Ditemukan 14254 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Moeslan Saradhawarni; Pembimbing: Adik Wibowo
B-368
Depok : FKM UI, 1999
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Feriyani; Pembimbing: Adisasmito, Wiku
M-275
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
D3 - Laporan Magang Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Afnidar Zamzami; Pembimbing: A.W. Budiarso
B-219
Depok : FKM UI, 1997
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Agus Suprapto; Pembimbing: Mardiati Nadjib
S-2553
Depok : FKM UI, 2002
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Suherman; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Kurnia Sari, Amila Begraini, Agus Purwanto
Abstrak:
ABSTRAK Pelayanan kesehatan yang bermutu harus ditunjang dengan pelayanan farmasi yang berkualitas, ketersedian perbekalan logistik farmasi terutama obat menjadi perhatian serius dari manajemen RS MBSD. Masih terdapat kekosongan ketersediaan obat pada setiap bulannya menimbulkan pertanyaan bagaimana pengelolaan logistik farmasi pada instalasi farmasi RS MBSD. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui bagaimana sistem manajemen logistik perbekalan obat serta berbagai permasalahan yang terjadi pada setiap tahap pelaksanaan di Instalasi Farmasi RS MBSD. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik yang bersifat kuantitatif serta kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam, telaah dokumen, dan penghitungan klasifikasi analisa ABC obat untuk kemudian dilakukan perhitungan nilai Economic Order Quantity serta waktu ReOrder Point pada obat yang tergolong kategori A indeks kritis. Analisa ABC dilakukan pada 571 jenis obat yag digunakan pada periode Juli 2017 sampai dengan Juni 2018. Pada ABC pemakaian terdapat 45 jenis obat yang tergolong kategori A dengan jumlah pemakaian obat mencapai 69.8 % dari seluruh pemakaian obat pada periode penelitian. Pada analisa ABC investasi terdapat 72 jenis obat yang termasuk kategori A dengan nilai investasi sebesar 69.8% dari seluruh investasi yang dikeluarkan selama periode dan hasil perhitungan ABC Indeks Kritis menunjukan jumlah obat sebanyak 48 jenis yang tergolong kategori A. Hasil perhitungan EOQ dan ROP pada obat kategori A dari analisa ABC Indeks Kritis menunjukan hasil yang dapat dipertimbangkan oleh pihak RS MBSD untuk digunakan pada evaluasi perbekalan obat di Instalasi Farmasi. Kata Kunci : Logistik Farmasi, Persediaan Obat, Analisa ABC, Economic Order Quantity dan Reorder Point ABSTRACT Quality health services must be supported by quality pharmaceutical services, availability of pharmaceutical logistics supplies, especially drugs, is a serious concern of MBSD Hospital Management. There is still a vacuum in the availability of medicines on a monthly basis, raising questions about how to manage pharmaceutical logistics in MBSD Hospital Pharmacy Installation. The purpose of this research is to find out how the logistics management system of drug supplies and various problems that occur at each stage of implementation in the MBSD Hospital Pharmacy Installation. This research uses descriptive and analytical methods that are quantitative and qualitative by conducting in-depth interviews, document review, and calculation of ABC drug classifications to then calculate the Economic Order Quantity value and Re Order Point time on drugs classified as category A critical index. ABC analysis was carried out on 571 types of drugs used in the period July 2017 to June 2018. On ABC usage there are 45 types of drugs classified as category A with the number of drug use reaching 69.8% of all drug use in the research period. In the ABC investment analysis there are 72 types of drugs including category A with an investment value of 69.8% of all investments spent during the period and the calculation of ABC Critical Index shows the number of drugs as many as 48 types classified as category A. The results of EOQ and ROP calculations on category A drugs from the ABC analysis of the Critical Index show results that can be considered by the MBSD Hospital to be used in evaluating drug supplies at the Pharmacy Installation. Keywords : Pharmaceutical Logistics, Drug Inventory, ABC Analysis, Economic Order Quantity and Re Order Point
Read More
B-2063
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mirna Raafiana; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Purnawan Junadi, A. Heri Iswanto, Endang Adriyani
Abstrak:
Read More
Pengelolaan logistik farmasi merupakan tulang punggung yang menunjang keberhasilan dan kelancaran suatu tindakan operasi. Operasi Sectio caesarea (SC) merupakan tindakan operasi yang terbanyak di RS Prikasih dan merupakan prosedur operasi yang sangat penting dan beresiko tinggi karena menyangkut keselamatan 2 (dua) nyawa yaitu nyawa ibu dan bayinya sehingga perlu dipastikan semua faktor pendukung harus optimal dan dalam kondisi prima. Disamping itu, pengelolaan logistik kamar operasi juga sangat berpengaruh pada kondisi kestabilan keuangan rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, memperbaiki dan meringkas alur logistik farmasi pada operasi SC agar lebih efektif dan efisien dengan penerapan konsep lean hospital. Penelitian ini menggunakan metode operational research dengan menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif yang dilakukan pada November-Desember 2024 di RS Prikasih dengan melakukan observasi langsung (time motion study) pada seluruh tahapan proses resep operasi SC. Data yang didambil adalah sebanyak 38 tindakan operasi SC (sebelum implementasi) dan 29 tindakan operasi (setelah implementasi intervensi). Pada penelitian ini juga dilakukan wawancara mendalam serta telaah dokumen. Pada kondisi current state didapatkan lead time waktu pelayanan resep operasi SC adalah 121,5 menit dengan rata-rata VAT 41,8 menit dan NVAT 79,7 menit dengan aktivitas NVAT terlama adalah pada tahapan penyerahan obat ke ruangan rawat inap sebesar 53,2 menit (66,7% dari total NVAT). Jenis waste yang memberikan kontribusi besar adalah waiting dan transportation yang sebagian besar terjadi pada proses persiapan obat mulai dari depo farmasi rawat inap hingga proses serah terima ke ruangan rawat inap sebelum digunakan untuk tindakan operasi. Dalam diagram fishbone didapatkan banyak faktor penyebab masalah yang saling berkaitan dimana yang terbanyak pada faktor “methods”. Pada Analisa Five whys didapatkan akar masalah yang multiple yaitu tidak terdapatnya resep operasi standar, alur peresepan yang tidak ringkas, kurangnya ketelitian petugas serta kendala pada proses persiapan/perencanaan obat. Intervensi yang dilakukan yaitu membuat standarisasi paket resep operasi SC, merubah alur persiapan paket operasi, merubah alur pergerakan obat operasi SC langsung ke kamar bedah, meningkatkan komunikasi dan koordinasi antar unit untuk resep operasi melalui group WA serta penerapan metode 5S logistic kamar bedah. Pada kondisi future state condition didapatkan penurunan lead time sebesar 64,7% dengan rata-rata VAT 30 menit dan NVAT 12,9 menit. Hal ini dikarenakan terjadi perubahan alur obat operasi dengan meringkas 2 tahapan kegiatan yaitu tahapan penyerahan obat ke rawat inap dan tahapan pengembalian obat ke ruangan rawat inap. Kesimpulan pada penelitian ini menunjukkan penerapan metode lean hospital dapat memperbaiki dan meringkas alur logistic farmasi operasi SC menjadi lebih efektif dan efisien.
Pharmaceutical logistics management is a critical component in the success of surgical procedures, particularly Caesarean Section (SC), the most frequent and high-risk operation at Prikasih Hospital. This study aims to evaluate and streamline the SC pharmaceutical logistics process using the Lean Hospital approach to improve efficiency and effectiveness. This research applied an operational research design with both quantitative and qualitative methods. Data were collected through direct observation (time motion study) involving 38 SC operations before and 29 operations after the intervention. In-depth interviews and document reviews were also conducted. In the initial condition, the average prescription lead time was 121.5 minutes, consisting of 41.8 minutes of Value-Added Time (VAT) and 79.7 minutes of Non-Value-Added Time (NVAT). The dominant types of waste identified were waiting and transportation, especially during drug transfer to inpatient wards. Interventions included standardizing prescription packages, redirecting drug flow directly to the operating room, enhancing communication among units via WhatsApp, and implementing the 5S method. As a result, the total prescription lead time was reduced by 64.7% to 42.9 minutes, with average VAT of 30 minutes and NVAT of 12.9 minutes. The study concludes that Lean Hospital implementation significantly improves and simplifies the SC pharmaceutical logistics flow, leading to greater operational efficiency.
B-2524
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hurriyani Sekar Putri; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Masyitoh, Elvira
Abstrak:
Terdapat 290 item persediaan farmasi yang termasuk dalam kategori deadstock, obat tersebut menumpuk dan berdampak pada rendahnya nilai perputaran investasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi pengendalian persediaan antara proses pengendalian yang selama ini dilakukan oleh rumah sakit dengan proses pengendalian jika menggunakan perhitungan EOQ, SS, dan ROP. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional yang menggunakan data sekunder dari Instalasi Farmasi RS. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling yaitu seluruh kategori A persediaan farmasi.
Hasil penelitian menunjukkan proses pengendalian menggunakan perhitungan EOQ, SS, dan ROP lebih efisien karena dapat meningkatkan nilai Inventory Turnover Ratio dan memiliki nilai rata-rata persediaan lebih rendah. Terdapat perbedaan Inventory Turnover Ratio yang signifikan antara pengendalian yang selama ini dilakukan oleh rumah sakit dengan proses pengendalian jika menggunakan perhitungan EOQ, SS dan ROP. Peneliti menyarankan untuk melakukan pengelompokkan obat dengan analisis ABC, perhitungan EOQ yang berulang untuk meningkatkan efisiensi pada pengendalian persediaan farmasi.
Read More
Hasil penelitian menunjukkan proses pengendalian menggunakan perhitungan EOQ, SS, dan ROP lebih efisien karena dapat meningkatkan nilai Inventory Turnover Ratio dan memiliki nilai rata-rata persediaan lebih rendah. Terdapat perbedaan Inventory Turnover Ratio yang signifikan antara pengendalian yang selama ini dilakukan oleh rumah sakit dengan proses pengendalian jika menggunakan perhitungan EOQ, SS dan ROP. Peneliti menyarankan untuk melakukan pengelompokkan obat dengan analisis ABC, perhitungan EOQ yang berulang untuk meningkatkan efisiensi pada pengendalian persediaan farmasi.
S-9956
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Agus Prayitno; Pembimbing: Alex Papilaya
B-323
Depok : FKM UI, 1998
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Badriah; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Purnawan Junadi, Sandi Iljanto, Maman Hilman, Lely Setiawan
Abstrak:
ABSTRAK Dalam menjalankan fungsi manajerial, farmasi harus mampu melakukan pengelolaan dan pengendalian logistik secara efektif dan efisien. Perencanaan yang dimulai dari pemilihan obat melalui standar formularium rumah sakit yang dibentuk oleh panitia farmasi terapi menjadi unsur penting dalam operasional rumah sakit. Pemilihan jenis obat mengacu pada formularium nasional berbasis generik menjadi hal mutlak. Dalam proses perencanaan, analisis ABC merupakan cara untuk memilah jenis obat dari sisi jumlah dan nilai investasi sehingga dapat memenuhi kebutuhan rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk Memperoleh gambaran tentang proses perencanaan obat di RS HGA dan membuat analisis kebutuhan obat berdasarkan analisis ABC dengan membandingkan performance 2017 terhadap rencana standar formularium 2018 sehingga menghasilkan Formularium yang tepat Kendali Mutu dan Kendali Biaya . Penelitian cross sectional dengan pendekatan kuantitatif melalui analisis ABC investasi dan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam. Hasil penelitian menggambarkan sepanjang 2017 terdapat 1.136 merek obat yang terpakai di RS HGA dengan komposisi generic 209 merek (18,6 %). Melalui analisis ABC pemakaian, didapat kelompok A (70 % ) terdiri dari 92 merek obat, kelompok B (20 %) terdiri dari 156 merek obat dan kelompok C ( 10 % ) terdiri dari 1193 merek obat. Melalui analisis ABC investasi, didapatkan hasil kelompok A (70 %) menghabiskan Rp 12.566.822.138,- terdiri dari 170 merek obat, kelompok B ( 20 % ) menghabiskan Rp 3.578.135.799,- terdiri dari 262 merek obat dan kelompok C ( 10 % ) menghabiskan Rp 1.786.798.527,- terdiri dari 1009 merek obat. Jika dibandingkan ke dua kriteria tersebut terdapat 26 merek obat saja ( 2 %) yang paling sering dipakai dan paling mahal. Evaluasi efisiensi jika pemakaian obat BPJS berbasis generik akan menghemat Rp 7.217.642.703,- atau setara dengan 40,25 % dari anggaran belanja rumah sakit. Perombakan formularium yang mengacu pada fornas berbasis generik perlu dilakukan pada formularium 2018. Kata kunci: Formularium obat, formularium nasional, ABC analisis To perform the management function, pharmacy must be able to manage and control logistics effectively and efficiently. It is started from planning the selection of drugs through standard hospital formulary established by the pharmaceutical therapeutic committee becomes an important element in hospital operations. Selection of drug type refers to generic national based formulary to be absolute. In the planning process, ABC analysis is a way of sorting out drugs in terms of quantity and value of investment so as to meet the needs of the hospital. This study aimed to obtain an overview of the process of drug planning in HGA Hospital and made the analysis of drug requirements based on ABC analysis by comparing the performance of 2017 to the 2018 formulary standard plan so as to produce the appropriate Formularium Quality Control and Cost Control. Cross sectional study with quantitative approach through ABC investment analysis and qualitative approach with in-depth interviews. The results of the study illustrated throughout 2017 there were 1313 brands of drugs used in HGA Hospital with generic composition of 209 brands (18.6%). Using ABC analysis, group A (70%) consisted of 92 drug brands, group B (20%) consisted of 156 brands of drug and group C (10%) consisted of 1193 drug brands. Through the analysis of ABC investments, the result of group A (70%) spent Rp 12,566,822,138, - consisting of 170 drug brands, group B (20%) spent Rp 3,578,135,799, consisting of 262 drug brands and group C (10% ) spent Rp 1,786,798,527, - consisting of 1009 drug brands. When compared to the two criteria there were only 26 brands of drugs (2%) the most frequently used and most expensive. Evaluation of efficiency if we used to generic BPJS-based drugs will the hospital would save Rp 7,217,642,703, - or equivalent to 40.25% of the hospital budget. Formulary reforms that refer to generic based fornas should be done on the 2018 formulary. Keywords: Formulary medicine, national formulary, ABC analysis
Read More
B-1970
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kriswiyanti; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi S.
M-1349
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
D3 - Laporan Magang Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
