Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36172 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Laras Mira Safitri; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Sandra Fikawati, Misti
Abstrak: Prehipertensi pada remaja berperan penting terhadap peningkatan risiko kejadian hipertensi pada masa dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dan dominan terhadap prehipertensi pada remaja usia 14-17 tahun di SMA Al-Azhar 3 Jakarta berdasarkan jenis kelamin, riwayat hipertensi keluarga, status gizi (IMT/U), aktivitas fisik, asupan natrium, durasi tidur, dan kebiasaan merokok. Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah cross-sectional dengan melibatkan 142 responden kelas X dan XI. Intrumen yang digunakan, yaitu kuesioner, sfigmomanometer merkuri dan stetoskop, timbangan digital, dan microtoice. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi prehipertensi sebanyak 40,8%. Terdapat hubungan yang bermakna pada variabel jenis kelamin, riwayat hipertensi keluarga, status gizi (IMT/U), asupan natrium, dan durasi tidur. Status gizi (IMT/U) terutama status gizi gemuk merupakan faktor dominan kejadian prahipertensi dengan odds ratio sebesar 5,998. Dianjurkan untuk penelitian selanjutnya menggunakan desain penelitian yang berbeda, sampel yang lebih banyal, dan variabel lainnya yang belum pernah diteliti pada penelitian yang serupa.

Prehypertension among adolescenses plays important role on raising the risk of hypertension among adults. The purpose of this study is to know the related and dominant factors of prehypertension among 14-17 years old adolescence in SMA Al-Azhar 3 Jakarta based on sex, family history of hypertension, nutritional status (BMI), physical activiy, sodium intake, and sleep duration, and smoking habit. This study used cross-sectional design. Total of 142 respondents from grade X and XI were included in this study. Instruments used are questionnaires, mercury sfigmomanometer, stethoscope, digital scales, and microtoice The result of study shows that prehypertension prevalence is 40.8%. There is significant correlation in sex, family history of hypertension, nutritional status (BMI), sodium intake, and sleep duration. Nutritional status (BMI), especially overweight, is the dominant factor of prehypertension with odds rasio of 5.998. It is suggested to measure other variables that have not been measured in similiar research. Keywords : Prehypertension, nutritional status, physical activity, sleep duration, sodium intake, adolescence
Read More
S-9332
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiffani Managam Victoria; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Engkus Kusdinar Acmad, Mury Kuswari
S-9402
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Vitria Camelia; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Wahyu Kurnia, Masti
Abstrak: PENGUKURAN TEKANAN DARAH MENJADI SANGAT PENTING, KARENA BANYAK KASUSNYA YANG TIDAK TERDETEKSI SEHINGGA PENGUKURAN TEKANAN DARAH SECARA RUTIN. KASUS PRE HIPERTENSI PADA REMAJA CUKUP TINGGI BERDASARKAN HASIL DARI RISKESDAS TAHUN 2013 YAITU SEBESAR 5,3%. DIPERLUKAN PENGUKURAN PENGGANTI YANG AKURAT DAN MUDAH SEBAGAI PENGGANTI ALAT PENGUKUR TEKANAN DARAH. TUJUAN PENELITIAN UNTUK MENGETAHUI UKURAN PENGGANTI YANG MEMILIKI KORELASI DAN VALIDITAS OPTIMAL UNTUK MENDETEKSI KASUS PRE HIPERTENSI PADA SISWA-SISWI SMA ISLAM AL-AZHAR 3 JAKARTA BERSERTA CUT-OFF POINT NYA. DESAIN PENELITIAN ADALAH CROSS SECTIONAL DENGAN TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL METODE STRATIFIED RANDOM SAMPLING. PENELITIAN DILAKUKAN TERHADAP 180 SISWA DAN SISWI KELAS X DAN XI YANG TERDIRI DARI 109 LAKI-LAKI DAN 71 PEREMPUAN. KESIMPULANNYA IMT MENURUT UMUR MENJADI UKURAN ANTROPOMETRI PENGGANTI TERBAIK UNTUK MEMPREDIKSI PREHIPERTENSI PADA REMAJA REMAJA DENGAN CUT OFF POINT YANG DAPAT DIGUNAKAN YAITU 0,880 SD UNTUK REMAJA LAKI-LAKI DAN 0,325 SD UNTUK PEREMPUAN.
KATA KUNCI: TEKANAN DARAH, PREHIPERTENSI, IMT, REMAJA.

BLOOD PRESSURE MEASUREMENT BECOMES VERY IMPORTANT, BECAUSE MANY CASES ARE NOT DETECTED SO THAT THE BLOOD PRESSURE MEASUREMENT ROUTINELY. PRE-HYPERTENSIVE CASES IN ADOLESCENTS ARE QUITE HIGH BASED ON THE RESULTS OF RISKESDAS IN 2013 OF 5.3%. AN ACCURATE AND EASY REPLACEMENT MEASUREMENT IS NEEDED INSTEAD OF A BLOOD PRESSURE MEASURING DEVICE. THE PURPOSE OF THIS RESEARCH IS TO KNOW THE SIZE OF THE SUBSTITUTION THAT HAS THE CORRELATION AND THE OPTIMAL VALIDITY TO DETECT PRE HYPERTENSION CASES IN THE ISLAMIC HIGH SCHOOL STUDENTS OF AL-AZHAR 3 JAKARTA ALONG WITH ITS CUT-OFF POINT. THE RESEARCH DESIGN WAS CROSS SECTIONAL WITH STRATIFIED RANDOM SAMPLING METHOD. THE STUDY WAS CONDUCTED ON 180 STUDENTS AND STUDENTS OF CLASS X AND XI CONSISTING OF 109 MEN AND 71 WOMEN. THE IMT CONCLUSION BY AGE HAS BEEN THE BEST ANTHROPOMETRIC REPLACEMENT MEASURE FOR PREDICTING PREHYPERTENSION IN ADOLESCENT ADOLESCENTS WITH CUT OFF POINTS THAT CAN BE USED IE 0.880 SD FOR MALE ADOLESCENTS AND 0.325 SD FOR WOMEN.
KEYWORDS: BLOOD PRESSURE, PREHYPERTENSION, IMT, ADOLESCENTS.
Read More
S-9472
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gadis Rizky Zakiyah; Pembimbing: Engkus Kusdinar Achmad; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Mury Kuswari
Abstrak: Alat ukur persen lemak tubuh yang akurat dinilai mahal dan memiliki rosedur yang sulit, sehingga dibutuhkan alternatif lain untuk menilai persen Lemak tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pengukuran Antropometri yang paling akurat dalam mendeteksi kasus overweight dengan Menggunakan bia sebagai golden standard. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-mei 2017 pada remaja di sma al-azhar 3 jakarta usia 14-17 tahun dengan Jumlah sampel sebesar 107 laki-laki dan 71 perempuan. Desain studi yang Digunakan adalah cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan imt/u memiliki Nilai koefisien korelasi paling tinggi pada kedua jenis kelamin (r=0,88). Validitas Yang paling baik dalam mendeteksi kasus overweight juga ditunjukkan oleh Pengukuran imt/u pada kedua jenis kelamin, dengan cut-off points pada laki-laki Sebesar +0,77 sd (se:86,6%; sp:85,0%; npp:89%; npn: 81%; lr+:5,77; lr-:0,16). Pada perempuan memiliki cut-off points imt/u sebesar +0,09 sd (se:93,1%; sp:95,0%; npp:95%; npn:96%; lr+:13,80; lr-:0,05).
Kata kunci: Persen lemak tubuh, bia, overweight, remaja, imt/u

Accurate instruments to measure percent body fat are expensive and haved ifficult procedures, so another alternative to measure percent body fat are Needed. This study aims to obtain the most accurate anthropometric measurement in evaluating overweight with bia as a golden standard. This study was conducted in april-may 2017 and the respondents are adolescent in senior high school student of al-azhar 3 jakarta (14-17 years old) with a total number of respondents were 107 boys and 71 girls. This study is a cross sectional design. The results showed that bmi/age had the highest coefficient correlation value in both sexes (r=0,88). In addition, bmi/age also had the best validity in detecting overweight in both sexes, with a cut-off points +0,77 sd (se:86,6%; sp:85,0%; Ppv:89%; npv: 81%; lr+:5,77; lr-:0,16) in boys and +0,09 sd (se:93,1%; Sp:95,0%; ppv:95%; npv:96%; lr+:13,80; lr-:0,05) in girls.
Keywords: Percent body fat, bia, overweight, adolescent, bmi/age
Read More
S-9496
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mery Ramadani; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Kusharisupeni, Salimar
S-4082
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Venna Rahmawati Fatimah; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Ahmad Syafiq, Hartono
Abstrak: Gangguan perilaku makan yang didefinisikan sebagai perilaku makan yang tidak normal seperti praktik dari penggunaan obat pencahar, bingeing, membatasi asupan makan dan metode tidak memadai lainnya untuk menurunkan atau mengontrol berat badan dengan frekuensi terjadinya kurang dari yang dibutuhkan untuk memenuhi kriteria penuh untuk didiagnosis sebagai perilaku makan menyimpang menjadi semakin umum dilakukan oleh remaja SMA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan perilaku makan pada siswi di SMAI Al-Azhar 4 Kemang Pratama Kota Bekasi Tahun 2016. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif observasional dengan desain studi cross sectional. Responden (n=150) diminta untuk mengisi kuesioner terkait gangguan perilaku makan, citra tubuh, riwayat diet, rasa percaya diri, peran orang tua, pengaruh teman dan pengaruh tokoh di media massa. Selain itu, dilakukan juga pengukuran antropometri yang meliputi penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan untuk melihat Indeks Massa Tubuh (IMT) responden. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 32,7% responden mengalami gangguan perilaku makan. Selain itu, terdapat hubungan yang bermakna antara citra tubuh, riwayat diet, pengaruh orang tua, pengaruh teman dan pengaruh tokoh di media massa terhadap gangguan perilaku makan. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya edukasi gizi untuk meningkatkan pengetahuan gizi dan kewaspadaan terhadap gangguan perilaku makan. Kata kunci: citra tubuh, gangguan perilaku makan, riwayat diet, peran orang tua, pengaruh teman, pengaruh tokoh di media massa, remaja putri
Read More
S-9160
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dinda Purnamasari; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Endang L. Achadi, Poppy Elvira Deviany
Abstrak: Skripsi ini membahas hubungan umur menarche dan faktor-faktor lainnya(asupan gizi, konsumsi minuman manis, dan aktivitas fisik) dengan kejadian overweight pada remaja perempuan (13-15 tahun). Metode yang digunakan adalah studi analitik kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Penelitian dilakukan di SMPI Al-Azhar 4 Kemandoran, Jakarta Selatan pada bulan April2013 dengan jumlah responden sebanyak 107 siswi. Data umur menarche dan konsumsi minuman manis diperoleh melalui pengisian kuesioner mandiri, asupangizi diperoleh dari wawancara food recall 24 jam, dan aktivitas fisik diukurmenggunakan Physical Activity Questionnaire for Older Children (PAQ-C). Ujistatistik yang digunakan pada penelitian adalah uji-T independen. Dari 107responden, sebanyak 38,3% mengalami overweight. Umur menarche dan asupan lemak memiliki hubungan yang bermakna secara signifikan dengan overweight (p< 0,05). Responden yang mengalami overweight memiliki rata-rata umurmenarche lebih muda (11,53 tahun) dan rata-rata asupan lemak lebih tinggi (66,15gram/hari). Sementara itu, tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara asupan energi, karbohidrat, protein, serat, konsumsi minuman manis, dan aktivitasfisik dengan kejadian overweight.
Kata kunci:overweight, remaja perempuan, umur menarche, asupan lemak, konsumsi minuman manis.
The aim of this study was to determine the association between age atmenarche and the other determinants (dietary intake, sugary drinks consumption,and physical activity) with overweight in adolescent girls (13-15 years old). Thisstudy was a quantitative analytic research with cross-sectional design. The studywas held at Al-Azhar 4 Kemandoran Junior High School, South Jakarta in April2013, recruiting 107 female students as participants. Age at menarche and sugarydrinks consumption were reported through self-administered questionnaire,dietary intake was obtained using 24-hours food recall interview, and physicalactivity was measured using Physical Activity Questionnaire for Older Children(PAQ-C). Independent T-test was used to identify the association betweenindependent and dependent variables. Among 107 participants, 38,3% wereoverweight. Age at menarche and fat intake were significantly associated withoverweight (p< 0,005). The overweight participants had earlier age at menarche(11,53 years old) and higher fat intake (66,15 gram/day). Meanwhile, theassociation between energy, carbohydrate, protein, fiber intake, sugary drinksconsumption, and physical activity were found to be not significantly associatedwith overweight.
Keywords:overweight, adolescent girls, age at menarche, fat intake, sugary drinksconsumption.
Read More
S-7817
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Beta Sindiana Dewi; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Anies Irawati
S-8702
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qonitah Azzahra; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Asih Setiarini, Dwiretno Yuliarti
Abstrak: Hipertensi pada remaja semakin meningkat dan menyebabkan peningkatan berbagai penyakit degeneratif lainnya ketika dewasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan yang paling berhubungan terhadap kejadian prehipertensi dan hipertensi pada remaja usia 15-18 tahun di SMA Negeri 3 Kisaran Kabupaten Asahan Sumatera Utara tahun 2016. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional yang dilakukan pada 145 responden kelas X dan XI. Variabel dependen yang diteliti adalah hipertensi dan prehipertensi sedangkan variabel independen yang diteliti adalah jenis kelamin, riwayat hipertensi keluarga, status gizi, asupan energi, asupan lemak, asupan natrium, asupan serat, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, keadaan stres dan durasi tidur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi prehipertensi 42,1% dan hipertensi 12,4%. Berdasarkan hasil analisis bivariat terdapat perbedaan bermaknan antara prehipertensi dan hipertensi berdasarkan jenis kelamin (p value = 0,005), riwayat hipertensi keluarga (p value = 0,040), status gizi (p value = 0,012), asupan lemak (p value = 0,036), asupan natrium (p value = 0,031), asupan serat (p value = 0,010), aktivitas fisik (p value = 0,044), keadaan stres (p value = 0,043), dan durasi tidur (p value = 0,023). Sedangkan bedasarkan analisis multivariat, faktor dominan kejadian prehipertensi dan hipertensi adalah aktivitas fisik. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk meneliti hubungan kasualitas pada faktorfaktor tersebut dan untuk mencari apakah ada faktor dominan lain yang berhubungan dengan kejadian prehipertensi dan hipertensi pada remaja. Peneliti menyarankan agar siswa rutin melakukan pengukuran tekanan darah setidaknya sebulan sekali, aktif berolahraga paling sedikit tiga kali seminggu, memantau berat badan minimal sebulan sekali untuk memantau status gizi baik, dan menjaga asupan zat gizi dengan mengonsumsi makanan sesuai dengan pedoman gizi seimbang. Kata Kunci: hipertensi, remaja, aktivitas fisik, status gizi
Hypertension in adolescents has increased and led to an increase in various other degenerative diseases when adults. The purpose of this study was to determine the most dominant factor that related to the incidence of prehypertension and hypertension in adolescents aged 15-18 years old at SMA Negeri 3 Kisaran Asahan District North Sumatra in 2016. The study used cross-sectional design which was conducted on 145 respondents of 10th and 11th grader. The dependent variables in this study is hypertension and prehypertension, while independent variables were gender, family history of hypertension, nutritional status, energy intake, fat intake, sodium intake, fiber intake, physical activity, smoking, stress and sleep duration. The results showed that the prevalence of prehypertension and hypertension were 42,1% and 12,4% respectively. Based on the bivariate analysis, there were significant differences between prehypertension and hyepertension based on sex (p value = 0,005), family history of hypertension (p value = 0,040), nutritional status (p value = 0,012), fat intake (p value = 0,036), sodium intake (p value = 0,031), fiber intake (p value = 0,010), physical activity (p value = 0,044), stress (p value = 0,043), and sleep duration (p value = 0,023). While based on the multiariate analysis, the dominant factor of prehypertension and hypertension was physical activity. Further research is needed to examine the relationship of causality on these factors and to explore whether there other dominant factor of prehypertension and hypertension among adolescents. The author suggests that the students should routinely check the blood pressure measurements at least once a month, exercise at least three times a week, monitoring the body weight at least once a month to maintain good nutrional status, and keep the intake of nutritionts by eating foods according to balanced nutriotional guidelines. Keywords: hypertension, adolescents, physical activity, nutritional status
Read More
S-9103
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shera Dias Elvita; Pembimbing: Siti Arifah Pudjonarti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Yuni Zahraini
Abstrak: Konstipasi fungsional masih sering ditemui pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan terhadap kejadian konstipasi fungsional pada siswa SMA Islam Al-Azhar 2 Pejaten Jakarta Selatan tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah sampel 141 orang. Data yang dikumpulkan berupa status konstipasi fungsional, asupan serat, asupan cairan, aktivitas fisik, stress, IMT/U, jenis kelamin, pengetahuan gizi, konsumsi minuman probiotik dan konsumsi kopi. Data dikumpulkan dengan cara pengisian kuesioner mandiri, wawancara recall 3x24 jam, serta pengukuran antropometri. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi konstipasi fungsional sebesar 36,9% dan terdapat hubungan signifikan antara aktivitas fisik, jenis kelamin dan konsumsi minuman probiotik dengan konstipasi fungsional (p-value <0,05), dimana aktivitas fisik merupakan faktor dominan konstipasi fungsional.
Kata kunci: Konstipasi fungsional, remaja, asupan serat, asupan cairan, aktivitas fisik, probiotik

Functional constipation is still common in adolescent. This study aimed to identify the dominant factors associated with functional constipation among high school student at Al-Azhar 2 Islamic High School Pejaten, South Jakarta 2015. This cross-sectional study included 141 students. The collected data were functional constipation status, fiber intake, liquid intake, physical activity, stress level, body mass index, sex, nutrition knowledge, consumption of probiotics beverages and consumption of coffee. Data were collected by self-administered questionnaire, 3x24 hour food recall interview, and measurements of weight and height. The result showed that the prevalence of functional constipation was 36,9%, and there was a significant correlation between physical activity, sex and consumption of probiotics beverages with functional constipation (p-value <0.05), and physical activity as the dominant factor of functional constipation.
Keywords: Functional constipation;
Read More
S-8640
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive