Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32242 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hasnawati Amqam; Promotor: Umar Fahmi Achmadi; Kopromotor: Budi Haryanto, Irawan Yusuf; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Imam Subekti, Asep Nugraha Ardiwinata, Indang Trihandini, Dewi Susanna
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Penggunaan jangka panjang insektisida klorpirifos (CPF) akan menimbulkan efek
 
pada Thyroid Stimulating Hormone (TSH) dan hormon-hormon tiroid
 
(triidiotironin/T3 dan tirotoksin/T4). Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
 
insektisida CPF terhadap kadar TSH dan hormon-hormon tiroid pada petani sayur
 
dari tinjauan aspek genetik populasi. Studi ini dilakukan dengan desain potong
 
lintang. Terdapat 273 petani sayur yang menjadi subjek, yang diambil pada tiga
 
populasi suku, yaitu Jawa, Sunda, dan Makassar. Terdapat variasi genetik
 
paraoxonase 1 (PON1) pada ketiga populasi dan alel Q banyak ditemukan pada
 
semua populasi. PON1 dapat menjadi prediktor terjadinya gangguan pada kadar
 
hormon-hormon tiroid dan TSH. TCP sebagai metabolit CPF merupakan biomarker
 
kemampuan metabolisme individu terhadap CPF. Pada masyarakat petani yang
 
terpajan klorpirifos, TCP urin yang tidak terdeteksi berperan dalam terjadinya kadar
 
FT3 rendah dan kadar TCP urin yang rendah berperan dalam terjadinya kadar FT4
 
tertil rendah dan kadar TSH tinggi. Efek CPF terhadap ketiga hormon ini diduga
 
terjadi melalui mekanisme terganggunya sistem neurotransmitter dan proses
 
deyodinasi pada perifer dan hati.
 

 
ABSTRACT
 
 
Long-term use of chlorpyrifos (CPF) insecticide will affects Stimulating Thyroid
 
Hormone (TSH) and thyroid hormones (triidiotironin/T3 and tirotoksin/ T4). This
 
study aimed to assess the effect of insecticide CPF on levels of TSH and thyroid
 
hormones of the vegetable farmers as the reviews of population genetic aspects. This
 
study was conducted with a cross-sectional design. There were 273 vegetable farmers
 
as subjects, taken in three population, namely Java, Sunda, and Makassar. There was
 
genetic variation of paraoxonase 1 (PON1) in a population of in the three populations
 
and Q alleles found in all populations. PON1 may be a predictor of causing
 
interference to the levels of thyroid hormones and TSH. TCP as CPF metabolite was
 
a biomarker of individual metabolic capabilities toward CPF. In exposed CPF
 
farming communities, undetected TCP urine played a role in occurrence of low FT3
 
levels while low levels of TCP urine play a role for lower tertile FT4 level and high
 
TSH level. CPF effect to the hormones possiblyoccured through the mechanism of
 
disruption of neurotransmitter system and deiodinase process in peripheral and liver
Read More
D-348
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mery Ramadani; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: Endang Laksminingsih Achadi, Hartono Gunardi; Penguji: Anhari Achadi, Faisal Yunus, Besral, Bambang Wispriyono, Soewarta Kosen, Abas Basuni Jahari,
Abstrak: Rokok merupakan masalah global dan menjadi ancaman serius bagi kesehatan ibu hamil dan janin. Studi kohor prospektif ini, dilakukan untuk menilai pengaruh pajanan pasif asap rokok ibu hamil terhadap gangguan pertumbuhan janin. Melibatkan 128 ibu hamil trimester 3, hamil janin tunggal, tidak memiliki riwayat penyakit kronis, bukan perokok aktif, bukan mantan perokok, dan bersedia terlibat dalam penelitian. Penilaian pajanan asap rokok ibu berdasarkan pemeriksaan nikotin darah tali pusat (cut off ≥1ng/ml). Pengukuran menggunakan nikotin plasma adalah metode yang paling akurat karena dapat mengukur kondisi sebenarnya dan membantu mengurangi misklasifikasi. Gangguan pertumbuhan janin dinilai dengan pengukuran berat lahir, panjang lahir, lingkar kepala, dan berat plasenta. Pengukuran dilakukan segera setelah lahir untuk menjamin ketepatan pengukuran. Analisis uji beda dua mean digunakan untuk mengetahui perbedaan rata rata ukuran gangguan pertumbuhan janin antara kelompok ibu terpajan asap rokok dan tidak terpajan asap rokok. Analisis regresi linier untuk melihat pengaruh pajanan asap rokok terhadap berat lahir, panjang lahir, lingkar kepala dan berat plasenta dengan memperhatikan variabel pengganggu seperti penambahan berat badan ibu selama hamil, BMI ibu, paritas ibu, usia dan kadar hemoglobin ibu. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar nikotin tali pusat sebesar 1,3±2,5 ng/ml. Berat lahir dan berat plasenta bayi dari ibu yang mendapat pajanan asap rokok lebih rendah dibandingkan ibu yang tidak mendapat pajanan asap rokok. Pajanan asap rokok secara signifikan mengurangi berat lahir bayi sebesar 205,6 gram (pvalue = 0,005) dan berat plasenta sebesar 51 gram (p value=0,010).
 

This cohort study examined the effect of secondhand smoke exposure in pregnant women on fetal growth restriction. The study recruited 128 pregnant women in the third trimester pregnancy, single pregnancy, no chronic illness, non-active smokers, non-exsmokers, and who were willing to participate in the study. Pregnant women with the secondhand smoke exposure referred to those with the umbilical cord blood nicotine level of 1ng/ml or higher. Fetal growth disorder was assessed according to the newborn weight, length, head circumference, and palcental weight measured immediately after birth. The independent t-test analysis was used to determine the difference in average size of fetal growth between two groups of pregnant women: exposed and the notexposed to the secondhand smoke. A multiple linear regression analysis was employed to find out the effect of secondhand smoke exposure on birth weight, length, head circumference, and palcental weight controlling for the birth size confounders including weight gain during pregnancy, body mass index, parity, maternal age, and maternal hemoglobin. The study found that mean of nicotine in umbilical cord blood was 1.3±2.5 ng/ml, the birth weight and the placental weight of infants were lower among mothers who exposed than among mothers who did not expose to the secondhand smoke. Exposed to the secondhand smoke reduced the birth weight by 205.6 grams (p value = 0.005) and placental weight by 51 grams (p value=0.010).
Read More
D-395
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurusysyarifah Aliyyah; Promotor: Haryoto Kusnoputranto; Kopromotor: Bambang Wispriyono, Laila Fitria; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Umar Fahmi Achmadi, Mukono; Syafruddin
Abstrak:

Hipertensi merupakan salah satu kondisi medis yang cukup serius karena dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, otak, ginjal dan penyakit lainnya. Wilayah di DKI Jakarta dengan prevalensi hipertensi tertinggi berdasarkan diagnosis dokter yaitu Kota Jakarta Pusat sebesar 12,16%. Partikulat meter organik dan komponen partikulat meter dapat memicu proinflammatory effects pada paru-paru karena kemampuannya mengakibatkan stress oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun model pengaruh pajanan PM2,5 di udara ambien terhadap kejadian hipertensi melalui stress oksidatif dan sitokin inflamasi pada penduduk di Jakarta Pusat. Penelitian dilakukan pada penduduk dewasa (18-65 tahun) di Kota Jakarta Pusat dengan disain studi hybrid cross sectional ecology. Pengumpulan data secara cluster random sampling dengan analisis data dilakukan melalui pemodelan regresi logistik multilevel dan cox regresi proporsional hazard.
Hasil analisis menunjukkan terdapat asosiasi antara PM2,5 di udara ambien dengan biomarker stress oksidatif (IOR PM2,5: 2,185173-2,185176) dan dengan biomarker sitokin inflamasi (IOR PM2,5: 1,21-1,91). Pemodelan multivariat dengan cox regresi proporsional hazard menunjukkan bahwa variabel umur dan indeks massa tubuh merupakan confounder hubungan antara stress oksidatif dengan hipertensi dan antara sitokin inflamasi dengan hipertensi dengan nilai Rasio Prevalens adjusted (95% CI) masing-masing sebesar 1,19 (0,69-2,03) dan 0,99 (0,58-1,72). Dapat disimpulkan bahwa variabel konsentrasi PM2,5 di udara ambien memiliki peran terhadap terjadinya hipertensi, stress oksidatif dan sitokin inflamasi pada penduduk di Jakarta Pusat.


Hypertension is a serious medical condition that can increase the risk of heart, brain, kidney and other diseases. The area in DKI Jakarta with the highest prevalence of hypertension based on doctor diagnosis is Central Jakarta city about 12.16%. Organic particulate matters and particulate matter components can trigger proinflammatory efects in the lung due to their ability to cause oxidative stress. This study aims to develop a model of the Influence of PM2,5 Exposure in Ambient Air on Hypertension Occurrence through Oxidative Stress and Inflammatory Cytokines among residents in Central Jakarta. The study was conducted among adult residents (age 18-65 years) in Central Jakarta with hybrid cross sectional study design. Data collected using cluster random sampling with data analysis carried out through multilevel logistic regression modeling and cox proportional hazard regression. Results show there is an association between PM2.5 in ambient air with oxidative stress biomarkers (IOR PM2.5: 2.185173-2.185176) and with inflammatory cytokine biomarkers (IOR PM2.5: 1.21-1.91). Multivariate modeling with Cox regression proportional hazard shows that age and body mass index are confounders of the relationship between oxidative stress with hypertension and between inflammatory cytokines with hypertension with an adjusted prevalence ratio (95% CI) value of 1.19 (0.69-2.03) and 0.99 (0.58-1.72). It can conclude that concentration of PM2.5 in ambient air has a role on hypertension, oxidative stress and inflammatory cytokine among residents in Central Jakarta.

Read More
D-519
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imelda Gernauli Purba; Promotor: Haryoto Kusnoputranto; Kopromotor: Budi Hartono, Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Bambang Wispriyono, Besral, Mukono, Yuanita Windusari, Rico Januar Sitorus
Abstrak:
ABSTRAK Pajanan organofosfat memicu peningkatan spesies oksigen reaktif, yang menyebabkan stres oksidatif. Stres oksidatif sistemik ini memicu respon peradangan, yang pada gilirannya berkontribusi terhadap patogenesis hipertensi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pajanan organofosfat dengan stres oksidatif dan kejadian hipertensi pada petani di Kecamatan Dempo Utara  Pagar Alam. Desain penelitian ini adalah cross sectional, menggunakan metode analisis risiko kesehatan lingkungan dan epidemiologi kesehatan lingkungan. Sampel petani diambil secara simple random sampling, sebanyak 116 orang. Pemeriksaan residu organofosfat menggunakan LC-MS/MS, dialkil fosfat dengan GC-MS, malondialdehida dengan Spektro UV-Vis, serta tekanan darah menggunakan sphygmomanometer. Pengumpulan data karakteristik perilaku melalui wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat residu organofosfat pada beberapa sampel cabai dan tomat, namun belum menimbulkan risiko kesehatan berdasarkan hasil karakterisasi risiko. Terdapat interaksi  keberadaan dialkil fosfat dan lama menyemprot terhadap stres oksidatit (OR pada ≤ 4 jam/hari=0,73; OR pada ≥4 jam/hari= 0,83). Terdapat interaksi keberadaan dialkil fosfat dan frekuensi menyemprot terhadap stres oksidatif (OR pada<2 kali/minggu=0,73 dan OR pada ≥2 kali/minggu=0,045). Terdapat interaksi keberadaan dialkil fosfat dan lama menyemprot terhadap hipertensi (OR pada ≤4 jam/hari=2,57;dan OR pada >4 jam/hari=0,16). Stres oksidatif tidak berkorelasi  dengan kejadian hipertensi, namun terdapat faktor konfounding yaitu lama menyemprot (OR:3,69(1,46-9,36) dan umur (OR:3,54(1,39-9,07). Kesimpulan penelitian ini adalah lama dan frekuensi menyemprot menjadi effect modifier korelasi keberadaan dialkil fosfat dengan stres oksidatif, sementara lama menyemprot menjadi effect modifier korelasi keberadaan dialkil fosfat dengan kejadian hipertensi. Lama menyemprot dan umur menjadi confounder dalam hubungan stres oksidatif dengan kejadian hipertensi pada petani. Kata kunci : dialkil fosfat, hipertensi, organofosfat, model faktor risiko, risk quotient, stres oksidatif

Exposure to organophosphates triggers an increase in reactive oxygen species, which causes oxidative stress. This systemic oxidative stress triggers an inflammatory response, which in turn contributes to the pathogenesis of hypertension. This study aimed to analyze the relationship between organophosphate exposure, oxidative stress, and the incidence of hypertension among farmers in the Dempo Utara subdistrict of Pagar Alam. The study design is cross-sectional, employing methods of environmental health risk analysis and environmental health epidemiology. A sample of 116 farmers was selected using simple random sampling. Organophosphate residues were analyzed using LC-MS/MS; dialkyl phosphates using GC-MS; malondialdehyde levels were determined using UV-Vis spectroscopy; and blood pressure using a sphygmomanometer. Behavioral characteristics were collected through interviews using a questionnaire. Data analysis was performed using the chi-square test and multiple logistic regression. The results revealed the presence of organophosphate residues in some chili and tomato samples; however, these did not pose a health risk based on the risk characterization findings. There was an interaction between the presence of dialkyl phosphates and spraying duration regarding oxidative stress (OR for ≤ 4 hours/day = 0.73; OR for ≥ 4 hours/day = 0.83). There was an interaction between the presence of dialkyl phosphates and spraying frequency regarding oxidative stress (OR for <2 times/week = 0.73 and OR for ≥2 times/week = 0.045). There was an interaction between the presence of dialkyl phosphates and duration of spraying on the risk of hypertension (OR for ≤4 hours/day = 2.57; and OR for >4 hours/day = 0.16). Oxidative stress was not correlated with the incidence of hypertension; however, there were confounding factors, namely spraying duration (OR: 3.69 [1.46–9.36]) and age (OR: 3.54 [1.39–9.07]). The conclusion of this study is that spraying duration and frequency act as effect modifiers for the association between the presence of dialkyl phosphates and oxidative stress, while spraying duration acts as an effect modifier for the association between the presence of dialkyl phosphates and the incidence of hypertension. Spraying duration acts as a confounder in the relationship between oxidative stress and the incidence of hypertension among farmers. Keywords: dialkylphosphate, hypertension, organophosphate, oxidative stress, risk quotient, risk factor model

Read More
D-654
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurfanida Librianty; Promotor: Bambang Wispriyono; Kopromotor: Haryoto Kusnoputranto, Anna Rozaliyani, Penguji: Faisal Yunus, Besral, Arief Budi Witarto
Abstrak: Pandemi Coronavirus diseases 2019 (COVID-19) membuat krisis kesehatan global. Pajanan lama PM, NO2, CO, O3 berefek negatif terhadap pasien COVID-19. Beberapa penelitian menunjukkan hubungan signifikan kerentanan genetik terhadap efek polutan udara terhadap penyakit, seperti pasien COVID-19 dengan polimorfisme ACE rs4646994 atau ACE2 rs2285666 dapat memiliki derajat lebih berat. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh pajanan PM2,5, NO2, O3, kondisi iklim, polimorfisme ACE rs4646994 dan ACE2 rs2285666, usia, IMT, serta komorbid hipertensi, penyakit jantung, asma dan DM terhadap derajat COVID-19. Data lingkungan didapatkan dari BMKG dan subjek berdomisili radius < 3 km dari Stasiun Metereologi Kemayoran dengan membagi menjadi kelompok pasien derajat asimtomatik-ringan dan sedang-berat. Pemeriksaan polimorfisme diambil dari sampel swab bukal. Data dilakukan analisis regresi logistik. Hasil penelitian ini mendapatkan pasien COVID-19 dengan polimorfisme ACE2 rs2285666 genotip AA akan berisiko 9,128 kali mengalami derajat lebih berat. Polimorfisme ACE rs4646994, pajanan PM2,5, NO2 serta komorbid tidak berhubungan signifikan dengan derajat COVID-19. Pajanan O3, temperatur rendah, kelembaban rata-rata tinggi, sedikit sinar matahari, dan IMT tinggi secara signifikan memperberat COVID-19 pada analisis bivariat. Penelitian ini menyimpulkan polimorfisme ACE2 rs2285666 genotip AA merupakan faktor risiko memberatnya derajat COVID-19. Pajanan O3, IMT, temperatur minimum, temperatur rata-rata, kelembaban rata-rata dan lama penyinaran matahari dapat berperan terhadap derajat COVID-19.
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) pandemic created a global health crisis. Prolonged exposure to PM, NO2, CO, O3 has a negative effect on COVID-19 patients. Several studies have shown a significant relationship between genetic susceptibility to the effects of air pollutants on disease, such as COVID-19 patients with ACE rs4646994 or ACE2 rs2285666 polymorphisms can have a more severe degree. The aim of this study was to analyze the effect of exposure to PM2.5, NO2, O3, weather conditions, ACE rs4646994 and ACE2 rs2285666 polymorphisms, age, BMI, and comorbidities (hypertension, heart disease, asthma, and DM) on the degree of COVID-19. Environmental data were obtained from the BMKG and the subjects were domiciled within a radius of <3 km from the Kemayoran Meteorological Station by dividing the patients into asymptomatic-mild and moderate-severe groups. Polymorphism examination was taken from a buccal swab sample. Logistic regression was used to analyze the data. The results of this study found that COVID-19 patients with the polymorphism ACE2 rs2285666 genotype AA would be 9.128 times more at risk of experiencing a more severe degree. Polymorphism ACE rs4646994, exposure to PM2.5, NO2 and comorbidities were not significantly related to the degree of COVID-19. O3 exposure, low temperature, high average humidity, fewer durations of sunlight, and high BMI significantly aggravate COVID-19 in bivariate analysis. This study concluded that the polymorphism ACE2 rs2285666 genotype AA is a risk factor for the severity of COVID-19. Exposure to O3, BMI, minimum temperature, average temperature, average humidity, and duration of sunlight can play a role in the degree of COVID-19.
Read More
D-473
Depok : FKM UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elly, Nur/ Promotor: Djuwita, Ratna/ Kopromotor: Purwantyastuti; Rimbawan/ Penguji: Laksminingsih, Endang; Rini Sekartini, Besral, Mira Dewi, Noer Laily
D-396
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retno Windya Kusumaningtyas; Promotor: Trini Sudiarti; Kopromotor: Diah Mulyawati Utari, Noer Laily; Penguji: Besral, Endang Laksminingsih, Ratu Ayu Dewi Sartika, Sri Anna Marliyati, Dwi Nastiti Iswarawanti
Abstrak:
Defisiensi vitamin D pada ibu hamil di Indonesia masih tinggi yaitu lebih dari 60%, berkaitan dengan berbagai risiko kesehatan ibu dan dampak pada janin seperti gangguan pertumbuhan tulang dan berat lahir rendah. Fortifikasi vitamin D pada produk olahan perikanan diharapkan dapat meningkatkan asupan vitamin D sehingga memperbaiki status vitamin D ibu hamil. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh intervensi sup teri (Stolephorus indicus) instan fortifikasi vitamin D terhadap kadar kalsidiol ibu hamil, berat lahir, dan panjang lahir bayi di Kabupaten Tangerang. Penelitian diawali dengan produksi tepung teri, optimasi formula sup teri instan, pengujian mutu kimia dan sensori untuk menentukan formula terbaik. Intervensi dilakukan pada ibu hamil trimester kedua menggunakan desain two groups pre–post test dengan purposive sampling. Kelompok perlakuan diberi sup teri instan fortifikasi vitamin D, kelompok kontrol diberi sup instan tanpa teri dan tanpa vitamin D. Sup dikonsumsi empat kali per minggu selama 5 bulan atau hingga persalinan. Kadar kalsidiol ibu diukur awal dan akhir intervensi. Food Recall (FR) 24 jam dilakukan di awal, pertengahan, dan akhir intervensi. Analisis data menggunakan jumlah subjek dengan tingkat kepatuhan konsumsi produk intervensi >=80% (n=65), terdiri dari kelompok perlakuan (n=30) dan kelompok kontrol (n=35). Kelompok perlakuan memiliki rerata kadar kalsidiol akhir lebih tinggi yaitu 26,51±4,25 ng/mL dibandingkan kelompok kontrol yaitu 23,61±7,56 ng/mL. Setelah dikontrol dengan kalsidiol awal dan kecukupan vitamin D baseline, intervensi berhubungan signifikan dengan peningkatan kalsidiol akhir dengan selisih adjusted mean 5,14 ng/mL (95%CI: 0,023–10,259; p=0,049). Model multivariat berat lahir signifikan dengan R²=0,688, p < 0,001 dengan faktor yang berperan adalah kelompok perlakuan, panjang lahir, kalsidiol awal, pertambahan berat badan ibu selama hamil, dan kecukupan protein baseline. Model multivariat panjang lahir juga signifikan dengan R²=0,505; p < 0,001 dengan faktor yang berhubungan adalah berat lahir. Produk sup teri instan terfortifikasi vitamin D ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu alternatif makanan tambahan untuk ibu hamil berbasis produk hasil laut yang enak, praktis dan mudah disajikan.

Vitamin D deficiency among pregnant women in Indonesia remains high, affecting more than 60% of pregnant women, and is associated with various maternal health risks and adverse fetal outcomes, including impaired bone growth and low birth weight. Vitamin D fortification in fish-based processed products is expected to improve vitamin D intake and consequently enhance vitamin D status among pregnant women. This study aimed to determine the effect of vitamin D-fortified instant anchovy (Stolephorus indicus) soup intervention on maternal calcidiol levels, birth weight, and infant birth length in Tangerang Regency. The study began with anchovy flour production, optimization of instant anchovy soup formulation, and chemical and sensory quality evaluations to determine the best formula. The intervention was conducted among second-trimester pregnant women using a twogroup pre–post test design with purposive sampling. The treatment group received vitamin D-fortified instant anchovy soup, while the control group received instant soup without anchovy and without vitamin D fortification. The soup was consumed four times per week for five months or until delivery. Maternal calcidiol levels were measured at baseline and endline. Twenty-four-hour food recall assessments were conducted at baseline, midline, and endline. Data analysis included subjects with ≥80% compliance to the intervention product consumption (n = 65), consisting of the treatment group (n = 30) and the control group (n = 35). The treatment group had a higher mean final calcidiol level of 26.51±4.25 ng/mL compared to the control group of 23.61±7.56 ng/mL. After controlling for initial calcidiol and baseline vitamin D adequacy, the intervention was significantly associated with an increase in final calcidiol with a mean adjusted difference of 5.14 ng/mL (95%CI: 0.023–10.259; p=0.049). The multivariate model for birth weight was significant with R²=0.688, with contributing factors including treatment group, birth length, initial calcidiol, weight gain during pregnancy, and baseline protein adequacy. The multivariate model for birth length was also significant with R²=0.505; Associated factors was birth weight. This vitamin D-fortified instant anchovy soup showed promise as an alternative seafood-based nutritional supplement for pregnant women due to its palatability, convenience, and ease of preparation.
Read More
D-648
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Septiawati; Promotor: Bambang Wispriyono; Kopromotor: Laila Fitria, Fathimah Sulistyowati Sigit; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Besral, Yuanita Windusari, Nurjazuli, Lusyta Puri Ardhiyanti
D-641
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raditya Wratsangka; Promotor: Budi Utomo; Ko-Promotor: Achmad Biben, Budi Hidayat; Penguji: Sudijanto Kamso, Budi Utomo, Achmad Biben, Adi Hidayat, Sudarto Ronoatmodjo, Kusharisupeni, Djamhoer Martaadisoebrata
D-253
Depok : FKM-UI, 2011
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rismarini; Promotor: Budi Haryanto; Kopromotor: Ratna Djuwita, Hartono Gunadi; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Puji Lestari, Muhyatun, Laila Fitria
Abstrak: Anak-anak yang tinggal di kawasan penambangan rentan terhadap paparan timbal. Diperkirakan terdapat 1 dari 3 anak atau mencapai sekitar 800 juta anak di seluruh dunia memiliki kadar timbal darah pada kisaran 5 mikrogram per desiliter (µg/dL) atau lebih. Paparan timbal pada anak menyebabkan kerusakan sistem saraf pusat dan penurunan IQ. Metode pada penelitian ini bersifat kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan di Kecamatan Muntok dan Simpang Teritip. Populasi penelitian ini adalah seluruh anak usia 2 - 9 tahun beserta ibunya yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Besar sampel penelitian adalah 190 pasangan ibu dan anak. Pengumpulan data dimulai dengan pendataan identitas responden, pengukuran tinggi badan dan lingkar kepala anak, penilaian intelligence quotient (IQ) dan pengisian kuesioner rumah tangga, FFQ (Food Frequency Quessionaire), formulir food recall 24 hours dan HOME Short Form oleh ibu responden.Terakhir, darah vena anak didonorkan untuk dianalisis kadar timbal darah dan hemoglobinnya. Temuan studi menunjukkan bahwa prevalensi anak dengan kadar timbal darah > 5 µg/dL dan IQ rendah masing-masing 57,9% dan 56,3%. Dalam analisis multivariat, kadar timbal darah secara signifikan berhubungan dengan IQ rendah pada anak (p = 0,044), di mana anak dengan kadar timbal darah > 5,5 µg/dL berisiko 1,6 kali untuk memiliki IQ rendah dibandingkan dengan anak dengan kadar timbal darah < 5,5 µg/dL setelah dikontrol oleh variabel kadar hemoglobin, lingkar kepala, pendidikan ibu dan stimulasi
Read More
D-456
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive