Ditemukan 32280 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Fitrirachmawati; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Vetty Yulianty Permanasari, Yanuar Hamid, Sumijatun
Abstrak:
Supervisi adalah suatu bentuk pengawasan yang bertujuan untuk meningkatkankinerja petugas melalui proses yang sistematis meliputi pemberian motivasi,komunikasi dan bimbingan. Penelitian ini menggunakan desain observasionaldengan pendekatan cross sectional dengan menggunakan stratified simple randomsampling. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara fungsisupervisi kepala ruangan dengan kepatuhan perawat pelaksana dalam melakukanSOP identifikasi pasien Hasil penelitian mempergunakan uji Chi Squaremembuktikan ada hubungan yang bermakna antara motivasi, komunikasi danbimbingan dengan kepatuhan perawat pelaksana menjalankan SOP identifikasipasien. (p value < α). Kesimpulan dari penelitian ini, adalah fungsi supervisikepala ruangan mempunyai peran yang sangat penting dalam meningkatkankepatuhan perawat dalam melakukan identifikasi pasien sesuai dengan SOP.Kata kunci : Kepatuhan Perawat, Fungsi Supervisi, SOP, Identifikasi pasien
Supervision is a form supervisory that aim to improve the staf performancethrough a systematic process in the provision of motivation, communication andguidance. This study used an observational design with cross sectional approachusing stratified random sampling. The purpose of this study was to determine therelationship between the function of head room supervision with the complianceof nurses in performing SOP patient identification. The result of this researchusing Chi Square test to prove there is a significant correlation betweenmotivation, communication and guidance to compliance of nurses inimplementating SOP of patient identification (p value < α). The conclusion of thisstudy is that the functions of the supervision of head room have a very importantrole to improve the nurses complaince in conducting the patient identificationbased on the SOP.Key word : Nurses compliance, The function of supervision, SOP, Identificationof patient
Read More
Supervision is a form supervisory that aim to improve the staf performancethrough a systematic process in the provision of motivation, communication andguidance. This study used an observational design with cross sectional approachusing stratified random sampling. The purpose of this study was to determine therelationship between the function of head room supervision with the complianceof nurses in performing SOP patient identification. The result of this researchusing Chi Square test to prove there is a significant correlation betweenmotivation, communication and guidance to compliance of nurses inimplementating SOP of patient identification (p value < α). The conclusion of thisstudy is that the functions of the supervision of head room have a very importantrole to improve the nurses complaince in conducting the patient identificationbased on the SOP.Key word : Nurses compliance, The function of supervision, SOP, Identificationof patient
B-1716
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Muhammad Yusri; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Jaslis Ilyas, Dumilah Ayuningtyas, Yanuar Hamid, Welly Refnealdi
Abstrak:
Berdasarkan data Bagian Radiologi RSUP dr Mohammad Hoesin Palembangtahun 2014, terbanyak foto toraks rawat jalan.Waktu tunggu pelayanan foto toraks tidak sesuai dengan Standar PelayananMinimal Rumah Sakit kurang dari 3 jam.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan denganwaktu tunggu pemeriksaan foto toraks. Penelitian ini dilakukan denganpengukuran waktu tunggu dan waktu pelayanan kepada 68 responden, pada loketpendaftaran, kamar foto, kamar pemrosesan film, kamar baca dan loketpengambilan foto. Data diolah dengan menggunakan SPSS 16. Lama waktutunggu adalah 184,44 menit. Uji statistik didapatkan waktu tunggu kamar bacafoto paling mempengaruhi waktu tunggu foto toraks.Kata kunci :Waktu tunggu, waktu pelayanan, Foto Toraks, Instalasi Radiologi
Department of Radiology Dr. Mohammad Hoesin hospital in Palembang 2014,many patients perform chest x ray examination, whom were patients radiographicoutpatient. The waiting time radiographic services in RSMH not in accordancewith the Standard Minimum Service Hospital less than 3 hours.This study aims to determine the factors associated with waiting time chest X-ray.This research was conducted by measuring the waiting time to 68 selectedrespondentsThe result showed radiographic waiting time 184.44 minutes. Based on statisticaltest found the waiting time in the reading room is the photo that most affect thelength of waiting time radiographic.Keywords :Waiting time, service time, chest x-ray, Radiology
Read More
Department of Radiology Dr. Mohammad Hoesin hospital in Palembang 2014,many patients perform chest x ray examination, whom were patients radiographicoutpatient. The waiting time radiographic services in RSMH not in accordancewith the Standard Minimum Service Hospital less than 3 hours.This study aims to determine the factors associated with waiting time chest X-ray.This research was conducted by measuring the waiting time to 68 selectedrespondentsThe result showed radiographic waiting time 184.44 minutes. Based on statisticaltest found the waiting time in the reading room is the photo that most affect thelength of waiting time radiographic.Keywords :Waiting time, service time, chest x-ray, Radiology
B-1702
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dini Andriani Pramitasari; Pembimbing: Amal C. Sjaaf; Penguji: Sandi Iljanto, Hendriyadi, Bambang Dwipoyono
Abstrak:
Latar Belakang: Peningkatan jumlah kanker menyebabkan peningkatan akan kebutuhan pelayanan kanker. Tatalaksana pada waktu yang tepat akan memberikan hasil pengobatan yang optimal. Waktu tunggu radioterapi dapat menggambarkan kualitas pelayanan rumah sakit.
Tujuan: Mengetahui waktu tunggu radioterapi pada pasien kanker serviks, kanker payudara, dan kanker nasofaring serta faktor pasien dan manajemen yang dapat mempengaruhi.
Metode: Studi kohort retrospektif dengan mengumpulkan data melalui rekam medik pasien kanker serviks, kanker payudara, dan kanker nasofaring yang dirujuk ke Sub Radioterapi RSMH sejak Januari 2015. Waktu tunggu dihitung sejak ada hasil patologi anatomi hingga mulai radioterapi. Studi dilanjutkan dengan analisis kualitatif pada faktor manajerial yaitu sarana prasarana, sumber daya manusia, rencana perbaikan, regulasi/ kebijakan, dan anggaran terhadap adanya waktu tunggu radioterapi.
Hasil: Terdapat 180 pasien kanker yang dimasukan dalam penelitian, dengan masing-masing kanker berjumlah 60 pasien. Median waktu tunggu radioterapi kanker serviks adalah 131 hari. Median waktu tunggu radioterapi kanker payudara adalah 144,5 hari. Median waktu tunggu radioterapi kanker nasofaring adalah 224 hari. Analisis bivariat dilakukan terhadap variabel-variabel pasien dan didapatkan tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik terhadap waktu tunggu (p>0,05). Hasil observasi, wawancara mendalam dan telaah dokumen/ teori didapatkan bahwa keterbatasan sarana prasarana, kurangnya jumlah sumber daya manusia, ketiadaan regulasi, dan keterbatasan anggaran mempengaruhi adanya waktu tunggu radioterapi.
Kesimpulan: Waktu tunggu radioterapi masih panjang dan belum memiliki standar, baik untuk kanker serviks, kanker payudara, dan kanker nasofaring. Diperlukan koordinasi dari berbagai profesi terkait onkologi untuk mendiskusikan dan memutuskan waktu optimal pelayanan kanker, khususnya dalam bentuk tim multidisiplin kanker. Pemenuhan kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan alat radiasi dan sumber daya manusia dapat menjadi solusi untuk mengurangi waktu tunggu radioterapi.
Background: Increasing number of cancers caused an increase in the need for cancer services. Treatment in the appropriate time will give an optimal result. Radiotherapy waiting time can describe the quality of hospital services.
Aim: to describe radiotherapy waiting time in cervical cancer, breast cancer, and nasopharyngeal cancer and to examine patient factors and managerial factors associated with waiting time.
Methods: restrospective cohort study conducted by collecting data from medical record for cervical cancer, breast cancer, and nasophryngeal cancer which are referred to Radiotherapy unit since January 2015. Wait time is define as since anatomical pathology confirmed of cancer until start of the first radiotherapy. This study then continued using qualititative analysis in managerial factors, such as infrastructure, human resources, plan of improvement, regulation, and funding.
Result: there was 180 cancer patients, with each cancer is 60. The median Radiotherapy waiting time for cervical cancer, breast cancer, and nasopharyngeal cancer is 131 days, 144,5 days, and 224 days consecutively. There is no association between patients demographic characteristics (age, education, working status, stage of cancer, domicile, and comorbidities) with wait time. From indepth interviews, observation, and literature review, it is known that shortage of infrastructure and medical equipment, human resources, no regulation, and limitation of budgeting influenced the wait time.
Conclusion: radiotherapy wait time is still too long and have no standard for cervical cancer, breast cancer, and nasopharyngeal cancer. Coordination between all oncologists is needed to discuss the optimal time for cancer services. One of the solutions to decrease wait time is by fulfillment between needs and demand of radiotherapy tools and human resources.
Read More
Tujuan: Mengetahui waktu tunggu radioterapi pada pasien kanker serviks, kanker payudara, dan kanker nasofaring serta faktor pasien dan manajemen yang dapat mempengaruhi.
Metode: Studi kohort retrospektif dengan mengumpulkan data melalui rekam medik pasien kanker serviks, kanker payudara, dan kanker nasofaring yang dirujuk ke Sub Radioterapi RSMH sejak Januari 2015. Waktu tunggu dihitung sejak ada hasil patologi anatomi hingga mulai radioterapi. Studi dilanjutkan dengan analisis kualitatif pada faktor manajerial yaitu sarana prasarana, sumber daya manusia, rencana perbaikan, regulasi/ kebijakan, dan anggaran terhadap adanya waktu tunggu radioterapi.
Hasil: Terdapat 180 pasien kanker yang dimasukan dalam penelitian, dengan masing-masing kanker berjumlah 60 pasien. Median waktu tunggu radioterapi kanker serviks adalah 131 hari. Median waktu tunggu radioterapi kanker payudara adalah 144,5 hari. Median waktu tunggu radioterapi kanker nasofaring adalah 224 hari. Analisis bivariat dilakukan terhadap variabel-variabel pasien dan didapatkan tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik terhadap waktu tunggu (p>0,05). Hasil observasi, wawancara mendalam dan telaah dokumen/ teori didapatkan bahwa keterbatasan sarana prasarana, kurangnya jumlah sumber daya manusia, ketiadaan regulasi, dan keterbatasan anggaran mempengaruhi adanya waktu tunggu radioterapi.
Kesimpulan: Waktu tunggu radioterapi masih panjang dan belum memiliki standar, baik untuk kanker serviks, kanker payudara, dan kanker nasofaring. Diperlukan koordinasi dari berbagai profesi terkait onkologi untuk mendiskusikan dan memutuskan waktu optimal pelayanan kanker, khususnya dalam bentuk tim multidisiplin kanker. Pemenuhan kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan alat radiasi dan sumber daya manusia dapat menjadi solusi untuk mengurangi waktu tunggu radioterapi.
Background: Increasing number of cancers caused an increase in the need for cancer services. Treatment in the appropriate time will give an optimal result. Radiotherapy waiting time can describe the quality of hospital services.
Aim: to describe radiotherapy waiting time in cervical cancer, breast cancer, and nasopharyngeal cancer and to examine patient factors and managerial factors associated with waiting time.
Methods: restrospective cohort study conducted by collecting data from medical record for cervical cancer, breast cancer, and nasophryngeal cancer which are referred to Radiotherapy unit since January 2015. Wait time is define as since anatomical pathology confirmed of cancer until start of the first radiotherapy. This study then continued using qualititative analysis in managerial factors, such as infrastructure, human resources, plan of improvement, regulation, and funding.
Result: there was 180 cancer patients, with each cancer is 60. The median Radiotherapy waiting time for cervical cancer, breast cancer, and nasopharyngeal cancer is 131 days, 144,5 days, and 224 days consecutively. There is no association between patients demographic characteristics (age, education, working status, stage of cancer, domicile, and comorbidities) with wait time. From indepth interviews, observation, and literature review, it is known that shortage of infrastructure and medical equipment, human resources, no regulation, and limitation of budgeting influenced the wait time.
Conclusion: radiotherapy wait time is still too long and have no standard for cervical cancer, breast cancer, and nasopharyngeal cancer. Coordination between all oncologists is needed to discuss the optimal time for cancer services. One of the solutions to decrease wait time is by fulfillment between needs and demand of radiotherapy tools and human resources.
B-1834
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Harjito; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Anhari Achadi, Wachyu Sulistiadi, Yanuar Hamid, Purwanto
B-1759
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
A. Hamid Rachman; Pembimbing: Mardiati Najib
B-746
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Layla Izzatul Khuriyati; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Jaslis Ilyas, Dumilah Ayuningtyas, Yanuar Hamid, Welly Refnealdi
Abstrak:
Salah satu pelayanan unggulan di RSMH adalah pelayanan kemoterapiterpadu.Sebagai salah satu sumber daya dalam mendukung pelayanan tersebutadalah persediaan farmasi yang termasuk di dalamnya adalah obat Kemoterapiyang relative mahal. Dalam melakukan pengendalian persediaan RSUP Dr.Mohammad Hoesin belum mengklasifikasikan obat berdasarkan nilai pemakaian,nilai investasi dan kekritisan obat melalui metode tertentu. Maka dalam penelitianini bertujuan untuk melakukan pengendalian obat kemoterapi melalui pendekatanAnalisis ABC Indeks Kritis di ruang pencampuran Kemoterapi Instalasi FarmasiRSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Penelitian ini menggunakan desainriset operasional dengan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 83 item obat, untuk kelompok A(60%-30%-10%) item obat kemoterapi adalah Paxus 100 mg injeksi. dengan nilai investasi sebesar Rp. 3.220.525.650,- dari total investasi Rp 33.509.826.356,-. Analisis Indeks Kritis kelompok A (70%-20%-10%) dengan nilai investasi sebesar Rp11.045.150.780,- dari keseluruhan nilai investasi Rp 33.509.826.356,- terdiri dari 6jenis item yaitu : Holoxan 1 gram injeksi, Leocovorin injeksi, Doxorubicin 50 mg injeksi, Brexel 20 mg injeksi, Brexel 80 mg injeksi dan Paxus 100 mg injeksi. Sedangkan kelompok A ( 80%-10%-10%) atau senilai Rp. 12.472.877.428,- daritotal nilai investasi Rp. 33.509.826.356,- terdiri dari 8 item yaitu: Carboplatin 150 mg injeksi Holoxan 1 gram injeksi, Leocovorin injeksi, Doxorubicin 50 mginjeksi, Brexel 20 mg injeksi, Brexel 80 mg injeksi dan Paxus 100 mg injeksi, danTaxotere 20 mg injeksi. Metode Analisis ABC Indeks Kritis ini dapat membanturumah sakit dalam merencanakan kebutuhan obat dengan mempertimbangkanpemakaian, nilai investasi, kekritisan obat untuk melakukan efisiensi biaya rumahsakit.
Kata kunci: Pengendalian persediaan, Analisis ABC Indeks Kritis
One of the featured services at RSMH is integrated chemotherapy services. One ofthe resources in support of these services is a pharmaceutical supplies including theChemotherapy drugs are relatively expensive. In conducting the inventory controlDr. Mohammad Hoesin Hospital not classify drugs based on user value, investmentvalue and criticality of drugs through certain methods. So in this study aims toconduct chemotherapy drug control approach ABC Analysis Critical Index in theCytostatica Handling Room of Pharmacy Instalation Dr. Mohammad HoesinHospital Palembang. This study design using operational research with quantitativeand qualitative descriptive analysis.
The results showed that out of 83 drug items, forgroup A (60% -30% -10%) is a Paxus 100 mg injection. with an investment ofIDR. 3,220,525,650, - of the total investment of IDR. 33,509,826,356, -.Critical Index Analysis group A (70% -20% -10%) with an investment of IDR.11,045,150,780, - of the total investment value of IDR 33,509,826,356, - consists ofsix types of items, namely: Holoxan 1 gram injection, Leocovorin injection,doxorubicin 50 mg injection, Brexel 20 mg injection, Brexel 80 mg injection andPaxus 100 mg injection. While the group A (80% -10% -10%) orIDR. 12,472,877,428, - of the total investment value of IDR. 33,509,826,356, -consists of eight items, namely: Carboplatin 150 mg injection, Holoxan 1 graminjection, Leocovorin injection, doxorubicin 50 mg injection, Brexel 20 mg injection, 80 mg injection Brexel and Paxus 100 mg injection, and Taxotere 20 mg injection. Critical Index ABC Analysis method can assist the hospital in a drug needs planningto consider: consumption, investment value, the criticality of drugs for hospital costefficiency.
Keyword : Inventory control, Critical Index ABC Analysis
Read More
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 83 item obat, untuk kelompok A(60%-30%-10%) item obat kemoterapi adalah Paxus 100 mg injeksi. dengan nilai investasi sebesar Rp. 3.220.525.650,- dari total investasi Rp 33.509.826.356,-. Analisis Indeks Kritis kelompok A (70%-20%-10%) dengan nilai investasi sebesar Rp11.045.150.780,- dari keseluruhan nilai investasi Rp 33.509.826.356,- terdiri dari 6jenis item yaitu : Holoxan 1 gram injeksi, Leocovorin injeksi, Doxorubicin 50 mg injeksi, Brexel 20 mg injeksi, Brexel 80 mg injeksi dan Paxus 100 mg injeksi. Sedangkan kelompok A ( 80%-10%-10%) atau senilai Rp. 12.472.877.428,- daritotal nilai investasi Rp. 33.509.826.356,- terdiri dari 8 item yaitu: Carboplatin 150 mg injeksi Holoxan 1 gram injeksi, Leocovorin injeksi, Doxorubicin 50 mginjeksi, Brexel 20 mg injeksi, Brexel 80 mg injeksi dan Paxus 100 mg injeksi, danTaxotere 20 mg injeksi. Metode Analisis ABC Indeks Kritis ini dapat membanturumah sakit dalam merencanakan kebutuhan obat dengan mempertimbangkanpemakaian, nilai investasi, kekritisan obat untuk melakukan efisiensi biaya rumahsakit.
Kata kunci: Pengendalian persediaan, Analisis ABC Indeks Kritis
One of the featured services at RSMH is integrated chemotherapy services. One ofthe resources in support of these services is a pharmaceutical supplies including theChemotherapy drugs are relatively expensive. In conducting the inventory controlDr. Mohammad Hoesin Hospital not classify drugs based on user value, investmentvalue and criticality of drugs through certain methods. So in this study aims toconduct chemotherapy drug control approach ABC Analysis Critical Index in theCytostatica Handling Room of Pharmacy Instalation Dr. Mohammad HoesinHospital Palembang. This study design using operational research with quantitativeand qualitative descriptive analysis.
The results showed that out of 83 drug items, forgroup A (60% -30% -10%) is a Paxus 100 mg injection. with an investment ofIDR. 3,220,525,650, - of the total investment of IDR. 33,509,826,356, -.Critical Index Analysis group A (70% -20% -10%) with an investment of IDR.11,045,150,780, - of the total investment value of IDR 33,509,826,356, - consists ofsix types of items, namely: Holoxan 1 gram injection, Leocovorin injection,doxorubicin 50 mg injection, Brexel 20 mg injection, Brexel 80 mg injection andPaxus 100 mg injection. While the group A (80% -10% -10%) orIDR. 12,472,877,428, - of the total investment value of IDR. 33,509,826,356, -consists of eight items, namely: Carboplatin 150 mg injection, Holoxan 1 graminjection, Leocovorin injection, doxorubicin 50 mg injection, Brexel 20 mg injection, 80 mg injection Brexel and Paxus 100 mg injection, and Taxotere 20 mg injection. Critical Index ABC Analysis method can assist the hospital in a drug needs planningto consider: consumption, investment value, the criticality of drugs for hospital costefficiency.
Keyword : Inventory control, Critical Index ABC Analysis
B-1705
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nuswil Bernolian; Pembimbing: Amal C. Sjaaf; Penguji: Purnawan Junadi, Jaslis Iljas, Baharudin; Heriyadi
Abstrak:
Latar Belakang: Inisiasi Menyusui Dini (IMD) adalah proses alami yang memberi kesempatan bayi untuk mencari dan mengisap air susu ibu sendiri, dalam satu jam pertama pada awal kehidupannya. Pelaksanaan program IMD merupakan tanggung jawab semua praktisi kesehatan, mulai dari lingkup pelaksana dan manajerial rumah sakit.
Tujuan: Mengevaluasi pelaksanaan IMD di RSMH dan faktor-faktor yang mem, pengaruhinya.
Metode: Penelitian berdesain cross sectional dengan subjek penelitian ibu bersalin dan tenaga kesehatan di Bagian Kebidanan RSMH. Subjek dipilih secara purposive sampling. Data sekunder diperoleh dari kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya.
Hasil: Selama periode November-Desember 2016, terdapat 19 (51,3%) pasien pascamelahirkan yang melakukan IMD dan 18 (48,6%) pasien tidak melakukan IMD. Terdapat perbedaan bermakna pada metode persalinan, dimana persalinan perabdominam mayoritas didapat pada kelompok yang tidak melakukan IMD (p = 0,003). Penelitian ini melibatkan 43 responden pelaksana (bidan dan dokter), serta 12 responden manajerial. Kondisi medis pasien yang tidak memungkinkan IMD, tidak terlaksananya IMD pada pasien pascaseksio sesaria, dukungan dan sosialisasi rumah sakit kurang mengenai IMD, serta pengetahuan ibu rendah merupakan keluhan responden pelaksana. Penelitian ini menemukan adanya disintegrasi antara pihak manajerial dan pelaksana sehingga menimbulkan ketidakjelasan pada pelaksanaan IMD. Simpulan: Peluang terlaksana atau tidaknya IMD dipengaruhi oleh kondisi medis ibu dan janin, metode persalinan, pengenalan dan dukungan rumah sakit terhadap IMD, sosialisasi kebijakan IMD, tingkat pengetahuan ibu. Tantangan melakukan IMD adalah belum ada kebijakan melakukan IMD di ruang operasi, kondisi medis ibu sering tidak memungkinkan IMD, ketidakseragaman pengetahuan manajer terkait IMD, rendahnya sosialisasi peraturan pelaksanaan IMD, ada disintegrasi antara pihak manajerial dan pelaksana, dan tidak adanya pengawasan IMD di lapangan. Kata kunci: inisiasi menyusu dini, evaluasi pelaksanaan IMD.
Read More
Tujuan: Mengevaluasi pelaksanaan IMD di RSMH dan faktor-faktor yang mem, pengaruhinya.
Metode: Penelitian berdesain cross sectional dengan subjek penelitian ibu bersalin dan tenaga kesehatan di Bagian Kebidanan RSMH. Subjek dipilih secara purposive sampling. Data sekunder diperoleh dari kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya.
Hasil: Selama periode November-Desember 2016, terdapat 19 (51,3%) pasien pascamelahirkan yang melakukan IMD dan 18 (48,6%) pasien tidak melakukan IMD. Terdapat perbedaan bermakna pada metode persalinan, dimana persalinan perabdominam mayoritas didapat pada kelompok yang tidak melakukan IMD (p = 0,003). Penelitian ini melibatkan 43 responden pelaksana (bidan dan dokter), serta 12 responden manajerial. Kondisi medis pasien yang tidak memungkinkan IMD, tidak terlaksananya IMD pada pasien pascaseksio sesaria, dukungan dan sosialisasi rumah sakit kurang mengenai IMD, serta pengetahuan ibu rendah merupakan keluhan responden pelaksana. Penelitian ini menemukan adanya disintegrasi antara pihak manajerial dan pelaksana sehingga menimbulkan ketidakjelasan pada pelaksanaan IMD. Simpulan: Peluang terlaksana atau tidaknya IMD dipengaruhi oleh kondisi medis ibu dan janin, metode persalinan, pengenalan dan dukungan rumah sakit terhadap IMD, sosialisasi kebijakan IMD, tingkat pengetahuan ibu. Tantangan melakukan IMD adalah belum ada kebijakan melakukan IMD di ruang operasi, kondisi medis ibu sering tidak memungkinkan IMD, ketidakseragaman pengetahuan manajer terkait IMD, rendahnya sosialisasi peraturan pelaksanaan IMD, ada disintegrasi antara pihak manajerial dan pelaksana, dan tidak adanya pengawasan IMD di lapangan. Kata kunci: inisiasi menyusu dini, evaluasi pelaksanaan IMD.
B-1833
Depok : American Public Health Association, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Firmansyah; Pembimnbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Purnawan Junadi, Heriyadi Manan, Ferry Yusrizal
Abstrak:
Tesis ini membahas tentang analisis pelayanan keluarga berencana (KB) di Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang yang bertujuan menganalisis faktorfaktor yang berperan dalam pelaksanaan pelayanan KB di Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian berdesain cross sectional dengan menggunakan data primer dan sekunder; dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui telaah dokumen, observasi, kuesioner, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terfokus. Hasil penelitian didapatkan bahwa pelayanan KB di RSMH berjalan dengan cukup baik namun terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi pelayanan KB di RSMH pada hampir seluruh aspek pelayanan KB mulai dari kebijakan dan organisasi; sarana, prasarana dan peralatan yang masih belum lengkap; kompetensi dan jumlah tenaga; prosedur pelayanan; sumber dan mekanisme alat kontrasepsi; pembiayaan; pencatatan dan pelaporan; pengendalian kualitas pelayanan; monitoring dan evaluasi; pengembangan pelayanan; serta pengetahuan dan perilaku petugas kesehatan. Penelitian ini menyarankan pelayanan KB di RSMH memerlukan dukungan dan perhatian yang lebih dalam dari pihak RSMH dengan mulai memperbaiki dan mengatasi masalah dan hambatan yang terjadi serta perlu adanya koordinasi dan kerja sama yang lebih baik dan lebih tegas baik secara intern dengan divisi atau departemen lain dalam lingkungan RSMH dan dengan dinas dan instansi yang terkait dengan pelayanan KB di RSMH. Kata kunci: keluarga berencana, pelayanan kontrasepsi, alat kontrasepsi This thesis discusses the analysis of family planing in Mohammad Hoesin Hospital Palembang (RSMH). The aim of this study is to analyze factors that play role in the implementation of family planning services in RSMH. It used cross sectional study design, using primary and secondary data as well as quantitative and qualitative approaches through the study of documents, observation, questionairre, in-depth interview, and focused group discussion. We found that family planning services provided in RSMH has been running well, but there were factors that played role in the implementation of family planning services, located in almost all aspects, such as policy system; incomplete infrastructures; competence and the number of health workers; standard service procedure; sources and mechanism of the contraceptive tools; financial problems; recording and reporting system; quality control services; monitoring and evaluation; development services; also knowledge and behavior of the health workers. Family planning services need support and more serious attention from the directors through efforts to improve and overcome the problems and obstacles. In addition, the board of directors requires better coordination effort and cooperation on the internal level (between divisions or departments within the hospital) and with relevance instance. Key words: familly planning, contraceptive services, contraception tools
Read More
B-1840
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mardiah; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Anhari Achadi, Wachyu Sulistiadi, Yanuar Hamid, Budi Hartono
B-1721
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rochyatun; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Mieke Savitri, Yuli Prapancha Satar, Indah Rosana
Abstrak:
Abstrak
Tesis ini membahas hubungan kualitas kehidupan kerja dan stress kerja berkaitan dengan kepuasan kerja dan pencapaian kinerja. Tesis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan empat komponen quality of work life (pengembangan karir, kompensasi yang seimbang, keselamatan, keterlibatan karyawan, keselamatan lingkungan kerja) dan stres kerja (informasi dan kejelasan peran dan tugas, supervisi atasan dan beban kerja), dengan kinerja perawat pelaksana di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi. Metode penelitian dengan menggunakan desain kuantitatif dan pendekatan cross-sectional pada 130 perawat pelaksana. Digunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat dengan uji statistik chi-square dan regresi linear. Hasil penelitian hanya satu komponen dalam beban kerja yaitu persepsi perawat tentang sering disalahkan atas kesalahan yang bukan menjadi tanggung jawabnya yang berhubungan dengan kinerja perawat. Persepsi akibat dari sering disalahkan atas pekerjaan yang bukan menjadi tanggung jawabnya ternyata akan meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian perawat sehingga akan meningkatkan pencapaian hasil kinerja. Saran untuk manajemen RSUP Dr. Kariadi perlu dibentuk mekanisme komunikasi dalam satu tim kesehatan dalam pengelolaan pasien yang melibatkan semua profesi yang terkait diharapkan dapat menyelesaikan konflik yang terjadi pada tim kesehatan.
This thesis explores the relationship quality of work life and job stress related to job satisfaction and performance achievement. This thesis aims to determine the relationship of the four components of quality of work life (career development, equitable compensation, employee participation, save environment) and work stress (information and clarity of roles and tasks, supervision and workload), with performance of nurses in the inpatient Doctors Kariadi’s General Hospital. Design research methods using quantitative and cross-sectional approach in 130 nurses. Used univariate, bivariate, and multivariate statistical chi-square test and linear regression. The result is only one component of the workload on nurses perceptions are often blamed for mistakes that are not its responsibility relating to the performance of nurses. Perception is often blamed for the result of the work turned out not to be his responsibility will increase alertness and caution nurses that will enhance the achievement of performance results. Suggestions for management of the department Dr. Kariadi communication mechanisms should be put in the patient's health care team in the management involving all relevant professions are expected to resolve the conlict on the healthcare team.
Read More
Tesis ini membahas hubungan kualitas kehidupan kerja dan stress kerja berkaitan dengan kepuasan kerja dan pencapaian kinerja. Tesis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan empat komponen quality of work life (pengembangan karir, kompensasi yang seimbang, keselamatan, keterlibatan karyawan, keselamatan lingkungan kerja) dan stres kerja (informasi dan kejelasan peran dan tugas, supervisi atasan dan beban kerja), dengan kinerja perawat pelaksana di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi.
This thesis explores the relationship quality of work life and job stress related to job satisfaction and performance achievement. This thesis aims to determine the relationship of the four components of quality of work life (career development, equitable compensation, employee participation, save environment) and work stress (information and clarity of roles and tasks, supervision and workload), with performance of nurses in the inpatient Doctors Kariadi’s General Hospital.
B-1547
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
