Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33683 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Astia Dwiputri Lestari; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Wachyu Sulistiadi, Budi Imam Santoso, Amila Megraini
Abstrak: Salah satu kunci dari kesuksesan rumah sakit dalam menjalankan program JKN adalah manajemen klaim yang baik. Jika kinerja bagian klaim buruk maka akan berdampak pada operasional rumah sakit. Malcolm Baldrige merupakan salah satu kerangka model bisnis untuk meningkatkan kinerja organisasi yang dapat diaplikasikan di bidang pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan menganalisis secara komprehensif tentang analisis pengelolaan klaim pasien BPJS dengan menggunakan pendekatan Malcolm Baldrige di Unit Rekam Medis RSUPN DR. Cipto Mangunkusumo. Desain penelitian ini adalah sequential eksplanatory design (urutan pembuktian), dengan didahului oleh penelitian kuantitatif pada 32 orang dengan cara pengisian 60 pertanyaan kuesioner dan dilanjutkan penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam dengan teknik snowball pada empat orang informan. Hasil penelitian menunjukan variabel manajemen proses dan pengukuran, analisis, dan manajemen pengetahuan yang memiliki p value < 0.05 (0.009 dan 0.049). Simpulan dari penelitian ini adalah hanya variabel manajemen proses dan pengukuran, analisa dan manajemen pengetahuan yang secara signifikan dapat untuk memprediksi hasil kerja pengelolaan proses klaim BPJS di unit rekam medis RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Sistem rekam medis elektronik, pelatihan pegawai, kebijakan kelengkapan penulisan resume medis disarankan untuk mempercepat pengelolaan proses klaim BPJS. Kata kunci: Klaim, BPJS, Malcolm Baldrige, Manajemen Rumah Sakit One of the keys to success when hospital implemented a national health insurance program is a good claims management. If hospital had a poor performance claims unit it will have an impact on hospital operations. Malcolm Baldrige framework is one business model to improve organizational performance that can be applied in the field of health care. The purpose of this study was to determine and analyze in a comprehensive analyze of the claim national health insurance management using the Malcolm Baldrige approach in Medical Record Unit RSUPN DR. Cipto Mangunkusumo. Design of this study is a sequential explanatory design, preceded by a quantitative study on 32 people fill out 60 questions of a questionnaire and continued qualitative research with in-depth interviews with the snowball technique on four informants. The results showed variable process management and measurement, analysis, and knowledge management has p value less than 0.05 (0.009 and 0.049). Conclusions from this study is only variable process management and measurement, analysis and knowledge management that can significantly to predict the result of the management of the claims process in medical record unit RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Electronic medical record system, employee training, policies about completeness writing medical resume advisable to accelerate the claims management process. Keyword: Claims, National Health Insurance, Malcolm Baldrige, Hosiptal Management
Read More
T-4822
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anindyajati Tyas Nareshwarie; Pembimbing : Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Wachyu Sulistiadi, Budi imam Santoso, Amila Megraini
Abstrak: Kelengkapan dokumen rekam medis merupakan hal yang sangat penting karena mempengaruhi kualitas pelayanan suatu rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kelengkapan rekam medis Di Unit Rawat Inap Departemen Obstetri Dan Ginekologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo berdasarkan criteria Malcolm baldrige. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, pengumpulan data dengan cara wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih ada 90% rekam medis yang tidak lengkap pada bagian identitas, 6,25% pada tanggal dan waktu, 16,25% pada informed consent, dan 5% pada ringkasan pulang. Kendala yang dihadapi antara lain beban kerja yang tinggi, jumlah pasien banyak, form pengisian rekam medis yang terlalu tebal, software EHR (Electronic Health Record) sering eror dan loading. Saran pada penelitian ini antara lain mengganti pengisian rekam medis dengan sistem elektronik, memperbaiki koneksi internet agar stabil, mengirim staf rekam medis ke unit rawat inap, menyediakan dokter di unit rekam medis. Kata Kunci: Rekam Medis, Kelengkapan, Malcolm Baldrige
Read More
T-4821
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dolly Linneke Djawa; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Puput Oktamianti, Purnawan Junadi, Yusneti, Yudhia Fratidhina
Abstrak:

Pelayanan kesehatan yang berkualitas salah satunya dapat dinilai dari lamanya waktu tunggu pelayanan. Waktu tunggu yang lama di rawat jalan akan menghambat pelayanan dan menyebabkan penumpukan pasien serta inefisiensi pelayanan. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis alur pelayanan online untuk mengurangi waktu tunggu pasien di Poliklinik Kebidanan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dengan pendekatan metode lean. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Variabel yang dianalisis meliputi alur pelayanan pasien, cycle time, lead time, takt time, current state, value added activity, non value added activity, waste, fishbone diagram, dan future state. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, wawancara mendalam, dan telaah dokumen. Hasil penelitian didapatkan rata-rata total lead time adalah 109,6 menit. Waktu tunggu paling cepat di pendaftaran 23,3 menit dan paling lama di farmasi 121,3 menit. Value added activities sebesar 13,2 % dan non value added activities sebesar 86,8%. Nilai value-to-waste ratio 15,2%. Hal ini menunjukan bahwa pelayanan belum dalam kondisi lean. Waste yang ditemukan adalah defect, transportation, motion, waiting dan over processing. Analisis future state dengan penerapan metode lean dapat menurunkan non value added menjadi 75% dan jika ditambah digitalisasi pengiriman obat akan menurunkan non value added menjadi 66 %. Usulan peneliti adalah dengan melakukan perbaikan jangka pendek, menengah dan panjang melalui program pelaksanaan metode lean yang berkelanjutan.


Quality health services can be assessed by the length of waiting time. Long waiting times in outpatient care will hamper services and cause patient accumulation and service inefficiencies. This study aims to analyze the flow of online services to reduce patient waiting time at the Obstetric and Gynecology Polyclinic of Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital using the lean method approach. This study used quantitative and qualitative research. The variables analyzed include patient service flow, cycle time, lead time, takt time, current state, value added activity, non-value added activity, waste, fishbone diagram, and future state. Data collection techniques using observation, in-depth interviews, and document review. The results showed that thevaverage total lead time was 109,6 minutes. The fastest waiting time in registration is 23,3 minutes and the longest in pharmacy is 121,3 minutes. Value added activities amounted to 13,5 % and non-value added activities amounted to 86,5%. The value-to-waste ratio is 15.2%. This shows that the service is not yet in a lean condition. Waste found is defect, transportation, motion, waiting and over processing. Future state analysis with the application of lean methods can reduce non-value added to 75% and if digitalization of drug delivery is added, non-value added will decrease to 66%. The researcher's proposal is to make short, medium and long term improvements through a sustainable lean method implementation program.

Read More
T-6948
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hsu Chong Jen; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Puput Oktamianti, Purnawan Junadi, Suriadi, Indra Maryunif
Abstrak:
Rumah sakit merupakan tempat layanan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, sedangkan dewasa ini rumah sakit terus bertambah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga sangat penting bagi rumah sakit untuk memberikan pelayanan yang berkualitas. Oleh karena itu penilaian kinerja rumah sakit sangat dibutuhkan agar dapat memberikan pelayanan yang maksimal dan dapat bersaing. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui analisis kinerja rumah sakit menggunakan pendekatan Malcolm Baldrige di rumah sakit Tzu Chi Hospital tahun 2023. Metode penelitian menggunakan pendekatan metode campuran serentak, dimana penelitian kuantitatif dan kualitatif dilakukan pada waktu yang sama untuk mendapatkan persepsi penilaian kinerja dari sudut karyawan dan pimpinan. Sampel penelitian kuantitatif didapatkan dengan cara propotional stratified random sampling dengan jumlah 283 responden dan penelitian kualitatif dengan sampel 8 orang dengan purposive sampling yang terdiri dari pimpinan rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan kinerja kepemimpinan mendapatkan nilai 71,47 (60%), Perencanaan strategis 45,64 (54%), Fokus pelanggan 52,13 (61%), pengukuran, analisis, dan manajemen pengetahuan 50,15 (56%), Tenaga kerja 49,43 (58%), Operasional 49,52 (59%), Hasil 256,73 (57%), dengan total nilai 565,7 (56,7%) yang artinya kinerja rumah sakit pada tingkat good performance. Masing-masing kategori dimensi proses memiliki hubungan dengan dimensi hasil (pvalue 0,001), dengan kategori fokus tenaga kerja yang memiliki hubungan paling kuat dengan hasil (r 0,713).

The hospital is a place for health services to improve the health status of the community, while today the number of hospitals continues to grow to meet the needs of the community, so it is very important for hospitals to provide quality services. Therefore, hospital performance appraisal is needed in order to provide maximum service and be competitive. This research was conducted with the aim of knowing the analysis of hospital performance using the Malcolm Baldrige approach at Tzu Chi Hospital in 2023. The research method uses a simultaneous mixed methods approach, where quantitative and qualitative research is carried out at the same time to get perceptions of performance appraisal from the point of view of employees and leader. Quantitative research samples were obtained by means of proportional stratified random sampling with a total of 283 respondents and qualitative research with a sample of 8 people with purposive sampling consisting of hospital leaders. The results showed that leadership performance scored 71.47 (60%), strategic planning 45.64 (54%), customer focus 52.13 (61%), measurement, analysis and knowledge management 50.15 (56%). Workforce 49.43 (58%), Operations 49.52 (59%), Results 256.73 (57%), with a total score of 565.7 (56.7%) which means the hospital's performance is at a good performance level. Each category of process dimension has a relationship with the results dimension (p-value 0.001), with the workforce category having the strongest relationship with results (r 0.713).
Read More
T-7152
Depok : FKM UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retno Wulandari; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Dumilah Ayuningtyas, Didik Supriyono, Wayan Sri Agustini
Abstrak:
Untuk meningkatkan keterjangkauan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar, beberapa puskesmas di Indonesia telah dinaikkan statusnya menjadi puskesmas rawat inap, termasuk juga di Kabupaten Bogor. Jumlah kunjungan pasien rawat inap selama beberapa tahun terakhir tidak mengalami peningkatan yang berarti, bahkan selama 2 tahun terakhir mengalami penurunan. Padahal selama kurun waktu tersebut ada penambahan dua puskesmas rawat inap. Masih belum diketahui apakah rendahnya kunjungan pasien tersebut berhubungan dengan kinerja unit rawat inap yang bersangkutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran hasil kinerja dan faktor-faktor orgasnisasi yang berhubungan dengan kinerja unit pelayanan rawat inap di puskesmas Kabupaten Bogor tahun 2020 berdasarkan kriteria Malcolm Baldrige, yaitu kepemimpinan; perencanaan strategis; fokus pada pelanggan/pasien; pengukuran, analisis dan manajemen pengetahuan; fokus pada tenaga kerja, dan manajemen proses. Desain penelitian ini adalah sequential explanatory dengan menggunakan metode gabungan (mixed methods) antara kuantitatif dan kualitatif. Penelitian melibatkan 168 responden dari 13 puskesmas rawat inap di Kabupaten Bogor, untuk selanjutnya dilakukan analsis data menggunakan Uji Chi Square dan regresi logistik ganda. Wawancara mendalam dilakukan terhadap 8 orang informan dari beberapa puskesmas terpilih dan 1 orang informan dari dinas kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi responden yang menilai kinerja unit pelayanan rawat inap sudah baik (54,2%) lebih besar daripada proporsi responden yang menilai kinerja unit pelayanan rawat inap kurang baik (45,8%). Berdasarkan skor Malcolm Baldrige, sembilan puskesmas berada pada kriteria benchmark leader sedangkan empat puskesmas lainnya berada pada kriteria industry leader. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ada hubungan antara perencanaan strategis (p-value=0,011), pengukuran analisis dan manajemen pengetahuan (p-value=0,003) dan manajemen proses (p-value=0,011) dengan hasil kinerja unit pelayanan rawat inap. Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kinerja dalam penelitian ini adalah variabel pengukuran analisis dan manajemen pengetahuan (OR=7,678). Rekomendasi penelitian ini adalah percepatan pembuatan payung hukum perda retribusi BLUD oleh pemerintah daerah Kabupaten Bogor, penambahan frekuensi pengadaan kegiatan update keilmuan dan pelatihan untuk tenaga kesehatan dan tenaga pengelola data dan informasi puskesmas, pengelolaan suara pelanggan yang lebih baik oleh puskesmas, serta sistem penghargaan yang lebih kreatif dan inovatif oleh kepala puskesmas.

To increase community affordability towards basic health services, several Public Health Center (PHC) in Indonesia have been upgraded to inpatient PHC, including in Bogor Regency. The number of inpatient visits during the last few years did not increase significantly, even during the last 2 years decreased. Even though during that period there were two new inpatient PHC unit. It is still unknown whether the low level of patient visits is related to the performance of that inpatient PHC unit. The purpose of this study was to determine the performance description and organizational factors related to the performance of inpatient PHC unit at the Bogor  Regency in 2020 based on Malcolm Baldrige's criteria: leadership; strategic planning; patient focus; measurement, analysis and knowledge management; workforce focus, and process management. The design of this research is sequential explanatory by using mixed methods between quantitative and qualitative. The study involved 168 respondents from 13 inpatient PHC in Bogor Regency. Data analized with Chi Square Test and multiple logistic regression. In-depth interviews were conducted with 8 informants from selected PHC and 1 informant from Bogor Public Health Office. The results showed that the proportion of respondents who rated the performance of the inpatient PHC unit as good (54.2%) was greater than the proportion of respondents who rated the performance of the inpatient PHC unit as not good (48.2%). Based on Malcolm Baldrige's score, nine PHC are in the benchmark leader criteria while four other PHC are in the industry leader criteria. The results also show that there is a relationship between strategic planning (p-value=0.011), measurement analysis and knowledge management (p-value=0.003) and process management (p-value=0.011) with the results of the performance of inpatient services. The most dominant variable related to performance in this research is measurement, analysis and knowledge management (OR = 7.678). Recommendations for this study are the acceleration of BLUD legal protection making by the local government of Bogor Regency, increasing the frequency of scientific update activities and training for health workers and data management personnel at the PHC, better management of patient voices by the PHC, and a better reward system by the chief of PHC.

Read More
T-5963
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fini Fajrini; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yulianty Permansari, Z. Kamaruzzaman
S-6222
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tahani; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Amalia Megraini, Didik Budijanto
Abstrak: Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), idealnya merupakan gatekeeper padasistem kesehatan dimanapun, termasuk di Indonesia. Hal ini mengingat upaya kendalimutu dan kendali biaya harus di lakukan sejak kontak pertama pasien dengan pelayanankesehatan yaitu di tingkat pelayanan ini. BPJS-Kesehatan berupaya memaksimalkan mutudan fungsi pelayanan primer pada seluruh FKTP dari berbagai kategori, juga memotivasiFKTP untuk berlomba menjadi yang terbaik, oleh karena itu BPJS-Kesehatan PrimaryCare Award 2014 diadakan. BPJS-Kesehatan Primary Care Award 2014 diselenggarakansejak April hingga Oktober 2014, proses pemilihan FKTP terbaik dilakukan denganpendekatan pemilihan yang berjenjang dari tingkat kantor cabang, divisi regional hinggake tingkat nasional, menghasilkan 5 (lima) FKTP terbaik tingkat nasional, FKTP hasilpemilihan tersebut menarik untuk diteliti sebagai FKTP percontohan bagi FKTP lain diseluruh Indonesia.

Ditinjau dengan pendekatan Malcolm Baldrige, FKTP percontohan dapat dianalisis faktor-faktor yang menghantarkannya sebagai pemenang, hasilmenunjukkan bahwa enam variabel independen dari tujuh kriteria Malcolm Baldrige,yaitu kepemimpinan, perencanaan strategis, fokus pada pelanggan dan pasar, sisteminformasi manajemen, fokus pada staf dan fokus pada proses, memiliki hubungan denganvariabel dependen yaitu hasil kinerja organisasi.

Studi kualitatif penelitian inimenunjukkan bahwa masing-masing kategori FKTP yaitu Klinik Pratama, Dokter PraktekPerorangan, Puskesmas dan klinik TNI/POLRI memiliki keunggulannya masing-masingditinjau dari Kriteria Malcolm Baldrige, hal ini merupakan sebuah bahan rekomendasisekaligus evaluasi bagi penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS-Kesehatan) danregulator sistem kesehatan (Kemkes) agar membenahi FKTP yang ada dan menciptakanFKTP yang ideal di seluruh Indonesia.

Kata Kunci: FKTP, BPJS-Kesehatan, Pelayanan Kesehatan Primer, Dokter LayananPrimer, Malcolm Baldrige
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), ideally be the gatekeepers on healthsystems in all states, including in Indonesia. effective efforts to quality control and costcontrol should be done since patients do the first contact with health services in PrimaryHealth care. BPJS- Kesehatan strives to maximize the quality and function of the primaryservice on the whole FKTP of various categories, as well as motivate FKTP for a race tobe the best, therefore the BPJS-Kesehatan Primary Care Award 2014 was held. BPJS-Kesehatan Primary Care Award 2014 held since April to October 2014, the best FKTP selection process conducted with a selection of tiered approaches starts from the level ofbranch offices, regional division offices to the national level, producing five best nationallevel FKTP, FKTP election results are interesting for research, FKTP as for the examinedFKTP throughout Indonesia.

Reviewed by Malcolm Baldrige approximation, Bestpractices of FKTP can be analyzed by factors that passed it as the winner, the resultsshowed that six of the seven independent variables Malcolm Baldrige, leadership,strategic planning, customer and market focus, information systems management,focusing on staff and focus on the process, have a correlation to the dependent variablei.e. performance results of the organization.

Study of the qualitative research indicatesthat each category of FKTP i.e. the Clinic Pratama, individuals Practice Doctor,PUSKESMAS and clinics TNI/POLRI have respective advantages in terms of MalcolmBaldrige Criteria, this Result is a recommendation and evaluation materials forHealthcare providers (BPJS-Kesehatan) and regulators of health systems (Kemkes) inorder to restructure the existing FKTP and create the ideal FKTP throughout Indonesia.

Key Words : Primary Health Care, BPJS-Kesehatan, Health Practitioner, medical doctor,FKTP, DLP, Malcolm Baldrige
Read More
T-4297
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sugiarto; Pembimbing: Yaslis Ilyas; Penguji: Amal C. Sjaaf, Pujiyanto, Rahayu Astuti, Cori Tri Suryani
Abstrak:
Sistem kesehatan pada pandemi Covid-19 ini didorong untuk mampu beradaptasi untuk melakukan pemenuhan kebutuhan dalam penanganan penyakit tersebut. Sistem kesehatan dapat bertahan dengan dukungan sumber daya yang cukup di fasilitas kesehatan terutama adanya SDMK yang memadai, terlatih dan kompeten. RSCM merupakan fasilitas kesehatan rujukan nasional dan pendidikan. Dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, RSCM telah terakreditasi nasional dan internasional. Standar akreditasi mengutamakan keselamatan pasien sebagai prioritas utama dalam pelayanan yang diberikan. Salah satu penerapan keselamatan pasien di rumah sakit adalah dengan memastikan SDMK yang ada telah terkualifikasi, terlatih dan kompeten. SDMK yang terkualifikasi, terlatih dan kompeten dapat dilakukan pemberian penugasan klinis melalui proses kredensial yang merupakan syarat dalam akreditasi rumah sakit. Penugasan klinis yang diberikan merupakan rekomendasi penilaian kompetensi dari mitra bestari dalam memastikan SDMK yang terkualifikasi, terlatih dan kompeten berdasarkan portofolionya. Pemberian penugasan klinis diajukan melalui proses kredensial. Dan kredensial ini telah dilakukan pada kelompok medik dan perawat namun belum ada kebijakan penyelenggaraan kredensial SDMK kelompok lainnnya. Radiografer adalah salah satu SDMK yang melakukan pelayanan kesehatan pada pasien sehingga rumah sakit harus memastikan keselamatan pasien dengan penapisan SDMK yang ada di unit layanan. Penelitian ini bertujuan mengetahui penerapan penugasan klinis dalam proses kredensial, penetapan kompetensi, pengaruh penugasan klinis dalam penempatan, pengaruh penugasan klinis dalam jenjang karir dan pengaruh penugasan klinis dalam pengembangan kompetensi. Penelitian ini menggunakan teori Avedis Donabedian dengan variabel penugasan klinis yang mempengaruhi variabel penempatan, jenjang karir dan pengembangan kompetensi. Hasil penelitian didapatkan bahwa penugasan klinis Radiografer diberikan melalui proses kredensial, penetapan penugasan klinis menggunakan assessment kompetensi Radiografer, penempatan Radiografer yang diterapkan masih terdapat ketidaksesuaian dengan penugasan klinis yang diberikan, penugasan klinis Radiografer berdasarkan kompetensi dapat meningkatkan kompetensi dan insentif, dan pengembangan kompetensi tidak sepenuhnya dari penugasan klinis Radiografer yang diberikan. Kesimpulan didapatkan bahwa penerapan pemberian penugasan klinis Radiografer berdasarkan kompetensi dapat dilakukan kepada semua kelompok SDMK dengan menggunakan assessment kompetensi yang dapat diimplementasikan dalam penempatan, jenjang karir dan pengembangan kompetensi. Rekomendasi penelitian ini yaitu penyelenggaraan kredensial SDMK selain dokter dan perawat dalam pemberian penugasan klinis SDMK dapat dilakukan sehingga perlu adanya kebijakan yang mengatur dan memperkuat penyelenggaraan di fasilitas kesehatan. Kata kunci:  Penugasan klinis, kredensial, Sumber Daya Manusia Kesehatan, kompetensi, Radiografer

The health system in the Covid-19 pandemic is encouraged to be able to adapt to meet the needs in the treatment of the disease. The health system can survive with the support of sufficient resources in health facilities, especially the availability of adequate, trained and competent human resources. RSCM is a national reference health and education facility. In improving the quality of health services, RSCM has been accredited nationally and internationally. Accreditation standards prioritize patient safety as a top priority in the services provided. One of the implementation of patient safety in the hospital is to ensure that the existing human resources are qualified, trained and competent. Qualified, trained and competent human resources can be given clinical assignments through a credential process which is a requirement in hospital accreditation. The clinical assignment provided is a competency assessment recommendation from a smart partner in ensuring that HR is qualified, trained and competent based on its portfolio. The award of clinical assignments is submitted through a credentialing process. And this credential has been done on the medical and nurse groups but there is no policy to implement the credentials of other groups' SDMK. Radiographer is one of the human resources who perform health services to patients so that the hospital must ensure the safety of patients by filtering the human resources in the service unit. This study aims to determine the application of clinical assignment in the credential process, competency determination, the influence of clinical assignment in placement, the influence of clinical assignment in career level and the influence of clinical assignment in competency development. This study uses Avedic Donabedian theory with clinical assignment variables that affect the variables of placement, career level and competency development. The results showed that the clinical assignment of radiographers is given through a credential process, the determination of clinical assignment using Radiographer competency assessment, the placement of Radiographers applied is still inconsistent with the clinical assignment given, clinical assignment based on competence can increase competence and remuneration, and competency development Radiographer clinical assignment given. The conclusion is that the application of Radiographer clinical assignment based on competence can be done to all groups of human resources by using competency assessment that can be implemented in placement, career level and competency development. The recommendation of this research is that the implementation of SDMK credentials other than doctors and nurses in the provision of clinical assignments of SDMK can be done so that there is a need for policies that regulate and strengthen the implementation in health facilities. Keywords: Clinical assignments, credentials, Health Human Resources, competencies, Radiographers
Read More
T-6434
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosikin; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Mardiati Nadjib, Srinagar M. Ardjo, Utami Noor Sya`baniyah
Abstrak: Latar belakang: Glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomor dua terbesar di dunia setelah katarak. Diperkirakan akan ada 79,4 juta pasien glaukoma pada tahun 2020 di seluruh dunia, prevalensi glaukoma di Indonesia adalah 0,5%. Gejala glaukoma sering tidak disadari karena menyerupai gejala penyakit lain sehingga diagnosis glaukoma terlambat yang mengakibatkan terjadinya kebutaan total. Dari hasil penelitian seminat glaukoma tahun 2013-2014 di Poliklinik Mata RSCM didapatkan 64 pasien dengan glaukoma sudut terbuka 51,4% kondisi lanjut, 13,5% sudah buta total, 76 pasien dengan glaukoma sudut tertutup 41,4% kondisi lanjut, 26,4% buta total.
Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kepatuhan kontrol pasien glaukoma di Poliklinik Mata RSUP. Dr. Cipto Mangunkusumo tahun 2017.
Metode: Penelitian menggunakan rancangan crossectional. Populasi adalah pasien glaukoma yang berkunjung di Poliklinik Mata RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo bulan Juli-September 2017. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan skala sikap.
Hasil: Kepatuhan kontrol pasien glaukoma di Poliklinik Mata RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo bulan Juli-September 2017 adalah 74%. Berdasarkan analisis bivariat didapatkan variabel yang berhubungan dengan kepatuhan kontrol pasien glaukoma adalah lama menderita (0,000), tingkat pengetahuan (0,000), motivasi berobat (0,000), dukungan keluarga (0,000) dan peran tenaga kesehatan (0,000). Berdasarkan analisis multivariat, motivasi berobat mempunyai pengruh terbesar dalam kepatuhan kontrol pasien glaukoma (OR =12.015).
Kesimpulan: Perlunya peran serta keluarga, tenaga kesehatan dalam memberikan dukungan terhadap pasien glaukoma supaya timbul motivasi untuk disiplin dalam program pengobatan dan patuh untuk kontrol sesuai jadwal.
Kata kunci: Kepatuhan kontrol, glaukoma, rumah sakit

Background: Glaucoma is the second largest cause of blindness in the world after cataracts. It is estimated that there will be 79.4 million glaucoma patients by 2020 worldwide, the prevalence of glaucoma in Indonesia is 0.5%. Symptoms of glaucoma are often unrecognized because they resemble other symptoms of the disease so that the late glaucoma diagnosis results in total blindness. From the research of glaucoma seminar in 2013-2014 in RSCM, 64 patients with open-angle glaucoma were 51,4% advanced condition, 13,5% were totally blind, 76 patients with closed angle glaucoma 41,4% advanced condition, 26, 4% total blindness.
Objective: The objective of this research is to know what factors are related to compliance control of glaucoma patients in Poliklinik Mata RSUP. Dr. Cipto Mangunkusumo in 2017.
Methods: The study used crossectional design. The population is glaucoma patients who visit the Eye Poliklinik Mata RSUP. Dr. Cipto Mangunkusumo from July- September 2017. The instrument used is questionnaire with attitude scale.
Results: Compliance of control of glaucoma patients at Eye Polyclinic of Dr. Cipto Mangunkusumo from July to September 2017 is 74%. Based on the bivariate analysis, the variables related to the control compliance of glaucoma patients were long suffering (0,000), knowledge level (0,000), treatment motivation (0,000), family support (0,000) and the role of health workers (0.000). Based on multivariate analysis, motivation of medication has the biggest influence in compliance control of glaucoma patients (OR = 12.015).
Conclusion: The need for family participation, health personnel in providing support to glaucoma patients to generate motivation for discipline in treatment programs and adherence to controls on schedule.
Keywords: Compliance control, glaucoma, hospital
Read More
T-5116
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Isati; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Indah Rosana Djajadiredja, Amila Megraini
Abstrak: Akreditasi merupakan salah satu kebijakan pemerintah meningkatkan pelayanankesehatan puskesmas yang bermutu dan berkesinambungan. Malcolm Baldrige sebagaikerangka kerja ekselen untuk evaluasi sistem pelayanan kesehatan dengan menilai diridan memperbaiki mutu organisasi. Penelitian ini menggunakan kuesioner MalcolmBaldrige dan bab 7 (tujuh) akreditasi Permenkes yaitu layanan klinis berorientasi pasienuntuk mengetahui gambaran mutu layanan layanan klinis rawat jalan puskesmasakreditasi dan non akreditasi dan mengetahui hubungan kepemimpinan, strategi, fokuspasien, manajemen pengetahuan dan informasi, fokus staf dan proses kerja dengan hasil.Penelitian kuantitatif dengan skoring Malcolm Baldrige, sampel penelitian sebanyak126 responden dengan teknik purposive sampling. Hasil skor Malcolm Baldrigediperoleh skor rata-rata A-D-L-I (approach-deployment-learning-integration) dan Le-T-C-I (level-trend-comparison-integration) < 30%. Kedua jenis puskesmas berada padalevel kinerja poor. Puskesmas akreditasi berada pada kriteria early result dan nonakreditasi dengan kriteria early development. Kepemimpinan, strategi, fokus pasien,informasi dan analisis, fokus staf, dan proses mempunyai hubungan signifikan denganhasil layanan klinis rawat jalan. Puskesmas belum banyak dokumentasi layanan klinisrawat jalan, pendekatan belum optimal, perbaikan bila ada masalah dan belumterintegrasi antar unit layanan. Puskesmas akreditasi dan non akreditasi perlumeningkatkan mutu layanan klinis rawat jalan dan mengevaluasi diri dengan kerangkakerja ekselen Malcolm Baldrige.
Read More
T-5298
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive