Ditemukan 31385 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Kata kunci : Analisis beban kerja perawat, Formula Ilyas, metode Ilyas, perencanaan kebutuhan perawat, RSU Kelas D, work sampling, WISN In 2014
Puskesmas Kecamatan Ciracas transformed into RSU Kelas D ciracas. There was no standard in nurse staffing needs based on workload analysis. The aim of this research is to propose the nurse staffing needs. The study was conducted in November 2016. Using quantitative method, workload was calculated using work sampling, nursing time and Ilyas method. Indepth interviews and document review were conducted in qualitative approach. Nurse staffing needs were determined using WISN and Ilyas formula. There were differences observed in the needs between WISN and Ilyas formula. This research should serve as the basis in calculating nurse staffing needs in RSU kelas D.
Keywords : Ilyas Formula, Ilyas method, nurse staffing need, workload analysis RSU Class D, work sampling, WISN.
ABSTRAK Kebutuhan dan anggaran obat riil di RSUD Pemangkat diakhir tahun selalu lebih besar dari anggaran obat yang disediakan di awal perencanaan. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi permasalahan yang berkaitan dengan perencanaan kebutuhan dan anggaran obat di RSUD Pemangkat melalui metode kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan perencanaan kebutuhan dan anggaran obat di RSUD Pemangkat tidak sesuai dengan perencanaan yang dibuat. Hal ini disebabkan karena kurangnya kemampuan tenaga farmasi dalam perencanaan obat dan pengelolaan perbekalan farmasi dan keterlibatan tenaga medis dalam perencanaan kebutuhan obat dan data pemakaian obat yang belum akurat. Selain itu, Rumah sakit juga belum mempunyai Standar Prosedur Operasional untuk perencanaan anggaran obat , formularium rumah sakit dan kurangnya komunikasi antara instalasi farmasi dan manajemen rumah sakit selama proses penyusunan anggaran. Akibatnya menghasilkan perencanaan anggaran dan persediaan item obat yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Penelitian ini menyarankan RSUD Pemangkat membentuk tim penyusun anggaran dan pelatihan sumber daya manusia di instalasi farmasi dan menyusun formularium rumah sakit. Instalasi farmasi dan manajemen harus selalu berkonsolidasi dalam penyusunan maupun pelaksanaan anggaran obat sehingga tercapai perencanaan kebutuhan dan anggaran obat yang efisien dan efektif sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan operasional rumah sakit.
ABSTRACT The real need for drug item and budget at Pemangkat Hospital has always been larger than the initiated budget at planning stage. The purpose of this study is to identify problems of drug planning and budgeting that have been implemented in Pemangkat Hospital, using qualitative method. The study shows that the drug planning and budgeting at Pemangkat hospital were not in accordance with the planning has been made. This was caused by the lack of ability of pharmaceutical personnel in the planning and management of pharmaceutical drugs, lack of involvement of medical personnel in the drug planning and inaccurate drug consumption data. The hospital also does not have Standard Operating Procedures for budget planning and hospital formularies and lack of communication between hospital pharmacy and hospital management during preparation budgeting process. Consequently, the drug budget and supply was not in accordance with the hospital needs. This study suggests that Pemangkat Hospital need to have the budgeting team, provide training for human resources in pharmacy instalation and formularies. Pharmacy instalation and the hospital management should always consolidate in the drug need planning and implementation in order to make planning and drug budgeting according to the needs and operational capability of Pemangkat Hospitals.
This operation research is to find out drug planning and controlling at Zahirah General Hospital in 2010. The first step of this research was qualitative one, about drug logistic cycle of Zahirah General Hospital, mainly on planning and controlling. It was done by deep interviews and observations. The second step was conducting ABC and ABC critical index analyses. The third step was forecasting the use of group A Critical Index drugs in 2010 by using the 10 time series method of WinQSB 2.0 Version program, the best method is chosen by the smallest bias parameter. Based on this information, Economic Order Quantity (EOQ) and Re Order Point (ROP) were calculated.
Dari pengamatan terhadap pola kegiatan perawat diperoleh hasil penggunaan waktu produktif perawat di Instalasi Rawat Inap 64,45%, dan waktu tidak produktif 35,54%. Berdasarkan data primer yang berhasil dikumpulkan, setelah diolah oleh Formula (Gillies, PPNI, Ilyas) dan data sekunder terkait seputar pengetahuan seputar pekerjaan, keterampilan dan sikap, diperoleh kesimpulan bahwa jumlah tenaga perawat di Instalasi Rawat Inap sejumlah 10 orang. Jumlah ini sesuai dengan jumlah perawat saat ini.
Kata kunci: Analisis kebutuhan tenaga, perawat, Instalasi Rawat Inap
This thesis aims untuki know the analysis of energy needs in Inpatient RSIA SamMarie Basra 2014. The research background is the increasing number 3 beds, the percentage of overtime, center hospital revenue. The calculation formula used is the formula (Gillies, PPNI, Ilyas). This research is quantitative with observation (time and motion study), qualitative in-depth interviews and document review. Primary data were collected through observation during the 8 days of work, and conduct in-depth interviews to informants related to research in RSIA SamMarie Basra.
From the observation of the pattern of activity nurses obtained results using productive time nurse in Inpatient 64.45%, and 35.54% unproductive time. Based on primary data collected, after being processed by Formula (Gillies, PPNI, Ilyas) and related secondary data regarding knowledge about jobs, skills and attitudes, it is concluded that the number of nurses in Inpatient some 10 people. This number corresponds to the number of nurses today.
Keywords: Analysis of energy needs, nurses, Inpatient
Perlunya rumah sakit merencanakan ulang SDM-nya, biasanya didahului oleh adanya rencana perubahan pelayanan atau adanya gejala yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan itu sendiri. Perawat, yang merupakan tenaga kesehatan terbanyak di rumah sakit, paling intens berhubungan dan melayani pelanggan rumah sakit selama hampir 24 jam terutama di ruang rawat. Namun masih ada keluhan terhadap kualitas pelayanan keperawatan yang belum memuaskan pelanggan. Kualitas pelayanan keperawatan ditentukan antara lain oleh kecukupan jumlah tenaga perawat yang melayani pasien, profesionalisme perawat, dan struktur serta proses dalam memberikan asuhan keperawatan. RSUD Depati Hamzah (RSDH) Pangkalpinang, sebagai rumah sakit rujukan (Kelas C) di Propinsi Kepulauan Bangka-Belitung, saat ini menghadapi masalah, antara lain adanya pernyataan kekurangan tenaga perawat dan kepuasan pelanggan yang masih rendah terhadap pelayanan keperawatan. Dalam beberapa bulan ke depan. RSDH berencana untuk meningkatkan statusnya menjadi kelas B. Untuk dapat mengatasi permasalahan di atas dan untuk memberikan kontribusi bagi peningkatan kelas RSDH, pemenuhan jumlah kebutuhan dan kualifikasi perawat merupakan salah satu solusi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuinya jumlah kebutuhan tenaga perawat, baik dari segi jumlah maupun kualifikasinya. di RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang, khususnya di InstaJasi Rawat Inap, pada saat ini dan di saat terjadi perubahan status menjadi Kelas B. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Pebruari-Maret 2008. Berdasarkan hasil observasi jumlah dan klasifikasi tingkat ketergantungan pasien yang dirawat, dengan metode/rumus Douglas, serta dengan menerapkan Model Praktik Keperawatan Profesianal (MPKP), penulis berupaya untuk menghitung dan mengetahui jumlah riel kebutuhan tenaga perawat dan proporsi kualifikasi pendidikan perawat yang dibutuhkan di Instalasi Rawat Inap RSDH pada saat ini dan di saat terjadinya peningkatan status menjadi Kelas B. Hasil observasi, sebegian besar (67,05%) pasien yang dirawat di 6 ruang rawat RSDH termasuk pasien yang membutuhkan parawatan persial (partial care), 29,24% pasien dengan tingkat ketergantungan minimal (minimal care), dan kategori total care hanya 3,71 %. Hasil perhitungan, di 6 ruang rawat yang diteliti, yang saat ini terdapat 81 orang perawat ternyata sebenarnya dibutuhkan 106 orang perawat untuk melayani pasien. Saat RSDH meningkat menjadi kelas B. di 6 ruang rawat tersebut dibutuhkan 142 orang perawat. Di 6 ruang rawat RSDH saat ini dalam keadaan kekurangan sejumlah tenaga perawat dan diperlukan pembenahan/perbaikan dalam hal proporsi kualifikasi pendidikan perawat. Penambahan sejumlah perawat profestonal dan pembenahan proporsi kualifikasi pendidikan perawat mutlak diperlukan di saat RSDH meningkat menjadi kelas B. Pemerintah Kota Pangkalpinang dan Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah (RSDH) Kota Pangkalpinang seharusnya membuat perencanaan jumlah kebutuhan dan kualifikasi pendidikan SDM keperawatan. Manajemen SDM keperawatan di RSDH perJu ditata untuk dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada pelanggan. Untuk mendapatkan data yang lebih mendekati kenyataan tentang rata-rata jumlah dan tingkat ketergantungan pasien yang dirawat setiap bulannya sebagai dasar bagi penentuan jumlah kebutuhan perawat di instaiasi rawat inap, sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan dengan cara disampling/dipilih beberapa bulan dalam satu tahun untuk dilakukan observasi dan pengkajian jumlah dan kondisi pasien yang dirawat.
The requirement of hospital human resource plans review, usually preceded by existence of plan of health service change or existence of related to the symptom of health care it self. Nurse, whose is the majority health personnel in hospital, most frequently get in touch and serve hospital customer during 24 hour especially in hospital ward. Nevertheless, hospital customers are still dissatisfied to the nursing care quality. Nursing care quality is determined by sufficiency of numbers of nurses needed that serve patient, nurse professionalism, and structure and process in giving of the delivery of nursing care. Depati Hamzah Local Government's C Class Generol Hospital (RSDH) at Pangka1pinang, as the referral hospital in Bangka-Belitung Archipelago Province, at this time face problems, for example existence of short-handed statement lack of nurse and customer satisfaction that related to the nursing care services is still low in rank. In a few month forwards, RSDH is plan to improve its status becomes B Class General Hospital. To be able to overcome those problems above and to give contribution for the hospital class improvement, fulfill numbers of nurses needed and improving nurse qualification at ward is one of solution. Research object is to know it numbers of nurses needed, either from its quantity facet or qualification, in RSDH, especially in hospitaJ ward, today and when happened status change becomes B Class General Hospital. Research is executed on February-March 2008. Base on result of observation on numbers of patients and level classification dependable patient taken care of in ward, with Douglas's method/formula, and by applying Professional Nursing Care Practice Model (MPKP), researcher copes to count/calculate and know amount riel numbers of nurses needed and proportion of nurse education qualification that required in hospital ward installations at RSDH today and when the happening of status improvement becomes B Class General Hospital. Observation result, a large part of patients that taken care of in six wards of RSOH (67-05%) are entered patient classification that require partial treatment (partia! care), 29-24% patients by dependable level minimize (minimiz care), and total care category only 3,71%. Calculation result. in six wards, at this time existed 81 nurses, in the reality required 106 nurses to serve the patients. At the moment that RSDH level becomes B Class General Hospital, in that six wards referred as required amount 142 nurses. In six wards of RSDH is in a state of nurse shortage and needed correction in the case of proportion of nurse education qualification at this time. Addition of a number of professional nurse and correction of education qualification proportions were absolute needed at this moment and when RSDH level becomes B class general Hospital. Pangkalpinang city's Government and Depati Hamzah General Hospital (RSDH) of Pangkalpinang ought to makes planning of numbers of nurses needed and education qualification of nurse. Health personnel. especially nursing personnel management in RSDH must be improved to be able to give optimal service to the hospital customers. To get data that more come near fact about the average of amount and level dependable patient that taken care of in ward per month as base for determination of numbers of nurses needed in ward installation, better conducted continuation research by sampling method or by selected some months in a one year for conducted observation and amount assessment and patient condition taken care of.
