Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39996 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ika Trisia; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Sandi Iljanto, Pujiyanto, Abdurrahman, Gunawan Widjaja
Abstrak: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan (PPJK) merupakan unsur pendukung pelaksanaan tugas Kementerian Kesehatan di bidang pembiayaan dan jaminan kesehatan. Untuk dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal, suatu organisasi perlu didukung dengan struktur organisasi yang mencerminkan sasarandan strategi organisasi. Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan melakukan penelusuran literatur dan wawancara ahli untuk mencari dan memberikan pandangan mengenai peran, tugas, dan fungsi PPJK agar dapat mendukung pembangunan kesehatan secara nasional melalui upaya pembiayaan kesehatan. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan bagi penataan struktur organisasi PPJK yang sesuai dengan perubahan lingkungan strategis, baik internal maupun eksternal.Kata kunci : organisasi, perubahan organisasi, pembiayaan kesehatan
Center For Health Financing And Social Health Insurance (PPJK) is a supportingelement for the implementation of the duties of the Ministry of Health in healthfinancing and insurance sectors. To be able to perform its duties and functionsoptimally, an organization needs to be supported with an organization structurethat reflects its goals and strategies. This is a qualitative research with sourcing ofliterature and interviewing the experts to search and obtain their views in theroles, duties, and functions of PPJK which is supporting the development ofnational health programs through the health financing. At the end, this research isexpected to provide input for the organizational structure of PPJK that align withthe environtmental strategic changing, in both internally and externally.Keywords: organization, organizational change, health financing
Read More
T-4205
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Matta Ernita; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Pujiyanto, Elizabeth Sarah A., Luci Fransisca S.
T-5501
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fakhira Dwi Awliyawati Saleh; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Adang Bachtiar, Dumilah Ayuningtyas, Eti Rohati, Purwati
Abstrak: Masih banyak indikator Agenda Pembangunan Millenium (MDGs) 2015 yang belumtercapai secara global dalam hal kesehatan seksual reproduksi sehingga kembali dimasukkandalam poin agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs). Komitmen pemerintah Indonesiauntuk mencapai target diwujudkan dengan cara menjamin pelayanan seksual reproduksidalam paket manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini bertujuan untukmenganalisa implementasi JKN di Kota Depok, Kabupaten Mimika dan KabupatenKepulauan Selayar. Metode penelitian yang digunakan adalah Analisis Kebijakan denganpendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui diskusi kelompok terarah,wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwapelaksanaan kebijakan di ketiga lokasi belum berjalan optimal dilihat dari variabelkomunikasi, struktur birokrasi, sumber daya, dan disposisi. Kendala Implementasi yang adaberagam di tiap-tiap lokasi penelitian: di Depok yang merupakan wilayah urban justrubanyak ditemukan informasi yang keliru baik dari pelaksana kebijakan maupun yang beredarsecara luas di sosial media, kasus di Selayar menunjukkan bahwa standar peserta penerimabantuan iuran jaminan kesehatan nasional yang ada selama ini belum memasukkan prinsippengarusutamaan gender, sedangkan di Timika napas universal health coverage yangdiusung dalam JKN belum nampak karena masih banyak jenis jaminan kesehatan yang tidaksaling terintegrasi. Kendala impelementasi yang ada perlu segera dibenahi agar dapatmemaksimalkan implementasi kebijakan.Kata Kunci:Analisis Kebijakan Kesehatan, Implementasi JKN, Kesehatan Seksual Reproduksi.
Read More
T-5461
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gustian Yondi Pramudita; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Purnawan Junadi, Kanser Arif Ardiyanto
Abstrak:
Implementasi Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 58 Tahun 2016 tentang Sponsorship bagi Tenaga Kesehatan menunjukkan fenomena kesenjangan data yang signifikan secara nasional (4,9%), dimana keaktifan pelaporan pihak industri (pemberi) tidak diimbangi oleh pihak tenaga medis dan tenaga kesehatan (penerima). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penghambat dan pendorong perilaku kepatuhan implementasi regulasi pelaporan sponsorship di Rumah Sakit Vertikal Kementerian Kesehatan wilayah Jabodetabek, serta merumuskan rekomendasi kebijakan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus komparatif, penelitian ini membedah akar disfungsi secara sistemik melalui integrasi Teori Implementasi Kebijakan Publik (Mazmanian & Sabatier) dan model perilaku COM-B (Michie). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 13 informan (makro, meso, dan mikro) serta triangulasi telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan kepatuhan di level makro terhambat oleh disharmonisasi aturan standar biaya dan ketiadaan integrasi sistem pelaporan antar-lembaga. Di level meso, kepatuhan tersendat oleh birokrasi perizinan internal yang kaku dan salah tafsir kebijakan. Kondisi tersebut membebani kapabilitas dan menurunkan motivasi di level mikro akibat tingginya kelelahan klinis, persepsi kompleksitas administratif, dan ketiadaan umpan balik. Akumulasi kelemahan tata kelola ini berimplikasi pada kepatuhan semu (pseudo-compliance) pada kelompok sasaran berupa taktik bypass perizinan dan lobi penunjukan nama secara informal. Sebaliknya, perilaku kepatuhan dapat didorong melalui keteladanan pimpinan puncak, strategi pengawasan proaktif, serta kuatnya infrastruktur kepatuhan dari vendor multinasional. Berdasarkan kerangka Behaviour Change Wheel (BCW), peningkatan kepatuhan kelompok sasaran menuntut intervensi pada tahapan formulasi kebijakan (policy formulation) melalui fasilitasi sistem dari otoritas, yang disusun dalam wujud kaskade kebijakan (policy cascading matrix). Intervensi tersebut mencakup pengaturan mandatori ekosistem pelaporan digital terpadu, legitimasi formasi staf administrasi kepatuhan (enablement), penerapan transparansi publik terbatas (Public Disclosure), serta penegakan pakta integritas vendor.

The implementation of the Minister of Health Regulation Number 58 of 2016 concerning Sponsorship for Healthcare Professionals reveals a significant national data discrepancy (4.9%), where active reporting by the industry (providers) is not balanced by healthcare professionals (recipients). This study aims to analyze the barriers and facilitators to compliance behavior with the implementation of sponsorship reporting regulations in Vertical Hospitals of the Ministry of Health in the Greater Jakarta (Jabodetabek) area, and to formulate policy recommendations. Using a qualitative approach with a comparative case study design, this research systemically dissects the root of dysfunction through the integration of the Public Policy Implementation Theory (Mazmanian & Sabatier) and the COM-B behavioral model (Michie). Data were collected through in-depth interviews with 13 informants (macro, meso, and micro) as well as triangulation of document reviews. The results indicate that compliance at the macro level is hindered by the disharmonization of cost standard regulations and the lack of integration in inter-institutional reporting systems. At the meso level, compliance is obstructed by rigid internal licensing bureaucracy and policy misinterpretation. These conditions burden the capability and decrease the motivation at the micro level due to high clinical burnout, perceived administrative complexity, and the absence of feedback. The accumulation of these governance weaknesses leads to pseudo-compliance among target groups in the form of bureaucratic bypass tactics and informal name-appointment lobbying. Conversely, compliance behavior can be facilitated by top leadership role-modeling, proactive supervisory strategies, and the robust compliance infrastructure of multinational vendors. Based on the Behaviour Change Wheel (BCW) framework, enhancing target group compliance demands interventions at the policy formulation stage through system facilitation from authorities, structured in a policy cascading matrix. These interventions include the mandatory regulation of an integrated digital reporting ecosystem, the legitimacy of compliance administrative staff formation (enablement), the application of a limited Public Disclosure policy, and the enforcement of vendor integrity pacts.
Read More
T-7537
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hanisa Rizkamilna Fitriadewi; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Ede Surya Darmawan, Masyitoh, Prastuti Soewondo, Indra Rachmad Dharmawan
Abstrak:
Perundungan terhadap peserta didik Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) merupakan permasalahan sistemik dalam pendidikan kedokteran di Indonesia yang berdampak pada kesehatan mental peserta didik, kualitas pendidikan klinis, keselamatan pasien, dan mutu pelayanan kesehatan. Sebagai respons terhadap berbagai kasus yang terjadi, Kementerian Kesehatan menerbitkan Instruksi Menteri Kesehatan Nomor 589 Tahun 2025 tentang Pencegahan dan Penanganan Perundungan terhadap Peserta Didik pada Rumah Sakit Pendidikan di Lingkungan Kementerian Kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan tersebut pada Rumah Sakit Pendidikan di lingkungan Kementerian Kesehatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap pembuat kebijakan, pimpinan Rumah Sakit Pendidikan, pengelola Program Pendidikan Dokter Spesialis, dan peserta didik PPDS, serta didukung telaah dokumen kebijakan. Analisis dilakukan menggunakan model implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn yang meliputi standar dan sasaran kebijakan, sumber daya, komunikasi dan aktivitas penegakan, karakteristik agen pelaksana, kondisi ekonomi, sosial, dan politik, serta disposisi pelaksana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Instruksi Menteri Kesehatan Nomor 589 Tahun 2025 telah berjalan melalui pembentukan Tim Pencegahan dan Penanganan Perundungan, penyusunan regulasi internal, serta mekanisme pelaporan dan penanganan kasus, namun implementasinya belum optimal. Standar kebijakan dinilai telah memberikan definisi dan mekanisme yang jelas, tetapi masih menyisakan area abu-abu dalam membedakan pembinaan klinis dengan perundungan. Sasaran kebijakan dipahami tidak hanya untuk melindungi peserta didik, tetapi juga mendukung keselamatan pasien, meskipun target zero bullying dinilai belum realistis. Implementasi juga dipengaruhi oleh keterbatasan sumber daya, belum optimalnya komunikasi dan koordinasi lintas institusi, kompleksitas hubungan antar pelaksana, budaya hierarkis, hidden curriculum, fear of retaliation, serta budaya pendidikan kedokteran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi Instruksi Menteri Kesehatan Nomor 589 Tahun 2025 telah memperkuat sistem pencegahan dan penanganan perundungan di Rumah Sakit Pendidikan, namun belum sepenuhnya efektif dalam mengatasi faktor-faktor struktural yang melatarbelakangi perundungan. Penguatan implementasi memerlukan harmonisasi kebijakan lintas sektor, penguatan kelembagaan dan sistem pelaporan, penyusunan pedoman operasional yang lebih spesifik, peningkatan kapasitas pelaksana, penguatan perlindungan peserta didik, serta pengembangan mekanisme deteksi dini dan integrasi indikator budaya anti-perundungan ke dalam sistem monitoring dan akreditasi Rumah Sakit Pendidikan.

Bullying among residents in Specialist Medical Education Programs (Program Pendidikan Dokter Spesialis/PPDS) has become a systemic issue in medical education in Indonesia, adversely affecting residents' mental health, the quality of clinical education, patient safety, and healthcare service quality. In response to a series of reported cases, the Ministry of Health issued Minister of Health Instruction Number 589 of 2025 concerning the Prevention and Management of Bullying against Medical Trainees in Teaching Hospitals under the Ministry of Health. This study aimed to analyze the implementation of this policy in teaching hospitals under the Ministry of Health. This study employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews with policymakers, teaching hospital leaders, residency program administrators, and medical residents, complemented by a review of relevant policy documents. Data were analyzed using the Van Meter and Van Horn model for policy implementation, which comprises policy standards and objectives, resources, communication and enforcement activities, characteristics of implementing agencies, economic, social, and political conditions, and implementers' disposition. The findings indicate that the implementation of the Minister of Health Instruction Number 589 of 2025 has progressed through the establishment of Bullying Prevention and Management Teams, the development of institutional regulations, and the implementation of reporting and case management mechanisms. However, implementation has not yet been fully optimal. Although policy standards provide clear definitions and procedures, ambiguities remain in distinguishing legitimate clinical supervision from bullying. Policy objectives are widely understood as extending beyond the protection of residents to include patient safety, although achieving zero bullying is considered unrealistic in the short term. Policy implementation is further constrained by limited resources, suboptimal communication and inter-institutional coordination, complex relationships among implementing actors, hierarchical culture, the hidden curriculum, fear of retaliation, and resistance to cultural change within medical education. This study concludes that the implementation of Ministry of Health instruction No. 589 of 2025 has strengthened the system for preventing and managing bullying in teaching hospitals. However, its implementation has not yet been fully effective in addressing the structural factors underlying bullying. Strengthening policy implementation requires cross-sectoral policy harmonization, institutional strengthening, and improvements to the reporting system; the development of more specific operational guidelines; capacity building for implementers; enhanced protection for medical residents; as well as the development of early detection mechanisms and the integration of anti-bullying culture indicators into the monitoring and accreditation systems of teaching hospitals.
Read More
T-7608
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ira Heriawati; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Anhari Achadi, Pujiyanto, Albertus Yudha Poerwadi, Mirna Putriantiwi
Abstrak: ABSTRAK Dalam rangka memastikan bahwa kegiatan audit telah dilaksanakan sesuai dengan standar audit dan kode etik, pemerintah menetapkan kebijakan melalui Permen-PAN RB Nomor 19 Tahun 2009 sebagai pedoman pengendalian mutu audit. Itjen Kemenkes RI telah membangun sistem pengendalian mutu audit, namun berdasarkan hasil penilaian tingkat kapablitas APIP melalui penilaian IACM menunjukkan hasil bahwa kegiatan audit belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan standar audit. Untuk itu peneliti merasa perlu untuk melakukan analisis implementasi pengendalian mutu audit untuk memperoleh gambaran dan informasi mendalam terkait bagaimana implementasi pengendalian mutu audit di Itjen Kemenkes RI. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan tehnik pengumpulan data melalui wawancara mendalam , FGD dan telaah dokumen, sehingga triangulasi dilakukan dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari beberapa informan yang berbeda dan membandingkan dengan hasil telaah dokumen. Hasil penelitian diperoleh bahwa Itjen Kemenkes telah membangun sistem kendali mutu audit namun prosedur pengendalian mutu audit belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai langkah-langkah pengendalian mutu audit dalam Permen-PAN RB Nomor 19 Tahun 2009 dan ouput yang dihasilkan belum sepenuhnya sesuai dengan standar audit. Selain itu belum memiliki rancangan dan belum menetapkan program penjaminan dan peningkatan kualitas sehingga belum adanya mekanisme untuk evaluasi/reviu dan penilaian atas kesesuaian kegiatan audit intern dengan standar audit serta evaluasi terhadap penerapan kode etik oleh auditor. Faktor penghambat belum optimalnya pelaksanaan pengendalian mutu audit ini adalah dari aspek komunikasi masih belum optimal sehingga perlu ditingkatkan terutama komunikasi pada tingkat pelaksana kebijakan. Pelaksanaan pengendalian mutu audit melekat pada bagian yang melaksanakan tugas pokok fungsinya sehingga perlu adanya bagian/tim yang mengkoordinasikan untuk melakukan monitoring, evaluasi dan penilaian secara berkala dan berkelanjutan terhadap pelaksanaan pengendalian mutu audit, disamping itu perlu melengkapi pedoman/SOP yang mengatur mekanisme pengendalian dan penjaminan mutu audit. Sumber daya baik SDM, fasilitas dan anggaran masih perlu mendapat perhatian guna mendukung pelaksanaan kebijakan dan yang tidak kalah penting adalah perlunya meningkatkan komitmen dari seluruh pelaksana kebijakan. Kata kunci : Kendali mutu audit; Inspektorat Jenderal; Permenpan 19/2009; PKMA In order to ensure that audit activities have been carried out in accordance with auditing standards and codes of conduct, the government sets the policy through Permen-PANRB Number 19 of 2009 as a guideline for audit quality control. Itjen Kemenkes RI has established an audit quality control system, but based on the assessment of APIP capability level through IACM assessment shows that audit activities have not been fully implemented in accordance with audit standards. For that researchers feel the need to perform analysis of audit quality control implementation to obtain an overview and indepth information related to how the implementation of quality control audit in Itjen Kemenkes RI. The study used qualitative methods with data collection techniques through in-depth interviews, FGD and document review, so triangulation was done by comparing the information obtained from several different informants and comparing the results of the document review. The result of the research shows that Itjen Kemenkes has built an audit quality control system but audit quality control procedure has not been fully implemented according to audit quality control measures in PER-PAN RB Number 19 of 2009 and the resultant output is not fully in accordance with audit standard. Besides, it has not yet designed and has not established the quality assurance and improvement programme so that there is no mechanism for evaluation / review and assessment on the conformity of internal audit activities with audit standards and evaluation on the application of code of ethics by the auditor. The inhibiting factor is not optimal the implementation of audit quality control is from the aspect of communication is still not optimal so it needs to be improved especially communication at the level of implementing the policy. Implementation of audit quality control attached to the part that performs the main task of its function so that the need for a section / team that coordinate to conduct monitoring, evaluation and assessment periodically and continuously to the implementation of quality control of audit, besides need to complete guidance / SOP which arrange mechanism of quality control and quality assurance of audit. Resources of human resources, facilities and budgets still need attention to support the implementation of the policy and no less important is the need to increase the commitment of all policy implementers. Key words : Audit quality control; Inspectorate General; Regulation of Minister of Empowerment of State Apparatus number 19 of 2009; PKMA
Read More
T-5451
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iskandar Taran; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Asjikin Iman Hidayat Dachlan, Wiendra Waworuntu
Abstrak:
Pandemi Covid-19 telah mengekspos kerentanan dalam sistem kesehatan di Indonesia dan menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat kesiapsiagaan di pintu masuk negara. Salah satu instrumen untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit menular yang berpotensi pandemi adalah melalui penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan. Penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan di pintu masuk Negara dilaksanakan oleh UPT Bidang Kekarantinaan Kesehatan. Namun, kapasitas unit ini dihadapkan pada berbagai tantangan seperti kapasitas koordinasi dan komunikasi lintas sektor di pintu masuk masih lemah dan bervariasi antar wilayah, regulasi yang sudah tidak relevan, keterbatasan SDM, sarana dan prasarana serta teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan terkait kelembagaan, tata kerja dan sumber daya pada UPT Bidang Kekarantinaan Kesehatan di Indonesia. Pendekatan mixed-methods dengan desain explanatory sequential digunakan dalam penelitian ini. Diawali dengan survei online terhadap 287 responden, kemudian dilanjutkan dengan wawancara mendalam dengan 7 informan. Hasilnya, UPT Bidang Kekarantinaan Kesehatan perlu penguatan kelembagaan melalui pembentukan Badan/Direktorat Jenderal yang fokus pada urusan kekarantinaan kesehatan atau bahkan badan mandiri yang mengadopsi model CDC (Center for Disease Control and Prevention) dimana fungsi surveilans, penelitian dan laboratorium berada dalam satu organisasi serta menggunakan pendekatan one-health. Meskipun tata kerja UPT telah berjalan cukup efektif dengan adanya NSPK dan SOP, namun sebagian besar SOP perlu diperbarui agar selaras dengan kebutuhan dan tantangan kekarantinaan kesehatan terkini. Selain itu, masih terdapat kesenjangan antara kebutuhan dan jumlah pegawai yang tersedia yang dapat memengaruhi efektivitas pelaksanaan tugas UPT Bidang Kekarantinaan Kesehatan, sehingga dibutuhkan perencanaan SDM yang lebih terukur, terstruktur, dan berkelanjutan guna memperkuat kapasitas kelembagaan secara menyeluruh.


The Covid-19 pandemic has exposed vulnerabilities in Indonesia’s health system and served as a wake-up call for the government to strengthen preparedness at the country’s points of entry. One key instrument for preventing and controlling the spread of potentially pandemic infectious diseases is the implementation of health quarantine. Health quarantine at points of entry is carried out by the Health Quarantine Technical Implementation Unit (UPT). However, these units face various challenges, such as weak and inconsistent cross-sectoral coordination and communication across regions, outdated regulations, limited human resources, inadequate infrastructure, and insufficient technology. This study aims to analyze policies related to institutional structure, work systems, and resources of the Health Quarantine UPT in Indonesia. A mixed-methods approach with an explanatory sequential design was used, starting with an online survey of 287 respondents, followed by in-depth interviews with 7 informants. The results show that institutional strengthening is needed, including the establishment of an Agency or Directorate General focused on health quarantine affairs—or even an independent body modeled after the CDC (Centers for Disease Control and Prevention), in which surveillance, research, and laboratory functions are integrated under one organization using a one-health approach. Although UPT work systems are relatively effective with the presence of NSPK and SOPs, many SOPs need to be updated to meet current health quarantine challenges. Additionally, a gap remains between workforce needs and available personnel, affecting the effectiveness of the UPT’s functions. Therefore, structured, measurable, and sustainable human resource planning is required to comprehensively strengthen institutional capacity.
Read More
T-7423
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggitaningtyas Dzaky Salsabila; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Asnawi Abdullah, Adang Bachtiar
Abstrak:
Pengesahan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan memicu transformasi fundamental dalam tata kelola (governance) pembinaan dan pengawasan tenaga kesehatan di Indonesia. Regulasi ini menandai pergeseran paradigma dari model self-regulation yang didominasi oleh otonomi profesi menuju state regulatory governance yang terpusat pada otoritas negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tata kelola kewenangan regulatif, rekonfigurasi relasi kelembagaan antara Kementerian Kesehatan RI, Konsil Kesehatan Indonesia (KKI), Kolegium, dan Organisasi Profesi (IDI, IBI, dan PPNI), serta implikasinya terhadap kepastian hukum, akuntabilitas negara, dan perlindungan publik. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan sosio-legal yang memadukan analisis normatif (law in books) dan empiris (law in action). Pengumpulan data dilakukan melalui triangulasi studi dokumen dan wawancara mendalam dengan informan kunci di tingkat pusat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negara telah mengatribusi kembali kewenangan strategis, mengintegrasikan Kolegium ke dalam struktur KKI, serta menghapus instrumen rekomendasi Organisasi Profesi (OP) dalam pengurusan izin praktik. Reformasi ini terbukti berhasil menyederhanakan birokrasi perizinan dan mempertegas kepastian hukum secara administratif. Namun pada tataran operasional, sentralisasi ini memicu beban kapasitas (overload capacity) di tingkat pusat dan melahirkan "area abu-abu" (governance grey areas) berupa dualisme Kolegium sebagai bentuk resistensi pasif. Direduksinya peran OP di tingkat daerah melumpuhkan sistem peringatan dini (early warning system) melalui pengawasan antarsejawat (micro-surveillance), yang berisiko menciptakan perlindungan yang kurang efektif (pseudo-protection) bagi masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model state regulatory governance yang terlampau sentralistis kurang adaptif dalam menyangga kompleksitas ekosistem kesehatan. Oleh karena itu, direkomendasikan transisi lanjutan menuju Collaborative Regulated Governance, yakni tata kelola yang menyinergikan ketegasan otoritas hukum negara dalam administrasi publik dengan pendelegasian wewenang pengawasan teknis lapangan kepada Organisasi Profesi guna menjamin keselamatan pasien yang optimal.

The enactment of Law Number 17 of 2023 concerning Health has triggered a fundamental transformation in the governance of the development and supervision of health workers in Indonesia. This regulation marks a paradigm shift from a self-regulation model dominated by professional autonomy towards a state regulatory governance model centralized under state authority. This study aims to analyze the changes in regulatory authority governance, the institutional reconfiguration among the Ministry of Health, the Indonesian Health Council (KKI), Collegiums, and Professional Organizations (IDI, IBI, and PPNI), as well as their implications for legal certainty, state accountability, and public protection. This qualitative research employs a socio-legal approach combining normative (law in books) and empirical (law in action) analyses. Data collection was conducted through document studies and in-depth interviews with key informants at the central level. The results indicate that the state has reclaimed strategic authority, integrated Collegiums into the KKI structure, and eliminated the recommendatory instrument of Professional Organizations (OP) in processing practice licenses. This reform has proven successful in simplifying administrative bureaucracy and affirming formal legal certainty. However, at the operational level, this centralization has triggered overload capacity at the center and created governance grey areas, such as the dualism of Collegiums as a form of passive resistance. The reduction of OP's role at the regional level disables the early warning system via peer monitoring (micro-surveillance), which risks creating pseudo-protection for the public. This study concludes that an overly centralized state regulatory governance model is less adaptive in sustaining the complexity of the health ecosystem. Therefore, a further transition towards Collaborative Regulated Governance is recommended a model that synergizes the assertive authority of state law in public administration with the delegation of field technical supervision to Professional Organizations to ensure optimal patient safety.
Read More
T-7712
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novrita Indra Tiara Kusuma; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Adang Bachtiar, Ede Surya Darmawan, Anna Kurniati, Leni Kuswandari
Abstrak: Pelatihan dilakukan dalam upaya meningkatkan mutu tenaga kesehatan. Pelatihan pada dasarnya merupakan proses pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja, profesionalisme, dan/atau menunjang pengembangan karir. Pelatihan bagi tenaga kesehatan dapat diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat dengan syarat pelatihan harus terakreditasi dan diselenggarakan oleh institusi penyelenggara pelatihan yang terakreditasi pemerintah pusat. Ketersediaan institusi penyelenggara pelatihan bidang kesehatan terakreditasi pemerintah pusat di Indonesia masih terbatas apabila dibandingkan dengan jumlah tenaga kesehatan yang berhak memperoleh pelatihan berkualitas, oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk menganalisis implementasi kebijakan akreditasi institusi penyelenggara pelatihan bidang kesehatan dengan mengamati faktor-faktor yang berkontribusi terhadap implementasi sebuah kebijakan antara lain faktor ukuran dan tujuan kebijakan, komunikasi, sumber daya, karakteristik badan pelaksana, lingkungan, disposisi pelaksana, serta kinerja kebijakan implementasi tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan dua metode pengumpulan data yaitu wawancara mendalam dan telaah dokumen di Direktorat Peningkatan Mutu Tenaga Kesehatan dan institusi-institusi penyelenggara pelatihan bidang kesehatan yang telah terakreditasi. Hasil penelitian menunjukkan secara umum pencapaian indikator yang menjadi target kinerja kebijakan akreditasi institusi telah tercapai walaupun belum terlihat pemerataannya di seluruh provinsi di Indonesia. Pada beberapa faktor, seperti kejelasan dan pola penyampaian informasi masih perlu dikembangkan upaya lainnya agar informasi dapat jelas dipahami semua pelaksana dengan cara yang efektif dan efisien, khususnya bagi Direktorat Peningkatan Mutu Tenaga Kesehatan. Kemudian pada faktor lingkungan, perlu upaya pendekatan dan koordinasi yang mendalam dan meluas agar kesempatan tenaga kesehatan mengikuti pelatihan terakreditasi yang diselenggarakan institusi penyelenggara pelatihan terakreditasi semakin banyak.
Training is carried out in an effort to improve the quality of health workers. Training is basically a learning process that aims to improve performance, professionalism, and/or support career development. Training for health workers can be organized by government, regional department, or community with the condition that the training must be accredited and held by an accredited health training provider institution. The availability of institutions providing training in the health sector accredited by the central government in Indonesia is still limited when compared to the number of health workers who are entitled to receive quality training. Therefore this study was conducted to analyze the implementation of the accreditation policy for institutions providing training in the health sector by observing factors that contribute to the implementation of a policy include the size and objectives of the policy, communication, resources, characteristics of the implementing agency, environment, disposition of the implementer, as well as the performance of the implementation policy. This research is a qualitative research using two methods of data collection, in-depth interviews and document review at Direktorat Peningkatan Mutu Tenaga Kesehatan and accredited training institutions in the health sector. The results of the study show that in general the achievement of the indicators that are the performance targets for institutional accreditation policies has been achieved, although the distribution has not yet been seen in all provinces in Indonesia. On several factors, such as clarity and patterns of information delivery, other efforts need to be developed so that information can be clearly understood by all implementers in an effective and efficient manner, especially for Direktorat Peningkatan Mutu Tenaga Kesehatan. Then on environmental factors, an in-depth and widespread approach and coordination is needed so that there are more and more opportunities for health workers to take part in accredited training organized by accredited training institutions.
Read More
T-6661
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asrina Novianti; Pembimbing: Adik Wibowo, Puput Oktamianti; Penguji: Anhari Achadi, Dwi Harti Nugraheni, Naniek Isnaini Lestari
Abstrak: Belum adanya indikator kinerja dalam pelaksanaan kehumasan bidang kesehatan di Kabupaten Tangerang berimplikasi terhadap target luaran yang dihasilkan menjadi tidak jelas. Pedoman Umum Kehumasan Bidang Kesehatan pun belum tersosialisasikan dengan baik sehingga masih ditemui adanya kendala untuk menjalankan pedoman tersebut secara menyuluruh. Belum adanya tim kehumasan dalam bentuk jabatan fungsional turut menjadikan peran kehumasan belum dapat berjalan sesuai dengan standar aturan yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis impelementasi kebijakan kehumasan bidang kesehatan di Kabupaten Tangerang dan melihat efektifitasnya berdasarkan teori Edward III. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan untuk mengembangkan strategi kebijakan atau tindakan evaluasi yang tepat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan kehumasan bidang kesehatan di Kabupaten Tangerang telah berjalan. Namun, masih belum optimalnya sosialisasi Pedoman Umum Kehumasan Bidang Kesehatan menghasilkan pemahaman yang kurang mendalam mengenai prinsip kegiatan kehumasan. Selain itu pula perlu ada indikator yang jelas dalam pelaksanaan kegiatan kehumasan yang bertumpu pada prinsip kegiatan kehumasan di PMK nomor 81 tahun 2015, agar implementasi kebijakan kehumasan bidang kesehatan dapat berjalan lebih baik di Kabupaten Tangerang
The absence of performance indicators in the implementation of public relations in the health sector in Tangerang Regency has implications for the resulting outcome targets to be unclear. The General Guidelines for Public Relations in the Health Sector have not been well socialized so that there are still obstacles in carrying out these guidelines in a comprehensive manner. The absence of a public relations team in the form of a functional position has also contributed to the role of public relations that has not been able to run in accordance with the applicable rules. This study aims to analyze the implementation of public relations policy in the health sector in Tangerang Regency and see its effectiveness based on the theory of Edward III. The results of this study are expected to be input for developing appropriate policy strategies or evaluation actions. This study uses qualitative methods with in-depth interview techniques and document review. The results of the study indicate that the implementation of public relations in the health sector in Tangerang Regency has been running. However, the socialization of the General Guidelines for Public Relations in the Health Sector has not yet been optimal, resulting in a less in-depth understanding of the principles of public relations activities. Besides that, it is also necessary to have clear indicators in the implementation of public relations activities that are based on the principle of public relations activities in PMK number 81 of 2015, so that the implementation of public relations policies in the health sector can run better in Tangerang Regency.
Read More
T-5494
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive