Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35862 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dini Wardiani; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: I Made Djaja, Ririn Arminsih Wulandari, Romualdy, Ridwan Panjaitan
Abstrak:

Dalam menjalankan fungsinya rumah sakit dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi karyawan, pasien, pengunjung dan masyarakat. Berdasarkan survai 2001, 60% rumah sakit di DKI Jakarta baku mutu limbah cair yang dihasilkan masih belum memenuhi baku mutu dan hanya 10% rumah sakit yang melaksanakan pengelolaan dampak lingkungan rumah sakit.Penelitian dilakukan di DKI Jakarta selama bulan Juni sampai Juli 2002, dengan menggunakan rancangan potong lintang (Cross Sectional) terhadap 100 rumah sakit. Observasi dan wawancara dengan menggunakan kuesioner dilakukan terhadap rumah sakit yang meliputi faktor-faktor pelaksanaan pengelolaan dampak lingkungan Rumah Sakit, peraturan perundangan, struktur organisasi, pembinaan instansi berwenang, pengembangan sumber daya manusia, jenis rumah sakit, kepatuhan terhadap peraturan, manejemen lingkungan rumah sakit (kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, pemeriksaan dan pengkajian).Hasil uji Chi-square menunjukan bahwa faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan pengelolaan dampak lingkungan rumah sakit yaitu struktur organisasi, pembinaan instansi berwenang, pengembangan sumber daya manusia, jenis rumah sakit, kepatuhan terhadap peraturan, manajemen lingkungan rumah sakit (kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, pemeriksaan dan pengkajian). Hasil analisis regresi logistik ganda menunjukkan bahwa faktor yang dominan berhubungan dengan pelaksanaan pengelolaan dampak lingkungan rumah sakit adalah pelaksanaan manejemen rumah sakit (X1XOR = 79,44), perencanaan pengelolaan lingkungan (X2}(OR w 52,68) dan jenis rumah sakit (X3)(OR = 18,86) dengan model persamaan Logit P (y) = 5,641 + 3,257X I + 2,444X2 + 2,224X3.Untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan terhadap peraturan perundangan hendaknya instansi berwenang melakukan inventarisasi produk peraturan perundangan yang berlaku dan desiminasi informasi peraturan tersebut. Dalam meningkatkan perencanaan rumah sakit bidang lingkungan, rumah sakit sebaiknya mempunyai SDM yang mengerti lingkungan. Peningkatan pelaksanaan pengelolaan dampak lingkungan dapat diupayakan melalui peningkatan kunj ungan supervise, pemantauan dan pemeriksaan serta bimbingan teknis pengelolaan lingkungan. Melaksanakan koordinasi lintas sektor terkait dalam penegakan hukum untuk mencegah pelanggaran berlanjut.Daftar bacaan : 19 (1985-2000)


 

By doing its function, hospitals may cause health disturbance to the employee, patient, visitor, and the community. Based on the survey in 2001, 60% of the hospitals in DKI Jakarta still produce waste water that does not fulfill the standard and only 10% hospital that implement the environmental impact management.This study was held in DKI Jakarta from June until July 2002 using Cross Sectional design to 100 hospitals. Observation and interview by questionnaire on hospitals including hospitals environmental impact management implementation factors, rules, organization structure, institution that has competency to construct, human resources development, hospitals type, obedient on the rules, hospitals environmental management (policy, plan, implementation, inspection and examine).Chi-square result shows that factors associated with hospitals management implementation on environmental impact are organization structure, institution that has competency to construct, human resources development, hospitals type, obedient on the rules, hospitals environmental management (policy, plan, implementation, inspection and examine). Multiple logistic regression analysis result shows that dominant factor associated with hospitals management implementation on environmental impact are hospital management implementation (X,) (OR=79, 44), environment management plan (X2) (OR=52,68), and hospital type (X3) (OR= 18,86), with equation model: Logic P (y) -5,601 + 3,257 X, + 2,444 X2 + 2,224 X3.To increase the knowledge and obedient on the rules, the institution that has competency to construct should inventorying the rules product that is valid and disseminate the information on that rule. In order to increase the hospital plan on environment, the hospital should have the human resources that understand about environment. Raising the management implementation on environment impact can be striving for by increasing the supervision, to monitor and inspect and by giving a technical guidance on environment management. To prevent a continuing infraction, there should be cross sector coordination in law enforcement.References: 19 (1985-2000)

Read More
T-1374
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Mundzir Kamiluddin; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Mila herdayati, Teti Tejayanti
Abstrak: Di negara-negara berkembang hampir 1 dari 5 Balita meninggal disebabkan olehpneumonia. Balita merupakan kelompok umur yang rentan terhadap terserangpneumonia. Period prevalence pneumonia pada anak Balita di DKI Jakartaberdasarkan data Riskesdas 2013 mencapai 19,6 permil.

Tujuan penelitian iniadalah untuk mengetahui faktor lingkungan fisik rumah dan faktor lainnya yangberhubungan dengan kejadian pneumonia pada Balita di DKI Jakarta denganmenggunakan data Riskesdas 2013. Desain penelitian ini adalah cross sectional.Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan masing-masing variabelyang diteliti dan analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antaravariabel independen dengan variabel dependen.

Hasil penelitian menunjukkanbahwa prevalensi pneumonia Balita di DKI Jakarta sebesar 4%. Hasil analisisbivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadianpneumonia Balita adalah usia Balita.

Kata kunci: Pneumonia, Balita, DKI Jakarta, Riskesdas 2013

In development countries nearly 1 in 5 children under five years old died due topneumonia. Children under five years old are the age group that susceptible topneumonia. Period prevalence of pneumonia in children under five years old inJakarta based on National Basic Health Research 2013 has reached 19.6 per mil.

The objective of this study is to determine the physical environment of house andother factors associated to the incidence of pneumonia children under five yearsold in Jakarta using National Basic Health Research 2013 data. This study designis cross-sectional study. Univariate analysis is used to describe each variablestudied and bivariate analysis is used to determine the relationship between thedependent and independent variables.

The results showed that the prevalence ofpneumonia children under five years old in Jakarta at 4%. Results of bivariateanalysis showed that the variables associated with the incidence of pneumonia isage of children under five.

Key words: Pneumonia, children under five years old, physical environment ofhouse, DKI Jakarta, Riskesdas 2013
Read More
S-9046
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wibowo Ady Sapta; Pembimbing: Abdur Rahman; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Suherman, Sujono
T-1287
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pipit Ratnasari; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Milla Herdayati, Teti Tejayanti
Abstrak: Pneumonia is the second leading cause of death after diarrhea in Indonesia, especially in children under five years old. Over the past few years the prevalence of pneumonia in children under five years old in East Java increased from 1,06% to 4,2% in 2013. The purpose of this study was to analyze the physical and environmental factors of houses and other factors such as children characteristic factors and socio economic factors. This research used secondary data from the National Demographic and Health Survey (IDHS) in 2012.

This research used cross-sectional design study, with 2.058 total sample of children aged 0-59 months. Data was analyzed using univariate and bivariate analysis using Chi Square method. This research could not prove an association between physical environmental factors of house and other factors with the prevalence of pneumonia in children under five years. Keywords : pneumonia, children under five years, physical environmental factors
Read More
S-9228
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adinda Putriansyah; Pembimbing: Haryoto Kusno Putranto; Penguji: Zakianis, Hikmah Kurniaputri
Abstrak:
Keberadaan limbah B3 medis padat yang dihasilkan oleh fasyankes masih menjadi perhatian, apabila tidak dikelola dengan tepat dapat menjadi ancaman bagi kesehatan manusia dan lingkungan sekitar. Rumah sakit sebagai produsen utama limbah B3 medis diwajibkan mengelola limbah B3 yang dihasilkannya dengan tepat, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021. Namun di DKI Jakarta, masih banyak limbah B3 medis dari fasyankes yang belum dikelola sesuai standar, dimana hanya 52,9% fasyankes yang melakukan pengelolaan limbah B3 medis sesuai standar, sementara daerah lain mampu mencapai 84,6%. Sejumlah tantangan masih harus dihadapi DKI Jakarta dalam mengelola limbah B3 medis rumah sakit. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran terhadap pengelolaan limbah B3 medis padat rumah sakit di DKI Jakarta. Desain penelitian ini merupakan kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan deskriptif studi kasus yang dilakukan pada lima RSUD di DKI Jakarta. Pengambilan data dilakukan secara langsung di rumah sakit melalui metode wawancara, observasi, dan telaah dokumen terkait dengan praktik pengelolaan limbah B3 medis padat rumah sakit. Karakteristik limbah B3 medis padat di lima RSUD DKI Jakarta meliputi limbah infeksius, patologis, benda tajam, farmasi, dan kimia, dengan tambahan limbah sitotoksik di RSUD A, RSUD D, dan RSUD E. Sumber utama limbah berasal dari instalasi rawat inap, IGD, unit hemodialisa, dan kamar operasi. Rata-rata timbulan harian mencapai 416,44 kg/hari, dengan jumlah tertinggi di RSUD D. Seluruh rumah sakit telah memenuhi standar pelatihan, sarana, dan prasarana, sementara pengelolaan mencakup pengurangan, pemilahan, pewadahan, penyimpanan, hingga pengangkutan eksternal yang dilakukan oleh pihak ketiga berizin. Tingkat kesesuaian pengelolaan limbah tertinggi dicapai oleh RSUD A (93,4%) dan terendah RSUD C (80,7%). Pengelolaan limbah B3 medis padat di RSUD DKI Jakarta telah memenuhi sebagian besar standar regulasi, namun peningkatan diperlukan pada aspek pemilahan, pewadahan, dan jalur pengangkutan internal untuk mencapai kesesuaian yang lebih baik secara menyeluruh.

The presence of solid hazardous medical waste generated by healthcare facilities remains a significant concern. If not properly managed, it can pose serious threats to human health and the surrounding environment. Hospitals, as the primary producers of hazardous medical waste, are required to manage this waste in accordance with Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021. However, in DKI Jakarta, a significant amount of medical hazardous waste from healthcare facilities is still not managed according to standards, with only 52.9% of facilities complying, compared to 84.6% in other regions. DKI Jakarta continues to face various challenges in managing hospital medical hazardous waste effectively.This study aims to provide an overview of the management of solid hazardous medical waste in hospitals in DKI Jakarta. The research employed a mixed-methods design, combining qualitative and quantitative approaches, using a descriptive case study conducted at five regional general hospitals (RSUD) in DKI Jakarta. Data collection was conducted directly at the hospitals through interviews, observations, and reviews of relevant documents on waste management practices. The characteristics of solid hazardous medical waste (B3) in the five regional general hospitals in DKI Jakarta include infectious, pathological, sharp, pharmaceutical, and chemical waste, with additional cytotoxic waste identified in RSUD A, RSUD D, and RSUD E. The primary sources of waste originate from inpatient wards, emergency rooms, hemodialysis units, and operating rooms. The average daily waste generation reaches 416.44 kg/day, with the highest amount recorded at RSUD D. All hospitals have met the standards for training, facilities, and infrastructure, while waste management encompasses reduction, segregation, containment, storage, and external transportation handled by licensed third parties. The highest compliance level in waste management was achieved by RSUD A (93.4%) and the lowest by RSUD C (80.7%). The management of solid hazardous medical waste in five regional general hospitals across DKI Jakarta has met most regulatory standards; however, improvements are needed in segregation, containment, and internal transportation routes to achieve better overall compliance.
Read More
S-11905
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Avicenna Inovasanti; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Aria Kusuma
Abstrak:
Pandemi COVID-19 meningkatkan kebutuhan dan produksi masker. Hal ini mendatangkan masalah yaitu timbulan sampah masker yang berakhir dilingkungan tanpa dikelola. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, dan faktor sosiodemografi dengan perilaku mahasiswa dalam pengelolaan limbah masker rumah tangga di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif desain studi cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner online, yang terdiri dari sosiodemografi, pengetahuan, sikap, dan perilaku responden. Hasil dari penelitian ini adalah mayoritas mahasiswa yang menjadi responden memiliki pengetahuan tinggi (63.3%), sikap positif (52.5%), dan perilaku baik (50.6%). Secara statistik terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dan perilaku (p value-0.022), namun tidak terdapat hubungan bermakna antara sikap dengan perilaku (p value- 0.269). Selain itu, variabel faktor sosiodemografi yang diteliti menunjukkan bahwa adanya hubungan bermakna antara tempat tinggal dengan perilaku (p value-0.008) namun tidak ada hubungan yang bermakna antara usia, jenis kelamin, pendidikan, dan rumpun keilmuan dengan perilaku karena p value>0,05. Analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel tinggal bersama keluarga memiliki pengaruh paling besar terhadap perilaku buruk dengan OR 1.664 (95% CI=1.124-2.464). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah hanya variabel pengetahuan dan tempat tinggal yang memiliki hubungan signifikan dengan perilaku pengelolaan limbah masker di rumah tanggal dengan faktor dominannya yaitu tempat tinggal.

The COVID-19 pandemic has increased the need and production of masks. This creates a problem that lot of mask waste ends up in the environment without being managed. This research was conducted to determine the relationship between knowledge, attitudes, and sociodemographic factors with student behavior in managing household mask waste in DKI Jakarta Province. This study uses a quantitative approach with cross-sectional study design. Data collection was carried out using an online questionnaire, which consisted of the sociodemographic, knowledge, attitudes, and behavior of the respondents. The results of this study were that the majority of students who were respondents had high knowledge (63.3%), positive attitudes (52.5%), and good behavior (50.6%). Statistically, there is a significant relationship between knowledge and behavior (p value-0.022), but there is no significant relationship between attitudes and behavior (p value-0.269). In addition, the sociodemographic factor variables studied showed that there was a significant relationship between place of residence and behavior (p value-0.008) but there was no significant relationship between age, gender, education, and scientific family and behavior because p value> 0.05. Multivariate analysis showed that living with family had the greatest influence on bad behavior with OR 1.664 (95% CI=1.124-2.464). The conclusion in this study is that only the knowledge and place of residence variables have a significant relationship with the behavior of mask waste management at home with the dominant factor, namely place of residence.
Read More
S-11211
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sarip Usman; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Dewi Susana, Toni Wandra, Sujono
Abstrak:

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit virus akut, mudah menular melalui perantaraan nyamuk Aedes aegepti. Penyakit ini dapat menimbulkan kematian dalam waktu yang relatif singkat, belum ada obat maupun vaksin. Penyakit ini juga telah menyebar tidak hanya di perkotaan saja namun merambah ke daerah pedesaan, karena vektornya (Aides aegypli) tersebar luas di kawasan pemukiman atau di tempat-tempat urn urn. DBD merupakan salah satu penyakit endemis yang masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia meskipun sudah dapat ditekan, namun insidennya masih cukup tinggi, yaitu 3,6% (tahun l990) menjadi 2,0% (tahun 1999). CFR 3,2 % (tahun 1994) menjadi 1,4 % (tahun 2000). Namun demikian daerah yang terjangkit terus bertambah dari 201 Dati II (tahun 1998) menjadi 225 Dati II (tahun 2000). Oleh karena itu penyakit DBD ini harus terus diwaspadai dan dipantau terus menerus. Dengan demikian penelitian kearah mencari faktor karakteristik dan kebersihan lingkungan fisik rumah yang berhubungan dengan kejadian DBD menjadi dasar penelitian ini dilakukan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi frekuensi, hubungan dan mencari model faktor karakteristik dan kebersihan lingkungan fisik rumah dengan kejadian DBD yang dilakukan di Kota Bandar Lampung dengan rancangan kasus-kontrol dengan metoda population based, kasus diambil dari regristrasi 5 (lima) Rumah Sakit Umum yang ada di Bandar Lampung sedangkan kontrol diambil dari tetangga terdekat kasus dengan jumlah sampel 56 kasus dan 112 kontrol (1:2) dengan rentang waktu dari bulan Januari 2002 s/d Mei 2002.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 9 (sembilan) variabel yang diuji dengan uji bivariat ada enam variabel yang mempunyai hubungan bermakna ( <0,05) dan iiga variabel mempunyai nilai p nya > 0,05.Dari hasil uji multivariat dan uji interaksi diperoleh model dan dari model tersebut, faktor umur merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian DBD di Kota Bandar Lampung dengan OR .= 18,48 (Cl: 6,51-52,47) dan p value 0,000,Aplikasi dari penanganan program pemberantasan penyakit ini, tidak terlepas dari berbagai kebijakan dari sektor lain, sehingga upaya pemecahannya harus secara strategic melibatkan sektor terkait. Kerjasama lintas sektor dalam pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan akan meneptukan keburhasilan program ini. Upaya-upaya kerja sama lintas sektor seperti Gerakan 3 M,dan lain-lain perlu ditingkatkan dan dilanjutkan. Pelaksanaan hukum, advokasi, sosialisasi serta adanya kesepakatan dalam pemberantasan penyakit menular dan kesehatan lingkungan perlu ditingkatkan dan dikembangkan lagi.Daftar Bacaan: 35 (1960-2002)


 

Risk Factor Relating to Dengue Haemorhogic Fever (DHF) Incident in Bandar Lampung 2002Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) is acute virus disease, easly communicable and transmitted by Aedes aegypti mosquito. Di-IF can be causation mortality in short time drug or vacsin find not yet. It transmitted in cities, but now had transmited to districs. Because vectors in everywhere as buildings or in public places. DHF is one of endemic disease and still health problem in Indonesia, although it could be pressed but incidence still high enough is 3.6 % (1990) to 2.0 % (1999th). Case Fatality Rate (CFR) from 3.2%(1994`') to 1.4% in 2000th. But the distric endemic is increase, from 201 districs (1988th) become 225 districs in 2000`''. Because of that DHF disease must to be monitor everywhere and time.This study proposed to find out the frequency distribution, relation ship and look for characteristic and house phisic environmental Health factors model relation to Di-IF incidence in Bandar Lampung city 2002 and used Case Control study design. Cases take from 5 Hospital regristration in Bandar lampung City and control take from neighbour cases with 56 samples and 112 controls (1:2) in January 2002 - Mci 2002.The result of study, with Chi square Test from 9 variables in relation to DI-IF find out 6 variables related significant (p value <0,05) and 3 variables isn't significant (p value > 0,05) related to DHF incident.The result model from multivariate and interaction test, find out that highest dominan factor relation to Dl-IF incidence in Bandar Lampung city is age factor.Aplication for Communicable Disease Control Programs depend on the other sectors wisdom and to solve this problem must be strategic to involve the other sectors. Coordination between sectors in communicable disease control and environmental health very important for succesfully this program, for example as " Gerakan 3 M " and "Pekan Sanitasi" action. The Law, advocation, socialization and same goal in communicable disease control and environmental health must he increase and to develop again.Refeuvnce: 35 (1960 - 2002)

Read More
T-1271
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisha Rizqa Aulia; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Dewi Susanna, Ema Hermawati, Yulia Fitria Ningrum, Deti Yulianti
Abstrak:
Di Indonesia, pengelolaan limbah medis di fasilitas pelayanan kesehatan masih menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan apabila tidak dilakukan sesuai standar. Praktik pengelolaan limbah medis yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko penularan penyakit dan pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik pengelolaan limbah medis pada tenaga pengelola limbah medis di Puskesmas Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 100 responden yang berasal dari 80 puskesmas di Kota Bandung. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik model faktor prediksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki praktik pengelolaan limbah medis yang baik sebesar 62%. Sebagian besar tenaga pengelola limbah medis memiliki pengetaahuan mengenai pengelolaan limbah medis baik, sikap terhadap pengelolaan limbah medis yang positif, tingkat pendidikan jenjang diploma, pengalaman kerja ≥ 7 tahun, memiliki ketersediaan APD dan ketersediaan fasilitas penunjang yang memadai, sudah pernah mengikuti pelatihan terkait limbah medis. Hampir seluruh responden memiliki ketersediaan SOP dan seluruh tenaga pengelola limbah medis memiliki pengawasan manajemen terhadap pengelolaan limbah medis di puskesmas tempat mereka bekerja. Variabel yang berhubungan secara signifikan dengan praktik pengelolaan limbah medis adalah pengetahuan, ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD), dan ketersediaan fasilitas penunjang (p-value <0,05). Sementara itu, sikap, tingkat pendidikan, pengalaman kerja, pelatihan, ketersediaan SOP, dan pengawasan manajemen tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Faktor yang paling dominan terhadap praktik pengelolaan limbah medis adalah ketersediaan fasilitas penunjang (aOR = 7,422; 95%CI = 1,988–16,355). Disarankan kepada puskesmas untuk mempertahankan, melengkapi, dan memastikan pemanfaatan fasilitas penunjang pengelolaan limbah medis dalam praktik sehari-hari.

In Indonesia, medical waste management in healthcare facilities remains a concern due to its potential negative impacts on health and the environment if not properly managed. Inappropriate medical waste management practices may increase the risk of disease transmission and environmental contamination. This study aims to analyze factors associated with medical waste management practices among medical waste handlers at primary health centers in Bandung City. This study used a cross-sectional design with a sample of 100 respondents from 80 primary health centers in Bandung City. Data were analyzed using the chi-square test and logistic regression for predictive factor modeling. The results showed that the majority of respondents had good medical waste management practices (62%). Most medical waste handler had good knowledge of medical waste management and a positive attitude towards it. The majority of respondents had a diploma-level education, work experience of ≥ 7 years, availability of personal protective equipment (PPE), and adequate supporting facilities, and had attended training related to medical waste management. Almost all respondents had standard operating procedures (SOPs) available and all medical waste management personnel were under management supervision regarding medical waste management at their respective primary healthcare centers. Variables significantly associated with medical waste management practices were knowledge, availability of personal protective equipment (PPE), and availability of supporting facilities (p-value < 0.05). Meanwhile, attitude, education level, work experience, training, availability of standard operating procedures (SOP), and management supervision were not significantly associated. The most dominant factor influencing medical waste management practices was the availability of supporting facilities (aOR = 7.422; 95% CI = 1.988–16.355). It is recommended that primary health centers maintain, improve, and ensure the utilization of supporting facilities for medical waste management in daily practice.
Read More
T-7630
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fadhilah Rasya Rahmadianingputri' Pembimbing: Zakianis; Penguji: R. Budi Haryanto, Edwin Nasli
Abstrak: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang dapat merenggut sekitar 1,5 juta jiwa setiap tahunnya. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang paling sering menyerang paru-paru. Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 2020, Provinsi DKI Jakarta berada diurutan kedua dalam hal Penyakit Tuberkulosis, yaitu 228 kasus per 100.000 penduduk. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit tuberculosis, meliputi faktor sosioekonomi, faktor kondisi rumah dan lingkungan, dan faktor gaya hidup. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara faktor status sosioekonomi, faktor kondisi rumah dan lingkungan, dan faktor gaya hidup terhadap kasus kejadian Penyakit Tuberkulosis di Provinsi DKI Jakarta tahun 2021. Serta, menganalisis hubungan antara kejadian Penyakit Tuberkulosis dan kematian COVID-19 di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis kecamatan di Provinsi DKI Jakarta yang berjumlah 44. Data yang digunakan adalah data sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta, Badan Pusat Statistik, dan Data Terbuka Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Data disajikan dengan table untuk mengetahui besarnya kejadian Penyakit Tuberkulosis. Hasil analysis bivariat dengan uji korelasi menunjukkan bahwa faktor sosioekonomi, yaitu tingkat Pendidikan yang rendah merupakan faktor risiko terjadinya Penyakit Tuberkulosis.
Tuberculosis is an infectious disease that can kills almost 1,5 million humans every year. Tuberculosis is a disease that attacks the lung frequently. Tuberculosis is a disease caused by bacteria Mycobacterium tuberculosis. in 2020, DKI Jakarta Province, the capital city of Indonesia, was the second rank with the highest tuberculosis, that was 228 cases per 100.000 population. There are many factors that influence the incidence of tuberculosis, including socioeconomic factors, house and environmental condition factors, and lifestyle factors. The objective of this research is to analyze the relationship between socioeconomic status factors, house and environmental condition factors, and lifestyle factors with incidence of tuberculosis in DKI Jakarta Province in 2021. This research used Ecological study design with sub-district analysis unit in DKI Jakarta Province amounts 44. The data used are secondary data from DKI Jakarta Health Agency, DKI Jakarta Department of Population and Civil Registration, Central Statistics Agency, and Open Data from the DKI Jakarta Government. The data was displayed in a table to find out the magnitude of the incidence of tuberculosis. The results of the study indicate that socioeconomic factors, namely low levels of education are risk factors for the occurrence of Tuberculosis.
Read More
S-10975
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Blasius Bayu Widiastono Wiranto; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Triyanti, Anna Fitriani
Abstrak:
Latar belakang: Perilaku pengendalian berat badan merupakan sikap, tindakan, atau upaya yang dilakukan oleh individu untuk menjaga, menurunkan, atau mencapai berat badan yang diinginkan, dimana perilaku pengendalian berat badan yang tidak sehat dapat memberikan dampak negatif dan membahayakan diri. Penelitian di tahun 2022 menunjukan bahwa setidaknya 16,9% atlet remaja melakukan pengendalian berat badan yang tidak sehat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pengendalian berat badan pada atlet remaja di PPOP DKI Jakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 201 yang dipilih menggunakan systematic random sampling. Hasil: Penelitian menunjukan bahwa 21,9% atlet remaja di PPOP DKI Jakarta memiliki perilaku pengendalian berat badan yang tidak sehat. Analisis bivariat menunjukan hubungan yang signifikan antara status gizi (p=0,049 ; OR=2,436 dan 0,678), persepsi berat badan (p = 0,000 ; OR = 1,614 dan 5,897), dan pengaruh keluarga (p=0,013 ; OR=2,413) dengan perilaku pengendalian berat badan yang tidak sehat. Kesimpulan: Institusi tempat atlet berlatih dapat melakukan edukasi kepada atlet dan orang tua atlet, dan meningkatkan peran tenaga profesional melalui konseling kepada para atlet yang diikuti dengan peningkatan ketaatan atlet pada pedoman makan yang telah disediakan institusi.

Background: Weight control behavior refers to attitudes, actions, or efforts undertaken by individuals to maintain, reduce, or achieve a desired body weight. Unhealthy weight control behaviors can have negative and harmful effects. A study in 2022 showed that at least 16.9% of adolescent athletes engaged in unhealthy weight control behaviors. Objective: This study aims to describe and identify factors associated with weight control behaviors among adolescent athletes at PPOP DKI Jakarta. Methods: This research is a quantitative study with a cross-sectional design. The sample consisted of 201 participants selected through systematic random sampling. Results: The study found that 21.9% of adolescent athletes at PPOP DKI Jakarta exhibited unhealthy weight control behaviors. Bivariate analysis showed significant associations between nutritional status (p=0.049; OR=2.436 and 0.678), weight perception (p=0.000; OR=1.614 and 5.897), and family influence (p=0.013; OR=2.413) with unhealthy weight control behavior. Conclusion: Institutions where athletes train can provide education to athletes and their parents and enhance the role of professionals through counseling for athletes. This should be accompanied by improved adherence to dietary guidelines provided by the institution.
Read More
S-11860
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive