Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39160 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rattih Diyan Pratiwi; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Inggariwati
Abstrak: Jumlah kasus HIV/AIDS yang meningkat di Provinsi DKI Jakarta menjadi posisi yang pertama dibandingkan daerah lain. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran kematian berdasarkan karakteristik individu dan faktor risiko pada ODHA di Provinsi DKI Jakarta tahun 2013-2014. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional dengan menggunakan data sekunder Surveilans Penderita HIV/AIDS di Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Tahun 2013-2014. Sampel berjumlah 1575 responden, yang merupakan pasien HIV/AIDS yang terlapor dari rumah sakit di wilayah Provinsi DKI Jakarta. Hasil penelitian ini menemukan angka kematian terhadap kasus HIV/AIDS sebesar 11 kematian per 100 kasus, serta didapatkan proporsi kematian tertinggi pada kelompok umur 26-45 tahun, mereka yang bekerja, yang berdomisili di wilayah Jakarta Timur, dan perbandingan laki-laki terhadap perempuan adalah 3:1. Berdasarkan faktor risiko penularan yang tertinggi ialah melalui hubungan heteroseksual, kadar CD4 <200/µl, dan kematian yang disertai dengan infeksi oportunistik. Berdasarkan karakteristik individu dan faktor risiko didapatkan adanya hubungan kelompok umur >45 tahun (PR=4,1; 95%CI:4,03-4,37), kelompok umur 26-45 tahun (PR=2,4; 95%CI:2,03-2,87), kelompok umur 12-25 tahun (PR=2,1; 95%CI:1,88-2,42), penggunaan narkotika suntik (PR=1,6; 95%CI: 1,12-2,23), jumlah CD4<200 (PR=4,1; 95%CI:1,62-10,22), infeksi oportunistik (PR=1,6; 95%CI:1,1-2,37) dengan kematian yang disebabkan oleh HIV/AIDS. Perlu dilakukan adanya program pencegahan dan penanggulangan serta diagnosis dini pada kelompok yang mulai berisiko Kata Kunci: Kematian, HIV/AIDS, individu, faktor risiko.
Read More
S-8629
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zaki Dinul Lubis; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Rosmarlina
S-7029
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Husda Oktaviannoor; Pembimbing: Ratna Djuwita, Krisnawati Bantas; Penguji: Dwi Oktavia T.L. Handayani, Widyastuti
Abstrak: Diabetes mellitus tipe 2 telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius dan merupakan penyebab penting dari angka kesakitan, kematian, kecacatan dan kerugian ekonomi di seluruh dunia termasuk Indonesia. Provinsi DKI Jakarta termasuk sepuluh besar penyakit diabetes mellitus tertinggi secara nasional. Posbindu PTM sebagai salah satu program pemerintah dalam melakukan kegiatan deteksi dini dan pemantauan faktor risiko PTM yang dilaksanakan secara terpadu, rutin, dan periodik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan diabetes mellitus tipe 2 di Posbindu PTM se-Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dari data Surveilans Faktor Risiko PTM Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2017. Sampel yang dianalisis sebesar 12.775 responden dari 12.789 responden berumur ≥15 tahun. Analisis data multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda untuk menentukan model prediksi dan faktor potensial dampak yang paling dominan.
Hasil didapatkan proporsi diabetes mellitus sebesar 15,87%. Multivariat didapatkan umur ≥45 tahun (POR=6,32), 35-44 tahun (POR=1,82), 25-34 tahun (POR=0,98), jenis kelamin (POR=0,63), riwayat DM keluarga (POR=4,43), tidak menikah (POR=0,49), cerai (POR=1,58), tidak bekerja (POR=1,93), IRT (POR=1,84), pelajar/mahasiswa (POR=0,24), kurang aktif (POR=1,20), hipertensi (POR=1,35), dan obesitas sentral (POR=1,29). Faktor risiko yang memberikan dampak paling dominan adalah umur ≥45 tahun dan riwayat DM keluarga, sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi yang memberikan dampak paling dominan adalah obesitas sentral. Model prediksi ini cukup akurat untuk memprediksi diabetes mellitus dengan batas probabilitas sebesar 18%. Perlu adanya peningkatan kualitas pelaksanaan Posbindu PTM dari pemerintah serta kesadaran warga DKI Jakarta yang berumur ≥15 tahun untuk pemantauan faktor risiko serta deteksi dini PTM.

Type 2 diabetes mellitus has become a serious public health problem and is an important cause of morbidity, death, disability and economic losses worldwide including Indonesia. The province of DKI Jakarta includes the top ten of the highest diabetes mellitus nationally. Posbindu PTM as one of the government programs in conducting early detection and monitoring of NCD risk factors that are implemented in an integrated, routine, and periodic.
This study aims to determine the risk factors associated with diabetes mellitus type 2 in Posbindu PTM throughout DKI Jakarta Province. This research uses cross sectional design from data of Risk Factor Surveilans of NCD Health Office of DKI Jakarta Province 2017. The analyzed sample is 12,775 respondents from 12,789 respondents aged ≥15 years old. Multivariate data analysis using multiple logistic regression test to determine prediction model and the most dominant potential impact factor.
The result obtained proportion of diabetes mellitus equal to 15,87%. Multivariate was found to be ≥45 years old (POR=6.32), 35-44 years (POR=1.82), 25-34 years (POR=0.98), sex (POR=0.63), history of DM family (POR=4.43), unmarried (POR=0.49), divorce (POR=1.58), not working (POR=1.93), IRT (POR=1.84), student (POR=0.24), less physical activity (POR=1.20), hypertension (POR=1.35), and central obesity (POR=1.29). Risk factors that have the most dominant impact are age ≥45 years and family DM history, while the modifiable factor that gives the most dominant impact is central obesity. This prediction model is accurate enough to predict diabetes mellitus with a probability limit of 18%. It is necessary to improve the quality of Posbindu PTM implementation from the government and the awareness of Jakarta citizens aged ≥15 years for monitoring of risk factors and early detection of NCD.
Read More
T-5151
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Nur Aisyah; Pembimbing: Nurhayati A. Prihartono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Kurniawan Rachmadi
S-5941
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ferdian Akhmad Ferizqo; Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Retno Henderiawati, Agus Sugiarto
Abstrak:
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Provinsi DKI Jakarta dengan angka kematian yang masih tinggi. Identifikasi faktor risiko kematian akibat DBD penting untuk meningkatkan strategi pencegahan dan penanganan kasus. Penelitian ini menggunakan desain studi observasional analitik dengan pendekatan case-control pada tahun 2024 di DKI Jakarta. Data sekunder diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta yang mencakup laporan kasus pasien DBD meninggal dan yang sembuh. Analisis bivariat dilakukan untuk memilih variabel kandidat dengan p-value <0,25, kemudian dilanjutkan analisis regresi logistik multivariat untuk menentukan faktor risiko kematian akibat DBD. Dari analisis bivariat, variabel domisili penduduk dan jenis fasilitas kesehatan memenuhi kriteria masuk ke analisis multivariat. Hasil regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa domisili penduduk berpengaruh signifikan terhadap kematian akibat DBD dengan odds ratio 4,42 (p=0,024; 95% CI: 1,21–16,13). Pada model ini pasien yang berdomisili di DKI Jakarta memiliki risiko kematian 4,42 kali lebih tinggi dibanding pasien dari luar Jakarta. Variabel jenis fasilitas kesehatan meskipun memiliki odds ratio >1, tidak signifikan secara statistik (p=0,319). Domisili penduduk merupakan faktor risiko utama kematian akibat DBD di DKI Jakarta. Perlu penguatan sistem pelayanan kesehatan dan edukasi masyarakat untuk deteksi dini serta penanganan cepat guna menurunkan angka kematian akibat DBD.

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease that remains a public health problem in DKI Jakarta Province with a high mortality rate. Identifying risk factors for DHF-related death is crucial to improve prevention strategies and case management. This study employed an analytic observational case-control design in 2024 in DKI Jakarta. Secondary data were obtained from the DKI Jakarta Provincial Health Office, including reports of DHF patient deaths and survivors. Bivariate analysis was conducted to select candidate variables with p-value <0.25, followed by multivariate logistic regression analysis to determine risk factors for DHF mortality. Bivariate analysis identified resident identity and type of healthcare facility as eligible for inclusion in the multivariate model. The multivariate logistic regression revealed that resident identity (domicile) was significantly associated with DHF mortality, with an odds ratio of 4.42 (p=0.024; 95% CI: 1.21–16.13). Patients residing in DKI Jakarta had a 4.42 times higher risk of death compared to patients from outside Jakarta. Although the type of healthcare facility had an odds ratio >1, it was not statistically significant (p=0.319). Resident identity (domicile) is a significant risk factor for DHF-related death in DKI Jakarta. Strengthening the healthcare system and enhancing public education for early detection and timely treatment are crucial to reduce DHF mortality.

Read More
T-7327
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sandrina Hagja Salsabila; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Nining Mularsih
Abstrak:
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan secara global. Kejadian maupun risiko komplikasi stroke dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko dan komorbid. Meskipun skrining penyakit tidak menular (PTM) memegang peran krusial dalam pencegahan primer maupun tersier, evaluasi program ini di Indonesia dan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta umumnya masih terbatas pada lingkup fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan aspek fisiologis (hipertensi dan hiperglikemia) dan stroke berdasarkan aspek epidemiologi (waktu, tempat, dan orang), serta menjelaskan korelasi antar faktor risiko dan komorbiditas pada populasi skrining PTM DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan data agregat sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2020-2024. Analisis dengan jenis kelamin serta wilayah kota administrasi meliputi analisis tren, pemetaan kota, dan uji korelasi Spearman Rank untuk data berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan tren pemulihan partisipasi masif pasca pandemi Covid-19 hingga mencapai lebih dari 7 juta partisipan pada tahun 2024. Terdapat kontribusi partisipasi skrining konsisten dengan dominasi perempuan (53–56%) serta konsentrasi terbesar di Jakarta Timur. Secara wilayah kota, ditemukan tren yang berbeda dengan Jakarta Selatan konsisten memiliki beban hipertensi tertinggi. Sementara itu, beban hiperglikemia menunjukkan tren kenaikan di Jakarta Selatan dan Timur, berbeda dengan penurunan di Jakarta Pusat dan Utara. Meskipun partisipasi laki-laki lebih rendah, kelompok ini menunjukkan kerentanan lebih tinggi dengan beban penyakit yang lebih besar. Hasil penelitian menemukan bahwa beban hipertensi memiliki hubungan korelasi yang kuat dengan proporsi temuan stroke pada seluruh populasi (r= 0,677; 95% CI= 0,354 – 0,845), berbeda dengan beban hiperglikemia yang tidak berkorelasi pada populasi umum maupun pada setiap jenis kelamin. Beban hipertensi konsisten pada kedua jenis kelamin dengan korelasi pada laki-laki (r= 0,718; 95% CI= 0,440 – 0,844) tercatat lebih kuat dibandingkan perempuan (r= 0,537; 95% CI= 0,182 – 0,772). Oleh karena itu, diperlukan strategi intervensi yang gender-responsive serta pendekatan berbasis wilayah untuk mengendalikan beban penyakit di wilayah dengan risiko tinggi.

Stroke is a leading cause of death and disability globally. Both the incidence and risk of stroke complications can be prevented through control of risk factors and comorbidities. Although non-communicable diseases (NCDs) screening plays a crucial role in primary and tertiary prevention, evaluation of this program in Indonesia and Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta is generally limited to healthcare facilities. Therefore, this study aims to describe the burden of risk (hypertension and hyperglycemia) and stroke based on epidemiological aspects (time, place, and person), and to demonstrate the correlation between risk factors and comorbidities in the NCDs screening population of DKI Jakarta. This study used an ecological study design with secondary aggregate data from the DKI Jakarta Provincial Health Office for 2020-2024. Analysis by gender and administrative city area included trend analysis, city mapping, and Spearman Rank correlation test for non-normally distributed data. The results showed a trend of massive participation recovery after the Covid-19 pandemic, reaching more than 7 million participants by 2024. There was a consistent contribution to screening participation, with a female predominance (53–56%) and the largest concentration in East Jakarta. By city region, the burden shows a different pattern, with South Jakarta consistently having the highest hypertension burden. Meanwhile, the burden of hyperglycemia shows an increasing trend in South and East Jakarta, in contrast to a decrease in Central and North Jakarta. Despite lower male participation, this group demonstrates higher vulnerability with a greater burden of disease findings. The study found that the burden of hypertension was strongly correlated with stroke findings proportion in the population (r= 0,677; 95% CI= 0,354 – 0,845), in contrast to the burden of hyperglycemia findings, which did not correlate in the general population or in either sex. The pattern of hypertension findings was consistent across both sexes, with a stronger correlation in men (r= 0,718; 95% CI= 0,440 – 0,844) than in women (r= 0,537; 95% CI= 0,182 – 0,772). Therefore, gender-responsive intervention strategies and area-based approaches are needed to control the disease burden in high-risk areas.
Read More
S-12211
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aditya Wahid Zatmiko; Pembimnbing: Rizka Maulida; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Budi Setiawan
Abstrak:
Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian di Indonesia, termasuk di Provinsi DKI Jakarta, namun kajian tren mortalitas berbasis data surveilans rutin di tingkat provinsi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menggambarkan tren mortalitas akibat penyakit kardiovaskular di Provinsi DKI Jakarta tahun 2018, 2020, 2022, dan 2024 berdasarkan jenis penyakit, kelompok usia, jenis kelamin, dan wilayah administrasi. Desain studi potong lintang digunakan dengan data surveilans kematian Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, mencakup 61.435 kasus kematian kardiovaskular (ICD-10: I10–I99) yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis univariat dilakukan menggunakan indikator Cause-Specific Death Rate (CSDR), Age-Specific Death Rate (ASDR), dan Sex-Specific Death Rate (SSDR) serta 95% (CI). Hasil menunjukkan pergeseran dominasi penyebab kematian dari Penyakit Serebrovaskular (CSDR 249,77 per 1.000.000 penduduk; 95% CI: 240,45–259,35) ke Gangguan Irama dan Konduksi Jantung yang meningkat dari CSDR 188,09 (95% CI: 180,01–196,43) pada 2018 menjadi 750,03 (95% CI: 733,96–766,36) pada 2024, dengan lonjakan tajam sejak fase pandemi akut. Kelompok lansia (≥60 tahun) menanggung beban kematian terbesar (62,1%–64,8%), dengan ASDR Gangguan Irama dan Konduksi Jantung mencapai 4.736,59 (95% CI: 4.607,69–4.868,18) per 1.000.000 lansia pada 2024. Laki-laki secara konsisten memiliki ASDR lebih tinggi dibanding perempuan pada seluruh periode studi. Jakarta Selatan mencatat CSDR tertinggi antarwilayah untuk kematian akibat Gangguan Irama dan Konduksi Jantung pada 2024 sebesar 1.210,13 (95% CI: 1.165,91–1.255,60) per 1.000.000 penduduk.

Cardiovascular disease is the leading cause of death in Indonesia, including in Jakarta Province, yet trend analyses using routine provincial mortality surveillance data remain scarce. This study aimed to describe cardiovascular disease mortality trends in Jakarta Province for 2018, 2020, 2022, and 2024 based on disease type, age group, sex, and administrative region. A cross-sectional design was employed using mortality surveillance data from the Jakarta Provincial Health Office, comprising 61,435 cardiovascular deaths (ICD-10: I10–I99) meeting the inclusion and exclusion criteria. Univariate analysis was conducted using the Cause-Specific Death Rate (CSDR), Age-Specific Death Rate (ASDR), Sex-Specific Death Rate (SSDR), and 95% confidence intervals (CI). Results showed a shift in dominant cause of death from Cerebrovascular Disease (CSDR 249.77 per 1,000,000 population; 95% CI: 240.45–259.35) to Cardiac Arrhythmia and Conduction Disorders, which increased from CSDR 188.09 (95% CI: 180.01–196.43) in 2018 to 750.03 (95% CI: 733.96–766.36) in 2024, with a sharp surge during the acute pandemic phase. The elderly (≥60 years) consistently bore the greatest mortality burden (62.1%–64.8%), with an ASDR for Cardiac Arrhythmia and Conduction Disorders of 4,736.59 (95% CI: 4,607.69–4,868.18) per 1,000,000 elderly in 2024. Males consistently exhibited higher ASDR than females throughout the entire study period. South Jakarta recorded the highest inter-district CSDR for deaths attributable to Cardiac Arrhythmia and Conduction Disorders in 2024, at 1,210.13 (95% CI: 1,165.91–1,255.60) per 1,000,000 population.
Read More
S-12338
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zati Bayani; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Helda, Inggariwati
Abstrak:
Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu wilayah yang endemis terhadap leptospirosis, namun penelitian terkait leptospirosis di Jakarta masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran distribusi dan tren kasus leptospirosis berdasarkan usia, jenis kelamin, wilayah kota dan kecamatan selama periode 2020-2025 di wilayah DKI Jakarta dengan desain studi epidemiologi deskriptif berupa case series. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dianalisis secara univariat dengan menampilkan grafik dan peta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus leptospirosis sebanyak 388 kasus selama periode 6 tahun. Angka tertinggi terjadi pada tahun 2020, menurun pada tahun 2021-2022, dan mulai meningkat kembali pada 2023-2025. Kelompok usia 20-44 tahun menjadi penyumbang kasus terbanyak (46,65%) dan laki-laki menjadi jenis kelamin yang memiliki proporsi kasus terbesar (76,42%). Wilayah Jakarta Barat menjadi wilayah dengan angka kasus tertinggi (42,89%) secara keseluruhan maupun per tahun. Pemetaan menunjukkan bahwa kasus leptospirosis banyak terjadi di wilayah barat laut DKI Jakarta, meliputi kecamatan seperti Palmerah, Kebon Jeruk, Cengkareng, Tanah Abang, dan Pasar Minggu. Perlunya peningkatan edukasi dan intervensi yang berfokus pada wilayah dengan proporsi kasus tertinggi, kelompok usia produktif, dan laki-laki sebagai sasaran utama untuk pencegahan terjadinya penularan dan infeksi leptospirosis.

DKI Jakarta Province is an area endemic to leptospirosis, however research related to leptospirosis in Jakarta is still very limited. This study aims to provide an overview of the distribution and trends of leptospirosis cases based on age, sex, city area and sub-district during the 2020-2025 period in the DKI Jakarta area using a descriptive epidemiological study design in the form of a case series. This research uses secondary data from the DKI Jakarta Provincial Health Agency analyzed univariately by displaying graphs and maps. The research results show that there were 388 cases of leptospirosis over a 6 year period. The highest number of leptospirosis cases occurred in 2020, decreased in 2021-2022, and began to increase again in 2023-2025. The 20-44 year age group contributed the most cases (46.65%) and men were the gender with the largest proportion of cases (76.42%). The West Jakarta region has the highest number of cases (42,89%) overall and per year. Mapping shows that leptospirosis cases often occur in the northwest region of DKI Jakarta, including sub-districts such as Palmerah, Kebon Jeruk, Cengkareng, Tanah Abang, and Pasar Minggu. Increased education and interventions are needed, focusing on areas with the highest proportion of cases, the productive age group, and men as the primary targets for preventing leptospirosis transmission and infection.
Read More
S-12436
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadiya Eka Suci; ;Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Budi Setiawan
Abstrak:
Penyakit ginjal kronis meningkat secara global maupun nasional, namun studi terkait mortalitas akibat penyakit ginjal kronis terbatas. Penelitian bertujuan menganalisis tren dan distribusi kematian akibat penyakit ginjal kronis di DKI Jakarta berdasarkan umur, jenis kelamin, wilayah, dan sumber pelaporan selama 2020-2025 dengan desain potong lintang menggunakan data Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Penelitian menggunakan total sample berjumlah 11.495, dengan minimal 384 sampel per tahun, berupa kematian dengan penyebab dasar penyakit ginjal kronis sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian berdasarkan perhitungan Crude-Specific Death Rate dengan Confidence Interval 95% menunjukkan angka kematian populasi cenderung meningkat selama periode penelitian, puncak tren terjadi tahun 2024 CSDR 215,8 (CI 95%:207,8-224,8) dengan rumah sakit sebagai sumber pelaporan utama. Kelompok usia ≥60 tahun mendominasi dengan puncak di tahun 2025 CSDR 1014,4 (CI 95%:959,9-1071,2). Angka kematian laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan dengan puncak tren di 2025 CSDR 233,7 (CI 95%:221,0-247,0). Wilayah Jakarta Timur menyumbang jumlah kematian absolut tertinggi, dengan puncak di tahun 2024 CSDR 251,5 (CI 95%:234,1-269,8). Ditemukan 317 data anomali kode menunjukkan inkonsistensi pengkodean diagnosis, dengan puskesmas menyumbang laporan anomali terbanyak. Tren mortalitas penyakit ginjal kronis di DKI Jakarta yang meningkat, terutama pasca-pandemi, serta laporan kasus tidak valid menunjukkan perlunya upaya pencegahan dan perbaikan kualitas data untuk mendukung efektivitas pengendalian penyakit.

Chronic kidney disease is rising both globally and nationally, yet studies on mortality due to chronic kidney disease remain limited. This study aims to analyse trends and the distribution of mortality rates due to chronic kidney disease in Jakarta, based on age, sex, region, and source of reporting, for the period 2020-2025, using a cross-sectional design and data from the Jakarta Provincial Health Office. The study used a total sample of 11.495, with a minimum 384 cases per year, comprising deaths with chronic kidney disease as the underlying cause, in accordance with the inclusion and exclusion criteria. The results showed that the mortality rate for the entire population tended to increase during the study period, peaking in 2024 at a CSDR of 215.8 (95% CI: 207.8–224.8), with hospitals as the primary source of reporting. The age group ≥60 years dominated, with a peak in 2025 at a CSDR of 1014.4 (95% CI: 959.9–1071.2). Men had a higher mortality rate than women, with the trend peaking in 2025 at a CSDR of 233.7 (95% CI: 221.0–247.0). The East Jakarta region contributed the highest absolute number of deaths, with a peak in 2024 at 251.5 CSDR (95% CI: 234.1–269.8). A total of 317 cases of coding anomalies were identified, indicating inconsistencies in diagnosis coding, with the community health centre accounting for the highest number of anomalous reports. The rising trend in chronic kidney disease mortality in Jakarta, particularly post-pandemic, along with reports of invalid cases, highlights the need for preventive measures and improvements in data quality to support the effectiveness of disease control.
Read More
S-12228
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rusma Tia Wardani; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal, Eva Sulistiowati
Abstrak:
Stroke merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat setiap tahunnya. Prevalensi stroke di DKI Jakarta meningkat dari 9,7‰ pada tahun 2013 menjadi 12,2‰ pada tahun 2018. Berdasarkan penelitian–penelitian terdahulu, faktor yang dapat mempengaruhi kejadian stroke dapat berbeda satu sama lain. Selain itu penelitian terkait faktor risiko stroke pada penduduk usia ≥15 tahun masih sedikit di DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan kejadian stroke pada penduduk usia ≥15 tahun di DKI Jakarta menurut data Riskesdas 2018. Sampel penelitian ini adalah penduduk usia ≥15 tahun sebanyak 7.552 di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian yang didapatkan adalah terdapat hubungan yang signifikan antara usia ≥55 tahun (POR=5,50; 95% CI= 3,84 – 7,88), jenis kelamin perempuan (POR=0,64; 95% CI= 0,45 – 0,91), merokok (POR= 1,90; 95% CI= 1,34 – 2,7), kurang aktivitas fisik (POR= 2,07; 95% CI= 1,46 – 2,94), hipertensi (POR= 11,19; 95% CI= 7,70 – 16,24), dan diabetes melitus (POR=4,97; 95% CI= 3,23 – 7,65) terhadap kejadian stroke. Optimalisasi program pengendalian penyakit tidak menular, edukasi dan promosi terkait risiko kejadian stroke, pemanfaatan media sosial untuk memperluas penyebaran informasi, mendorong pola hidup sehat, dan mengikuti program rehabilitasi dan pemulihan pasca-stroke dapat membantu untuk mencegah terjadinya stroke dan efek yang ditimbulkan pasca stroke.

Stroke is considerStroke is considered as one of the non-communicable diseases with a consistently increasing prevalence annually. The prevalence of stroke in DKI Jakarta escalated from 9.7‰ in 2013 to 12.2‰ in 2018. Previous studies have revealed that the factors influencing stroke occurrence may vary. Furthermore, limited research has been conducted regarding the risk factors of stroke among individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta. This study aims to describe the factors contributing to stroke incidence among individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta based on the Riskesdas 2018 data. The study sample consisted of 7,552 individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta. This study used a cross-sectional study design with univariate and bivariate analysis. The study findings revealed significant associations between age ≥55 years (POR=5.50; 95% CI=3.84-7.88), female gender (POR=0.64; 95% CI=0.45-0.91), smoking (POR=1.90; 95% CI=1.34-2.7), low physical activity (POR=2.07; 95% CI=1.46-2.94), hypertension (POR=11.19; 95% CI=7.70-16.24), and diabetes mellitus (POR=4.97; 95% CI=3.23-7.65) in relation to stroke incidence.. Optimizing non-communicable disease control programs, education and promotion regarding stroke risk, utilizing social media for widespread information dissemination, promoting healthy lifestyles, and participating in post-stroke rehabilitation and recovery programs can help prevent stroke occurrence and mitigate its post-stroke effects.ed as one of the non-communicable diseases with a consistently increasing prevalence annually. The prevalence of stroke in DKI Jakarta escalated from 9.7‰ in 2013 to 12.2‰ in 2018. Previous studies have revealed that the factors influencing stroke occurrence may vary. Furthermore, limited research has been conducted regarding the risk factors of stroke among individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta. This study aims to describe the factors contributing to stroke incidence among individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta based on the Riskesdas 2018 data. The study sample consisted of 7,552 individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta. This study used a cross-sectional study design with univariate and bivariate analysis. The study findings revealed significant associations between age ≥55 years (POR=5.50; 95% CI=3.84-7.88), male gender (POR= 1,56; 95% CI= 1,09 – 2,21), smoking (POR=1.90; 95% CI=1.34-2.7), low physical activity (POR=2.07; 95% CI=1.46-2.94), hypertension (POR=11.19; 95% CI=7.70-16.24), and diabetes mellitus (POR=4.97; 95% CI=3.23-7.65) in relation to stroke incidence.. Optimizing non-communicable disease control programs, education and promotion regarding stroke risk, utilizing social media for widespread information dissemination, promoting healthy lifestyles, and participating in post-stroke rehabilitation and recovery programs can help prevent stroke occurrence and mitigate its post-stroke effects.
Read More
S-11238
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive