Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37888 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nurul Maretia Rahmayanti; Pembimbing: Wulandari, Ririn Arminsih / Penguji: Fitria, Laila; Supriyono, Didik
Abstrak: Computer Vision Syndrome (CVS) merupakan gejala okular dan ekstraokular akibat penggunaan komputer dan menyebabkan penurunan produktivitas kerja. CVS adalah keluhan kesehatan akibat kerja dengan kasus terbanyak di seluruh dunia. Mahasiswa jurusan Teknik Informatika dan Komputer termasuk kelompok rentan terkena keluhan CVS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik individu (usia, jenis kelamin, postur kerja, sudut pandang, jarak pandang, durasi kerja, pola istirahat, dan penggunaan alat bantu penglihatan), lingkungan kerja (intensitas pencahayaan ruang kerja, suhu udara, kelembaban udara), dan karakteristik komputer (jenis komputer, jenis monitor, intensitas radiasi elektromagnetik, penggunaan lapisan antiglare, dan polaritas monitor) dengan kejadian CVS pada mahasiswa di jurusan Teknik Informatika dan Komputer Politeknik Negeri Jakarta tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan menggunakan data primer, dan jumlah sampel sebanyak 100 mahasiswa. Hasil analisis bivariat diperoleh bahwa variabel yang memiliki hubungan bermakna dengan kejadian CVS pada mahasiswa adalah jenis kelamin responden (4,09;1,41-11,90), durasi kerja di luar praktikum (0,32;0,14-0,76), intensitas pencahayaan ruang kerja (8,75;1,26-60,59), dan intensitas radiasi elektromagnetik (2,54;1,09-5,92). Faktor yang paling dominan hubungannya dengan kejadian CVS adalah intensitas pencahayaan ruang kerja. Diperlukan penerapan aspek K3L untuk menurunkan angka kejadian CVS. Kata kunci: Karakteristik individu, lingkungan kerja, komputer, computer vision syndrome (CVS), mahasiswa. Computer Vision Syndrome (CVS) is ocular and extraocular symptoms caused by the use of computer and it decreases work productivity. CVS has the highest incidence of occupational health problem worldwide. Students of informatics and computer engineering major are included the population at risk of CVS. This study aims to determine the relationship between individual characteristic (age, gender, work position, sight angle, distance angle, duration of work, break pattern, and the use of glasses), environmental (lighting, temperature, and humidity), and computer characteristics (computer type, monitor type, electromagnetic radiation intencity, the use of antiglare screen, and monitor polarity) with incidence of CVS among students in Informatics and Computer Engineering major, Politeknik Negeri Jakarta 2015. This study uses crosssectional study design and primary data with sample of 100 students. Result of bivariate analysis shows that variable which significantly associated with CVS incidence among students are gender (4,09;1;41-11,90), duration of work outside class (0,32;0,14-076), lighting intencity (8,75;1,26-60,59), and electromagnetic radiation intencity 2,54;1,09-5,92). The most dominant factor associated with the occurance of CVS is lighting intencity. Occupational and Environmental Health and Safety implementation is needed to reduce the incidence of CVS Keywords: Individual charracteristics, environmental charracteristics, computer, computer vision syndrome (CVS), student.
Read More
S-8698
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Achmad Fachri; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
Abstrak: Pendahuluan: Computer Vision Syndrome (CVS) merupakan penyakit yangmuncul sejak perkembangan teknologi diabad ke-21 dengan tingkat prevalensikejadian secara global sebesar 60 juta dan kerugian Rp192 trilliun setiap tahunnya.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor individu,lingkungan dan komputer serta faktor risiko dominan dengan kejadian CVS padastaf POLRES Metro Jakarta Pusat tahun 2020. Metode: Penelitian inimenggunakan pendekatan studi potong lintang dengan jumlah sampel 92 stafkepolisian yang bertugas di markas besar POLRES Metro Jakarta Pusat dan waktupenelitian pada bulan Juni 2020. Pengumpulan data dilakukan dengan instrumenkuesioner dan pengukuran lingkungan langsung menggunakan lux meter dan RHindex. Analisis deskriptif dengan melihat frekuensi serta proporsi, uji kai kuadratmemunculkan nilai odd ratio dan uji regresi logistik ganda. Hasil: Hasil penelitianmenunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan pada semua variabel dari faktorindividu, lingkungan dan komputer dengan kejadian CVS. Walaupun begitu,terdapat empat variabel yang menjadi faktor risiko dengan kejadian CVSdiantaranya kelainan refraksi (OR=1,65), perilaku merokok (OR=1,89),kelembaban (OR=2,5) dan jenis monitor (OR=1,11). Analisis multivariatmenunjukkan kelembaban ruang kerja memiliki hubungan yang signifikan dengankejadian CVS (p=0,04) dan merupakan faktor risiko dominan (OR=2,5).Kesimpulan: Terdapat empat faktor risiko yang dapat menyebabkan kejadian CVSpada staf POLRES Metro Jakarta Pusat. Saran: Pengendalian faktor risiko kejadianCVS perlu dilakukan oleh pihak POLRES Metro Jakarta Pusat melalui berbagaiprogram promosi kesehatan dan kebijakan terkait kesehatan dan keselamatan kerja.Kata kunci: Computer Vision Syndrome, Kesehatan Lingkungan Perkantoran, Komputer
Introduction: Computer Vision Syndrome (CVS) is one of the emerging diseasesin the 21st century because of advanced technology with the global prevalencearound 60 million from various population characteristics and could cause aneconomic burden equivalent to 192 trillion rupiah. Objective: This study aims todetermine the relationship of individual, environmental, and computer factors aswell as the dominant risk factor with the occurrence of CVS in the Central JakartaMetropolitan Police Officers in 2020. Method: This study uses a cross-sectionalstudy approach with a sample of 92 police officers who are serving at theheadquarters with the research time along June 2020. Data were collected throughquestionnaire and direct environmental measurements using lux meter and RHIndex. Descriptive statistics (chi square) and binary logistic regression were carriedout to compute frequencies, proportion, relevant associations and dominant riskfactors. Results: The results showed there was no significant relationship on allvariables from individual, environment, and computer factors with the occurrenceof CVS. Nevertheless, there are four variables that are risk factors for CVS such asrefractive errors (OR=1.65), smoking behavior (OR=1.89), humidity (OR=2.50),and computer monitor type (OR=1.11). Multivariate analysis showed that humidityhad a significant relationship with CVS (p=0,04) and a dominant risk factor(OR=2.5). Conclusion: There are four risk factors that can cause CVS occurrencein the police officers at the Central Jakarta Metropolitan Police Headquarters.Suggestion: Risk factors for CVS at the Central Jakarta Metropolitan PoliceHeadquarters need to be done through various health promotion programs andpolicies related to occupational health, environmental, and safety.Key words:Computer Vision Syndrome, Environmental Health Office, Computer.
Read More
S-10276
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mashita Fajri Maysuro; Pembibing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Laila Fitria, Erlina Puspitaloka
Abstrak: Computer vision syndrome (CVS) adalah sindrom yang terjadi karena adanya interaksi mata yang berlebihan dengan komputer. Faktor risiko terkait individu, lingkungan, dan komputer dapat meningkatkan prevalensi CVS dan menyebabkan gejala visual dan ekstraokular pada mata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan antara faktor risiko individu, komputer, dan lingkungan dengan prevalensi CVS pada mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sampel penelitian terdiri dari 109 mahasiswa reguler Fasilkom UI angkatan 2015-2018. Teknik sampling yang digunakan adalah stratified random sampling. Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner online. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis univariat dan bivariat. Prevalensi CVS diperoleh dari sampel sebanyak 36 mahasiswa (33%). Hasil uji bivariat antara faktor risiko dan CVS diperoleh sebagai berikut, riwayat penyakit mata (p= 0.25 OR= 1.76 CI 95%= 0.76-4.07), penggunaan kacamata (p=0.32 OR= 2.02 CI 95%= 0.71- 3.91), jenis kelamin (p= 1.00 OR= 1.67 CI 95%= 0.45-2.29), postur duduk (p=0.27 OR 0.49 CI 95%= 0.76-3.82), usia (p=0.04 OR= 3.19), lama waktu per penggunaan komputer (p= 0.01 OR=1.76 CI 95%= 0.67-3.39), dan durasi penggunaan komputer per hari (p= 0.41 OR= 4.08 CI 95%= 1.42-11.7). Dapat disimpulkan bahwa faktor risiko yang behubungan secara signifikan terhadap kejadian CVS adalah usia dan lama waktu per penggunaan komputer. Kata kunci: Computer vision syndrome, mahasiswa, faktor risiko
Read More
S-10051
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reva Maya Tika; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Al Asyary, Syafran Arrazy
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian CVS pada mahasiswa tahun 2021. Penelitian ini menggunakan studi potong lintang (cross-sectional) dengan populasi mahasiswa S1 Reguler FKM UI angkatan 2018, 2019, dan 2020 dengan jumlah sampel 124 mahasiswa. Data dikumpulkan melalui kuesioner online dengan media gform yang disebarkan pada bulan November 2021. Analisis univariat dilakukan untuk melihat frekuensi distribusi dari masing-masing variabel dan analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji chi-square untuk melihat hubungan secara statistik. Kemudian juga dimunculkan nilai odd ratio untuk melihat nilai kelompok yang memiliki risiko.
Read More
S-10886
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ruth Luciana; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Zakianis, Didik Supriyono
S-6540
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yaneva Azahra Rahmatunisa; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Fitri Kurniasari, Fahmi Hermawan
Abstrak:
Petugas tempat pengolahan sampah berbasis reuse, reduce, dan recycle (TPS 3R) merupakan kelompok pekerja yang berisiko tinggi mengalami penyakit akibat kerja seperti diare karena sering berkontak langsung dengan sampah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik individu, personal hygiene, dan kondisi lingkungan terhadap kejadian diare pada petugas TPS 3R di Provinsi DKI Jakarta. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang (cross-sectional) dengan pendekatan kuantitatif dan melibatkan 62 responden dari 12 lokasi TPS 3R. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, lalu dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa kerja (p=0,033; OR=5,077; 95% CI: 1,138–22,650), penggunaan alat pelindung diri (APD) (p=0,004; OR=0,150; 95% CI: 0,042–0,541), dan keberadaan vektor penular penyakit (p=0,038; OR=3,600; 95% CI: 1,075–12,059) memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian diare. Sementara itu, variabel usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, serta beberapa indikator personal hygiene dan kondisi lingkungan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan perilaku penggunaan APD dan pengendalian vektor menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan diare pada petugas TPS 3R.


Waste management facility based on reuse, reduce, and recycle principles or tempat pengolahan sampah reuse, reduce, and recylce (TPS 3R) workers are a high-risk occupational group for work-related diseases such as diarrhea due to frequent direct contact with waste. This study aims to examine the relationship between individual characteristics, personal hygiene, and environmental conditions with the incidence of diarrhea among TPS 3R workers in DKI Jakarta Province. A cross-sectional quantitative design was employed involving 62 respondents from 12 TPS 3R sites. Data were collected through questionnaires and observations and analyzed using chi-square tests. The results showed significant associations between diarrhea incidence and work duration (p=0.033; OR=5.077; 95% CI: 1.138–22.650), use of personal protective equipment (PPE) (p=0.004; OR=0.150; 95% CI: 0.042–0.541), and the presence of disease vectors (p=0.038; OR=3.600; 95% CI: 1.075–12.059). Meanwhile, variables such as age, gender, education level, and several indicators of personal hygiene and environmental conditions showed no significant associations. These findings highlight the importance of promoting protective equipment usage and vector control as key measures to prevent diarrhea among TPS 3R workers.
Read More
S-12120
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mari Okatini Armandari; Pembimbing: Rachmadi Purwana, I Made Djaja; Penguji: Yovsyah, HRA Sofyan, Suhardi
Abstrak: Latar Belakang: Jakarta adalah salah satu kota terbesar di Indonesia dimana hampir setiap tahunnya dilanda banjir. Banjir yang terjadi tentunyan membawa dampak yang sangat merugikan bagi semua aspek kehidupan manusia yang salah satunya adalah timbulnya berbagai macam penyakit pasca banjir. Perubahan lingkungan akibat banjir akan mengakibatkan penyebaran leptospirosis (penyakit kencing tikus), hal ini diakibatkan karena urine hewan yang terinfeksi kuman leptospira akan terbawa oleh genangan air dan mencemari lingkungan rumah. Terdapat jumlah kasus yang terjadi di DKI Jakarta sebanyak 65 orang (2003), 78 orang (2004) dan 51 orang (2005). Masalah leptospirosis yang terjadi di DKI Jakarta selalu terjadi pada wilayah yang sama yang diakibatkan oleh faktor lingkungan yang buruk, perilaku yang buruk atau pengaruh karateristik individu.
Tujuan : Mengetahui hubungan faktor lingkungan dan karakteristik individu terhadap kejadian leptospirosis di Jakarta tahun 2003-2005.
Disain : Studi ini menggunakan rancangan Kasus Kontrol. Data pada penelitian ini berasal dari data sekunder yang diperoleh dari Bagian Program-Diklat RSUD Tarakan ? Jakarta dan melalui wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner yang telah dikembangkan. Wawancara dilakukan oleh enumerator yang sudah dilatih mewawancarai terhadap responden kasus maupun responden kontrol. Subyek berjumlah 190 orang, dimana responden yang positif leptospira sebagai kelompok kasus dan reponden yang negatif leptospira sebagai kontrol, dengan perbandingan 1:1. Varibel independen adalah Faktor lingkungan (Keadaan dan penataan rumah, loteng/plafon rumah, binatang penular (vektor), sarana air bersih, sarana penyimpanan makanan, SPAL) serta karakteristik individu ( Umur, pekerjaan, jenis kelamin, pengetahuan, perilaku, dan pendidikan). Ananlisis dilakukan deng chi-square dan regresi logistik ganda.
Hasil : Ada hubungan bermakna antara keadaan dan penataan rumah (OR= 3,956; 95%CI: 1,511-10,358), SPAL ( OR= 1,982; 95% CI: 1,111-3,536), Tingkat Sosial Ekonomi (OR= 1,928; 95% CI: 1,073-3,462), pengetahuan (OR= 17,625; 95% CI: 6,573-47,257) dan Pendidikan (OR= 2,407; 95% CI: 1,333-4,348).
Kesimpulan: Dari hasil penelitian diketahui bahwa faktor lingkungan dan karakteristik individu berhubungan dengan kejadian leptospirosis di Jakarta pada tahun 2003-2005. Terdapat 4 (empat) faktor dominan yang mempengaruhi kejadian leptospirosis adalah pendidikan,pengetahuan, sarana air bersih dan komponen dan penataan rumah.
Kata Kunci: Faktor Lingkungan, Karakteristik Individu, Kejadian Leptospirosis, Kasus-Kontrol.

Background: Jakarta is one of the largest cities in Indonesia where almost every year got flood. Of course, flood brings very bad impact for all human life aspect, which one is the incidence of various post-flood diseases. Environment changes caused by flood resulting leptospirosis spread (rat urine disease), this thing resulted because animal urine infected by leptospira germ will carried by water pond and contaminate house environment. Case occurred in DKI Jakarta are 65 people (2003), 78 people (2004), and 51 people (2005). Leptospirosis problem occurred in DKI Jakarta always occurred in the same area caused by bad environment factor, bad behavior, or individual characteristic influence.
Objective: To find relation between environment factor and individual characteristic toward leptospirosis in Jakarta year 2003-2005.
Design: This study use Case Control design. Data in this research based on secondary data obtained from Part of Diklat RSUD Tarakan Program ? Jakarta and through structured interview using developed questioner. Interview done by enumerator, which has trained to interview case respondent and control respondent. Subject are 190 people, whereas positive leptospirosa respondent as case group and negative leptospirosa respondent as control group, with 1:1 comparison. Independent variable is environment factor (house condition and settlement, house plafond, infector animal (vector), sanitation, food supply, SPAL) and also individual characteristic (age, job, sex, knowledge, behavior, and education). Analysis done by chi-square and double logistic regression.
Result: There is relation between both house condition and settlement (OR=3,956; 95%CI: 1,511-10,358), waste (OR=1,982; 95%CI: 1,111-3,536), social economy (OR=1,928; 95% CI: 1,073-3,462), knowledge (OR=17,625; 95% CI: 6,573-47,257) and education (OR= 2,407; 95% CI: 1,333-4,348).
Conclusion: From research result found that environment factor and individual characteristic related with leptospirosis in Jakarta year 2003-2005. There are four dominant factors that affect leptospirosis, such as education, knowledge, sanitation, and house component and settlement.
Key Word: Environment Factor, Individual Characteristic, Leptospirosis, Case-Control.
Read More
T-2180
Depok : FKM UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pusparani Wijayanti; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ema Hermawati, Inge Mazoni
Abstrak:
Sick Building Syndrome (SBS) adalah situasi di mana penghuni sebuah gedung mengalami efek kesehatan dan kenyamanan akut yang terkait dengan waktu yang dihabiskan di dalam gedung. Kejadian sick building syndrome disebabkan oleh keempat faktor utama, antara lain faktor fisik, faktor kimia, faktor biologi, dan faktor psikososial. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan faktor fisik meliputi suhu, kelembaban, pencahayaan serta karakteristik individu meliputi kondisi psikososial, jenis kelamin, usia, aktivitas merokok, riwayat alergi, dan waktu radiasi monitor dengan kejadian sick building syndrome di PT X tahun 2024. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional dengan pengambilan data menggunakan total sampling. Pengambilan data dilakukan melalui penyebaran angket online dan pengukuran parameter fisik. Hasil penelitian univariat menunjukkan 27 (29%) orang mengalami kejadian SBS dengan gejala SBS yang paling banyak dirasakan adalah gejala umum berupa pusing, kelelahan, dan sakit kepala sebanyak 11 (11,8%) orang. Hasil uji bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kondisi psikososial dengan kejadia SBS di PT X. Adapun dihasilkan hubungan yang tidak signifikan antara suhu (p 0,660, OR=1,739); kelembaban relatif (p 0,103, OR=3,486); pencahayaan (p 0,503, OR=2,232); jenis kelamin (p 0,560, OR=1,455); usia (p 0,505, OR=0,638); waktu radiasi monitor (p 1, OR= 1,263); riwayat alergi (p 0,248, OR=2); aktivas merokok (p 1, OR=1,094) dengan kejadian SBS. Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap SBS adalah kondisi psikososial.

Sick Building Syndrome (SBS) is a situation in which occupants of a building experience acute health and comfort effects related to time spent in the building. The occurrence of sick building syndrome is caused by four main factors, including physical factors, chemical factors, biological factors, and psychosocial factors. This study was conducted to determine the relationship between physical factors including temperature, humidity, lighting and individual characteristics including psychosocial conditions, gender, age, smoking activity, history of allergies, and monitor radiation time with the occurrence of sick building syndrome in PT X in 2024. The study design used was a research design with a quantitative approach with used total sampling. Data collection was carried out through the distribution of online questionnaires and measurement of physical parameters. The results of the univariate study showed that 27 (29%) people experienced SBS with the most common SBS symptoms being general symptoms such as dizziness, fatigue, and headaches as many as 11 (11.8%) people. The results of the bivariate test showed a significant relationship between psychosocial conditions and the incidence of SBS at PT X. While the insignificant relationship between temperature was produced (p 0.660, OR = 1.739); relative humidity (p 0.103, OR = 3.486); lighting (p 0.503, OR = 2.232); gender (p 0.560, OR = 1.455); age (p 0.505, OR = 0.638); monitor radiation time (p 1, OR = 1.263); Allergy history (p 0.248, OR = 2); smoking activity (p 1, OR = 1.094) with the incidence of SBS. The results of the multivariate analysis showed that the most dominant variables influencing SBS were psychosocial conditions.
Read More
S-11684
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anida Hanifah; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
Abstrak: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di dunia, khususnya negara beriklim tropis seperti Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. DBD dapat melemahkan daya tahan tubuh dalam waktu yang relatif singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor lingkungan fisik (kepadatan jentik, tempat perindukan nyamuk, tempat peristirahatan nyamuk, ventilasi, pencahayaan rumah, kelembaban rumah) dan karakteristik individu (pengetahuan, pemeriksaan jentik berkala, kebiasaan menguras tempat penampungan air, kebiasaan mencegah gigitan nyamuk, dan pemberantasan jentik nyamuk) dengan kejadian DBD pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kranggan dan Serpong 1 Tangerang Selatan Tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kontrol dengan menggunakan data primer dan sampel sebanyak 100 orang yang terdiri dari 50 sampel kasus dan 50 sampel kontrol. Hasil analisis bivariat diperoleh bahwa variabel yang memiliki hubungan bermakna dengan kejadian DBD adalah tempat perindukan nyamuk (5,25;2,05-13,4), intensitas pencahayaan rumah (3,40;1,40-8,28), dan kelembaban rumah (3,14;1,10-8,94). Faktor yang memiliki hubungan paling dominan terhadap kejadian DBD adalah keberadaan tempat perindukan nyamuk. Kata kunci: Lingkungan fisik, karakteristik individu, DBD, Aedes aegypti
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a public health problem globally, especially in tropical countries like Indonesia. The disease is caused by a virus and is transmitted by the bite of Aedes aegypti mosquito. DHF weakens human immune system in a relatively short time. This study aims to investigate the relationship between physical environmental factors (density of larvae, breeding places, the resting place of mosquitoes, ventilation, home lighting, and humidity) and individual characteristics (knowledge, periodic larvae survey, depleting water reservoirs habits, preventing mosquito bites habits and eradication of mosquito larvae) with the incidence of dengue in the community in Puskesmas Kranggan and South Tangerang Serpong 1 in the year 2016. This study used a case-control study design using primary data and a sample of 100 people consisting of 50 sample cases and 50 control samples. Results of bivariate analysis showed that the variables that have a significant association with the incidence of dengue are mosquito breeding sites (5.25; 2.05- 13,4), home lighting intensity (3.40;1,40-8,28), and humidity home (3,14;1,10-8,94). The factor that has the most dominant association with incidence of DHF is the presence of mosquito breeding places. Keywords: Physical environment, individual characteristic, DHF, dengue, Aedes aegypti
Read More
S-9063
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
yanti Riyantiningsih; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Zakianis, Edwan
S-6440
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive