Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31628 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Siti Maemun; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Renti Mahkota, Adria Rusli
Abstrak: Tujuh puluh delapan juta penduduk dunia terinfeksi Human Immunodefiency Virus (HIV), 39 juta diantaranya meninggal. Tuberkulosis (TB) yang merupakan ko-infeksi terbanyak pada ODHA di Indonesia. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh waktu awal pengobatan ARV terhadap ketahanan hidup pasien ko- infeksi TB-HIV. Desain penelitian kohort retrospektif, dilakukan pengamatan selama satu tahun (365 hari), yaitu pasien ko-infeksi TB-HIV yang naive ARV di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso periode Januari 2011-Mei 2014, berusia ≥16 tahun. Analisis ketahanan hidup menggunakan metode Kaplan-Meier, bivariat dengan Log rank test dan multivariat dengan cox regression. Probabilitas ketahanan hidup kumulatif pasien ko-infeksi TB-HIV yang mendapatkan ARV pada satu tahun adalah 81,5%. Hasil analisis multivariat bahwa pasien ko-infeksi TB-HIV yang mendapatkan pengobatan ARV di fase lanjut berisiko 2,33 kali (95%CI: 1,25-4,33; p=0,008) mengalami kematian setelah dikontrol oleh lokasi infeksi M.tuberculosis. Ko-infeksi TB-HIV telah memperburuk progresivitas, HIV yang menyerang makrofag menyebabkan imunitas (CD4) menurun sehingga berdampak pada ketidakmampuan imunitas melawan kehadiran M.tuberculosis. Maka, segera memulai pengobatan TB dan memulai ARV pada fase intensif (2-8 minggu). Ketahanan hidup pasien ko-infeksi TB-HIV yang mendapatkan pengobatan ARV pada fase intensif lebih besar dibandingkan pada fase lanjut. Mengoptimalkan pengobatan ARV pada fase intensif (2-8 minggu) untuk meningkatkan ketahanan hidup pasien ko-infeksi TB-HIV. Kata Kunci : Antiretroviral, TB-HIV, ketahanan hidup
Read More
T-4543
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nor Efendi; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Titi Sundari, Siti Nur Anisah
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lokasi anatomi TB terhadap kesintasan (ketahanan hidup) 2 tahun pasien ko-infeksi TB-HIV setelah diagnosis.Penelitian ini menggunakan desain kohort restrospektifdinamik menggunakan 177 rekam medik pasien ko-infeksi TB-HIV di RSPI Prof. Dr Sulianti Saroso Jakarta yang terdaftar tahun 2010-2013, diambil secara simple random samplingKasintasan pasien ko-infeksi TB-HIV 2 tahun setelah diagnosa dengan lokasi anatomi TB di ekstraparu sebesar 86%, lebih rendah dibandingkan dengan lokasi anatomi TB di paru sebesar 98%. Lokasi anatomi TB di ekstraparu mempengaruhi kecepatan kematian pasien ko-infeksi TB-HIV (adjusted HR 1,48, 95% CI : 0,55-4,02), setelah dikontrol oleh faktor risiko penularan dan kadar CD4 awal. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan sistem imunitas tubuh yang luas sehingga infeksi dan penyebaran kuman TB juga akan meluas seperti ke kelenjar getah bening, pleura dan organ lainnya. TB ekstra paru memiliki beban bakteri TB yang lebih tinggi dan menunjukkan progresifitas perjalanan penyakit semakin parah yang mengakibatkan probabilitas ketahanan hidup (kesintasan) penderitanya semakin menurun.Perlu dilakukan screening lebih intensif terhadap pasien ko-infeksi TB-HIV untuk menemukan kemungkinan TB di ekstra paru sedini mungkinagar dapat diberikan penatalaksanaan yang tepat dalam rangka meningkatkan kualitas hidup penderitanya. Kata Kunci : Lokasi Anatomi TB; Kesintasan;Ko-infeksi TB-HIV
Read More
T-4478
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Musdalifah; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Tri Yunis Miko Wahyono, Adria Rusli
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh lama pemberian antiretroviral (ARV)setelah Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dimulai terhadap kegagalan perbaikan CD4pasien ko-infeksi TB-HIV. Penelitian dilakukan pada mei-juni 2016 di Rumah SakitPenyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso. Design penelitian yangdigunakan adalah kohort restrospektif dengan follow-up selama satu setengahtahun. Populasi studi adalah pasien Ko-infeksi TB-HIV yang naive ART dantercatat pada rekam medis periode Januari 2010 - November 2014. Kriteria inklusisampel adalah pasien usia ≥15 tahun, mendapat OAT minimal 2 minggu sebelumART dimulai, dan memiliki data hasil pemeriksaan CD4 sebanyak dua kali dengantotal sampel adalah 164 orang. Probabilias kumulatif kegagalan perbaikan CD4pasien ko-infeksi TB-HIV sebesar 14,43%. Hazard rate kegagalan perbaikan CD4pada pasien yang memulai terapi ARV 2-8 minggu setelah OAT dibandingkandengan yang menunda terapi ARV 8 minggu setelah OAT masing-masing 767 per10.000 orang tahun dan 447 per 10.000 orang tahun (p=0,266). Analisis multivariatdengan menggunakan uji cox regresi time independen menunujukkan ratekegagalan perbaikan CD4 pada pasien yang memulai ART >8 minggu setelah OATlebih rendah dibandingkan pasien yang memulai ART pada 2-8 minggu setelahOAT (Adjusted HR=0,502 ; 0,196-1,287 ; p value=0,151) setelah dikontrol olehjenis regimen ARV dan klasifikasi pengobatan TB.Kata kunci: Ko-infeksi TB-HIV, Terapi Antiretroviral, Kegagalan perbaikan CD4
This study was aim to assess the effect of time to Antiretroviral Treatment (ART) onCD4 response failure in TB-HIV coinfection patients. This study was conductedfrom May to June 2016 at Infectious Disease Hospital Sulianti Saroso. This studyused cohort restrospective design with one and half year time to follow up. Studypopulation were TB-HIV coinfected patients, noted as a naive ART patient inmedical records from january 2010-november 2014. A total 164 patients ≥ 15 yearsold, had Anti Tuberculosis Treatment (ATT) 2 weeks before ART and had minimum2 CD4 sell count laboratorium test results. The cumulative probability of CD4response failure among TB-HIV co-infected patients was 14,43%. Hazard rate ofCD4 response failure was 767 per 10.000 person year in early ART (2-8 weeks afterATT) versus 474 per 10.000 person year in delayed ART (8 weeks after ATT) arm(p=0,266). In multivariate analysis using time independent cox regression test, rateof CD4 responses failure was lower in patients with delayed ART until 8 weeks afterATT than early ART 2-8 weeks after ATT. (Adjusted HR=0,502 ; 0,196-1,287 ; Pvalue=0,151) controlled by types of ARV regiments and classification of TB cure.Keywords: TB-HIV Co-infection, Antiretroviral treatment, CD4 response failure
Read More
T-4699
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendra Dhermawan Sitanggang; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Adria Rusli, Nuraliyah
Abstrak: IntroduksiPenemuan obat antiretroviral (ARV) secara dramatis menurunkan angka kesakitandan kematian ODHA. Namun, kepatuhan terhadap terapi ARV merupakantantangan tersendiri mengingat terapi ini harus dijalani seumur hidup. Kepatuhanterhadap terapi ARV merupakan salah faktor yang menentukan keberhasilanpengobatan. Ketidakpatuhan terhadap terapi ARV di Indonesia masih tinggi, yaituberkisar diantara 23-55%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuipengaruh ketidakpatuhan berobat terhadap kesintasan 3 tahun pasien HIV/AIDS.MetodePenelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif di RSPI Prof. Dr. SuliantiSaroso tahun 2010-2012.HasilProbabilitas survival kumulatif pasien HIV/AIDS di RSPI Prof dr. Sulianti Sarosopada tahun kedua (bulan ke-24) adalah 95,6% dan tahun ketiga (bulan ke-36)adalah 91%. Hasil analisis multivariat dengan regresi cox menunjukkan bahwakesintasan 3 tahun pasien HIV/AIDS dipengaruhi ketidakpatuhan minum obat,setelah dikontrol variabel CD4 awal (aHR = 7,608 ; 95%CI : 1,664-34,790) danketidakpatuhan janji ambil obat, setelah dikontrol variabel infeksi oportunistik,umur dan CD4 awal. (aHR = 2,456 ; 95%CI : 0,802-7,518). Pada pasien yangtidak patuh minum obat, ketidakpatuhan janji ambil obat berpengaruh terhadapkesintasan 3 tahun pasien HIV/AIDS, setelah dikontrol variabel CD4 awal, jeniskelamin, PPK, faktor risiko penularan, stadium klinis awal, infeksi oportunistik,dan umur (aHR = 4,517 ; 95%CI : 0,729-27,987).PembahasanKetidakpatuhan minum obat dapat menyebabkan kegagalan terhadap penekananreplikasi virus HIV, sehingga meningkatkan kemungkinan bermutasinya virusHIV yang dapat menyebabkan resisten terhadap obat dan akhirnya dapatmeningkatkan risiko kematian. Ketidakpatuhan terhadap janji ambil obat pada 1tahun pertama juga diasumsikan juga akan menunjukkan ketidakpatuhan terhadapjanji ambil obat selanjutnya dan menunjukkan ketidakpatuhan minum obat,sehingga meningkatkan risiko kematian.SaranMemonitoring cakupan kepatuhan minum obat pasien HIV/AIDS secara berkalasebagai kewaspadaan dini terhadap risiko kematian pasien HIV/AIDS.Kata Kunci : ketidakpatuhan minum obat, ketidakpatuhan janji ambil obat,kohort retrospektif
IntroductionDramatically, Anti-Retroviral drug Therapy (ART) has reduced morbidity andmortality of People Living with HIV/AIDS (PLWHA). However, adherence toantiretroviral therapy has become a challenge because this therapy must beendured for a lifetime. Adherence to antiretroviral therapy is one of the factorsthat determine the success of treatment. Poor adherence to ARV therapy inIndonesia is arround 23-55%. The objective of this study was to determine theinfluence of medication non-adherence to the 3-years survival of patients withHIV/AIDS.MethodsThis study used a retrospective cohort design at RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso in2010-2012.ResultsThe cumulative survival probability of patients with HIV/AIDS at RSPI Prof. dr.Sulianti Saroso in the second year (24th month) was 95.6% and the third year (inthe 36th) was 91%. Multivariate analysis with Cox regression showed the factorsthat affected the 3-years survival of patients with HIV/AIDS are non-adherence toART, after controlled by initial CD4 count (aHR = 7.608; 95% CI: 1.664 to34.790), and non-compliance appointments, after controlled by opportunisticinfection, age and initial CD4 count (aHR = 2.456; 95% CI: 0.802 to 7.518).Among patient non-adherence to ART, non-compliance appointments affected the3-years survival of patients with HIV/AIDS, after controlled by initial CD4 count,sex, CPT, modes of HIV transmission, WHO clinical stage, opportunisticinfection, and age (aHR = 4.517 ; 95%CI : 0.729-27.987).DiscussionsNonadherence to ART may caused a failure of the suppression on HIV viral, thusincrease the possibility of HIV virus mutations that can lead to drug-resistant andultimately increase the risk of death. Poor adherence to appointments of takingdrugs in the first year also assumed the poor adherence of the next assignment totake drugs in the further, and show disobedience to ART, so it will increase therisk of death.RecomendationMonitoring coverage of medication adherence of patients with HIV/AIDS in aregular basis as the early warning on the risk of death among patients withHIV/AIDS.Keyword : non-adherence to ART, appointment keeping, retrospective cohort
Read More
T-4545
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nancy Dian Anggraeni; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Yovsyah, Adria Rusli
Abstrak:

Penyakit HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Masalah yang berkembang adalah karena angka morbiditas dan mortalitas yang masih tinggi, disebabkan antara lain karena keterlambatan mendapatkan pengobatan Anti Retroviral (ARV). Di Indonesia pengobatan ARV umumnya dimulai bila jumlah sel CD4 < 200 sel/mm 3 atau bila stadium klinis 3 atau 4. Informasi tentang pengaruh jumlah sel CD4 sebelum pengobatan ARV terhadap ketahanan hidup satu tahun pasien HIV/AIDS berdasarkan kelompok kategori 3 , 50- 3 dan > 200 sel/mm 3 , saat ini belum tersedia di Indonesia. Untuk mengetahuinya, maka dilakukan penelitian ini. Desain penelitian kohort retrospektif, dilakukan pengamatan terhadap kematian pada populasi dinamis selama satu tahun (366 hari), dari Januari 2005 hingga Januari 2010. Subjek penelitian 158 pasien HIV/AIDS berusia > 15 tahun, naïve dan mendapat regimen ARV lini pertama di RSPI Prof.DR.Sulianti Saroso pada tahun 2005-2010. Prosedur analisis ketahanan hidup menggunakan metode Kaplan-Meier (product limit), analisis bivariat dengan Log rank test (Mantel cox) dan analisis multivariat dengan cox regression / cox proportional hazard model. Penelitian ini mendapatkan probabilitas ketahanan hidup keseluruhan satu tahun pasien HIV/AIDS dengan pengobatan regimen ARV lini pertama adalah 0,86 (CI 95% 0,79-0,91). Incident rate kematian (Hazard rate) kelompok jumlah sel CD4 3 adalah 8/10.000 orang hari (29/100 orang tahun), kelompok jumlah sel CD4 50-3 adalah 3/10.000 orang hari (11/100 orang tahun) dan kelompok jumlah sel CD4 > 200 sel/mm 3 adalah 2/10.000 orang hari (7/100 orang tahun). Hazard Ratio(HR)-adjusted kelompok jumlah sel CD4 <50 sel/mm 3 terhadap kelompok jumlah sel CD4 > 200 sel/mm 3 adalah 3,4 (p= 0,058 ; CI 95% : 0,96-12,16), HR-adjusted kelompok jumlah sel CD4 50-3 terhadap kelompok jumlah CD4 > 200 sel/mm 3 adalah 1,7 (p= 0,48 ; CI 95% : 0,4-7.04). HR-adjusted pasien dengan TB 3,57 kali terhadap pasien tanpa TB (p=0,015 ; CI 95% : 1,27-9,99). Jumlah sel CD4 sebelum pengobatan ARV tidak mempunyai pengaruh secara statistik terhadap ketahanan hidup satu tahun pasien HIV/AIDS yang mendapat regimen ARV lini pertama. Namun penelitian mendapatkan penyakit Tuberkulosis (TB) mempunyai pengaruh secara statistik terhadap ketahanan hidup satu tahun pasien HIV/AIDS yang mendapat regimen ARV lini pertama. Kata kunci: HIV/AIDS, jumlah sel CD4, pengobatan ARV, ketahanan hidup satu tahun.


 

HIV/AIDS disease is one of public health concerns in Indonesia. The growing issues related to high morbidity and mortality rate. This is due to such as lately initiated of Antiretroviral (ARV) therapy. In Indonesia ARV therapy is begun when the CD4 cell counts dropped below 200 cell/mm 3 or if clinical stadium fall into 3 rd th or 4 . Nowadays in Indonesia, Information about the influenced of baseline CD4 cell count to one year survival among patient HIV/AIDS with first line ARV regimen therapy, base on strata 3 , 50- 3 and > 200 cell/mm 3 was not available, therefore this research will be conducted. Study design was retrospective cohort, with one year (366 days) duration of observation to death, in dynamic population from January 2005 to January 2010. The subjects of study were 158 HIV/AIDS patients, with inclusion criteria: > 15 years old, naïve, and were treated by first line ARV regimen at RSPI Prof.DR. Sulianti Saroso in year 2005-2010. The procedures of survival analysis used Kaplan-Meier method (product limit), and Log rank test (Mantel cox) for bivariate analysis and cox regression / cox proportional hazard model for multivariat analysis. The overall of one year survival probability in HIV/AIDS patients with first line ARV regimen therapy was 0,86 (CI 95% 0,79-0,91). Incident rate of death (Hazard rate) in CD4 3 group was 8/10.000 persons days (29/100 persons years), in CD4 50-3 group was 3/10.000 persons days (11/100 persons years) and in CD4 > 200 cell/mm 3 group was 2/10.000 persons days (7/100 persons years). The Hazard Ratio(HR)-adjusted CD4 <50 cell/mm 3 patients compared to CD4 > 200 cell/mm 3 patients was 3,4 (p= 0,058 ; CI 95% : 0,96-12,16), the HR-adjusted CD4 50-3 patients compared to CD4 > 200 cell/mm 3 patients was 1,7 (p= 0,479 ; CI 95% : 0,4-7.04). HR- adjusted tuberculosis patients was 3,57 time more risk to death than patients without tuberculosis (p=0,015 ; CI 95% : 1,27-9,99). This study found that the baseline CD4 cell counts have not significant statistical associated to one year survival of HIV/AIDS patients with first line ARV regimen therapy, after has controlled to other independent variables. But this study found that tuberculosis has significant statistical association to one year survival of HIV/AIDS patients who received first line ARV regimen therapy. Keywords: HIV/AIDS, CD4 cell counts, treatment ARV, one year survival.

Read More
T-3238
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
The Indonesian Jour. of Infectious Diseases, Vol.3, No.2, 2016, hal. 11-18
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marlina Meilani Simbolon; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Adria Rusli, Endang Lukitosari
T-4138
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Aini Hidayah; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Adria Rusli
Abstrak: Pada kondisi dengan keterbatasan sumber daya untuk mengakses pemantauan viral load, pemantauan imunologis menjadi bagian dari standar perawatan terapi pasien dengan pengobatan antiretroviral yang dapat digunakan untuk menilai respon terapi. Studi ini dilakukan untuk melihat hubungan antara ketidakpatuhan pengobatan terhadap kegagalan imunologis pada pasien HIV/AIDS di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso. Studi kohort retrospektif dilakukan di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso pada 284 pasien HIV/AIDS dewasa yang inisiasi antiretroviral lini pertama pada periode Januari 2014-April 2018, yang diikuti selama 12 bulan waktu pengamatan. Analisis menggunakan Kaplan Meier digunakan untuk mengestimasi probabilitas kegagalan imunologis berdasarkan ketidakpatuhan pengobatan (ambil obat dan minum obat), yang signifikansinya dilihat dengan Log-Rank Test. Analisis Cox Proportional Hazard dilakukan untuk menghitung Hazard Ratio dengan 95% confidence interval. Sebanyak 29 (10,2%) pasien mengalami kegagalan imunologis dengan 4,8 per 10.000 orang hari. Kepatuhan ambil obat (aHR 1,72, 95%CI: 0,67-4,44) dan kepatuhan minum obat (aHR 1,14, 95%CI: 0,41-3,19) berasosiasi terhadap kejadian gagal imunologis, meskipun tidak signifikan. Asosiasi yang tidak signifikan ini dimungkinkan karena pemantauan imunologis bukanlah gold standard dalam menilai respon pengobatan. Perhitungan sensitivitas dan spesifisitas kegagalan imunologis terhadap kegagalan virologis pada penelitian ini yaitu 50% dan 82,66%. Monitoring kepatuhan secara berkala dan pemeriksaan CD4/viral load yang lebih tepat waktu diperlukan untuk mencegah kegagalan pengobatan lebih dini. Kata kunci: Kegagalan imunologis, kepatuhan minum obat, kepatuhan ambil obat
Read More
T-5530
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bryany Titi Santi; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko, Wahyono, Mondastri Korib Sudaryo, Adria Rusli
Abstrak: Abstrak

Laporan Kemenkes RI mengenai angka kejadian HIV & AIDS di Indonesia sampai September menyatakan 92.251 kasus HIV dan 39.434 kasus AIDS. ODHA memerlukan ARV untuk menekan replikasi virus. Paduan pengobatan dimulai dari lini pertama yang terdiri atas 2 Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NRTI) dan 1 Non-nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NNRTI). Nevirapin adalah ARV golongan NNRTI yang paling sering digunakan karena efektif dan efisien. Evaluasi pengobatan ARV dan data mengenai substitusi ARV masih kurang. Substitusi dapat menggambarkan isu penting berkaitan dengan keberhasilan program pengobatan HIV dan efek samping obat. Desain penelitian ini kasus kontrol dengan data berasal dari rekam medis. Kasus adalah mereka yang mengalami sustitusi nevirapin. Analisis univariat, bivariat dan multivariat logistik regresi dilakukan. Didapatkan faktor-faktor dominan yang berhubungan dengan substitusi nevirapin adalah tingkat pendidikan OR=3,31(CI95%=1,27-8,63) dan kondisi awal terapi yaitu stadium klinis OR=0,37 (CI95%=0,13-1,11), kadar SGOT OR=2,15 (CI95%=0,83-5,57), kadar SGPT dengan OR=1,41 (CI95%=0,61-3,26), dan CD4 dengan OR ==1,80 (CI95%=0,56-5,83). Edukasi kepada pasien dengan tingkat pendidikan rendah mengenai manfaat dan cara minum obat perlu lebih ditekankan dan monitoring keluhan efek samping secara teratur melalui pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laborarium secara berkala kepada seluruh penderita HIV/AIDS yang mendapat ARV disertai CD4 dan enzim hati diawal terapi yang tinggi.


Indonesian Ministry of Health reported that there are 92.251 cases HIV and 39.434 cases AIDS until September 2012. Those people need ARV to suppress viral load dan enhaced their immunity. Based on guideline therapy, starting ARV should from first line which consisted of 2 NRTI (nucleoside reverse transcriptase inhibitor) dan 1 NNRTI (non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor). Nevirapin is a NNRTI and more prescribe because its effectiveness and efficiency. In Indonesia, there are less data about antiretroviral evaluation, especially substitution. These data are important to identify some issues such as effectiveness antiretroviral therapy and toxicity. Toxicity that induced by antiretroviral effect nonadherence. This study is using case control design which source of data is medical records. Cases are those who experienced nevirapine substitution. Univariat, bivariat and multivariate logistic regression are using to analyze these data. Result shows that significant factors associated with nevirapine substitution are education level OR=3,31(CI95%=1,27-8,63), clinical staging OR=0,37 (CI95%=0,13-1,11), SGOT level at baseline OR=2,15 (CI95%=0,83-5,57), SGPT level at baseline OR=1,41 (CI95%=0,61-3,26), and CD4 at baseline OR ==1,80 (CI95%=0,56-5,83). This result recommend to educate those who are low education with comprehensive information about antiretroviral and monitoring regularly patients who have elevated level of liver enzime on baseline therapy.

Read More
T-4010
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ernirita; Pembimbing: Nurhayati P.; Penguji: Yovsyah; Renti Mahkota, Sulistyo
Abstrak:

The succesful of TB patient treatment most depends on patient compliance in
treatment process in term of medication regurally, cure, and repeated
laboratorium confirmation test. Failer in treatment could lead into multi drug
resistant. Hence, monitoring patient contracting the disease in early stages can
help to predict that dotb motivator roles very important. The focus of this study
is to understanding the influence of Muhammadiayh Aisyiyah TB motivator
activities in the patient compliance in treatment process at early stages. This
study takes place at koja and cilincing sub district, North Jakarta starts from
januari 2009 to mei 2010. The research method is using restrosfective cohort.
The subject of study group divides into two groups. One group accompanied
with TB motivators and another without TB motivators. The subject comes from
the same register. . Sample selected by total sampling with a total of 110 patiens.
Data analysis was descriptive, bi-variate, stratification and causal model by
multivariate. Exellent TB motivators in TB treatment process have a bigger
proportion (77,9%) than fair TB motivator (57,14%). Each motivator has a
relationship with compliance for example promoting, counseling, PMO, and
motivator assistance. Multivariate analysis result gives an information the
relationship between motivator role and high compliance treatment after
controlling confounding variables such as age and knowledge. An excellent
motivator has 2,11 times to increase compliance compare with fair motivator
(95% CI 0,87 – 5.11)


Keywords: Motivator, TB, Compliance,

Read More
T-3171
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive