Ditemukan 34533 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Siti Isfandari, Dina Bisara Lolong
Bulitkes Vol.42, No.2
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Medika, No.7, XXX, Juli 2004, hal. 6. ( ket. ada di bendel 2004 no. 7-12)
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Novita Pratama; Pembimbing: Kirisnawati Bantas; Penguji: Putri Bungsu, Edy Harianto
Abstrak:
Pneumonia merupakan masalah kesehatan utama balita, penyebab kematian keduatertinggi di Indonesia diantara balita setelah diare. Tingkat kematian balita akibatpneumonia lebih tinggi di perdesaan dibanding perkotaan. Prevalensi pneumoniadan persentase period prevalence pneumonia di daerah perdesaan lebih tinggidibandingkan dengan daerah perkotaan. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktorrisiko terjadinya kejadian pneumonia pada balita di wilayah perdesaan IndonesiaTahun 2012. Desain studi cross sectional dengan menggunakan data SDKI 2012.Variabel independen dalam penelitian ini adalah karakteristik anak yang meliputiusia, jenis kelamin, berat badan lahir, pemberian ASI ekslusif, pemberian vitaminA, status imunisasi campak, status imunisasi DPT; karakterisk sosial dan ekonomiyang meliputi pendidikan ibu, status ekonomi; dan karakteristik lingkungan yangmeliputi keberadaan perokok dalam rumah dan bahan bakar memasak. Sedangkanvariabel dependen dalam penelitian ini adalah pneumonia balita. Hasil penelitianini didapatkan bahwa ada hubungan bermakna antara usia (PR=1,42-1,80), jeniskelamin (PR=1,2), berat badan lahir (PR=1,3), pemberian ASI ekslusif (PR=1,85),status ekonomi (PR=1,59-1,60) dan bahan bakar memasak (PR=1,43).Kata Kunci :Balita, pneumonia, perdesaan.
Read More
S-9530
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dwi Yuniaty Ismail; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Sandra Fikawati, Fajrinayanti, Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak:
Read More
Gangguan mental emosional (GME) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang memengaruhi kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup remaja. Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, 34,9% remaja mengalami masalah kesehatan mental, sedangkan prevalensi GME pada penduduk usia ≥15 tahun menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 sebesar 2,2%. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan status gizi, faktor sosiodemografi, dan gaya hidup dengan GME pada remaja usia 16-18 tahun di Indonesia menggunakan data SKI 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan memanfaatkan data sekunder SKI Tahun 2023. Sampel penelitian terdiri dari 30.746 remaja usia 16-18 tahun. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Rao-Scott Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik pada sampel kompleks (Complex Samples Logistic Regression). Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi GME pada remaja usia 16-18 tahun di Indonesia sebesar 3,2%. Analisis bivariat menunjukkan jenis kelamin, kebiasaan konsumsi minuman manis, makanan berlemak/gorengan, minuman bersoda, makanan instan, dan minuman beralkohol berhubungan signifikan dengan GME (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa remaja perempuan memiliki risiko GME 6,43 kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki (aOR=6,43; 95%CI=3,99-10,36; p<0,001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa jenis kelamin dan gaya hidup berhubungan dengan GME, sehingga diperlukan promosi kesehatan mental dan gaya hidup sehat, terutama bagi remaja perempuan
Emotional mental disorders (EMDs) are a public health concern that can affect adolescents’ psychological well-being, social functioning, and quality of life. The Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 reported that 34,9% of adolescents experienced mental health problems, while the prevalence of EMDs among individuals aged ≥15 years was 2,2% according to the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). Nutritional status, sociodemographic factors, and lifestyle factors are thought to be associated with EMDs. Therefore, this study aimed to analyze the association of these factors with emotional mental disorders among adolescents aged 16-18 years in Indonesia using data from the 2023 Indonesian Health Survey. This cross-sectional study used secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The sample consisted of 30.746 adolescents aged 16-18 years. Data were analyzed using univariate analysis, Rao-Scott Chi-square tests, and Complex Samples Logistic Regression. The prevalence of EMDs was 3,2%. Bivariate analysis showed that sex, consumption of sugar-sweetened beverages, fatty/fried foods, soft drinks, instant foods, and alcohol were significantly associated with EMDs (p<0.05). Multivariable analysis identified sex as the most dominant factor, with female adolescents having 6,43 times higher odds of experiencing EMDs than males (aOR=6,43; 95% CI=3,99 10,36; p<0.001). In conclusion, sex and lifestyle factors were associated with EMDs among Indonesian adolescents aged 16-18 years, highlighting the importance of mental health promotion and healthy lifestyle interventions, particularly for female adolescents.
T-7584
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nur Rahmah Fadilah Shaumi, Engkus Kusdinar Achmad
MPPK Vol.29, No.2
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 2019
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Anjar Kusnawa Ardani; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Flourissa J. Sudradjat
S-6704
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dedi Cahyadi; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Chandra Satyra, Soehatman Ramli
S-4108
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Vina Aulia Fitriani; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Helda, Asep Sopari
Abstrak:
ABSTRAK Kehamilan remaja merupakan masalah yang dihadapi pada hampir seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. Besarnya jumlah populasi remaja dan masa transisi yang dialami remaja tersebut menjadi sebuah tantangan dalam permasalahan yang berkaitan dengan perilaku berisiko dan kesehatan reproduksi. Berbagai situasi saat ini seperti tingginya angka perkawinan dini, pengetahuan kesehatan reproduksi yang belum memadai serta berbagai hal lainnya dapat menempatkan remaja pada kondisi yang berisiko untuk mengalami kehamilan dini. Hal tersebut juga mengarahkannya pada morbiditas dan mortalitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor- faktor yang berhubungan dengan kehamilan remaja dengan responden remaja putri usia 15-19 tahun yang pernah melakukan hubungan seksual di Indonesia tahun 2012. Metode penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dan data yang dianalisis menggunakan data sekunder hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012. Hasil penelitian ini menunjukan adanya hubungan yang signifikan (p responden, tingkat pendidikan (OR 1.69, 95% CI= 1.26-2.26), status pekerjaan (OR 1.86, 95%CI= 1.39-2.48), status kawin (OR 26.6, 95% CI= 12.6-56.4) dan hidup bersama (OR 17.4, 95%CI= 6.38-47.6), pengetahuan kontrasepsi (OR 0.54, 95%CI=0.39-0.73) dan riwayat penggunaan kontrasepsi (OR 0.24, 95%CI= 0.18- 0.32) dengan kehamilan pada remaja. Disarankan agar pihak yang fokus pada masalah remaja dan pembuat kebijakan dapat berkolaborasi dan mengkaji ulang kebijakan terkait batasan usia menikah, mendukung terus peningkatan status wanita dengan memastikan akses pendidikan yang juga memuat informasi kesehatan reproduksi yang memadai, melakukan sosialisasi kepada orang tua terkait peraturan menikahkan anak dan pemahaman akan bahaya kehamilan dini, mendukung penuh perekonomian yang dapat melibatkan remaja serta dilakukannya penelitian lebih lanjut. Kata kunci: Remaja, Kehamilan Remaja, Indonesia Teenage pregnancy is a problem faced by almost all countries in the world including Indonesia. The large number of adolescent populations and the transition experienced by adolescents is a challenge in issues related to risk behavior and reproductive health. Current situations such as high rates of early marriage, inadequate knowledge of reproductive health and other things can put teenager at risk for early pregnancy that also leads to morbidity and mortality. The purpose of this study was to determine the factors associated with teenage pregnancy. Respondents from this study were women aged 15-19 years who had sexual intercourse in Indonesia in 2012. The method used cross-sectional study and data were analyzed using secondary data from Indonesian Demographic and Health Survey 2012. The results of this study showed a significant age, educational level (OR 1.69, 95% CI = 1.26-2,26), employment status (OR 1.86, 95% CI = 1.39 -2.48), marital status (OR 26.6, 95% CI = 12.6-56.4) and coexistence (OR 17.4, 95% CI = 6.38-47.6) , knowledge of contraception (OR 0.54, 95% CI = 0.39-0.73) and history of contraceptive use (OR 0.24, 95% CI = 0.18- 0.32) with teenage pregnancy. It is recommended that teen- focused parties and policymakers can collaborate and review policies related to marriage age restrictions, supporting the continual improvement of women's status by ensuring access to education that also includes adequate reproductive health information, socialize to parents related to marriage rules and understanding of the dangers of early pregnancy, also fully supporting the economy that can involve adolescents and conduct further research. Key words: Adolescent, Teenage Pregnancy, Indonesia
Read More
S-9842
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Adelina Irmayani Lubis; Pembimbing: Endang Laksminingsih Achadi; Penguji: Asih Setiarini, Kusharisupeni, Rahmawati, Yuni Zahraini
Abstrak:
Stunting atau pendek merupakan kondisi kekurangan gizi kronis yangmencerminkan kegagalan pertumbuhan linier yang disebabkan oleh multifaktor.Anak balita yang mengalami stunting didahului dengan gagal tumbuh dan melaluiserangkaian proses yang panjang serta bersifat irreversible. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui faktor-faktor risiko kejadian stunting pada balita usia24-59 bulan di Indonesia berdasarkan data IFLS 2014. Desain penelitian adalahcross sectional dengan jumlah sampel balita usia 24-59 yaitu 2.790 orang.Stunting diperoleh dari pengukuran tinggi badan kemudian dikategorikanberdasarkan nilai Z-score TB/U. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 21,97%balita stunting dan 9,57% stunting parah. Hasil uji bivariat menunjukkan bahwaberat lahir, penyapihan, status anemia, tingkat pendidikan ayah dan ibu, pekerjaanibu, paritas ibu, dan daerah tempat tinggal memliki hubungan signifikan denganstunting. Analisis regresi logistik menghasilkan berat lahir sebagai faktor dominankejadian stunting dengan nilai OR = 2,545. Penelitian ini menyarankan kepadapemerintah untuk membuat kebijakan dan program gizi untuk remaja, programkesehatan untuk ibu hamil seperti pemberian paket nutrisi dan pemantauan khususanak BBLR dengan pemberian suplemen tambahan. Karena faktor dominanterjadinya stunting adalah BBLR, maka perlu memprioritaskan program yangmenurunkan risiko terjadinya BBLR, yaitu calon ibu hamil, remaja putri, dan ibuhamil tidak anemia dan tidak mengalami KEK, melalui minum TTD sesuaianjuran dan menerapkan pola makan bergizi seimbang.Kata Kunci : Stunting, Berat Lahir, usia 24-59 bulan.
Read More
T-5120
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Farihah Sulasiah; Pembimbing: Siti Arifah Pudjonarti
S-1530
Depok : FKM UI, 1999
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
