis was performed using Chi-square tests and simple logistic regression, while multivariate analysis employed multiple logistic regression. During the study period, 1,021 surgical procedures were recorded, exceeding the management target of 900 procedures; however, most operating days fell into the low utilization category (<70%), with 64.2% of procedures occurring on low-utilization days and no instances of over-utilization observed. Multivariate analysis showed that patient age was the only patient-related factor associated with operating room utilization, with patients aged 45–59 years (Adjusted OR 1.720; 95% CI 1.032–2.866) and ≥60 years (Adjusted OR 1.983; 95% CI 1.147–3.430) having a higher likelihood of low operating room utilization compared to pediatric patients. The most consistent hospital-related factor associated with low utilization was undocumented scheduling status (Adjusted OR 2.061; 95% CI 1.043–4.074), while other factors—including ASA status, preoperative preparation, patient attendance and consent, payment method, staff availability and punctuality, turnover time, procedure type, and surgical specialty—were not significantly associated after adjustment. These findings indicate that operating room utilization at Hermina Depok Hospital remains suboptimal despite achieving surgical volume targets and is primarily influenced by time management and scheduling documentation. Therefore, optimization strategies should focus on strengthening time-based integrated scheduling systems and developing more comprehensive preoperative preparation for geriatric patients to address clinical complexity and special care needs, thereby improving sustainable operating room utilization without compromising service quality or patient safety.
Read More
B-2569
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive