Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 21193 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sri Sunarti Purwaningsih
JKI Vol.VII, No.2
Jakarta : LIPI, 2012
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bul. Pen. Sis. Kes. (Bulitsiskes), Vol.11, No.2, April. 2008: hal. 134-144, (cat. ada di bendel 2008-2009)
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizki Rahayuningsih; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Yanti Herman, Molyadi
Abstrak:
Program pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan upaya paling efektif untuk mencegah terjadinya HAIs” (Healthcare-Associated Infections), yaitu infeksi akibat pelayanan kesehatan, yang dapat menjadi ancaman masuknya penularan wabah ke komunitas. Implementasi dan pelaporan program PPI cukup beragam. Ketiadaan pelaporan dan data implementasi PPI di Fasilitas Palayanan Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) pada Daerah Terpencil Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) dapat menempatkan posisi layanan priemr dalam kondisi tidak siap dalam menghadapi ancaman wabah dan menambah kesenjangan. Tujuan penelitian untuk melihat gambaran implementasi PPI dan kesesuaian implementasi PPI di FKTP DTPK Kabupaten Kubu Raya. Penelitian ini menggunakan mix methode dengan desain sequential explanatory. Pada tahap pertama dilakukan pengisian kuesioner baku menggunakan kuesioner baku IPCAF- minimum requirement assesment for primary care oleh seluruh tim PPI dilanjutkan dengan wawancara mendalam kepada 11 informan dan dilakukan observasi dokumen. Hasil didapatkan 23,8% Puskesmas di level Kabupaten belum memenuhi kesesuaian standar minimum program PPI, akan tetapi pada Puskesmas DTPK 36,4% Puskesmas sudah memenuhi kesesuaian standar minimum program PPI. Dari 8 komponen inti PPI, pada level Kabupaten nilai tertinggi didapat komponen monitoring dan umpan balik, sedangkan pada Puskesmas DTPK nilai tertinggi didapat pada komponen surveilans HAIs. Sementara pada level Kabupaten maupun Puskesmas DTPK, nilai terendah didapatkan pada komponen pendidikan pelatihan dan beban kerja kepegawaian dan ketersediaan tempat tidur. Perencanaan dan pembiayaan pendidikan pelatihan serta pemanfaatan pelatihan daring dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan nilai komponen pendidikan pelatihan.

Infection prevention and control programs are the most effective way to prevent "Healthcare-Associated Infections" (HAIs), which are healthcare-associated infections that can threaten the entry of outbreaks into the community. Implementation and reporting of the IPC program is quite various. The absence of reporting and data on the implementation of IPCs in Primary Care Facilities (FKTP) in rural/remote area (DTPK) can place the position of primary care facilities in an unprepared condition in facing the threat of an outbreak and increase inequality. The purpose of the study was to look at the description of IPC implementation and the suitability of IPC implementation in DTPK FKTP Kubu Raya Regency. This study used a mix method with a sequential explanatory design. In the first stage, a standard questionnaire was filled in using the IPCAF- minimum requirement assessment for primary care by the entire IPC team, followed by in-depth interviews with 11 informants and document observation. The results showed that 23.8% of FKTP at the district level had not yet compliance with the minimum standards of the IPC program, but at FKTP DTPK 36.4% of FKTP have met the minimum standards of the IPC program. Of the 8 core components of PPI, at the district level the highest value is obtained for the monitoring and feedback component,. while at the FKTP DTPK the highest value is obtained in the HAIs surveillance component. While at both the district and DTPK health center levels, the lowest scores were obtained in the components of training education and staffing workload and bed availability.
Read More
T-6995
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suswanti; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Wachyu Sulistiyadi, Pujianto, Sawidjan B Gunadi, Sugianto
Abstrak:

Diare akut sarnpai saat ini masih merupakan masalah kesehatan, tidak saja di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Penyakit diare ini masih sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan penderita yang banyak dalam waktu yang singkat. Dalam periode tahun 2005-2006, jumlah kasus penyakit diare di Kabupaten Landak mengalami kenaikan yang cukup tajam. Tahun 2005 sebanyak 4.474 kasus (1 meninggal) dan tahun 2006 naik menjadi 6.210 kasus (2 meninggal). Diare menempati urutan ketiga setelah ISPA dan Malaria dalam proporsi sepuluh penyakit terbesar di Kabupaten Landak. Tingginya kejadian penyakit diare ini menimbulkan kerugian sosial ekonomi dan berdampak pada pembiayaan pemerintah dan masyarakat. Penelitian terhadap kerugian yang dialarni oleh diare pemah dilakukan hanya pada satu sisi saja yaitu pada sisi pasien. Sementara sisi provider belum pemah dilakukan. Biaya yang timbul pada sisi provider maupun pasien masing-masing diklasifikasikan sebagai biaya langsung (drect cost) dan biaya tak langsung (indirect cost). Untuk itu penelitian ini bertujuan secara umum rnemperoleh gambaran tentang besaran biaya yang ditimbulkan akibat sakit (cost of illness) rawat jalan diare. Sedangkan Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang karakteristik pasien rawat jalan diare, besaran biaya langsung (direct cost) dan biaya tak langsung (indirect cost) pada sisi provider dan pasien yang melakukan kunjungan ke puskesmas dalam satu periode sakit. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 96 orang yang dilaksanakan di wilayah kerja Puskesrnas Ngabang Kalimantan Barat pada buian Maret s/d Mei 2007. Data yang digunakan dalarn penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari lokasi penelitian serta data primer yang diperoleh dari basil interview kepada pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan pasien ada/ah kelompok umur dewasa 44%, berjenis kelamin laki-laki 54%, tidakibelum bekerja 49%, tidakibelum sekolah 50%, tidak berpenghasilan 56%, jalan kaki ke puskesmas 40%, penanggung biaya puskesrnas berasal dad kantong sendiri 76%, jurnlah hari sembuh 2 hari 54%. Hasil penelitian menunjukkan besar biaya langsung pada provider adalah Rp. 2.292.440,- dengan rata-rata biaya langsung sebesar Rp. 23.879,-. Biaya tidak langsung pada provider sebesar Rp. 75.492,- dengan rata-rata sebesar Rp. 786,-. Total biaya pada provider sebesar Rp. 2.367.933,- dengan rata-rata sebesar Rp. 24.665,-. Biaya langsung pada pasien sebesar Rp. 478.000,- dengan rata-rata sebesar Rp. 4.979,- per pasien. Biaya tidak langsung pada pasien sebesar Rp. 1.090.250,- dengan rata-rata sebesar Rp. 11.356,-. Total biaya pada pasien diare sebesar Rp. 1.568.250,- dengan biaya rata-rata sebesar Rp. 16335,-. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata biaya akibat sakit (cost of illness) yang dikeluarkan baik pada sisi provider maupun sisi pasien untuk pelayanan rawat jalan diare per pasien sebesar Rp. 41.001,-(tidak termasuk opportunity cost). Apabila dilakukan simulasi perhitungan kerugian ekonomi yang menjadi beban pemerintah dan masyarakat akibat sakit diare maka diperoleh angka sebesar Rp. 1,6 IniIyar per tahun, atau 0,3% dari APED (Rp. 435.887.753.163,-), 7% dari anggaran kesehatan plus gaji (Rp. 26.126.133.800,-), 9% dari anggaran kesehatan tanpa gaji (Rp. 18.245.385.200,-). Dikaitkan dengan UMR Landak, maka didapatkan angka kerugian sebesar Rp. 2,5 Myst per tahun. Saran yang dapat disampaikan adalah angka kenigian yang dialarni dapat dijadikan aeuan perencanaan, penyusunan anggaran dan intervensi program penanggulangan diare dengan berorientasi path upaya preventif dan promosi, perlunya dilakukan penghematan biaya pada sisi provider dengan menekan penggunaan obat diare yang tidak rasionil, perlu dilakukan perhitungan biaya secara menyeluruh berdasarkan kegiatan, perlu penyuluhan dan perbatian kepada masyarakat tentang penyakit diare, dan terakhir bagi peneliti selanjutnya dapat melihat seeara bersarnaan pada layanan rawat jalan dan map di rurnah sakit dan puskesmas dengan menghitung opportunity cost.


Acute diarrhea at present still becomes health problem, not only in developing countries but also in developed countries. Diarrhea still leads to endemic (KLB) with very huge sufferer in short time. Between 2004-2005, number of diarrhea case in Landak Regency increase quite sharply. There are 4,474 cases (one died) in 2005 and the cases increase to 6,210 (2 died) in 2006. Diarrhea places the third rank after Upper Respiratory Infection (1SPA) and malaria among ten diseases in Landak Regency. The high of diarrhea incident has caused social economic loss and affected the cost for government and people. Research on loss caused by diarrhea was ever conducted but limited on patient side. Meanwhile, research on provider has never been done. Cost resulted from patient as well as provider was respectively classified as direct cost and indirect cost. Generally, the purpose of this research is to obtain description on the cost of illness for diarrhea outpatients. Meanwhile. particularly, the purpose is to obtain description on characteristics of diarrhea outpatients, direct cost and indirect cost at provider and patient visiting health center in one period of illness. The research conducted in Puskesmas Ngabang West Kalimantan from March to May 2007 uses cross sectional design with 96 respondents. Secondary data employed in this research come from research location, while the primary data come from interviewing the patient. The results show that mostly patients are adult (44%). male (54%). unemployment (49%). uneducated (50%), having no income (56%). going to health center on foot (40%). self-utiarant or (76%), and having two-days recovery day (54%). Direct cost for provider is IDR 2,292,440 with direct cost IDR 23,879 on average. Indirect cost for provider is 1DR 75,492 with [DR. 786 on average. Total cost for provider is IDR 2.367,933 with /DR 24,665 on average. Direct cost on patient is [DR 478,000 with DR 4,979 on average per patient. Indirect cost for patient is [DR 1,090,250 with IDR 11,356 on average. Total cost for diarrhea patienzs is [DR 1.568.250 with 1DR 16,335 on average. The results indicate that thc average cost of illness incurred by both provider and patients for outpatient service of diarrhea per patient is [DR. 41,001 (excluded opportunity cost). If economic loss due to diarrhea borne by government and people was caiculated, the rate is DR 1.6 billion per year or 0.3% of APBD (1DR 435,887,753,163), 7% of health budget phis salary (IDR 26,126,133.800), 9% of health budget without salary (IDR 18,245,385,200) Related to UN1R of Landak. the loss is 1DR 2.5 billion per year. It is recommended that loss can be used as reference in planning, developing budget. and intervening program diarrhea control orienting to prevention and promotion. It is in need to retrench provider cost by reducing irrational use of diarrhea medicines, calculate cost comprehensively based on activities, educate people and keep them focused on diarrhea. Furthermore,, researcher could instantaneously see the service for outpatient and inpatient in hospital and health center by calculating opportunity cost.

Read More
T-2658
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ukik Kusuma Kurniawan; Promotor: Hadi Pratomo; Ko-promotor: Sudarti Kresno, Sri Adioetomo, Moertiningsih; Penguji: Sudijanto Kamso, Masliana Bangun Sitepu, Rina Herarti, Rita Damayanti, Dian Ayubi, Adang Bachtiar
D-247
Depok : FKM-UI, 2011
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chintya Elittasari; Pembimbing: Sudijanto Kamso, Kemal N. Siregar; Penguji: Artha Prabawa, Nida Rohmawati, Ning Sulistyowati
Abstrak: Ketuban pecah dini (KPD) merupakan komplikasipersalinantertinggi (5,6%) menurut Riskesdas 2018 dan menjadi komplikasi persalinan urutan ketiga (16,1%) berdasarkan data SDKI 2017. Provinsi KalimantanBarat, Banten, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Maluku dan Maluku Utara merupakan 2 provinsi di masing-masing regional dengan prevalensi KPD tertinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh infeksi saluran reproduksi terhadap ketuban pecah dini di Provinsi Kalimantan Barat, Banten, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Maluku dan Maluku Utara dengan menggunakan data SDKI tahun 2017. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectionaldengan jumlah sampel 1816 yang diambil berdasarakan total sampel dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian ini menunjukkan 22,7 responden mengalami KPD, dan 13,2 % responden mengalami infeksi saluran reproduksi. Hasil analisis multivariat pengaruh infeksi saluran reproduksi terhadap ketuban pecah dini memiliki p-value 0,0005 dengan OR 5,685, CI 95% (3,734-8,565). Kesimpulan penelitian ini adalah ibu dengan infeksi saluran reproduksi 5,6 kali berisiko mengalami ketuban pecah dini.
Premature rupture of membranes (PRoM) is the biggest delivery complication (5,6%) based on Riskesdas Data 2018 and be the third biggest complication during labour (16,1%) based on IDHS data 2017. West Kalimantan, Banten, South Kalimantan, Gorontalo, Maluku and Maluku Utara are two provinces with the highest ProM prevalence in each region. The purpose of this study is to understand how the effect of Reproductive Tract Infection on Premature Rupture of Membranes in West Kalimantan, Banten, South Kalimantan, Gorontalo, Maluku and Maluku Utara Provinces by using IDHS data 2017. This study design is cross-sectional with 1816 sample which is appropriate with inclusion and exclusion criteria. The results is 22,7% respondent are experiencing (PRoM) and 13,2% of respondents are experiencing reproductive tract infection. Based on the multivariate analysis found that the effect of reproductive tract infection on ProM have p-value 0,0005 and OR 5,685, CI 95% (3,734-8,565). The conclusion of this study is women with reproductive tract infection 5,6 times more likely risk of PRoM experiencing.
Read More
T-5973
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erikaliza Agustina; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Caroline Endah Wuryanningsih, Mujaddid
Abstrak: Perencanaan remaja sejak dini terhadap penyiapan keluarga yang meliputi penundaan usia perkawinan, menjarangkan kehamilan, dan mencegah kehamilan dapat mengurangi faktor risiko kesehatan bagi ibu dan calon anak. Sementara usia perkawinan pertama wanita di Jawa Barat masih rendah yaitu dibawah 16 tahun (22,6%) dari seluruh provinsi di Indonesia yang menunjukkan masih kurangnya perencanaan berkeluarga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran preferensi keluarga berencana pada remaja dan determinannya. Desain penelitian adalah cross sectional. Sampel dari penelitian ini adalah remaja pria yang berusia 15-24 tahun dan remaja wanita yang berusia 15-19 tahun di Provinsi Jawa Barat yang berhasil diwawancarai pada SDKI KRR 2012 yaitu sebanyak 773 orang. Uji statistik menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar remaja memeliki preferensi keluarga berencana yang baik (76,3%) serta ada perbedaan proporsi antara jenis kelamin, pengetahuan reproduksi, paparan informasi reproduksi, dan peran orang tua dengan preferensi keluarga berencana. Paparan informasi reproduksi yang memiliki hubungan signifikan dari setiap unsur keluarga berencana dapat menjadi peluang untuk meningkatkan preferensi keluarga berencana yang baik pada remaja.
 

 
Adolescent preparation of family planning is postpone marriage, manage the number of children, and prevent pregnancy. They can decrease risk of maternal and child health. But age at first marriage for a woman is still under 16 years old (22,6%) in West Java. It means adolescent have less preparation of family planning. The purpose of this study is to understand how preferences and determinants of family planning in adolescent. Design study is cross sectional on never marriage men age 15-24 and never marriage women 15-19 in West Java from Adolescent Reproductive health (ARM) component of the 2012 Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS). There are 773 respondents. It used chi square type. Knowing this show many adolescent have good preferences of family planning (76,3%) and there are differences in proportion between preferences of family planning and sex, knowledge of reproduction, exposure to reproduction information, the role of parents. The researcher suggests that increase exposure to reproduction information.
Read More
S-8893
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widya Dianah, Mulyani E. Yudhya, Bahar Herwanti
ND Vol.8, No.1
Jakarta : Pusat Pengelola Jurnal Ilmiah Universitas Indonesia Esa Unggul, 2016
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Kurniasih; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Iwan Ariawan, Tri Yunis Miko Wahyono, Amnur R Kayo, Gunawan Wahyu Nugroho
T-4754
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive