Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31498 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ambar Prawidiyanto; Pembimbing: Hendra; Penguji: Chandra Satrya, Zulkifli Djunaidi, Marhaban, Rudiyanto
T-4561
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febie Karmani Putra; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Baiduri Widanarko, Fahrur Rozi, Haris Muzakir
Abstrak: Kelelahan pilot didefinisikan sebagai keadaan fisiologis penurunan kinerja mental atau kemampuan fisik manusia akibat kurang tidur, ritme sirkadian, atau beban kerja yang dapat mengganggu kewaspadaan pilot dan kemampuan mengoperasikan pesawat. Pilot melakukan tugas yang berhubungan dengan keselamatan. Kelelahan menjadi perhatian utama penyebab kecelakaan, penurunan produktivitas dan ketidakmampuan untuk bekerja. Pilot khususnya pilot helikopter memiliki risiko kelelahan yang tinggi dalam menjalankan tugasnya sebagai Tim Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana.. Desain penelitian adalah cross sectional dan pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner online menggunakan The Samn-Perelli Crew Status Check dari ICAO. Wawancara mendalam juga dilakukan untuk memperkaya pengalaman kelelahan para pilot. Kuesioner data dikumpulkan dari 57 pilot dan 5 pilot yang diwawancarai pada bulan Februari - April 2021. Kuesioner analisis data dilakukan dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan 56 responden kelelahan tingkat rendah Hasil penelitian juga menemukan hubungan antara kelelahan (P value = 0,006) dengan status kesehatan, dan kelelahan (P value = 0,000) dengan waktu istirahat. Studi saat ini menyimpulkan status Kesehatan dan waktu istirahat berkaitan dengan kelelahan
Read More
T-6271
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Thias Aulia Ramadhanty; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Mila Tejamaya, Agus Wuryanto
Abstrak: Pemadam kebakaran menerapkan jadwal kerja 1 x 24 jam hal ini memiliki risiko kelelahan pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko yang berhubungan terjadinya kelelahan pada petugas pemadam kebakaran. Variabel dependen dari penelitian ini adalah tingkat kelelahan pada pekerja pemadam kebakaran. Variabel independen adalah faktor tidak terkait pekerjaan (usia, waktu perjalanan, kuantitas tidur, kualitas tidur, kondisi kesehatan dan status gizi (IMT)) dan faktor terkait pekerjaan (masa kerja, pekerjaan sampingan dan variasi kerja). Sampel dalam penelitian ini adalah 56 petugas pemadam. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Pengukuran tingkat kelelahan menggunakan Subjective Self Rating Test dari IFRC, kualitas tidur diukur dengan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index. Desain penelitian adalah Cross Sectional, dengan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan 85,7% pekerja mengalami kelelahan ringan dan 14,3% kelelahan sedang. Hasil tersebut sejalan dengan jumlah kasus kebakaran selama sebulan terakhir hanya ada 16 kasus sehingga beban kerja pemadam tidak berat. Kelelahan responden berhubungan dengan masa kerja (OR 7.2), kondisi kesehatan (OR = 5.0), kuantitas tidur (OR = 5.8), kualitas tidur (OR = 0.02) dan waktu perjalanan (OR = 0.08). Oleh karena itu, perlu pengendalian faktor risiko yang teridentifikasi berhubungan dengan kelelahan.
Kata kunci: Kelelahan, Faktor Risiko, Pemadam Kebakaran.

Fatigue is a feeling of constant tiredness that can reduce the ability to perform a task in a safe and effective way. Firefighters work in 1x24 hours shift, this increase the risk of fatigue among workers. The aim of this study is to determine the risk factors related to fatigue in firefighters. The dependent variable in this study is the level of fatigue on firefighters. The independent variables in this study are divided into non-work-related factors (age, commuting time, sleep quantity, sleep quality, health condition and Body Mass Index (BMI)) and work-related factors (work period, other job and work variations). The sample of this study are a total of 56 firefighters. The data was collected subjectively using questionnaires. This study used Subjective Self Rating Test by IFRC to determine the level of fatigue and Pittsburgh Sleep Quality Index to determine the sleep quality. This study used Cross Sectional design to determine the relationship between the dependent and independent variable. Methods that used is quantitative (Chi-square) and odd ratio to determine the relationship level of the variables. Result showed 85,7% workers experienced low level of fatigue and 14,3% experienced moderate level of fatigue. Based on these results in line with the number of fire cases during the last month there were only 16 cases so that the workload of firefighters is not heavy. The results showed there is a relationship between workers fatigue and work period (OR= 7.2), health condition (OR = 5.0), sleep quantity (OR = 5.8), sleep quality (OR = 0.02) and commuting time (OR = 0.08). Therefore, control related to risk factors related to fatigue is needed.
Key word: Fatigue, Risk Factor, Firefighters
Read More
S-10475
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadya Nurul Haq; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Agus Wuryanto
S-10287
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anisah Suci Yanti; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Jonsinton Nainggolan
Abstrak: The tools used in this study are Quick Exposure Checklist to assess physical factors, the combination of psychosocial questionnaire are Effort Reward Imbalance, COPSOQ, NIOSH Generic Job Stress dan NIOSH Quality of Work Life (QWL) to assess psychosocial factors and Salivary Amylase Activation testing to assess work uhrelated stress and fatigue among fire fighters. Fatigue subjective measurement use tools form Sweedish Occupational Fatigue Inventory (SOFI) and Fatigue Assessment Scale (FAS). Physic factors (force, awkward posture and manual handling), psychosocial factors (effort, reward, overcommittment, rolestress, emotional demand, social support and non work related factors) and organisational factors are the independent variables of work related stress and fatigue which are the dependent variable in this study. The result of this study shows that risk factor (neck) has correlation with fatigue (CI 95% 1,75-16,16; OR 5,32), psychosocial factors such emotional demand (CI 95% 1,04-5,78; OR 1,56), rolestress (CI 95% 1,23-4,76; OR 1,52) and family social support (CI 95% 1,27-5,43; OR 2,51) influence stress, organisational factors such type of work (CI 95% 0,05-0,55; OR 0,16), shift work (CI 95% 0,06-0,54; OR 0,18) and status of workers have correlations with stress
Read More
S-9647
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alya Hanifah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:

Stres kerja adalah respon buruk seseorang secara fisik maupun emosional, ketika kompetensi pekerja tidak mampu memenuhi tuntutan pekerjaan yang diberikan. Berdasarkan penelitian terdahulu, pekerja di industri garmen juga memiliki risiko mengalami stres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor risiko psikosisal dengan kejadian stres kerja pada pekerja PT X, sebuah perusahaan garmen di Semarang, Jawa Tengah. Faktor yang diteliti antara lain faktor individu, faktor konten kerja, faktor konteks kerja, dan faktor effort-reward. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan desain studi the explanatory sequential. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan penyebaran kuesioner dan wawancara dilakukan untuk pengumpulan data kualitatif. Pengolahan data menggunakan uji chi-square dengan software SPSS 27.0 untuk mengetahui apakah ada hubungan yang siginifikan antara variabel independen dengan variabele dependen. Berdasarkan uji statistik, didapatkan prevalensi stres kerja sebesar 24,9% pada responden secara keseluruhan, sebesar 26,5% pada tim produksi, dan 18,2% pada tim supporting. Variabel yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja secara keseluruhan antara lain: lingkungan dan peralatan kerja (p= 0,004); desain tugas (p= 0,042); beban kerja (p= 0,001); jadwal kerja (p= 0,001); pengembangan karir (p= 0,001); hubungan interpersonal (p= 0,034); status pernikahan (p= 0,003); dan effort-reward (p= 0,002). Oleh karena itu, perlu dilakukan tindak lanjut berupa penerapan manajamen stres kerja dari tingkat manajemen, terutama pada faktor yang berhubungan dengan stres kerja, untuk mencegah kejadian stres kerja yang lebih besar.


Work-related stress was an bad someone physically or emotionally, when workers ability unable to meet the demands of jobs provided. Based on the research before, workers in the garment industry also have  the risk of experiencing work stress. This study attempts to analyze the relationship between the psychosocial risk factors with work stress on workers PT X, a garment company in Semarang, Central Java. The individual factors, the content of work factors, the context of work factors, and the effort-reward factors was included in this study. Mixed method were used with the explanatory sequential design study. Quantitative data collected by using questionnaire and interviews performed for qualitative data collection. Data processing uses a chi-square test with software SPSS 27.0 to analyze if there's any significant connection between independent variables and dependent variable. By statistical test, prevalence of work stress prevalence is 24.9 % on all respondents, 26.5 % on production team, and 18.2 % on supporting team. Variables associated with work stress include: environment and work equipment (p = 0.004 ); task design (p = 0,042 ); workload (p = 0.001 ); work schedule (p = 0.001 ); career development (0.001 ); interpersonal relationship (p = 0.034 ); marital status (= 0.003); and effort-reward factor (p = 0,00). Based on this research, the company needs to implemented stress management program, especially on the factors associated with work stress, to prevent more stress from happening. Keyword: work stress, psychosocial risk factor, the garment company, production team, supporting team 

Read More
S-11817
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fania Nur Kholifatunisa; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Tesy Haryati
Abstrak:
Petugas pemadam kebakaran memiliki risiko kelelahan tinggi akibat tuntutan kesiapsiagaan 24 jam, pajanan situasi darurat, serta beban fisik dan psikologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kelelahan dan faktor risiko pada petugas pemadam kebakaran Kota X tahun 2025. Penelitian menggunakan desain studi cross-sectional dan simple random sampling. Sebanyak 138 petugas mengisi kuesioner OFER-15, NASA-TLX, PSS-10, PSQI, dan IPAQ-7. Faktor risiko terkait pekerjaan meliputi beban kerja, durasi kerja, masa kerja, waktu perjalanan, dan stres kerja. Faktor risiko kelelahan tidak terkait pekerjaan meliputi usia, status gizi, kuantitas dan kualitas tidur, aktivitas fisik, dan konsumsi kafein. Hasil menunjukkan 15,9% kelelahan kronis, 18,8% kelelahan akut, dan 15,2% kekurangan waktu pemulihan. 3 dari 5 faktor risiko terkait pekerjaan berhubungan signifikan dengan kelelahan kronis dan akut. Durasi kerja (p-value: 0,028, OR: 3,519), masa kerja (p-value: 0,045, OR: 0,396), dan stres kerja (p-value: 0,015, OR: 4,969) berhubungan dengan kelelahan kronis. Sementara itu, durasi kerja (p-value: 0,004, OR: 4,675), masa kerja (p-value: 0,012, OR: 0,284), dan stres kerja (p-value: 0,037, OR: 3,267) berhubungan dengan kelelahan akut. Aktivitas fisik merupakan satu-satunya faktor risiko tidak terkait pekerjaan yang berhubungan dengan kelelahan kronis (p-value: 0,041, OR: 2,917). Dengan demikian, dinas perlu mengembangkan program pencegahan kelelahan berdasarkan jenis pekerjaan dan kondisi individu petugas.


Firefighters are at high risk of experiencing fatigue due to the demands of 24-hour readiness, exposure to emergency situations, and substantial physical and psychological demands at work. This study aimed to analyze the level of fatigue and the contributing risk factors among firefighters in City X, 2025. This study employed a cross-sectional study with a simple random sampling method. 138 participants who completed the OFER-15, NASA-TLX, PSS-10, PSQI, and IPAQ-7 questionnaires. The work-related fatigue risk factors examined included workload, work duration, length of service, commuting time, and occupational stress. Non-work-related factors included age, nutritional status, sleep quantity and quality, physical activity, and caffeine consumption. The results indicated that 15.9% of respondents experienced chronic fatigue, 18.8% acute fatigue, and 15.2% inadequate recovery time. 3 out of 5 work-related factors, specifically work duration, length of service, and occupational stress were significantly associated with both chronic and acute fatigue. Chronic fatigue was associated with work duration (p value: 0.028, OR: 3.519), length of service (p-value: 0.045, OR: 0.396), and occupational stress (p value: 0.015, OR: 4.969), while acute fatigue was linked to work duration (p value: 0.004, OR: 4.675), length of service (p value: 0.012, OR: 0.284), and occupational stress (p value: 0.037, OR: 3.267). Physical activity was the only non-work-related factor significantly associated with chronic fatigue (p value: 0.041, OR: 2.917). These findings highlight the need for fatigue prevention programs tailored to job types and individual conditions.
Read More
S-12020
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratih Wulandari; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan
M-1031
Depok : FKM UI, 2002
D3 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mardiana Ramadhani; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Subejo
Abstrak: Skripsi ini membahas evaluasi kesesuaian antara sarana pencegahan dan penanggulangan kebakaran yang tersedia di unit pembangkit listrik PT Indonesia Power Suralaya pada tahun 2013 dengan acuan menggunakan standar nasional berupa Kepmen PU No 10/KPTS/2000 dan Kepmen PU No. 02/KPTS/1985 dan internasional berupa NFPA. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif analitik dengan pendekatan komparatif. Sarana pencegahan dan penanggulangan yang dilihat adalah kelengkapan tapak, sarana proteksi aktif,pasif, penyelamatan jiwa, dan manajemen keselamatan kebakaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarana pencegahan dan penanggulangan kebakaran yang tersedia sesuai dengan acuan yang digunakan.Kata kunci:Pembangkit listrik, sarana pencegahan dan penanggulangan, kebakaran, Kepmen
The study focused on evaluation of fire prevention and management at powergeneration of PT Indonesia Power Suralaya in 2013 is using national regulationand international regulation. The national regulation which is used is Kepmen PUNo. 10/KPTS/2000 and Kepmen PU No. 02/KPTS/2985 and for the internationalregulation is NFPA. This study is using qualitative analytic descriptive researchwith comparative approach. The fire prevention is including equipment site,active and passive fire protection, life safety way, and fire management. Inresulting, there are suitability between the fire protection equipment and theregulation.Keyword:Power generation, fire protection, NFPA, Kepmen PU
Read More
S-7748
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Kusumaningsih; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Yuni Kusminanti
S-7280
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive