Ditemukan 26197 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Destriyanti Sugiarti; Pembimbing: Ririn Arminsih; Penguji: Laila Fitria, Ema Hermawati, Ddidik Supriyono, Dkah Wati
Abstrak:
Malaria merupakan suatu penyakit yang tersebar luas di berbagai negara, baik yang beriklim tropis maupun sub-tropis. Kabupaten Tasikmalaya merupakan wilayah yang mengalami kenaikan kasus malaria selama 5 tahun terakhir dan tertinggi di tahun 2013, sebanyak 168 kasus positif malaria. Kondisi wilayah Tasikmalaya terdiri dari wilayah pesisir dan pegunungan yang memiliki tempat yang potensial bagi perindukan nyamuk Anopheles, yaitu rawa, lagoon, dan persawahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan faktorrisiko lingkungan dengan kejadian malaria di Kabupaten Tasikmalaya. Desainpenelitian yang digunakan adalah kasus kontrol dengan jumlah sampel 140. Hasilmenunjukkan terdapat hubungan antara pekerjaan OR = 0,22 (95% CI; 0,10-0,47), mobilitas penduduk ke daerah endemis OR=37,46 (95% CI; 14,29-98,18),keberadaan jentik OR=5,26 (95% CI; 1,41-19,74), dan suhu ruang OR= 3,25(95% CI; 1,62-6,50). Hasil penelitian menyarankan dilakukan kegiatan migrasi survey dan promosi kesehatan untuk melakukan upaya preventif terhadap penyakit malaria di daerah endemis malaria, serta mendorong masyarakat berperilaku hidup sehat dengan membebaskan lingkungan dari jentik nyamuk dan melindungi diri dari gigitan nyamuk. Kata Kunci: Faktor risiko lingkungan, kejadian malaria, hubungan,Anopheles
Malaria disease was widespread in many countries, both tropical and sub-tropical. Tasikmalaya is a region that experienced an increase in malaria casesover the last 5 years and highest in 2013, a total of 168 positive cases of malaria.Tasikmalaya region consists of coastal and mountain areas, it has a potential placefor Anopheles mosquito breeding, ie swamp, lagoon, and rice fields. The purposeof this study was to determine the correlation of environmental risk factors withthe incidence of malaria in Tasikmalaya district. The design of the study is casecontrol study with 140 sampels. Results demonstrated an association betweenoccupation OR= 0.22 (95% CI; 0.10-0.47), the mobility of the population to theendemic areas OR=37.46 (95% CI; 14.29 -98.18) , the presence of larvaeOR=5.26 (95% CI; 1.41-19.74), andthe room temperature OR=3.25 (95% CI;1.62- 6.50). The results of the study suggest migration survey conducted activityand health promotion for preventive efforts against malaria in malaria-endemicareas, and to encourage people to behave healthy life by freeing environment ofmosquito larvae and protect themselves from mosquito bites.Key words:Environmental risk factors, malaria, correlation, Anopheles
Read More
Malaria disease was widespread in many countries, both tropical and sub-tropical. Tasikmalaya is a region that experienced an increase in malaria casesover the last 5 years and highest in 2013, a total of 168 positive cases of malaria.Tasikmalaya region consists of coastal and mountain areas, it has a potential placefor Anopheles mosquito breeding, ie swamp, lagoon, and rice fields. The purposeof this study was to determine the correlation of environmental risk factors withthe incidence of malaria in Tasikmalaya district. The design of the study is casecontrol study with 140 sampels. Results demonstrated an association betweenoccupation OR= 0.22 (95% CI; 0.10-0.47), the mobility of the population to theendemic areas OR=37.46 (95% CI; 14.29 -98.18) , the presence of larvaeOR=5.26 (95% CI; 1.41-19.74), andthe room temperature OR=3.25 (95% CI;1.62- 6.50). The results of the study suggest migration survey conducted activityand health promotion for preventive efforts against malaria in malaria-endemicareas, and to encourage people to behave healthy life by freeing environment ofmosquito larvae and protect themselves from mosquito bites.Key words:Environmental risk factors, malaria, correlation, Anopheles
T-4251
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rusyda Ihwani Tantia Nova; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Budi Hartono, Suwito, Sri Lenita
Abstrak:
Leptospirosis adalah salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Leptospira merupakan bakteri patogen yang dapat ditularkan dari hewan kepada manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada tahun 2015, terdapat 366 kasus leptospirosis di Indonesia. DKI Jakarta merupakan salah satu provinsi dengan jumlah kasus leptospirosis yang tinggi. Berdasarkan data yang diperoleh dari bidang penanggulangan dan pencegahan penyakit Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2016 sampai Agustus tahun 2019 terdapat 94 kasus leptospirosis yang tersebar di wilayah DKI Jakarta. Jumlah kasus terbesar terdapat di wilayah Jakarta Barat dengan total kasus sebanyak 70 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh lingkungan dan perilaku masyarakat terhadap kejadian leptospirosis di Jakarta Barat tahun 2019. Studi ini menggunakan desain penelitian kasus kontrol. Data kasus diperoleh dari surveilans Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 140 responden yang terdiri dari 70 responden yang menderita leptospirosis (kasus) dan 70 responden yang tidak menderita leptospirosis (kontrol) dengan perbandingan 1:1. Pada analisis bivariat diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pengetahuan (OR=18,789), pekerjaan (OR=31,875), riwayat luka (OR=20,842), keberadaan tikus (OR=12,143), kondisi rumah (OR=5,510), kondisi selokan (OR=13,235), keberadaan genangan air (OR=7,400), sarana air bersih (OR=3,947), kondisi tempat pembuangan sampah (OR=8,800), dan riwayat rekreasi (OR=0,294) terhadap kejadian leptospirosis. Pada analisis multivariat diperoleh hasil pekerjaan, adanya riwayat luka, keberadaan genangan air, keberadaan hewan peliharaan dan riwayat rekreasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian leptospirosis. Pekerjaan merupakan faktor dominan terjadinya leptospirosis di Jakarta Barat (OR 210,840:95%CI 8,685-5118,379). Oleh karena itu perlu dilakukan upaya sosialisasi tentang penyakit leptospirosis kepada pekerja yang berisiko dan melakukan upaya pengendalian tikus
Read More
T-5786
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Teni Supriyani; Pepmbimbing: Umar Fahmi Achadi; Penguji: Dewi Susanna, Budi Hartono, Didik Supriyono, Rina Fitriani Bahar
T-4275
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Azkiya Zulfa; Pembimbning: I Made Djaja; Penguji: Renti Mahkota, Farida
Abstrak:
Kejadian diare terbanyak di Kota Bogor terjadi di Kecamatan Tanah Sareal dimana kondisi sanitasi yang berkaitan dengan air minum berisiko tinggi terdapat di Kelurahan Sukadamai dan Mekarwangi yang termasuk ke dalamwilayah kerja puskesmas Mekarwangi Kota Bogor. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare pada balita diwilayah kerja puskesmas Mekarwangi Kota Bogor tahun 2014. Disain penelitian yang digunakan adalah case control dengan jumlah kasus 120 dan jumlah kontrol120. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan pemeriksaan laboratorium sampel air minum. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh terhadap kejadian diare pada balita adalah Escherichiacoli dalam air minum (OR=2,61; 95% CI= 1,32-6,76), perilaku cuci tangan ibuatau pengasuh (OR=2,05; 95% CI= 1,18-3,57), hygiene sanitasi makanan danminuman (OR=2,53; 95% CI= 1,46-4,39) dan pengetahuan ibu atau pengasuh(OR=1,83; 95% CI= 1,01-3,31). Perlu dilakukan upaya pencerdasan kepada masyarakat berupa penyuluhan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui media cetak seperti poster, pamflet dan lain sebagainya.
Kata kunci: Diare, balita
The highest incidence of diarrhea in Bogor occurred at Tanah Sarealdistrict where the condition of basic sanitation associated with high risk drinkingwater in Kelurahan Sukadamai and Kelurahan Mekarwangi which belong toPuskesmas Mekarwangi region. This study aims to analyze risks that affectedunderfive years children diarrhea in region of Puskesmas Mekarwangi, Bogor2014. This study used case control design with 120 controls and 120 cases. Theinformation collected by interviews, observation and laboratorium analyze ofdrinking water sample. Result that risk factors that affected diarrhea areEscherichia coli in drinking water (OR=2,61; 95% CI= 1,32-6,76), handwashingbehavior (OR=2,05; 95% CI= 1,18-3,57), hygiene sanitation of food and drink(OR=2,53; 95% CI= 1,46-4,39) and also knowledge of mother about diarrhea(OR=1,83; 95% CI= 1,01-3,31). It should be held an interventions direct orindirectly toward the residents, by printed media,e.g. poster, pamphlet, bulletin,xbanner etc.
Keyword: Diarrhea, underfive years children
Read More
Kata kunci: Diare, balita
The highest incidence of diarrhea in Bogor occurred at Tanah Sarealdistrict where the condition of basic sanitation associated with high risk drinkingwater in Kelurahan Sukadamai and Kelurahan Mekarwangi which belong toPuskesmas Mekarwangi region. This study aims to analyze risks that affectedunderfive years children diarrhea in region of Puskesmas Mekarwangi, Bogor2014. This study used case control design with 120 controls and 120 cases. Theinformation collected by interviews, observation and laboratorium analyze ofdrinking water sample. Result that risk factors that affected diarrhea areEscherichia coli in drinking water (OR=2,61; 95% CI= 1,32-6,76), handwashingbehavior (OR=2,05; 95% CI= 1,18-3,57), hygiene sanitation of food and drink(OR=2,53; 95% CI= 1,46-4,39) and also knowledge of mother about diarrhea(OR=1,83; 95% CI= 1,01-3,31). It should be held an interventions direct orindirectly toward the residents, by printed media,e.g. poster, pamphlet, bulletin,xbanner etc.
Keyword: Diarrhea, underfive years children
S-8168
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rosa Jaya; Pembimbing: Sumengen Sutomo, I Made Djaja; Penguji: Robiana Modjo, Sutaryana, Azhar Jaya
Abstrak:
Read More
Kualitas udara dalam ruangan kelja yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan dapat menyebabkan ruangan kerja tidak nyaman; dampak negatif terhadap karyawan berupa keluhan kesehatan yang dikenal dengan istilah sick building syndrome 6985). Keluhan SBS biasanya tidak terlalu parah dan tidak diketahui penyebabnya, tetapi mengurangi produktivitas kerja. Sejumlah penelitian pada lingkungan yang berbeda menunjukkan bahwa faktor-faktor intcmal dan ekstemal mempengaruhi kejadian SBS. Informasi mengenai kualitas udara dalam mangan gedung perkantoran Departemen Kesehatan (Dcpkes) belum dikctahui, walaupun sudah banyak Iaporan tentang keluhan SBS. Tujuan penelitian untuk memperoleh informasi mengenai kualitas udara di gcdung Depkes Jakarta, Serta kejadian SBS dan ihktor-faktor yang mempengaruhinya. Menggunakan studi cross-seczional hersifat deskriptif analitik; melibatkan 242 karyawan Depkes scbagai responden. Kriteria respondcn adalah orang sehat tidak menderita penyakit sesuai diagnosa dokter dan tidak sedang hamil. Untuk memperoleh data mengenai, karakteristik, psikologis dan posisi kelja yang ergonomik dari responden menggunakan kucsioner teramh dan terstruktur. Sedangkan pengukuran konsentrasi NO2, CO, C0;, SO2, H2S, NH; and PM|0 scbagai indikator kualitas udara dilakukan pada 10 ruangan. Kualitas udara dalam ruangan masih memcnuhi persyaratan scsuai Keputusan Mentcri Kesehatan No. 1405/Menkes/SK/XI/2002. Kadar NO2, SO2, and NH; terdeteksi pada tiga ruangan. Konsenlrasi C0 pada setiap ruangan sama; C02, H2S, and PMN lerdetcksi pada setiap ruangan dengan konscntrasi berbeda-beda. Pencahayaan pada seluruh ruangan memenuhi pcrsyaratan (> |00 lux). Di Iain pihak, suhu dan kelembaban pada beberapa ruangan melebihi persyaratan, namun secara umum nilai rata-ratanya masih memenuhi persyaratan. Prevalensi SBS sebesar 19%, dengan gejala tcrbanyak berupa kelelahan, rasa sakit dan kekakuan pada bahu dan Ieher (50%); flu, batuk dan bersin-bersin (49.6%); Serta pusing, sakit kepala dan kesulitan konsentrasi (38.4%). Suhu, posisi keqja yang ergonomik, jenis kelamin dan umur mempcngaruhi kejadian SBS secara bemmakna, dimana suhu merupakan variabel yang paling dominan. Kualitas udara masih memenuhi persyaratan kesehatan, untuk Iingkungan fisik dalam ruangan kenja nilai rata-rata pengukuran masih memenuhi persyaratan, walaupun ada ruangan yang suhu atau kelembaban tidak memcnuhi persyaratan kesehatan, Suhu, posisi kerja yang ergonomik, jenis kelamin dan umur sangat mempengaruhi kejadian SBS. Pemeliharaan pendingin ruangan serta posisi kerja yang ergonomik merupakan upaya pencegahan yang harus mcndapat perhatian dalam program SBS.
Indoor air quality that does not meet the health standard requirement may lead to uncomfortable working environment and causes negative impacts to the workers in the fomm of health complaints known as sick building .syndrome (SBS). Usually the complaints are not very serious and the sources are unknown; however it could reduce work productivity. A number of studies in different settings have indicated that several internal and external factors influence the incidence of SBS. Infomation on the indoor air quality of the Ministry of Health (MOH) building has not yet been known, in spite ofthe SBS complaints that have been reported. The purpose of this study is to obtain infomation on the indoor air quality ofthe MOH building Jakarta, as well as the incidence of SBS and its’ underlying thctors. Using cross-sectional study which is descriptive-analytic; the study involved 242 MOH employees as respondents. The criteria ofthe respondents were healthy individuals not suffering from diseases as diagnosed by a physician and not pregnant. To obtain data on the characteristics, psychological and ergonomic working position of the respondents, guided and structured questionnaire were used. Whereas measurements of NO;, CO, CO2, S02, I-I2S, NH, and PM10 concentrations as indicators of air quality were undertaken in ten rooms. Indoor air quality still meets the standard requirement, in accordance to the Minister of Health Decree No. 1405/ivlenkes/SK/XI/2002. Concentrations of NO2, SO2, and Nl-I; were detected in three rooms. The concentration of CO in all rooms was the same; while CO2, l-l2S, and PM10 were detected in all rooms with different concentrations. Illuminations in all rooms were in compliance to the standard requirement (> 100 lux). On the other hand, the temperature and humidity in some rooms exceeded the standard requirement, however, in general the average value of these two variables still meet the requirements. The prevalence of SBS was 19%, mostly in the fonn of fatigue, pain and stiff on the shoulder and neck (50%); common cold, coughing and sneezing (49.6%); as well as diuiness, headache and concentration problems (38.4%). Temperature, ergonomic working position, sex and age significantly influence the incidence of SBS, in which the room temperature was shown to be the predominant variable. Indoor air quality was still in compliance to the health standard requirement. As for the physical environment, the measurement average values still meet the requirements although the temperature and humidity in some rooms did not. _ Temperature, ergonomic working position, sex and age significantly influence the incidence of SBS. Maintenance of the air conditioner and sustaining ergonomic working position are prevention actions that should acquire attention in the SBS program.
T-2975
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Muhammad Mundzir Kamiluddin; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Mila herdayati, Teti Tejayanti
Abstrak:
Di negara-negara berkembang hampir 1 dari 5 Balita meninggal disebabkan olehpneumonia. Balita merupakan kelompok umur yang rentan terhadap terserangpneumonia. Period prevalence pneumonia pada anak Balita di DKI Jakartaberdasarkan data Riskesdas 2013 mencapai 19,6 permil.
Tujuan penelitian iniadalah untuk mengetahui faktor lingkungan fisik rumah dan faktor lainnya yangberhubungan dengan kejadian pneumonia pada Balita di DKI Jakarta denganmenggunakan data Riskesdas 2013. Desain penelitian ini adalah cross sectional.Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan masing-masing variabelyang diteliti dan analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antaravariabel independen dengan variabel dependen.
Hasil penelitian menunjukkanbahwa prevalensi pneumonia Balita di DKI Jakarta sebesar 4%. Hasil analisisbivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadianpneumonia Balita adalah usia Balita.
Kata kunci: Pneumonia, Balita, DKI Jakarta, Riskesdas 2013
In development countries nearly 1 in 5 children under five years old died due topneumonia. Children under five years old are the age group that susceptible topneumonia. Period prevalence of pneumonia in children under five years old inJakarta based on National Basic Health Research 2013 has reached 19.6 per mil.
The objective of this study is to determine the physical environment of house andother factors associated to the incidence of pneumonia children under five yearsold in Jakarta using National Basic Health Research 2013 data. This study designis cross-sectional study. Univariate analysis is used to describe each variablestudied and bivariate analysis is used to determine the relationship between thedependent and independent variables.
The results showed that the prevalence ofpneumonia children under five years old in Jakarta at 4%. Results of bivariateanalysis showed that the variables associated with the incidence of pneumonia isage of children under five.
Key words: Pneumonia, children under five years old, physical environment ofhouse, DKI Jakarta, Riskesdas 2013
Read More
Tujuan penelitian iniadalah untuk mengetahui faktor lingkungan fisik rumah dan faktor lainnya yangberhubungan dengan kejadian pneumonia pada Balita di DKI Jakarta denganmenggunakan data Riskesdas 2013. Desain penelitian ini adalah cross sectional.Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan masing-masing variabelyang diteliti dan analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antaravariabel independen dengan variabel dependen.
Hasil penelitian menunjukkanbahwa prevalensi pneumonia Balita di DKI Jakarta sebesar 4%. Hasil analisisbivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadianpneumonia Balita adalah usia Balita.
Kata kunci: Pneumonia, Balita, DKI Jakarta, Riskesdas 2013
In development countries nearly 1 in 5 children under five years old died due topneumonia. Children under five years old are the age group that susceptible topneumonia. Period prevalence of pneumonia in children under five years old inJakarta based on National Basic Health Research 2013 has reached 19.6 per mil.
The objective of this study is to determine the physical environment of house andother factors associated to the incidence of pneumonia children under five yearsold in Jakarta using National Basic Health Research 2013 data. This study designis cross-sectional study. Univariate analysis is used to describe each variablestudied and bivariate analysis is used to determine the relationship between thedependent and independent variables.
The results showed that the prevalence ofpneumonia children under five years old in Jakarta at 4%. Results of bivariateanalysis showed that the variables associated with the incidence of pneumonia isage of children under five.
Key words: Pneumonia, children under five years old, physical environment ofhouse, DKI Jakarta, Riskesdas 2013
S-9046
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurussakinah; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Zakianis, Didik Supriyono
Abstrak:
Industri garmen P.T. X merupakan jenis industri yang bergerak di bidangpembuatan pakaian jadi untuk keperluan ekspor. Proses produksi industri garmenmelibatkan penggunaan kapas dan bahan baku tekstil dalam pembuatannya.Berdasarkan data Poliklinik, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakanpenyakit tertinggi pada tahun 2010-2012. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui faktor risiko lingkungan fisik terhadap kejadian ISPA pada pekerjabagian material, cutting dan sewing industri garmen P.T. X. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional atau potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 102 pekerja. Jumlah pekerja yang menderita ISPA sebanyak 39(38,2%) dan besar rata-rata suhu, kelembaban dan pencahayaan di area kerja sebesar 29,7o C, 69% dan 231 lux. Faktor lingkungan fisik kerja, karakteristik danperilaku tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian ISPA pada pekerja garmen. Himbauan penggunaan APD perlu diterapkan pada pekerja garmen.
Kata kunci:Lingkungan Fisik, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Industri Garmen.
Read More
Kata kunci:Lingkungan Fisik, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Industri Garmen.
S-7781
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Prisilia Oktaviyani; Pembimbing: Budi Hartono, Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Lukman Hakim; Vissia Didin Ardiyani
Abstrak:
Malaria is a disease caused by the Plasmodium parasite and is transmitted by the Anopheles mosquito. Malaria is one of the health problems faced by Indonesia and the world. So that efforts to eradicate malaria are included in one of the goals of the Sustainable Development Goals (SDGs). This study aims to determine the relationship of environmental and population factors to the incidence of malaria in Kapuas District. This study used ecological methods carried out in 17 sub-districts in Kapuas District in 2013 - 2017. The data used in this study were secondary data obtained from relevant agencies, namely the Kapuas District Health Office, Kapuas Regency Central Bureau of Statistics and BMKG Palangkaraya. The independent variables in this study were topography, rainfall, water area, distribution of bed nets, and population density. For the dependent variable is the incidence of malaria. The results of the analysis show that environmental variables, namely topography, rainfall, water area, and population distribution and population variables, namely population density are significantly associated with malaria incidence in Kapuas District in 2013-2017 (p value <0.1). The results of the analysis also showed positive relationships between the topographic, water, and netting distributions with the incidence of malaria. While the rainfall and population density variables showed a negative relationship to the incidence of malaria. Preventive efforts need to be made to prevent the incidence of malaria in the Kapuas Regency, such as maximizing the distribution of mosquito nets to spray in transmigrant homes, providing larvacides and strengthening malaria baseline data by mapping.
Key words: Malaria, Environmental Factors, Demography Factor
Read More
Key words: Malaria, Environmental Factors, Demography Factor
T-5480
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dian Iskandar; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Zakianis, Surjanto
S-6927
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mellia Jeneetica; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari
S-3412
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
