Ditemukan 35155 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Sri Muljati; Pembimbing: Sabarinah B. Prasetyo
T-820
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Silvia Sagita; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Milla Herdayati, Lucia Sri Rejeki, Sidayu Ariteja
Abstrak:
Read More
Stunting merupakan tantangan fundamental dalam perkembangan manusia. Sebanyak 149.2 juta balita di dunia (22%) mengalami stunting pada tahun 2020. Prevalensi stunting di Indonesia yaitu 24,4% pada tahun 2021 dan masih lebih tinggi dari rata-rata global. Periode pemberian MPASI sejak usia 6 hingga 23 bulan adalah waktu puncak insiden gangguan pertumbuhan, defisiensi mikronutrien dan penyakit menular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak praktik pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) terhadap kejadian stunting pada anak usia bawah dua tahun (Baduta) di Indonesia sebelum dan pada masa Pandemi Covid-19. Desain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional dengan menggunakan data sekunder Baseline National tahun 2017 dan Program Review tahun 2021 Wahana Visi Indonesia. Lokasi penelitian yaitu di 11 Kabupaten/kota di Indonesia. Analisis data yang di gunakan dalam penelitian ini antara lain analisis univariat, bivariat dan multivariat regresi logistik berganda. Kejadian stunting baduta di Indonesia di masa pandemi tidak mengalami perbedaan atau penurunan yang signifikan dibandingkan pada masa sebelum pandemi. Praktik MPASI, yaitu variasi makanan mengalami perbaikan di masa pandemi namun tidak pada frekuensi makan. Variasi dan frekuensi makan tidak berhubungan dengan kejadian stunting baduta di masa pandemi, namun frekuensi makan signifikan berhubungan dengan kejadian stunting pada masa sebelum pandemi. Variabel jenis kelamin, usia anak, pemberian ASI dan sanitasi berhubungan dengan kejadian stunting baduta dan merupakan confounding hubungan praktik MPASI dengan kejadian stunting baduta pada masa sebelum pandemi. Usia anak merupakan satu-satunya faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting baduta di masa pandemi. Intervensi program belum dapat menurunkan prevalensi stunting secara signifikan namun sudah menunjukkan dampak pada praktik pemberian MPASI baduta. Sehingga dibutuhkan durasi intervensi program yang lebih panjang dan secara komprehensif menyasar periode 1000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak di dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun, serta melibatkan wanita usia subur, ibu hamil serta orang tua/ pengasuh baduta.
Stunting is a fundamental challenge in human development. A total of 149.2 million children under five in the world (22%) were stunted in 2020. The average stunting prevalence in Indonesia is 24,4% and still higher than the global average. The period of giving complementary foods from 6 to 23 months of age is the peak time of the incidence of growth disorders, micronutrient deficiencies and infectious diseases. This study aims to determine the impact of Infant and Young Child Feeding (IYCF) practice on the incidence of stunting in children under two years of age (Baduta) in Indonesia before and during the Covid-19 pandemic. The study uses using secondary data from National Baseline 2017 and Program Review 2021 Wahana Visi Indonesia with a Cross Sectional design. The research locations are in 11 regencies/cities in Indonesia. Data analysis used in this study included univariate, bivariate and multivariate multiple logistic regression analysis. Prevalence of stunting in children under two in Indonesia during the pandemic did not show a significant difference or decrease compared to the pre-pandemic period. The IYCF practice, namely Minimum Dietary Diversity (MDD) has improved during the pandemic but not the Minimum Meal Frequency (MMF). MDD and MMF was not related to stunting in children during pandemic, but the MMF was significantly related to stunting in the pre-pandemic period. The variables of gender, child's age, breastfeeding and sanitation are related to stunting and are a confounding of the relationship between complementary feeding practices and stunting during the pre-pandemic period. The age of the child is the only factor related to stunting in children during pandemic. Program interventions have not been able to significantly reduce the prevalence of stunting, but have shown an impact on the practice of providing complementary feeding for children. So that a longer duration of program intervention is needed and comprehensively targets the period of the first 1000 days of life, since in the womb until the child is two years old, also involving women of childbearing age, pregnant women and parents/caregivers of children under two years old.
T-6574
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zul Amri; Pembimbing: Indang Trihandini, Besral
T-1624
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
S-10596
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ayu Diah Permatasari; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Rahmadewi
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi kunjungan ANC terhadap pemberian ASI eksklusif di Indonesia berdasarkan hasil analisis data SDKI tahun 2017. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional, dengan data sekunder yaitu SDKI tahun 2017. Sampel penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak terakhir berusia 4-6 bulan dan tinggal bersama yang menjadi responden dalam SDKI 2017. Analisis multivariabel digunakan untuk mengetahui pengaruh frekuensi kunjungan ANC terhadap pemberian ASI eksklusif dengan beberapa variabel kovariat, yaitu usia ibu, tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, status perkawinan, jenis tempat tinggal, kesejahteraan, dan paritas.
Read More
S-10596
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ujang Abdul Muis; Pembimbing: Budi Utomo, Matya Rahmanianti; Penguji: Toha Muhaimin, Rahmadewi, Tri Riana Lestari
Abstrak:
Inisiasi menyusui dini dapat mengurangi pemberian makanan prelaktal serta mempromosikan pemberian ASI eksklusif pada pemberian ASI eksklusif selama 4 hingga 6 bulan pertama serta dapat memberikan nutrisi dan kekebalan tubuh kepada bayi. Metode penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 dan 2017 dengan tujuan untuk mengetahui kenaikan atau penurunan proporsi serta determinan perilaku pemberian makanan dini di Indonesia. Hasil penelitian didapatkan bahwa ada peningkatan proporsi pemberian makanan dini di tahun 2017. Pemberian makanan dini lebih dipengaruhi oleh sosial ekonomi, umur ibu, lokasi tempat tinggal, pendidikan ibu, paritas, dan jenis persalinan. Paritas mempengaruhi pemberian makanan dini sebesar 2,06 kali, ibu dengan umur 5-19 tahun lebih berpeluang memberikan makanan dini dibandingkan dengan umur yang lebih tua, semakin rendah tingkat pendidikan, justru semakin berpeluang untuk memberikan makanan dini. Diharapkan kepada pemerintah agar lebih fokus terhadap faktor pendidikan dan sosial ekonomi dalam mengatasi cakupan pemberian makanan dini ini. Menerapkan serta pelaksanaan PP No. 33 Tahun 2012 Tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif. Jika diperlukan agar melakukan pemberian sanksi bagi institusi yang tidak melaksanakannya.
Read More
T-5544
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Regita Septiani; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Teti Tejayanti
Abstrak:
Read More
Praktik pemberian makanan prelakteal masih menjadi masalah yang harus diatasi Indonesia karena dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan bayi. Meskipun persentase praktik pemberian makanan prelakteal sudah cenderung menurun, ketidakmerataan masih terjadi berdasarkan beberapa dimensi ketidakmerataan. Sebagai upaya mengatasi ketidakmerataan pada berbagai indikator kesehatan, WHO mengeluarkan sebuah aplikasi bernama Health Equity Assessment Toolkit (HEAT) dan Health Equity Assessment Toolkit Plus (HEAT Plus) yang mampu mengidentifikasi ketidakmerataan melalui berbagai ukuran ketidakmerataan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sumber data sekunder, yaitu Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002, 2007, 2012, dan 2017. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketidakmerataan praktik pemberian makanan prelakteal masih terjadi pada pendidikan ibu, status ekonomi, wilayah tempat tinggal, provinsi, IMD, dan penolong persalinan, namun dengan tingkat ketidakmerataan yang berbeda-beda. Tren ketidakmerataan cenderung mengalami penurunan dari tahun 2002 hingga tahun 2017 pada seluruh variabel, kecuali variabel provinsi yang justru menunjukkan ketidakmerataan tertinggi terjadi pada tahun 2017. Praktik pemberian makanan prelakteal menurut provinsi juga menunjukkan ketidakmerataan tertinggi dibandingkan dimensi ketidakmerataan lainnya.
Prelacteal feeding practices still be a problem in Indonesia and it needs to be addressed because it may cause a negative impact to baby’s health. Even though the percentage of prelacteal feeding practices has decrease time to time, inequality still occurs based on several dimensions of inequality. To overcome the inequalities that occur in various health indicators, WHO issued an application called Health Equity Assessment Toolkit (HEAT) and Health Equity Assessment Toolkit Plus (HEAT Plus) that can be used to identify inequality through various inequality measures. This study used the Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) in the year of 2002, 2007, 2012, and 2017 as the data sources. The results this study found that there were an inequality of prelacteal feeding practices by mother's education, economic status, area of residence, province, early initiation of breastfeeding, and birth attendants with various degrees of inequality. The trend of inequality tended to decrease from 2002 to 2017 in all variables, except for the province which actually showed the highest inequality in 2017. Prelacteal feeding practices by province also showed the highest inequality compared to other dimensions of inequality that used in this study.
S-11358
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zainab Mardhiyah; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Rico Kurniawan, Mutmainah Indriyati
Abstrak:
Read More
Penyebab utama kematian balita di Indonesia adalah pneumonia. Pemberian ASI eksklusif dan suplementasi vitamin A direkomendasikan sebagai strategi pencegahan pneumonia. Meskipun cakupan keduanya telah mencapai target, prevalensi pneumonia meningkat dari 4,8% (2018) menjadi 15% (2023). Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan pemberian ASI eksklusif dan vitamin A dengan kejadian pneumonia pada balita usia 12–23 bulan di Indonesia. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah potong lintang dengan menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia 2023. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara pemberian ASI eksklusif dan vitamin A dengan kejadian pneumonia. Setelah mempertimbangkan variabel interaksi dan mengontrol variabel perancu (jenis kelamin, riwayat diare, dan sumber air minum) ditemukan peningkatan risiko pada balita yang tidak berikan ASI eksklusif (AOR: 1,466; 95%CI: 0,928 – 2,315), meskipun tidak signifikan secara statistik. Sementara itu, hubungan pemberian vitamin A dengan kejadian pneumonia menjadi signifikan (AOR: 3,029; 95%CI: 1,339 – 6,852). Oleh karena itu, diperlukan penguatan program edukasi melalui pemberdayaan masyarakat sebagai strategi promotif-preventif untuk meningkatkan perilaku pemberian ASI eksklusif dan vitamin A dalam upaya pencegahan pneumonia pada balita.
Pneumonia is the leading causes of death among children under five in Indonesia. Exclusive breastfeeding and vitamin A supplementation are recommended strategies for preventing pneumonia. Although the coverage of both has reached national targets, the prevalence of pneumonia increased from 4.8% in 2018 to 15% in 2023. This study aimed to examine the association between exclusive breastfeeding and vitamin A supplementation with the incidence of pneumonia among children aged 12–23 months in Indonesia. This study used a cross-sectional design based on data from 2023 SKI. Data analysis was conducted using univariate, bivariate, and multivariate methods. The results showed no statistically significant association between exclusive breastfeeding and vitamin A supplementation with pneumonia incidence. However, after considering interaction variables and controlling for confounding variables (child’s sex, history of diarrhea, and drinking water source), an increased risk of pneumonia was found among children who were not exclusively breastfed (AOR: 1.466; 95% CI: 0.928–2.315), although the association was not statistically significant. Meanwhile, the association between vitamin A supplementation and pneumonia became statistically significant (AOR: 3.029; 95% CI: 1.339–6.852). Therefore, strengthening educational programs through community empowerment is needed as a promotive-preventive strategy to improve exclusive breastfeeding and vitamin A practices in efforts to prevent pneumonia in children.
Pneumonia is the leading causes of death among children under five in Indonesia. Exclusive breastfeeding and vitamin A supplementation are recommended strategies for preventing pneumonia. Although the coverage of both has reached national targets, the prevalence of pneumonia increased from 4.8% in 2018 to 15% in 2023. This study aimed to examine the association between exclusive breastfeeding and vitamin A supplementation with the incidence of pneumonia among children aged 12–23 months in Indonesia. This study used a cross-sectional design based on data from 2023 SKI. Data analysis was conducted using univariate, bivariate, and multivariate methods. The results showed no statistically significant association between exclusive breastfeeding and vitamin A supplementation with pneumonia incidence. However, after considering interaction variables and controlling for confounding variables (child’s sex, history of diarrhea, and drinking water source), an increased risk of pneumonia was found among children who were not exclusively breastfed (AOR: 1.466; 95% CI: 0.928–2.315), although the association was not statistically significant. Meanwhile, the association between vitamin A supplementation and pneumonia became statistically significant (AOR: 3.029; 95% CI: 1.339–6.852). Therefore, strengthening educational programs through community empowerment is needed as a promotive-preventive strategy to improve exclusive breastfeeding and vitamin A practices in efforts to prevent pneumonia in children.
S-12110
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zuraida; Pembimbing: Besral; Penguji: Budi Hartono, Yulia Oktavia
Abstrak:
Bakteri E.coli dapat berada dalam saluran usus halus manusia, digunakansebagai organisme indeks kontaminasi fecal, sebagai indikator kesehatankontaminasi dari sumber pencemaran makanan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungandengan adanya bakteri E.coli pada makanan, menggunakan desain cross-sectional, sampel sebanyak 36 sampel warung makan wilayah Margonda Rayadan Kartini Depok Jawa Barat, teknik sampling yang digunakan adalah totalsampling, penentuan Adanya bakteri dengan metode TPC (Total Plate Count)serta variabel independen dengan wawancara dan ceklist.Hasil penelitian faktor yang berhubungan adalah Pengetahuan, TindakanPengolahan, Fasilitas, Kondisi warung makan, dan pendidikan. Setiappeningkatan skor pengetahuan pengolahan sebesar 10 unit akan menurunkanresiko kontaminasi E.coli sebesar 1,5. Setiap peningkatan skor tindakanpengolahan sebesar 10 unit akan menurunkan resiko kontaminasi E.coli sebesar1,506. Setiap peningkatan skor fasilitas sanitasi warung makan sebesar 10 unitakan menurunkan resiko terjadinya kontaminasi E.coli sebesar 1,3. Setiappeningkatan skor kondisi warung makan sanitasi makanan penjamah sebesar 10unit akan menurunkan resiko kontaminasi E.coli sebesar 1,3. Pendidikan SMAsederajat dan lebih tinggi akan menurunkan resiko terjadinya kontaminasi E.colisebesar 5,0 kali dibandingkan dengan pendidikan kurang dari SMP sederajat.Kata Kunci : E.Coli, higiene sanitasi makanan, warung makan.
Read More
T-4559
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Diyan Reni Jayathi; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Besral, Sari Wayang, Nuryani
Abstrak:
Sebagian besar kematian anak di Indonesia terjadi pada bulan pertama kehidupannya. Kemungkinan anak meninggal pada usia berbeda, 19 per seribu selama masa neonatal, 15 per seribu dari usia 2 hingga 11 bulan dan 10 per seribu dari usia satu sampai lima tahun (UNICEF, 2012). Hanya 39% dari seluruh bayi di dunia yang mendapatkan ASI Eksklusif (WHO 2002), padahal diketahui pemberian ASI Ekslusif mampu mencegah kematian balita sebanyak 13%. Praktik pemberian ASI di negara berkembang berhasil menyelamatkan 1,5 juta bayi per tahun dari kematian dan kesakitan. Berdasarkan InfoDatin 2015 Provinsi Lampung diketahui K4 mencapai 90% sedangkan capaian ASI eksklusif hanya mencapai 65%. Begitu juga di kabupaten Pringsewu tahun 2015 K4 mencapai 85% namun capaian ASI eksklusif hanya bekisar 60%. Terdapat kesenjangan antara ibu hamil yang mendapatkan pelayanan kesehatan dengan perilaku pemberian ASI eksklusif. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah quasi eksperimen. Jumlah sampel penelitian 84 ibu hamil dan menyusui, yang terdiri dari kelompok pre-test dan post-test intervensi dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh yang bermakna antara pemberian monitoring konseling laktasi dengan pemberian ASI eksklusif (p=0,017 OR= 8,636; 95% CI: 1,5-46,8), artinya ibu yang diberi monitoring konseling laktasinya mempunyai peluang 8,63 kali untuk menyusui eksklusif dibanding ibu yang tidak dimonitoring. Perlunya dilakukan monitoring dan evaluasi tidak terjadwal agar BPS Bidan Delima selalu konsisten dan berkomitmen menerapkan SOP pada setiap pemberian pelayanan kesehatan serta memberikan reward dan punismen agar BPS bidan delima termotivasi untuk terus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
Kata Kunci: ASI eksklusif, Monitoring konseling laktasi, Ibu Hamil
Most child deaths in Indonesia occur in the first month of life. Possible children die at different ages, 19 per thousand during neonatal period, 15 per thousand from the age of 2 to 11 months and 10 per thousand from the age of one to five years (UNICEF, 2012). Only 39% of all babies in the world are exclusively breastfed (WHO 2002), whereas exclusive breastfeeding is known to prevent 13% of under-five mortality. Breastfeeding practices in developing countries have saved 1.5 million babies per year from mortality and morbidity. Based on InfoDatin 2015, it is known that K4 reaches 90%, while exclusive breastfeeding achieves only 65%. So also in Pringsewu district in 2015 K4 reached 85% but exclusive breastfeeding achievement is only 60%. There is a gap between pregnant women who receive health services and exclusive breastfeeding behaviors. The research method used in this research is quasi experiment. The sample size was 84 pregnant and lactating women, consisting of pre-test and posttest of intervention and control. The results showed that there was a significant influence between lactation counseling monitoring and exclusive breastfeeding (p = 0.017 OR = 8,636; 95% CI: 1,5-46,8), meaning that the mother who was given lactation counseling monitoring had an opportunity of 8.63 times For exclusive breastfeeding compared to unmonitored mothers. The need for monitoring and evaluation is not scheduled for BPS Bidan Delima always consistent and committed to apply SOP on every health service delivery and give reward and punismen so that BPS pomegranate midwife motivated to continuously improve health service quality
Read More
Kata Kunci: ASI eksklusif, Monitoring konseling laktasi, Ibu Hamil
Most child deaths in Indonesia occur in the first month of life. Possible children die at different ages, 19 per thousand during neonatal period, 15 per thousand from the age of 2 to 11 months and 10 per thousand from the age of one to five years (UNICEF, 2012). Only 39% of all babies in the world are exclusively breastfed (WHO 2002), whereas exclusive breastfeeding is known to prevent 13% of under-five mortality. Breastfeeding practices in developing countries have saved 1.5 million babies per year from mortality and morbidity. Based on InfoDatin 2015, it is known that K4 reaches 90%, while exclusive breastfeeding achieves only 65%. So also in Pringsewu district in 2015 K4 reached 85% but exclusive breastfeeding achievement is only 60%. There is a gap between pregnant women who receive health services and exclusive breastfeeding behaviors. The research method used in this research is quasi experiment. The sample size was 84 pregnant and lactating women, consisting of pre-test and posttest of intervention and control. The results showed that there was a significant influence between lactation counseling monitoring and exclusive breastfeeding (p = 0.017 OR = 8,636; 95% CI: 1,5-46,8), meaning that the mother who was given lactation counseling monitoring had an opportunity of 8.63 times For exclusive breastfeeding compared to unmonitored mothers. The need for monitoring and evaluation is not scheduled for BPS Bidan Delima always consistent and committed to apply SOP on every health service delivery and give reward and punismen so that BPS pomegranate midwife motivated to continuously improve health service quality
T-4946
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
