Ditemukan 37886 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Remaja merupakan generasi penerus bangsa sejak dini harus disiapkan secara utuh baik( fisik maupun psikologisnya. Kesehatan reproduksi remaja merupakan salah satu program yang dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan dibidang usaha kesehatan sekolah dan remaja. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dwiprahasto (1993) diketahui 3,6% kelompok umur 13-15 tahun dan (5,4%) kelompok umur 16-20 tahun telah melakukan hubungan seksual, begitu juga beberapa peneliti lain, yang melakukan penelitian tentang remaja diberbagai kota di Indonesia menemukan tingginya angka perilaku berisiko bagi remaja. Sedangkan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam khususnya kota Banda Aceh belum ada dilakukan penelitian tentang perilaku remaja. Penelitian ini dilaksanakan di kota Banda Aceh, bertujuan untuk mendapatkan informasi faktor- faktor yang berhubungan dengan perilaku kesehatan reproduksi remaja diantara siswa SMUN di kota Banda Aceh, dengan menggunakan desain cross sectional, populasi terdiri dari siswa SMUN dengan status marital belum menikah, serta jumlah sampel 180 responden. Analisis yang digunakan adalah univariat, bivariat dengan uji chi square dan multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 180 responden ditemukan 12,8% responden termasuk kategori perilaku berisiko ringan seperti berciuman pipi 1,1% dan berpelukan, 0,5% dengan lawan jenisnya, meskipun tahapan ini bila ditinjau dari teori (Kinsey) belum tergolong perilaku berisiko. Namun karena kondisi dan budaya daerah/lokasi penelitian yang berpenduduk mayoritas beragama Islam, dan juga mempunyai keistimewaan dalam penyelenggaraan kehidupan adat, sehingga segala aktifitas sehari hari juga dijiwai dan sesuai dengan syariat Islam. Maka dengan alasan tersebut, perilaku demikian tergolong pada kategori berisiko ringan, dan perlu diwaspadai agar tidak berlanjut ketahap perilaku berisiko berat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pengetahuan, pendidikan tambahan, dan pendidikan ayah, berhubungan dan bermakna secara statistik. Adapun faktor yang paling dominan berhubungan dengan perilaku siswa SMUN tentang kesehatan reproduksi adalah pendidikan ayah, dimana ayah dengan pendidikan tinggi (minimal SMU) cenderung anak berperilaku 9,4 kali lebih baik, jika dibanding ayah berpendidikan rendah. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perilaku siswa SMUN di kota Banda Aceh tentang kesehatan reproduksi termasuk kategori perilaku berisiko ringan. Untuk mencegah perilaku ini meningkat menjadi perilaku berisiko berat disarankan, penambahan materi kesehatan reproduksi disekolah, agar meningkatkan pengetahuan siswa tentang kesehatan reproduksi khususnya. Pada orang tua juga diharapkan dapat memberikan bimbingan kesehatan reproduksi sedini mungkin. Bagi remaja sendiri agar selalu berperilaku positif sesuai ajaran agama, menjaga budaya dan adat serta mencari informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi.
Teenagers are the future generation of the Nations since they have to be prepared early physically and psychologically. Teenage health reproduction is one of The Health Department Program that held for teenagers and school health. Based on pwiprahasto (1993), research known that 3,6% of 13 -15 age group and 5,4% of 16-20 age group have done sexual relationship so did by other researchers who studied about teenagers on every kind of city in Indonesia which found risk value of teenage behavior. While in Province of Nanggroe Aceh Darussalam especially on Banda Aceh City there haven't been studied about Health Reproduction behavior teenagers. This study was conducted in Banda Aceh City, aims to get the information about some factors which related with teenager health reproduction among High School students which used cross sectional design, population consist of High School students whom unmarried status, and take 180 respondent, The analysis use univarite, bivariate with chi-square, and multivariate analysis with logistic regression test. The result of this study shows that of 180 respondent, there are 12,8% of them found low risk of behavior category i.e. kissing 1,1% and holding each other 0,5%, although this stage has not been the criteria of risk behavior based on Kinsey theory. Because of the whole activities of Nanggroe Aceh Darussalam people was based on Islamic rules. Ttherefore teenagers behavior was classified as low risk category and it should be awared to anticipate them becoming the severe risker. Because of the whole activities of Nanggroe Aceh Darussalam people was based on Islamic rules. Therefore teenagers behavior was classifified as low risk catergory and it should be awared to anticipate them becoming the severe risker. This study shows that statistically, knowledge, additional education, and father's education variables were related significantly. The most dominant factor was High School student behavior about health reproduction which were father's education, father with high education prefer to have good behavior children 9,4 times than father with low education. It is concluded that High School students behavior about health reproduction on Banda Aceh City was low risk behavior category. To prevent this behavior increase to high risk it is recommended to add health reproduction mater at school especially to increase the student's knowledge. To the parents it is hoped that they could teach health reproduction as early as possible. To the teenagers itself, it is hoped to keep culture and religion based on religion line.
The highest incidence of violence is domestic violence, women who have an attitude of disapproval of violence are able to fight and report acts of violence committed by their husbands. Attitudes towards wives towards violence are influenced by individual, family and community factors. This study aims to determine the factors related to the attitudes of wives towards violence against husbands in household in Indonesia. This study used secondary data from the 2017 Indonesian Health Demographic Survey (IDHS) with a cross sectional study design. The number of samples was 19,418 people. The results of this study indicate that out of 19,418 women aged 15-49 years in Indonesia, 71.1% of wives have a disagreement with husband's violence. Women who have a disagreement attitude are influenced by factors of age, education, area of residence, economic status and number of children. Education has a great influence with an OR value of 1.5 mothers with higher education have more disagreement with husband's violence than mothers who have low education. The problem of violence can be resolved by campaigning the issue of domestic violence to the community which is carried out intensively with a pattern of approaching individuals, families, community groups and according to the culture of the local community
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan, pengetahuan, sikap, keterpaparan informasi, dan peran orang tua memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku pemberian pendidikan seks untuk anak. Peran orang tua merupakan faktor yang paling berhubungan dengan perilaku pemberian pendidikan seks untuk anak (OR = 6,3).
Kata Kunci: Pendidikan, pendidikan seks, pendidikan seks anak
Tingginya jumlah populasi remaja perlu diimbangi dengan peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku seksual yang sehat untuk mengurangi masalah yang dihadapi remaja. Banyak dari perilaku seksual remaja yang berujung pada masalah yang kompleks. Tujuan penelitian untuk memahaminya faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual berisiko pada siswa SMAN di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Duren Sawit Kota Jakarta Timur Tahun 2024. Penelitian menggunakan desain cross sectional. Penelitian ini dilakukan di SMAN wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Duren Sawit tahun 2024. Populasi adalah siswa kelas XI. Sampel berjumlah 250 orang. Menggunakan teknik cluster random sampling. Analisa multivariat menggunakan analisis uji multiple cox regression. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner SKRRI (2007) Hasil penelitian menunjukkan 55,2% siswa berperilaku seksual beresiko dan 44,8% siswa tidak berperilaku seksual beresiko. Terdapat korelasi yang bermakna pada variabel niat (p=0,048), memiliki pacar (p=0,000), paparan media pornografi (p=0,020). Berdasarkan hasil dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara niat, memiliki pacar dan paparan media pornografi dengan perilaku seksual beresiko. Tidak ada hubungan antara perilaku seksual beresiko dengan jenis kelamin, ketaatan beragama, keaktifan di sekolah, pengetahuan, sikap, paparan media pornografi, peran guru, peran masyarakat, peran keluarga dan pengaruh teman sebaya. Kata kunci : Perilaku seksual beresiko, remaja, kesehatan reproduksi.
His height amount population teenager need balanced with enhancement knowledge, attitudes, and behavior healthy sex For reduce problems encountered teenager. Lots from behavior sexual ending teenager on complex problem. Objective study For understand it related factors with behavior sexual risky on high school students in the region Work Public health center Duren Sawit District, East Jakarta City Year 2024. Research use cross-sectional design . Study This carried out at regional high schools Work Public health center Duren Sawit District in 2024. Population is student class XI. Sample totaling 250 people. Use cluster random sampling technique. Analysis Multivariate use analysis multiple cox regression test. Data is collected with use SKRRI questionnaire (2007) Results study shows 55.2 % of students behave sexual at risk and 44.8% of students No behave sexual risky. There is meaningful correlation on variable intention (p=0.048), have girl/boyfriend (p=0.000), exposure to pornographic media (p=0.020). Based on results can concluded There is meaningful relationship between intention, have boyfriend and exposure to pornographic media with behavior sexual risky. No There is connection between behavior sexual risky with type sex, obedience religion, activeness at school, knowledge, attitudes, exposure to pornographic media, role of teachers, role society, role family and influence friend peer . Keywords : Behavior sexual at risk, youth, health reproduction.
