Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40755 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nurul Amaliya; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Dian Ayubi, Andry Harmany
Abstrak: Prevalensi gizi kurang di Indonesia memberikan angka yang cukup fluktuatif dari 18,4 persen (2007) menurun menjadi 17,9 persen (2010) kemudian meningkat lagi menjadi 19,6 persen (2013), masalah pendek pada balita juga masih cukup serius. Oleh karena itu, penimbangan berat badan setiap bulan penting dilakukan sebagai salah satu cara pemantauan pertumbuhan dan status gizi balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penimbangan balita di wilayah perkotaan dan perdesaan Indonesia tahun 2013. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional dan dianalisis menggunakan chi-square. Populasi penelitian adalah balita umur 6-59 bulan di Indonesia yang menjadi sampel Riskesdas 2013, dengan sampel penelitian balita umur 6-59 bulan di Indonesia yang berhasil diwawancarai Riskesdas 2013 dan memiliki kelengkapan data variabel. Diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara faktor predisposisi (pekerjaan ibu, pendidikan ibu, pendidikan ayah, umur ibu, umur balita, jenis kelamin balita, jumlah balita dalam keluarga, hubungan balita dengan kepala keluarga, dan status ekonomi) dan faktor pemungkin (jenis wilayah, kepemilikan kartu KMS, kepemilikan kartu KIA) dengan penimbangan balita, baik di perkotaan maupun di perdesaan. Kecuali untuk pekerjaan ibu di daerah perkotaan yang menunjukkan hubungan yang tidak bermakna secara statistik, pvalue=0,120. Untuk menurunkan angka balita tidak ditimbang maka diperlukan pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan mengenai pentingnya penimbangan balita setiap bulannya.
Kata kunci: penimbangan, balita, perkotaan, perdesaan

Prevalence of malnutrition in Indonesia that was quite fluctuant, 18,4% in 2007 decreased to 17,9% (2010) and become inflated again to 19,6% in 2013. Also, stunting still a serious problem for under-five childern. Hence, monthly weighing is important as one of the monitoring growth and nutritional status for under-five childern. This research aims to understand determinant factors that associated with under-five children weighing behavior aged 6-59 month according to Urban and Rural areas in Indonesia in 2013. This research was quantitative with cross sectional design and chi-square analyzed. Population study was under-five children aged 6-59 month in Indonesia that was Riskesdas sample and sample study was under-five children aged 6-59 month in Indonesia that have been interviewed by Riskesdas 2013 and have comprehensive variable study. Result obtain significant association between predisposing factors (work status of mother, mother education, father education, mother age, under-five children age, relationship between under-five children and patriarch, gender of under-five children, under-five children size in family, and economic status) and enabling factors (type of living area, Maternal and Child Health handbook ownership, Road to Health Chart ownership) with wheighing behavior, even in Urban and Rural area. Except for work status of mother in Urban area show insignificant association according to statistic, pvalue=0,120. Conducting health education and health promotion are necessary for community to understand the importance of under-five children monthly weighing.
Key words: weighing, under-five childern, urban, rural
Read More
S-8633
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Sisca Kumala Putri; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Ratna Djuwita, Ratu Ayu Dewi Sartika, Dodik Briawan, Iskari Ngadiarti
T-3349
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Luriana Nur Pratiwi; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Dwi Gayatri, Syafrial
S-7415
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitriah Siti Nurjanah; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Dwi Gayatri, Elvieda Sariawati
Abstrak: Secara global setiap tahunnya pneumonia menyebabkan kematian hampir sebanyak 1 juta pada anak usia dibawah 5 tahun. Populasi yang rentan terserang pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun (Baduta). Period prevalence pneumonia pada anak Baduta berdasarkan data Riskesdas 2013 sebesar 1,7%. Tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada anak baduta di Indonesia dengan menggunakan data Riskesdas tahun 2013. Desain penelitian ini adalah cross-sectional. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan masingmasing variabel yang diteliti, dan analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Hasil penelitian menunjukkan berhubungan secara statistik dengan kejadian pneumonia pada baduta: umur 13-23 bulan berisiko 1,7 dibandingkan umur 0-12 bulan, tidak diberikan kolostrum (OR=1,742; 95% CI= 1,140-2,664), belum diberikan imunisasi campak karena umur anak (OR= 0,548; 95% CI= 0,388-0,773), tinggal di perdesaan (OR=1,448; 95% CI= 1,093-1,919), ada asap hasil pembakaran (OR=1,511; 95% CI= 1,142-1,998), ventilasi ruangan masak/dapur kurang (OR=1,829; 95% CI= 1,279-2,614), dan status sosial ekonomi rendah (OR=1,807). Belum dapat disimpulkan hubungan yang pasti bermakna secara statistik karena analisis dilakukan sampai bivariat, perlu dilakukan analisis multivariat.
Kata kunci: Pneumonia, Baduta, Indonesia, Riskesdas 2013
Read More
S-8688
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Charles Edward Bobby Pontoh; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Syahrizal Syarif, I Nyoman Kandun, Yovsyah
T-3305
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Geby Hasanah Jorgy; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Yovsyah, Punto Dewo
Abstrak: Diabetes melitus adalah penyakit metabolisme yang merupakan suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar glukosa darah di atas nilai normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 pada wanita dewasa di daerah perkotaan di Indonesia tahun 2013. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2013 dengan desain studi cross sectional. Sampel adalah wanita dewasa di daerah perkotaan yang tidak hamil dan memiliki kelengkapan data sebanyak 122.880 responden.
 
 
Hasil penelitian menunjukkan prevalensi DM berdasarkan diagnosis dan gejala sebesar 2.2 % dan menemukan bahwa prevalensi DM tertinggi berada pada faktor risiko, seperti umur ≥ 45 tahun (5.2%), pendidikan rendah (3.1%), tidak bekerja (2.3%), status cerai (3.6%), aktfitas cukup (2.2%), mantan perokok (4%), jarang makan manis (3.8%) dan berlemak (2.3%), obesitas (2.9%), obesitas sentral (2.9%), dan hipertensi (7.6%). Faktor risiko DM yang memiliki hubungan paling dominan adalah umur ≥ 45 tahun (POR : 9.24; 95 % CI 7.69-11.1), status cerai (POR : 5.95; 95 % CI 4.85-7.30), dan hipertensi (POR : 5.10; 95 % CI 4.70-5.54). Untuk itu, perlu diadakan sosialisasi untuk program deteksi dini faktor risiko DM, serta perlunya kesadaran diri untuk cek gula darah secara teratur untuk wanita dewasa di daerah perkotaan.
 

 
Diabetes mellitus is a metabolic disease which is a collection of symptoms that occur due to an increase in blood sugar levels above normal. This study aims to determine the risk factors assosiated with type 2 diabetes mellitus in adult women in urban areas. This study used a data from Riskesdas 2013 and using cross sectional as design study. Samples were adult women above 18 living in urban areas who are nor pregnant and has complete data.
 
 
Result shows the prevalence of DM that based on diagnosis and symptoms is 2.2 % and the risk factors with highest prevalence of diabetes are age ≥ 45 (5.2%), low educated (3.1%), umemployed (2.3%), divorced (3.6%), enough activity (2.2%), former smokers (4%), rarely eat sweets (3.8%) and fatty foods (2.3%), obese (2.9%), central obese (2.9%), and hypertension (7.6%). The risk factors that highly associated are age ≥ 45 (POR : 9.24; 95 % CI 7.69-11.1), divorce (POR : 5.95; 95 % CI 4.85-7.30), and hypertension (POR : 5.10; 95 % CI 4.70-5.54). Therefor, screening for DM and self-awareness to check the blood sugar level are s strongly recommended among adult women in urban areas.
Read More
S-8806
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Leonita Katarina Sihotang; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yofsyah, Siti Arifah Pujonarti, Saptawati Bardosono
Abstrak:

Masalah Kurang Energi Protein masih merupaknn masalah gizi utama di Indonesia dan dapat ditemui pada sebagian besar wilayah Indonesia termasuk DKI Jakarta. Wilayah Jakarta Timur akan menjadi salah satu wilayah kczja World Vision Intemational dalam proram yang discbut FAST UP .(Food Aid Supporting Transformation in Urban Populations). Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan status gizi dan kesehatan ibu dan balita di wilayah tersebut dengan berbagai intervcnsi seperti memperbaiki status gizi balita KHP (Kurang Encrgi Protein), meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang gizi dan kesehatan, memperkuat pelayanan kcschatan setempat dan memperbaiki fasilitas air dan sanitasi. Penelitian ini adalah bagian dari survey yang dilaksanakan pada bulan September 2005 di Jakarta Timur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian KEP pada balita umur 6-59 bulan. Penelitian ini dilakukan di 5 kecamatan di Jakarta Timur yaim kecamaan Jatinegara, Kramat Jati, Duren Sawit, Pulo Gadung dan Matraman. Desain penelitian ini menggunakan metode cross sectional dimana varlabel dependen adalah status gizi (KEP) balita, sedangkan umur, jenis keiamin, penyakit infeksi, status vitamin A, status imunisasi, jumlah jenis makanan, tingkat pendidikan ibu, tingkat pengeluaran keluarga menjadi variabel independen Subyek dalam penelitian ini adalah balita usia 6-59 bulan yang tinggal di 5 kecamatan di Jakarta Timur. Pengambiian sampel dilakukan dengan metode klastcr 2 tahap. Hasil penelitian menunjukkan proporsi balita KEP bcrdasarkan berat badan menurut umur adalah 26,69%. Dari basil analisis bivariat faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi (KEP) balita adalah umur balita, tingkat pendidikan ibu dan tingkat pengeluafan rumahtangga. Dari hasil analisis multivariat dengan regrcsi llogistik, faktor yang berhubungan dengan kejadian KEP adalah umur balita dan tingkat pengeluaran keluarga. Untuk pengeluaran rumah tangga, keluarga dengan tingkat pengeluaran dibawah Rp 700.000 /bulan memiliki peluang terbesar untuk memiliki anak KEP dengan nilai OR=2,50 (95% CI: 1,30-4,80). Sedangkan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian KEP adalah umur balita, khususnya balita umur 12-23 bulan dimana balita umur 12-23 bulan berpeluang untuk mengalami KEP sebesar 3,33 kali dibanding balita umur 6-ll bulan. Nilai OR -= 3,33 (95% Cl: 1,68-6,62). Kesimpulan dari penelitian ini adalah proporsi KE? balita di Jakarta Timur terrnasuk tinggi dan faktor-falctor yang berpengaruh terhadap kejadian KEP adalah umur balita dan tingkat pengeluaran rumahtangga. Faktor umur balita, klfnususnya umur 12-23 bulan adalah yang paling dominan berpengaruh terhadap kejadian KEP. Untuk itu disarankan agar pelaksanaan program intervensi gizi dan kesehatan difokuskan pada kelompok yang paling rentan dengan peningkatan kerjasama dan koordinasi dengan instansi kesehatan setempat, pengembangan program pcrbailcan gizi yang dapat menjangkau sebanyak mungkin balita, pengembangan program prornosi kesehatan sebagai upaya pencegahan, penyalumn bantuan untuk keluarga yang memiliki_ anak KEP, peningkatan keterampilan dan program padat karya.


Malnutrition is still a major problem in Indonesia and can be found in most area in Indonesia including DKI Jakarta. World Vision lntemational (WVI) conduct a program called FAST UP (Food Aid Supporting Transformation in Urban Populations) and East Jakarta will be included in its scope of work. The objective of the program is to increase the nutritional status and the health of mother and under five children in the region, by doing some intervention such as improving nutrition status of under Eve children, improving community knowledge about nutrition and health, strengthening local health services and improving water and sanitation facility. This research is part of the survey that has been conducted on September 2005. The objective of the research is to identify factors related to protein energy malnutrition of under five children. This research is conducted in 5 sub districts in East Jakarta: Jatinegara, Duren Sawit, Kramat Jati, Pulo Gadung and Matraman. The method used in this research is-a cross sectional, with nutrition status as dependent variable; while age, sex, infection disease, vitamin A status, immunization status, number of food consumption, mother educational level, family expenses rate as independent variable. The subject of this research is children age 6-59 months living in 5 sub districts in East Jakarta. This research use 2 stage cluster sampling method. The result shows that the proportion of malnourished children is 26,69%. Bivariate analysis shows that factors related to nutritional status of under tive children are childrens age, mother educational level and family expsnses rate. Multivariate analysis with logistic regression shows that factors related to malnutrition are children?s age and family expenses rate. The most significant factor is children`s age, especially between 12-23 months old, which has the probability of 3.33 times to have malnutrition compared to infants age 6-11 months, OR value = 3.33 (95% CI: 1,68 - 6,62). As for the family expenses rate, children from family with the expenses below Rp.700.000/month has the biggest chance to have malnutrition, OR value = 2,50 (95% Cl: l,30-4,80). In conclusion, the proportion of malnutrition in underiive children in East Jakarta is high, with ehildren`s age and family expenses rate as the significant factors. Children aged 12-23 month is the most dominant factor related to malnutrition. lt is recommended that the intervention program on nutrition and health is focused on the most vulnerable groups by intensifying coordination and cooperation wjith local health providers, enhancing nutrition improvement program that involve almost malnutrition children, enhancing health promotion program as prevention from malnutrition, supporting family with malnutrition children, skill improvement and mass-vocation program.

Read More
T-2691
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hanitya Dwi Ratnasari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Rabea
S-7258
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titin Ekawati; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Krisnawati Bantas, Ratu Ayu Dewi Sartika, Nunuk Agustina, Nurjamil
T-3735
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sibongire Blessings Ngoma; Pembimbing: Sibongire Blessings Ngoma; Penguji: Trisari Anggondowati, Alexander A. Kalimbira, Poppy Elvira Deviany
Abstrak:
Stunting masih menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat di Malawi. Menurut Malawi Survei Demografi dan Kesehatan (MDHS) 2024, sekitar 38% anak balita mengalami stunting, meningkat dari 37% pada tahun 2015/16. Meskipun berbagai program gizi dan kesehatan telah dilaksanakan selama beberapa dekade, penurunan stunting masih stagnan, yang menunjukkan bahwa strategi yang ada belum memadai untuk mengatasi faktor-faktor mendasar penyebab kurang gizi pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting pada anak usia 6–59 bulan di Malawi. Analisis data sekunder dari cross-sectional Malawi DHS 2024 telah dilakukan. Sebanyak 4.804 anak usia 6–59 bulan dengan data antropometri valid (sampel tertimbang: 4.550) diikutsertakan dalam penelitian ini. Analisis deskriptif berbobot survei dilakukan untuk mengestimasi prevalensi stunting dan menggambarkan karakteristik populasi. Analisis bivariat tidak berbobot dan analisis multivariat tersesuaikan dilakukan menggunakan regresi Cox termodifikasi dengan waktu konstan dan varians robust untuk mengestimasi prevalence ratio (PR) kasar dan tersesuaikan. Modifikasi efek berdasarkan wilayah juga dianalisis untuk menentukan apakah hubungan antara faktor-faktor yang diidentifikasi dengan stunting berbeda di berbagai wilayah Malawi. Prevalensi stunting berbobot survei adalah 39,1% (95% CI: 37,2%–41,0%) pada anak usia 6–59 bulan. Prevalensi stunting tertinggi ditemukan pada anak usia 24–35 bulan (48,5%; 95% CI: 44,9%–52,1%), anak laki-laki (41,3%; 95% CI: 38,9%–43,8%), anak yang berasal dari rumah tangga dengan kuintil kekayaan terendah (44,6%; 95% CI: 41,9%–47,3%), serta di wilayah Tengah (40,3%; 95% CI: 37,0%–43,6%) dan Selatan (40,2%; 95% CI: 37,6%–42,8%) Malawi. Usia anak (p<0,001), jenis kelamin (p<0,001), urutan kelahiran (p=0,027), berat lahir (p<0,001), durasi pemberian ASI (p<0,001), kunjungan antenatal (antenatal care/ANC) (p=0,011), usia ibu saat melahirkan (p<0,001), tingkat pendidikan ibu (p<0,001), Body Mass Index (BMI) ibu (p<0,001), tempat tinggal (p<0,001), wilayah (p<0,001), kuintil kekayaan (p<0,001), jumlah anggota rumah tangga (p<0,001), dan jenis fasilitas sanitasi (p<0,001) berhubungan dengan stunting. Setelah penyesuaian, usia anak, jenis kelamin, berat lahir, diare, BMI ibu, kuintil kekayaan, tingkat pendidikan ibu, wilayah, dan jumlah anggota rumah tangga (p<0,05) berhubungan secara independen dengan stunting. Tidak ditemukan adanya modifikasi efek yang bermakna berdasarkan wilayah terhadap kekuatan hubungan antara faktor-faktor independen yang diidentifikasi dengan stunting. Prevalensi stunting di Malawi masih tinggi dan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang saling berkaitan pada tingkat anak, ibu, dan rumah tangga. Percepatan penurunan stunting di Malawi memerlukan penguatan koordinasi multisektoral, investasi gizi yang merata, pencegahan diare, serta edukasi gizi dan peningkatan status gizi ibu sebelum, selama, dan setelah kehamilan.

Stunting remains a major public health challenge in Malawi. According to the 2024 Malawi Demographic and Health Survey (MDHS), approximately 38% of children under five years of age are stunted from 37% in 2015/16. Despite decades of ongoing nutrition and health programs, progress in reducing stunting has largerly stagnated, suggesting that existing strategies have been insufficient to address the underying determinants of child undernutrition and achieve substantial reductions in stunting prevalence. This study aimed to examine factors associated with stunting among children aged 6-59 months in Malawi. A secondary data analysis of a cross-sectional 2024 Malawi DHS was conducted. A total of 4,804 children aged 6-59 months with valid anthropometric measurements corresponding to a weighted sample of 4,550 were included. Survey weighted descriptive analyses were perfomed to estimate stunting prevalence and describe population characteristics. Unweighted bivariate and adjusted multivariate analyses were conducted using modified Cox regression with constant time and robust variance to estimate crude and adjusted prevalence ratios (PRs). Effect modification by region were also assessed to determine whether the associations between the identified factors and stunting differed across Malawian regions. Survey-weighted prevalence of stunting was 39.1% (95% CI: 37.2%-41.0%) among children aged 6-59 months. Stunting was most prevalent among children aged 24-35 months (48.5%; 95% CI: 44.9%-52.1%), among male children (41.3%; 95% CI: 38.9%-43.8%), those from the lowest wealth quintile households (44.6%; 95% CI: 41.9%-47.3%) , Central (40.3%; 95% CI: 37.0%-43.6%) and Southern regions (40.2%; 95% CI: 37.6%-42.8%) of Malawi. Age of child (p<0.001), sex (p<0.001), birth order (p=0.027), birth weight (p<0.001), breastfeeding duration (p<0.001), ANC visits (p=0.011), mother’s age at delivery (p<0.001), mother’s education level (p<0.001), maternal Body Mass Index (BMI) (p<0.001), place of residence (p<0.001), region (p<0.001), wealth quintile (p<0.001), number of household members (p<0.001), and type of toilet facility (p<0.001) with stunting. After adjustment, child’s age, sex, birth weight, diarhoea, maternal BMI, wealth quintile, maternal education level, region, and number of household members (p<0.05) were independently associated with stunting. No significant effect mofification by region was observed in the strength of association of the identified independent factors on stunting. The prevalence of stunting remains high in Malawi driven by interconnected child, maternal, and household factors. Accelerating stunting reduction in Malawi requires strengthened multisectoral coordination, equitable nutrition investment, effective diarrhea prevention, and strengthening nutrition education for women and improving maternal nutritional status before, during, and after pregnancy.
Read More
T-7613
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive