Ditemukan 38804 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Trusti Dian Susanti; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Hendra, Rudy Saptari Sulesuryana
Abstrak:
Pajanan partikulat dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada sistem pernapasan dan kardiovaskular serta kematian. Tujuan penelitian ini mengetahui konsentrasi pajanan partikulat di PKB Cilincing. Pengambilan data dilakukan dengan mengukur pajanan personal pada petugas uji mekanis dan area pada kantor dan pengujian. Rata-rata konsentrasi pajanan personal PM10, PM2.5, PM1, PM0.25 pada petugas uji mekanis : 342.26 μg/m3; 232.23 μg/m3; 190.58 μg/m3; dan 140.10 μg/m3, ruangan kantor : 208.05 μg/m3; 168.87 μg/m3; 149.18 μg/m3; 110.42 μg/m3, dan pengujian : 213,50 μg/m3; 130.24 μg/m3; 100,42 μg/m3; 47,25 μg/m3. Perbedaan konsentrasi pajanan partikulat dapat terjadi karena perbedaan ukuran dan jenis kendaraan, lokasi, serta jenis pengujian.
Exposure to vehicle emission particulates has been known to cause death and health effects on respiratory and cardiovascular systems. This study conducted to determine concentration of PM2.5 in Vehicle Emission Testing Centre, Cilincing unit, by collecting personal exposure on emission inspector, at office and testing area. Average personal exposure concentration of PM10, PM2.5, PM1, PM0.25 were 342.26 μg/m3; 232.23 μg/m3; 190.58 μg/m3; dan 140.10 μg/m3, office area: 208.05 μg/m3; 168.87 μg/m3; 149.18 μg/m3; 110.42 μg/m3; testing area 213,50 μg/m3; 130.24 μg/m3; 100,42 μg/m3; 47,25 μg/m3. Concentration of particulate matter may different due to size and types of vehicles, location, and types of vehicle testing.
Read More
Exposure to vehicle emission particulates has been known to cause death and health effects on respiratory and cardiovascular systems. This study conducted to determine concentration of PM2.5 in Vehicle Emission Testing Centre, Cilincing unit, by collecting personal exposure on emission inspector, at office and testing area. Average personal exposure concentration of PM10, PM2.5, PM1, PM0.25 were 342.26 μg/m3; 232.23 μg/m3; 190.58 μg/m3; dan 140.10 μg/m3, office area: 208.05 μg/m3; 168.87 μg/m3; 149.18 μg/m3; 110.42 μg/m3; testing area 213,50 μg/m3; 130.24 μg/m3; 100,42 μg/m3; 47,25 μg/m3. Concentration of particulate matter may different due to size and types of vehicles, location, and types of vehicle testing.
S-9413
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zuly Prima Rizky; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila Tejamaya; Fatchuri
S-8897
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aisyah Indriani; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila Tejamaya, Rudy Saptari Sulesuryana
S-9014
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ahmad Tahta Kurniawan; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila Tejamaya, Rudy Saptari Sulesuryana
S-9210
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Liazul Kholifah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Dudi Herna Gunandi, Alsen Medikano
Abstrak:
Penelitian ini dilakukan pada perawat di RS X Jakarta Timur yang memiliki aktivitasberisiko mengalami stres kerja dan kelelahan kerja. Tujuan dilakukan penelitian iniuntuk mengetahui gambaran kelelahan kerja dan stres dengan melihat faktor risiko fisik,psikososial dan lingkungan. Penelitian dilakukan pada 87 orang perawat rawat inap dantenaga administrasi dengan menggunakan desain penelitian cross-sectional denganmelakukan observasi, pengisian kuisioner, melakukan pengujian aktivasi enzim amylasedalam saliva dengan alat Cocorometer (Nipro Cocoro), pengukuran waktu reaksidengan aplikasi smartphone Sleep 2 Peak (S2P) dan pencahayaan dengan Luxmeter.Faktor karakteristik individu (usia, jenis kelamin, status gizi, status pernikahan, danmasa kerja), faktor risiko fisik (punggung statis, punggung dinamis, bahu/lengan,pergelangan tangan dan leher), faktor psikososial (beban kerja, shift kerja,perkembangan karir, dukungan sosial, peran di organisasi, dan kepuasan kerja) danlingkungan kerja (pencahayaan) menjadi faktor independen penelitian terhadap stres dankelelahan kerja. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Quick ExposuresChecklist untuk menilai faktor risiko fisik, NIOSH Generic Job Stress untuk menilaifaktor risiko psikososial dan stres kerja. Kelelahan kerja diukur dengan menggunakankuesioner Sweedish Occupational Fatigue Inventory (SOFI). Hasil penelitian respondenberjenis kelamin perempuan (70,1%), sudah menikah (83,9%), dengan usia 36 tahundan masa kerja selama 134 bulan (11 tahun). Menggunakan uji Chi-Square terdapathubungan yang bermakna antara status pernikahan dengan kelelahan Pvalue <0,05(OR=4,20), masa kerja dengan terjadinya kelelahan Pvalue<0,05 (OR=3,26), faktorrisiko fisik (punggung bergerak) dengan terjadinya stres kerja dengan Pvalue <0,05(OR=4,37), faktor risiko fisik (bahu/lengan) dengan terjadinya stres kerja denganPvalue <0,05 (OR=2,90), beban kerja dengan terjadinya kelelahan kerja dengan Pvalue<0,05 (OR=3,85) dan terdapat hubungan yang bermakna antara kepuasan kerja denganterjadinya kelelahan dengan Pvalue (OR=0,24).
The object of this study is nurses in RS X East Jakarta who are at risk having workrelated stress and fatigue due to their task. The purpose of this study is to identify thephysical factors, psychosocial factors and environment factor of work related stress andfatigue. Population of the study is 149 people, and the sample is 87 responded. Thedesign used in this study is cross-sectional design by conducting the observation,sharing questionnaires and do the test of Salivary Amylase Activation (SAA) withCocorometer (Nipro Cocoro), the test of time reacting with Sleep 2 Peak application ona mobile phone and environment factor (lighting) with Luxmeter. The tools used in thisstudy are Quick Exposure Checklist to assess physical factors, NIOSH Generic JobStress to assess psychosocial factors and Salivary Amylase Activation teststo assesswork related stress and fatigue among nurses. Fatigue subjective measurement usestools from Swedish Occupational Fatigue Inventory (SOFI). Physic factors (back static,back movement, shoulder/arm, wrist/hand and neck), psychosocial factors (job demand,shift work, career development, social support, role in the organization, and jobsatisfaction) and environment factor (lighting) are the independent variables of workrelated stress and fatigue which are the dependent variable in this study. The result ofthis study is female (70,1%), married (83,9%), average age 36 years old and workingperiod for 134 months (11 years). The result of this study shows that risk factor(married) has a correlation with fatigue Pvalue 0,05 (OR=4, 20), years of service hascorrelation with fatigue Pvalue0, 05 (OR=3, 26). Physic factors (back movement) havecorrelation with stress Pvalue 0,05 (OR=4, 37), Physic factors (shoulder/arm) has acorrelation with stress Pvalue 0,05 (OR=2, 90), job demand has correlation with fatiguePvalue 0,05 (OR=3, 85) psychosocial factors (job satisfaction) have correlation withfatigue Pvalue (OR=0, 24).
Read More
The object of this study is nurses in RS X East Jakarta who are at risk having workrelated stress and fatigue due to their task. The purpose of this study is to identify thephysical factors, psychosocial factors and environment factor of work related stress andfatigue. Population of the study is 149 people, and the sample is 87 responded. Thedesign used in this study is cross-sectional design by conducting the observation,sharing questionnaires and do the test of Salivary Amylase Activation (SAA) withCocorometer (Nipro Cocoro), the test of time reacting with Sleep 2 Peak application ona mobile phone and environment factor (lighting) with Luxmeter. The tools used in thisstudy are Quick Exposure Checklist to assess physical factors, NIOSH Generic JobStress to assess psychosocial factors and Salivary Amylase Activation teststo assesswork related stress and fatigue among nurses. Fatigue subjective measurement usestools from Swedish Occupational Fatigue Inventory (SOFI). Physic factors (back static,back movement, shoulder/arm, wrist/hand and neck), psychosocial factors (job demand,shift work, career development, social support, role in the organization, and jobsatisfaction) and environment factor (lighting) are the independent variables of workrelated stress and fatigue which are the dependent variable in this study. The result ofthis study is female (70,1%), married (83,9%), average age 36 years old and workingperiod for 134 months (11 years). The result of this study shows that risk factor(married) has a correlation with fatigue Pvalue 0,05 (OR=4, 20), years of service hascorrelation with fatigue Pvalue0, 05 (OR=3, 26). Physic factors (back movement) havecorrelation with stress Pvalue 0,05 (OR=4, 37), Physic factors (shoulder/arm) has acorrelation with stress Pvalue 0,05 (OR=2, 90), job demand has correlation with fatiguePvalue 0,05 (OR=3, 85) psychosocial factors (job satisfaction) have correlation withfatigue Pvalue (OR=0, 24).
T-5202
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Laksita Ri Hastiti; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Didik Triwibowo
Abstrak:
Latar Belakang: Pajanan PM2,5 berperan terhadap berbagai efek kesehatan padamanusia termasuk gangguan fungsi paru dan mempengaruhi kadar profil lipiddarah yang secara tidak langsung berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskuler.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara pajanan PM2,5 dengan gangguan fungsiparu dan kadar profil lipid darah pada karyawan PT X, Kalimantan Selatan, Tahun2012.
Metode: Studi cross-sectional dilaksanakan di dua area kerja PT X (perusahaantambang batubara) yaitu area pelabuhan dan non-pelabuhan. 154 karyawan terpilih secara acak sebagai sampel dalam penelitian ini. Peneliti mengukurpajanan PM2,5 secara indoor pada kedua area dan menyebarkan kuesioner.Dilakukan review terhadap data medical check-up karyawan pada tahun terakhir.Analisis secara multivariat dengan metode regresi logistik berganda.
Hasil: Hasil studi menunjukkan faktor risiko yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru adalah umur (p-value= 0,007, 95% CI) dan masa kerja (p-value=<0,001, 95% CI). Faktor risiko yang berhubungan dengan kadar kolesterol totaladalah masa kerja (p-value= <0,037, 95% CI), untuk trigliserida adalah umur (pvalue= <0,001, 95% CI) dan IMT (OR= 3,375; 95% CI:1,672-6,813). Tidak adavariabel yang berhubungan secara statistik dengan kadar HDL dan LDL. Hasilanalisis multivariat menunjukkan pajanan PM2,5 yang paling mempengaruhigangguan fungsi paru (OR=1,9) serta kadar profil lipid darah yaitu kolesterol total(OR=1,6) dan trigliserida (OR=2,6) setelah dikontrol oleh variabel lain yangmempengaruhi gangguan fungsi paru dan kadar profil lipid darah.
Kesimpulan: Pajanan PM2,5 berhubungan dengan gangguan fungsi paru dankadar profil lipid darah pada karyawan, yaitu kadar kolesterol total dantrigliserida.
Kata kunci: PM2,5, tambang batubara, gangguan fungsi paru, profil lipid darah,cross-sectional.
Read More
Tujuan: Mengetahui hubungan antara pajanan PM2,5 dengan gangguan fungsiparu dan kadar profil lipid darah pada karyawan PT X, Kalimantan Selatan, Tahun2012.
Metode: Studi cross-sectional dilaksanakan di dua area kerja PT X (perusahaantambang batubara) yaitu area pelabuhan dan non-pelabuhan. 154 karyawan terpilih secara acak sebagai sampel dalam penelitian ini. Peneliti mengukurpajanan PM2,5 secara indoor pada kedua area dan menyebarkan kuesioner.Dilakukan review terhadap data medical check-up karyawan pada tahun terakhir.Analisis secara multivariat dengan metode regresi logistik berganda.
Hasil: Hasil studi menunjukkan faktor risiko yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru adalah umur (p-value= 0,007, 95% CI) dan masa kerja (p-value=<0,001, 95% CI). Faktor risiko yang berhubungan dengan kadar kolesterol totaladalah masa kerja (p-value= <0,037, 95% CI), untuk trigliserida adalah umur (pvalue= <0,001, 95% CI) dan IMT (OR= 3,375; 95% CI:1,672-6,813). Tidak adavariabel yang berhubungan secara statistik dengan kadar HDL dan LDL. Hasilanalisis multivariat menunjukkan pajanan PM2,5 yang paling mempengaruhigangguan fungsi paru (OR=1,9) serta kadar profil lipid darah yaitu kolesterol total(OR=1,6) dan trigliserida (OR=2,6) setelah dikontrol oleh variabel lain yangmempengaruhi gangguan fungsi paru dan kadar profil lipid darah.
Kesimpulan: Pajanan PM2,5 berhubungan dengan gangguan fungsi paru dankadar profil lipid darah pada karyawan, yaitu kadar kolesterol total dantrigliserida.
Kata kunci: PM2,5, tambang batubara, gangguan fungsi paru, profil lipid darah,cross-sectional.
S-7655
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tiara Novella; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Prihono Sapto Atmodjo
Abstrak:
Dalam pelaksanaan produksi di industri manufaktur, setiap proses kerja tidak pernah terlepas dari bahaya dan risiko. PT. X memproduksi rubber parts untuk industri otomotif dan industri lainnya. Salah satu proses awal produksi rubber parts adalah proses mixing. Tahapan dari proses mixing yang cukup kompleks, bahan-bahan yang digunakan, dan pengoperasian mesin-mesin yang tidak sepenuhnya secara otomatis, berisiko menimbulkan insiden dan/atau kecelakaan beserta konsekuensinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko K3 pada proses mixing di PT. X. Dalam penelitian ini, identifikasi risiko pada proses mixing menggunakan metode Job Hazard Analysis berdasarkan OSHA 3071. Kemudian, analisis risiko secara semi kuantitatif yang mengacu pada Australian/New Zealand Standard 4360:2004 tentang Risk Management; dan menentukan tingkat risiko sesuai skor risiko yang dihitung menggunakan rumus perhitungan risiko menurut Fine (1971). Penilaian risiko dilakukan di dua pekerjaan utama dari proses mixing, yaitu kneader mixing dan open mill mixing. Berdasarkan hasil identifikasi risiko, terdapat 22 bahaya dan risiko pada kneader mixing; dan 22 bahaya dan risiko pada open mill mixing. Berdasarkan penilaian existing risk di kneader mixing dan open mill mixing, bahaya dengan tingkat risiko tertinggi adalah bising (yang timbul dari mesin-mesin di area proses mixing) dengan tingkat risiko substantial.
Kata kunci : K3; manufaktur; penilaian risiko; proses mixing
In the implementation of production in the manufacturing industry, every work process is never independent of hazard and risk. PT. X manufactures rubber parts for the automotive industry and other industries. One of the initial production process of rubber parts is mixing process. The stages of a complex mixing process, the materials used, and the operation of machines that are not completely automatic, are at risk of incidents and/or accidents and their consequences. This study aims to determine the level of OHS risk in the mixing process at PT. X. In this research, risk identification on mixing process using Job Hazard Analysis method based on OSHA 3071. Then, semi-quantitative risk analysis refers to Australian/New Zealand Standard 4360: 2004 on Risk Management; and determine the risk level according to the risk score calculated using the Fine risk formula (1971). Risk assessment is done in two main work of mixing process, that is kneader mixing and open mill mixing. Based on the results of risk identification, there are 22 hazards and risks in mixing kneader; and 22 hazards and risks in open mill mixing. Based on the assessment of existing risk in kneader mixing and open mill mixing, the hazard with the highest risk level is noise (which arises from machines in the mixing process area) with substantial risk level.
Key words : Manufacture; mixing process; occupational health and safety; risk assessment
Read More
Kata kunci : K3; manufaktur; penilaian risiko; proses mixing
In the implementation of production in the manufacturing industry, every work process is never independent of hazard and risk. PT. X manufactures rubber parts for the automotive industry and other industries. One of the initial production process of rubber parts is mixing process. The stages of a complex mixing process, the materials used, and the operation of machines that are not completely automatic, are at risk of incidents and/or accidents and their consequences. This study aims to determine the level of OHS risk in the mixing process at PT. X. In this research, risk identification on mixing process using Job Hazard Analysis method based on OSHA 3071. Then, semi-quantitative risk analysis refers to Australian/New Zealand Standard 4360: 2004 on Risk Management; and determine the risk level according to the risk score calculated using the Fine risk formula (1971). Risk assessment is done in two main work of mixing process, that is kneader mixing and open mill mixing. Based on the results of risk identification, there are 22 hazards and risks in mixing kneader; and 22 hazards and risks in open mill mixing. Based on the assessment of existing risk in kneader mixing and open mill mixing, the hazard with the highest risk level is noise (which arises from machines in the mixing process area) with substantial risk level.
Key words : Manufacture; mixing process; occupational health and safety; risk assessment
S-9716
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Akbar Nugroho Sitanggang; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Mulyadi
Abstrak:
Identifikasi bahaya dan analisis risiko keselamatan dan kesehatan di lingkungan sekolah dasar merupakan salah upaya peningkatan derajat kesehatan serta keselamatan siswa, guru maupun karyawan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi bahaya serta menganalisis tingkat risiko keselamatan dan kesehatan yang ada pada kegiatan sekolah di 14 sekolah dasar yang ada di Kecamatan Beji, Kota Depok tahun 2018 menggunakan metode semi kuantitatif William T. Fine. Desain studi penelitian ini adalah cross sectional yang bersifat deskriptif analitik dengan studi observasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 596 potensi bahaya dengan tingkat risiko berkisar dari tingkat acceptable hingga priority 1. Dengan proporsi temuan bahaya yaitu pada kegiatan olahraga sebesar 14%, berjalan dan bermain 21%, belajar di kelas 35%, belajar di perpustakaan 9%, menggunakan toilet 12%, menggunakan laboratorium 6% dan membeli makanan 3%. Tingkat risiko tertinggi merupakan tingkat priority 1 yang ditemukan pada kegiatan belajar di kelas dengan potensi bahaya atap runtuh serta kegiatan berjalan dan bermain dengan potensi bahaya terjatuh dari ketinggian. Sedangkan untuk tingkat risiko substantial, ditemukan di beberapa aktivitas seperti belajar di kelas dengan potensi bahaya pencahayaan yang kurang dan postur janggal serta pada kegiatan berjalan dan bermain yaitu permukaan licin dan laju kendaraan. Untuk itu diperlukan tindakan preventif dan promotif dalam rangka meminimalisasi risiko keselamatan dan kesehatan yang ada di sekolah dasar
Kata kunci: Potensi bahaya, tingkat risiko, kegiatan sekolah, keselamatan dan kesehatan.
Hazard identification and analysis of safety and health risks in primary schools is an effort to improve the health and safety of students, teachers and school employees. This study aimed to determine the potential hazards as well as to analyze the level of safety and health risks that exist in school activities within 14 primary schools in Beji Districk, Depok 2018 using semi-quantitative method William T. Fine. The design of this study was cross sectional with analytic descriptive and observational study. This study found 596 potential hazards with risk level ranged from acceptable to priority level 1. Proportion of hazard was 14% at sport facility, 21% at walking and playing, 35% at studying in classroom, 9% at studying in library, 12% at using toilet, 6% at work in laboratory and 3% at buying food. The highest risk (priority 1) was found in two activities, studying in classroom with potential hazard roof collapse, and walking and playing with potential hazard fall from height. The substantial level was found in various activity such studying in classroom with potential hazard inadequate lighting and awkward posture and walking and playing with potential hazard slippery surface and moving vehicles. Therefore, preventive and promotive action is needed in order to minimize safety and health risk in primary school.
Key words: Hazard potential, risk level, school activity, safety and health
Read More
Kata kunci: Potensi bahaya, tingkat risiko, kegiatan sekolah, keselamatan dan kesehatan.
Hazard identification and analysis of safety and health risks in primary schools is an effort to improve the health and safety of students, teachers and school employees. This study aimed to determine the potential hazards as well as to analyze the level of safety and health risks that exist in school activities within 14 primary schools in Beji Districk, Depok 2018 using semi-quantitative method William T. Fine. The design of this study was cross sectional with analytic descriptive and observational study. This study found 596 potential hazards with risk level ranged from acceptable to priority level 1. Proportion of hazard was 14% at sport facility, 21% at walking and playing, 35% at studying in classroom, 9% at studying in library, 12% at using toilet, 6% at work in laboratory and 3% at buying food. The highest risk (priority 1) was found in two activities, studying in classroom with potential hazard roof collapse, and walking and playing with potential hazard fall from height. The substantial level was found in various activity such studying in classroom with potential hazard inadequate lighting and awkward posture and walking and playing with potential hazard slippery surface and moving vehicles. Therefore, preventive and promotive action is needed in order to minimize safety and health risk in primary school.
Key words: Hazard potential, risk level, school activity, safety and health
S-9732
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Muhammad Rusydi Nadjib; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Dadan Erwandi, Gatot Prihandoko
S-9752
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dela Aptika Gusani; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Farida Tusafariah
S-7382
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
