Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35672 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Betty Weri Yolanda Nababan; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Siti Nadia Tarmizi, Yovita Hartantri
T-4653
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Talitha El Zhafira Hadi; Pembimnbing: Helda; Penguji: Nurhayati Adnan, Alfons M. Letelay, Suyono
Abstrak:
Angka mortalitas HIV/AIDS hingga saat ini masih menjadi permasalahan kompleks di tingkat global, terutama pada negara berkembang. Terapi Antiretroviral (ARV) menjadi salah satu bentuk pencegahan berkembangnya kasus HIV menjadi AIDS. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ODHA yang telah memulai terapi ARV pun masih berisiko tinggi untuk mengalami kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepatuhan terapi antiretroviral terhadap kejadian mortalitas pada pasien HIV/AIDS di RSUD Kabupaten Tangerang periode tahun 2006 – 2022. Desain studi yang digunakan adalah kohort restrospektif. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 924 pasien yang diobservasi melalui rekam medis pasien. Kelompok exposed yaitu 510 pasien yang patuh terapi ARV dan kelompok non-exposed yaitu 414 pasien yang tidak patuh terapi ARV. Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa probabilitas kumulatif survival dan median survival time secara keseluruhan adalah 52,3% dan 7 tahun. Rata-rata waktu pengamatan survival pada tahun ke 8 dan median survival time pada tahun ke 7 pengamatan. Selain itu, diketahui pula terdapat pengaruh antara kepatuhan terapi ARV terhadap kejadian mortalitas pasien HIV/AIDS dengan nilai adjHR = 1,71 (95% CI: 0,03 - 3,18) setelah mengendalikan variabel usia dan infeksi oportunistik. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dan pertimbangan dalam meningkatkan kepatuhan ODHA dalam menjalankan terapi ARV di kemudian hari supaya tren kematian dapat ditekan.

The mortality rate of HIV/AIDS is still being a complex problem at the global level, especially in developing countries. Antiretroviral Therapy (ARV) is one form of prevention of the development of HIV cases into AIDS. However, it is undeniable that people living with HIV who have started ARV therapy are still at high risk of death. This study aims to determine the effect of adherence to antiretroviral therapy on the survival of HIV/AIDS patients at General Hospital of Tangerang Regency for the period 2006 – 2022. The study design used a retrospective cohort design. The exposed group was 510 patients who were adherent to ARV therapy and the non-exposed group was 414 patients who were not adherent to ARV therapy. Based on the results of the analysis, it is known that the cumulative probability of survival and median survival time as overall are 52.3% and 7 years. The average survival observation time at year 8 and median survival time at year 7 observation. In addition, it is also known that there is an correlation between adherence to ARV therapy on the mortality incidence of HIV/AIDS patients with adjHR = 1.71 (95% CI: 0,03 - 3,18) after controlling for age and opportunistic infection variables. The results of this study can be a reference and consideration in improving the compliance of PLHIV in carrying out ARV therapy in the future so that the mortality trend can be suppressed.
Read More
T-6670
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendra Dhermawan Sitanggang; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Adria Rusli, Nuraliyah
Abstrak: IntroduksiPenemuan obat antiretroviral (ARV) secara dramatis menurunkan angka kesakitandan kematian ODHA. Namun, kepatuhan terhadap terapi ARV merupakantantangan tersendiri mengingat terapi ini harus dijalani seumur hidup. Kepatuhanterhadap terapi ARV merupakan salah faktor yang menentukan keberhasilanpengobatan. Ketidakpatuhan terhadap terapi ARV di Indonesia masih tinggi, yaituberkisar diantara 23-55%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuipengaruh ketidakpatuhan berobat terhadap kesintasan 3 tahun pasien HIV/AIDS.MetodePenelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif di RSPI Prof. Dr. SuliantiSaroso tahun 2010-2012.HasilProbabilitas survival kumulatif pasien HIV/AIDS di RSPI Prof dr. Sulianti Sarosopada tahun kedua (bulan ke-24) adalah 95,6% dan tahun ketiga (bulan ke-36)adalah 91%. Hasil analisis multivariat dengan regresi cox menunjukkan bahwakesintasan 3 tahun pasien HIV/AIDS dipengaruhi ketidakpatuhan minum obat,setelah dikontrol variabel CD4 awal (aHR = 7,608 ; 95%CI : 1,664-34,790) danketidakpatuhan janji ambil obat, setelah dikontrol variabel infeksi oportunistik,umur dan CD4 awal. (aHR = 2,456 ; 95%CI : 0,802-7,518). Pada pasien yangtidak patuh minum obat, ketidakpatuhan janji ambil obat berpengaruh terhadapkesintasan 3 tahun pasien HIV/AIDS, setelah dikontrol variabel CD4 awal, jeniskelamin, PPK, faktor risiko penularan, stadium klinis awal, infeksi oportunistik,dan umur (aHR = 4,517 ; 95%CI : 0,729-27,987).PembahasanKetidakpatuhan minum obat dapat menyebabkan kegagalan terhadap penekananreplikasi virus HIV, sehingga meningkatkan kemungkinan bermutasinya virusHIV yang dapat menyebabkan resisten terhadap obat dan akhirnya dapatmeningkatkan risiko kematian. Ketidakpatuhan terhadap janji ambil obat pada 1tahun pertama juga diasumsikan juga akan menunjukkan ketidakpatuhan terhadapjanji ambil obat selanjutnya dan menunjukkan ketidakpatuhan minum obat,sehingga meningkatkan risiko kematian.SaranMemonitoring cakupan kepatuhan minum obat pasien HIV/AIDS secara berkalasebagai kewaspadaan dini terhadap risiko kematian pasien HIV/AIDS.Kata Kunci : ketidakpatuhan minum obat, ketidakpatuhan janji ambil obat,kohort retrospektif
IntroductionDramatically, Anti-Retroviral drug Therapy (ART) has reduced morbidity andmortality of People Living with HIV/AIDS (PLWHA). However, adherence toantiretroviral therapy has become a challenge because this therapy must beendured for a lifetime. Adherence to antiretroviral therapy is one of the factorsthat determine the success of treatment. Poor adherence to ARV therapy inIndonesia is arround 23-55%. The objective of this study was to determine theinfluence of medication non-adherence to the 3-years survival of patients withHIV/AIDS.MethodsThis study used a retrospective cohort design at RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso in2010-2012.ResultsThe cumulative survival probability of patients with HIV/AIDS at RSPI Prof. dr.Sulianti Saroso in the second year (24th month) was 95.6% and the third year (inthe 36th) was 91%. Multivariate analysis with Cox regression showed the factorsthat affected the 3-years survival of patients with HIV/AIDS are non-adherence toART, after controlled by initial CD4 count (aHR = 7.608; 95% CI: 1.664 to34.790), and non-compliance appointments, after controlled by opportunisticinfection, age and initial CD4 count (aHR = 2.456; 95% CI: 0.802 to 7.518).Among patient non-adherence to ART, non-compliance appointments affected the3-years survival of patients with HIV/AIDS, after controlled by initial CD4 count,sex, CPT, modes of HIV transmission, WHO clinical stage, opportunisticinfection, and age (aHR = 4.517 ; 95%CI : 0.729-27.987).DiscussionsNonadherence to ART may caused a failure of the suppression on HIV viral, thusincrease the possibility of HIV virus mutations that can lead to drug-resistant andultimately increase the risk of death. Poor adherence to appointments of takingdrugs in the first year also assumed the poor adherence of the next assignment totake drugs in the further, and show disobedience to ART, so it will increase therisk of death.RecomendationMonitoring coverage of medication adherence of patients with HIV/AIDS in aregular basis as the early warning on the risk of death among patients withHIV/AIDS.Keyword : non-adherence to ART, appointment keeping, retrospective cohort
Read More
T-4545
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lily Banonah Rivai; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Ratna Djuwita, Indang Trihandini, Janto G. Lingga, Dyah Erty Mustikawati
T-3032
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Berliana Situmeang; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Renfi Mahkota, Toha Muhaimin, Victoria Indrawati, Victoria Indrawati, Arif Rachman Irawan
Abstrak: Stigma terhadap ODHA menjadi salah satu hambatan paling besar dalam pencegahan, perawatan, pengobatan, dan dukungan HIV/AIDS. Pengetahuan mempengaruhi terjadinya stigma terhadap ODHA. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma terhadap ODHA di kalangan remaja usia 15-19 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2012 dengan disain cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 8.316 orang. Hasil studi menunjukkan 71,63% remaja mempunyai stigma terhadap ODHA, 49,10% remaja mempunyai pengetahuan yang kurang tentang HIV. Pengetahuan yang kurang tentang HIV/AIDS berhubungan dengan stigma terhadap ODHA (PR= 1,210 95% CI: 1,149-1,273) setelah dikontrol oleh keterpaparan media massa. Perlu dilakukan peningkatan pengetahuan tentang HIV/AIDS pada remaja guna mengurangi stigma terhadap ODHA. Kata Kunci: stigma, remaja, pengetahuan tentang HIV/AIDS Stigma towards people living with HIV/AIDS is one of biggest obstacle in HIV/AIDS prevention, treatment, care, and support. HIV/AIDS knowledge affected stigma towards people living with HIV/AIDS. This study aimed to identify the relationship HIV/AIDS knowledge related stigma towards people living with HIV/AIDS among adolescent 15-19 years old in Indonesia. The study used Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) in 2012 with cross sectional design. Subject of the study were as many as 8.316 persons. The result showed 71,63% adolescent had stigma towards people living with HIV/AIDS, 49,10% adolescent had lack of HIV/AIDS knowledge. Lack of HIV/AIDS knowledge were significantly related to stigma towards people living with HIV/AIDS (PR= 1,210 95% CI: 1,149-1,273) after controlling exposure to mass media. Need to improve HIV/AIDS knowledge among adolescent to reduce stigma towards people living with HIV/AIDS. Keyword: Stigma, adolescent, HIV/AIDS knowledge
Read More
T-4911
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marlina Meilani Simbolon; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Adria Rusli, Endang Lukitosari
T-4138
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hardini Tri Indarti; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Asri C. Adisasmita, Sukamto Koesnoe, Ijun Rijwan Susanto
Abstrak: Lupus Eritematosus Sistemik (LES) merupakan penyakit autoimun yang mengakibatkan peradangan di banyak organ. Prevalensi LES terus meningkat dan angka mortalitasnya pun tinggi. Etiologi LES sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa faktor risiko yang diduga dapat mempengaruhi kejadian LES. Salah satunya adalah riwayat alergi obat, terutama antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan riwayat alergi antibiotik dengan kejadian LES setelah dikontrol oleh variabel kovariat berupa riwayat keluarga menderita LES, riwayat menderita penyakit autoimun lain, usia menarche, dan perilaku merokok di RSUP Dr. Hasan Sadikin Kota Bandung. Penelitian ini dilakukan bulan April-Juli 2014 dengan menggunakan desain kasus kontrol. Kasus adalah pasien LES wanita yang berobat ke Poli Rematologi RSUP Dr. Hasan Sadikin Kota Bandung. Kontrol merupakan pasien wanita yang berobat ke Poli Penyakit Dalam dengan dilakukan individual matching dengan kasus pada usia (rentang 3 tahun), dan asal daerah. Data dianalisis dengan analisis univariat, bivariat, dan multivariat dengan uji regresi logistik conditional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa riwayat alergi antibiotik cenderung meningkatkan risiko kejadian LES sebesar 2,34 kali (OR=2,34, 95% CI 0,66-8,22) setelah dikontrol oleh riwayat keluarga LES, riwayat autoimun, dan perilaku merokok. Untuk kelas antibiotik penisilin/sefalosporin, risiko meningkat menjadi 2,75 kali (OR=2,75, 95% CI 0,65-11,59). Kata kunci : LES, alergi antibiotik, matched kasus kontrol
Systemic Lupus Erythematosus ( SLE ) is an autoimmune disease that results in inflammation in many organs. The prevalenceof SLE is increasing and the mortality rate was high. Etiology of SLE has not known. However , several risk factors could be expected to affect the incidence of SLE . One of them is a history of drug allergies, especially antibiotics. This study aimed to determine the relationship between antibiotic allergy history and SLE after controlled by family history,other autoimmune disease, age of menarche, and smoking behavior in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. This study was conducted from April to July 2014 using case-control design. Cases were women SLE patients who went to Rheumatology Department Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. Control were a female patient who went to Internist Department with individually matched at the age ( 3 years range ), and region. Data were analyzed with univariate, bivariate , and multivariate conditional logistic regression. The results showed that a history of antibiotic allergy tends to increase the incidence of SLE for 2.34 times ( OR = 2.34 , 95 % CI 0.66 to 8.22 ) after controlled by SLE family history, history of autoimmune, and smoking behavior. For the class of penicillin/cephalosporin, the risk increased to 2.75 times ( OR = 2.75 , 95 % CI 0.65 to 11.59) . Keywords : SLE , antibiotic allergy , matched case-control
Read More
T-4294
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ita Marlita Sari; Pembimbing : Asri C Adisasmita; Penguji: Sabarinah, Dwirani Amelinah, Ratih Purnamasari
Abstrak: Pendahuluan. Prevalensi persalinan preterm di dunia terjadi sekitar 11,1% kelahiran hidup. Namun, persalinan preterm menyumbang angka kesakitan dan kematian neonatus sebesar 75-80%. Morbiditas bayi preterm dapat berlanjut sampai tahap perkembangan berikutnya sehingga menjadi beban secara fisik, psikologis dan ekonomi. Faktor yang diduga berperan dalam terjadinya persalinan preterm adalah ketuban pecah dini (KPD). Penelitian sebelumnya memperlihatkan adanya hubungan ketuban pecah dini terhadap persalinan preterm, namun perlu dilakukan penelitian pada populasi berbeda seperti di RSUD kota Cilegon. Tujuan Penelitian. Mengetahui besar pengaruh ketuban pecah dini terhadap kejadian persalinan preterm di RSUD Cilegon periode Juli 2014-Desember 2015. Metode Penelitian. Desain adalah kasus kontrol menggunakan data sekunder rekam medik. Populasi kasus yaitu semua ibu hamil yang melahirkan dengan usia kehamilan < 37 minggu lengkap di RSUD Cilegon dan populasi kontrol adalah semua ibu hamil yang melahirkan dengan usia kehamilan > 37 minggu di RSUD Cilegon. Sampel diambil dalam periode Januari 2014-Desember 2015. Metode analisis yang digunakan adalah regresi logistik. Hasil Penelitian. Pada analisis bivariat hubungan ketuban pecah dini dengan persalinan preterm diperoleh OR 2,97 (95% CI: 1,92-4,59) sebelum dikontrol dengan variabel kovariat. Setelah dilakukan analisis multivariat diperoleh model akhir hubungan ketuban pecah dini dengan persalinan preterm dengan mengendalikan faktor pendidikan, riwayat persalinan preterm dan anemia didapatkan OR 2,58 (95% CI: 1,68-3,98). Kesimpulan. Ibu hamil dengan ketuban pecah dini berisiko 2,58 kali untuk mengalami persalinan preterm dibandingkan dengan ibu yang tidak mengalami ketuban pecah dini setelah dikontrol oleh variabel pendidikan, riwayat persalinan preterm, dan anemia. Kata kunci: persalinan, preterm, KPD
Read More
T-4815
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Triana Sinulingga; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Yovsyah; Siti Nadia Tarmizi
Abstrak:

ABSTRAK Latar Belakang: Terapi ARV pada ODHA diharapkan dapat menurunkan angka kematian dan kesakitan serta menekan penularan HIV. Untuk mencapai tujuan MDG’s tahun 2015, diharapkan 90% ODHA sudah mendapatkan terapi ARV secara teratur. RSUD Arifin Achmad Pekanbaru telah memberikan terapi ARV sejak tahun 2004 tetapi belum pernah diteliti pengaruh ARV terhadap survival pasiennya. Metode : Penelitian ini menggunakan desain studi kohort retrospektif dengan 319 sampel dan dilakukan selama Mei-Juni 2013. Data penelitian diperoleh melalui data rekam medis RS. Data dianalisis dengan menggunakan analisis survival metode Kaplan-Meier dan dilanjutkan dengan analisis multivariate Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang memakan ARV secara teratur memiliki survival yang lebih baik. Pasien yang tidak memakan ARV atau memakan ARV tetapi tidak teratur, memiliki risiko kematian sebesar 42,5 kali lebih besar jika dibandingkan dengan pasien yang memakam ARV secara teratur. (p=0,01, 95%CI: 13-138). Jumlah kematian selama pengamatan hanya 5,8% pada kelompok yang teratur memakan ARV, sedangkan pada kelompok yang tidak mencapai 28%. Faktor lain yang turut meningkatkan survival adalah jumlah CD4 pada awal pengobatan >100 sel/mm³(p=0,01, HR=4,39, 95% CI(1,8-10,5). Walaupun kurang bermakna secara statistik, perlu mempertimbangkan pemberian ARV pada stadium klinis awal sebagai faktor yang turut meningkatkan survival ODHA mengingat stadium klinis dapat diperiksa di semua layanan kesehatan. (p=0,07, HR=2.3, 95%CI 0,9-5.6). Faktor pendidikan secara statistik juga bermakna membedakan survival pasien. Dalam penelitian ini stadium klinis dibuktikan sebagai confounding. Hal yang disarankan adalah meningkatkan cakupan penemuan dan tatalaksana dini kasus HIV/AIDS dengan melakukan pelacakan pada semua kasus mangkir, meningkatkan kepatuhan memakan ARV dan mengupayakan pendampingan kasus secara maksimal.


 ABSTRACT Background: ARV for HIV or AIDS patients is a hope to reduce the mortality, morbidity and to prevent the transmissions. To achieve the MDG the minister of health need to cover 90% AIDS people with ARV adherently. RSUD Arifin Achmad Pekanbaru have giving the therapy for AIDS patients since 2004, but have never studied the survival analysis and another factors that contribute to yet. Method: This study is a cohort retrospective design, with 319 samples. Take place in Arifin Achmad Hospital Of Pekanbaru, Riau Province in May-June 2013. The resource are medical record of HIV/AIDS patiens in VCT clinic. Was analyse by Kaplan-Meier survival analysis and then for further use multivariate analyses. Result: The study show that the survival of patiens who take ARV adherently is higher than the other one. The patients who no used ARV adherently will have mortality rate 42,5 times than the patients that used ARV addherently. (p=0,01, 95%CI: 13-138). The deaths amount only 5,8% on the adherently ARV patients, but at another side, the deaths amount increase by 28%. Another factor that contribute to increase the survival are CD4 amounts at the beginning of therapy that >100 sel/mm³(p=0,01, HR=4,39, 95% CI(1,8-10,5). We need to consider the clinical of AIDS stadium as one of factor that contribute to increase the survival too if use ARV at the beginner of clinical stadium. (p=0,07, HR=2.3, 95%CI 0,9-5.6). The educations level has the value statistically to distinguish the survival. In this study, the clinical stadium is a confounder. We sugest to improve the early detection and prompt treatment by tracking the lost of follow up patients, increase the adherent of ARV and by mentoring or”buddy” programe for all HIV cases.

Read More
T-3796
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zaki Dinul Lubis; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Rosmarlina
S-7029
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive