Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32456 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Atty Supraba; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Kurnia Sari, Atik Nurwahyuni, Ermilda Sriwastuti, Abdi Setia Putra
B-1641
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Fitri R.; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Ratu Ayu, Vetty Yulianti, Ermilda Sriwastuti
B-1655
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jimmy Agung Pambudy; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Mardiati Nadjib, Pujiyanto, Dewi Yuliawaty, Beny Hartono
Abstrak: RS Jantung Sehat merupakan rumah sakit khusus jantung swasta yang hingga saatini belum menjalin kerja-sama dengan BPJS dalam penyelenggaraan jaminankesehatan. Hal ini disebabkan karena adanya kesenjangan tarif antara tarif rumahsakit dengan tarif yang ditetapkan oleh BPJS kesehatan. Dengan adanyakesenjangan tarif antara tarif rumah sakit Jantung Sehat dengan tarif pasien BPJS,maka rumah sakit sangat membutuhkan input dalam bentuk informasi yanglengkap, salah satunya adalah perhitungan biaya satuan (unit cost) untukpelayanan intervensi non bedah. Tujuan penelitian ini adalah menghitung biayasatuan (unit cost) di RS Jantung Sehat Jakarta dengan menghitung biaya langsungdan biaya tidak langsung yang terjadi. Jenis penelitian ini adalah analisisdeskriptif dengan pendekatan studi kasus dan menggunakan data primer berupawawancara dan data sekunder dari RS Jantung Sehat, penghitungan biayamenggunakan metode Activity Based Costing (ABC).Berdasarkan hasil penghitungan biaya tindakan PCI tanpa penyulit diperoleh ;Biaya satuan aktual tindakan PCI tanpa penyulit sebesar Rp. 24.984.200,22,- ;Total biaya langsung (Investasi) sebesar Rp. 67.241.952,80 ; Total biayalangsung (Operasional) sebesar Rp. 686.393.711,12 ; Total Biaya langsung(Pemeliharaan) sebesar Rp. 11.914.085,65 ; Total Biaya Penunjang (Investasi danOperasional) sebesar Rp. 18.042.818,84. CRR antara revenue pasien swastadengan biaya satuan aktual sebesar192.12% sedangkan CRR antara revenuepasien BPJS dengan biaya satuan aktual sebesar 40.91%.Kebijakan kenaikan kelas rumah sakit Jantung Sehat dan kebijakan efisiensi biayaharus ditetapkan oleh rumah sakit agar dapat melayani pasien BPJS tanpamengalami kerugian yang dapat mengancam kelangsungan hidup rumah sakit.Kata kunci : Unit Cost, Activity Based Costing (ABC)
Jantung Sehat Hospital is a private cardiac hospital that has not establishedcooperation with BPJS in the administration of health insurance until now. This iscaused by the discrepancy between tariff rates by the hospital with tariff rates thatby BPJS Health Services. Hence, the difference of tarrifs mentioned above,makes the hospital requires input in the form of complete information, which oneof the information is the cost calculation unit (unit cost) for the non-surgicalintervention services. The purpose of this study is to calculate the unit cost in theJantung Sehat Hospital Jakarta by calculating the direct and indirect cost thatoccurs. The type of this reserach is descriptive analysis, with the case studyapproach and the use of primary data in the form of interviews and secondary datafrom the Jantung Sehat Hospital. The methods of the cost calculations is usingActivity Based Costing (ABC).Based on the results of the PCI costs calculation whithout complicating, obtained;The actual unit cost measures without complication PCI is Rp 24,989,200.22 ,- ;Total Direct Costs (investment) is Rp. 67.241.952,80 ; Total Direct Cost(Operational) is Rp. 686.393.711,12 ; Total Direct Costs (Maintenance) is Rp.11.914.085,65 ; Total Costs of Support (Investment and Operational) is Rp.18.042.818,84. The CRR between private patient revenue with actual unit cost is192.12% while the percentage of CRR between BPJS Health Service patientrevenue with actual unit cost is 40.91%.The policy to increase the class of Jantung Sehat Hospital and the cost efficiencypolicy should be set by the hospital to serve BPJS Healt Service patients withoutexperiencing losses which could endanger the existence of the hospital itself.Keywords : Unit Cost, Activity Based Costing (ABC)
Read More
B-1814
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zubaedah; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Atik Nurwahyuni, Amal C. Sjaaf, Poppy Mariani Yuliati
B-1248
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anindita Santoso; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Pujiyanto, Atik Nurwahyuni, Ari Purwohandoyo, Slamet Tjahjono
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui posisi biaya satuan rumah sakit untuk tindakan sectio caesarea agar pihak manajemen dapat melakukan berbagai upaya efisiensi kedepan untuk menutup kesenjangan antara tarif Rumah Sakit dengan tarif INA CBGs. Dengan metode kualitatif yang mengolah data sekunder pasien BPJS Kesehatan melalui telaah dokumen dan wawancara mendalam serta menggunakan pendekatan Activity Based Costing, analisis biaya dilakukan pada 161 tindakan sectio caesarea dengan komposisi 53 pasien kelas 1, 69 pasien kelas 2 dan 39 pasien kelas 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Biaya Total Tindakan sectio caesarea sebesar Rp 1.400.670.750,- dimana biaya satuan untuk tindakan sectio caesarea kelas 1 yaitu sebesar Rp 8.803.752,- dengan kesenjangan sebesar Rp 1.873.631,- dengan tarif INA CBGs, untuk kelas 2 sebesar Rp 8.513.739,- dengan kesenjangan Rp 2.376.873,- jika dibandingkan dengan tarif INA CBGs dan untuk kelas 3 sebesar Rp 8.887.792,- dengan kesenjangan sebesar Rp 3.796.854,- dengan tarif INA CBGs . Efisiensi yang dapat dilakukan dalam penelitian ini yaitu mengurangi tingginya variasi obat dan bahan medis habis pakai dengan pembuatan clinical pathway sectio caesarea. Untuk mengurangi besaran biaya dan biaya satuan untuk tindakan sectio caesarea efisiensi yang dapat dilakukan adalah dengan menaikkan jumlah kunjungan pasien ke Rumah Sakit Harapan Keluarga.
Read More
B-2124
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Handi Wirawan; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Pujiyanto, Atik Nurwahyuni, Ari Purwohandoyo, Slamet Tjahjono
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi biaya satuan layanan rawat jalan Diabetes Melitus Tipe II agar Manajemen Rumah Sakit dapat menentukan upaya efisiensi kedepannya dalam rangka menutup kesenjangan antara tarif Rumah Sakit dengan tarif INA CBG's. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam, observasi serta telaah dokumen terkait penelitian. Informan dalam penelitian adalah Kepala Bagian Keuangan, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Kepala Unit Rawat Jalan serta Petugas Bagian Farmasi. Total biaya Rajal DM sebesar Rp 369.573.586,- Hasil perhitungan menunjukkan bahwa besar unit cost untuk Rajal DM Tipe II adalah sebesar Rp 251.069,- dimana tarif INA CBGs untuk Rajal DM Tipe II hanya sebesar Rp 192.100,- yang berarti terdapat kesenjangan sebesar Rp 58.969,- . Efisiensi untuk menekan biaya tidak tetap dan mengurangi variasi pemberian obat serta pemeriksaan laboratorium Diabetes Melitus Tipe II dengan membuat clinical pathway Diabetes Melitus Tipe II. Untuk mengurangi beban biaya tetap, tindakan efisiensi yang dapat dilakukan adalah menaikkan angka kunjungan pasien Diabetes Melitus Tipe II dengan menyediakan dokter spesialis tetap untuk penyakit dalam agar pelayanan untuk pasien dapat maksimal serta kunjungan dapat meningkat
Read More
B-2122
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Helena Turnip; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Ascobat Gani, Ida Bagus Nyoman Banjar, Harfia Mudahar
Abstrak:
Latar Belakang: Rumah Sakit berfungsi melakukan upaya kesehatan dasar, kesehatan rujukan serta kesehatan penunjang yang dituntut mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia, peralatan dan teknologi. Analisis biaya dalam hal ini, dapat digunakan untuk perhitungan perencanaan anggaran, pengendalian biaya serta subsidi. Tujuan: Untuk mengetahui biaya satuan tindakan Rehabilitasi Medik serta upaya efisiensi dalam menutup kesenjangan tarif Rumah Sakit dengan tarif INA CBGs. Metode: Analisis biaya dilakukan pada 23776 tindakan antara lain: High Laser 5666, Dry Needling 708, Injeksi Intraartikular 3142, MWD 6313, TENS 3845, US 185, Traksi 34, Parrafin 362, Inhalasi 137, berbagai jenis latihan (Fisioterapi Dewasa 147, Fisioterapi Anak 516, Terapi Wicara Dewasa 398, Terapi Wicara Anak 1477, Okupasi Terapi Dewasa 709, Okupasi Terapi Anak 137). Hasil: Total biaya tindakan sebesar Rp 13.122.053.719,-. Kesenjangan paket biaya satuan dengan tarif INA CBGs untuk paket 2 modalitas (TENS-MWD) sebesar Rp (337.339), paket Latihan Fisioterapi Anak sebesar Rp (344.196), paket modalitas dan latihan (TENS ? OT dewasa) sebesar Rp (536.293), paket High Laser sebesar Rp (554.803), paket Injeksi Intraartikular sebesar Rp (889.211). Kesimpulan: Adanya kesenjangan biaya satuan dengan tarif Rumah Sakit serta tarif INA CBG?s dapat menjadi bahan evaluasi bagi Rumah Sakit untuk melakukan efisiensi.

Background: The function of the hospital is to carry out basic health efforts, referral health and supporting health which are required to be able to improve the quality of human resources, equipment and technology. Cost analysis in this case can be used to calculate budget planning, cost control and subsidies. Objective: To determine unit costs for Medical Rehabilitation and efficiency efforts in closing the gap of hospital rates and INA CBGs rates. Methods: Cost analysis was performed on 23776 procedures including: High Laser 5666, Dry Needling 708, Intraarticular Injection 3142, MWD 6313, TENS 3845, US 185, Traction 34, Paraffin 362, Inhalation 137, various types of exercise (Adult Physiotherapy 147, Children Physiotherapy 516, Adult Speech Therapy 398, Children Speech Therapy 1477, Adult Occupational Therapy 709, Children Occupational Therapy 137). Result: The total cost is IDR 13,122,053,719.-. The difference between the unit cost package and the INA-CBGs rate for the 2 modality package (TENS-MWD) is IDR (337,339), the Children's Physiotherapy Training package is IDR (344.196), High Laser for IDR (554,803), Intraarticular Injection package for IDR (889,211). Conclusion: There is a gap in the unit cost with Hospital rates and INA-CBG's rates can be used as evaluation material for Hospitals to carry out efficiency.
Read More
B-2313
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Heydi Marizky Lisman; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Mardiati Nadjib, Vetty Yulianty Permanasari, Eka Pujiyanti, Putri Nadia
Abstrak:

Pendahuluan: Salah satu kebijakan Kementerian Kesehatan untuk peningkatan layanan berkualitas adalah pemanfaatan Single Use Dialiser bagi pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menjalani hemodialisis. Rumah Sakit mendapat imbalan tarif baru dan sistem insentif apabila melaksanakan single use dialiser (Permenkes 3/2023). Penelitian ini bertujuan mendapat gambaran kesiapan serta hambatan di Instalasi Dialisis Rumah Sakit dalam menjalankan kebijakan single use dialiser.
Metodologi: Balance scorecard digunakan untuk memotret pelayanan hemodialisis sebelum dan setelah diberlakukan Permenkes Nomor 3 Tahun 2023.
Hasil: Pelayanan HD yang belum menggunakan single use mempengaruhi capaian kinerja tahun 2023. Pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan ditemukan beban kerja perawat yang tidak ideal karena harus mencuci dialiser yang telah dipakai. Pada perspektif proses bisnis intenal terdapat peningkatan kejadian rawat inap pada pasin rutin HD dan ditemukan kejadian dialiser tertukar. Pada perspektif pelanggan menyebabkan turunnya kepuasan pasien, dan pada perspektif keuangan terdapat penurunan rasio profitabilitas.
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa pelayanan HD dengan single use dapat dilaksanakan di Unit Dialisis RS UI. Jika tidak dilaksanakan berpengaruh pada capaian kinerja dalam semua perspektif balance scorecard.


Introduction: One of the Ministry of Health policy to improve quality services is Single Use Dialyzers utilization for National Health Insurance (JKN) patients in outpatient hemodialysis. Hospitals receive new tariff rewards and incentive systems if adpoted single use dialyzers in their services (Permenkes 3/2023). This research aims to obtain an overview of the readiness and obstacles in the Dialysis center in implementing the Single Use Dialyzer policy.  Methodology: Balanced scorecard is used to capture hemodialysis services before and after Ministry of Health Regulation 3/ 2023 implementation. Results: Reuse service affect perfmormance achievement in 2023. In the learning and growth perspective, the nurse's workload was not ideal because they had to wash the dialyzers that had been used. In interbal bisiness process, we found cases of incident of dialyzers being exchanged and incidence of hispitalization among routine patient was increased. In customer perspective, it causes a decrease in patient satiscfaction and financial perspective we found profitability ratios was decreased. Conclusion: This research shows that single use policy can be implemented at University of Indonesia Hospital Dialysis Center. If not implemented, it will have an impact on all balance scorecard perspectives.
Read More
B-2557
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fenny Hamka; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Budi Hidayat, Kurnia Sari, Atiek S. Asmawati
B-1277
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayunda Shinta Nurarliah; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Vetty Yulianty Permanasari, Sapto Harry Kriswanto, Sri Diana Ginting Suka
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek penerapan restriksi obat otomatis melalui Sistem Informasi Rumah Sakit (SIMRS) terhadap efisiensi biaya obat pada pasien BPJS Kesehatan di Rumah Sakit Jantung Jakarta. Penelitian ini mengkaji dampak penerapan sistem restriksi terhadap biaya obat yang dikeluarkan oleh rumah sakit dan kualitas pelayanan yang diterima oleh pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan restriksi obat otomatis menghasilkan penghematan signifikan, dengan penurunan biaya total resep obat sebesar 35%. Selain itu, jumlah resep yang tidak sesuai dengan Formularium Nasional (FORNAS) juga mengalami penurunan drastis. Penerapan sistem ini tidak hanya berhasil mengurangi biaya tetapi juga memastikan kualitas pelayanan tetap terjaga, dengan jumlah resep yang sesuai FORNAS tetap tinggi. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pengurangan biaya termasuk pemilihan obat yang lebih selektif, pengelolaan stok yang lebih efisien, dan penggunaan teknologi SIMRS. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam meningkatkan pengelolaan obat yang lebih efisien di rumah sakit serta memberikan wawasan bagi rumah sakit lain dalam mengimplementasikan sistem serupa.

This study aims to evaluate the impact of implementing automatic medication restrictions through the Hospital Information Management System (SIMRS) on the drug cost efficiency for BPJS Health patients at Jakarta Heart Hospital. The research examines the effects of the restriction system on the hospital's drug expenses and the quality of care provided to patients. The results show that the implementation of the automatic medication restriction system significantly reduced the total medication costs by 35%. Additionally, the number of prescriptions not in accordance with the National Formularium (FORNAS) decreased drastically. This system not only succeeded in reducing costs but also ensured that the quality of care remained high, with the number of prescriptions compliant with FORNAS still high. Contributing factors to cost reduction include more selective drug selection, more efficient stock management, and the use of SIMRS technology. This study contributes to improving the more efficient management of medication in hospitals and provides insights for other hospitals in implementing similar systems.
Read More
B-2567
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive