Ditemukan 26741 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Karies gigi merupakan salah satu penyakit gigi dan mulut dengan prevalensi tinggi baik secara global maupun nasional. Tingginya kejadian karies serta rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi menunjukkan masih adanya faktor risiko yang perlu dikaji, khususnya pada tingkat fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian karies gigi pada pasien di Agsato Dental tahun 2024.
Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain cross sectional. Data diperoleh dari rekam medis dan administrasi pasien yang melakukan kunjungan perawatan gigi pada periode Januari–Desember 2024. Sampel penelitian berjumlah 669 responden, terdiri dari 310 pasien karies dan 359 bukan karies. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan perhitungan Prevalence Odds Ratio (POR) pada tingkat kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan Responden perempuan memiliki peluang mengalami karies 1,052 kali dibandingkan laki-laki (95% CI: 0,776–1,427), Dibandingkan usia <10 tahun, kelompok usia 10–17 tahun memiliki peluang karies 0,808 kali (95% CI: 0,373–1,747),, usia 18–59 tahun sebesar 0,930 kali (95% CI: 0,533–1,622),, dan usia >60 tahun sebesar 2,045 kali lebih tinggi (95% CI: 0,848–4,932). Responden yang bekerja memiliki peluang karies 1,042 kali dibandingkan yang tidak bekerja (95% CI: 0,712–1,524). Berdasarkan wilayah tempat tinggal, responden yang tinggal di Jakarta selain Jakarta Selatan memiliki peluang 0,548 kali (95% CI: 0,292–1,027), dan yang tinggal di Jakarta Selatan 0,866 kali dibandingkan responden di luar Kota Jakarta (95% CI: 0,568–1,319). Pada kategori pembayaran, responden yang melakukan pembayaran pribadi memiliki peluang 1,462 kali lebih tinggi mengalami karies dibandingkan pengguna asuransi (95% CI: 1,072–1,995).
Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan peluang karies terutama terlihat pada kelompok usia lanjut. Sementara itu, karakteristik demografi lainnya menunjukkan peluang yang relatif serupa antar kelompok. Dengan demikian, upaya promotif dan preventif perlu difokuskan pada kelompok usia lanjut guna menurunkan risiko karies gigi.
Dental caries is one of the most prevalent oral diseases both globally and nationally. The high incidence of caries and the low utilization of dental health services indicate that risk factors still need to be explored, particularly at the level of healthcare facilities. This study aimed to analyze factors associated with the occurrence of dental caries among patients at Agsato Dental in 2024. This research employed an observational study with a cross-sectional design. Data were obtained from medical records and administrative records of patients who visited for dental treatment from January to December 2024. The study sample consisted of 669 respondents, including 310 patients with caries and 359 without caries. The association between variables was analyzed using the Chi-square test, with the calculation of the Prevalence Odds Ratio (POR) at a 95% confidence level. The results showed that female respondents had 1.052 times the odds of experiencing caries compared to males (95% CI: 0.776–1.427). Compared to children aged <10 years, those aged 10–17 years had 0.808 times the odds of caries (95% CI: 0.373–1.747), those aged 18–59 years had 0.930 times the odds (95% CI: 0.533–1.622), and those aged >60 years had 2.045 times higher odds (95% CI: 0.848–4.932). Respondents who were employed had 1.042 times the odds of caries compared to those who were unemployed (95% CI: 0.712–1.524). Based on place of residence, respondents living in Jakarta outside South Jakarta had 0.548 times the odds (95% CI: 0.292–1.027), and those living in South Jakarta had 0.866 times the odds compared to respondents residing outside Jakarta (95% CI: 0.568–1.319). Regarding payment method, respondents who made out-of-pocket payments had 1.462 times higher odds of experiencing caries compared to those using insurance (95% CI: 1.072–1.995). These findings indicate that increased odds of caries were primarily observed in the elderly group. Meanwhile, other demographic characteristics showed relatively similar odds across categories. Therefore, promotive and preventive efforts should be prioritized for the elderly population to reduce the risk of dental caries..
Dental hygiene is a health problem that can affect the overall quality of life. Dental health is often considered to be a minor problem when a local impact on the tooth itself and other systemic organs. Based on data Riskesdas 2007 can be seen that the prevalence of dental caries in Indonesia at the age of 12 years was 43.4% and Lebak regency highest prevalence of dental caries 43.6%. The purpose of this study was to determine the factors related to the incidence of dental caries in primary school students grades 4 -5 In District Curugbitung Lebak district of Banten which factors of gender, class, parental education, parental employment, and factors of dental health knowledge and behavior of health care teeth. This study is a descriptive study using cross-sectional design.
Malaria hampir ditemukan di seluruh bagian dunia, terutama di negara-negara yang beriklim tropis dan sub tropis, dan penduduk yang berisiko terkena malaria 2,3 milyar atau 41% dari jumlah penduduk dunia. Penyakit ini hampir tersebar di seluruh kepulauan di Indonesia dengan jumlah kesakitan sekitar 70 juta atau 35% penduduk Indonesia. Malaria di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung cukup tinggi, tergambar dari Annual Malaria Incidence (AM!) 27,7% tahun 2004 dan meningkat pada tahun 2005 menjadi 37,59%o. Dibandingkan dengan target AMI nasional 25%0 (2004) dan 22,5%0 (2005) ternyata masih di atas AMI nasional dengan kategori Mediun Incidence Area (MIA). Kejadian malaria di Kota Pangkalpinang pada tiga tahun terakhir meningkat terus secara berturut-turut AMI 25,2%0 (2002), 25,7%0 (2003) dan 29,5%0 (2004). Dari sebanyak 6531 sampel darah yang diperiksa tahun 2005 diperoleh Slide Positive Rate (SPR) 46,5% dimana 50,85% diantaranya Plasmodim falsiparum positif, terjadi peningkatan 8,7% bila dibandingkan dengan tahun 2004. Tujuan penelitian ini, untuk mengetahui peran tempat perindukan nyamuk dan pengaruh faktor-faktor risiko lainnya (kovariat) terhadap kejadian malaria falsiparum di Kota Pangkalpinang. Desain penelitian adalah studi kasus kontrol, menggunakan data primer. Jumlah sampel keseluruhan 434, jumlah kasus dan kontrol masing-masing 217 (perbandingan 1:1). Kasus adalah penduduk yang berkunjung ke Puskesmas berusia 15-55 tahun dengan gejala klinis malaria; demam, menggigil secarn berkala, berkeringat, mengeluh sakit kepala, dan basil pemeriksaan sediaan darah positif Plasmodim falsiparum dan bertempat tinggal di wilayah Kota Pangkalpinang lahun 2006, sedangkan kontrol mempunyai kondisi yang sama dengan kasus tetapi basil pemeriksaan sediaan darahnya negatif semua jenis Plasmodim malaria Pengumpulan data dilakukan pada bulan Maret hingga Mei 2006. Variabel penelitian adalah kejadian malaria falsiparum (dependen), dengan tempat perindukan nyamuk sebagai variabel independen utama dan delapan variabel kovariat (pemeliharaan binatang temak, dinding rumah, kebersihan lingkungan, pemasangan kawat kasa, pemakaian kelambu, penggunaan obat nyamuk, kebiasaan pembersihan lingkungan dan perilaku tokoh masyarakat. Hasil uji bivariat terdapat 8 (delapan) variabel berhubungan secara bermakna dengan kejadian malaria falsiparum (p-value<0,05), hanya satu variabel yang tak berhubungan secara statistik yaitu; variabel dinding rumah (p-value>0,05). Setelah dilakukan analisis multivariat, variabel yang berhubungan dengan kejadian malaria falsiparum hanya enam variabel yaitu; tempat perindukan nyamuk, pemeliharaan binatang ternak, kebersihan lingkungan, pemasangan kawat kasa, pemakaian kelambu, penggunaan obat nyamuk, dan kebiasaan pembersihan lingkungan. Peran tempat perindukan nyamuk setelah dikontrol (adjust) dengan kelima variabel lain yang berpengaruh terhadap kejadian malaria falsiparum diperoleh p-value =0,000 dan OR ad1=3, 506. Pada dasarnya tempat perindukan nyamuk sebagai variabel independen utama berperan panting untuk terjadinya malaria falsiparum. Efek atau risiko oleh adanya tempat perindukan nyamuk tersebut tetap tinggi walaupun sudah dikontrol oleh variabel lainnya (OR adj=3,506, 95%CI:2,285-5,378). Variabel lain yang ternyata ikut berperan untuk terjadinya infeksi malaria falsiparum adalah pemeliharaan binatang ternak, kebersihan lingkungan, pemasangan kawat kasa, pemakaian kelambu, dan penggunaan obat nyamuk. Dan penelitian ini dapat disarankan adalah memasyarakatkan Gerakan Jum'at Bersih, penyuluhan kesehatan masyarakat untuk memberdayakan tokoh masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat (LSM), menjalin kemitraan dengan stakeholder serta merancang program pencegahan dan pemberantasan malaria yang berbasis wilayah dan masyarakat dengan dikukuhkan dalam bentuk peraturan daerah (Perda) Kota Pangkalpinang.
Malaria is almost found in all over the world, especially in countries which have tropical climate and sub tropical, and population which have a malaria risk, they are 2,3 billions or 41% of world population number. This disease almost spread over in all of archipelago in Indonesia with morbidity rate are 70 millions or 35% of population in Indonesia. Malaria rate is highest in province of Kepulauan Bangka Belitung, It showed by an Annual Malaria Incidence (AMI) is 27,7% in 2004 and it is increasingly to be 37,59% in 2005. Compared to a national purpose of Annual Malaria Incidence is 25% (2004) and 22,5% (2005), it indicated above a national Annual Malaria Incidence with Medium Incidence Area (MM) category. Malaria occurrence at Pangkalpinang in the last three years increased by an Annual Malaria Incidence (AMI) is 25,2°Imo (2002), 25,7°Imo (2003), 29,5°I. (2004). From 6531 blood samples checked in 2005 are obtained Slide Positive Rate (SPR) are 46,5% and 50,85% of them are positive Plasmodium falciparum, increased 8,7% compared in 2004. This research purpose is to know role of a mosquitos breeding place and effect of other risk factors (covariate) to malaria falciparum occurrence at Pangkalpinang. This research used a control case study design with a primary data. All samples number are 434, each cases and controls number are 217 (comparison 1:1). Cases are population who visited to primary health care with 15-55 years old by a symptom of a clinic malaria: fever, trembling periodically, sweating, headache and examination result indicated a positive blood preparation of Plasmodium falciparum who lived at Pangkalpinang in 2006, while controls have the same condition as cases but its result of blood preparations for all types of Plasmodium malaria are negative. Data collected from March-May 2006. Research variable is malaria falciparum occurrence (dependent), with a mosquito breeding places as a main independent variable and eight covariate variables (breed animal conservancy, house wall, hygienic environment, wire netting installation, usage of mosquito net, usage of mosquito prevention, hygienic environment practice, and public figure behavior. There are eight variables from bivariate test result which have a meaning correlation with malaria ,falciparum occurrence (p-value<0,05), only one variable which do not correlate statistically, it is a house wall variable (p-value>0,05). After multivariate analysis, there are only six variables which related to malaria occurrence, such as mosquitos breeding place, breed animal conservancy, hygienic environment, wire netting installation, usage of mosquito net, usage of mosquito prevention, hygienic environment practice. Role of mosquitos breeding places after controlled (adjust) with other fifth variables which have effect to malaria falciparum occurrence obtained p-value=0,000 and ORadj=3,506. Basically, mosquitos breeding places as a main independent variable, has played the important role to malaria falciparum occurrence. The existence of mosquitos breeding places has a highest risk although it has been controlled with other variable (CRad1=3,506, 95%Cl: 2,285-5,378). The other variables which have important roles of malaria falciparum infection are breed animal conservancy, hygienic environment, wire netting installation, usage of mosquito net, and usage of mosquito prevention. From this research can be suggested by socializing of "Gerakan Jum'at Bersih ", counseling of public health to give a change for public figure and non government organization, making a relationship with stakeholder as a partner and planning a prevention and eradication of malaria program based on district and community confirmed in the form of a district regulation of Pangkalpinang.
