Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35513 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Putrisuvi Nurjannah Zalqis; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Budi Haryanto Wulandari, Achmad Farchanny Tri Andryanto
Abstrak: Kepadatan nyamuk merupakan salah satu faktor risiko terjadinya DemamBerdarah Dengue (DBD). Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi curah hujantinggi yang terjadi di Kecamatan Kelapa selama Januari-Februari yangmenimbulkan banyaknya genangan air di sekitar rumah penduduk sebagai tempatperindukan nyamuk akibat sanitasi yang buruk. Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis hubungan antara kepadatan nyamuk Aedes aegypti dengan kejadianDemam Berdarah Dengue (DBD) di Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Baratdengan menggunakan studi cross-sectional selama Mei-Juni 2016. Sampelpenelitian ini adalah seluruh warga Kecamatan Kelapa yang terpilih secara acakproporsional berjumlah 230 orang dan 60 rumah yang terpilih sebagai lokasipengambilan sampel nyamuk dalam rumah secara acak dari 230 respondenterpilih. Hasil analisis menunjukkan bahwa kepadatan nyamuk Aedes aegypti didalam rumah responden masih tergolong tinggi (51,7%) dan kejadian DBDsebesar 20%. Kepadatan nyamuk menunjukkan hubungan yang tidak signifikandengan kejadian DBD (p=0,458). Faktor lain yang berhubungan dengan kejadianDBD yaitu keberadaan jentik (p=0,017), usia <15 tahun (p=0,002), kepadatanhunian tinggi (p=0,006), tidak melakukan PSN 3M Plus secara rutin (p=0,024),kebiasaan menggantung baju (p=0,033), dan rumah yang tidak dipasang kawatkasa pada ventilasi (p=0,014). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kepadatannyamuk Aedes aegypti tidak berhubungan dengan kejadian DBD. Berdasarkan haltersebut, maka perlu adanya monitoring lebih lanjut terhadap populasi nyamukdan kasus DBD, kerja sama sektoral, serta peran serta masyarakat dalam perilakuhidup bersih dan sehat.Kata Kunci:Bangka, Demam Berdarah Dengue (DBD), Kepadatan nyamuk Aedes aegypti.
Read More
S-9224
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alifia Daary; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Refni Dumesty
S-10149
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Primadatu Deswara; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Sri Tjahjani Budi Utami Utami, Diah Wati
S-7433
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qonita Anis Zain; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Agustin Kusumayati, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus yang tersebar lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Di Kelurahan Beji, Kota Depok, kasus DBD telah menunjukkan tren yang tinggi selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2022, wilayah ini mencatat jumlah kasus tertinggi di Kota Depok, dengan total 177 kasus dan incidence rate (IR) sebesar 370,73 per 100.000 penduduk. Analisis awal mengindikasikan bahwa faktor lingkungan rumah dan partisipasi masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang belum optimal dapat menjadi faktor tingginya kasus DBD di Kelurahan Beji. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh kondisi lingkungan rumah dan praktik PSN terhadap kejadian DBD di Kelurahan Beji tahun 2024. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Beji, Kota Depok selama periode Mei-Juni 2024 dengan menggunakan desain studi kasus kontrol. Sampel terdiri dari 35 orang kasus dan 35 orang kontrol. Sampel kasus dipilih menggunakan simple random sampling dari laporan kasus DBD yang tercatat di Puskesmas Depok Utara, sementara sampel kontrol dipilih dari tetangga terdekat dari rumah kasus. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini meliputi laporan kasus DBD dari Puskesmas Depok Utara, kuesioner, dan lembar observasi keberadaan jentik nyamuk. Analisis data meliputi univariat dan bivariat (uji Chi Square). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian DBD pada penelitian ini adalah keberadaan jentik (p-value = 0,026 ; OR = 4,58), container index (CI) (p-value = 0,014 ; OR = 7,56), sumber air bersih (p-value = 0,036 ; OR = 0,205), dan kebiasaan menggantung pakaian kotor (p-value = 0,046 ; OR = 0,31). Puskesmas Depok Utara dan Dinas Kesehatan Kota Depok disarankan untuk meningkatkan upaya edukasi dan penyuluhan terkait praktik PSN yang efektif kepada masyarakat dan menggiatkan gerakan 1 rumah 1 jumantik. Masyarakat Kelurahan Beji juga harus meningkatkan partisipasi aktif dalam gerakan 1 rumah 1 jumantik, meningkatkan kesadaran dan kedisiplinan dalam melaksanakan praktik PSN, serta menghindari kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko DBD.

Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a viral infection transmitted through the bites of Aedes aegypti and Aedes albopictus mosquitoes. In Beji Subdistrict, Depok City, DHF cases have shown a high trend over the past few years. In 2022, this area recorded the highest number of cases in Depok City, with a total of 177 cases and an incidence rate (IR) of 370,73 per 100.000 population. Initial analysis indicates that household environmental factors and suboptimal community participation in mosquito nest eradication may contribute to the high number of DHF cases in Beji Subdistrict. This study aims to identify the influence of household environmental conditions and mosquito nest eradication practices on the incidence of DHF in Beji Subdistrict in 2024. The research was conducted in Beji Subdistrict, Depok City, from May to June 2024 using a case-control study design. The sample consisted of 35 cases and 35 controls. Case samples were selected using simple random sampling from DHF case reports recorded at Depok Utara Public Health Center, while control samples were selected from the nearest neighbors of the case households. The instruments used in this study included DHF case reports from Depok Utara Public Health Center, questionnaires, and observation sheets for mosquito larvae presence. Data analysis included univariate and bivariate analysis (Chi-Square test). Bivariate analysis showed that the variables associated with the incidence of DHF in this study were the presence of larvae (p-value = 0,026 ; OR = 4,58), container index (CI) (p-value = 0,014 ; OR = 7,56), clean water source (p-value = 0,036 ; OR = 0,205), and the habit of hanging dirty clothes (p-value = 0,046 ; OR = 0,31). Depok Utara Public Health Center and the Depok City Health Office are advised to enhance education and counseling efforts regarding effective mosquito nest eradication practices in the community and to intensify the “1 House 1 Jumantik” movement. The community in Beji Subdistrict should also increase active participation in the “1 House 1 Jumantik” movement, improve awareness and discipline in implementing mosquito nest eradication practices, and avoid habits that can increase the risk of DHF.
Read More
S-11792
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Heri Purwanto; Pembimbing: I Made Djaja, Ema Hermawati; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Rina Hasrina, Suwito
T-3962
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Refni Wita; pembimbing: Rachmadi Purwana; Penguji: Renti Mahkota, Susiati
Abstrak: Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menjadi masalah kesehatanmasyarakat di wilayah Jakarta, khususnya di wilayah Kecamatan Duren Sawit.Kejadian DBD dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu karakteristik individu, tingkatpengetahuan, perilaku dan kondisi lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalahuntuk mengetahui faktor risiko kejadian DBD di wilayah Kelurahan Pondok Kelapa,Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Desain penelitian yang digunakan adalahkasus kontrol. Penelitian dilaksanakan dari bulan Mei hingga Juni 2014 denganmemilih 50 kasus dan 50 kontrol secara acak. Pengumpulan data dilakukan melaluiwawancara langsung menggunakan kuesioner dan kegiatan observasi di rumahresponden. Hasil analisis bivariat menemukan bahwa terdapat hubungan antara umur(p value=0,000; OR=6,66), jenis kelamin (p value=0,007; OR=0,29) dan jenispekerjaan (p value=0,000; OR=6,64) dengan kejadian DBD di wilayah KelurahanPondok Kelapa. Dari penelitian ini dapat terlihat bahwa kerjasama lintas sektor dibutuhkan untuk melakukan pemberantasan penyakit DBD. Selain itu, penyuluhan perlu dilaksanakan untuk meningkat pengetahuan masyarakat sehingga mereka mampu mengubah perilakunya ke arah yang lebih baikKata kunci: DBD, karakteristik individu, pengetahuan, prilaku, lingkungan
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) has become a public health problem inJakarta, especially in Duren Sawit Subdistrict. Incidence of DHF is influenced byseveral factors such as individual characteristics, knowledge levels, behaviours andenvironmental conditions. The purpose of this research is to find out the DHF riskfactors in the Pondok Kelapa Urban Village, Duren Sawit Subdistrict, East Jakarta2014. This research used a case control design. It was held in May to June 2014 byselecting 50 cases and 50 controls randomly. The data collection was conductedthrough a direct interview with respondents by using a questionnaires andobservation activities in their residence. The result of bivariate analysis found thatthere are a meaningful relationship between age (p value=0,000; OR=6,66), sex (pvalue=0,007; OR=0,29) and type of work (p value=0,000; OR=6,64) with incidenceof DHF in Pondok Kelapa Urban Village, Duren Sawit Subdistrict. From thisresearch, it can be seen that the cross sector cooperation is needed to make aneradication of DHF. Beside that, counseling should be implemented in order toincrease public knowledge about DHF so they are able to change their behaviourtowards betterKeywords: DHF, individual characteristic, knowledge, behaviour, environmen
Read More
S-8495
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gilang Delia Revorina; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Al Asyary, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang sebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang terinfeksi virus dengue dari penderita kepada orang lain. Penyakit ini endemik lebih dari 100 negara beriklim tropis dan sub tropis di belahan dunia. Sekitar 1,8 miliar (lebih dari 70%) dari populasi yang berisiko terkena demam berdarah di seluruh dunia tinggal di negara-negara Asia Tenggara dan Wilayah Pasifik Barat, salah satunya Indonesia. Pada tahun 2016, DKI Jakarta ditetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit DBD, dengan jumlah penderita sebanyak 22.697 kasus dan Incidence Rate (IR) sebesar 220.8 per 100.000 penduduk. Kota Jakarta Barat menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kejadian DBD tertinggi dibandingkan dengan kota lain di DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis spasial kejadian DBD di Kota Jakarta Barat tahun 2015-2019 dengan mempertimbangkan beberapa faktor seperti demografi, iklim, dan angka bebas jentik. Desain studi yang digunakan pada penelitian ini yaitu studi ekologi dengan pendekatan analisis spasial dan analisis korelasi untuk melihat kekuatan hubungan antara kejadian DBD dengan faktor kepadatan penduduk, iklim, dan angka bebas jentik. Secara spasial kejadian DBD cenderung terjadi di wilayah dengan tingkat kepadatan tinggi dan ABJ rendah. Secara statistik, analisis korelasi menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kepadatan penduduk, kelembanam udara, dan curah hujan dengan kejadian DBD. Sedangkan suhu udara dan angka bebas jentik menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan terhadap kejadian DBD di Kota Jakarta Barat. Dari 56 kelurahan di Jakarta Barat, terdapat 53 kelurahan yang tergolong tingkat kerawanan tinggi, dan 3 kelurahan tergolong kategori kerawanan sedang terjadinya kasus DBD. Tingginya masalah kasus DBD di Jakarta Barat membuat Dinas Kesehatan sebaiknya meningkatkan upaya atau perencanaan serta optimalisasi pemberdayaan masyarakat dalam pemberantasan kasus DBD.
Kata kunci: Demam Berdarah Dengue (DBD), Kepadatan Penduduk, Iklim, ABJ, Analisis Spasial.

Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease transmitted by Aedes aegypti and Aedes albopictus mosquitoes who infected with dengue virus. DHF have been affecting more than 100 tropical and sub-tropical countries in the world. Around 1.8 billion (more than 70%) of the population at risk of dengue fever worldwide live in countries of Southeast Asia and the Western Pacific Region, including Indonesia. In 2016, DKI Jakarta was assigned the status of outbreak of DHF, with a total of 22,697 cases and an incidence rate (IR) of 220.8 per 100,000 population. West Jakarta is one of the regions with the highest DHF incidence rate compared to other cities in DKI Jakarta. This study aims to determine the spatial analysis of the incidence of dengue in West Jakarta in 2015-2019 by considering several factors such as demographics, climate, and larval free index. This study uses an ecological study with a spatial analysis approach and correlation analysis to see the strength of the relationship between the incidence of DHF with factors of population density, climate, and larvae free index. Spatially the incidence of DHF tends to occur in areas with high density and low larvae free index. Statistically, correlation analysis shows that there is a significant relationship between population density, air humidity, and rainfall with the incidence of DHF. Meanwhile, there is no significant correlation between the air temperature and larvae free index with the incidence of DHF in West Jakarta. Result shows that from 56 urban villages in West Jakarta, there are 53 urban villages that are categorized as high vulnerability, and 3 urban villages categorized as medium vulnerability. The high problem of dengue cases in West Jakarta makes the authorities should increase efforts or planning and optimize community empowerment in eradicating dengue cases. Keywords: Dengue Haemorrhagic Fever (DHF), Population Density, Climate, Larvae Free Index, Spatial Analysis.
Read More
S-10273
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afifah Azharadipta; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:

Latar Belakang : Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada daerah perkotaan seperti Kota Administrasi Jakarta Barat. Variabel iklim berupa suhu udara, tingkat kelembaban, serta curah hujan diketahui berhubungan dengan perubahan jumlah kasus DBD karena faktor-faktor tersebut memengaruhi pertumbuhan dan aktivitas nyamuk Aedes spp. sebagai vektor penular penyakit. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim yang mencakup suhu udara, kelembaban udara, serta curah hujan terhadap kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Administrasi Jakarta Barat selama periode 2016–2025. Metode : Dalam kajian ini digunakan metode kuantitatif dengan rancangan ekologi time series untuk menganalisis data penelitian. Data yang dipakai merupakan data sekunder berupa jumlah kejadian DBD yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, sedangkan data terkait iklim seperti suhu udara, kelembaban udara, serta curah hujan bersumber dari NASA POWER. Teknik analisis yang diterapkan meliputi analisis univariat serta bivariat, dengan pengujian korelasi menggunakan Pearson atau Spearman berdasarkan hasil uji normalitas masing-masing variabel. Hasil : Temuan kajian ini memperlihatkan jika keterkaitan antara faktor iklim berupa suhu udara serta kelembaban udara terhadap kejadian DBD lebih dominan pada Lag 1 dibandingkan Lag 2. Hubungan negatif yang signifikan ditemukan pada tahun 2021 serta 2023. Di sisi lain, faktor iklim curah hujan memperlihatkan hubungan yang lebih kuat pada Lag 2 daripada Lag 1.


Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains one of the major public  health problems in Indonesia, particularly in urban areas such as the Administrative  City of West Jakarta. Climate variables, including air temperature, humidity levels,  and rainfall, are known to be associated with changes in the number of DHF cases  because these factors influence the growth and activity of Aedes spp. mosquitoes  as disease vectors. This study was conducted to determine the relationship between  climate factors, namely air temperature, air humidity, and rainfall, and the incidence  of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in the Administrative City of West Jakarta  during the 2016–2025 period. Methods: This study employed a quantitative method  with a time-series ecological design to analyze the research data. The data used  were secondary data consisting of the number of DHF cases obtained from the DKI  Jakarta Provincial Health Office, while climate-related data such as air temperature,  air humidity, and rainfall were sourced from NASA POWER. The analytical  techniques applied included univariate and bivariate analyses, with correlation  testing using Pearson or Spearman methods based on the normality test results of  each variable.Results: The findings of this study indicate that the relationship  between climate factors, specifically air temperature and air humidity, and DHF  incidence was stronger at Lag 1 compared to Lag 2. Significant negative  relationships were identified in 2021 and 2023. Meanwhile, the climate factor of  rainfall demonstrated a stronger relationship at Lag 2 than at Lag 1.

Read More
S-12247
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ummi Salamah; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Zakianis, Olga Afrista
Abstrak: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor iklim (suhu, kelembapan dan curah hujan), kepadatan vektor (angka ABJ), kepadatan penduduk dengan incidence rate demam berdarah dengue di Kecamatan Kramat Jati Tahun 2011-2020. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi menurut time trend dengan unit analisis per bulan selama 10 tahun (2011-2020) dengan menggunakan data sekunder. Hasil penelitian pada data seluruh tahun (2011-2020) menunjukkan bahwa suhu, kelembaban, curah hujan, kepadatan penduduk dan Angka Bebas Jentik memiliki hubungan signifikan dengan incidence rate DBD di Kecamatan Kramat Jati.
Read More
S-10876
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afifah Zahra; Pembimbing: R. Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Maryati Kasiman
Abstrak: Melihat data 2014 hingga 2016 yang dimiliki oleh puskesmas Cilandak, trend kasus DBD di Kecamatan Cilandak cenderung meningkat pada bulan Januari hingga Mei, mulai turun ketika bulan juni dan titik terendahnya pada bulan Desember. Trend kasus tersebut selalu sama terjadi di setiap tahunnya ini menimbulkan ketertarikan penulis untuk meneliti terkait faktor iklim, faktor kepadatan vektor yang dilihat dari angka bebas jentik (ABJ), dan faktor kepadatan penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor iklim (suhu udara, kelembaban, dan curah hujan), faktor kepadatan vektor (angka ABJ), dan kepadatan penduduk dengan angka incidence rate DBD di Kecamatan Cilandak Tahun 2010-2019. Jenis data yang diambil adalah data sekunder. Data incidence rate DBD, dan angka ABJ didapatkan dari laporan tahunan Puskesmas Kecamatan Cilandak. Data mengenai kepadatan penduduk didapatkan dari Badan Pusat Statistik. Data terkait iklim didapat dari BMKG. Hubungan akan dianalisis menggunakan uji pearson product moment. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa secara keseluruhan tahun 2010-2019, curah hujan dan kelembaban memiliki hubungan dengan IR DBD di Kecamatan Cilandak (p=0,029, r=0,685).
Kata Kunci : Iklim, Kepadatan penduduk, ABJ, angka insiden, DBD, Kecamatan Cilandak.

Looking at the 2014 to 2016 data held by the Cilandak puskesmas, the trend of dengue cases in Cilandak sub-district tends to increase in January to May, starting to fall when June and its lowest point in December. The case trend is always the same that happens every year and this raises the interest of the writer to research related to climate factors, vector density factors seen from larval free numbers (ABJ), and population density factors. This study aims to analyze the relationship between climate factors (air temperature, humidity, and rainfall), vector density factors (ABJ figures), and population density with DHF incidence rate in Cilandak District in 2010-2019. The type of data taken is secondary data. DHF incidence rate data, and ABJ figures were obtained from the annual report of the Cilandak District Health Center. Data on population density was obtained from the Central Statistics Agency. Climate related data obtained from BMKG. Relationships will be analyzed using the Pearson product moment test. The results of the bivariate analysis showed that overall in 2010-2019, rainfall and humidity had a relationship with IR DHF in Cilandak District (p = 0.029, r = 0.685).
Keywords: Climate, Population density, ABJ, incidence rate, DHF, Cilandak District.
Read More
S-10479
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive