Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35695 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Syafran Arrazy; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Bambang Wispriyono, Abdur Rahman, Sonny P. Warouw, Didi Purnama
Abstrak: Benzene dapat secara enzimatik meningkatkan pembentukan Reactive OxygenSpecies (ROS) yang mempengaruhi sel-sel dan berakibat kerusakan oksidatif.Malondialdehyde (MDA) merupakan produk akhir peroksidasi lemak dan menjadisalah satu indikator stres oksidatif akibat radikal bebas. S-phenylmercapturic acid(SPMA) menjadi parameter pajanan benzene pada manusia. Penelitian inibertujuan untuk menganalisis asosiasi SPMA terhadap MDA pada pekerja sepatu.Metode penelitian menggunakan desain studi analitik cross-sectional. Pemilihansampel mengunakan cluster satu tingkat terhadap industri informal. Jumlahsampel dalam penelitian ini 64 pekerja. Hasil penelitian menunjukkan rata-ratakonsentrasi SPMA adalah 24.63 μg/g kreatinin atau 20 responden (31.2%)memiliki konsentrasi SPMA urin di atas nilai biological exposure index (BEI)(>25 μg/g kreatinin), dan rerata kadar MDA serum pekerja adalah 10.186 μmol/L.Berdasarkan uji statistik, diketahui ada hubungan signifikan pada konsentrasiSPMA terhadap peningkatan MDA setelah dikontrol dengan faktor umur, lamakerja, status merokok, kebiasaan alkohol, kebiasaan olahraga dan kebiasaanmakan sayur dan buah (R2 : 0.133, p-value : 0.039). Studi ini menunjukkan bahwapaparan benzene memberikan efek merugikan pada stres oksidatif pekerja selainoleh umur pekerja.Kata kunci: Benzene; Industri skala kecil; Malondialdehyde; Stres Oksidatif;S-phenylmercapturic acid;
Benzene can be enzymatically increasing the formation of Reactive OxygenSpecies (ROS) that affect the cells and cause oxidative damage. Malondialdehyde(MDA) is the end product of lipid peroxidation and is one indicator of oxidativestress caused by free radicals. S-phenylmercapturic acid (SPMA) be the parameterof benzene exposure in humans. This study aimed to analyze the associationSPMA against MDA in shoe workers. The research method uses design analyticcross-sectional study. Selection of the sample using one level cluster to informalindustry. The samples in this study are 64 workers. The results showed thatmedian levels concentration of SPMA is 10.24 mg/g creatinine or 20 respondents(31.2%) had a concentration of SPMA urine above the value of biologicalexposure index (BEI) (> 25 mg / g creatinine), and median levels of serum MDAworkers are 6.38 μmol/L. Based on statistical test, we know that have a significantassociation for concentration of SPMA to increase MDA after controlling by age,length of employment, smoking status, alcohol habits, exercise habits and habit ofeating vegetables and fruits (R2: 0133, p-value: 0.039). This study shows thatexposure to benzene giving adverse effects on oxidative stress in addition toworkers by age workers.Keywords: Benzene; Small Scale Industry; Malondialdehyde; Oxidative Stress;S-phenylmercapturic acid;
Read More
T-4740
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bayu Rizki Sanjaya; Pembimbing: ; Penguji: Laila Fitria, Inswiarsi, Miko Hananto
Abstrak:

ABSTRAK Nama :  Bayu Rizki Sanjaya Program Studi              :  Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul                            :   Asosiasi Pajanan Benzene Terhadap Kadar Hemoglobin  (Studi Pada Pekerja Laki-Laki Di Industri Sepatu Informal Cibaduyut, Jawa Barat) xvi + 85 halaman, 16 tabel, 9 gambar Benzene merupakan senyawa yang berbahaya bagi kesehatan. Dampak nonkarsinogenik yang diakibatkan diantaranya anemia dan pensitopenia. Pada pajanan benzene ditingkat rendah, menunjukkan adanya perbedaan dampak hematologi. Kadar hemoglobin merupakan salah satu parameter awal yang digunakan untuk mengetahui dampak hematologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengtahui asosiasi pajanan benzene terhadap kadar hemoglobin. hasil penelitian. Metode penelitian. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Pemilihan sampel mengggunakan cluster satu tingkat. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 71 pekerja laki-laki responden. Pengukuran benzene menggunakan metode NIOSH 1501, pemeriksaan kadar hemoglobin menggunakan automated hematlogy analyzer. Lama kerja, usia, status merokok, konsumsi alkohol dan riwayat infeksi diukur menggunakan kuesioner Hasil penelitian menunjukkan rata-rata pajanan benzene adalah 0,34 ppm dan kadar hemoglobin pekerja laki-laki adalah15,34 ± 1,14 g/dL. Berdasarkan analisis statistik, rata-rata kadar hemoglobin pajanan benzene  ≤ 0,50 ppm adalah 15.15 g/dL (95% CI : 14.80 - 15.50) dan pada pajanan benzene   0,51 – 1 ppm adalah g/dL 15.55 (95% CI : 15.19 - 15.91). Pekerja dengan lama kerja lebih dari 6 tahun memiliki kadar hemoglobin lebih rendah 0,7 g/dL (95% CI: -1.32 s.d. -0.13) dibandingkan pekerja dengan lama kerja kurang dari 6 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pajanan benzene di bawah 1 ppm tidak ada asosiasi yang signifikan terhadap kadar hemoglobin, namun pekerja terdapat indikasi bahwa durasi pajanan yang diukur dengan lama kerja berasosiasi dengan penurunan hemoglobin. Kata kunci: benzene, hemoglobin, pekerja laki-laki


ABSTRACT Name :  Bayu Rizki Sanjaya Program of Study :  Master of Public Health Title of Thesis              :   Association of benzene exposures and hemoglobin (Study among the footware male workers in Cibaduyut West Java) xvi + 85 pages, 16 tables, 9 pictures Benzene is one of the chemical substances which can cause some health effect. Noncarcinogenics effect can caused by benzene is anemia and pancytopenia. Benzene at lower concentrations have is conflicting evidence on potential hematological effects. Hemoglobin is one of hematological paramaters of hematological effects. The purpose of this study to explain association benzene exposure and effect of hemoglobin.   Cross sectional study design was used, and 71 male workers selected by cluster random sampling. Benzene measurement used NIOSH 1501 method and hemoglobin measurement used by automated hematalogy analyzer.  Confounding factors such as work duration, age, smoking status, alcohol consumption, and history of infection measurements by questionnares.   The results showed that means of benzene exposure is 0,34 ppm and means of hemoglobin is 15,34 ± 1,14 g/dL. Statistical analysis showed that means of hemoglobin at benzene exposure ≤ 0,50 ppm is 15.15 g/dL (95% CI : 14.80 - 15.50) and means of hemoglobin at benzene exposure   0,51 - 1 ppm is 15.55 g/dL (95% CI : 15.19 - 15.91). Male-workers that work duration more than 6 yearshave decreased of hemoglobin 0,7 g/dL (95% CI: -1.32 s.d. -0.13). The conclution is benzene exposure below 1 ppm statistically not association with hemoglobin. However long-time exposure of benzene that measure with work duration statistically significant with decreased of hemoglobin. Keywords: benzene, hemoglobin, male workers

Read More
T-4759
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Wulandari; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Laila Fitria, Abdur Rahman, Sonny Priajaya Warouw, Didi Purnama
Abstrak: Pajanan kronis benzena di lingkungan kerja selalu dihubungkan dengan gangguanhematologi. Hal ini dikarenakan sistem hematologi adalah jaringan target yangpaling kritis terhadap pajanan benzena melalui rute inhalasi dan diketahui sebagaipenyebab pansitopenia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubunganantara kadar S-PMA urin dengan leukosit pada pekerja industri sepatu informalyang terpajan benzena. Penelitian menggunakan desain cross sectional di enamindustri sepatu informal yang berada di kawasan Cibaduyut dengan jumlah sampel64 pekerja. Sampel urin dan darah diambil pada masing-masing sampel untukmenilai kadar S-PMA urin dan jumlah leukosit. Kadar S-PMA urin diukur denganmenggunakan alat LC-MS/MS dan leukosit diukur menggunakan alat AutomatedHematology Analyzer. Data karakteristik individu diperoleh melalui wawancaralangsung. Konsentrasi benzena di udara menggunakan data sekunder daripenelitian sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubunganyang signifikan antara kadar S-PMA dengan leukosit (p value: 0,048) dan kadarS-PMA urin dengan jenis pekerjaan (p value: 0,004). Sebanyak 31,3% pekerjamemiliki kadar S-PMA urin melampaui BEI ACGIH (>25 μg/g kreatinin).Semakin tinggi konsentrasi benzena di udara ruang kerja, semakin banyak pekerjayang memiliki kadar S-PMA urin >25 μg/g kreatinin. Hasil uji regresi linearganda menemukan bahwa ada kecenderungan asosiasi antara kadar S-PMA urindengan leukosit, setelah dikontrol dengan variabel jenis pekerjaan, jam kerja perhari, dan kebiasaan berolahraga. Hasil penelitian dapat disimpulkan terdapatasosiasi antara kadar S-PMA urin dengan penurunan jumlah leukosit.Kata kunci: benzena, S-phenylmercapturic acid, leukosit, industri sepatu informal
Benzene high exposure in working is environment always connected tohematology disorders. This is caused by hematology system is the most criticaltarget network toward benzene exposure through inhaling route. This study aimsto analyze the relation between urinary and leukocytes S-PMA level of informalshoes industrial workers exposed to benzene. This study uses cross sectionaldesign in six informal shoes industries which are located in Cibaduyut with thenumber of sample of 64 workers. Urinary and blood samples are collected on eachsample to measure urinary S-PMA level and the number of leukocytes. Urinary S-PMA level is measured using Automated Hematology Analyzer. Individualcharacteristic data are obtained through direct interview. To measure benzeneconcentration, secondary data of previous study is used. The result of the studyindicates that there is significant correlation between S-PMA level withleukocytes (p value: 0.048) and urinary S-PMA level with the type of job (p value:0.004). By 31.3% workers have urinary S-PMA level more than BEI ACGIH (>25μg/g creatinine). The higher the benzene concentration of indoor air, the moreworkers have urinary S-PMA level > 25 μg/g creatinine. The result of doublelinear regression test finds that there is association tendency between urinary andleukocytes S-PMA level, after it is controlled by type of job, time of work perday, and exercising habit variables. It can be concluded that there is associationbetween urinary S-PMA level and the number of leukocytes decrease.Keywords: benzene, S-phenylmercapturid acid, leukocytes, informal shoesindustries
Read More
T-4768
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ranti Ekasari; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari, Laila Fitria; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Didik Supriyono, Didi Purnama
T-5448
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cita Fitria Putri; Pembimbing: Suyud; Penguji: Laila Fitria, Budi Hartono, Tugiyo; Sobar
Abstrak: Partikel halus berukuran ≤ 2,5 μm (PM2,5) diketahui menimbulkan risiko kesehatan terbesar bagi manusia karena kemampuannya untuk masuk jauh ke dalam paru-paru dan bahkan aliran darah. Pekerja di industri pengasapan ikan terus terpapar oleh konsentrasi tinggi PM2,5 yang terkandung dalam asap hasil pembakaran. Asap diketahui mengandung berbagai zat radikal bebas yang dapat memicu stres oksidatif pada organ dan jaringan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan konsentrasi PM2,5 di lingkungan kerja dengan kadar MDA yang merupakan salah satu biomarker stres oksidatif. Desain studi yang digunakan adalah Cross-sectional. Subyek penelitian adalah pekerja di pengasapan ikan Bandarharjo Semarang sejumlah 104 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran konsentrasi PM2,5 di udara, pengambilan sampel darah untuk uji kadar MDA, dan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kadar MDA dengan konsentrasi PM2,5 (p=0,007), konsumsi alkohol (p=0,022) dan masa kerja (p=0,019). Konsentrasi PM2,5 di rumah pengasapan skala kecil lebih tinggi dibanding rumah skala sedang dan besar
Read More
T-5707
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Betty Susilowati; Pembimbing: Sri Tjahyani Budi Utami; Penguji: Zakianis, Rionaldo Sutanto
S-7037
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Norjannah; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari, Laila Fitria; Penguji: Budi Hartono, Heri Nugroho, Didik Supriyono
Abstrak: Keberadaan benzena dalam lem alas kaki ini membahayakan kesehatan para pekerja di bengkel alas kaki karena sifatnya yang toksik dan karsinogenik. Dampak yang ditimbulkan adalah terganggunya sumsum tulang yang merupakan tempat produksi sel darah merah, darah putih dan trombosit. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan pajanan benzena melalui pemeriksaan konsentrasi S-phenylmercapturic acid (S-PMA) di urin terhadap kadar trombosit pada pekerja bengkel alas. Desain dari penelitian adalah cross sectional pada pekerja pabrik alas kaki di Desa Sukajaya dengan jumlah sampel 73 pekerja. Sampel yang diambil adalah urin dan darah dari pekerja untuk mengetahui konsentrasi S-PMA dan kadar trombosit. Konsentrasi S-PMA diukur dengan alat LC-MS/MS dan trombosit dengan Automated Hematology Analyzer. Karakteristik individu dengan wawancara secara langsung. Hasil penelitian menunjukkan nilai OR=2,28 antara konsentrasi S-PMA terhadap kadar trombosit. Variabel kebiasaan olahraga dengan OR=1,58 antara olahraga tidak rutin terhadap trombosit dan konsumsi alkohol OR=1,78 antara yang mengkonsumsi terhadap kadar trombosit. Hasil uji regresi logistik multivariabel menunjukkan nilai OR=2,59 pekerja dengan konsentrasi S-PMA (>0,67 μg/g kreatinin) terhadap kadar trombosit setelah dikontrol variabel umur dan konsumsi alkohol.

The existence of benzene in the glue of footwear is endangering the health of the workers in the footwear workshop because of its toxic and carcinogenic nature. The impact is the disruption of the bone marrow which is where the production of red blood cells, white blood and platelets. The purpose of this study was to analyze the relationship of benzene exposure through the examination of S-phenylmercapturic acid (S-PMA) concentration in urine on platelet levels in base workshop workers. The design of the study was cross sectional on footwear factory workers in Sukajaya Village with a sample of 73 workers. Samples taken are urine and blood from workers to know the concentration of S-PMA and platelet levels. The concentration of S-PMA was measured by LC-MS / MS and platelets with Automated Hematology Analyzer. Individual characteristics with direct interview. The results showed the value of OR = 2.28 between S-PMA concentration to platelet level. Variables of exercise habits with OR = 1.58 between non-routine exercise on platelets and alcohol consumption OR = 1.78 among those who consume to platelet levels. Multivariable logistic regression test results showed OR = 2.59 workers with S-PMA concentration (> 0.67 μg / g creatinine) on platelet count after controlled for age and alcohol consumption. 
Read More
T-5462
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lulu Rakhmatsani; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari, Aria Kusuma, Hari Rudijanto Indro Wardono
Abstrak: Tesis ini membahas hubungan konsentrasi paparan PM2,5 dan kadar MDA sebagai biomarker stres oksidatif di lingkungan sebuah pabrik semen. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang dilakukan pada Mei-Juni 2024. Hasil penelitian bahwa konsentrasi PM2,5 dari 10 titik seluruhnya melebihi baku mutu; hasil pemeriksaan kadar MDA urin bervariasi; tidak ada hubungan yang signifikan antara paparan konsentrasi PM2,5 dengan kadar MDA urin; tidak ada hubungan yang signifikan antara karakteristik inidividu dengan kadar MDA urin; namun terdapat hubungan signifikan antara konsentrasi PM2,5 dan radius dengan p value 0,000; terdapat hubungan signifikan antara konsentrasi PM2,5 dan waktu sampling dengan p value 0,000; dan terdapat hubungan yang signifikan antara kadar MDA dan radius dengan p value 0,000. Kesimpulan penelitian menunjukkan tidak adanya hubungan antara paparan PM2,5 dengan kadar MDA, tidak ada hubungan antara karakteristik individu dengan kadar MDA.
This thesis discusses the relationship between PM2.5 exposure concentrations and MDA levels as biomarkers of oxidative stress in the environment of a cement factory. This research is a quantitative study with a cross-sectional design conducted in May-June 2024. The results of the research show that the PM2.5 concentration from all 10 points exceeds the quality standard; urine MDA level examination results vary; there was no significant relationship between exposure to PM2.5 concentrations and urinary MDA levels; there was no significant relationship between individual characteristics and urinary MDA levels; However, there is a significant relationship between PM2..5 concentration and radius with a p value of 0.000; there is a significant relationship between PM2.5 concentration and sampling time with a p value of 0.000; and there is a significant relationship between MDA levels and radius with a p value of 0.000. The research conclusion shows that there is no relationship between PM2.5 exposure and MDA levels, there is no relationship between individual characteristics and MDA levels.
Read More
T-7007
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadya Hasna; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Heri Nugroho
Abstrak: Kesehatan dan keselamatan dalam bekerja merupakan hak bagi setiap pekerja. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi fisik lingkungan di tempat kerja yang biasa menjadi tempat para pekerja beraktivitas sehari-hari masih berpotensi menimbulkan banyak bahaya, Salah satunya adalah bahaya kebisingan. Kebisingan dapat terjadi di tempat kerja baik itu industri maupun non-industri. Pajanannya yang terjadi terus-menerus dan tidak sesuai dengan ketentuan dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan baik itu auditory maupun non-auditory. Oleh karena itu, penelitian ini ingin mengetahui hubungan tingkat pajanan kebisingan dengan keluhan subjektif (non-auditory) yang meliputi penilaian gangguan fisiologis, psikologis dan komunikasi pada 84 pekerja di area unit produksi pabrik tepung PT.X Cilegon, Banten. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara masa kerja, usia, kebiasaan merokok, penggunaan alat pelindung telinga, kebiasaan menggunakan earphone, kebiasaan mendengarkan musik bersuara keras, dan juga pelatihan dengan gangguan fisiologis, psikologis dan komunikasi. Namun, angka kejadian gangguan fisiologis, psikologis dan komunikasi pada pekerja menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu sebanyak 26,2% pekerja mengalami gangguan fisiologis, 47,6% pekerja mengalami gangguan psikologis, dan sebanyak 48,8% pekerja mengalami gangguan komunikasi. Oleh karena itu, perusahaan tetap perlu menindaklanjuti terkait permasalahan kebisingan ini agar tidak menimbulkan risiko dan juga masalah kesehatan yang lebih besar kedepannya.
Kata kunci : Kebisingan, gangguan non-auditory, gangguan fisiologis, gangguan psikologis, gangguan komunikasi.

Health and safety at work are rights of every worker. However, it cannot be denied that the physical condition of the environment in the workplace which is used to be a place for workers to do their daily activities is still potential to cause many hazards, one of which is the danger of noise. Noise can occur in the workplace both industrial and non-industrial. Exposure that occurs continuously and not in accordance with the provisions can cause various health problems both auditory and non-auditory. Therefore, this study wants to find out the relationship between the level of noise exposure and subjective (non-auditory) complaints which include assessment of physiological, psychological and communication disorders of 84 workers in the production unit area of the flour mill PT.X Cilegon, Banten. The results of this study indicate that there is no statistically significant relationship between years of service, age, smoking habits, use of ear protection equipment, habit of using earphones, habit of listening to loud music, and also training with physiological, psychological and communication disorders. However, the incidence of physiological, psychological and communication disorders among workers showed a fairly high rate, namely as many as 26.2% of workers experiencing physiological disorders, 47.6% of workers experiencing psychological disorders, and as many as 48.8% of workers experiencing communication disorders. Therefore, companies still need to follow up related to this noise problem so as not to pose risks and also greater health problems in the future.
Keywords : Noise, non-auditory disorders, physiological disorders, psychological disorders, communication disorders
Read More
S-10241
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ema Fiki Munaya; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi, Budi Hartono; Penguji: I Made Djaja, Didi Purnama, Miftahur Rohim
T-5236
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive