Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39519 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Adji Swandito; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Mila Tejamaya, Heny D. Mayawati, Budiawan, Elsye As Safira
Abstrak: Pekerja kontraktor bahan kimia di perusahaan minyak dan gas bumi PT. XYZ merupakan populasi berisiko terhadap pajanan Benzena disebabkan oleh aktifitas dan kondisi lingkungan kerja yang memungkinkan terpajan oleh uap Benzena. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan tingkat risiko nonkarsinogenik dan karsinogenik disertai dengan analisis kemungkinan ketidaknormalan kadar darah akibat pajanan Benzena, untuk kemudian ditentukan manajemen risiko yang harus dilakukan. Penelitian merupakan studi potong lintang dilakukan terhadap seluruh pekerja kontraktor bahan kimia di PT. XYZ yang berjumlah 22 orang ditambah dengan 22 orang sebagai pembanding dipilih dari karyawan perusahaan PT. XYZ pada lokasi yang sama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi pekerja bahan kimia di PT. XYZ berisiko terhadap pajanan Benzena nonkarsinogenik (RQ = 1,7442) dan karsinogenik (ECR = 1,76 x 10-4) pada durasi pajanan lifetime. Diketahui hubungan yang bermakna antara pajanan Benzena terhadap normalitas kadar hemoglobin (p = 0,015) dan eritrosit (p = 0,000). Risiko ketidaknormalan kadar hemoglobin dan eritrosit berturut-turut pada populasi terpajan adalah 6,92 kali (95% CI:1,28?37,29) dan 21,53 kali (95% CI:4,46?103,90) dibandingkan populasi tidak terpajan. Selain itu juga diketahui hubungan yang signifikan antara kenaikan jumlah asupan Benzena terhadap penurunan kadar haemoglobin (rs = -0,433; p = 0,044) dan eritrosit (rs = -0,474; p = 0,026).
Disimpulkan bahwa risiko kesehatan nonkarsinogenik dan karsinogenik akibat pajanan Benzena pada populasi pekerja bahan kimia di perusahaan minyak dan gas PT. XYZ akan terjadi pada durasi pajanan lifetime. Terdapat hubungan antara pajanan Benzena dengan ketidaknormalan hemoglobin dan eritrosit.

Chemical contractor worker at the oil and gas company PT. XYZ is a population at risk to Benzene exposure due to its activities and work environment condition that possibly exposed by Benzene vapour. This research is aimed to estimate noncarsinogenic and carsinogenic risk level, complemented with blood counts abnormality analysisdue to Benzene exposure, then determining risk management shall be done. The research is cross sectional study was done to all chemical contractor worker at PT. XYZ, consist of 22 person, and additional 22 person as a control was selected from employee of PT. XYZ working at the same location. The research yield that chemical worker population at PT. XYZ is at risk to the noncarsinogenic (RQ = 1.7442) and carsinogenic (ECR = 1.76 x 10-4) Benzene exposure at the lifetime exposure duration.
Its known that there is a correlation between Benzene exposure with normality of haemoglobin (p = 0.015) and erythrocytes (p = 0.000). The risk of abnormality haemoglobin and erythrocytes counts is 6.92 times (95% CI:1.28?37.29) dan 21.53 times (95% CI:4.46?103.90) respectively compare to the non exposed population. In addition, its identified that there is a significant correlation between increased Benzene intake to the haemoglobin (rs = -0.433; p = 0.044) and erythrocytes (rs = -0.474; p = 0.026) counts reduction.
In summary noncarcinogenic and carcinogenic health risk due to Benzene exposure in the population of chemical worker at the oil and gas company PT. XYZ will occure at the lifetime exposure duration. There is a correlation between Benzene exposure with abnormality of haemoglobin and erythrocytes.
Read More
T-4436
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mirsupi Usman; Pembimbing: Milla Tejamaya; Penguji: Hendra; Abdul Kadir, Dippu Rocky Nababan, Laode Syahrizal
Abstrak:
Seiring dengan target pemerintah dalam peningkatan produksi minyak dan gas di lepas pantai, maka penggunaan bahan kimia dalam kegiatan produksi minyak dan gas semakin meningkat, hal ini memunculkan kekhawatiran akan potensi permasalahan kesehatan pekerja, oleh karenanya perlu dilakukan kajian risiko kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko (risk rating/RR) kesehatan terkait pajanan dari kesebelas bahan kimia utama yang digunakan pekerja, pada proses produksi minyak dan gas di kapal FPSO XYZ tahun 2022. Metode Chemical Risk Assessment (CRA) yang digunakan adalah Stoffenmanager® 8 version 5.0 yang merupakan tools untuk menilai risiko kesehatan jalur pajanan inhalasi dan dermal dari penanganan enam bahan kimia oleh production technician di area kerja topside deck dan lima bahan kimia oleh utility operator di area kerja machinery deck. Hasil CRA menunjukkan bahwa tingkat risiko (RR) jalur inhalasi dimana satu bahan kimia kategori risiko tinggi (1,highest) delapan bahan kimia kategori risiko sedang (2, medium), dan dua bahan kimia risiko rendah (3, lowest). Sedangkan berdasarkan risk characterization ratio (RCR) pajanan inhalasi, ada dua bahan kimia yang diketahui nilai RCR task ≥ 1, yang berarti perkiraan konsentrasi emisi yang dihasilkan saat beraktivitas (task concentration estimation/TCE) terhadap potensi bahaya terhirup oleh production technician dan utility operator saat beraktivitas pada jarak yang dekat dengan sumber emisi, dikategorikan berbahaya atau risiko tidak dapat di tolerir (Unacceptable risk). Untuk tingkat risiko dermal efek lokal (skin local), sembilan bahan kimia masuk kategori risiko tinggi dan dua bahan kimia masuk kategori risiko sedang. Sedangkan tingkat risiko dermal efek sistemik (skin uptake), empat bahan kimia kategori risiko sedang, dan tujuh bahan kimia kategori risiko rendah. Hasil risk rating (RR) menentukan pula prioritas tindakan (Action Priority/AP) pengendalian risiko kesehatan. Rekomendasi pengendalian adalah menurunkan tingkat bahaya (HR) dengan melakukan penggantian bahan kimia (subtitusi) dengan bahan kimia yang lebih rendah tingkat bahayanya bagi kesehatan, dan untuk pajanan dermal (ER), otomatisasi proses penanganan, modifikasi teknik pekerjaan dengan membuat sistem penambahan bahan kimia secara gravitasi, menurunkan jumlah dosis pemakaian namun tetap efektif efisien (workplace-related modifiers), mengurangi waktu dan frekuensi penggunaan bahan kimia tersebut (activity time), penambahan ventilasi lokal (LEV) selain ventilasi mekanik, serta menggunakan baju khusus tahan kimia beserta sarung tangannya atau Chemsuit (control measures modifiers)

Along with the government's target to increase offshore oil and gas production, the use of chemicals in oil and gas production activities tends to increase, this raises concerns about potential health problems for workers, therefore it is necessary to conduct a chemical health risk assessment. This study aims to analyze the health risk rating (RR) related to exposure to the eleven main chemicals used by workers in the oil and gas production process on the FPSO XYZ ship in 2022. The Chemical Risk Assessment (CRA) method that is used is Stoffenmanager® 8 version 5.0 which is a tool to assess the health risks of inhalation and dermal exposure lines from the handling of six chemicals by production technicians on the topside deck work area and five chemicals by utility operators on the machinery deck work area. The results of the CRA show that the risk level (RR) for the inhalation route are one chemical in the high risk category (1,highest), eight chemicals in the medium risk category (2, medium), and two chemicals in the low risk category (3, lowest). Meanwhile, based on the risk characterization ratio (RCR) of inhalation exposure, there are two chemicals whose RCR task value is ≥ 1, which means the estimated concentration of emissions produced during the activities (task concentration estimation/TCE) against the potential inhalation hazard by production technicians and utility operators when activities at a close distance to the emission source, are categorized as a dangerous or unacceptable risk. For the level of dermal risk of local effects (skin local), nine chemicals are in the high risk category and two chemicals are in the medium risk category. While the level of risk of dermal systemic effects (skin uptake), four chemicals were in the moderate risk category, and seven chemicals were in the low risk category. The results of the risk rating (RR) also determine the priority of action (Action Priority/AP) for controlling health risks. Control recommendations are to reduce the level of hazard (HR) by replacing chemicals (substitutions) with lower chemicals levels of danger to health, and for dermal exposure (ER), automation of handling processes, modification of work techniques by making chemical addition systems automatically. gravity, reducing the number of doses used but still being effective and efficient (workplace-related modifiers), reducing the time and frequency of using these chemicals (activity time), adding local ventilation (LEV) in addition to mechanical ventilation, and using special chemical resistant clothing and gloves or Chemsuit (control measures modifiers)
Read More
S-11183
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ridho Pradana Maha Putra; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Fatma Lestari, Sigit Wijayanto, Haryanto
Abstrak:

Kelelahan kerja (fatigue) merupakan sebuah kondisi dimana seorang pekerja/tenaga kerja tidak bekerja secara maksimal dan mengalami penurunan produktivitas. International Labour Organization (ILO) (2016) mengatakan bahwa sebanyak 32% pekerja/tenaga kerja mengalami kasus kelelahan kerja. Selain itu, 27% pekerja/tenaga kerja mengalami kasus kelelahan kerja berat dan 18,3% pekerja/tenaga kerja mengalami kasus kelelahan kerja sedang. Kelelahan kerja juga akan dapat menyebabkan penurunan produktivitas kerja, peningkatan risiko pekerja/tenaga kerja melakukan kesalahan, dan peningkatan risiko terjadinya kecelakaan kerja. Desain penelitian pada penelitian ini adalah cross sectional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja pada pekerja/tenaga kerja pengelasan di industri minyak dan gas bumi dengan pendekatan kuantitatif. Sampel pada penelitian ini berjumlah 97 pekerja/tenaga kerja welder di PT XYZ. Metode pengambilan data dengan melakukan pengisian kuesioner kepada responden dan melakukan pengukuran menggunakan alat oxymeter, lux meter, sound level meter, dan thermometer dan humidity meter. Data akan diolah secara deskriptif dan inferensial untuk melihat gambaran dan hubungan dari setiap variabel. Variabel independen pada penelitian ini adalah faktor individu (usia, masa kerja, kebiasaan merokok, dan waktu istirahat), faktor pekerja/tenaga kerjaan (beban kerja fisik, beban kerja mental, dan durasi kerja harian), dan faktor lingkungan kerja (kebisingan, pencahayaan, dan suhu). Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok (OR=3.100 (1.253 – 7.672)), waktu istirahat (OR=5.913 (2.314–15.110)) , beban kerja fisik (OR=3.529 (1.509 - 8.256)), beban kerja mental (OR=2.658 (1.144–6.180)), kebisingan (OR=4.370 (1.844 – 10.354)), dan suhu (OR=4.083 (1.386-12.031)) dengan kejadian kelelahan kerja pada welder di PT. XYZ Sedangkan variabel usia, masa kerja, durasi kerja harian, dan pencahayaan tidak menunjukan adanya hubungan dengan kejadian kelelahan kerja pada welder di PT.XYZ. Kata Kunci: Kelelahan kerja, pekerja/tenaga kerja welder, industri minyak gas dan bumi


Work fatigue is a condition where a worker does not work optimally and experiences decreased productivity. The International Labor Organization (ILO) (2016) said that as many as 32% of workers experience work fatigue. In addition, 27% of workers experience severe work fatigue and 18.3% of workers experience moderate work fatigue. Work fatigue can also cause decreased work productivity, increased risk of workers making mistakes, and increased risk of work accidents. The research design in this study was cross-sectional. The purpose of this study was to analyze the risk factors for work fatigue in welding workers in the oil and gas industry using a quantitative approach. The sample in this study was 97 welder workers at PT XYZ. The data collection method was by filling out questionnaires to respondents and taking measurements using an oxymeter, lux meter, sound level meter, and thermometer & humidity meter. The data will be processed descriptively and inferentially to see the picture and relationship of each variable. The independent variables in this study were individual factors (age, length of service, smoking habits, and rest time), work factors (physical workload, mental workload, and daily work duration), and work environment factors (noise, lighting, and temperature). The results showed that there was a significant relationship between smoking habits (OR=3.100 (1.253 – 7.672)), rest time (OR=5.913 (2.314–15.110)), physical workload (OR=3.529 (1.509 - 8.256)), mental workload (OR=2.658 (1.144–6.180)), noise (OR=4.370 (1.844 – 10.354)), and temperature (OR=4.083 (1.386-12.031)) with the occurrence of work fatigue in welders at PT. XYZ Meanwhile, the variables of age, length of service, daily work duration, and lighting did not show any relationship with the occurrence of work fatigue in welders at PT.XYZ. Keywords: Work fatigue, welder workers, oil and gas

Read More
T-7242
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rezki Dwinda; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Haryanto, Wahyu Hidayat
Abstrak:
Kelelahan bukan sekadar merasa kantuk dan lelah, dapat juga kelelahan mental dan/atau fisik yang mengurangi kecakapan seseorang melakukan pekerjaan secara efektif dan aman. ILO memperkirakan 2,3 juta pekerja meninggal karena kecelakaan atau penyakit terkait pekerjaan dan 313 juta pekerja menderita cedera kerja non-fatal setiap tahun. NSC menyatakan bahwa kelelahan menyumbang 13% dari cedera, terutama pada lingkungan kerja yang beroperasi 24 jam. Industri minyak dan gas bumi (migas) merupakan industri yang kegiatan produksinya dilakukan secara terus menerus selama 24 jam tanpa henti untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.  Selain itu, industri migas juga dikenal sebagai industri yang berisiko tinggi dimana suatu keselahan kecil dapat menyebabkan kecelakaan besar. Tujuan penelitian ini melihat faktor hubungan terkait pekerjaan dan tidak terkait pekerjaan dengan kelelahan kerja di PT XYZ. Penelitian ini menggunakan analisis analitik dengan desain crosssectional dan menggunakan analisa data univariat, bivariat. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah seluruh populasi pekerja pengelasan PT XYZ berjumlah 104 pekerja. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor risiko individu yaitu usia (PR= 1,590; 95% CI: 1,080 – 2,341), dan kualitas tidur (PR= 1,608; 95% CI: 1,064 – 2,431) serta faktor risiko terkait pekerjaan yaitu tuntutan pekerjaan (PR= 1,650; 95% CI: 1,060 – 2,567) berhubungan signifikan dengan kelelahan pada pekerja. Sarna yang diberikan keperusahaan berupa rekomendasi program manajemen kelelahan khususnya pekerja diatas 35 tahun, evaluasi jam, shift dan durasi kerja yang dominan melebihi ketantuan yang berlaku, kajian lebih lanjut terkait kualitas lingkungan kerja, peningkatan kesadaran terkait pengelolaan tuntutan kerja, konflik dan stres, kebiasaan olahraga dan istirahat, serta fasilitas pendukung yang memperhatikan aspek ergonomi pekerja.

Fatigue is not just feeling sleepy and tired, it can also be mental and/or physical fatigue that reduces a person's ability to do work effectively and safely. The ILO estimates that 2.3 million workers die from work-related accidents or diseases and 313 million workers suffer non-fatal work injuries each year. The NSC states that fatigue contributes to 13% of injuries, especially in 24-hour work environments. The oil and gas industry is an industry whose production activities are carried out continuously for 24 hours non-stop to meet the needs of the community. In addition, the oil and gas industry is also known as a high-risk industry where a small mistake can cause a major accident. The purpose of this study was to examine the relationship between work-related and non-work-related factors with work fatigue at PT XYZ. This study used analytical analysis with a cross-sectional design and used univariate and bivariate data analysis. The number of samples in this study was the entire population of PT XYZ welding workers totaling 104 workers. The results of the study showed that individual risk factors, namely age (PR = 1.590; 95% CI: 1.080 - 2.341), and sleep quality (PR = 1.608; 95% CI: 1.064 - 2.431) and work-related risk factors, namely job demands (PR = 1.650; 95% CI: 1.060 - 2.567) were significantly related to fatigue in workers. The advice given to the company was in the form of recommendations for fatigue management programs, especially for workers over 35 years old, evaluation of hours, shifts and duration of work that predominantly exceeded applicable provisions, further studies related to the quality of the work environment, increasing awareness related to the management of work demands, conflict and stress, exercise and rest habits, and supporting facilities that pay attention to the ergonomic aspects of workers.
Read More
T-7245
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yan Fuadi; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila Tejamaya, Robiana Modjo, Gunawan, Yogi Sasongko
T-4454
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jeanita Haldy ; Pembimbing: L. Meily; Penguji: Robiana Modjo, Zulkifli Djunaidi, Dewi Rahayu, Selamat Riyadi
Abstrak:
Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebabkan kematian utama di Indonesia. Pada perusahaan minyak dan gas, PJK menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit diantara pekerja saat ini. Terdapat 5 kejadian evakuasi medis pada tahun 2023 di Perusahaan ini dengan diagnosis gangguan jantung dan pembuluh darah. Oleh karena itu, analisis faktor risiko PJK pada Perusahaan ini menjadi hal yang fundamental sebagai dasar dalam menentukan program promosi kesehatan yang sesuai. Penelitian ini dilakukan untuk memprediksi risiko PJK 10 tahun mendatang pada pekerja dengan metode framingham dan hubungan antara faktor risiko menggunakan desain penelitian cross sectional dan mixed-method sequential explanatory. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat risiko PJK di Perusahaan minyak dan gas ini adalah 3,8% risiko tinggi, 18,1% sedang dan 78,1% rendah. Gambaran faktor risiko PJK, antara lain 34,4% riwayat CVD keluarga, 82,7% pria, 51,4%, berusia <40 tahun, 67,6%  dislipidemia, 26,7% hipertensi, 15,2% diabetes melitus, dan 81,9% kelebihan BB, 40% perokok aktif, 27,6% waktu tidur berisiko, 49,5%  tidak aktif berolahraga, 99% sedenter, 52,5% berpola makan tidak baik, 6,7% stress psikososial, 40% bekerja di area non-office, 23,8%  shift. Analisis hubungan diketahui bahwa terdapat hubungan signifikan antara usia, hipertensi, diabetes dan risiko PJK pada pekerja dan usia merupakan faktor risiko dominan PJK. Tidak terdapat hubungan antara riwayat keluarga, jenis kelamin, dislipidemia, BMI, alkohol, sedenter, pola makan, waktu tidur, stress psikososial, jenis pekerjaan, area kerja dan risiko PJK pada pekerja. Selain itu, berdasarkan analisis kualitatif yang dilakukan pada faktor determinan perilaku pekerja, diketahui terdapat hubungan antara faktor determinan perilaku dan perilaku pekerja. Pada faktor pengetahuan (faktor pre-disposisi) diketahui bahwa pekerja non office kurang memahami faktor risiko PJK. Potensi penyebabnya adalah edukasi kesehatan pekerja belum merata pada seluruh area kerja. Analisis faktor pemungkin diketahui bahwa perusahaan telah memberikan dukungan penuh untuk meningkatkan kesehatan pekerja, namun masih ditemukan pekerja yang belum melakukan perbaikan perilaku kesehatan. Analisis faktor penguat memperlihatkan bahwa perusahaan telah menjalankan pengawasan dan pemantauan secara baik dan kosisten, namun pelaksaan program kesehatan setiap site belum terintegrasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan program promosi kesehatan yang komprehensif dan menyeluruh, baik dari perusahaan, pekerja, dan juga pembuat kebijakan.


Coronary Heart Disease (CHD) is the leading cause of death in Indonesia. In oil and gas companies, CHD is one of the main causes of disease-related deaths among workers. In 2023, there were 5 medical evacuation incidents at this company with diagnoses of heart and vascular disorders. Therefore, analyzing CHD risk factors at this company is fundamental in determining appropriate health promotion programs. This study was conducted to predict the 10-year risk of CHD among workers using the Framingham method and to assess the relationship between risk factors using a cross-sectional and mixed-method sequential explanatory research design. The results showed that the CHD risk levels at this oil and gas company were 3.8% high risk, 18.1% moderate risk, and 78.1% low risk. The risk factors for CHD included 34.4% with a family history of CVD, 82.7% men, 51.4% under 40 years old, 67.6% with dyslipidemia, 26.7% with hypertension, 15.2% with diabetes mellitus, 81.9% overweight, 40% active smokers, 27.6% with risky sleep duration, 49.5% not physically active, 99% sedentary lifestyle, 52.5% with poor eating habits, 6.7% with psychosocial stress, 40% working in non-office areas, and 23.8% working shifts. There was a significant association between age, hypertension, diabetes, and CHD risk among workers, with age being the dominant risk factor for CHD. There was no association between family history, gender, dyslipidemia, BMI, alcohol consumption, sedentary lifestyle, dietary habits, sleep patterns, psychosocial stress, job type, work area, and CHD risk among workers. Additionally, qualitative analysis of behavioral determinants showed a relationship between behavioral determinants and worker behavior. Regarding worker knowledge as predisposing factors, non-office workers were found to have less understanding of CHD risk factors. The potential cause is uneven health education across all work areas. Analysis of enabling factors revealed that the company has provided full support to improve worker health, but some workers have not yet improved their health behaviors. The analysis of reinforcing factors showed that the company has implemented good and consistent health monitoring, but the implementation of health programs at each site is not yet integrated. Therefore, comprehensive and thorough improvements in health promotion programs are needed from the company, workers, and policymakers.
Read More
T-7046
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oksen Pariangan; Pembimbing: Zulkifli Djunaid; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Erwan Saiful, Purwadi
Abstrak:
Bahaya psikososial berpengaruh terhadap kesehatan kerja melalui persepsi dan pengalaman yang dialami pekerja. Bahaya psikososial tak hanya berkaitan dari individu pekerja, melainkan konteks pekerjaan, sosial dan perusahaan atau organisasinya. Peneliti melihat bagaimana tingkat risiko psikososial yang dihadapi oleh para pekerja di sektor migas dengan menggunakan HSE Management Standard Indicator Tool dari HSE UK yan bertujuan untuk menghasilkan gambaran sesuai dengan tingkatan dan kategori, yaitu demand, control, manager support, peer support, relationship, role, dan change. Penelitian berhasil mendapatkan 63 responden pengisi kuesioner dengan sebelumnya menggunakan pendekatan rumus besar sampel jenuh dari data sekunder dan secara umum, gambaran kondisi psikososial di PT X berada pada level 4.

Psychososial hazards affect occupational health through perceptions and experiences experienced by workers. Psychososial hazards are not only related to individual workers, but also to the work, sosial and corporate context or organization. Researchers see how the level of psychososial risk faced by workers in the oil and gas sector by using the HSE Management Standard Indicator Tool from HSE UK which aims to produce a picture according to levels and categories, namely demand, control, manager support, peer support, relationship, role, and change. The study succeeded in getting 63 respondents to fill out the questionnaire by previously using a saturated sample size formula approach from secondary data and in general, the description of psychososial conditions at PT X was at level 4..
Read More
T-6550
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Made Truly Pinanti Sastra; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Fatma Lestari, L. Meily; Milla Tejamaya
Abstrak:
Latar belakang: Fenomena korosi pada material carbon steel di fasilitas produksi hulu minyak dan gas dapat menyebabkan penipisan lapisan logam sehingga terjadi kebocoran hidrokarbon. Untuk mencegah kerugian tersebut, perusahaan perlu menerapkan corrosion management dengan injeksi corrosion inhibitor sebagai lapisan pelindung material. Salah satu jenis Corrosion inhibitor (CI) yang diinjeksikan mengandung bahan baku asam tioglikolat (TGA), seperti yang digunakan di PT. X, yaitu produk CI-A. Selain memiliki manfaat dalam melapisi logam, TGA dapat terdekomposisi menjadi H2S (hidrogen sulfida) akibat perubahan suhu, misalnya akibat paparan sinar matahari saat penyimpanan produk. Pelepasan gas iritan dari CI dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan pernafasan pekerja. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko H2S dalam produk CI yang mengandung TGA beserta usulan prioritas perbaikan existing control measures di tempat kerja. Metodologi: Penelitian menggunakan data sekunder hasil pengukuran gas H2S dari drum produk CI-A, hasil pengukuran gas H2S dari simulasi pemanasan sampel CI-A di laboratorium PT. X, dan dokumen prosedur kerja PT. X. Selain itu, penelitian menggunakan data primer dari kuesioner untuk mendapatkan data demografi pekerja PT. X, frekuensi dan durasi penanganan CI pada 2 Unit Kerja (area produksi dan warehouse) di PT. X, dan riwayat keluhan kesehatan pekerja sebagai basis melakukan Chemical Health Risk Assessment (CHRA) menurut DOSH versi 2018. Hasil: Dari 113 responden kuesioner PT. X, 96 orang (85%) merupakan pekerja yang rutin menangani produk CI, di mana 2% pekerja pernah merasakan keluhan kesehatan saat menangani produk CI pada periode 2020-2022. Identifikasi risiko kesehatan pada kegiatan ini mengacu pada hasil pengukuran gas H2S yang diperoleh lebih dari 200 ppm dari drum dan lebih dari 700 ppm saat pemanasan 40 ºC selama 180 menit. Nilai konsentrasi ini melebihi STEL-TWA H2S menurut ACGIH yaitu 5 ppm selama 15 menit waktu pajanan. Sesuai CHRA DOSH, tingkat risiko kesehatan gas H2S termasuk hazard rating (HR) = 5. Analisis exposure rating (ER) secara kualitatif menunjukkan ER area produksi (4) lebih tinggi dari ER di area warehouse (3) karena perbedaan frequency-duration rating (FDR) antar unit kerja (magnitude rating (MR) saat aktivitas membuka tutup drum CI = 4). Oleh karena itu, perhitungan tingkat risiko kesehatan gas H2S dari produk CI-A yang mengandung TGA menghasilkan high risk level, yaitu RR = 20 pada Unit Kerja 1 dan RR = 15 pada Unit Kerja 2, sehingga pengendalian risiko utama yang perlu dilakukan oleh perusahaan adalah melakukan subsitusi bahan kimia CI di perusahaan dengan produk CI alternatif yang tidak menghasilkan gas berbahaya, seperti green corrosion inhibitor yang mulai umum dikembangkan untuk industri minyak dan gas bumi. Kesimpulan: Risiko kesehatan akibat pajanan H2S dari CI termasuk pada high risk level menurut CHRA DOSH dan langkah utama yang perlu dilakukan adalah subsitusi sebagai bagian dari technical control untuk menurunkan level risiko kesehatan pekerja di PT. X. Perusahaan memastikan kembali kesesuaian langkah pengendalian teknis, administratif, dan APD saat bahan TGA ini digunakan produk corrosion inhibitor.

Background: Thioglycolic acid (TGA) is used as iron ion reduction in corrosion inhibitor which can produce H2S (hydrogen sulfide) and expose to human health. The purpose of this research is to analyze the risk level of H2S exposure from CI along with the proposed risk control in the company. Methodology: Chemical Health Risk Assessment (CHRA) according to DOSH (2018) in two exposed work units in PT. X (Work Unit 1 as production area and Work Unit 2 as warehouse area). Result: According to DOSH, the hazard rating of H2S is 5. Qualitative exposure rating (ER) analysis shows the ER of the production area (4) is higher than ER in the warehouse area (3) due to the difference in frequency-duration rating (FDR). By considering the Magnitude rating (MR) during drums opening is 4, the level of health risk is at high risk level (RR Work Units 1 = 20; RR Work Units 2 = 15). Conclusion: H2S exposure from CI is at high risk level according to CHRA DOSH and the main required control is substitution to reduce the risk level. Adequacy of technical, administrative, and PPE control measures is critical when TGA is used in corrosion inhibitor.
Read More
T-6562
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendra Widiyanto; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Laksita Ri Hastiti, Muhamad Dawaman, Yuni Kusminanti
Abstrak:
Penelitian ini membahas gambaran persepsi risiko keselamatan kerja pada pekerja di PT.X dengan pendekatan paradigma psikometri yaitu kesukarelaan terhadap risiko, kesegeraan dampak, pemahaman risiko berdasarkan pengalaman, potensi dampak risiko, reaksi yang ditimbulkan risiko, keparahan risiko, pengetahuan terhadap risiko, pengendalian terhadap risiko dan tingkat kebaruan risiko. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif, pengambilan data dengan cara penyebaran kuisioner, dilakukan pada bulan Juni 2024, di PT.X, Sumatera Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas persepsi risiko keselamatan kerja pada pekerja PT.X adalah baik yaitu sebanyak 55.1% pekerja memiliki persepsi baik (tinggi) dan 44.9% pekerja dari total responden memiliki persepsi buruk (rendah) terhadap keselamatan kerja. Disarankan terhadap PT.X terus meningkatkan pelatihan-pelatihan dan pengawasan terhadap pekerja yang bertujuan untuk meminimalisir tindakan tidak aman dan mencegah kecelakaan kerja di lingkungan operasional PT.X.

This study discusses the description of occupational safety risk perception in workers at PT.X with a psychometric paradigm approach, namely voluntariness of risk, immediacy of impact, understanding of risk based on experience, potential risk impact, risk reaction, risk severity, knowledge of risk, risk control and level of risk novelty. This research is a quantitative research with descriptive design, data collection by distributing questionnaires, conducted in June 2024, at PT.X, South Sumatra. The results showed that the majority of perceptions of occupational safety risks in PT.X workers were good, namely as many as 55.1% of workers had good perceptions (high) and 44.9% of workers from total respondents had poor perceptions (low) of occupational safety. It is recommended that PT.X continue to improve training and supervision of workers which aims to minimise unsafe acts and prevent work accidents in the PT.X operational environment.
Read More
T-7146
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ridha Syalli Adha; Pembimbing: L. Meily; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Mila Tejamaya, Sudi Astono, Hanny Harjulianti
Abstrak:
Berat badan berlebih merupakan pintu gerbang berbagai penyakit dan angkanya terus meningkat. Penelitian ini membahas faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian berat badan berlebih pada pekerja Perusahaan minyak dan gas bumi di laut jawa tahun 2024. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan metode mixed method – sequencial explanatory design. Jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 105 orang. Variabel dependen penelitian yaitu berat badan berlebih dan variabel independen terdiri atas jenis kelamin, usia, kondisi psikologis, akses informasi kesehatan, akses makanan/minuman sehat, akses makanan/minuman tidak sehat, pola makan, aktivitas fisik, waktu tidur, perilaku menetap, lokasi kerja, dan shift kerja. Hasil penelitian menyebutkan 63% pekerja mengalami kondisi berat badan berlebih dimana 17% nya obesitas. Berdasarkan hasil analisis, akses informasi kesehatan dan pola makan memiliki hubungan signifikan dengan berat badan berlebih, pola makan merupakan faktor risiko dominan penyebab berat badan berlebih dengan OR 9. Perusahaan diharapkan dapat menyusun program kesehatan untuk pekerja terutama untuk menangani kejadian berat badan berlebih. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan untuk melihat variabel lain yang belum diteliti yang mungkin berhubungan dengan berat badan berlebih.

Overweight is a gateway to various diseases, and its prevalence continues to rise. This study examines the risk factors associated with the occurrence of overweight among oil and gas company workers in the Java Sea in 2024. The study employs a cross-sectional design with a mixed-method sequential explanatory approach. A total of 105 respondents participated in the study. The dependent variable is overweight, while the independent variables include gender, age, psychological condition, access to health information, access to healthy food/drinks, access to unhealthy food/drinks, eating patterns, physical activity, sleep duration, sedentary behavior, work location, and work shift. The results indicated that 63% of workers experienced excess weight, with 17% being obese. Analysis revealed that access to health information and eating patterns have a significant relationship with excess weight, with eating patterns being the dominant risk factor (OR 9). It is recommended that the company develop health programs for workers, particularly to address the issue of excess weight. Future research should explore other variables that may be related to excess weight.
Read More
T-7071
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive