Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32522 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nurasni; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wwahyono; I Mde Yosi Purbadi
S-8777
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agung Aji Perdana; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Yety Intarti, Adang Mulyana
Abstrak: Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh suatu parasit yanghidup di dalam darah melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Malaria masihmerupakan masalah di Indonesia karena hingga tahun 2015 jumlah keseluruhankasus malaria sebesar 217.025 kasus. Pada tahun 2015 Provinsi Lampung memilikijumlah kasus paling banyak setelah Papua, NTT, Papua Barat, Maluku SumateraUtara dengan jumlah kasus positif 3.991 kasus dimana Kabupaten Pesawaranmerupakan kabupaten endemis malaria. Tujuan penelitian ini adalah mengetahuihubungan perilaku dan tempat perindukan nyamuk terhadap kejadian malariasetelah dikontrol dengan variabel potensial confounder lainnya. Penelitian inimerupakan penelitian case-control dengan jumlah sampel 180 responden, dengankasus 60 dan kontrol 120 berusia ≥ 15 tahun, menggunakan data insiden. Datadianalisis dengan uji chi-square, stratifikasi, dan regresi logistik. Setelah dikontrolvariabel confounding didapatkan variabel pemasangan kawat kasa berhubungandengan kejadian malaria (OR : 3,15 ; 95% CI : 1,099-9,074; p = 0,033). Sedangkanvariabel keluar malam, obat nyamuk, penggunaan kelambu, tempat perindukannyamuk dan jarak tempat perindukan nyamuk tidak berhubungan dengan kejadianmalaria. Umur merupakan efek modifikasi terhadap hubungan antara penggunaankelambu dan kejadian malaria. Masyarakat hendaknya melakukan upayapencegahan dengan melakukan pemasangan kawat kasa pada setiap ventilasi rumahdan menutup setiap lubang pada dinding rumah yang berpotensi nyamuk bisamasuk serta menggunakan kelambu pada saat tidur malam.
Kata Kunci : Kawat kasa, Kelambu, Kejadian Malaria.
Malaria is an infectious disease caused by a parasite that lives in the bloodthrough the bite of a female Anopheles mosquito. Malaria is still a problem inIndonesia since 2015 the total number of 217.025 of malaria cases. In 2015,Lampung province has the most number of cases after Papua, East Nusa Tenggara,West Papua, Maluku, North Sumatera amount of positive 3,991 cases in which theDistrict Pesawaran a malaria endemic districts. The main purpose of this study wasto determine the relationship of behavior and breeding places on the incidence ofmalaria after controlling for potential confounders. This study is a case-controlstudy with a sample size of 180 respondents, with 60 cases and 120 controls aged≥ 15 years, using incident data. Data were analyzed by chi-square test, stratificationand logistic regression. After adjusting confounding variables installation of wirenetting significant relationship with the incidence of malaria (OR : 3,15 ; 95% CI :1,099-9,074; p = 0,033). Out of the house at night, insect repellent, use of mosquitonets, mosquito breeding places and distances breeding places are not relationshipwith the incidence of malaria. Age is a modification effect on the relationshipbetween the use of mosquito nets and malaria. The people should take steps toprevent the installation of wire netting perform at every home ventilation and closeany holes in the walls of houses that potentially could enter and use mosquitonetting when sleeping at night. The people should take steps to prevent malaria bydoing the installation of wire netting at each home ventilation and close any holesin the walls of houses that potentially could enter and use mosquito netting whensleeping at night
Kata Kunci : Wire Netting, Mosquito Net, Malaria.
Read More
T-4658
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sumiati Bedah; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Syahrizal Syarif, Lukman Hakim; Penguji: Nurhayati A. Prihartono, Syafruddin, Budi Haryanto, Besral, Masdalina Pane,
Abstrak:
Pada tahun 2019, Indonesia melaporkan 250.644 kasus malaria. Lima provinsi dengan kasus positif malaria terbesar adalah Papua, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Kalimantan Timur, dan Lampung. Sementara itu, DKI Jakarta dan Bali, yang berbatasan dengan Lampung, sudah masuk kategori provinsi bebas malaria (Kemenkes, 2019). Pemahaman tentang gejala klinis malaria lokal sangat penting bagi suatu wilayah, karena dapat menjadi panduan bagi masyarakat dalam mengenali tanda-tanda awal penyakit malaria. Penelitian ini menggunakan dua desain, yaitu cross-sectional untuk menyusun dan mengembangkan algoritme gejala klinis malaria lokal di wilayah studi, dan quasi- eksperimental untuk menentukan pengaruh Mass Blood Survey (MBS) Plus dalam menemukan kasus malaria. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa kombinasi gejala klinis yang paling sensitif dan spesifik untuk malaria lokal adalah sakit/nyeri kepala, demam, dan menggigil, dengan sensitivitas 88,43% dan NPN 84,95%. Gejala-gejala ini dapat menjadi indikator yang baik untuk skrining di wilayah setempat. Selanjutnya, kelompok intervensi (MBS Plus) memiliki Annual Parasite Incidence (API) yang lebih rendah (16,06) dapat mendeteksi 13 kali lebih banyak kasus malaria dibandingkan kelompok kontrol (MBS reference) dengan API yang lebih tinggi (60,14). Hal ini menunjukkan bahwa jika intervensi serupa diterapkan di populasi dengan API tinggi, kemungkinan besar akan ditemukan lebih banyak kasus malaria. Intervensi MBS Plus penting untuk dilanjutkan dengan tujuan semakin sering ditemukan kasus malaria, maka percepatan dalam mencapai mini eliminasi (eliminasi lokal) semakin terwujud, dengan prinsip "temukan dan obati".

In 2019, Indonesia reported 250,644 cases of malaria. The five provinces with the largest number of positive cases of malaria are Papua, East Nusa Tenggara, West Papua, East Kalimantan and Lampung. Meanwhile, DKI Jakarta and Bali, which border Lampung, have been categorized as malaria-free provinces (Ministry of Health, 2019). Understanding the clinical symptoms of local malaria is very important for a region, because it can be a guide for the community in recognizing the early signs of malaria. This study used two designs, namely cross-sectional to develop and develop an algorithm for local malaria clinical symptoms in the study area, and quasi-experimental to determine the effect of the Mass Blood Survey (MBS) Plus in finding malaria cases. The results of the validity test show that the most sensitive and specific combination of clinical symptoms for local malaria is headache, fever and chills, with a sensitivity of 88.43% and an NPN of 84.95%. These symptoms can be a good indicator for screening in the local area. Furthermore, the intervention group (MBS Plus) had a lower Annual Parasite Incidence (API) (16.06) and was able to detect 13 times more cases of malaria than the control group (MBS reference) with a higher API (60.14). This suggests that if similar interventions were implemented in populations with high APIs, more malaria cases would likely be found. It is important to continue the MBS Plus intervention with the aim that the more frequently cases of malaria are found, the more acceleration in achieving mini elimination (local elimination) will be realized, with the principle of "find and treat"
Read More
D-539
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adhi Sambodo; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Renti Mahkota, Misriyah, Sahad Omposunggu
Abstrak:

Faktor manusia (host) yang pcnling dalam pcnccgahan malaria adalah Faklor perilaku, seperti perilaku pencegahan dan pencarian pengobatan. Salah satu Faktor pencegahan malaria berkaitan dengan pcngcmbangan program kelambunisasi adalah keteraturan masyarakat untuk tidur mcnggunakan kelambu sepanjang malam. Penelitian ini bertujuan umuk mengetahui hubungan menggunakan kclambu dengan kejadian malaria, clengan mempertimbangkan faktor-faktor: umur, jenis keiamin, pendidikan, waktu bekerja, pengetahuan tentang malaria, penyuluhan lcelambu, kecukupan kelambu, lama tinggal, pemilikan temak besar, obat anti nyamuk, kassa, dan alat pellndung diri keluar mlam. Penelitian ini dilalcsanakan di Kabupaten Lampung Selatan, dengan pertimbangan prevalensi klinis malaria di Kabupaten Lampung Selatan sangat fluktuatifl yaitu ll,5%0 tahun 2000, cenderung meningkat menjadi l3,65%¢ pada tahun 2003 dan menurun kembali menjadi ll,3%¢ di tahun 2004, scdangkan pada tahun 2005 kcmbali turun mcnjadi 9,67_ disamping, itu program kelambunisasi baru bcrjaan, lokasi pcnelitian adalah salah salu puskesmas lercndcmis di Kabupatcn Lampung Selalan, yaitu Puskcsmas Hanura. Berdasarkan pcnelitian ini didapatkan hubungan yang bermakna secara statistik antara menggunakan kelambu dengan kejadian malaria, dimana respondcn yang tidak mcnggunakan kelambu berisiko 4,82 kali terkena malaria dibandingkan dengan responden yang leralur tidur menggunakan kclambu. Faktor resiko yang berpotensi menjadi konfounder sehubungan dengan keteraturan tidur mcnggunakan kelambu dengan kejadian malaria adalah pengetahuan responden tentang cara pencegahan malaria dan status penyuluhan tentang kelambu yang dilerima oleh responden. Respondcn yang tidak tahu cara pencegahan malaria berisiko 6,64 kali dibanding responder; yang tahu tentang cara pencegahan malaria. Variabcl umur responden kelompok muda < 15 tahun beresiko terkena malaria pemah menerima pcnyuluhan kelambu akan terlindungi dari malaria 2,37 kali dibandingkan dengan responden yang beumur > 15 tahun. Berdasarkan penclitian ini diketahui menggunakan kelambu sangal mcmpengamhi keberhasilan program pengendalian malaria jika dilaksanakan dcngan mempertimbangkan upaya pcningkatan pcngetahuan masyarakat temang pencegahan malaria Serta manfaat penggunaan kelambu. Oleh karcna itu kiranya perlu dilakukan penyuluhan ulang temang manfaal penggunaan kclambu dalam pcnccgahan tcrjadinya pcnularan malaria, karcna berdasarkan penclilian ini hal tersebut dapat mcningkalkan cakupun pcnggunaan kelambu di masyarakul.


An important human factor in malaria prevention activities is behavioral factor, such as prevention behavior and care seeking. One of prevention factor of malaria which is related with bednets program is the using of bednets by the community during night-rest time. This research aims to determine correlation between the using ot' bednets by the community with malaria incidence in Hanura Health Centre, South Lampung District. The correlation will be considered to variables, which are age groups, gender, educational level, working hours, the community knowledge regarding malaria prevention, health education, length stay, ownership of cattle, mosquito coils, kassa, the using of self protection clothes during night time. The prevalence of clinical malaria in South Lampung District is fluctuated, from ll.5%o in 2000 to l3.65%o in 2003 and decreases to ll.3%a in 2004 and 9.67%o in 2005. The location of this study is Hanura Health Centre due to thc most endemic malaria condition of this health center in South Lampung District. This research finds that there is statistical significant relationship between the using of bednets by the community with malaria incidence. Non using bednets group risks 4.67 times to have malaria infection compare to using bednets group. Confounder risk factors are knowledge of the community regarding malaria prevention efforts and health education to use bednets. Lack knowledge of malaria prevention respondents risk 6.64 times compares to good knowledge of malaria prcvcntion respondents. Responden age group is risk factor for malaria incidence. Age group responden < I5 years more risk 2,32 times compare to age group 2 IS years. In conclusion, successful bednets distribution program in malaria control activities should be followed with increasing the knowledge of malaria prevention among the community and increasing health education to use bednets. Therefore, malaria control program in South Lampung District should continue malaria health education program on regular basis for the community in Hanura Health Centre. The message could consist of malaria prevention activities and the using ofbednets.

Read More
T-2479
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edip Isna Yuana; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Tri Yunis Miko, M. Bal`an K. Rangkuti
S-8930
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yayu Rahayu; Permbimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Putri Bungsu, Yorisa Sativa
Abstrak: Hipertensi merupakan penyakit silent killer yang dapat menyerang siapasaja tanpa ada gejala dan tanda yang dirasakan sehingga mampu menyebabkankomplikasi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran dan faktor-faktoryang berhubungan dengan kejadian hipertensi di UPT. Puskesmas Garuda KotaBandung Tahun 2015. Sampel penelitian ini adalah penduduk usia > 18 tahunyang berkunjung. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan dataprimer dengan melakukan wawancara, pengukuran tekanan darah, dan lingkarperut, jumlah sampel 164 responden, dengan uji statistik chi-square. Penelitian ini dilakukan pada bulan November-Desember 2015.

Berdasarkan hasil analisis,diperoleh hasil yang terdapat hubungan bermakna secara statistik yaitu umur(OR=2,013: 95%CI=1,072-3,780), Jenis Kelamin (OR=1,991: 95%CI=1,069-3,708), Pekerjaan (OR=0,405: 95%CI= 0,215-0,764), Riwayat Keluarga(OR=2,028: 95%CI= 1,060-3,880), Obesitas (OR=1,926: 95%CI= 1,023-3,627),dan Stres (OR=0,501: 95%CI=0,269-0,935). Perlunya peningkatan hidup sehatsebagai pencegahan komplikasi ataupun pencegahan munculnya hipertensi dimasyarakat.

Kata Kunci: Hipertensi, Faktor yang Berhubungan, UPT. Puskesmas GarudaBandung, , cross sectional
Hypertension is a silent killer disease that can affect anyone, without anysigns and symptoms of perceived so as to damage the body and causecomplications. The purpose of this study was to determine the description of andfactors associated with hypertension in UPT. Puskesmas Garuda Bandung year2015. This study used a cross-sectional design of the primary data by interviews,measurements of blood pressure, and abdominal circumference, sample of 164respondents, with chi-square test. The sample was population aged > 18 yearswho visit.

Based on the analysis, the result that there is a statistically significantrelationships were age (OR = 2.013 95% CI = 1.072 to 3.780), sex (OR = 1.99195% CI = 1.069 -3.708), Employment (OR = 0.405 95% CI = .215 to .764),family history (OR = 2.028 95% CI = 1.060 to 3.880), obesity (OR = 1.926 95%CI = 1.023 to 3.627), and stress (OR = 0.501 95% CI = 0.269 to 0.935). Need toincrease healthy life as prevention of complications or the prevention of theemergence of hypertension in the community.

Keywords: Hypertension, Factors Associated, UPT. Puskesmas Garuda Bandung,cross sectional.
Read More
S-9019
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evawangi; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Dadan Erwandi, Renti Mahkota, Yuniar Pukuk Kesuma, Eulis Wulantari
Abstrak: Skizofrenia adalah gangguan mental kronis dan berat yang mempengaruhi pemikiran, perasaan, dan perilaku seseorang. Di Indonesia, prevalensi skizofrenia adalah 1,7 per 1.000 populasi. Jumlah kunjungan gangguan jiwa di puskesmas Kabupaten Bogor telah meningkat secara signifikan dari 1.648 menjadi 13.390 pada tahun 2013-14. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan skizofrenia di Kabupaten Bogor tahun 2017. Studi kasus kontrol tidak berpasangan dilakukan di 63 puskesmas Kabupaten Bogor mulai Mei-Juni 2017. Kasus adalah penderita skizofrenia yang berusia 15-50 tahun yang didiagnosis oleh dokter / spesialis dan dicatat dalam register pasien puskesmas kabupaten Bogor pada tahun 2017. Kontrol Adalah orang sehat berusia 15-50 dan berdomisili di Kabupaten Bogor. Sebanyak 229 kasus dan 229 kontrol dipilih dengan teknik multistage sampling. Probability proportional to size digunakan untuk menentukan jumlah sampel dari masing-masing puskesmas. Kuesioner semi terstruktur yang telah diuji sebelumnya digunakan untuk mengumpulkan data yang relevan dari kontrol dan salah satu anggota keluarga kasus. Test Chi Square dan regresi logistik multivariat diterapkan untuk analisis data. Faktor-faktor yang berhubungan dengan skizofrenia: jenis kelamin laki-laki (AdjOR: 11.68; 95% CI: 4,96 -27.50), riwayat keluarga skizofrenia (AdjOR: 4.02; 95% CI: 1,90-8,48), pendidikan dasar AdjOR: 30,63; 95% CI: 4.21-222.81), pendidikan menengah (AdjOR: 25,35; 95% CI: 3,51-182.90), pengangguran (AdjOR: 5,6; 95% CI 2,52-12,45), tidak menikah (AdjOR: 8,20; 95% CI 2,52-12,45), masalah dalam keluarga (AdjOR: 4,93; 95% CI 2,43-9,99) dan masalah di tempat kerja / sekolah (AdjOR: 32.60; 95% CI 7.29 - 145.76 ). Dalam studi ini, faktor biologis (laki-laki dan riwayat keluarga skizofrenia), sosio-demografi (tingkat pendidikan rendah, tidak bekerja dan tidak menikah) dan faktor lingkungan (masalah dalam keluarga dan tempat kerja/sekolah) berhubungan dengan skizofrenia. Studi analitis prospektif diperlukan untuk mengeksplorasi lebih jauh hubungan ini.

Kata kunci: Skizofrenia, kasus kontrol, Kabupaten Bogor

Schizophrenia is a a chronic and severe mental disorder that affects thinking, feeling, and behavior of a person. In Indonesia, the prevalence of schizophrenia is 1.7 per 1,000 populations. The number of visits of mental disorders in puskesmas of Bogor Regency has increased significantly from 1,648 to 13,390 in 2013-14. This study aimed to determine the factors associated with schizophrenia in Bogor Regency 2017. An unmatched case-control was conducted in 63 health centers of Bogor regency from May-June 2017. Cases were schizophrenic patient aged 15-50 years diagnosed by physicians/specialists and recorded in the register of Bogor district health centers in 2017. Controls were the healthy people aged 15-50 and domiciled in Bogor Regency. A total of 229 cases and 229 controls were selected by multistage sampling technique. Probability proportional to size was usedto determine the number of samples from each puskesmas. A pre-tested semi structured questionnaires was used to collect relevant data from controls and one of the family members of cases. Chi square test and multivariate logistic regression were applied for data analysis. Folowing factors were associated with schizophrenia: male gender (AdjOR: 11.68; 95% CI: 4.96 -27.50), family history of schizophrenia (AdjOR: 4.02; 95 %CI: 1,90-8,48), basic education (AdjOR: 30.63; 95%CI: 4.21-222.81), secondary education (AdjOR: 25.35; 95% CI: 3.51-182.90), unemployed (AdjOR: 5.6; 95 %CI 2,52-12,45), unmarried (AdjOR: 10,20; 95%CI 2,52-12,45), problems in the family (AdjOR: 4.93; 95%CI 2.43-9.99) and problems at work / school (AdjOR: 32.60; 95%CI 7.29 - 145.76). In the study setting, biological (male and family history of schizophrenia),sociodemographic (low level of education, unemployment and unmarried) and environmental factors (problems in family, workplaceor school) were associated with schizophrenia. Prospective analytical studies are needed to further explore these associations.

Keywords: Schizophrenia, case control, Bogor district
Read More
T-5080
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutammimul Ula; Pembimbing: Yovsah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Dian Meutia Sari
Abstrak: Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan drah diastolic ≥ 90 mmHg yang berlangsung lama. Sering tidak menunjukkan gejala dan tidak terdeteksi dini, baru disadari apabila telah menyebabkan gangguan organ. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubuungan dengan kejadian hipertensi di Puskesmas Sapeken Kabupaten Sumenep Tahun 2019. Sampel penelitian ini adalah penduduk yang berusia > 18 tahun yang berkunjung ke puskesmas. Penelitian ini menggunakan disain cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 101 responden, dengan uji statistik Chi-Square. Alat pengumpulan data yang digunakan yaitu pemeriksaan fisik (tekanan darah, berat badan dan tinggi badan) dan isian kuesioner. Penelitian ini dilakukan bulan Mei-Juni 2019. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh hasil yang terdapat hubungan bermakna secara statistic yaitu Riwayat Keluarga (OR=2,87: 95%CI=1,27-6,50), Pendidikan (OR=2,79: 95%CI=1,17-6,69), Obesitas (OR=8,38: 95%CI=2,30-30,65), Kebiasaan menkonsumsi makanan asin (OR=7,16: 95%CI=2,91-17,67). Perlunya peningkatan hidup sehat sebagai pencegahan komplikasi ataupun pencegahan munculnya hipertensi di masyarakat. Kata Kunci: Hipertensi, puskesmas, faktor risiko hipertensi, cross sectional
Read More
S-10023
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noer Syafiiah Tiarma; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Helda, Romadona Triada
S-9895
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Octaviani; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Yovsyah, Sahat M. Ompusunggu, Saktiyono
T-5165
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive