Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 24282 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Mohammad Arief Widagdo; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Budi Hartono, Lany Nurhayati
Abstrak: Pestisida adalah salah satu zat agrokimia yang paling banyak digunakan dalam bidang pertanian, residu pestisida yang tertinggal dan dikonsumsi oleh manusia dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan. Salah satu cara untuk mengurangi residu pestisida adalah dengan menggunakan menambahkan arang atau Arang pada media tanam. Arang adalah sisa hasil pertanian yang dibakar menggunakan teknik pirolisis dan memiliki potensi untuk mengurangi residu pestisida. Penelitian dilakukan menggunakan desain studi quasi-experimental. Kelompok diberi enam perlakuan yang berbeda dengan satu kelompok kontrol dan diulangi sebanyak tiga kali. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 27 sampel. Arang yang digunakan dibakar dengan suhu 200-400oC. Sawi hijau ditumbuhkan menggunakan dua jenis Arang, Sekam Padi dan Tempurung kelapa, dengan masing-masing tiga konsentrasi yang berbeda (0.l%, 0.5%, dan 1% dari berat media tanam) dan satu kontrol. Setelah tanaman dipanen, tanaman ditimbang untuk mendapatkan berat dan dianalisis residu menggunakan alat Kromatografi Gas, teknik destruksi sampel menggunakan metode Quechers. Hasil analisis menunjukkan bahwa tanaman dengan penambahan Arang memiliki mean residu yang berbeda signifikan dibanding dengan kelompok kontrol (P=0.049). Untuk setiap kenaikan konsentrasi Arang jenis Sekam Padi, residu pestisida berkurang sebanyak 25%, sedangkan untuk setiap kenaikan konsentrasi Arang jenis tempurung kelapa, residu pestisdia berkurang sebanyak 20.5%. Arang jenis Sekam Padi lebih efektif dalam mengadsorbsi pestisida dibandingkan Arang jenis tempurung kelapa. Dapat disimpulkan bahwa penambahan Arang mampu mengurangi residu pestisida di tanaman sawi. Kata Kunci: Pestisida, Arang, Adsorpsi
Read More
S-9039
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bintang H. Simbolon; Pembimbing: Dewi Susanna, Bambang Wispriyono
T-1926
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Debbie Valonda; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Dewi Susanna, Al Asyary; I.G.A Rusmala Dewi, Adhi Sambodo
Abstrak: Latar Belakang: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu yang efektif dalam menurunkan kadar total coliform dengan menggunakan sinar ultraviolet pada air limbah terolah di outlet Instalasi Pengolahan Air Limbah Puskesmas X Jakarta Tahun 2022.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain studi eksperimen. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 64 sampel air limbah terolah pada outlet di Instalasi Pengolahan Air Limbah Puksesmas X Jakarta. Data kadar total coliform didapatkan dari hasil pemeriksaaan sampel di laboratorium terakreditasi. Sinar ultraviolet menggunakan lampu TL UVC merk Philips dengan daya 15 watt.
Hasil: Berdasarkan rata-rata persentase penurunan kadar Total Coliform pada sampel setelah mendapatkan perlakuan dengan sinar ultarviolet setelah 2 menit sebesar 10%, setelah 4 menit sebesar 21,25%, setelah 6 menit sebesar 26,75%, setelah 8 menit sebesar 42,5%, setelah 10 menit sebesar 58,75%. Persentase penurunan total coliform setelah 10 menit penyinaran memiliki efektifitas yang paling tinggi. Dari uji korelasi diketahui bahwa ada hubungan yang kuat antara lama penyinaran ultraviolet dengan penurunan total Coliform.
Background: This study aims to determine the effective time to reduce total coliform levels by using ultraviolet light in treated wastewater at the outlet of the Wastewater Treatment Plant of Health Center X in Jakarta in 2022.
Methods: This research uses quantitative research methods with an experimental study design. The number of samples in this study were 64 samples of treated wastewater at the outlets of the Wastewater Treatment Plant of Public Health Center X Jakarta. Data on total coliform levels were obtained from the results of examination of samples in an accredited laboratory. Ultraviolet light using Philips brand TL UVC lamp with 15 watts of power.
Results: Based on the average percentage decrease in Total Coliform levels in the sample after receiving treatment with ultraviolet light after 2 minutes by 10%, after 4 minutes by 21.25%, after 6 minutes by 26.75%, after 8 minutes by 42.5 %, after 10 minutes of 58.75%. The percentage of total coliform decrease after 10 minutes of irradiation had the highest effectiveness. From the correlation test, it is known that there is a strong relationship between the duration of ultraviolet irradiation and the decrease in total Coliform.
Read More
T-6463
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dedi Ruhendi; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Sri Tjahjani Budi Utami, Ririn Arminsih Wulandari, Iid Rochendy
T-2714
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nella Mutia Arwin; Pembimbing: Suyud; Penguji: Laila Fitria, Budi Hartono, Didi Purnama, Aries Hamzah
T-4770
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akrima Fajrin Nurimani; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Budi Hartono, Melati Ferianita Fachrul
S-9170
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Aprianto; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Budi Hartono, Hasnawati Amqam
S-8424
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fahrul Islam; Pembimbing: Budi Hartono, Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Didik Supriyono, Sonny Priajaya Warouw
Abstrak: Kromium adalah logam berat yang banyak digunakan dalam kegiatan industri.Penggunaan kromium pada industri pelapisan logam dapat berisiko terhadap kesehatanpekerja yang berasal dari pajanan kromium di udara lingkungan kerja. Penelitian inibertujuan untuk menganalisis hubungan kadar kromium dalam urin dengan kadaralbumin dalam urin sebagai biomarker kerusakan ginjal. Penelitian ini dilakukan pada33 pekerja terpajan dan 33 pekerja tidak terpajan dengan sedain cross sectional. Sampelurin diambil untuk menilai kadar kromium dan kadar albumin. Kadar kromium dalamurin diukur menggunakan metode metode Atomic Absorption Spectrometry (AAS)dengan teknik pembakaran (flame, FAAS) dan kadar albumin dalam urin di ukurdengan cara immunoturbidimetric assay. Nilai tengah (median) kadar kromium dalamurin pada pekerja terpajan sebesar 5 μg/L dan pada pekerja tidak terpajan juga sebesar5 μg/L. Nilai tengah (median) kadar albumin dalam urin pada pekerja terpajan sebesar2,5 mg/g kreatinin lebih tinggi dari kadar albumin pada pekerja tidak terpajan yaitusebesar 1,5 mg/g kreatinin. Setiap kenaikan kadar kromium 1 μg/L terjadi kenaikankadar albumin sebesar 3,82 mg/g kreatinin setelah dikontrol variabel riwayat diabetes,riwayat hipertensi, kebiasaan merokok, lama kerja, dan konsumsi alkohol. Hasilpenelitian dapat disimpulkan ada pengaruh pajanan kromium dengan gangguan fungsiginjal (p > 0,05).Kata kunci; albumin, kerusakan ginjal, kromium, pelapisan logam
Chromium is a heavy metal that is widely used in industrial activities. Use of chromiumin the metal plating industry pose a risk to workers' health comes from exposure tochromium in the air working environment. This study aimed to analyze the relationshipbetween chromium levels in urine levels of albumin in the urine as a biomarker ofkidney damage. This study was conducted on 33 workers exposed and 33 unexposedworkers with cross sectional sedain. Urine samples were taken to assess levels ofchromium and albumin. Chromium levels in urine were measured using the methodAtomic Absorption Spectrometry (AAS) with burning techniques (flame, FAAS) andalbumin in urine is measured by means of immunoturbidimetric assay. A middle value(median) level of chromium in the urine of workers exposed at 5 g / L and theunexposed workers are also at 5 ug / L. A middle value (median) level of albumin inthe urine in workers exposed at 2.5 mg / g creatinine higher than the levels of albuminin the unexposed workers is equal to 1.5 mg / g creatinine. Any increase in thechromium content of 1 ug / L occurred rising levels of 3,82 mg albumin / g creatinineafter the controlled variable history of diabetes, history of hypertension, smokinghabits, length of employment, and consumption of alcohol. The results of this studyconcluded there was an effect of chromium exposure with impaired renal function (p>0.05).Keywords; albumin, kidney damage, chromium, electroplating.
Read More
T-4628
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reyna Rachmanniar; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Budi Hartono, Ali Isha Wardhana
Abstrak: Pestisida golongan organofosfat dan karbamat adalah pestisida yang palingbanyak digunakan petani dalam membasmi serangga dan merupakan golonganpestisida yang dapat menurunkan aktifitas enzim kolinesterase dalam darahmanusia yang terpapar pestisida. Tinggi rendahnya aktivitas enzim kolinesterasemenjadi indikator tinggi rendahnya tingkat keracunan dan dapat dijadikan indikasikeberadaan pestisida dalam darah. Populasi studi penelitian ini adalah seluruhpetani holtikultura yang rentan terpajan pestisida di wilayah Desa Cibodas,Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Penelitianmenggunakan studi analitik observasional dengan desain cross-sectional, danjumlah sampel sebanyak 57 petani penyemprot. Pengumpulan data dengan carawawancara dan pemeriksaan enzim kolinesterase pada darah petani di Balai BesarLaboratorium Kesehatan (BBLK) Jakarta dengan metode spektrofotometri. Hasilpenelitian menunjukan 25,5% sampel darah tidak normal atau 14 orang dengankadar enzim kolinesterase dibawah 5,4 kU/L. Usia Petani penyemprot 50,9%masih berusia produktif yaitu antara 18 sampai 49 tahun. Berdasarkan statistik,faktor umur, status gizi, frekuensi pajanan, durasi kerja, penggunaan alatpelindung diri (APD) dan tingkat pengetahuan petani tentang pestisida tidakberhubungan dengan kadar enzim cholinesterase dalam darah petani sayuran.Kata kunci:Garut; Keracunan; Kolinesterase; Pestistida.
Read More
S-9546
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nissa Noor Annashr; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: KLusharisupeni, Bambang Wispriyono, Diah Wati, Didik Supriyono
Abstrak: Timbal merupakan salah satu logam berat yang mencemari udara dan terus menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang paling serius. Absorpsi timbal yang meningkat menyebabkan terjadinya penurunan kadar Hb, penurunan jumlah dan pemendekan masa hidup eritrosit, peningkatan jumlah retikulosit dan peningkatan jumlah eritrosit berbintik basofilik. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis efek dari kadar timbal dalam darah terhadap kadar Hb dan eritrosit berbintik basofilik pada siswa SD di Desa Cinangka, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. Sampel darah vena diambil dari 103 siswa SD Cinangka untuk diukur kadar timbal dalam darah, kadar Hb dan eritrosit berbintik basofilik. Kuesioner digunakan untuk mengetahui data mengenai tingkat pendidikan pendapatan orangtua dan asupan zat gizi. Variabel status gizi diketahui melalui perhitungan Indeks Massa Tubuh/Umur (IMT/U) yang dikonversikan ke dalam skala Z-Score. Hasil penelitian menunjukkan 61,2% siswa SD memiliki kadar timbal dalam darah tinggi (≥ 10 μg/dl). Hasil analisis statisik dengan chi square menunjukkan bahwa asupan protein (p = 0,03; OR = 4,184 95% CI : 1,062-16,49) dan asupan zat besi (p = 0,008; OR = 5,398 95% CI : 1,406-20,718) memiliki hubungan yang signifikan dengan kadar Hb pada siswa SD Cinangka. Untuk variabel dependen eritrosit berbintik basofilik, hasil analisis statistik menunjukkan bahwa kadar timbal dalam darah yang tinggi (p = 0,001; OR = 180 95% CI : 38,093-850,551) dan pendidikan ibu yang rendah (P = 0,005; OR = 3,92 95% CI : 1,459-10,532) merupakan faktor risiko terjadinya eritrosit berbintik basofilik pada siswa SD. Kata Kunci : kadar timbal dalam darah, kadar Hb, eritrosit berbintik basofilik
Read More
T-4280
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive