Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 7921 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Adinda Pratiwi; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Toha Muhaimin, Cut Yasmin
Abstrak:
ABSTRAK
 
 
Infertilitas merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat, dan penyebabnya bukan hanya dari faktor wanita namun juga dari faktor pria. Jumlah sperma yang rendah atau kualitas sperma yang jelek merupakan penyebab utama terjadinya infertilitas pada pria. Rendahnya kualitas sperma ditandai dengan rendahnya motilitas sperma, jumlah sperma dan kelainan morfologis sperma. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan merokok dengan konsentrasi, motilitas dan morfologi sperma. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien klinik fertilitas ldquo;X rdquo; Jakarta. Sampel sebanyak 985 orang pria yang merupakan pasangan dengan masalah infertilitas yang melakukan pemeriksaan analisis sperma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pria yang merokok memiliki peluang 1,018 kali lebih tinggi untuk memiliki konsentrasi sperma abnormal dibandingkan yang tidak merokok, dan memiliki peluang 1,074 kali lebih tinggi untuk memiliki motilitas sperma abnormal dibandingkan yang tidak merokok serta memiliki peluang 1,166 kali lebih tinggi untuk memiliki morfologi sperma abnormal dibandingkan yang tidak merokok.
 

 
ABSTRACT
 
 
Infertility is one of public health rsquo s problem. Determinant of infertility is not just from female factors but also from male factor. Poor sperm quality is a major cause of male infertility. The purpose of this study was to determine the correlation of smoking with concentration, motility and sperm morphology. The design of this study was cross sectional using secondary data from medical records of Klinik Fertilitas X Jakarta. A sample consist of 985 men with infertility issues who performed sperm analysis. The results showed that men who smoked had an odds to have abnormal sperm concentrations 1,018 times higher than those who did not smoke, and had an odds to have abnormal sperm motility 1,074 times higher than those who didn rsquo t smoke, as well as a 1,166 times higher odds of having abnormal sperm morphology than who didn rsquo t smoke.
 
Read More
S-9501
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Patricia Roulina; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Besral, Lina Antono
Abstrak:
Hipertensi dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal, sehingga menjadi penyebab utama kematian dini. Prevalensi hipertensi pada orang dewasa usia 30−79 tahun di dunia mencapai 33% di tahun 2019. Hipertensi dapat terjadi pada berbagai kelompok, termasuk pekerja, yang berdampak pada produktivitas dan kesehatan jangka panjang. Identifikasi faktor risiko hipertensi penting dilakukan sebagai dasar upaya pencegahan. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan menganalisis data sekunder medical check up, pengukuran komposisi tubuh, dan data karakteristik pekerja tahun 2024. Prevalensi hipertensi pada pekerja PT X tahun 2024 sebesar 10,3%. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara usia, masa kerja, dislipidemia, komposisi tubuh, dan dimensi lemak dengan hipertensi. Risiko hipertensi meningkat pada pekerja usia 40−49 tahun (AOR: 3,22) dan ≥ 50 tahun (AOR: 4,15), masa kerja > 20 tahun (AOR: 3,83), dislipidemia (AOR: 1,55), komposisi tubuh lemak tinggi dan otot rendah (AOR: 2,15), dan dimensi lemak tinggi (AOR: 2,46). Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan melalui edukasi kesehatan, pemeriksaan tekanan darah dan komposisi tubuh secara berkala, serta pengembangan program penurunan kadar lemak tubuh untuk menekan risiko hipertensi.


Hypertension can lead to serious complications such as heart disease, stroke, and kidney failure, making it a leading cause of premature death. The global prevalence of hypertension among adults aged 30–79 years reached 33% in 2019. Hypertension can affect various population groups, including workers, impacting their productivity and long-term health. Identifying hypertension risk factors is important to support targeted prevention efforts. This study used a cross-sectional design by analyzing secondary data from medical check-up, body composition measurement, and worker characteristic in 2024. The prevalence of hypertension among PT X workers in 2024 was 10.3%. The analysis showed significant associations between age, work tenure, dyslipidemia, body composition, and fat dimension with hypertension. The risk of hypertension increased among workers aged 40–49 years (AOR: 3,22) and ≥ 50 years (AOR: 4,15), with work tenure > 20 years (AOR: 3,83), dyslipidemia (AOR: 1,55), high body fat and low muscle composition (AOR: 2,15), and high fat dimension (AOR: 2,46). Therefore, preventive efforts through health education, regular blood pressure and body composition monitoring, and fat reduction programs are needed to control the risk of hypertension.
Read More
S-12111
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resty Khusna Sifa Azizah; Pembimbing: Meiwita Paulina Budiharsana; Penguji: R. Sutiawan, Masfuri
Abstrak:

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estimasi lama hari rawat dan total tagihan rawat inap pasien stroke hemoragik di Unit Stroke Rumah Sakit “X” Yogyakarta tahun 2011-2012. Desain penelitian yang digunakan yaitu cross sectional. Sampel dalam penelitian ini yaitu seluruh pasien di unit stroke dengan diagnosis utama stroke hemoragik yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian mendapatkan persamaan regresi untuk estimasi lama hari rawat pada pasien keluar hidup yaitu; Lama Hari Rawat = 7,046 + 0,023 (umur) + 0,935 (jenis kelamin) + 0,118 (diagnosis sekunder) + 8,024 (riwayat ICU) + 1,744 (hari keluar). Persamaan regresi untuk mengestimasi total tagihan rawat inap yaitu; Total Tagihan Rawat Inap = Rp 2.854.882 + Rp 7.810 (umur) + Rp 162.803 (diagnosis sekunder) + Rp 3.738.001 (ICU) + Rp 364.164 (lama hari rawat) – Rp 384.543 (hari masuk) + Rp 854.197 (kelas I) Rp 1.971.282 (VIP). Diharapkan hasil penelitian ini berguna bagi penderita stroke dan keluarga, manajemen rumah sakit, pihak pembayar dan para pembuat kebijakan dalam mengantisipasi dampak ekonomi dari meningkatnya kasus stroke.Beban ekonomi akibat stroke terutama karena biaya perawatan di rumah sakit semakin meningkat seiring meningkatnya kejadian stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estimasi lama hari rawat dan total tagihan rawat inap pasien stroke hemoragik di Unit Stroke Rumah Sakit “X” Yogyakarta tahun 2011-2012. Desain penelitian yang digunakan yaitu cross sectional. Sampel dalam penelitian ini yaitu seluruh pasien di unit stroke dengan diagnosis utama stroke hemoragik yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian mendapatkan persamaan regresi untuk estimasi lama hari rawat pada pasien keluar hidup yaitu; Lama Hari Rawat = 7,046 + 0,023 (umur) + 0,935 (jenis kelamin) + 0,118 (diagnosis sekunder) + 8,024 (riwayat ICU) + 1,744 (hari keluar). Persamaan regresi untuk mengestimasi total tagihan rawat inap yaitu; Total Tagihan Rawat Inap = Rp 2.854.882 + Rp 7.810 (umur) + Rp 162.803 (diagnosis sekunder) + Rp 3.738.001 (ICU) + Rp 364.164 (lama hari rawat) – Rp 384.543 (hari masuk) + Rp 854.197 (kelas I) Rp 1.971.282 (VIP). Diharapkan hasil penelitian ini berguna bagi penderita stroke dan keluarga, manajemen rumah sakit, pihak pembayar dan para pembuat kebijakan dalam mengantisipasi dampak ekonomi dari meningkatnya kasus stroke.


 

ABSTRACT The economic burden of stroke due primarily because of the cost of hospital care are increasing with the increasing incidence of stroke. This study aims to determine the estimated length of stay of hospitalization and the total hospitalization billings of hemorrhagic stroke patients in Stroke Unit "X" Hospital, Yogyakarta, 2011-2012. The research design used was cross-sectional. The sample in this study were all patients at the Stroke Unit with a primary diagnosis of hemorrhagic stroke who meet the inclusion criteria. The results got the regression equation for estimating length of stay is; Length of Stay = 7,046 + 0,023 (age) + 0,935 (sex) + 0,118 (secondary diagnose) + 8,024 (history in ICU) + 1,744 (day of discharge). The regression equation for estimating Inpatient Total Billings = Rp 2.854.882 + Rp 7.810 (age) + Rp 162.803 (secondary diagnose) + Rp 3.738.001 (history in ICU) + Rp 364.164 (length of stay) – Rp 384.543 (day of admission) + Rp 854.197 (class I) Rp 1.971.282 (VIP).

Read More
S-8134
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Septiawati; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Artha Prabawa, Trisna Setiawan
S-5857
Depok : FKM UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
S-9010
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safira Indriani; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Flourisa J. Sudrajat
Abstrak: Di Indonesia, jumlah kasus HIV cenderung meningkat setiap tahunnya. Persentase HIV tertinggi terjadi pada kelompok umur 20-49 tahun, di mana kelompok umur tersebut termasuk usia subur dan usia menikah bagi wanita di Indonesia. Selain itu, jumlah kasus AIDS pada ibu rumah tangga berada diurutan kedua. Ibu rumah tangga dapat berisiko tertular HIV/AIDS karena perilaku seksual berisiko dengan pasangannya seperti ketika suami yang terinfeksi HIV/AIDS menularkan kepada istrinya melalui hubungan seks tanpa kondom atau penularan dari suami yang melakukan hubungan seks di luar kemudian berhubungan seks dengan pasangan. Namun, masih terdapat wanita kawin yang tidak dapat menegosiasikan hubungan seksual yang lebih aman dengan pasangannya. Hal ini menjadi perhatian khusus, karena ketika ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV/AIDS hamil maka ia dapat berpotensi menularkan infeksi HIV ke bayinya. Ditambah lagi, saat ini ibu rumah tangga belum menjadi sasaran kunci program HIV/AIDS. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kemampuan wanita kawin dalam menegosiasikan hubungan seksual yang lebih aman untuk mencegah HIV/AIDS di Indonesia berdasarkan analisis data SDKI 2017. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sampel wanita usia subur (15-49 tahun) yang telah menikah/tinggal bersama dengan pasangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kemampuan wanita kawin dalam menegosiasikan hubungan seksual yang lebih aman adalah pekerjaan, kepemilikan aset, pengambilan keputusan rumah tangga, komunikasi dengan pasangan terkait HIV, perbedaan usia, perbedaan pendidikan, tempat tinggal, dan pengetahuan terkait HIV/AIDS. Sehingga, bentuk intervensi untuk meningkatkan kemampuan wanita kawin dalam menegosiasikan hubungan seksual yang lebih aman dapat mempertimbangkan faktor-faktor tersebut.
In Indonesia, the number of HIV cases tends to increase every year. The highest percentage of HIV occurs in the age group of 20-49 years, which includes the childbearing age and the age of marriage for women in Indonesia. In addition, the number of AIDS cases among housewives is second. Housewives can be at risk of contracting HIV/AIDS because of risky sexual behavior with their partners, such as when a husband infected with HIV/AIDS transmits it to his wife through unsafe sex or transmission from a husband who has sex outside and then has sex with a partner. However, there are still married women who cannot negotiate safer sex with their partners. This is of particular concern because when a housewife infected with HIV/AIDS becomes pregnant, she can potentially transmit HIV to her baby. Meanwhile, housewives have not become a key target of the HIV/AIDS program. The purpose of this study was to determine of women?s ability to negotiate safer sex to prevent HIV/AIDS in Indonesia based on the 2017 IDHS data analysis. This study used a cross-sectional study design with a sample of women aged 15-49 years old who are married/live together with their spouses. The results of this study indicate that the factors that influence the ability of married women to negotiate safer sex are work, asset ownership, household decision making, communication with partners related to HIV, age differences, differences in education, place of residence, and knowledge related to HIV/AIDS. Thus, the intervention to improve the ability of married women to negotiate safer sex can take these factors into account.
Read More
S-11016
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ela Febriana; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Rahmadewi; Besral
Abstrak: Pemahaman yang baik tentang peran pria dalam pembentukan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi yang ideal dapat berdampak baik dalam program keluarga berencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prediktor penggunaan kontrasepsi modern dan preferensi fertilitas pada pria yang aktif secara seksual di Indonesia. Sumber data merupakan data gambaran nasional Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 pria kawin usia 15-54 tahun. Analisis dibatasi pada 9.277 pria yang dilaporkan aktif secara seksual dalam 12 bulan terakhir sebelum survei dilakukan, berstatus menikah, dan tinggal bersama istri. Penelitian ini menggunakan uji bivariat dan regresi logistik multinominal untuk mendapatkan prediktor yang mempengaruhi penggunaan kontrasepsi modern dan preferensi fertilitas pada pria yang aktif secara seksual. Signifikansi uji statistik dari analisis bivariat dan regresi logistik multinomial ditetapkan pada nilai p-value<0,05. Dari total 9.277 pria aktif seksual di Indonesia, 309 (3,3%) pria menggunakan metode kontrasepsi modern dan 8.970 (96,7%) tidak menggunakan kontrasepsi modern. Selain itu, dari jumlah sampel sebanyak 4.384 (47,2%) merupakan pria yang tidak menginginkan anak lagi dan 4.895 (52,8%) pria bimbang atau masih menginginkan anak lagi. Temuan dari regresi logistik bivariat dan multinominal menunjukkan bahwa tingkat pendidikan (OR=3,02; 95% CI: 1,72-5,31 ), tempat tinggal (OR=1,75; 95% CI: 1,18-2,58), indeks kekayaan (OR=3,57; 95% CI: 1,87-9,50), status pekerjaan (OR=15,85; 95% CI: 1,83-96,76), jumlah anak hidup (OR=2,1; 95% CI: 1,35-3,24), istri menggunakan KB (OR=0,07; 95% CI: 0,05-0,11), keterpaparan melalui media (OR=1,83; 95% CI: 1,23-2,72), diskusi dengan petugas kesehatan (OR=0,47 ; 95% CI: 0,30-0,72), diskusi bersama istri (OR=2,71; 95% CI: 1,94-3,79), pengetahuan (OR=1,69; 95% CI: 1,23-2,32), dan preferensi fertilitas (OR=1,72; 95% CI: 1,22-2,43) berhubungan secara bermakna dengan penggunaan kontrasepsi modern pada pria yang aktif secara seksual. Hasil lain ditemukan bahwa usia (OR=4,55; 95% CI: 3,87-5,34), tingkat pendidikan (OR=0,77; 95% CI: 0,67-0,89), tempat tinggal (OR=1,26; 95% CI: 1,10-1,45), jumlah anak hidup (OR=13,2; 95% CI: 10,45-16,68), istri menggunakan KB (OR=1,32; 95% CI: 1,15-1,51), keterpaparan melalui media (OR=0,83; 95% CI: 0,72-0,96), diskusi bersama istri (OR=0,86; 95% CI: 0,75-0,98), dan pengetahuan (OR = 1,28; 95% CI: 1,11-1,48) secara signifikan berhubungan dengan preferensi fertilitas pada pria yang tidak menginginkan anak lagi. Studi ini menunjukkan bahwa kebijakan dan program masa depan harus fokus pada intervensi dan mempromosikan kontrasepsi pria di media, mengatasi kesenjangan wilayah dalam aksesibilitas dan ketersediaan kontrasepsi modern, dan intervensi keluarga berencana di tingkat pendidikan menengah.
A good understanding of the role of men in the formation of an ideal family and reproductive health planning can have a good impact in a family planning program. This study seeks to the predictors of modern contraceptive use and fertility preference among sexually active men in Indonesia. The data source is the nationally representative 2017 Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) of men aged 15-54 years. The analysis is restricted to 9,277 men who reported being sexually active in the past 12 months prior to the survey, have a married status, and living with his wife. This research use bivariate and multinominal logistic regression to access predictors that influence modern contraceptive use and fertility preference among sexually active men. Bivariate and multivariable multinomial logistic regression analysis was conducted and statistical significance was set at p-value<0.05. From a total of 9,277 sexually active men in Indonesia, 309 (3,3%) used male modern contraception methods and 8,968 (96,7%) didn't use modern contraception. Besides that, from the total sample, 4,383 (47,2%) is the fertility preference of male that didn't want another child and 4,894 (52,8%) men indecisive or still want another child. Findings from the bivariate and multinominal logistic regression indicate that education (OR=3,02; 95% CI: 1,72-5,31 ), residence (OR=1,75; 95% CI: 1,18-2,58), wealth index(OR=3,57; 95% CI: 1,87-9,50), currently working (OR=13,32; 95% CI: 1,83-96,76), living children (OR=2,1; 95% CI: 1,35-3,24), istri menggunakan KB (OR=0,07; 95% CI: 0,05-0,11), access to media (OR=1,83; 95% CI: 1,23-2,72), disscuss with health worker (OR=0,47 ; 95% CI: 0,30-0,72), disscuss with wife (OR=2,71; 95% CI: 1,94-3,79), knowledge (OR=1,69; 95% CI: 1,23-2,32), dan fertility preference (OR=1,72; 95% CI: 1,22-2,43) were all significantly associated with modern contraceptive use among sexually active men. Other result finding that age (OR=4,55; 95% CI: 3,87-5,34), education level (OR=0,77; 95% CI: 0,67-0,89), residence (OR=1,26; 95% CI: 1,10-1,45), living children (OR=13,2; 95% CI: 10,45-16,68), wife using contraceptive (OR=1,32; 95% CI: 1,15-1,51), access to media (OR=0,83; 95% CI: 0,72-0,96), disscuss with wife (OR=0,86; 95% CI: 0,75-0,98), and knowledge (OR = 1,28; 95% CI: 1,11-1,48) were all significantly assosiated with fertility preference in a men who didn't want another child. These findings suggest that future policies and programs should focus on interventions and promoting men's contraception in media, addressing regional disparities in accessibility and availability of modern contraceptive, and interventions family planning in the middle of level education.
Read More
S-11111
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Hartinah; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Rahmadewi; Besral
Abstrak: Prevalensi anemia pada ibu hamil harus mengalami penurunan, mengingat angkanya di Indonesia telah termasuk severe public health problem (43,2%).. Penyebab anemia pada ibu hamil lebih besar disebabkan oleh kekurangan zat besi. Maka dari itu diperlukan suplementasi zat besi atau tablet tambah darah untuk ibu hamil guna mencegah risiko yang ditimbulkan dari anemia defisiensi besi pada ibu hamil. Berdasarkan laporan SDKI tahun 2017 diketahui bahwa konsumsi tablet tambah darah sesuai rekomendasi kementerian kesehatan pada ibu hamil hanya 44% dan angka tersebut masih jauh dari target renstra 2015-2019. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi tablet tambah darah pada ibu hamil di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional dan menggunakan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2017. Analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan statistik deskriptif, uji chi-square dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi ibu hamil yang mengonsumsi tablet tambah darah minimal 90 tablet sebesar 44,1% (42,8%-45,4%). Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi tablet tambah darah dengan indeks kekayaan, wilayah tempat tinggal, status perkawinan, frekuensi kunjungan ANC, waktu ANC pertama, paritas, dan dukungan suami. Faktor paling dominan yang berhubungan dengan konsumsi tablet tambah darah yaitu frekuensi kunjungan ANC. Oleh karena itu, petugas pelayanan kesehatan perlu memberikan edukasi kepada ibu hamil agar melakukan ANC sesering mungkin yang merupakan bagian dari program pemberian tablet tambah darah guna mengontrol kesehatannya selama hamil untuk mencegah terjadinya risiko kekurangan zat besi.
The prevalence of anemia in pregnant women should decrease, considering the number in Indonesia has included a severe public health problem (43.2%). The cause of anemia in pregnant women is greater due to iron deficiency. Therefore, it is necessary to take iron supplementation or blood-added tablets for pregnant women to prevent the risks posed by iron deficiency anemia in pregnant women. Based on the 2017 IDHS report, it is known that the consumption of blood-added tablets according to the health recommendations of pregnant women is only 44% and this figure is still far from the 2015-2019 Strategic Plan target. This study aims to determine the factors associated with the consumption of blood-added tablets in pregnant women in Indonesia. This study is a quantitative study with a cross-sectional research design and the use of data from the 2017 Indonesian Health Demographic Survey. The analysis in this study was carried out using descriptive statistics, chi-square test and multiple logistic regression. The results showed that the proportion of pregnant women who consumed at least 90 tablets added blood was 44.1% (42.8% -45.4%). There is a significant relationship between the consumption of blood-added tablets with wealth index, area of residence, marital status, frequency of ANC visits, time of first ANC, parity, and husband's support. The most dominant factor related to the consumption of blood-added tablets is the frequency of ANC visits. Therefore, health care workers need to provide education to pregnant women to do ANC as often as possible which is part of the program of giving blood-added tablets to control their health during pregnancy to prevent the risk of iron deficiency.
Read More
S-11114
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naila Syifa Uttami; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Maria Gayatri
Abstrak: Perilaku seksual pranikah pada remaja wanita merupakan perilaku bermasalah yang dapat berdampak negatif pada kesehatan remaja. Terlebih remaja wanita menjadi kelompok berisiko jika harus mengalami kehamilan pada usia remaja. Presentase perilaku seksual pranikah remaja wanita baik pada daerah perdesaan maupun perkotaan mengalami peningkatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual pranikah pada remaja wanita di perdesaan dan perkotaan. Penelitian ini menggunakan sumber data dari data sekunder Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 dan dengan studi potong lintang. Populasi pada penelitian ini adalah remaja wanita usia 15-24 tahun yang belum menikah. Berdasarkan hasil uji regresi logistik berganda usia, konsumsi alkohol, konsumsi narkoba, sikap terhadap perilaku seksual pranikah, pengetahuan kesehatan reproduksi dan pengaruh teman sebaya berhubungan dengan perilaku seksual pranikah remaja wanita di perkotaan. Sementara faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual pranikah remaja wanita di perdesaan meliputi usia, pendidikan, status ekonomi, sikap terhadap perilaku seksual pranikah, paparan media massa, perilaku merokok, konsumsi alkohol, pengalaman pacaran dan komunikasi kesehatan reproduksi dengan tenaga kesehatan. Variabel sikap terhadap perilaku seksual pranikah menjadi faktor yang berhubungan paling dominan dengan perilaku seksual pranikah remaja wanita di perkotaan maupun remaja wanita di perdesaan
Premarital sexual behavior in female adolescent is a problematic behavior that can affect negative impact on health. Female adolescent is a risk group if they get pregnant at young age. The percentage of premarital sexual behavior among female adolescents in both rural and urban areas has increased. This study aims to determine the factors associated with premarital sexual behavior among female adolescent adolescent in rural and urban areas. This research used secondary data from Indonesian Demographic Health Survey (IDHS) 2017 with cross-sectional design. The population in this study were unmarried female adolescent aged 15-24 years. Based on the results of multiple logistic regression, age, alcohol consumption, drug consumption, attitudes towards premarital sexual behavior, knowledge of reproductive health, and peer influence are related to premarital sexual behavior of adolescent girls in urban areas. Meanwhile, factors related to premarital sexual behavior of teenage girls in rural areas are age, education, economic status, attitudes towards premarital sexual behavior, exposure to mass media, smoking behavior, alcohol consumption, dating experience, and reproductive health communication with health workers. The attitude variable towards premarital sexual behavior is the most dominant factor associated with the premarital sexual behavior of female adolescents in urban and rural areas
Read More
S-10933
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive