Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41139 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Firda Tania; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji; Mardiati Nadjib, Kurnia Sari, Hasri Dinirianti, Alim A Irsal
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Firda Tania Program Studi: Kajian Administrasi Rumah Sakit Judul : Cost and Outcome Analysis Tindakan Hemodialisis Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) di Rumah Sakit Kelas B dan C Tahun 2016 Latar belakang: GGK merupakan kondisi yang semakin meningkat kejadiannya, menghabiskan banyak biaya dan mengakibatkan hilangnya produktivitas. Sejak 2014, BPJS menanggung sebagian besar biaya hemodialisis (HD) di Indonesia dengan besaran tarif yang berbeda sesuai kelas Rumah Sakit (RS). Pertanyaan penelitian ini ialah apakah tarif BPJS yang dibayarkan lebih tinggi pada kelas RS lebih tinggi menghasilkan hasil yang lebih baik atau malah mencerminkan inefisiensi. Selain itu, perlu diketahui pula apakah terdapat perbedaan biaya yang sebenarnya dikeluarkan RS dengan kelas berbeda untuk menyelenggarakan HD. Metode: Studi evaluasi ekonomi ini dilakukan di dua RS dengan kelas berbeda: kelas B (RS B) dan kelas C (RS C). Responden dipilih dari pasien GGK yang menjalani HD di kedua RS selama Februari-April 2016. Analisis biaya menurut perspektif pasien dengan metode kuantitatif, sedangkan perspektif RS dengan metode kualitatif. Analisis hasil dilakukan penilaian kualitas hidup (instrumen EQ-5D), IDWL dan Hb. Perbedaan rerata nilai hasil diuji dengan Student’s t-test. Hasil: Pada penelitian, total responden sebanyak 100 orang (RS B 76 orang & RS C 24 orang). Menurut perspektif pasien, biaya langsung medis HD selama sebulan di RS B Rp5.215.331 dan di RS C Rp7.781.744. Biaya langsung non medis HD selama sebulan di RS B Rp566.260 dan di RS C Rp334.500. Biaya tidak langsung HD selama sebulan di RS B Rp165.530 dan di RS C Rp45.830. Rerata total biaya HD selama sebulan di RS B Rp6.149.285 dan di RS C Rp8.162.077. Menurut perspektif RS, tidak terdapat perbedaan biaya yang sebenarnya dikeluarkan oleh RS dengan kelas berbeda untuk menyelenggarakan HD. Pada hasil didapatkan bahwa rerata Hb pada RS B (M=10,26) berbeda secara signifikan dengan RS C (M=8,21), t(98)= 8,244, p= 0,000. Rerata IDWL pada RS B (M= 0,0403) tidak berbeda secara signifikan dengan RS C (M= 0,0438), t(98)= -1,326, p= 0, 188. Rerata EQ Indeks pada RS B (M= 0,7178) tidak berbeda secara signifikan dengan RS C (M= 0,7208), t(98)= -0,075 p= 0,94. Rerata EQVAS pada RS B (M= 64,74) tidak berbeda secara signifikan dengan RS C (M= 64,79), t(98)= -0,018 p= 0,986. Kesimpulan: Pada penilaian efektivitas HD tanpa melibatkan tambahan sumber daya, tidak terdapat perbedaan hasil secara signifikan diantara kedua kelas RS. Fakta bahwa pengeluaran yang lebih besar dari BPJS tidak mengakibatkan hasil kesehatan yang lebih baik biasanya diinterpretasikan sebagai bukti adanya inefisiensi. Biaya RS dengan kelas berbeda untuk menyelenggarakan HD pun tidak berbeda karena secara persyaratan sama. Perbedaan biaya medis langsung dari billing RS berkaitan dengan status kepemilikan RS dan perbedaan rerata Hb berkaitan dengan perbedaan akses terhadap koreksi anemia yang ada di kedua RS. Kata Kunci: Cost and Outcome Analysis, Hemodialisis, Kelas RS, Tarif BPJS


ABSTRACT Name : Firda Tania Study Program: Hospital Administration Title : Cost and Outcome Analysis of Hemodialysis on Chronic Kidney Disease (CKD) Patients at Class B and C Hospital in 2016 Background: Chronic kidney disease (CKD) is an increasing condition, which consumes a lot of cost and causes productivity lost. Since 2014, BPJS has covered most of hemodialysis (HD) in Indonesia with different tariff according to hospital’s classification. The research question is whether higher tariff paid to higher hospital class produced better outcome or otherwise reflecting inefficiency. The other question is whether hospital’s real cost to effectuate HD unit was different according to hospital’s class. Methods: This economic evaluation study was conducted in two hospitals with different classification; class B (B Hospital) and class C (C Hospital). Respondents were chosen from CKD patients undergoing hemodialysis in both hospital during Februari to April 2016. Costs from patient’s perspective were analyzed using quantitative method, while hospital’s perspective were analyzed using qualitative method. As outcomes, HRQOL assessed using EQ-5D instrument, mean IDWL & Hb. Differences in outcomes tested using T-test. Results: In this study, total respondents participated were 100 patients; 76 from B hospital and 24 from C hospital. According to patient’s perspective, HD direct medical cost monthly average was IDR 5.215.331 in B hospital and IDR 7.781.744 in C hospital, direct non medical cost monthly average was IDR 566.260 in B hospital and IDR 334.500 in C hospital and indirect cost monthly average was IDR 165.530 in B hospital and IDR 45.830 in C hospital, so total HD cost monthly average was IDR 6.149.285 in B hospital and IDR 8.162.077. According to hospital’s perspective, there were no difference in hospital’s real cost to effectuate HD unit. Outcome results found that mean Hb in B hospital (10,26) were significantly different from mean Hb in C hospital (8,21), t(98)= 8,244, p=0,000. While mean IDWL in B (0,0403) were not significantly different with mean IDWL in C (0,0438), t(98)= -1,326, p=0,188. Mean EQ Indeks score (0,7178) and EQ VAS score (64,74) in B hospital were not significantly different with mean EQ Indeks score (0,7208) and EQ VAS (64,79) in C hospital, t(98)=0,075, p=0,94 and t(98)=-0,018, p=0,986 respectively. Conclusion: This findings showed that in hemodialysis effectivity assessment which did not include the use of additional resources from standard (PMK No. 812/2010), there were no significant difference in outcome in two different class of hospitals. Higher CBGs tariff for higher class of hospital had not produced better health outcome, which usually interpreted as an evidence of inefficiency. Hospital’s real cost to effectuate HD unit were not different since the requirements were the same (PMK 812/2010). Difference in direct medical cost from hospital billing related to hospital’s ownership status and difference of mean Hb related to different access to anemia correction in both hospital. Keywords: Cost & Outcome Analysis, Hemodialysis, Hospital Class, BPJS tariff

Read More
B-1793
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noer Triyanto Rusli; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Prsastuti Soewondo, Pujiyanto, Amila Megraini, Purwa Kurnia Sucahya
Abstrak:

ABSTRAK Nama :    Noer Triyanto Rusli Program Studi :    Kajian Administrasi Rumah Sakit Judul :  Analisis Biaya dan Faktor-Faktor Penentu Inefisiensi Layanan Hemodialisis Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Rumah Sakit RK Charitas Palembang Tahun 2016 Diberlakukannya JKN di rumah sakit mengubah sistem pembayaran dari pembayaran secara retrospektif (fee for service) menjadi sistem pembayaran prospektif (INA-CBG’s) Sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan, RS RK Charitas mempunyai peranan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas namun tetap memperhatikan cost effective pelayanan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya dan mengidentifikasi faktor-faktor penentu inefisiensi layanan hemodialisis pada pasien gagal ginjal kronik di RS RK Charitas. Jenis penelitian ini bersifat analisis deskriptif dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Analisis biaya menggunakan pendekatan Activity Based Costing (ABC) dengan metode “Bottom Up”. Metode ABC untuk mengalokasikan biaya dengan mengidentifikasi pemicu biaya (cost driver) penyebab terjadinya biaya layanan hemodialisis. Beban biaya operasional merupakan beban yang terbesar dalam penyelenggaraan layanan hemodialisis. Analisis faktor-faktor penyebab inefisiensi dilakukan dengan perhitungan Value Stream Mapping (VSM). Komposisi value added (VA) dibanding non value added (NVA) adalah 17.73%:82.27%. Implementasi lean pada layanan hemodialisis dapat mengeliminasi pemborosan. Kata kunci: Analisis biaya, metode ABC, implementasi lean


ABSTRACT Name :   Noer Triyanto Rusli Programme :   Hospital Administration Title :   Analysis of Cost and Determinants of Inefficiency of Hemodialysis Services for Patients with Chronic Renal Failure at RK Charitas Hospital Palembang 2016 Enactment of JKN in hospital changes the payment system from retrospective payment (fee for service) into prospective payment (INA-CBG's). As a healthcare facility, RK Charitas Hospital has a role to provide not only quality but also to consider cost effective of services. This study aimed to analyze costs and identify the determinants of the inefficiency of hemodialysis services in patients with chronic renal failure at RK Charitas Hospital. This is a descriptive analysis research using primary and secondary data. Approach of cost analysis is Activity Based Costing (ABC) with "Bottom Up" method. ABC method is used to allocate costs by identifying cost drivers of hemodialysis services. Operational cost is the biggest expense in the hemodialysis services. Analysis of the inefficiency factors uses the calculation of Value Stream Mapping (VSM). The composition of value added (VA) compared to non-value added (NVA) is 17.73%: 82.27%. Lean implementation on hemodialysis services could eliminate waste. Key words: Cost analysis, ABC method, lean implementation

Read More
B-1855
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Maulina Dewi; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Vetty Yulianty Permanasari, Daya Suryandaru
Abstrak: SJSN pada dasarnya merupakan program negara yang bertujuan memberikepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyatIndonesia. Melalui program ini, setiap penduduk diharapkan dapat memenuhikebutuhan dasar hidup yang layak apabila terjadi hal-hal yang dapatmengakibatkan hilang atau berkurangnya pendapatan, karena menderita sakit,mengalami kecelakaan, kehilangan pekerjaan, memasuki usia lanjut ataupensiun Melalui peraturan presiden nomor 12 tahun 2013 tentang jaminankesehatan ditetapkan pembayaran pelayanan kesehatan tingkat lanjut di rumahsakit menggunakan pembayaran pra upaya (prospective payment) yaitumenggunakan pola INA-CBGs. Penerapan tarif INA-CBGs menimbulkanpolemik bagi rumah sakit karena terdapat selisih bayar yang cukup besarantara tarif rumah sakit dan tarif INA-CBGs.Salah satu komponen yang harusdipersiapkan oleh rumah sakit adalah membuat suatu pedoman pembiayaanberdasarkan cost of treatment berbasis clinical pathways.Prioritas untukpembuatan clinical pathway adalah kasus yang sering ditemui,kasus yangterbanyak,biayanya tinggi,perjalanan penyakit dan hasilnya dapatdiperkirakan,telah tersedia standar pelayanan medis dan standar proseduroperasional.Untuk tindakan herniotomi yang disepakati di RS PMI Bogor ada12 clinical pathway.dengan perhitungan cost of treatment dari yang palingminimal pada kasus herniotomi anak murni Rp 5.368.719,00 sampai yangmaksimal pada herniotomi Tua komplikasi dengan penyerta sebesar Rp9.350.683,00. Dengan adanya perhitungan ini Rumah Sakit memilikipedoman biaya tindakan herniotomi yang bersifat prospective payment. Saranuntuk rumah sakit diharapkan rumah sakit melakukan perhitungan cost oftreatment untuk tindakan yang lain berdasarkan clinical pathway yangdisepakati di RS PMI Bogor.
National Health Insurance System (SJSN) is basically a state program thataims to provide certainty of protection and social welfare for all Indonesianpeople. Through this program, each resident is expected to meet the basicneeds of living where things happen that can lead to lost or reduced income,because of illness, accident, loss of a job, entering old age or retirement.Through a presidential decree number 12 of 2013 about , has set an advancedpayment of health care services in hospitals, using pre-payment efforts(prospective payment) that uses pattern INA-CBGs. Implementation of INA-CBGs rates for hospital became polemic because there is a large enoughdifference in pay between hospital rates and INA-CBGs rates.One of thecomponent that must be prepared by the hospital is making a guideline basedon clinical pathway calculated cost of treatment.Prioritas for the manufactureof clinical pathways are frequently encountered cases, most cases, the cost ishigh, the disease course and outcome can be expected, has provided medicalservice standards and standard procedures operasional.For herniotomyprocedures agreed at the PMI Bogor hospital, there were 12 clinical pathwaywith calculation cost of treatment and the most minimal in the case of a purechild herniotomy Rp 5,368,719.00 to the maximum at Old herniotomy withconcomitant complications of Rp 9,350,683.00. Given this calculationHospital has guidelines herniotomy procedures costs that are prospectivepayment. Suggestions for hospital is expected to perform the calculation ofthe cost of treatment for other actions based on agreed clinical pathways inPMI Bogor hospital.
Read More
B-1599
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bimo Kusumo; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Kurnia Sari, Mardiati Nadjib, Dwi Satrio, Putri Nadia
Abstrak:
Prevalensi penyakit gagal ginjal kronik di Indonesia sebesar 0,38 % atau 3,8 orang per 1000 penduduk, dan sekitar 60% penderita gagal ginjal tersebut harus menjalani dialysis. Penyakit tersebut masih menjadi salah satu penyakit dengan insidensi tinggi di Indonesia dan hampir semua Rumah Sakit memiliki unit hemodialisa untuk melayani pasien tersebut. Kualitas hidup pasien berhubungan dengan minat pasien untuk menjalani terapi hemodialisa di rumah sakit. Semakin rendah kualitas hidup pasien, keinginan untuk sembuh dan menjalani terapi hemodialisa akan semakin turun sehingga dapat memperburuk derajat Kesehatan pasien tersebut. Sampai saat ini di Indonesia belum ada penelitian yang menghubungkan respon penilaian kualitas hidup penderita gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa dengan sistem manajemen Rumah Sakit. Sistem manajemen rumah sakit seharusnya memiliki peran besar dalam memfasilitasi kebutuhan unit hemodialisa baik dari segi pelayanan, fasilitas, kemudahan berobat, sistem biaya, sistem informasi dan edukasi, serta pelayanan pendampingan baik dari tenaga Kesehatan atau non Kesehatan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan instrumen kuesioner WHOQOL-BREF, SERVQUAL dan kualitatif dengan wawancara mendalam terkait layanan rumah sakit baik dari pemberi layanan (tenaga kesehatan) dan penerima layanan (pasien). Hasil dari penelitian ini akan menggambarkan kualitas hidup penderita gagal ginjal kronik, layanan manajemen rumah sakit, dan rekomendasi lanjutan untuk rumah sakit.

The prevalence of chronic kidney disease (CKD) in Indonesia is 0.38%, or 3.8 people per 1,000 population, and approximately 60% of these patients require dialysis. This disease remains a high-incidence condition in Indonesia, and nearly all hospitals have hemodialysis units to serve these patients. A patient's quality of life is related to their willingness to undergo hemodialysis therapy at the hospital. The lower the patient's quality of life, the lower their desire to recover and undergo hemodialysis therapy, which can worsen their health. To date, no research in Indonesia has linked the response to quality-of-life assessments of chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis to hospital management systems. The hospital management system should play a significant role in facilitating the needs of hemodialysis units in terms of services, facilities, ease of treatment, cost systems, information and education systems, and support services from both healthcare and non-healthcare professionals. This study is a quantitative study using the WHOQOL-BREF, SERVQUAL questionnaire and a qualitative study with in-depth interviews related to hospital services from both service providers (healthcare professionals) and service recipients (patients). The results of this study will describe the quality of life of chronic kidney failure patients, hospital management services, and further recommendations for the hospital.
Read More
B-2564
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Leonardo Emil FS; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Mieke Savitri, Budi Hartono, Kuntum Cheyra
B-1185
Depok : FKM-UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Heydi Marizky Lisman; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Mardiati Nadjib, Vetty Yulianty Permanasari, Eka Pujiyanti, Putri Nadia
Abstrak:

Pendahuluan: Salah satu kebijakan Kementerian Kesehatan untuk peningkatan layanan berkualitas adalah pemanfaatan Single Use Dialiser bagi pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menjalani hemodialisis. Rumah Sakit mendapat imbalan tarif baru dan sistem insentif apabila melaksanakan single use dialiser (Permenkes 3/2023). Penelitian ini bertujuan mendapat gambaran kesiapan serta hambatan di Instalasi Dialisis Rumah Sakit dalam menjalankan kebijakan single use dialiser.
Metodologi: Balance scorecard digunakan untuk memotret pelayanan hemodialisis sebelum dan setelah diberlakukan Permenkes Nomor 3 Tahun 2023.
Hasil: Pelayanan HD yang belum menggunakan single use mempengaruhi capaian kinerja tahun 2023. Pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan ditemukan beban kerja perawat yang tidak ideal karena harus mencuci dialiser yang telah dipakai. Pada perspektif proses bisnis intenal terdapat peningkatan kejadian rawat inap pada pasin rutin HD dan ditemukan kejadian dialiser tertukar. Pada perspektif pelanggan menyebabkan turunnya kepuasan pasien, dan pada perspektif keuangan terdapat penurunan rasio profitabilitas.
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa pelayanan HD dengan single use dapat dilaksanakan di Unit Dialisis RS UI. Jika tidak dilaksanakan berpengaruh pada capaian kinerja dalam semua perspektif balance scorecard.


Introduction: One of the Ministry of Health policy to improve quality services is Single Use Dialyzers utilization for National Health Insurance (JKN) patients in outpatient hemodialysis. Hospitals receive new tariff rewards and incentive systems if adpoted single use dialyzers in their services (Permenkes 3/2023). This research aims to obtain an overview of the readiness and obstacles in the Dialysis center in implementing the Single Use Dialyzer policy.  Methodology: Balanced scorecard is used to capture hemodialysis services before and after Ministry of Health Regulation 3/ 2023 implementation. Results: Reuse service affect perfmormance achievement in 2023. In the learning and growth perspective, the nurse's workload was not ideal because they had to wash the dialyzers that had been used. In interbal bisiness process, we found cases of incident of dialyzers being exchanged and incidence of hispitalization among routine patient was increased. In customer perspective, it causes a decrease in patient satiscfaction and financial perspective we found profitability ratios was decreased. Conclusion: This research shows that single use policy can be implemented at University of Indonesia Hospital Dialysis Center. If not implemented, it will have an impact on all balance scorecard perspectives.
Read More
B-2557
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umi Fikria Arif; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Mardiati Nadjib, Dumilah Ayuningtyas, Jusuf Kristianto, Fauzy Masjhur
Abstrak: LATAR BELAKANG: Meskipun dengan penambahan mesin, peningkatan utilisasi dan kunjungan unit hemodialisis Rumah Sakit Baiturrahim Jambi, namun masih banyak masalah terkait fasilitas, dana, pelayanan dan keluhan pasien hemodialisis. TUJUAN: Mengetahui mutu pelayanan unit hemodialisis Rumah Sakit Baiturrahim Jambi dan memperoleh gambaran kualitas hidup pasien yang menjalani hemodialisis di Rumah Sakit Baiturrahim Jambi Tahun 2019. METODE: Penelitian kualitatif dan kuantitatif deskriptif analitik potong lintang dengan menggambarkan mutu pelayanan unit hemodialisis dari segi struktur, proses dan outcome. Dilakukan dengan wawancara mendalam dengan 8 informan terpilih, observasi dan Focus Group Discussion. Kualitas hidup pasien dari 96 pasien HD dilakukan menggunakan kuesioner EQ-5D-5L. HASIL: RS Baiturrahim kekurangan 1 orang dokter spesialis penyakit dalam dan 11 perawat terlatih, 2 dari 5 SPO yang diobservasi belum dilaksanakan dengan optimal, (58,3% dan 72,2%), konseling dan monitoring juga belum optimal. Dari 96 pasien HD yang memiliki kualitas hidup baik sebanyak 62 pasien (64.58%), sedangkan pasien yang memiliki kualitas hidup kurang baik sebanyak 34 pasien (35,41) %. Domain dengan nilai 1 (tidak ada masalah) paling banyak adalah merawat diri (51 pasien, 53%), Sedangkan domain dengan nilai 5 (amat sangat bermasalah) terdapat pada domain kegiatan harian dan rasa cemas (7 pasien, 7%). KESIMPULAN: Mutu Pelayanan unit hemodialisis belum optimal, dan kualitas hidup pasien hemodialisis mayoritas baik.
Read More
B-2138
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amelia Rizki Alrianti; Pembimbing: Yaslis Ilyas; Penguji: Puput Oktamianti, Masyitoh, Dwi Satrio, Mardiana Hayati Solehah
Abstrak:
Hemodialisis adalah terapi pengganti fungsi ginjal yang harus dijalani secara teratur dan jangka panjang, sehingga dapat mempengaruhi kualitas hidup. Berbagai faktor diduga berhubungan dengan kualitas hidup pasien hemodialisis yaitu faktor personal pasien (usia, jenis kelamin, pekerjaan, lama menjalani hemodialisis, tekanan darah, kadang Hb, akses vaskular), dan mutu pelayanan keperawatan. Tujuan penelitan ini untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien hemodialisis dan mutu pelayanan keperawatan unit hemodialisis di RSU "X" Kota Depok tahun 2022. Penelitian ini adalah mix methode kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif dilakukan melalui metode cross sectional dengan pemberian kuisioner kepada 34 responden yang termasuk ke dalam kriteria inklusi, guna menilai kualitas hidup (kuisioner WHOQoL-BREF), mutu pelayanan keperawatan, dan dukungan keluarga responden. Penelitian kualitatif menggunakan wawancara kepada pihak manajemen, perawat pelaksana hemodialisis, pasien hemodialisis, dan keluarga, lalu dilakukan telaah dokumen dan observasi. Hasil penelitian menunjukan mayoritas responden memiliki kualitas hidup baik (61,8%). Hasil statistik menunjukan hanya usia yang merupakan faktor personal yang memiliki hubungan signifikan dengan kualitas hidup. Mutu pelayanan keperawatan menunjukan belum optimal, dan tidak ada hubungan yang siginifikan antara mutu pelayanan keperawatan dengan kualitas hidup responden berdasarkan statistik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas hidup responden sudah baik, namun mutu pelayanan keperawatan unit hemodialisis belum optimal.

Hemodialysis is a replacement therapy for kidney function that must be undertaken regularly and long term, so it can be affect quality of life. Various factors are thought to be related to the hemodialysis patient quality of life, namely patients personal factors (age, gender, occupation, length of time undergoing if hemodialysis, blood pressure, Hb, vascular access), and quality of nursing service. The purpose of this research is to describe the hemodialysis patients quality of life at the "X" Hospital, Depok City in 2022. This study used mix quantitative and qualitative method by administering quitionnares to 34 respondents (WHOQoL-Bref Quitionnares), quality of nursing service, and the respondents family support. Qualitative research used interviews with management, hemodialysis nurses, hemodialysis patients and families, then document review and observation were carried out. The result showed that the majority of respondents had good quality of life (61,8%). The statiscal result show that only age is a personal factor that has significant relationship with quality of life. The quality of nursing service is not optimal, and there is no significant relationship between the quality of nursing service and the reapondent quality of life based on statistics. This study concluded that the respondents quality of life was good, but the quality of nursing service in hemodialysis unit was not optimal.
Read More
B-2301
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nining Setyaningsih; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Pujianto, Ari Purwohandoyo, Solehudin
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya langsung layanan hemodialisis pada pasien dengan gagal ginjal kronik. Desain penelitian ini bersifat analisis deskriptif, yaitu studi kasus yang bertujuan menganalisis biaya satuan layanan hemodialisis pada pasien Gagal Ginjal Kronis (GGK) berdasarkan pendekatan Simple distribution. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data biaya dan non biaya terkait unit hemodialisis tahun 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya langsung unit hemodialisis adalah sebesar Rp. 2.495.272.766,- dengan proporsi terbesar merupakan biaya operasional yaitu 83 %. Biaya satuan langsung yang diperoleh sebesar Rp. 657.343,-., biaya tersebut masih lebih besar dari biaya klaim BPJS untuk layanan hemodialisis yaitu Rp. 923.100,-. Beberapa hal yang dapat rumah sakit lakukan adalah melakukan penghitungan biaya satuan dengan memperhitungkan biaya tidak langsung untuk layanan hemodialisis agar hasil penghitungan biaya satuan layanan hemodialisis lebih akurat, melakukan evaluasi pada pencatatan operasional untuk keseluruhan pelayanan yang ada di rumah sakit guna memudahkan manajemen dalam melakukan analisa biaya.
Read More
T-5678
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Minar Napitupulu; Pembimbing: Prastuti C. Soewondo; Penguji: Atik Nurwahyuni, Kurniasari, I. Ichsan Hanfi, Emmy Salman
B-1653
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive