Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36934 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nisle Purada Sihombing; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Suprijanto Rijadi, Mardiati Nadjib, F.X. Santoso Soemidjo
Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis proses discharge pasien rawat inap di RS St. ElisabethBekasi dengan menggunakan pendekatan Lean Six Sigma melalui metode kualitatif denganpengamatan pada 6 unit yang terlibat. Pendekatan Six Sigma mencoba mengurangi variasiwaktu pada setiap tahapan discharge di masing-masing unit tersebut, pendekatan Leanmengidentifikasi aktifitas yang tidak menambah nilai dan berusaha menguranginya. Hasilpenelitian diperoleh, rat-rata waktu proses discharge pasien rawat inap adalah 238 menit danfaktor yang paling berperan untuk menurunkan waktu tersebut adalah disiapkannya instruksipemulangan pasien oleh dokter, sehari sebelum pasien dipulangkan.
With the aim of streamlining the inpatient's discharge process at the Elizabeth HospitalBekasi, this study analyzed the efficiency of discharge process using the Lean Six Sigmamethod. Six Sigma method tries to reduce time variation in each step of the discharge processfollowed by identifying the appropriate time. The Lean method identifies the non valuesactivities (waste) to be reduced. For that, qualitative approach using observation wasimplied. The study resulted with 238 minute as average total timing of discharge and thegreatest impact to reduce it will be the one day earlier written discharge instruction preparedby the physician.
Read More
B-1631
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Nita Noer; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Puput Oktamianti, Umi Aisyiyah
S-8941
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosinta Magdalena; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Amal Chalik Sjaaf, Amila Megraini, Rahma Indira Wardani
Abstrak: Tahun 2017 rata-rata waktu tunggu penyelesaian administrasi pasien pulang rawat inap di RS Eka Pekanbaru 246 menit (> 2 jam), yang meyebabkan ketidakpuasan pasien sehingga perlu dilakukan analisa terkait penyebab lamanya waktu tunggu tersebut dengan pendekatan Lean-Six Sigma untuk dapat melihat pemborosan yang terjadi. Penelitian ini adalah operational research, dengan desain penelitian kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian memperlihatkan proses diawali dengan instruksi dokter bahwa pasien boleh pulang sampai pasien menerima bukti pembayaran administrasi. Hasil penelitian digambarkan dengan value stream mapping yang memperlihatkan lead time proses pengurusan administrasi pasien pulang selama 356,42 menit dengan value added 70,49 menit (22,58%), dan aktivitas yang tergolong non value added sebesar 285,93 menit (77,42%). Proses paling lama terjadi di keperawatan karena menunggu obat pasien, dan kasir (administrasi rawat inap) karena menunggu finalize dari farmasi dan jawaban asuransi / perusahaan penanggung biaya pasien. Waste paling besar yaitu waiting sebesar 193,33 menit (69,44%) dari total seluruh waste yang ada. Berdasarkan analisis fishbone diagram diketahui bahwa akar penyebab masalah paling banyak berasal dari kategori man. Usulan perbaikan berupa pembuatan standarisasi kerja, rapat koordinasi, meningkatkan pengawasan, dan menerapkan heijunka.
Kata Kunci: Pengurusan Administrasi pasien pulang, Lean Six Sigma, Rawat Inap

In 2017 the average waiting time for the process of Discharged Patients Administration at Eka Pekanbaru Hospital is 246 minutes (> 2 hours), it causes patient complaint so it is necessary to analyze the causes of the long waiting time with the Lean-Six Sigma approach to be able to see the waste that occurs. This is operational research that uses quantitative and qualitative design. The result of this research showed that the Discharged Patients Administration in hospital begins from the instruction of the doctor that the patient can go home until the patient receives an administrative payment receipt. The results of this research were also described with the value stream mapping that showed lead time of discharged patients administration process is 356,42 minutes, with value added 70,49 minutes (22,58%), and non value added 285,93 minutes (77,42%). The longest process occurs on nursing unit and inpatient administration unit. The longest waste is waiting waste of 193,33 minutes (69,44%) of the total waste that found. Based on fishbone diagram analysis it is known that most of the root cause of discharged patients administration process problem come from man category. Based on that analysis, improvements proposed are work standardization, coordination meeting, increase of supervision, and implementation of heijunka
Key words: Discharged Patients Administration, Lean Six Sigma, Inpatient.
Read More
B-2051
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suharty Muhammad; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Anhari Achadi, Santoso Soemidjo
B-1633
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M. Bima Arrynugrah; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Purnawan Junadi, Masyitoh, Arthur Ferdinand, Sibroh Malisi
Abstrak: Dampak Jaminan Kesehatan Nasional di poliklinik spesialis Obstetric dan Gynecology RS. Annisa Citeureup Bogor adalah meningkatnya jumlah kunjungan pasien rawat jalan sebesar 61% pada awal tahun 2014. Semakin banyaknya jumlah pasien akan berakibat pada lamanya waktu tunggu. Tahapan penelitian ini menggunakan 5 (lima) prinsip lean untuk mendapatkan perbaikan yang berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan efisiensi alur proses pelayanan di poliklinik spesialis Obstetric dan Gynecology. Hasil value assesment pada pasien tunai didapatkan 85% kegiatan yang tidak bernilai tambah dan 14% kegiatan yang bernilai tambah, sedangkan pada pasien Jaminan Kesehatan Nasional didapatkan prosentase kegiatan yang tidak bernilai tambah sebesar 88% dan 11% untuk kegiatan yang bernilai tambah. Metode lean dinilai mampu meminimalisir pemborosan, hasil future state value stream map didapatkan penurunan kegiatan yang tidak bernilai tambah menjadi 38,09% Kata kunci : waktu tunggu; 5 (lima) prinsip lean; kegiatan yang bernilai tambah; kegiatan yang tak bernilai tambah; Metode Lean The impacts of the National Health Insurance at the Obstetric and Gynecology specialist polyclinic RS. Annisa Citeureup Bogor is increase frequency of outpatient visits by 61% at the beginning of 2014. The increasing number of patients will result in long waiting times. This research uses 5 (five) lean principles to get continuous improvement to improve the efficiency of service process flow in Obstetric and Gynecology specialist clinic. Result of assessment value in patients with cash payment was 85% non value-added activities and 14% value-added activities, while in the National Health Insurance patients, the percentage of non value added activities was 88% and 11% for value-added activities. Lean method is considered able to minimize waste, the results of the future state value stream map can reduce activities that do not add value to 38.09% Keywords: waiting time, 5 (five) lean principles, value added activities, non value added activities, Lean Method
Read More
B-1915
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rheine Indira Putrie Sesunan; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Masyitoh Basabih, Dumilah Ayuningtyas, Elga Ria Vinensa, Adryansyah
Abstrak: Lamanya waktu tunggu pemulangan pasien di rumah sakit Mitra Husada Pringsewu menyebabkan belum tersedia kamar perawatan pada saat pasien membutuhkan rawat inap. Hal ini memacu untuk menjadikan percepatan pemulangan pasien rawat inap sebagai salah satu program kerja tahun 2022. Tujuan penelitian adalah mengetahui gambaran proses pemulangan rawat inap, mengukur tahapan proses, menganalisis faktor yang memengaruhi waktu tunggu pemulangan pasien rawat inap, dan memberikan usulan perbaikan dengan pendekatan Lean Six Sigma yang berfokus menciptakan aliran lancar produk sepanjang proses, menghilangkan semua jenis pemborosan, mencapai nol kesalahan, dan menghilangkan variasi. Jenis penelitian ini adalah observasional deskriptif, desain studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif terhadap 284 sampel. Hasil penelitian diperoleh total waktu adalah 441,6 menit (7,36 jam) dengan waktu proses administrasi rumah sakit 385,8 menit (6,43 jam) dan waktu pasien menunggu dijemput 55,8 menit. Aktivitas value added sebesar 282 menit (4,7 jam) atau 63,9% dan aktivitas non-value added sebesar 159,6 menit (2,66 jam) atau 36,1%. Ditemukan waste sebesar 157,9 menit (2,63 jam) yang apabila dihilangkan akan memotong lead time menjadi 283,7 menit (4,73 jam). Faktor-faktor yang memengaruhi lama waktu pemulangan pasien rawat inap adalah jumlah, uraian tugas , budaya kerja sumber daya manusia, metode atau alur proses berupa kebijakan atau SPO, sistem manual atau berbasis IT, sistem komunikasi internal RS dan kepada pasien, mesin, dan desain ruangan. Methode dan man adalah faktor yang paling berpengaruh. Diperlukan upaya perbaikan dengan standarisasi kerja, pemerataan aktifitas petugas, manajemen visual, bed management system, penyediaan ruang tunggu, dan pembaruan SIMRS dengan teknik error proofing
Read More
B-2272
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Christina Saputera; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Anhari Achadi, Theryoto, Lianingsih Partahusniutojo
Abstrak:
Service time merupakan salah satu indikator mutu pelayanan IGD RS termasuk di IGD RS St. Carolus Summarecon Serpong, dengan pencapaian service time ≤ 3 jam 74,3% dari target > 90% total pasien rawat inap dari IGD. Penelitian ini menggunakan desain operational research dengan metode kuantitatif dan kualitatif serta teknik probability sampling dalam pengambilan sampel sejumlah 32 pasien IGD. Hasil penelitian dengan pendekatan lean six sigma berhasil mengidentifikasi waste waiting pada tahap transfer pasien IGD ke ruang rawat inap sebagai penyebab akar masalah, menurunkan lead time dari 4 jam 14 menit menjadi 2 jam 39 menit 2 detik (↓ 37,4%) pada tahap post intervensi dan menjadi 2 jam 19 menit 46 detik (↓ 12,1%) pada tahap control; menurunkan aktivitas non value-added dari 1 jam 38 menit 19 detik menjadi 32 menit 22 detik (↓ 67,1%) pada tahap post intervensi dan menjadi 25 menit 23 detik (↓ 21,6%) pada tahap control serta berhasil mengeliminasi waste transport dan menurunkan waktu waste waiting. Kombinasi berbagai tools lean six sigma dalam penelitian ini (heijunka, standardized work, 5 S, Single Exchange Minutes of Dies, dan visual management) mampu menurunkan lead time sebesar 55% pada tahap control, apabila dibandingkan dengan intervensi menggunakan satu tools saja.

Service time is an indicator of the quality of hospital ER services, including at St. Carolus Summarecon Serpong Hospital, by achieving service time ≤ 3 hours 74,3% of the target > 90% of the total inpatients from the ER. This study used an operational research design with quantitative and qualitative methods as well as probability sampling techniques in taking a sample of 32 ER patients. The results of this study using the lean six sigma approach succeeded in identifying waste waiting at the transfer stage of ER patients to the inpatients room as the root cause of the problem, reducing lead time from 4 hours 14 minutes to 2 hours 39 minutes 2 seconds (↓ 37,4%) in the post stage intervention and became 2 hours 19 minutes 46 seconds (↓ 12,1%) in the control stage; reduced non value-added activities from 1 hour 38 minutes 19 seconds to 32 minutes 22 seconds (↓ 67,1%) in the post intervention stage and became 25 minutes 23 seconds in the control stage; succeeded in eliminating transport waste and reduce waste waiting time. The combination of various lean six sigma tools in this study (heijunka, standardized work, Single Exchange Minutes of Dies, and visual management) was able to reduce lead time by 55% in the control stage, compared with intervention using just one tool.
Read More
B-2404
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Radhica El Shalawa; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Purnawan Junadi, Rakhmad Hidayat, Melanie Husna
Abstrak:
Waktu pemulangan pasien rawat inap merupakan indikator mutu penting dalam pelayanan rumah sakit. Di RS Universitas Indonesia (RSUI), target check-out time sebelum pukul 12 siang belum tercapai selama empat tahun terakhir, berdampak pada keterlambatan alur rawat inap dari IGD dan menurunnya efisiensi pemanfaatan tempat tidur. Proses discharge yang kompleks, melibatkan banyak unit, serta dominasi aktivitas non-value-added menjadi penyebab utama rendahnya capaian indicator mutu tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan Lean Six Sigma dengan desain DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi proses discharge dan wawancara mendalam terhadap tujuh informan kunci lintas profesi. Sampel terdiri atas 40 pasien jaminan BPJS Kesehatan. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi aktivitas value-added, non-value-added, waste, dan variasi proses. Rata-rata lead time discharge sebelum intervensi adalah 20 jam 35 menit dengan 86% aktivitas tergolong NVA. Empat aktivitas prioritas dengan waste tertinggi adalah discharge billing (43,75%), penyusunan resume keperawatan dan surat kontrol (13,62%), pengorderan resep obat pulang (9,95%), dan penyusunan resume medis (9,86%). Intervensi dilakukan melalui penempatan tenaga administrasi ruangan (ADRU), surat edaran kebijakan peresepan oleh DPJP, serta pelatihan Kaizen. Setelah intervensi, capaian check-out sebelum pukul 12.00 meningkat dari 45% menjadi 53%, meskipun total lead time meningkat menjadi 22 jam 40 menit. Namun, beberapa subprocess mengalami perbaikan signifikan, seperti edukasi dan pemberian obat (turun 29%), pasien keluar ruang (turun 40%), dan discharge billing (turun 40%). Intervensi Lean Six Sigma berhasil meningkatkan capaian check-out time <12.00 meskipun belum menurunkan total lead time secara keseluruhan. Perbaikan cenderung parsial dan menunjukkan perlunya intervensi lebih menyeluruh terhadap tahapan proses discharge yang belum optimal.

Inpatient discharge time is a key quality indicator in hospital services. At Universitas Indonesia Hospital (RSUI), the target check-out time before 12:00 PM has not been achieved over the past four years. This delay negatively impacts the inpatient admission flow from the emergency department and reduces the efficiency of bed utilization. The complexity of the discharge process, which involves multiple units and is dominated by non-value-added (NVA) activities, is a primary factor contributing to the low performance of this indicator. This study applied a Lean Six Sigma approach using the DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) framework. Data collection was conducted through direct observation of the discharge process and in-depth interviews with seven key informants from different professional backgrounds. The sample consisted of 40 inpatients covered by the national health insurance scheme (BPJS Kesehatan). The analysis focused on identifying value-added (VA) and non-value-added (NVA) activities, waste, and process variation. The average pre-intervention discharge lead time was 20 hours and 35 minutes, with 86% of activities categorized as NVA. Four priority activities contributing the most waste were: system-based discharge billing (43.75%), preparation of nursing discharge summaries and follow-up letters (13.62%), prescription of discharge medications (9.95%), and preparation of medical summaries (9.86%). Interventions included the deployment of room-based administrative staff (ADRU), a policy circular mandating discharge prescriptions by the attending physician, and Kaizen training for process owners. Post-intervention, the proportion of patients discharged before 12:00 PM increased from 45% to 53%, although the total lead time rose to 22 hours and 40 minutes. However, several subprocesses showed significant improvements, such as patient education and medication handover (reduced by 29%), patient exit from the ward (reduced by 40%), and discharge billing (reduced by 40%). The Lean Six Sigma intervention succeeded in improving the achievement of the <12:00 PM discharge time indicator, although it did not reduce the overall discharge lead time. The improvements were partial, indicating a need for more comprehensive interventions targeting other suboptimal discharge process components.
Read More
B-2559
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fransiska Satriani Damput; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Helen Andriani, Masyitoh, Adhitya Wardhana, Vitrie Winastri
Abstrak:
Latar Belakang : Pengelolaan inventori obat yang efisien merupakan faktor penting dalam menjamin ketersediaan obat, mutu pelayanan, dan efisiensi biaya rumah sakit. Ketidakefisienan pengelolaan inventori dapat menimbulkan berbagai waste, seperti kelebihan stok, kekosongan stok, obat non-moving, dan obat kedaluwarsa, yang berdampak pada peningkatan biaya, penurunan mutu pelayanan, serta keterlambatan terapi pasien. Berbagai faktor, antara lain perencanaan yang tidak akurat, lamanya waktu pengadaan, penyimpanan yang belum optimal, dan variasi proses operasional, menjadi penyebab utama ketidakefisienan pengelolaan inventori obat. Tujuan: Mengoptimalkan manajemen rantai pasok internal farmasi di Instalasi Farmasi Medistra Hospital melalui pendekatan lean six sigma dalam pengendalian dan peningkatan efisiensi inventori obat sehingga dapat mengurangi pemborosan, menekan variasi proses, mengoptimalkan ketersediaan obat, serta mendukung mutu pelayanan rumah sakit. Metode: Penelitian ini menggunakan desain operational research dengan pendekatan mix method, dimana kerangka kerja Lean Six Sigma melalui DMAIC digunakan sebagai panduan sistematis untuk mengintegrasikan analisis data kuantitatif inventori obat dan data kualitatif operasional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling, dengan total sampel sebanyak 400 nomor perencanaan obat. Hasil: Pendekatan Lean Six Sigma mengidentifikasi lead time pengelolaan inventori obat sebesar 139 jam 26 menit 30 detik (5,7 hari), dengan 99% waktu proses merupakan kegiatan non-value added yang didominasi oleh waste tipe waiting sebesar 137 jam 37 menit 3 detik. Kondisi awal inventori menunjukkan nilai persediaan sebesar Rp 12.223.885.423,40, terdiri atas 343 item obat overstock senilai Rp 301.047.282, 88 item obat kosong, 35 item obat stagnan senilai Rp 34.775.208, dan 9 item obat expired senilai Rp1.613.710. Akar masalah yang teridentifikasi meliputi belum optimalnya SIMRS inventori, tingginya variasi me-too brand dalam formularium rumah sakit, variasi pengetahuan dan kompetensi petugas, belum adanya regulasi tindak lanjut purchase order kepada distributor, kurangnya pemahaman staf pembelian terhadap kebutuhan pelayanan, pembatasan jam persetujuan purchase order, kurangnya supervisi pada tahap penerimaan, keterlambatan penyimpanan obat, belum tersedianya visual management untuk penerapan FEFO/FIFO, serta penempatan obat LASA yang belum sesuai regulasi. Intervensi Lean Six Sigma dilakukan melalui penerapan standardized work, sosialisasi ulang alur kerja, implementasi sistem kanban pada tahap perencanaan, optimalisasi prinsip 5R di gudang logistik farmasi, serta penerapan visual management untuk mendukung implementasi FEFO/FIFO. Kesimpulan : Implementasi lean six sigma berhasil menurunkan lead time pengelolaan inventori obat, menurunkan nilai stok inventori obat dan jumlah item inventori obat, menurunkan nilai pembelian obat, menurunkan nilai obat overstock, menurukan jumlah obat kosong, menurunkan jumlah obat stagnan dan menurunkan jumlah obat expired.

Background: Efficient drug inventory management is essential to ensure medicine availability, improve service quality, and enhance hospital cost efficiency. Inefficient inventory management can generate various forms of waste, including overstock, stockouts, non-moving medicines, and expired medicines, leading to increased costs, reduced quality of care, and delays in patient treatment. Inaccurate planning, prolonged procurement lead times, suboptimal storage practices, and variations in operational processes are among the major contributors to inefficiencies in drug inventory management. Objective: To optimize internal pharmaceutical supply chain management at the Pharmacy Department of Medistra Hospital through the implementation of Lean Six Sigma to improve drug inventory control and operational efficiency, thereby reducing waste, minimizing process variation, optimizing medicine availability, and supporting the quality of hospital services. Methods: This operational research employed a mixed-methods design. The Lean Six Sigma DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, and Control) framework was used as a systematic approach to integrate quantitative drug inventory data with qualitative operational data. A stratified random sampling technique was applied, resulting in a total sample of 400 drug planning records. Results: The Lean Six Sigma approach identified a total drug inventory management lead time of 139 hours, 26 minutes, and 30 seconds (5.7 days), of which 99% consisted of non-value-added activities, predominantly waiting waste, accounting for 137 hours, 37 minutes, and 3 seconds. The baseline inventory value was IDR 12,223,885,423.40, comprising 343 overstock items valued at IDR 301,047,282, 88 stockout items, 35 non-moving items valued at IDR 34,775,208, and 9 expired items valued at IDR 1,613,710. Root cause analysis identified several contributing factors, including suboptimal utilization of the Hospital Management Information System (HMIS) for inventory management, a high variation of me-too brands in the hospital formulary, variations in staff knowledge and competencies, the absence of regulations governing purchase order follow-up with distributors, limited understanding among purchasing staff regarding clinical service requirements, restrictions on purchase order approval hours, inadequate supervision during the receiving process, delays in transferring medicines to designated storage locations, the absence of visual management tools to support FEFO/FIFO implementation, and non-compliant placement of look-alike, sound-alike (LASA) medicines. Lean Six Sigma interventions included the implementation of standardized work, workflow reorientation, a kanban system during the planning stage, optimization of the Indonesian 5R workplace organization principles in the pharmacy logistics warehouse, and visual management to strengthen FEFO/FIFO implementation. Conclusion: The implementation of Lean Six Sigma successfully reduced drug inventory management lead time, inventory value, the number of inventory items, drug purchasing expenditure, overstock value, stockout incidents, non-moving medicines, and expired medicines, thereby improving the efficiency of internal pharmaceutical supply chain management.
Read More
B-2622
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Magdalena; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Purnawan Junadi, Helma Meuthia
Abstrak: Penelitian ini bertujuan merancang usulan perbaikan efektivitas dan efisiensi pelayanan radiologi RS Pusat Otak Nasional dengan menerapkan metode constraint lean six sigma. Penelitian ini dirancang dengan desain kualitatif dan kuantitatif. Data kuantitatif didapat dari hasil observasi lamanya waktu pelayanan radiologi di RS Pusat Otak Nasional. Jumlah sampel penelitian sebanyak 30 sampel. Hasil penelitian ini yaitu rata-rata lead time pelayanan sebesar 2 jam 13 menit. Waktu NVA tertinggi terdapat pada siklus pengolahan ekspertise. Waktu NVA tertinggi terdapat pada jenis waste yaitu waiting dan processing. Penyebab utama NVA pada kedua waste tersebut adalah PACS system error dan waktu tunggu hasil baca foto/scaning. Hasil penelitian menemukan 7 sampel memiliki waktu tunggu pelayanan radiologi > 3 jam. Sebesar 57% dari total defect pelayanan dikontribusi oleh pemeriksaan di luar jam kerja dan hari libur. Usulan perbaikan yang diperlukan yaitu Standardize work berupa Standar Prosedur Operasional (SPO) pengiriman foto/scaning pemeriksaan CITO di luar jam kerja dan hari libur, evaluasi rutin alat PACS, dan penerapan radiology information system (RIS) yang terintegrasi.
Kata Kunci : Pelayanan Radiologi; Constraint; Lean Six Sigma; Waste

This study aims to design a proposal to improve the effectiveness and efficiency of radiology service of National Brain Hospital by applying the method of constraint lean six sigma. This research is designed with qualitative and quantitative design. Quantitative data obtained from the observation of the length of time radiology services at National Central Medical Center. The sample size is 30 samples. The results of this study is the average service lead time of 2 hours 13 minutes. The highest NVA time is in the experimental processing cycle. The highest NVA time is in the type of waste that is waiting and processing. The main causes of NVA in both waste are PACS system error and waiting time of reading radiograph. The results of the study found 7 samples have radiology service waiting time > 3 hours. 57% of the total service defect was contributed by after hours and holidays. The proposed improvements required are Standardize work in the form of Standard Operating Procedures (SPO) of sending radiograph CITO in after hours and holidays, routine quality control of PACS tools, and integrated radiology information system (RIS) application.
Keyword : Radiology Service; Constraint; Lean Six Sigma; Waste
Read More
S-9858
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive