Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 12858 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sarino Trimansyah; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Henny Mulyati
S-5185
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida; Pembimbing: Hadi Pratomo; Penguji: Sandra Fikawati, Besral, Utami Roesli, Rina Fithri Anni
T-3512
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Slamet Santoso Kurniawan; Pembimbing: Zarfil Tafal; Penguji: Yovsyah, Anton Sri Hartono, Moch. Rahmat
T-4157
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Astasari; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Besral, Caroline Endah Wuryaningsih, Jusuf Kristianto, Sri Helmi Yuli Hartati
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan komunikasi interpersonal bidandelima dan bidan non delima di Bidan Praktek Mandiri. Desain studi penelitian ini menggunakancross-sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner kepada 143 bidanpraktek mandiri di wilayah Jakarta Selatan. Analisis data uji bivariat menggunakan Chi-Squaredan uji multivariat menggunakan regresi logistik.Disimpulkan bahwa bidan delima yang mempunyai komunikasi interpersonal baiksebesar 70% sedangkan bidan non delima yang mempunyai komunikasi interpersonal baik hanya12,1%. Status bidan dan masa kerja mempunyai hubungan yang signifikan terhadap komunikasiinterpersonal. Bidan delima yang mempunyai masa kerja Type This study attempts to knows the difference communication interpersonal delimamidwives and non delima midwives in the midwife independent practice. Design study thisresearch using cross-sectional. The data collection was done to the spread of the questionnaire to143 midwives practice independently in South Jakarta. Data analysis test bivariate use Chi-Squareand the multivariate use regression logistics.Concluded that Delima midwives who have good interpersonal communication by 70 %but Non Delima midwives who have good interpersonal communication is only 12,1 % . Midwivesstatus and old workings have a significant relation to interpersonal communication . Delimamidwives have long working less than 15 years have 7,3 interpersonal communication better thanNon Delima midwives and Delima midwives have old workings more equal to 15 years have 121,4interpersonal communication better than Non Delima midwives. Interpersonal communication is anon technical abilities that are importan in providing midwifery care and the ability can be trainedthrough communication training. The Ministry of Health together with The Indonesian MidwivesAssociation to support Delima Midwives program and facilitate the training of communication toimprove the interpersonal communication skills of midwives.Keywords: Communication interpersonal, midwives status, delima midwife.
Read More
T-4704
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lilis Siti Hodijah; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Besral, Anwar Hassan, Sri Kurniati, Maryamah
Abstrak:

ABSTRAK Tingkat keberdayaandesasiagamerupakanrefleksidarikeberhasilan program pemberdayaanmasyarakatsertamemperlihatkankemandirianmasyarakat.Penelitian kuantitatif,desaincross sectionaldengansampel204 desa, data dikumpulkan melalui wawancara dengan kuesioner. Hasilpenelitiandidapatkan 55.9 % desamemilikitingkatkeberdayaandesa yang tinggi.Dimensipembangunankapasitas, partisipasimasyarakat, jaringandenganpihak lain mempunyaihubungan yang bermaknadenganpraktikpenggunaanjambansehat (PHBS 5)dandimensipembangunankapasitasmerupakan factor dominan. Desadengandimensipembangunankapasitas yang rendahmenurunkan 3.3 kali capaianpenggunaanjambansehatdibandingkandengandesadengandimensipembang unankapasitas yang tinggiKepadaPemkab.KarawangdanDinasKesehatandiharapkanmenyelenggarakan pelatihanteknisdesasiagabagipelakuutamadesasiagasecarasimultanuntukmeningkat kantingkatkeberdayaandesadanpraktik PHBS. ABSTRACT DesaSiagalevelempowermentis a reflectionof thesuccess of thecommunity empowermentprogramas well asshowingcommunnityindependence. Quantitative researchwithcross sectionaldesignwith a sample of204 villages, data were collectedthroughinterviewswithquestionnaires. The results showed55.9% of villages havea highlevel ofempowerment. Dimensions ofcapacity building, community participation, networkingwithother partieshavinga significant relationshipwith ahealthylatrineuse practices(PHBS5) anddimensions ofcapacity buildingis adominantfactor. Villageswithlow capacitydevelopment dimension3.3timeslowerperformancecompared tohealthylatrine usevillagewitha high capacitydevelopment dimension.To theKarawang DistrictandHealth Departmentis expected toconducttechnical trainingfordesasiagakey actorssimultaneously toincrease thelevel ofvillageempowermentandpracticePHBS.

Read More
T-3845
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salamah THomasita Batubara; Pembimbing: Tri Krianto, Rina A. Anggorodi; Penguji: Wisni Bantarti, Kurdi Martin, Firman Rachmatullah
Abstrak:

ABSTRAK Perempuan merupakan faktor utama penerus kelangsungan kehidupan suatu masyarakat. Kepercayaan, adat istiadat, kebiasaan dan aturan aturan yang berlaku tidak terlepas dari kehidupan perempuan yang menjalankan fungsinya dalam keluarga dan masyarakat. . Kesehatan di masa kehamilan dan kelahiran tidak terlepas dari berbagai aspek sosial dan kebudayaan. Persepsi tentang kesehatan dimasa ini penting karena bayak yang beranggapan bahwa kehamilan merupakan kondisi yang sehat dan tidak perlu dikhawatirkan. Karena itu dalm kondisi kesehatan seperti itu sering kurang mendapat perhatian. Tulisan ini menyajikan bagaimana aspek non medis yakni aspek sosial budaya dapat mempengaruhi terjadinya perdarahan pada perempuan Baduy dimasa kehamilan dan kelahiran yang selanjutnya dapat meningkatkan angka Kematian Ibu (AKI) Penelitian menggunakan metode kualitatif, dengan disain RAP (Rapid Assessment Procedures). Sampel penelitian diperoleh dengan cara Purposive random sampling. Informan terbagi atas perempuan, usia produktif, (15-35 tahun), menikah, punya anak dan atau tidak punya anak, suami, bidan senior, bidan Junior, kader kesehatan, ketua adat dan tokoh masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan cara Focus Group Discussion , in-depth interview dan observasi partisipasi. Penellitian dilakukan pada awal bulan April sampai dengan bulan Juni 2012. Lokasi penelitian adalah Kampung Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain faktor medis, faktor non medis juga mempengaruhi kesehatan ibu dimasa kehamilan dan kelahiran. Faktor geografis dan faktor budaya merupakan faktor yang perlu diwaspadai sebagai salah satu faktor yang memicu terjadinya perdarahan. Faktor budaya tersebut antara lain adalah kuatnya kepercayaan akan pantangan dan anjuran, kepercayaan terhadap kekuatan magis dan spiritual, berlakunya hukum dan aturan adat yang sulit berubah, persepsi masyarakat tentang sehat dan sakit, bahwa hamil dan melahirkan adalah peristiwa biasa dan dapat dialami oleh semua perempuan, karena itu itu ada hal yang istimewa. Sakit dan meninggal adalah ?sudah dari sananya? merupakan takdir yang tidak bisa dihindarkan. ada juga faktor orang orang yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan, seperti suami, ibu, paraji, tokoh adat dan kepala suku yang mempunyai otoritas begitu kuat dalam pengambilan keputusan , dan aspek sosial ekonomi. Peluang para pihak dapat terbuka lebar untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pemahaman kebudayaan, memformulasikan cara dan program yang tepat guna, dan memberdayakan potensi dan kearifan yang ada pada masyarakat setempat.


ABSTRACT Women are the main factor for the everlasting humanity in a society. Beliefs, custom, rules, norms and attitudes are bonded the women in their life as as a member of family and society. Health during pregnancy and delivery are related to the social and cultural aspects. Women;s perception of health and illness during those times are extremely important because some women thought that the moment of pregnancy and delivery are a common situation wich is nothing to be worriedl, thus make that moment missing the attention of the personal references. br> This article explained how the non medical factor such as the social and cultural aspects influenced the maternal morbility caused by pregnancy bleeding during the pregnancy and delivery moment. This study used the Rapid Assessment Procedure (RAP) designed of the Qualitative method. Samples of the study are women, marriage with or without child/childres, ages 15 to 35 years old, husbands, Midwifes, the chief of Public Health Care Centre, Traditional Birth Attendances, and traditional head of society. The study was held on beginning of April to June 2012, at the Baduy?s tribes, Kanekest village, Leuwidamar District of Banten Province. The study has shown us that beside the medical determinants , the non medical determinants such as geografi, cultural, are also influenced the maternal morbility of the pregnancy and delivery women caused pregnancy bleeding. Those social and cultural aspects are such as customs, peoples?s belief in taboo as awhole good practices and poor practices, belief in religious, magic and the supernatural, rules, norm, attitudes, perceptions of health and illness. Those perceptions drived the women of Baduy think that pregnancies and deliveries are a common situation that was given, which is nothing special on it. This situation brings them minus of attentions from the peoples around. The situations as told above gives opportunities to the government or a provider concerned to increase the health conditions of the Baduy?s women with a designed model of the right and proper kinds of education for the peple whose can not receive a formal educations. Programmes which is designed to increase their thought and potential local indigineous to achief the health performances.

Read More
T-3578
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widi Aulia Ardani; Pembimbing: Kartika Anggun Dimar Setio; Penguji: Wahyu Kurnia, Suratno
Abstrak: Salah satu kelompok sumber daya manusia yang berpengaruh dalam pembangunan suatu negara adalah kelompok remaja. Banyak masalah kesehatan yang terjadi sejalan dengan perkembangan yang terjadi pada remaja, salah satunya adalah masalah gizi remaja. Menurut WHO, remaja di negara berkembang mengalami kurang gizi, sehingga dapat menyebabkan mereka mudah terserang penyakit dan berisiko mengalami kematian dini. Namun, disisi lain juga terjadi peningkatan angka kejadian berat badan berlebih dan obesitas pada negara pendapatan rendah hingga tinggi. Terjadinya masalah gizi pada remaja sangat erat kaitannya dengan perilaku makan remaja. Perilaku makan adalah perilaku normal yang berkaitan dengan kebiasaan makan, cara memilih makanan dan jumlah konsumsinya. Sarapan merupakan salah satu penerapan dari perilaku makan yang baik, namun seringkali remaja tidak melakukan hal tersebut. Sehingga, mempengaruhi kondisi kesehatan mereka. Terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi perilaku sarapan pada remaja.. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat gambaran perilaku sarapan remaja kelas X SMAIT Nurul Fikri dan determinan-determinan yang mempengaruhinya melalui kerangka theory planned of behaviour. Desain penelitian yang digunakan adalah crosss sectional yang dilakukan terhadap sampel penelitian sebesar 100 orang siswa/i yang ditentukan dengan stratified random sampling. Analisis dilakukan dengan metode chi-square. Penelitian dilakukan dari maret-juni 2019. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner. Hasil penelitian menemukan bahwa responden yang memiliki perilaku sarapan baik hanya 22% dari total responden. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan, sikap, self-efficacy, dan intensi berhubungan dengan perilaku sarapan remaja kelas X SMAIT Nurul Fikri tahun 2019. Oleh karena itu diperlukan kerja sama antara pihak sekolah dengan klinik Yayasan untuk memberikan intervensi terkait peningkatan kebiasaan perilaku sarapan pada warga sekolah terutama siswa dan siswi.
Read More
S-10201
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dina Agoes Soelistijani; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Sutanto Priyo Hastono
Abstrak:
Sampai saat ini penyakit HIV/AIDS semakin berkembang termasuk di Indonesia, hingga akhir Juni 2002 telah mencapai 2950 kasus HIV/AIDS di Indonesia. (Ditjen PPM & PL, 2002). Faktor risiko HIV/AIDS terbanyak adalah hubungan seksual (heteroseksual dan homoseksual). Upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia, salah satunya adalah KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) yang bertujuan meningkatkan pengetahuan kelompok berisiko tinggi termasuk wanita penjaja seks (WPS) yang akhirnya mau merubah sikap dan perilakunya untuk mencegah HIV/AIDS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan perilaku WPS dalam penggunaan kondom seks komersial di Bali tahun 2000. Penelitian ini menggunakan data sekunder Survei Surveilans Perilaku (SSP) Infeksi Menular Seksual (IMS) & HIV/AIDS oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (PPK Ul) di Bali meliputi Denpasar, Kuta dan Sanur tahun 2000. Rancangan penelitan adalah cross sectional dengan responden adalah WPS. Variabel yang diamati dan dilihat hubungannya dengan perilaku WPS dalam penggunaan kondom seks komersial adalah pengetahuan WPS tentang HIV/AIDS, karakteristik sosial (umur, tingkat pendidikan, lama bekerja sebagai WPS) dan pengalaman menderita gejala IMS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai pengetahuan kurang tentang HIV/AIDS (57,3%) dan berperilaku tidak selalu menggunakan kondom (87,2 %). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel umur (p=0,725), tingkat pendidikan (p 0,252), dan lama bekerja sebagai WPS (p=0,125) tidak berhubungan bermakna dengan perilaku responden dalam penggunaan kondom seks komersial. Pengalaman menderita gejala IMS (p=0,000) dan pengetahuan tentang HIV/AIDS (p),008) menunjukkan hubungan yang bermakna dengan perilaku responden dalam penggunaan kondom seks komersial. Responden yang mempunyai pengetahuan baik tentang HIV/ADDS berpeluang 2,923 kali berperilaku selalu menggunakan kondom dibandingkan responden yang mempunyai pengetahuan kurang tentang HIV/AIDS. Hasil analisis multivariat rnenunjukkan bahwa variabel umur, tingkat pendidikan, lama bekerja sebagai WPS dan pengalaman menderita gejala IMS ternyata bukan confounder dalam hubungan pengetahuan responden tentang HIV/AIDS dengan perilaku responden dalam penggunaan kondom seks komersial. Mengacu pada hasil penelitian di atas, maka saran yang diajukan khususnya untuk pengelola program dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan tentang HIV/AIDS dan penggunaan kondom melalui KIE dilakukan lebih efektif dan intensif. Perlu pula kerjasama/kemitraan dengan lintas sektor dan lintas program terkait, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat dan media massa yang kondusif Metode yang efektif digunakan penyuluhan massa, disamping konseling dan melalui kelompok sebaya/seprofesi. Daftar Pustaka : 43 (1980-2002)

Relationship between Knowledge of HIV/AIDS with Female Sex Workers Behavior in Condom Use Commercial Sex, in Bali, in 2000HIV/AIDS has been increasing from time to time, including in Indonesia However, as a fact late of June 2002, exclusive for Indonesia it has reached up to 2.950 cases (Ditjen PPM & PL, 2002). The biggest determinant of its infection is hetero and home sexual relationship. One of the prevention ways done in Indonesia is through Communication, Information and Education program for increasing knowledge of HIV/AIDS to high risk groups, including female sex workers, so that they are aware of the prevention of HIV/AIDS. The objective of this research is to measure relationship between knowledge of HIV/AIDS with female sex workers behavior in condom use commercial sex, in Bali, in 2000. The data sources are Behavioral Surveilans Survey, infectious sexual disease and HIV/AIDS done by Health Survey Center, University of Indonesia in Bali covering Denpasar, Kuta and Sanur in 2000. Survey design is cross sectional with female sex workers as respondents. The knowledge of HIV/AIDS, social characteristic (age, education, length of period working as a sex workers) and experience of having infectious sexual disease symptoms are variable matters taken in this research. It shows that the most of the respondent have less of knowledge (57,3 %) and seldom using condom (87,2 %). The results of bivariate analysis, where variable matters : age (p = 0,725), education level (p = 0,252) and the length of period working as a sex workers (p-0,008) have not significantly relationship with female sex workers behavior in condom use commercial sex. The experience of having infectious sexual disease symptoms (p,000) and . knowledge of HIV/AIDS (p=0,008) have significantly relationship with female sex workers behavior in condom use commercial sex. The risk of the more knowledge respondent of HIV/AIDS might be 2,923 times always using condom compared the less knowledge respondent of HIV/AIDS. The multivariate analysis shows that age, education, length of period working as a sex workers and experience of having infectious sexual disease are not confounder in relationship between knowledge of HIV/AIDS with female sex workers behavior in condom use commercial sex. Finally this research suggests to defend of HIV/AIDS for program the organizers, through effective and intensive communication, information and education program for increasing knowledge of HIV/AIDS and condom use. Cooperation of a flash program and sector, community organizations, non government organizations, and condusive mass media is highly recommended. Effectively method use mass communication, besides individual conseling and peer group. References : 43 (1980-2002)
Read More
T-1742
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mediarti, Devi; Pembimbing: Pratomo, Hadi
T-1028
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive